Larangan Menyisir Rambut Setiap Hari Bagi Pria

Simak penjelasan ringkas haditsnya oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

LARANGAN MENYISIR RAMBUT SETIAP HARI BAGI PRIA

● Asy-Syaukani rohimahullah menjelaskan bahwa hadits ini merupakan larangan bagi laki-laki menyisir sepanjang hari (seharian dan terlalu sering).

Beliau berkata,

ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺍﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﺎﻟﺘﺮﺟﻴﻞ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ؛ ﻷﻧﻪ ﻧﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮفه…
ﻭﺍﻹﺭﻓﺎﻩ : ﺍﻻﺳﺘﻜﺜﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻳﻨﺔ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﻳﻬﻴﺊ ﻧﻔﺴﻪ

“Hadits ini menunjukkan makruhnya menyibukkan diri dengan menyisir sepanjang hari, karena ini termasuk bermegah-megah. Al-Irfah maksudnya adalah terlalu banyak berhias dan selalu mempersiapkan dirinya untuk berhias..”

(Nailul Author 1/159)

Memang ada perintah dan sunnah agar kita menyisir, meminyaki dan menjaga rambut, akan tetapi tidak bertentangan dengan hadits ini.

● Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan,

ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ – ﺃﻱ ﺑﻴﻦ ﺣﺪﻳﺚ ‏( ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺷﻌﺮ ﻓﻠﻴﻜﺮﻣﻪ ‏) ، ﻭﺑﻴﻦ ﺣﺪﻳﺚ ‏( ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﺮﺟﻞ ﺇﻻ ﻏﺒﺎً ‏) – ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻣﺄﻣﻮﺭ ﺑﺈﻛﺮﺍﻡ ﺷﻌﺮﻩ ﻭﻣﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺒﺎﻟﻐﺔ ﻭﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻓﺎﻫﻴﺔ ﻭﺍﻟﺘﻨﻌم

“Yang benar adalah tidak ada pertentangan dari kedua hadits tersebut, yaitu hadits “barangsiapa yang memiliki rambut maka muliakanlah..” dengan hadits “larangan terlalu sering menyisir rambut kecuali jarang-jarang..”.

Seorang hamba diperintahkan untuk memuliakan rambutnya dan dilarang untuk berlebihan dalam bermegah-megahan..”

(Hasyiatus Sunan 11/147)

Ahlul Qur’an

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah berkata,

Jangan biarkan fokus utama Anda saat membaca Al-Qur’an adalah, “Kapan saya akan menyelesaikan surah ini..?”

Sebaliknya, hendaknya fokus Anda saat membaca Al-Qur’an adalah :

● Kapan saya akan mendapat petunjuk dari Al-Qur’an..?

● Kapan saya akan mengambil manfaat dari Al-Qur’an..?

● Kapan saya akan menjadi bagian dari Ahlul Qur’an (orang-orang Al-Qur’an)—yaitu orang-orang pilihan Allah dan hamba-hamba istimewa-Nya..?

Dan Ahlul Qur’an itu bukanlah sekadar orang-orang yang menghafalnya tanpa pemahaman, atau yang sekadar membacanya tanpa perenungan.

📌 Melainkan, Ahlul Qur’an adalah mereka yang memahami firman Allah dan mengamalkan firman-Nya.

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, mereka membacanya sebagaimana mestinya (sebenarnya membaca), mereka itulah yang beriman kepadanya..” (QS. Al-Baqarah: 121)

Mengenai kalimat “membacanya sebagaimana mestinya..”, Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa dan banyak mufasir lainnya menjelaskan bahwa maknanya adalah, mereka mengikutinya dengan sebenar-benarnya pengikutan.

Inilah arti dari “membacanya sebagaimana mestinya..”, yaitu mengikutinya dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Dengan inilah seseorang menjadi bagian dari Ahlul Qur’an melalui kitab yang agung ini.

Oleh karena itu, tilawah Al-Qur’an —Subhanallah— apabila disertai dengan perenungan, maka akan mendatangkan petunjuk (hidayah).

“Dan aku diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an. Maka barang siapa mendapat petunjuk, sesungguhnya dia mendapat petunjuk untuk kebaikan dirinya sendiri..” (QS. An-Naml: 92)

Membaca Al-Qur’an adalah pintu gerbang yang sangat besar menuju petunjuk, namun syaratnya harus disertai dengan :
– perenungan (taramul),
– penghayatan (tadabur),
– serta pemahaman yang mendalam atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diantara Akhlak Mulia : Melupakan Kesalahan Saudara Kita Seiman

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻻﺕ ﻣﻦ ﺃﺭﻗﻰ ﺷﻴﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻻﻥ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺍﻫﺘﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻜﻞ ﺯﻟﺔ ﻭﺧﻄﻴﺌﺔ ﺗﻌﺐ ﻭﺃﺗﻌﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﺬﻛﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺪﻗﻖ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ
ﻭﺃﺣﺒﺎﺑﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺟﺮﺍﻧﻪ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺗﺴﻌﺔ
ﺃﻋﺸﺎﺭ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ.

“Melupakan kesalahan orang lain adalah sifat orang-orang mulia. Karena manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan dosa.

Apabila seseorang selalu memperhatikan tiap kesalahan orang lain, ia akan lelah dan membuat orang lain lelah.

Orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak menghitung-hitung kesalahan saudaranya, tetangganya, temannya dan keluarganya.

Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Sembilan persepuluh akhlak yang baik ada pada taghoful (*)..”

(Tahdzibul Kamal 19/230)

====
(*) Taghoful : melupakan kesalahan saudara kita seiman dan tidak mengingat-ingatnya

Tanda Tanda Orang Yang Banyak Mengingat Allah

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah mengatakan,

“Kapankah seorang hamba termasuk orang orang yang banyak mengingat Allah (banyak berdzikir)..?

Para ulama menyebutkan dalam hal ini bahwa STANDAR MINIMAL untuk mencapai hal tersebut adalah seorang Muslim senantiasa merutinkan dzikir dzikir yang terikat waktu dan kondisi (dzikir muqoyyad) :
● Pada awal siang (pagi hari) dan akhir siang (sore hari)
● Ketika akan tidur
● Di dalam dan setelah sholat
● Saat masuk dan keluar rumah
● Saat hendak makan
● Dan dzikir dzikir lainnya yang telah dijelaskan oleh para ulama serta dikumpulkan dalam kitab-kitab dzikir atau yang dikenal dengan amalan sehari semalam.

Disertai pula perhatian pada waktu waktu lainnya dengan menggerakkan lidah untuk berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala, sehingga lidahmu senantiasa basah dengan mengingat Allah.

📌 Jika seorang hamba :
– memiliki sifat ini,
– senantiasa merutinkannya, dan
– menghadirkan hatinya sebisa dan semampunya,

maka dengan ini ia termasuk orang orang yang banyak mengingat Allah Jalla wa ‘Alaa.

Perhatikanlah perintah dalam ayat yang penuh berkah dari Surah Al-Ahzab ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, DZIKIR YANG SEBANYAK-BANYAKNYA..”

Perhatikan di sini, perintahnya bukan sekadar berdzikir, melainkan :
● perintah untuk banyak berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala.

Allah berfirman selanjutnya, “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang..”

Di dalam (ayat ini) terdapat penegasan dan ajakan untuk memperhatikan dzikir pada dua ujung :
– setelah sholat shubuh dan
– di sore hari sebelum matahari terbenam.

Ini adalah dua waktu yang sangat utama.

Kemudian setelah itu, Allah menyebutkan balasan/pahala yang akan diperoleh bagi orang yang banyak berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala. Dia berfirman, “Dialah yang memberi sholawat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya..”

Sholawat Allah kepada hamba-Nya adalah pujian-Nya bagi mereka di hadapan para malaikat-Nya di tempat yang tinggi. Ini adalah salah satu buah dari perhatian seorang Muslim terhadap dzikir kepada Allah.

Jika seorang Muslim banyak mengingat Robbnya, maka Allah Ta’ala akan mengingatnya di tempat yang tinggi. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala, “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu..”

Dan dalam Hadis Qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa mengingat-Ku di tengah keramaian/majelis, Aku akan mengingatnya di tengah majelis yang lebih baik dari mereka..”

Ini adalah buah yang sangat agung dari berdzikir, yaitu Allah Jalla wa ‘Alaa bersholawat kepadamu (mengingatmu di tempat yang tinggi) dan para malaikat bersholawat kepadamu. Sholawat para malaikat kepada orang orang beriman adalah do’a mereka untuk kebaikan, ampunan, dan rahmat bagi hamba tersebut.

Allah berfirman, “Dialah yang memberi sholawat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang orang yang beriman..”

======

KUMPULAN DO’A & DZIKIR yang bisa diamalkan setiap saat .. terutama di waktu waktu mustajab

https://bbg-alilmu.com/archives/73456

Tentang Maulid

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullahu Ta’ala menjelaskan,

“Orang-orang yang merayakan Maulid, mereka berkata, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang memulai sunnah yang baik (Sunnah Hasanah) dalam Islam..’

Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, Umar, Utsman, dan Ali -rodhiyallohu ‘anhum- .. Di manakah mereka dari sunnah yang baik ini..?! Yang kalian klaim bahwa itu adalah hal yang baik .. di manakah mereka (apakah mereka merayakannya)..?!

Padahal mereka adalah orang orang yang paling besar rasa cintanya dan paling semangat terhadap kebaikan dibanding kita. Paling besar rasa cintanya kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan paling semangat terhadap kebaikan dibanding kita.

Orang orang yang merayakan Maulid, begitu pula orang-orang yang tidak merayakannya, semuanya sepakat bahwa perayaan Maulid ini tidak ada pada zaman para sahabat. Tidak pernah ada pada zaman para sahabat.

Dan semuanya sepakat bahwa para sahabat itu lebih baik dari kita dalam hal ilmu, amal, dan ibadah.

Jika hal itu tidak ada pada zaman mereka -berdasarkan kesepakatan orang yang merayakannya maupun yang tidak merayakannya—dan para sahabat lebih baik serta lebih utama dari kita dalam hal ilmu dan amal -ini semua diakui oleh orang yang merayakan maupun yang tidak merayakan-..

Apakah tidak cukup bagi kita apa (amal baik) yang telah mencukupi Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan seluruh sahabat..?!

Mereka berkata, ‘Kami ingin mengungkapkan kegembiraan kami atas kelahiran beliau shollallahu ‘alayhi wasallam..’

– apakah engkau lebih semangat terhadap kegembiraan ini melebihi Abu Bakar..?!

– apakah engkau mengira bahwa engkau bisa mencapai rasa cinta yang lebih besar dari cintanya Abu Bakar..?! Atau kebaikan yang lebih besar dari kebaikannya, atau ilmu yang lebih besar dari ilmunya..?!

Yang mana Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda tentang beliau, bahwa beliau (Abu Bakar) adalah orang yang paling terdepan menuju kebaikan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam. tidaklah ada suatu amalan kebaikan melainkan Abu Bakar telah mendahuluinya.

Maulid ini, jika itu adalah kebaikan, niscaya Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu telah mendahului kita melakukannya, karena beliau adalah orang yang selalu terdepan dalam setiap kebaikan.

Kalian mengatakan itu adalah sunnah yang baik (Sunnah Hasanah), sedangkan Abu Bakar tidak melakukannya, Umar tidak, Utsman tidak, dan Ali pun tidak. Maka ini adalah bid’ah yang sesat .. Perayaan Maulid ini adalah bid’ah yang sesat.

Hadits tersebut memiliki bagian lain yang juga mencakup perkara Maulid ini, yaitu sabda beliau, ‘dan barangsiapa yang memulai sunnah yang buruk dalam Islam..’

Di sinilah perayaan Maulid itu masuk, ‘barang siapa yang memulai sunnah yang buruk dalam Islam..’ .. di sinilah posisi perayaan Maulid tersebut..”

Orang Yang Berakal Sehat

Sahabat yang mulia, Abu ad-Darda’ʾ rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Maukah aku beritahukan kepada kalian bagaimana cara mengenali orang yang berakal sehat..?

● Ia tawadhu (rendah hati) kepada orang yang berada di atasnya, dan tidak merendahkan orang yang berada di bawahnya.

● Ia berpegang teguh pada keutamaan, bergaul dengan manusia sesuai dengan tabiat/akhlak mereka, dan

● Ia menjaga keimanan batinnya tetap menjadi rahasia antara dirinya dengan Robb-nya Yang Mahaperkasa lagi Mahagung.

Oleh karena itu, ia menjalani hidup dengan ketakwaan dan kehati-hatian..”

(Akhbaar al-Adzkiyaa’ – Ibnul Jauzi)

Kewajiban Menyampaikan Dakwah

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya..” (Qs. Al-Qasas: 56)

📌 Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahullah menjelaskan,

“Kita tidak dibebani kewajiban untuk memasukkan hidayah ke dalam hati manusia yang kita ajak kepada kebenaran .. melainkan kita hanya dibebani kewajiban untuk menyampaikan dakwah..”

(Silsilah al-Huda wan-Nuur no. 730)

Jangan Lewatkan Waktu Berdo’a Pada Jum’at Sore

Syaikh ‘Abdurrazzaq al-Badr hafizhohullahu Ta’ala menjelaskan,

“Dan waktu terakhir setelah ‘Ashar pada hari Jum’at — yaitu rentang waktu setelah ‘Ashar hingga terbenamnya matahari — dahulu sebagian ulama salaf, apabila mereka telah selesai melaksanakan sholat ‘Ashar pada hari Jum’at, mereka tetap berdiam di tempat sholatnya hingga waktu Maghrib.

Mereka berusaha mengejar dan mencari kesempatan di waktu tersebut (waktu dikabulkannya do’a). Mereka tidak keluar meninggalkan masjid agar tidak tersibukkan oleh berbagai urusan, pekerjaan, atau kepentingan duniawi, sehingga tidak terlewat kesempatan yang sangat berharga ini, yaitu waktu yang sangat diharapkan dikabulkannya do’a..”

Pintu Sedekah Sangatlah Luas

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah menjelaskan,

“Pintu sedekah itu sangat luas.

Bahkan disebutkan dalam sebagian hadits, hingga sesuap makanan yang ditaruh seseorang di mulut istrinya, ketika ia mencandainya dan bersenang-senang dengannya, lalu ia menyuapkan makanan ke mulut istrinya..

Niscaya hal itu dicatat baginya dalam timbangan kebaikannya sebagai sedekah dan pahala yang diberi balasan di sisi Allah.

Maka karunia Allah Subhanahu wa Ta’aala itu sangat luas.

Setiap pergerakan dan aktivitas manusia, jika ia niatkan karena mengharap pahala di sisi Allah, maka jadilah ia bergerak dalam sedekah-sedekah yang tak terbatas dan tak terhitung, serta pahala pahala yang tak terhitung banyaknya.

Oleh karena itu, hendaknya bagi seseorang —dan hal ini sudah pernah kita ingatkan sebelumnya— hendaknya bagi seseorang untuk mengharapkan pahala (ihtisab) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’aala atas :

● Nafkah yang ia keluarkan untuk dirinya sendiri, baik pada makanan maupun minumannya.

● Nafkah yang ia keluarkan untuk anaknya.

● Nafkah yang ia keluarkan untuk istrinya.

● Ia mengharapkan pahala saat bercanda/bersenda gurau dengan anaknya dan saat mendidik mereka.

● Ia mengharapkan pahala saat bercanda dengan keluarganya.

Semua perbuatan yang baik, thoyyib (bagus), bermanfaat, dan berguna.. semuanya..

Jika ia niatkan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’aala, maka akan dicatat baginya sebagai sedekah yang diberi balasan pahala di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala..”

Menebar Cahaya Sunnah