Menginginkan Allah Dan Kehidupan Akherat

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدنيا سجن المؤمن، وجنة الكافر

“Dunia itu penjara untuk mukmin dan surga untuk kafir..” (HR Muslim)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Orang yang menginginkan Allah dan kehidupan akherat tidak akan lurus perjalanannya kecuali dengan penjara, yaitu :

– memenjarakan hatinya untuk senantiasa mencari (keridhoan Allah) dan berpaling dari selainnya

– memenjarakan lisannya untuk senantiasa mengingat Allah dan menambah keimanannya

– memenjarakan badannya dari perbuatan maksiat dan syahwat.

Ia penjarakan dirinya untuk selalu melaksanakan kewajiban dan ibadah yang sunnah.

Ia terus terpenjara hingga bertemu dengan Robbnya. Maka Allah akan membebaskannya dari penjara menuju tempat yang amat luas dan indah (surga).

Siapa yang tidak dapat bersabar atas penjara ini dan lebih senang memuaskan syahwatnya, maka ia akan dipenjara di dalam tempat yang mengerikan setelah kematiannya..”

(Al Fawaid hal 70-71)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tidak Mengapa

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا بأسَ بالغِنَى لمنِ اتَّقى ، والصِّحَّةُ لمنِ اتَّقى خيرٌ منَ الغِنَى ، وطيبُ النَّفسِ منَ النَّعيمِ

“Tidak mengapa kekayaan itu bagi orang yang bertakwa. Dan kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik dari kekayaan. Dan baiknya jiwa itu termasuk kenikmatan..”

(HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Kesehatan bagi orang yang bertakwa adalah kekuatan untuk ibadah..
Tapi bagi orang yang tidak bertakwa..
Kesehatan menjadi petaka..
Karena ia gunakan kesehatan untuk memaksiati Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kehidupan Yang Baik

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang beramal sholeh baik ia laki-laki maupun perempuan maka sesungguhnya Kami akan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik dan Kami akan memberi mereka balasan dengan yang lebih baik dari apa yang mereka amalkan..” (An Nahl : 97)

Kehidupan yang baik berupa kekayaan hati..
Selalu bersyukur dengan rezeki yang Allah berikan..

Kehidupan yang baik berupa kebahagiaan hati..
Karena hati tidak akan bahagia kecuali dengan mengenal Robbnya dan beribadah kepada-Nya..

Kehidupan yang baik berupa ketenangan batin dan kelapangan dada..
Selalu ridho dengan ketentuan sang pencipta..

Adakah kehidupan yang lebih baik dari itu..?!

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Keutamaan Puasa Di Bulan Al Muharrom

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah al muharrom..”

(HR. Muslim – 1163)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam memberi nama al muharrom dengan syahrullah (bulan Allah). Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya, karena Allah tidak akan menyandarkan sesuatu kepada diri-Nya kecuali pada makhluk-Nya yang khusus..”

(Lathoiful Ma’arif – 81)

● Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan harom (al muharrom), dan menutup akhir tahun dengan bulan harom juga (dzulhijjah). Tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Allah setelah Ramadhan dibandingkan bulan al muharrom..”

(Lathoiful Ma’arif – 79)

Waktu Terus Berputar

Waktu terus berputar..
Seperti mentari yang berlari menuju tempat terbenamnya..
Dan ajalpun semakin mendekat..
Namun perbekalan ini terasa amat sedikit..

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Aku pernah bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, ‘Wahai Rosulullah, mukmin manakah yang paling baik..?’

Beliau bersabda, ‘Yang paling baik akhlaknya..’

Ia kembali bertanya, ‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas..?’

Beliau bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas..’

(HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kekayaan Yang Hakiki

Seorang ahli hikmah berkata,

إذا طلبت العزَّ فاطلبه بالطاعة، وإذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة، فمن أطاع الله عز وجل عن نصره، ومن لزم القناعة زال فقره.

– Apabila engkau mencari kemuliaan maka carilah dengan cara mentaati Allah, dan

– Jika engkau mencari kekayaan maka carilah dengan cara qona’ah (merasa puas/cukup dengan yang ada)

Karena siapa yang mentaati Allah ia pasti menjadi mulia dengan pertolongan-Nya.. dan siapa yang selalu qona’ah maka akan hilang kefakirannya..”

(Adabuddunya Waddiin – karya imam Al Mawardi hal 226)

Karena kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati..

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menyukai Harta Untuk Beribadah Kepada Allah

Sa’id bin Musayyib rohimahullah -ulama tabi’in- berkata,

لا خير فيمن لا يحب المال:
‏١-يعبد به ربه،
‏٢-ويؤدي به أمانته،
‏٣-ويصون به نفسه،
‏٤-ويستغني به عن الخلق”.

“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyukai harta untuk :

1. Beribadah kepada Robbnya
2. Melaksanakan amanah
3. Menjaga kehormatan diri
4. Agar tidak minta minta kepada manusia

(Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata mengomentari,

“Beliau mengabarkan bahwa kewajiban kewajiban ini berupa :

– beribadah kepada Allah,
– membayar hutang,
– menjaga kehormatan diri, dan
– tidak minta minta kepada manusia

tidak akan sempurna kecuali dengan memiliki harta. Sedangkan suatu kewajiban bila tidak sempurna kecuali dengan melakukan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya.

Siapa yang tidak suka untuk melaksanakan kewajiban kewajiban ini dimana agama tidak tegak kecuali dengannya maka tidak ada kebaikan bagi orang tersebut..”

(Majmu Fatawa 29/280)

Mencintai harta itu baik jika tujuannya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, menjalankan amanah dan menjaga kehormatan diri..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beribadah Kepada Allah Dalam Keadaan Senang Maupun Susah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فإن الله لم يبتل عبده ليهلكه، وإنما ابتلاه ليمتحن صبره وعبوديته

“Sesungguhnya Allah tidak menguji hamba-Nya untuk membinasakannya. Akan tetapi untuk menguji kesabaran dan penghambaannya..”

(Al Wabil Ash Shoyyib)

Karena ibadah kepada Allah bukan hanya saat senang saja..
Namun juga saat ditimpa kesusahan..
Agar tidak masuk dalam firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Diantara manusia ada yang beribadah kepada Allah di tepi jurang. Jika ia memperoleh kesenangan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa ujian berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata..” (Al Hajj: 11)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Empat Tonggak Kufur

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan bahwa tonggak kufur itu ada empat yaitu,

1. Sombong
2. Hasad (dengki)
3. Marah
4. Syahwat

– sombong mencegah untuk tunduk dan patuh
– hasad mencegah untuk menerima nasehat
– marah dan benci mencegah untuk bersikap adil, dan
– syahwat mencegah untuk bersungguh sungguh dalam ibadah

apabila hancur kesombongan maka ia akan mudah untuk tunduk..

apabila hancur hasad maka ia akan mudah menerima nasehat..

apabila hancur marah dan benci maka akan mudah bersikap adil dan tawadhu..

dan apabila hancur tonggak syahwat maka akan mudah bersabar dan ibadah..

(Al Fawaid hal. 157)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah