All posts by BBG Al Ilmu

Tanda Dunia Telah Masuk Ke Hati

Bila kita lebih gembira ketika mendapat dunia..
Namun tak begitu gembira ketika mendapat akhirat..

Ketika kita semangat mencari dunia..
Namun tak semangat mencari akhirat..

Menjadi semangat ibadah di saat ada keuntungan dunia..
Namun ketika mendengar pahala akhirat tak seperti semangat mengharapkan keuntungan dunia..

Bila itu ada..
Ucapkanlah inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..
Karena itu adalah musibah.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

da1403151637

Cinta Berbuah Surga

Sobat ! dengan cinta, semua urusan terasa indah dan juga berbuah indah. Karenanya, letakkan cinta anda dengan bijak, agar anda tidak menyesal.

Sahabat Anas rodliaallahu ‘anhu mengisahkan bahwa: pada suatu hari ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam perihal hari qiyamat.

“Kapankah qiyamat tiba ?” Nabi menjawab: “Memangnya apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya ?” Lelaki itu menjawab: “Tidak ada yang telah aku persiapkan, selain cintaku kepada Allah dan Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawaban lelaki tersebut dengan bersabda: “Engkau akan senantiasa bersama-sama dengan orang yang engkau cintai.” 

أَنَّ رَجُلا سَأَلَ النبي صل الله عليه وسلم عن السَّاعَةِ، فقال مَتَى السَّاعَةُ؟ قال: وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لها؟ قال: لا شَيْءَ إلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صل الله عليه وسلم. فقال: (أنت مع من أَحْبَبْتَ)

Setelah meriwayatkan hadits ini, sahabat Anas rodhiallahu ‘anhu berkata: Kami tidak pernah merasa senang dengan suatu hal seperti kesenangan kami dengan sabda Nabi : “Engkau akan senantiasa bersama-sama dengan orang yang engkau cintai.” Selanjutnya sahabat Anas berkata: Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap semoga kelak aku dapat bersama-sama dengan mereka selalu, berkat cintaku kepada mereka, walaupun aku tak kuasa untuk beramal seperti amalan mereka.” [Riwayat Bukhari]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da1011160646

KEBAHAGIAAN… Yang Merasakannya Adalah HATI

KEBAHAGIAAN… yang merasakannya adalah HATI…

Oleh karenanya, hati menjadi KUNCI kebahagiaan seseorang… Sayang, banyak orang salah jalan, dan mencari kebagiaan dengan memanjakan jasmaninya.

Padahal harusnya dia HANYA membutuhkan SATU KUNCI kebahagiaan!!

Kunci tersebut adalah: DEKATNYA dia dengan Allah ta’ala.

1️⃣ Oleh karena itulah, Allah ta’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlahlah bahwa dengan ber-DZIKIR (mengingat-Ku); hati-hati akan menjadi tenang” [Surat: Arro’d: 28]… karena dengan berdzikir mengingat Allah kita akan dekat dengan-Nya, dan kedekatan kita dengan-Nya akan menjadikan hati kita tenang dan bahagia.

2️⃣ Oleh karena itu pula, Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan kepada sahabat tercintanya Abu Bakar, saat puncak kecemasan menghampirinya di dalam goa, sebagaimana dalam Alqur’an:

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah BERSEDIH, karena sungguh Allah BERSAMA kita” [Attaubah: 40]… Ya, dengan menyadari bahwa Allah bersama kita, dekat dengan kita, maka puncak kecemasan hati akan lenyap oleh kebahagiaan yang datang.

3️⃣ Oleh karena ini pula, Allah memerintahkan kepada mereka yang terkena musibah untuk mengatakan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sungguh kami milik ALLAH, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali” [Albaqoroh: 156]… Karena ketika kita ingat bahwa kita milik Allah, tentu kita akan merasa dekat dengan-Nya dan terhibur karenanya.

4️⃣ Oleh karenanya, ketika memerintahkan bersabar, Allah berfirman:

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah BERSAMA orang-orang yang bersabar” [Al-Anfal: 46]… karena bersabar itu berat, namun rasa berat itu akan sirna dengan kebahagiaan hati karena dekatnya seseorang kepada Allah.

5️⃣ Oleh karena itu pula, hati kita merasa sangat sejuk dan bahagia, ketika kita bisa menyendiri di malam sunyi, BERSAMA Allah dalam munajat-munajat kita, sampai-sampai salah seorang ahli ibadah mengatakan:

لو يعلم الملوك وأبناء الملوك ما نحن فيه من السعادة لجالدونا عليها بالسيوف

“Seandainya para raja dan anak-anak mereka tahu KEBAHAGIAAN yang kami rasakan, tentunya mereka akan mendera kami dengan pedang-pedangnya”

6️⃣ Oleh karena ini pula, mereka yang baru MASUK ISLAM akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara, karena kontrasnya jarak mereka dengan Allah, antara sebelum masuk Islam dengan sesudah masuk Islam… sebelum masuk Islam dia sangat jauh dari Allah, tapi setelah masuk Islam, ia jauh lebih dekat kepada Allah.

Bahkan orang yang baru bertaubat atau mengenal sunnah, biasanya sangat bahagia sekali, karena sebelumnya dia sangat jauh dari Allah, dan setelah itu dia sangat dekat kepada Allah ta’ala.

7️⃣ Kebahagiaan itu ketika KITA semua dekat dengan KEKASIH HATI KITA… Allah yang Maha Pengasih dan Maha Mengasihi.

Ya Allah sayangilah kami, dan ampunilah kami, karena kebodohan kami tentang-MU… Sungguh Engkau Maha Dekat dan sudi memperkenankan do’a kami.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1011150042

Do’a Memohon Perlindungan Dari Hilangnya Nikmat…


.
.
SATU LAGI DO’A DARI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM yang ada dalam KITAB RIYADHUS SHOLIHIN AN NAWAWI, yaitu do’a berlindung dari hilangnya nikmat dan datangnya penyakit.
.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, dia berkata, “Di antara do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK”
.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemarahan-Mu. (HR. Muslim)
.
FAEDAH DARI DO’A :
.
PERTAMA: Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat Islam, Iman, anugerah ihsan (berbuat baik) dan kebajikan. Jadi dalam do’a ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Makus hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut hilang dan tanpa ada penggantinya.
.
KE-DUA: Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘afiyah) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit. Yang dimaksud dengan ‘afiyah (sehat) di sini adalah berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Jadi do’a ini kita maksudkan meminta selalu kesehatan (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.
.
KE-TIGA: Yang dimaksud fuja’ah adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “niqmah” adalah siksa dan murka. Dalam do’a ini berarti kita berlindung pada Allah dari datangnya ‘adzab, siksa dan murka Allah yang tiba-tiba.
.
KE-EMPAT: Dalam do’a ini, kita juga meminta pada Allah agar terlindung dari murka-Nya yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Allah.
.
.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى
.
ref : https://rumaysho.com/1054-doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat-dan-kesehatan.html
.
#nikmat
#sehat
#sakit
#murka
.
.
Follow IG: @bbg_alilmu
Follow IG: @bbg_alilmu
Follow IG: @bbg_alilmu
http://instagram.com/bbg_alilmu

Didiklah Anak Dengan Tanggung Jawab Sejak Dini

Syeikh Thonthowi rohimahullah mengatakan:

“Setelah kita dididik dalam kehidupan yang keras (berat), sekarang kita malah khawatir kerasnya kehidupan itu berefek buruk terhadap anak-anak kita.

Dan kita terus mengkhawatirkan mereka bahkan pada hal-hal yang biasa seperti lapar dan dahaga, sehingga kita memberi mereka makan berlebih, kita biarkan mereka malas-malasan dan tidur-tiduran, kita tidak membangunkan mereka untuk sholat, dan kita tidak membebani mereka dengan tanggung jawab karena alasan kasihan kepada mereka.

Akhirnya kita yang melakukan semua pekerjaan mereka, menyiapkan semua kebutuhan mereka, menyiapkan segala hal yang bisa meringankan mereka, bahkan kita harus mengurangi tidur agar bisa membangunkan mereka untuk belajar.

Pendidikan apakah ini ?
Apa salah kita, sehingga harus menanggung urusan kita dan urusan mereka ?
Bukankah kita juga manusia seperti mereka ?
Bukankah kemampuan dan kekuatan kita terbatas ?

Sungguh kita sebenarnya telah melatih anak kita dengan “ketergantungan” kepada orang lain, bahkan dengan egoisme.. Sungguh tidak adil, bila seorang ibu mengerjakan semua kewajiban anak-anaknya, sedang mereka duduk menontonnya. Harusnya setiap orang punya bagian tanggung jawab.

Allah telah menjadikan anak-anak kita bagian kekuatan kita.. Dia juga memerintahkan mereka untuk berbakti pada kita.. Tapi kita malah membalik keadaan ini.. Kita malah yang berbakti kepada mereka, bahkan meminta dengan memelas agar mereka ridho kepada kita.

Memanjakan anak bila berlebihan, justru akan berefek buruk.. Itu akan menjadikan mereka tidak memiliki kemampuan, tidak dapat memberi sumbangsih, bisanya meminta dan meminta.

Pendidikan seperti ini akan menghilangkan empati seorang anak terhadap orang lain (termasuk kepada ibu bapaknya).. tidak ada masalah baginya, mencari enaknya sendiri, walaupun harus membuat mereka begadang dan kecapean.

Aku sungguh heran, apa masalahnya bila kita memberi si anak tanggung jawab ?
Bukankah sangat baik bila dia mengerjakannya dan berhasil ?
Kalau dia merasa berat dan sakit, maka itu wajar, agar dia sadar bahwa dunia adalah tempat bersusah payah.. tidak mungkin lari dari kesusahan hidup dalam rangka mencapai kemenangan dan kesuksesan.

Ibu yang bijak akan membiarkan anaknya mengambil sebagian tanggung jawab.. dan membantunya dengan arahan-arahannya.. sehingga dia menjadi dewasa, dan akhirnya mampu menghadapi tanggung jawabnya sendiri”

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى