Berkata Bohong

Ust. Rochmad Supriyadi LC

Musuh islam sangatlah banyak sekali, diantaranya adalah ada ditubuh kaum muslimin, mengatasnamakan islam. Sebagaimana banyak dijumpai hadist2 palsu yang diatasnamakan dari Nabi صلى الله عليه وسلم , pada kenyataannya bukan ucapan ataupun sabda Nabi صلى الله عليه وسلم , hal ini seperti apa yang banyak beredar hadist tentang fadhilah & keutamaan ayat & surat didlm Al-Qur’an, yang mana telah beredar lebih dari seribu hadist yang dipalsukan.

Musuh islam tidak berhenti sampai disini, bahkan perkataan2 ulama & ahli ilmi pun turut ikut serta dipalsukan, & diatas namakan dari ulama.

Sebagai contoh, apa yang telah beredar dari ungkapan Al-Imam Abu Hanifah, yang menyatakan bahwa jihad yang fardhu adalah jihad difa’ (melawan & membela diri), demikiyan pula apa yang masyhur dari Al-Imam Malik, bahwa sholat menurut pendapat imam adalah tidak bersedekap, akan tetapi meluruskan tangan tanpa bersedekap meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri didada. Sbgmn pula terkenal pendapat tentang melafadzkan niyat tatkala sholat dari pendapat Al-Imam Sya’fi’i, demikian pula ungkapan dari Imam Ahmad dsb.

Ini semua adalah kebohongan & pengelabuhan terhadap ilmu para ulama.

Termasuk tuduhan kepada syaikhul Islam ibnu Taimiyah & murid nya Ibnu Qoyyim, imam Muhammad ibnu Abdul wahab, hingga para ulama dizaman sekarang.

Dikabarkan mereka: ulama yang benci kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم , tidak mau mengucap sholawat kepada Nabi dan sahabatnya.

Maka semua tuduhan ini adalah kebohongan & kedustaan, yang tidak ada nyata & bukti.

Bagamana mungkin orang2 yang berpegang teguh terhadap sunnah2 Nabi صلى الله عليه وسلم tidak cinta Nabi & benci bersholawat?

Sholawat yang manakah yang dibenci para pembela sunnah Nabi?

Apakah sholawat yang di ajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم ataukah ungkapan yang berlebihan yang ditujukan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم yang hal ini dilarang Nabi dalam sabdanya,”Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana umat nasrani mengkultuskan Isa ibnu Maryam, Sesungguhnya Aku hanyalah Hamba & RasulAllah”

– – – – – •(*)•- – – – –

Panduan Hidup Di Akhir Zaman

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Akan datang suatu zaman, banyak penceramahnya namun sedikit ulamanya. Banyak yang meminta namun sedikit yang memberi. Berilmu pada saat itu lebih utama dibandingkan beramal.

Akan datang fitnah di akhir zaman, bergelombang silih berganti seperti ombak. Fitnah yang datang begitu berat. Namun fitnah yang datang setelahnya semakin berat.

Datang fitnah. Seorang mukmin akan berkata,” fitnah inilah yang akan membinasakanku..”. Ia tahu dan iapun waspada. Berlalulah fitnah itu, lalu datang fitnah yang baru. Iapun kembali berkata,” inilah..inilah..”.

Fitnah itu begitu dahsyat. Bisa jadi seseorang beriman dipagi hari, disore hari ia menjadi kafir. Atau sore hari ia beriman, pagi hari dia menjadi kafir.

Fitnah apa saja yang Nabi kabarkan ? Apa kiat supaya selamat dari fitnah-fitnah yang terus berdatangan ?

Simak penjelasan ust Abu Yahya Badrusalam,Lc. Klik

http://m.salamdakwah.com/videos-detail/panduan-hidup-di-akhir-zaman.html

– – – – – •(*)•- – – – –

Pembatal Islam

Ust. Jafar Shalih, حفظه الله

Setelah membawakan 10 pembatal Islam pada risalahnya “Nawaqidul Islam”, Syaikh Muhammad menutup penjelasannya dengan ucapan berikut:

((Dan tidak ada perbedaan pada seluruh pembatal-pembatal ini (bahwa pelakunya kafir), antara: orang yang melakukannya sengaja atau karena takut atau main-main. Kecuali yang melakukannya karena dipaksa))

Asy-Syaikh Abdul Aziz Rajihi Hafidzahullah menjelaskan:

((Manusia dalam pembatal-pembatal Islam ada 5 keadaan:
1- Melakukan kekafiran dengan sengaja: kafir
2- Melakukan kekafiran main-main: kafir
3- Melakukan kekafiran karena takut: kafir
4- Melakukan kekafiran dipaksa & hatinya tenang dengan kekafiran: kafir

Tidak ada yang selamat, selain orang yg ke-5. Yaitu orang yang melakukan kekafiran dipaksa & hatinya tetap diatas keimanan))

Allah Ta’ala berfirman: ((…kecuali orang-orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap diatas keimanan)) (Qs. An-Nahl: 106)

– – – – – •(*)•- – – – –

KETIKA SETAN MENYESAL MANUSIA BERMAKSIAT

Ust. Jafar Shalih, حفظه الله

Tujuan terbesar Iblis adalah menyesatkan anak adam dan menjerumuskannya ke dalam jurang maksiat. Tapi adakalanya ketika setan sukses menjerumuskan mereka, setan menyesali perbuatannya sendiri. Kapankah itu?

Simak penjelasan berikut!

Asy-Sya’bi pernah berkata: Jika Allah mencintai seorang hamba, dosanya tidak akan mencelakakannya.

Ibnul Qayyim menjelaskan: Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri hamba-Nya, Allah bukakan pintu taubat, penyesalan, kerendahan…dan upaya-upaya mendekatkan diri kepada-Nya dari mengerjakan kebaikan-kebaikan dimana dosa-dosanya menjadi sebab ia dirahmati. Sampai-sampai setan berkata: Duhai, andaikan aku biarkan saja dia dan tidak pernah aku jerumuskan!

Inilah arti ucapan sebagian salaf: Sesungguhnya seseorang mengerjakan sebuah dosa, karenanya ia masuk surga. Dan mengerjakan sebuah kebaikan, karenanya ia masuk neraka.

Yaitu ia mengerjakan dosa. Dan tiada hentinya dosa itu tampil dihadapan kedua matanya. Sehingga ia senantiasa takut, sedih, resah, menangis, menyesal dan malu kepada Rabnya. Tertunduk kepalanya dihadapan-Nya, hatinya hancur. Sehingga jadilah dosa itu sebab kebahagiaan dia dan keberuntungannya. Sampai-sampai dosa itu jauh lebih berguna baginya dari ketaatan-ketaatan yang banyak.

– – – – – •(*)•- – – – –

Cintailah Saudaramu Karena Allah

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Terkadang ALLAH subhaanahu wa ta’ala memisahkan antara kita dengan orang yang kita cintai karenaNya dengan jarak & kesibukan, hanya untuk sekedar merasakan indahnya kerinduan diantara keduanya diatas ketataan kepadaNya…

Untuk itu wahai saudaraku…
Cintailah saudaramu karenaNya sertakan doa untuknya apabila dirimu jauh darinya jangan menunggu sampai waktu memisahkan dirimu dengannya….

– – – – – •(*)•- – – – –

Imam Muhammad bin Abdul Wahab, Rahimahullah

Ust. Jafar Shalih, حفظه الله

Barangsiapa memperhatikan karya-karya Imam Muhammad bin Abdulwahhab -Rahimahullah- serta tulisan-tulisan para imam dakwah setelah beliau dapat dengan mudah mengetahui bahwa poros peperangan adalah di atas kalimat “Laa ilaaha Illallah”.

Musuh-musuh mereka adalah pelaku syirik besar setelah ditegakkan pada mereka hujjah dan orang-orang yang melakukan pengkaburan dalam pokok utama ini dengan melegitimasi musyrikin sebagai muslimin.

((Kami persaksikan Allah atas apa yang ada didalam hati-hati kami. Bahwa barangsiapa mengamalkan tauhid dan berlepasdiri dari kesyirikan dan pelakunya, ia adalah muslim kapan dan dimana pun ia berada.

Dan yang kami kafirkan adalah orang yang menyekutukan Allah dalam uluhiyahnya, setelah jelas baginya hujjah akan batilnya kesyirikan. Dan orang-orang yang menghiasi kesyirikan kepada manusia atau memasang syubhat-syubhat batil akan benarnya kesyirikan. Dan orang-orang yang membela dengan darahnya monumen-monumen dan kubah-kubah petilasan ajang kesyrikan kepada Allah. Dan orang-orang yang memerangi pihak-pihak yang mengingkari kesyrikan dan berusaha memusnahkannya)) Imam Muhammad bin Abdulwahhab Rahimahullah.

Dan biografi mereka adalah cermin perjalanan dakwah yang berkah ini. Dakwah para nabi dan rasul!!

– – – – – •(*)•- – – – –

Membela Kebenaran, Benarkah ?

Ust. Jafar Shalih, حفظه الله

Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata, “Ketika semakin banyak perbedaan manusia dalam masalah-masalah agama dan perpecahaan mereka, kian banyak pula sikap saling membenci dan saling mencela antara mereka. Setiap orang dari mereka mengaku bahwa dirinya membenci karena Allah. Ada yang memang memiliki uzur dan ada yang tidak. Ada yang sekedar mengikuti hawa hafsunya, sangat minim dalam penelitian terhadap permasalahan yang ia bela dengan kebenciaannya. Dan sungguh, sangat banyak sebab kebencian itu hanya karena orang yang diikutinya diselisihi, ia menyangka bahwa semua yang dikatakannya adalah kebenaran semata. Ini adalah prasangka yang salah … Semua ini tidak benar dikatakan membenci karena Allah, wajib atas seorang muslim untuk menasehati dirinya sendiri, dan berusaha untuk tidak terjatuh pada kesalahan ini dengan sungguh-sungguh.”

Ibnu Rajab -rahimahullah- juga berkata, “Terkadang seseorang itu membela sebuah pendapat hanya karena orang yang diikutinya telah berpendapat demikian, yang jika selainnya yang berpendapat demikian dikalangan para ulama, niscaya ia tidak akan menerima pendapat tersebut dan membelanya, ia juga tidak akan memberikan loyalitas (wala) kepada orang yang setuju dengannya dan tidak akan berlepas diri (baro) dari orang yang menyelisihinya. Namun dia menyangka sedang menolong kebenaran.”

(Jaami’ al Uluum wal Hikam, hal. 573. Cet. Daar Ibnu Rajab)

– – – – – •(*)•- – – – –

Ucapan Syahadat Saja Tidak Cukup !

Ust. Jafar Shalih, حفظه الله

Pada surat Syaikh Ishaq bin Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh kepada ikhwan, setelah beliau membawakan hadits Tsauban Radhiyallahu Anhu: ((Tidak datang kiamat sampai kabilah-kabilah dari ummatku bergabung dengan musyrikin dan sampai sekelompok ummatku beribadah kepada berhala))

Beliau berkata: Sungguh fitnah telah merebak ke tengah-tengah mereka dan ujian menjadi besar dan berhembus kerusakan kepada akidah-akidah muslimin dan orang-orang yang beriman, sehingga orang-orang yang tidak memiliki bashirah, keteguhan dan ilmu bergabung dengan musyrikin.

Mereka menyangka bahwa dengan sekedar berpegang dengan rukun-rukun Islam saja tanpa berpegang dengan rukun terbesar ini (berpisah dengan musyrikin) mereka telah berada diatas petunjuk yang lurus.

Padahal keadaannya tidak seperti yang mereka kira. Melainkan seperti yang dikatakan oleh Abul Wafa Ibnu Aqil:

“Jika kamu ingin mengetahui keberadaan Islam di tengah-tengah penduduk di zamanmu. Jangan lihat kepada berdesak-desakannya mereka dipintu-pintu masjid dan jangan pula melihat kepada gema suara mereka dengan ucapan labbaik. Tapi lihatlah bagaimana kecocokan mereka terhadap musuh-musuh agama (musyrikin)”

Mulhaq Hukum Takfirul Mu’ayyan -Karya Asy-Syaikh Ishaq bin Abdurrahman Alu Asy-Syaikh

– – – – – •(*)•- – – – –

Sebuah Renungan

Ust. Jafar Shalih, حفظه الله

Untukmu yang Berganti Tahun

Seorang alim bertanya kepada seseorang: Berapa usiamu?
Orang itu menjawab: 60 tahun.
“Kamu sejak 60 tahun yang lalu berjalan menuju Allah dan sebentar lagi akan sampai” kata si Alim.

“Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’un” ucap orang tersebut.

“Tahukah kamu apa arti ucapanmu itu?” Tanya si Alim.

“Artinya: Aku hamba milik Allah dan kepada-Nya aku kembali”.

Barangsiapa menyadari bahwa ia hamba Allah dan akan kembali kepadanya, sadarlah bahwa kelak ia akan dipanggil menghadap.

Dan barangsiapa menyadari bahwa ia akan dipanggil menghadap, maka sadarilah bahwa ia akan ditanya.

Dan barangsiapa menyadari bahwa ia akan ditanya, persiapkanlah untuk pertanyaan itu jawabannya. Jelas si Alim.

Orang itu bertanya: Bagaimana solusinya?!
Mudah, jawab si Alim.
Apa itu? Orang itu mengejar.
Jawab si Alim: “Berbuat baiklah pada sisa umurmu, dosa-dosamu yang lalu akan diampuni. Tapi jika kamu berbuat buruk pada sisa umurmu, kamu akan dihukum akibat dosamu sekarang dan dosa-dosamu yang telah lalu”.

Semoga bermanfaat!

– – – – – •(*)•- – – – –

Akan Ada Bencana

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
سيكون في اخر الزمن خسف ومسخ وقذف إذا ظهرت المعازف والقينات واستحلت الخمر
“Akan ada di akhir zaman dataran yang ditenggelamkan, wajah ang dirubah bentuknya, dan dilempari batu. Apabila telah muncul alat alat musik dan para biduwanita, dan dihalakannya arak.” (HR At Thabrani).

Di zaman ini..
Sudah tampak dan nyata..
Bencana itu pasti datang..
karena Nabi tidak mungkin berdusta..
Kita hanya bisa memperbanyak istighfar dan taubat..
Semoga kita selamat darinya..

– – – – – •(*)•- – – – –

Menebar Cahaya Sunnah