Doa Yang Paling Afdhol Agar Diampuni Allah Ta’ala

Ust. M Wasitho, حفظه الله

Doa yg paling afdhol agar diampuni Allah adalah doa sayyidul istighfar, yaitu:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي ، لا إِلَه إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَني وأَنَا عَبْدُكَ ، وأَنَا على عهْدِكَ ووعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ما صنَعْتُ ، أَبوءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ علَيَ ، وأَبُوءُ بذَنْبي فَاغْفِرْ لي ، فَإِنَّهُ لا يغْفِرُ الذُّنُوبِ إِلاَّ أَنْتَ .

Allahumma Anta Robbii Laa ilaaha illaa Anta, Kholaqtanii wa Anaa ‘Abduka, wa Anaa ‘Alaa ‘Ahdika wa Wa’dika Mastatho’tu, A’uudzu Bika Min Syarri Maa Shona’tu, Abuu-u Laka Bini’matika ‘Alaiyya wa Abuu-u Laka Bidzanbii Faghfirlii Fa innahu Laa Yaghfiru adz-Dzunuuba illaa Anta.

Dan bisa jg membaca doa istighfar lainnya,spt:
(Astaghfirullahal ‘Azhiim wa Atuubu ilaihi).
Wallahu a’lam bish-Showab.(Klaten,8 Februari 2014)

– – – – – •(*)•- – – – –

BENARKAH SEORANG ISTRI YANG MENGIZINKAN SUAMINYA BERPOLIGAMI AKAN MENDAPATKAN PAYUNG EMAS DI DALAM SURGA ?

Ust. M Wasitho, حفظه الله

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz, maaf mau tanya ttg derajat hadits yang menjelaskan bahwa seorang wanita yang mengizinkan suaminya berpoligami akan diberikan ganjaran berupa payung emas di dalam Surga? Mohon jawabannya. Syukron.

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Sebatas pengetahuan kami TIDAK ADA Hadits Shohih maupun Dho’if dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yg menerangkan tentang keutamaan n pahala berupa payung emas di dlm Surga yg akan didapatkan oleh seorang istri bilamana ia memberikan izin n ridho kpd suaminya untuk menikah lagi (berpoligami). Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 30 Januari 2014)

» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

– – – – – •(*)•- – – – –

KEUTAMAAN MEMBACA TASBIH (SUBHANALLAH WABIHAMDIH)

Ust. M Wasitho, حفظه الله

Tanya:
Assalamu’alaikum. Ustadz, Apakah benar barangsiapa membaca Subhaanallaahi wabihamdihi 100 kali setiap hari,maka dosanya di ampuni walaupun sebanyak buih di laut?

Jawab:
Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah. Iya, benar. Keutamaan membaca tasbih 100 kali setiap hari sebagaimana disebutkan dlm pertanyaan diatas. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih berikut ini:

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari 100 (seratus) kali, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni (Allah) walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Imam Al-Bukhari no. 5926 dan Muslim no. 2691).

2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

Artinya: “Barang siapa yang ketika pagi dan sore membaca: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sebanyak 100 (seratus) kali, maka pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia
datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 2692).

(*) CATATAN:
» Yang patut kita ketahui, bahwa keutamaan membaca tasbih tsb hanya diperoleh bagi setiap muslim dan muslimah yang meninggal dunia dalam keadaan mentauhidkan Allah. Yakni hanya beribadah kpd Allah dan tidak pernah berbuat syirik dan
kufur kepada-Nya sedikit pun semasa hidupnya di dunia. Dan kalaupun ia pernah berbuat syirik n kufur kpd Allah, hanya saja ia telah bertaubat darinya dengan taubat nasuha sebelum ia meninggal dunia.

» Para ulama Ahlus Sunnah juga menjelaskan bahwa yang dihapus n diampuni oleh Allah dengan sebab bacaan tasbih maupun amal sholih lainnya hanyalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka tidaklah dihapus n diampuni oleh Allah dengan kecuali dengan taubat nasuha. Wallahu a’lam bish-showab. wabillahi at-taufiq. (Klaten, 26 Januari 2014)

» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.

– – – – – •(*)•- – – – –

BAGAIMANAKAH CARA MERAIH PAHALA SERIBU KEBAIKAN SETIAP HARI ?

Ust. M Wasitho, حفظه الله

Tanya:
Assalamualaikum ustad…
Afwan jidan, ana mohon dibantu untuk hadits yang berkaitan dengan kalimat tasbih dengan dibaca 100 kali, apa derajat hadits dibawah ini, shohih apa dho’if?

Rasulullah bersabda:
“Adakah di antara kalian tidak mampu untuk mendapatkan pahala seribu kali kebaikan setiap hari?” Seorang sahabat yang berada di majelisnya bertanya: “Bagaimana mendapatkan pahala seribu kali kebaikan?” Rasul menjawab; “Bertasbih seratus kali, niscaya akan mendapatkan pahala seribu kali kebaikan, atau dihapuskan darinya seribu dosa.” (HR. Ahmad dan Muslim). Jazakumullahu khoiron.

Jawab:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah. Sebelum kami sebutkan derajat hadits yg antum tanyakan, terlebih dahulu kami sebutkan lafazh (teks asli) haditsnya, yaitu sebagaimana berikut:
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟”، فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: “يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ

(*) TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini dikeluarkan oleh imam Ahmad I/180 no.1563, Muslim IV/2073 no.2698, At-Tirmidzi V/510 no.3463, An-Nasai VI/45 no.9980, Ibnu Hibban III/108 no.825 Ibnu Abi Syaibah VI/55 no.29432, imam Malik no.285, Abu Ya’la no.721, Al-Bazzar no.1160, dan ‘Abd bin Humaid no.134.

(*) DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya HASAN SHOHIH, sebagaimana dinyatakan oleh At-Tirmidzi. Dan syaikh Al-Albani menyebutkannya di dlm kitab Shohih At-Targhib wa At-Tarhib.

» Syaikh Al-‘Allaamah Al-Mubarokfuri rahimahullah berkata di dlm kitab Tuhfatul Ahwadzi Bi Syarhi Jami’ At-Tirmidzi ketika menjelaskan sabda Nabi: “Dicatat baginya seribu kebaikan”, hal ini dikarenakan satu kebaikan dibalas oleh Allah dengan sepuluh kali lipat kebaikan yg semisalnya, dan ini merupakan pelipat gandaan pahala kebaikan yg paling sedikit sebagaimana yg telah dijanjikan Allah di dlm Al-Qur’an dengan firman-Nya:
{مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا}
“Barangsiapa melakukan satu kebaikan, maka ia akan mendapatkan (pahala) sepuluh kebaikan yg semisalnya.”

Dan firman-Nya pula:
{وَاَللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ}
“Dan Allah akan melipatgandakan (pahala kebaikan) bagi siapa yg Dia kehendaki.”

Dengan demikian, hadits ini dapat diterima dan dijadikan hujjah serta landasan hukum dlm beramal. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 27 Januari 2014).

» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

– – – – – •(*)•- – – – –

TATA CARA DAN SYARAT TAUBAT NASUHA YANG BENAR

Ust. M Wasitho, حفظه الله

Tanya:
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Ustadz, bagaimana caranya melakukan taubat nasuha dengan benar? dan doa apa yg sebaiknya dibaca? Terimakasih. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Jawab:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah. Taubat nasuha yg benar dan sempurna, yg dapat menghapuskan segala dosa besar n kecil ialah taubat yg memenuhi syarat-syarat berikut ini:

1. Penyesalan.
Maksudnya, hati orang yang bertaubat menyesali segala perbuatan dosa n maksiat yg pernah ia lakukan dgn penyesalan yg sangat besar.

2.Tekad yg Kuat.
Maksudnya, hati seorang hamba bertekad kuat utk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa n maksiatnya kpd Allah Ta’ala.

3. Berhenti Total.
Maksudnya, seorang hamba berhenti secara total dari perbuatan dosa n maksiat yg pernah dilakukannya, menjauhi teman-teman buruk yg selalu mengajaknya berbuat dosa n maksiat, serta meninggalkan tempat-tempat maksiat.

4. Ikhlas.
Maksudnya, seorang hamba ketika bertaubat dari segala dosa n maksiat niatnya ikhlas karena mengharap ridho Allah semata dan karena takut akan siksa-Nya yg sangat pedih di dunia n akhirat.

5. Bertaubat Pada Waktunya.
Waktu taubat yg sah n diterima Allah ialah selagi nyawa seorang hamba belum sampai di tenggorokannya (yakni belum mengalami naza’/sakarotul maut), dan selama matahari belum terbit dari sebelah barat.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

(Innallaha Yaqbalu Taubatal ‘Abdi Maa Lam Yughorghir Au Tathlu’isy-Syamsu Min Maghribiha)

Artinya: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selagi nyawa belum smp di tenggorokannya, dan selagi matahari belum terbit dari arah barat.” (HR. At-Tirmidzi dan dinyatakan HASAN oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah).

6. Istiqomah (kontinue) dlm melaksanakan amal sholih n ketaatan kpd Allah.

7. Mengembalikan hak-hak kpd pemiliknya apabila dosa n maksiat yg pernah dilakukannya berkaitan dengan hak sesama manusia, spt pernah mengambil harta orang lain tanpa hak, berhutang kpd orang lain dan belum melunasinya, merubah/menggeser batas tanah, dsb. Adapun jika ia pernah menzholimi orang lain dengan ghibah (ngerasani), memfitnah, dan selainnya, maka ia harus minta maaf kpd orang yg dizholiminya, dan mendoakan kebaikan serta memohon ampunan kpd Allah untuknya, serta menjelaskan kebaikan-kebaikannya di majlis-majlis atau di hadapan orang-orang yg pernah ia menggunjingnya.

Apabila syarat-syarat ini terpenuhi, maka taubatnya sah n diterima Allah, dan semua dosanya diampuni oleh Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah (yg artinya): “Katakanlah (hai Muhammad) kpd orang2 kafir, jika mereka berhenti (yakni bertaubat dr kekufuran mereka), niscaya dosa-dosa mereka yg tlh lalu diampuni (oleh Allah).” (QS. Al-Anfaal: 38)

Dan jg berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kpd ‘Amru bin ‘Ash ketika hendak masuk Islam: “Tahukah engkau bahwa (masuk) Islam itu menghapuskan dosa-dosa yg dilakukan sblm memeluk agama Islam, dan Taubat itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Dengki, Iri, Hasad Menghapuskan Kebaikan

Ust. M A Tuasikal, حفظه الله

Dalam kitab Syu’abul Iman, Al Baihaqi membawakan hadits,
“Sedekah dapat memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.
Sebaliknya …
Hasad (Iri) dapat memakan kebaikan sebagaimana api dapat melahap kayu bakar.”

Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat hasad yang dapat memusnahkan kebaikan-kebaikan kami.

www.rumaysho.com di pagi hari

– – – – – •(*)•- – – – –

Empat Penjaga Hati Dari Kehancuran

Ust. Djazuli, حفظه الله

Saudaraku!

Fitnah diakhir zaman seperti skrng sdh ini sdh semakin berbahaya yg kerap mengancam & memporakporandakan kedamaian hati..

Sampai pada suatu keadaan mencari kenyamanan & ketenangan hati lebih sulit daripada mencari uang..

Semoga apa yg tersaji ini membantu anda semua mendapatkan apa yg selama ini dicari..!

1. Kembali kpd Aqidah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam & para sahabat

Berkata Syekhul Islam,”Secara umum kekokohan& ketenangan hati orang2 yg beraqidah seperti aqidah Rasulullah jauh lebih baik daripada orang2 yg melenceng dari aqidah yg sahih”

2.Selalu berjalan bersama dalil

Berkata Syekhul Islam,”Termasuk nikmat terbesar yg Allah berikan kpd hamba-Nya, dimana Dia akan membuat hambaNya tersebut lbh mencintai dalil daripada siapapun & apapun.”

3. Ikhlas & sll memgikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam

Berkata Ibnu Rajab,”Khabar gembira bagi yg sll berjalan bersama ikhlas & ittiba’, krn mereka pasti mengungguli para ahli ibadah.”

4. Menuntut ilmu agama

Berkata seorang penyair,”

Kebodohan adalah penyebab matinya hati..

Sedangkan jasad orang mati hatinya adalah kuburan sebelum ia masuk keliang kubur yg sesunguhnya..

Ya Allah teguhkan hati kami diatas hidayahmu!

– – – – – •(*)•- – – – –

Sabar Adalah Cahaya

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Sabar Adalah Cahaya

• Hikmah Fajar

Satu kejujuran terkadang menimbulkan rintangan dan cobaan. Memang demikianlah Allah senantiasa menguji hamba-Nya dengan rintangan dan cobaan untuk menjelaskan mana yang benar-benar jujur dan yang dusta.

Kalau boleh dikatakan, hidup tanpa sabar bagaikan berjalan dikegelapan tanpa obor cahaya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

الصَّبْرُ ضِيَاءٌ
“Sabar adalah sinar cahaya.” (HR. Muslim).

Rasulullah menggunakan kata (ضِيَاءٌ) yang berarti sinar cahaya yang memiliki unsur panas dan membakar. Demikian juga sinar cahaya matahari dinamakan juga ضِيَاءٌ  karena memiliki sifat panas dan membakar, seperti dalam firman Allah (yang artinya),

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS. Yunus:5).

Manakala sabar menjadi perkara sulit bagi kita, karena membutuhkan perlawanan kepada hawa nafsu dan pengekangan keinginan jiwa, maka jadilah sabar itu sinar (ضِيَاءٌ).

Lebih lengkap KLiK http://klikuk.com/sabar-selalu-dibutuhkan/

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc

Semoga berguna
Sebarkan

Jazaakumullah khairan

www.KlikUK.Com
Titian Ilmu Penyejuk Qalbu
———————————————-

الصَّبْرُ ضِيَاءٌ
“Sabar adalah sinar cahaya”

– – – – – •(*)•- – – – –

Sabar Tak Bertepi

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

• Hikmah Fajar

Sabar yang terpuji ada tiga jenis:

1. Sabar melaksanakan ketaatan.
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaahaa:132).

2. Sabar menghindari kemaksiatan : sabar menahan dirinya dari berbuat maksiat.

3. Sabar menghadapi takdir Allah dengan ridho dan menerima ujian, cobaan dan musibah yang Allah timpakan kepada kita.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Perlu diperhatikan bahwa sabar dalam menjalankan ketaatan dan menahan diri dari kemaksiatan lebih utama dari sabar menghadapi ketetapan takdir Ilahi.

Pentingnya kesabaran ini akan tampak lebih jelas saat kita tampil beda dgn masyarakat sekeliling, dimana kita melaksanakan dan menghidupkan ajaran Islam dgn benar. Oleh karena itu, Rasulullah menyatakan,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang satu zaman di mana orang yang sabar di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi).

Ingatlah firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS.  Ali Imran: 200).

Marilah berlatih sabar dan terus sabar agar kita menjadi orang yang beruntung.

Selamat bersabar!!!!

KLiK http://klikuk.com/sabar-selalu-dibutuhkan/

Sebarkan,
Semoga Allah catat sebagai amal salih pagi Antum semua. Jazaakumullah khairan

www.KlikUK.com
Titian Ilmu Penyejuk Qalbu

Keberhasilan kita dalam menjalani kehidupan ini tidak lepas dari kata sabar.

Sabar Tak Bertepi.

– – – – – •(*)•- – – – –

TANDA-TANDA DITERIMANYA AMAL IBADAH DAN TAUBAT

Ust. Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله

Sesungguhnya setiap muslim dan muslimah sudah pasti senantiasa berharap agar amalan-amalan kebaikannya menjadi sah dan diterima Allah ta’ala, dan keburukan-keburukannya dimaafkan dan dihapuskan oleh-Nya. Sebab dengan demikian ia akan menjadi hamba Allah yg hidup selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.

Jika amalan kebaikan seorang hamba telah diterima Allah, maka itu sebagai tanda bahwa amalan yg dikerjakannya telah benar dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman:
{ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنْ الْمُتَّقِينَ }

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yg bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27).

» Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sesungguhnya amalan (ibadah) itu jika dikerjakan dengan ikhlas karena Allah, namun caranya tidak benar, maka amalan ibadah tsb tidak diterima Allah. Demikian pula sebaliknya, amalan (ibadah) jika dikerjakan dengan cara yg benar, namun niatnya tidak ikhlas karena Allah, maka amalan (ibadah) itu juga tidak diterima Allah, sehingga amalan ibadah tsb dikerjakan dengan ikhlas karena mengharap wajah Allah semata, dan benar karena sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

(*) Lalu, bagaimana dan apa saja tanda-tanda suatu amal ibadah dan taubat seorang hamba telah diterima Allah ta’ala, dan jerih payahnya telah membuahkan hasil?

Berikut ini kami akan sebutkan sebagian tanda dan ciri diterimanya amal ibadah dan taubat seorang hamba sebagaimana dijelaskan oleh para ulama sunnah.

(*) TANDA PERTAMA:
Tidak Mengulangi Lagi Perbuatan Dosa dan Maksiatnya.

Apabila seorang hamba merasa benci terhadap dosa-dosa, dan ia benci untuk mengulangi lagi perbuatan dosa dan maksiat yg pernah dilakukannya, maka ketahuilah bahwa ia termasuk orang yg diterima Allah taubat dan amal ibadahnya.

» Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:
“أما إذا تذكر الذنبَ ففرح وتلذذ فلم يقبل ولو مكث على ذلك أربعين سنة”

“Adapun jika seorang hamba ingat akan perbuatan dosanya, lalu ia merasa senang dan menikmatinya, maka (taubatnya) tidak akan diterima Allah meskipun ia hidup selama 40 (empat puluh) tahun dalam keadaan demikian.” (Lihat Madaariju As-Saalikiin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah).

» Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata:
“مَن استغفر بلسانه وقلبُه على المعصية معقود، وعزمه أن يرجع إلى المعصية ويعود، فصومه عليه مردود، وباب القبول فى وجهه مسدود”.

“Barangsiapa meminta ampunan (kepada Allah) dengan ucapan lisannya, sementara hatinya merasa terikat dengan perbuatan maksiat, dan bahkan ia berkeinginan kuat untuk mengulangi lagi perbuatan maksiatnya, maka puasanya ditolak Allah, dan pintu diterimanya (amal dan taubat) tertutup baginya.”

(*) TANDA KEDUA:
Semakin Bertambah Semangat Dalam Melaksanakan Amal Kebaikan Dan Ketaatan Kepada Allah.

» Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“إن من جزاء الحسنة الحسنة بعدها، ومن عقوبة السيئة السيئةُ بعدها، فإذا قبل الله العبد فإنه يوفقه إلى الطاعة، ويصرفه عن المعصية”

“Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan ialah (dimudahkan Allah) melaksanakan kebaikan setelahnya. Dan diantara hukuman atas perbuatan buruk ialah melakukan keburukan setelahnya. Maka, apabila Allah telah menerima (amalan n taubat) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan ketaatan (kepada-Nya), dan memalingkannya dari perbuatan maksiat (kepada-Nya).”

» Beliau (Hasan Al-Bashri rahimahullah) juga pernah berkata:
“يا ابن آدم إن لم تكن فى زيادة فأنت فى نقصان”.

“Wahai anak cucu Adam, jika engkau tidak dlm keadaan bertambah (amalan kebaikanmu), berarti engkau benar-benar dlm keadaan berkurang (ketaatanmu kpd Allah, pent).”

(*) TANDA KETIGA:
Sabar dan Tegar Dalam Melaksnakan Ketataatan Kepada Allah Ta’ala.

Tegar dan istiqomah dlm melaksanakan ketaatan memiliki buah yg sangat agung sbgmn dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah: “Sungguh Allah yg Maha Mulia telah memberlakukan hukum kebiasaan dengan kemuliaan-Nya bahwa barangsiapa hidupa di atas suatu kebiasaan, niscaya ia akan mati di atas kebiasaan tsb. Dan barangsiapa yg mati dlm suatu keadaan, maka ia akan dibangkitkan Allah pd hari Kiamat di atas keadaan tsb.”

Maka, barangsiapa terbiasa melaksanakan ketaatan kpd Allah di dalam hidupnya di dunia, niscaya Allah akan mewafatkannya dlm keadaan berbuat taat.

Hal ini sebagaimana disebutkan di dlm hadits:
بينما رجلٌ يحجُّ مع النبي صلى الله عليه وسلم فوكزته الناقة فمات فقال النبيّ صلى الله عليه وسلم: ( كفنوه بثوبيه فإنه يبعث يوم القيامة ملبّياً )

Artinya: “Tatkala ada seseorang yg menunaikan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia terjatuh dari seekor onta (yg ditungganginya), lalu ia pun mati. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kpd sebagian para sahabat): “Kafanilah orang ini dengan menggunakan kedua bajunya (maksudnya 2 kain ihromnya), karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan (oleh Allah) pada hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah.”(HR. Imam Al-Bukhari dan Muslim).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jg bersabda tentang seseorang yang mencuri sebagian harta rampasan perang; “Sesungguhnya benda rampasan perang yg ia curi akan ada api yg menyala padanya (pada hari Kiamat, pent).” (HR. Al-Bukhari).

(*) TANDA KEEMPAT:
Bersihnya hati dari noda-noda syirik, kufur, maksiat dan penyakit-penyakit hati, seperti iri dengki, sombong, bangga diri, riya, dsb.

Tanda orang yang diterima amalnya senantiasa mengutamakan apa yang dicintai dan diridhoi Allah daripada kecintaan dan keridhoan manusia, mendahulukan perintah-perintah-Nya daripada perintah siapapun selain-Nya, dan ia mencintai orang lain karena Allah.

Ia jg sangat Jauh dari sifat hasad (iri dan dengki), kebencian dan permusuhan dengan orang lain karena urusan dunia. Ia selalu merasa yakin bahwa segala urusan berada di tangan Allah, sehingga hatinya merasa tentram dan ridho dengan keputusan-Nya. Ia jg meyakini bahwa apapun yg telah ditakdirkan oleh Alah untuk “meleset” dari dirinya, maka hal itu tidak akan menimpa dirinya. Dan apa sj yg ditakdirkan Allah akan menimpa dirinya, maka hal itu tidak akan bisa dihindari.

Yang jelas dan pasti, sikap orang yang diterima Allah amal dan taubatnya ialah selalu merasa ridho dengan takdir dan keputusan Allah dlm bentuk apapun, serta ia berbaik sangka kpda-Nya.

(*) TANDA KELIMA:
Selalu Mengingat Kehidupan Akhirat Yang Hakiki nan Abadi.

Pada suatu hari Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah (seorang ulama salaf dari generasi atba’ut tabi’in) bertanya kepada seorang lelaki (tua): “Berapa tahun umur yang telah kau lalui?” Ia jawab: “Sudah 60 (enam puluh) tahun.” Maka Al-Fudhoil bin ‘Iyadh berkata kepadanya: “Subhanallah, sejak 60 (enam puluh) tahun engkau masih dalam perjalananmu menuju Allah! Sebentar lagi engkau akan sampai (baca: akan mati). Ketahuilah, bahwa engkau akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah (atas umurmu di dunia, pent). Oleh karena itu, persiapkanlah jawaban atas pertanyaan-Nya.” Maka lelaki tua itu bertanya kepadanya: “Apa yang mesti aku lakukan sekarang?” Jawab Al-Fudhoil bin ‘Iyadh: “Berbuat baiklah di sisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yg telah lalu. Namun, jika engkau berbuat keburukan (dosa dan maksiat) di sisa umurmu, niscaya Allah akan menyiksamu atas dosa-dosamu yg telah lalu maupun yg akan datang.”

(*) TANDA KEENAM:
Selalu Menjaga Keikhlasan Dalam Setiap Amal Dan Kebaikan.

Pernah ada seseorang laki-laki menyampaikan suatu nasehat di hadapan imam Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi’in) rahimahullah. Maka imam Hasan Al-Basri berkata kepadanya: “Wahai si fulan, saya belum bisa mengambil faedah dan pelajaran dari nasehatmu. Ini bisa jadi dikarenakan hatiku yg “berpenyakit”, atau bisa jadi karena niatmu (dalam menyampaikan nasehat) yang kurang ikhlas.”

Demikianlah beberapa tanda diterimanya amal ibadah dan taubat seorang hamba. Ini hanyalah sebuah tanda atau ciri diterimanya amal. Sedangkan kepastiannya, hanya Allah Ta’ala sj yg mengetahuinya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa yg pernah kita lakukan. Amiin.

(Cibubur, 11 Ferbruari 2014).

– – – – – •(*)•- – – – –

Menebar Cahaya Sunnah