Hukum Mujtahid

Dalam hadits riwayat Muslim (no 1731), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang panglimanya untuk memutuskan keputusan dengan mengatakan, “Ini hukum Allah.”

Beliau besabda, “Kamu tidak tahu, apakah hukummu sesuai dengan hukum Allah atau tidak. Tapi putuskanlah dengan hukummu dan hukum kawan-kawanmu.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Lihatlah, bagaimana beliau membedakan antara hukum Allah dengan hukum mujtahid. Beliau melarang menamai hukum mujtahid sebagai hukum Allah.”
Ketika sekretaris umar menulis surat putusan dari Umar, ia menulis: “Ini adalah yang Allah perlihatkan kepada Umar.”
Umar berkata, “Jangan tulis begitu, tapi tulis: “Ini adalah pendapat Umar.”

Ibnu Wahb berkata, “Aku mendengar imam Malik berkata, “Bukanlah kebiasan salaf untuk berkata, “Ini halal ini haram.” Tetapi mereka berkata, “Kami memandang makruh, kamu memandang ini baik..

(I’laamul muwaqqi’in hal 37, tahqiq Raid bin Sabri).

Bersedekah Merupakan Salah Satu Sebab Untuk Meraih Husnul Khatimah

Ikhwan dan akhwat sekalian yang berbahagia diatas hidayah islam dan sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم , dipagi yang cerah ini saya akan membawakan satu hadits dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang menjelaskan tentang keutamaan bersedekah yang mudah-mudahan mendapatkan tempat dihati kaum muslimin dan muslimah sekalian.

Diantara sekian banyak keutamaan-keutamaan bersedekah, diantaranya:
Bahwa bersedekah merupakan salah satu sebab “Husnul Khatimah”, ini merupakan kabar gembira kepada kita semua, bahwa apapun yang kita sedekahkan dengan syarat harta yang kita miliki kita usahakan dari jalan yang halal/benar dan kita sedekahkan dijalan ketaatan kepada ALLAH سبحانه وتعالى maka yang demikian ini merupakan salah satu sebab “Husnul Khatimah”.

Perhatikan hadits berikut ini…
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa yang akhir kehidupannya ditutup dengan MEMBERI MAKAN ORANG MISKIN karena mengharap ganjaran dari ALLAH سبحانه وتعالى , maka ia akan masuk Syurga, barang siapa yang akhir kehidupannya ditutup dengan puasa karena mengharap ganjaran dari ALLAH maka ia masuk kedalam syurga, barang siapa yang akhir kehidupannya ditutup dengan mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah karena mengharap ganjaran dari ALLAH maka ia masuk kedalam syurga.
(Silsilah shohihah :1645).

Semoga ALLAH memudahkan kita semua untuk senantiasa beramal sholeh, memperbanyak sedekah dijalan-jalan ketaatan kepada ALLAH سبحانه وتعالى , bersedekah ditempat dimana ditempat tersebut menghidupkan sunnah Nabi yang mulia صلى الله عليه وسلم . Dan semoga ALLAH subhaanahu wa ta’ala menerima segala amal shaoleh kita serta menjadikan akhir kehidupan kita, kehidupan yang baik.

Akhukum Ahmad Ferry Nasution

MENGENAL HAKEKAT ULAMA ROBBANI DAN CIRI-CIRINYA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Di zaman sekarang ini sebagian orang terlalu gampang menyematkan kata “ulama” kpd seseorang. Ada orang yg disebut ulama lantaran ia adalah dai kondang yg pandai bicara, atau jadwal ceramahnya cukup padat di televisi, radio, majlis ta’lim maupun selainnya. Ada pula orang yg dipanggil sebagai ulama karena ia memiliki pondok pesantren dan jumlah jama’ah pengajiannya sangat banyak. Ada pula orang yg dianggap ulama karena ia terkenal dengan bacaan n hafalan Al-Qurannya yg bagus. Dan bahkan ada pula seseorang yg dianggap sebagai ulama lantaran ia selalu berpakaian gamis/jubah n memakai surban serta membawa biji tasbih ke mana pun ia pergi.

Akan tetapi, siapakah diantara mereka yg termasuk ulama Robbani sejati? Ulama yg benar2 memahami perkara agama Islam, dan mengajak umat kpd Allah ta’ala saja, tanpa mengikat jamaah dengan dirinya, yayasannya, atau kelompoknya?

(*) Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata: “Seorang ulama bukanlah orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan, akan tetapi sesungguhnya seorang ulama adalah orang yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya, dan mengetahui keburukan lalu ia berusaha menjauhinya.”. (Lihat Min A’laami as-Salaf, II/81).

Dengan demikian, ulama Robbani yg sesungguhnya ialah siapa sj yg memahami agama Islam yg bersumber dari Al-Quran Al-Karim dan Hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yg shohih dengan baik n benar. Dan ilmu yg dimilikinya dapat menumbuhkan rasa takut n tunduk di dalam hatinya hanya kpd Allah Ta’ala.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
{ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء}.

Artinya: “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah yg takut kepada-Nya hanya para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Cukuplah perasaan Takut kepada Allah dianggap sebagai ilmu , Dan cukuplah sikap tertipu seseorang (Oleh bisikan jiwa daan hawa nafsunya) dianggap sebagai kebodohan.”

Beliau jg berkata: “Sesungguhnya hakekat ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat (atau hafalan), akan tetapi hakekat ilmu ialah apa yang menumbuhkan rasa takut (kepada Allah).” 

(*) Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ilmu itu ialah apa saja yg bermanfaat. Dan ilmu itu bukan hanya berupa hafalan belaka.”

(*) CIRI-CIRI ULAMA ROBBANI:

1. Ulama Robbani ialah ulama yang priorities dakwahnya senantiasa mengajak umat manusia agar Beribadah Dan menghambakan diri hanya kpd Allah, serta memperingatkan mereka dari segala macam bentuk kemusyrikan, sebagaimana manhaj (metode/cara) dakwah para Nabi Dan Rasul alaihimussalaam.
 
2. Ulama Robbani ialah ulama yang senantiasa mengagungkan SUNNAH (tuntunan) Nabi shallallahu alaihi wasallam, baik itu dlm perkara yg berkaitan dengan aqidah (keyakinan), ibadah (ritual), Manhaj (konsep n cara memahami agama Islam), muamalah (interaksi sesama makhluk), akhlak n adab (perilaku n sopan santun).

3. Ulama Robbani ialah ulama yang mengetahui dan memahami permasalahan agama dari yang paling pokok dan mendasar hingga permasalahan yang besar lagi rumit.

4. Ulama Robbani ialah ulama yang ilmunya bermanfaat bagi dirinya n orang lain. Dan ia jg senantiasa mengamalkan ilmunya, mengajarkannya, serta berupaya untuk bersabar n berharap pahala dalam menghadapi setiap gangguan dan cobaan di jalan dakwah kpd agama Allah Ta’ala.

5. Ulama Robbani ialah ulama yang menyampaikan kalimat kebenaran dengan tegar dan bijak serta memberikan nasihat kpd manusia dengan cara yg baik n benar.

6. Ulama Robbani ialah ulama yang mengingkari segala macam bid’ah, dan mengajak manusia agar mengikuti jejak generasi As-Salafus Sholih (para pendahulu umat Islam yg baik) serta berpegang teguh dengan Aqidah dan manhaj mereka.

7. Ulama Robbani ialah ulama yang menyeru manusia agar senantiasa berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah, meninggalkan sikap taqlid dan fanatik terhadap individu maupun kelompok tertentu tanpa tahu dalilnya, kecuali hanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Demikianlah beberapa ciri n sifat ulama robbani yg dapat kami sebutkan. Smg Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yg memahami n mengamalkan perkara agama-Nya dengan baik n benar hingga akhir hayat. Dan smg Allah melindungi kita dari para ulama jahat yg sesat n menyesatkan umat Islam. Amiin.

(Klaten, 3 September 2013)

Sabar Tak Bertepi

Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Ketika sabar diperintahkan Allah سبحانه وتعالى kepada kita semua, maka Diapun adakan sebab-sebab yang membantu dan memudahkan seseorang untuk sabar.

Demikian juga tidaklah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan sesuatu kecuali membantu dan mengadakan sebab-sebab yang memudahkan dan membantu pelaksanaannya sebagaimana Ia tidak mentaqdirkan adanya penyakit kecuali menetapkan obatnya. Sabar walaupun sulit dan tidak disukai jiwa, apalagi bila disebabkan kelakuan dan tindakan orang lain. Akan tetapi kesabaran harus ada dan diwujudkan.

Ada beberapa kiat yang dapat membantu kita dalam bersabar dengan ketiga jenisnya, diantaranya:

1. Mengetahui tabiat kehidupan dunia dan kesulitan dan kesusahan yang ada disana, sebab manusia memang diciptakan berada dalam susah payah, sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. 90:4)

2. Beriman bahwa dunia seluruhnya adalah milik Allah dan Dia memberinya kepada orang yang Dia sukai dan menahannya dari orang yang disukaiNya juga.

3. Mengetahui besarnya balasan dan pahala atas kesabaran tersebut.

Diantaranya:

a. Mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana firmanNya: Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 2:249)

b. Mendapatkan sholawat, rahmat dan petunjuk Allah, sebagaimana firmanNya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)

Lebih lengkap KLIK :
http://m.klikuk.com/kiat-sabar/

– – – – – •(*)•- – – – –

Renungan Untuk Penuntut Ilmu Syar’i

Wahai saudara-saudariku para penuntut ilmu…

Sungguh kalian adalah orang yang terhormat,kalian adalah para pejuang pembela serta pemelihara agama yang mulia ini…

Kalian adalah sebagai seorang dokter bagi manusia yang terkena penyakit syahwat dan syubhat!…

Untuk itu wahai saudara-saudariku…
Hindarilah sejauh mungkin perbuatan dosa dan maksiyat,fokuskanlah.. Sibukanlah dirimu untuk senantiasa mempelajari ilmu agama yang mulia ini serta mengamalkannya dan hindarilah dari waktumu yang sia-sia!!…

Ikhwan dan akhwat sekalian…
Hiasilah dirimu.. dengan akhlak yang mulia nan terpuji…

Dan janganlah engkau mencemari dirimu dengan akhlak yang buruk…

Akhlak-akhlak yang akan menurunkan martabatmu menuju kepada kehinaan serta kerendahan dirimu, dengan sebab akhlakmu yang buruk!…

Wahai saudaraku para penuntut ilmu, bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang mulia, dengan akhlak yang terpuji.. mereka sangat menanti belaian tanganmu!!…

Nasehatilah mereka dengan ilmu yang benar! Serta da’wahkan kepadanya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan padanya, cari waktu-waktu, keadaan dan kalimat-kalimat yang tepat dalam menasehatinya…jangan engkau kasari mereka, engkau cemberuti mereka dengan sebab kegelinciran yg ada pada mereka.
Apakah suka dirimu apabila dahulu engkau berada dalam kebodohan kemudian ada manusia yang menasehatimu dengan kasar???

Karena penuntut ilmu pada hakekatnya adalah manusia yang paling faham tentang kebenaran dan yang paling sayang kepada makhluk (diambil dari perkataan syaikhul islam ibnu taymiyah, ketika menjelaskan tentang ahlus sunnah)

Semoga ALLAH subhaanahu wa ta’ala memajukan da’wah yang haq ini..

Akhirnya, kami memohon kepada ALLAH subhaanahu wa ta’aa agar memberikan kepadaku dan kepada antum serta antunna semua agar dimudahkan untuk mengamalkannya…

Saudaramu
Ahmad Ferry Nasution.

Mengirim Pahala Bacaan Al Qur’an

Permasalahan boleh atau tidaknya mengirim pahala bacaan al-Qur’an memang merupakan perkara yang diperselisihkan oleh para ulama madzhab, sehingga tentunya seorang muslim hendaknya berlapang dada dan toleransi terhadap muslim yang lain yang tidak sependapat dengannya. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah sikap sebagian orang yang mengaku bermadzhab syafi’i ketika melihat saudaranya yang tidak mau mengirim pahala bacaan Al-Qur’an maka serta merta dituduh sebagai “Wahhaabi”!!!.

Kenyataannya ternyata Al-Imam Asy-Syafi’i juga berpendapat tidak sampainya pahala bacaan al-Qur’an yang dikirimkan kepada mayat.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Umm :

يَلْحَقُ الْمَيِّتَ من فِعْلِ غَيْرِهِ وَعَمَلِهِ ثَلَاثٌ حَجٌّ يُؤَدَّى عنه وَمَالٌ يُتَصَدَّقُ بِهِ عنه أو يُقْضَى وَدُعَاءٌ فَأَمَّا ما سِوَى ذلك من صَلَاةٍ أو صِيَامٍ فَهُوَ لِفَاعِلِهِ دُونَ الْمَيِّتِ

“Sampai kepada mayat dari perbuatan dan amalan orang lain tiga perkara, (1) haji yang dikerjakan atas nama sang mayat (2) harta yang disedekahkan atas namanya atau yang dibayarkan atasnya dan (3) doa. Adapun selain hal ini seperti sholat atau puasa maka untuk pelakunya bukan untuk mayat.

وَإِنَّمَا قُلْنَا بهذا دُونَ ما سِوَاهُ اسْتِدْلَالًا بِالسُّنَّةِ في الْحَجِّ خَاصَّةً وَالْعُمْرَةُ مِثْلُهُ قِيَاسًا وَذَلِكَ الْوَاجِبُ دُونَ التَّطَوُّعِ وَلَا يَحُجَّ أَحَدٌ عن أَحَدٍ تَطَوُّعًا لِأَنَّهُ عَمَلٌ على الْبَدَنِ فَأَمَّا الْمَالُ فإن الرَّجُلَ يَجِبُ عليه فِيمَا له الْحَقُّ من الزَّكَاةِ وَغَيْرِهَا فَيُجْزِيه أَنْ يُؤَدِّي عنه بِأَمْرِهِ لِأَنَّهُ إنَّمَا أُرِيدَ بِالْفَرْضِ فيه تَأْدِيَتُهُ إلَى أَهْلِهِ لَا عَمَلٌ على الْبَدَنِ فإذا عَمِلَ امْرُؤٌ عَنِّي على ما فُرِضَ في مَالِي فَقَدْ أَدَّى الْفَرْضَ عَنِّي

Baca selengkapnya di :
http://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/498-ajaran-ajaran-madzhab-syafi-i-yang-dilanggar-oleh-sebagian-pengikutnya-6-masalah-mengirim-pahala-bacaan-al-qur-an

Sedekah Agar Kaya Atau Kaya Agar Bisa Sedekah?

Sobat! Trimakasih banyak atas semua tanggapan antum tentang pertanyaan saya.

Namun ketahuilah bahwa dari pertanyaan ini saya mengajak anda untuk berpikir jernih, bahwa sedekah adalah ibadah. Jadikanlah sedekah sebagai amalan untuk menggapai keridhaan Allah.

Bersedekah agar kaya sama halnya dengan orang berwudlu agar bersih dan sejuk wajahnya. Mengesampingkan tujuan akhirat dan mngedepankan kepentingan dunia.

Namun sebaliknya menunda sedekah hingga kaya sama saja tercela, karena sikap ini mencerminkan akan kikir alias pelit.

Mungkin masih banyak dari kita yang mengira bahwa sedekah menyebabkan harta berkurang atau bahkan terkuras.

Percayalah bahwa sedekah tidak akan mengurangi jatah rejeki anda. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah itu tidaklah menjadikan hartamu menjadi berkurang. ( Muslim)

Segeralah salurkan sedekah anda, asalkan sedekah yang anda keluarkan tidak sampai menyebabkan orang yang menjadi tanggung jawab anda terlunta lunta atau terkurangi hak dan kebutuhannya.

Akankah anda menunda sedekah anda hingga tiba saatnya anda berkata, sebagaimana dikisahkan pada ayat berikut:

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ

Dan infakkanlah sebagian rizki yang Allah berikan kepadamu, sebelum kematian datang menjemputmu. Akibatnya setelah mati engkau berkata: duhai Tuhan-ku, tidakkah Engkau beri aku tangguh sesaat saja, agar aku dapat menyalurkan sedekahku, dan aku menjadi bagian dari orang-orang sholeh. ( Al Munafiqun 10)

Dari, Ust DR. Muhammad Arifin Baderi MA

Tj Perawatan Jenazah Yang Wafat Sore Hari

485. BBG Al Ilmu – 69

Pertanyaan:
Ketika seorang muslim meninggal dunia sore hari dan akan dimakamkan keesokan harinya dengan berbagai pertimbangan. Kapan sebaiknya jenazah tersebut dimandikan dan adakah amalan2 sunah yang dilakukan bagi keluarganya ?

Jawaban:
Ust. Abdussalam Busyro, hafizhahullah

Jenazah dimandikan dan di kafani beberapa saat setelah meninggal, adapun masalah pemakaman lebih cepat lebih baik namun jika harus bermalam karena beberapa pertimbangan maka tidak apa2.

Amalan2 sunnah untuk jenazah tidak ada amalan khusus, ada hal yang perlu di perhatikan tatkala seseorang sedang berkabung, sebagai berikut:

1. Memperbanyak istighfar dan mendoakan mayit

2. Menyegerakan pembayaran hutang jika masih ada tanggungan

3. Melaksanakan apa yang menjadi wasiat mayit

4. Bagi wanita maka tidak boleh berhias

5. Menyebut kebaikan mayit dan tidak menggunjingnya

Jika terlihat beberapa aib yang ada pada mayit bagi orang yang memandikan atau mengetahuinya maka hendaknya merahasiakannya dan tidak menyebarkan ke orang lain.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Sedekah Untuk Menjadi Kaya Di Dunia

484. BBG Al Ilmu – 199

Pertanyaan:
Sekarang marak konsep sedekah yang dianggap sebagai kunci rejeki, sehingga orang bersedekah agar menjadi kaya, apakah itu diperbolehkan?

Jawaban:
Keutamaan akhirat harus senantiasa menjadi tujuan utama kita untuk mengerjakan berbagai amal kebajikan dan amal sholeh.

Dalam berbagai dalil ditegaskan bahwa Allah menjanjikan kepada orang yang bersedekah balasan di dunia, berupa digantikan dengan harta yang lebih banyak dan baik, disembuhkan dari penyakit dan lain sebagainya. Walau demikian, bukan berarti kita dibenarkan untuk menjadikan balasan di dunia sebagai obsesi atau tujuan utama kita ketika beramal. Disebutkannya keutamaan sedekah di dunia berfungsi sebagai motivasi tambahan agar kita semakin bersemangat dalam beramal.

Memiliki tujuan skunder dari amal shaleh berupa keuntungan di dunia walaupun dibenarkan, namun tidak diragukan bahwa orang yang hanya memiliki satu tujuan pahala di akhirat adalah lebih utama. Ingatlah, diantara etika bersedekah ialah merahasiakannya, sampai2 tangan kiri tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanan kita.

Allah tidaklah pelit atau kikir. Namun syaratnya bila kita melakukan amal kebajikan kita benar-benar karena ikhlas, hanya mengharapkan balasan dari Allah.

“Barangsiapa yang orientasinya adalah urusan akhirat, niscaya Allah meletakkan kekayaannya di dalam jiwanya. Sebagaimana Allah juga akan menyatukan urusannya dan kekayaan dunia akan menghampirinya dengan mudah. Namun sebalikya, orang yang orientasinya adalah urusan dunia, niscaya Allah jadikan kemiskinann ada di depan matanya. Sebagaimana Allah juga mencerai-beraikan  urusannya dan tiada kekayaan dunia yang menghampirinya selain yang telah Allah tentukan untuknya.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya).
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://www.konsultasisyariah.com/mengharap-kaya-dengan-sedekah/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Ada Apa Dengan Celana Jeans ?

483. BBG Al Ilmu

Pertanyaan:
Sejauh mana pelarangan celana jeans ? ‘Illatnya disini karena ketat atau bentuk tasyabbuh, bukankah kebanyakan kaum muslimin juga menggunakan celana jeans ?

Jawaban:
Ust. Mukhsin Suaidi, hafizhahullah

Berikut ini keterangan syaikh Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah “…Tasyabbuh (Meniru-niru orang kafir) artinya seseorang melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas yang ditiru. Kalau dia menggunakan kain ini (jeans) atau selainnya dalam bentuk yang menyerupai orang kafir maka dia telah melakukan tasyabbuh. Adapun jika sekedar diketahui kain jenis ini adalah yang biasa dipake orang kafir tapi kemudian dibentuk dengan model baru yang berbeda dengan model pakaian orang kafir maka ini tidak apa. Boleh selama menyelisihi model busana orang kafir meskipun kain jenis ini terkenal pemakaiannya dikalangan orang kafir..”

Mengenai penetapan tasyabbuh atau tidak, hukumnya bisa beda, di satu zaman/tempat itu bisa dikatakan tasyabbuh sedangkan di zaman/tempat lain itu tidak tasyabbuh.

Penilaian apakah suatu busana yang dulunya merupakan kekhususan orang kafir kemudian banyak dipakai kaum Muslimin, apakah telah menjadi dibolehkan atau tidak, memerlukan keterangan dari orang yang ilmunya mumpuni.

Kami belum mendapati perkataan ulama’ besar yang membolehkannya. Di sisi lain, jeans kebanyakan dibentuk dengan model ketat, dan celana ketat itu tidak layak (atau bahkan haram) dipakai laki-laki atau perempuan. Celana dianggap ketat jika saat berdiri normal celana tersebut sempit dan menggambarkan dengan jelas kaki pemakainya.

Bagi mereka yang sudah banyak mengikuti kajian sunnah celana jeans identik dengan orang yang kurang pengetahuan dan praktek agamanya.

Maka untuk saat ini kami tidak menganjurkan seseorang memakai celana jeans meski dikatakan tidak ada tasyabbuh yang terjadi ketika memakainya.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_16956.shtml

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Menebar Cahaya Sunnah