728. Tj Apakah Ada Tanda Kematian 100 (Seratus) Hari Sebelumnya ?

728. BBG Al Ilmu – 49

Tanya:
Apakah ada dalil yang shahih mengenai adanya tanda 100 hari kematian manusia sebelum meninggal ?

Jawab:
Tidak ada dalilnya.

Siapapun yang mengatakannya maka dia telah berdusta dan perkataannya batil.

Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita di dalam kitab-Nya (Al-Qur’an Al-Karim) bahwa tiada seorang pun yang dapat mengetahui kapan dan dimana ia akan meninggal dunia. Yang mengetahui hal tersebut hanyalah Allah.

Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Tiada seorang pun yang mengetahui tentang apa yang akan dilakukannya di hari esok, dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi manakah ia akan meninggal dunia.”

Jadi jika ada yang mengatakan atau broadcast mengenai tanda-tanda kematian, tidak boleh bagi kita mempercayai kebenarannya, dan tidak boleh pula menyebarluaskannya kecuali dalam rangka menjelaskan kepada umat Islam akan kedustaan dan kebatilannya.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
BBM/SMS DUSTA DAN BATIL TENTANG TANDA-TANDA KEMATIAN PADA HARI KE-100, 40, 7, 3 & 1 SEBELUM SAKARATUL MAUT

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

727. Tj Bolehkah Mengakhirkan Tahajjud Dan Witir Mendekati Shubuh ?

727. BBG Al Ilmu – 49

Tanya:
Berkaitan dengan qiyyamul lail, kadang teman ana mendapati saat witirnya memasuki adzan subuh, bagaimana ustadz ? karena teman ana kebiasaan mengambil sepertiga malam terakhirnya bukan di jam 1 dini hari tapi jam 3 atau 4, tujuannya agar subuhnya tetap segar dan tidak mengantuk, kalau mengambil jam 1 biasanya tidur lagi dan kadang subuhnya susah bangunnya! Bagaimana dengan cara yang dilakukan teman ana tersebut ?

Jawab:
Ust. Djazuli, حفظه الله

Memilih waktu tahajjud pada 1/3 malam yang mendekati shubuh juga boleh, tetapi syaratnya qiyaamul-lail dan witirnya tidak boleh sampai adzan, karena dengan adzan berarti waktu qiyaamul-lail dan witir sudah habis.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

726. Tj Bolehkah Menjadikan Seperangkat Alat Shalat Sebagai Mahar ?

726. BBG Al Ilmu – 2

Tanya:
Bagimana kalau seperangkat alat solat djadikan mahar ? Ada yang bilang kalau itu berat karena jika kita tidak benar2 mengamalkannya akan berdosa.

Jawab:
Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله

Asalnya seperangkat alat shalat boleh dijadikan mahar. Masalah kemudian dia tidak mengamalkannya, itu masalah lain.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

725. Tj Apakah Thoriqot/Tarekat Itu ?

725. BBG Al Ilmu – 391

Tanya:
Mohon jelaskan tentang thoriqot.

Jawab:
Thariqot atau Tarekat berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada ajaran tasawuf atau sufisme.

Jadi dalam ajaran sufi ada kelompok-kelompok tarekat yang setiap kelompok beda dengan kelompok lainnya dalam tatacara wirid dan model ibadah tertentu.

Untuk mengetahui hukum tarekat-tarekat Sufi kami akan terjemahkan jawaban syaikh Ibnu Baz dalam masalah yang mirip:

“…Pertanyaan tentang Tahariqat-Thariqat ini global, jika yang dimaksudkan oleh penanya adalah Thariqat-thariqat Shufiyah maka hukumnya adalah mungkar, sebagian lagi Kufur dan sebagian lagi Bid’ah. Karena thariq (jalan) yang wajib dilalui adalah jalannya Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”

…Maka wajib atas kaum Muslimin untuk berjalan di atas jalan terangnya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kemudian Istiqamah diatas jalan dan agamanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://salamdakwah.com/baca-pertanyaan/tirikat.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

724. Tj Memasang Bata Untuk Mencegah Kuburan Tergerus

724. BBG Al Ilmu – 321

Tanya:
Kuburan istri ana, kalau di musim hujan, gundukan tanahnya sering turun, bolehkah ana memasang bata sekedar untuk menghalangi agar tanah tersebut tidak turun ?

Jawab:
Boleh pakai batu bata dengan batas ketinggian sejengkal dari tanah, namun jangan di semen.

والله أعلم بالصواب
Sumber:

Tj Memasang Keramik Di Samping Kuburan Agar Tidak Tergerus

http://muslim.or.id/aqidah/fatwa-ulama-hukum-membangun-kuburan.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Do’a Sejukkan Hati

Bismillah,
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku.
Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu.
Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku”

Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.

Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”?

Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain).”

(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

http://m.klikuk.com/doa-penyejuk-qalbu/

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA, MERUPAKAN SEBAB TERKABULNYA DOA

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu? “Iya, masih””, Khalifah Umar mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia MEMILIKI SEORANG IBU, dan Dia SANGAT BERBAKTI KEPADA IBUnya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “BERADA DI TENGAH-TENGAH BANYAK ORANG SEHINGGA TIDAK DIKENAL ITU LEBIH KU SUKAI.” (R.Muslim)

Dari kitab: Birrul walidain
Oleh: Khalid bin jum’ah Al-Kharraz.

Fawaidh Hadits:

1. Uwais Alqorni adalah seseorang yang sangat berbakti kepada Ibunya.
2. Diijabkahkannya doa seseorang dengan sebab berbuat baik kepada Ibunya (yang memiliki hub kerabat).
3. Tawadhu dan zuhudnya Uwais Alqorni.

Akhuka Ahmad Ferry

Tanda Bahagia

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Ya Allah mudahkanlah semua urusan hambaMu yg lemah ini:

Ada nasehat dari ulama, begini nasehatnya: Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al Wabilush Shoyyib mengatakan,

ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم الله سبحانه وتعالى المسؤول المرجو الإجابة أن يتولاكم في الدنيا والآخرة وأن يسبغ عليكم نعمه ظاهرة وباطنة وأن يجعلكم ممن إذا أنعم عليه شكر وإذا ابتلي صبر وإذا أذنب استغفر فإن هذه الأمور الثلاثة عنوان سعادة العبد وعلامة فلاحه في دنياه وأخراه ولا ينفك عبد عنها أبدا فإن العبد دائم التقلب بين هذه الأطباق الثلاث
 
Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, Yang senantiasa diharapkan terijabahnya do’a. Semoga Allah melindungi kalian di dunia dan akhirat. Semoga Allah senantiasa melapangkan nikmat-Nya baik secara zhohir maupun batin. Semoga Allah pula menjadikan kalian menjadi orang-orang yang bersyukur tatkala diberi nikmat, bersabar ketika ditimpa musibah dan segera memohon ampunan kepada Allah ketika terjerumus dalam dosa. Inilah tiga tanda kebahagiaan dan tanda keberuntungan seorang hamba di dunia dan akhiratnya. Seorang hamba senantiasa akan berputar pada tiga kondisi ini.
(Al Wabilush Shoyib, hal.11, Asy Syamilah)
 
Inilah tiga tanda bahagia:
1. Bersyukur ketika diberi nikmat.
2. Bersabar ketika ditimpa musibah (cobaan).
3. Memohon ampun pada Allah ketika telah terjerumus dalam dosa.
 
Manusia akan selalu berputar dalam tiga kondisi ini. Pasti Anda pun ingin bahagia.

– – – – – •(*)•- – – – –

Sabar Dalam Belajar

Imam asy-Syafi’i berpesan: 

Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.

Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.

Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,

Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,

Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.
 
Sumber: Disadur dari kitab Kaifa Turabbi Waladan Shalihan karya Al-Maghrbi bin As-Said Al-Maghribi.

• Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Ridha

Ridha adalah suatu kata yang mencakup penerimaan dan ketundukan. Maka tidak ada keridhaan kecuali jika ada penerimaan yang mutlak dan ketundukan yang sempurna secara lahir dan batin terhadap apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam dari Rabb-nya.

Maka apabila seorang muslim telah ridha terhadap Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai Nabi dan Rasul, dia tidak akan menoleh kepada selain petunjuk beliau, tidak akan bersandar kepada selain sunnah beliau di dalam perilakunya, menjadikannya sebagai hakim dan berhukum kepadanya, menerima, tunduk dan mengikuti hukumnya, serta ridha terhadap segala sesuatu yang beliau bawa dari Rabb-nya. Sehingga dengan hal itu hati dan jiwanya menjadi tenang dan dadanya menjadi lapang.

Broadcasted by:
www.muslim.or.id
Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Menebar Cahaya Sunnah