Berikut ini adalah ringkasan dari penjelasan Syaikh Abdurrozzaq Al Badr hafizhohullah tentang 7 adab berdzikir berdasarkan Surah Al-A’raf ayat 205.
1. DI DALAM DIRI (TERSEMBUNYI)
Berdzikir dengan cara tersembunyi. Hal ini lebih memasukkan unsur keikhlasan, lebih mendekatkan pada penerimaan, serta lebih jauh dari sifat riya’ (pamer).
Menurut Ibnul Qoyyim rohimahullah, “hal ini mencakup dua makna .. di dalam hati/sir dan melalui lisan sedemikian rupa sehingga diri sendiri bisa mendengarnya.
2. DISERTAI RASA TADARRU’
Berdzikir dengan penuh kerendahan diri, ketundukan, dan rasa pasrah di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
3. DISERTAI RASA KHAUF/TAKUT DAN KAWATIR
Berdzikir dengan rasa takut, yakni takut dan kawatir jika dzikirnya tidak diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Rasa takut ini penting agar sang hamba tidak terjebak dalam sifat ujub (bangga diri) atas amal ibadahnya.
4. BERSUARA SEDANG
Berdzikir dengan nada yang tidak terlalu keras (mengeraskan suara secara berlebihan) dan tidak pula terlalu pelan tanpa suara sama sekali, melainkan berada di antara keduanya. Hal ini membantu seseorang untuk lebih menghayati makna dan petunjuk dari dzikir tersebut.
5. MENGGABUNGKAN ANTARA HATI DAN LISAN
Melakukan dzikir tidak hanya dengan lisan saja atau hati saja, melainkan menggabungkan keduanya (lisan bergerak dengan suara yang lembut, sementara hati merenungkan maknanya). Ini merupakan tingkatan dzikir yang paling tinggi.
6. MEMPERHATIKAN WAKTU PAGI DAN PETANG
Memberikan perhatian khusus dan memperbanyak dzikir pada dua waktu utama, yaitu di awal siang (pagi hari) dan di akhir siang (petang hari).
7. MENJAUHI SIKAP LALAI
Menghindari kelalaian dari mengingat Allah Subhaanahu wa Ta’ala akibat kesibukan duniawi. Ayat ini menutup dengan peringatan agar hamba-hamba-Nya senantiasa istiqomah dan memperbanyak dzikir secara terus menerus, serta tidak menjadi golongan yang lalai.