All posts by BBG Al Ilmu

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-1

Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala rasuulillah..,

Kita akan memulai pelajaran baru… Yaitu buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan.

Dimana buku ini di tulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى

=======

🌼 Kaidah yang Ke-1 🌼

Kaidah yang pertama, kata beliau: Agama kita dibangun diatas 2 pokok yang agung.

Yang pertama yaitu ikhlas–>yaitu ikhlas, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Yang kedua adalah Mutaba’ah (ittiba kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam).

Ini adalah merupakan 2 POKOK YANG AGUNG, yang merupakan makna daripada
_Asyhadu alla ilaaha illallah_

_Wa asyhadu anna_ _Muhammadar Rasulullah_.

Ketika kita mengucapkan _Asyhadu alla ilaaha illallah_ artinya mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dan ketika kita mengatakan _Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah_ artinya kita memurnikan ittiba atau mutaba’ah kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Dimana amal kita harus sesuai dengan apa yang di syari’atkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam

Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 2:

‎الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ

Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan agar Allah menguji kalian siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya.

Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah:

Yang lebih baik amalnya, artinya yang paling ikhlas dan yang paling benar.”

Yang paling ikhlas artinya yang betul-betul karena Allah.

Dan yang paling benar artinya yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Kata Beliau: Manusia di lihat dari 2 pokok ini, ada 4 macam:

👉🏼 Macam yang 1: Ahlul Ikhlas.

Mereka adalah orang-orang yang betul-betul ikhlas wal Mutaba’ah (dan betul-betul mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam).

Maka ini adalah derajat yang paling tinggi.

👉🏼 Yang ke 2:

Orang yang tidak ikhlas dan tidak pula mutaba’ah.

Sudahlah hatinya tidak ikhlas, tidak mengharapkan wajah Allah, sudah begitu tidak sesuai dengan contoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Ini yang paling buruk tentunya

👉🏼 Yang ke 3 :

Orang yang ikhlas amalannya, tapi tidak sesuai dengan contoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, namun ia berbuat mengada-ada kebid’ahan.

Maka amalannya juga tertolak.

👉🏼 Yang ke 4:

Orang yang amalannya sesuai dengan sunnah Rasul tapi tidak ikhlas, maka inipun sama tidak diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

👉🏼 Maka yang terbaik adalah yang pertama, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah dan ia ikhlas di dalam mengamalkan ibadah tersebut.

Maka setiap kita berusahalah semaksimal mungkin akhowati islam untuk merealisasikan keikhlasan dengan cara mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah, bukan karena pujian manusia, bukan pula karena mengharap dunia, tidak pula karena ia ingin diberikan kesenangan dari kehidupan dunia ini.

Maka ini adalah merupakan akhwati islam kaidah yang harus kita benar-benar kita perhatikan dalam masalah tarbiyah dan islah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silakan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Ahli Ibadah Yang JAHIL dan Ahli Ilmu Yang FAJIR…

Ahli Ibadah yang JAHIL dan ahli ilmu yang FAJIR … Dua orang yang menjadi cobaan paling berat bagi kaum muslimin dalam agamanya.

=====

Sufyan Ats-Tsauri -rohimahulloh- mengatakan:

Ada yang mengatakan: Berlindunglah kepada Allah dari fitnah yang ditimbulkan oleh ahli ibadah yang jahil, dan ahli ilmu yang fajir, karena fitnah yang ditimbulkan oleh keduanya merupakan fitnah yang nyata bagi siapapun yang terkena fitnah.”

[Akhlaqul Ulama, karya: Al-Ajurri, hal: 63]

Kenapa demikian? Alasannya telah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim -rohimahulloh-, beliau mengatakan:

Karena manusia biasanya akan mengikuti ulamanya dan ahli ibadah mereka. Apabila para ulamanya fajir, dan para ahli ibadahnya jahil, maka musibah dari keduanya mudah menyebar, dan fitnahnya menjadi sangat besar pengaruhnya, baik untuk kalangan khusus maupun untuk kalangan umum.”

[Miftahu Daris Sa’adah 1/160]

——-

Oleh karenanya, marilah kita kembalikan semua perkara kepada Alqur’an dan Sunnah, dan pahamilah keduanya sebagaimana pemahaman ulama salaf yang merupakan generasi terbaik umat ini.

Sungguh di akhir-akhir ini, fitnah dari dua jenis orang ini sangat kita rasakan di sekitar kita.. orang yang bergelar profesor atau doktor, tapi banyak membawa pemikiran yang nyeleneh, dan kaum muslimin banyak terfitnah atau tertipu olehnya.

Begitu pula halnya dengan tokoh yang terkenal ibadahnya, tapi kurang dalam ilmu syariatnya.. kaum muslimin mengikutinya tanpa menanyakan dalil amalan yang dibawa, padahal amalan itu tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga tidak mendatangkan pahala.. atau bahkan membahayakan keamanan dan keutuhan negara.

Saudaraku seiman, sudah saatnya untuk selalu memegang teguh perkataan salah seorang ulama salaf: “Sungguh ilmu (syariat) ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian!”

Semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan kebenaran.. dan melindungi kita dari fitnah dua orang di atas, amin.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da151216-2156

KTT DO’A : Adab # 24 – Mengangkat Tangan

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

KTT DO’A : Adab # 23 – Tidak Berdo’a Seperti Sajak…

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

KTT DO’A : Adab # 22 – Memakai Pakaian Yang Bagus

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

KTT DO’A : Adab # 21 – Berdo’a Di Tempat Yang Suci Dari Najis

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Pahamilah Kaidah…

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab iqtidlo shirotil mustaqiim (2/615) ketika membahas tentang perayaan maulid Nabi berkata:

فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه. ولو كان هذا خيراً محضًا، أو راجحاً لكان السلف – رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله – صلى الله عليه وسلم – وتعظيماًله منا، وهم على الخير أحرص.

Sesungguhnya ini tidak pernah dilakukan oleh salaf padahal pendorong (untuk merayakan) telah ada, dan penghalangnya tidak ada. Kalaulah ini kebaikan yang murni atau lebih banyak kebaikannya tentulah salaf yang lebih berhak (mendahuluinya) dari kita.
Karena mereka lebih mencintai Nabi dan lebih mengagungkan mereka dari kita. Dan mereka lebih semangat kepada kebaikan“.

Perhatikanlah ucapan syaikhul Islam ini. Beliau memberikan kaidah-kaidah yang agung dalam memahami perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya atau disebut dengan salaf.
Beberapa faidah yang bisa dipetik dari perkataan beliau:

PERTAMA
Sesuatu yang tidak diperbuat oleh salafushalih padahal pendorongnya ada di zaman itu, dan penghalangnya pun tidak ada. Maka perbuatan tersebut tidak boleh kita lakukan karena mereka meninggalkannya pasti karena itu tidak disyareatkan.
Contoh yang sedang dibahas oleh beliau adalah perayaan maulid. Perayaan tsb tidak pernah dilakukan oleh para shahabat, tabi’in, tabi’iuttabiin dan tidak juga imam madzhab yang empat. Padahal pendorong untuk merayakannya ada yaitu cinta kepada Nabi. dan penghalangnya juga tidak ada, dimana mereka mampu melakukannya tapi tidak melakukannya.

KEDUA:
Dapat dipahami dari perkataan beliau, bahwa jika Nabi dan para shahabat meninggalkan suatu perbuatan karena pendorongnya belum ada di zaman tersebut, maka jika pendorongnya muncul setelah zaman mereka dan mashalahatnya lebih besar maka perbuatan tersebut boleh dilakukan dan tidak dianggap bid’ah.
Contohnya adalah ilmu nahwu, ilmu shorof, ilmu hadits, ilmu ushul fiqih dsb tidak ada di zaman Nabi dan para shahabat karena pendorongnya belum muncul. Tapi ketika telah muncul di zaman belakangan yaitu banyak orang yang tidak faham bahasa arab, muncul perawi yang suka salah dan berdusta, maka ditulislah ilmu ilmu tersebut untuk membela alqur’an dan hadits.

KETIGA:
Demikian juga jika Nabi dan para shahabatnya tidak melakukan suatu perbuatan karena adanya penghalang di zaman itu. Maka ketika penghilang itu telah hilang dan mashalahatnya lebih besar maka boleh dilakukan dan tidak dianggap sebagai bid’ah.
Contohnya adalah pembukuan mushaf alqur’an. Di zaman nabi belum dibukukan karena masih ada penghalang yaitu wahyu yang terus turun. Setelah nabi wafat banyak penghafal alqur’an yang meninggal di medan perang sehingga dikhawatirkan alqur’an akan hilang. Maka dibukukanlah di zaman Abu Bakar radliyallahu anhu.

KEEMPAT:
Salafussalih adalah generasi yang paling utama. Mereka lebih mengetahui kebaikan, lebih faham tentang agama, lebih mencintai Nabi dari kita, dan lebih semangat kepada pelbagai kebaikan. Maka sepantasnya untuk kita merujuk mereka dalam memahami alqur’an dan hadits.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Apa Yang Kau Ketahui Tentang Bid’ah..?

Bid’ah adalah setiap keyakinan, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya.

➡️ Bid’ah Itu Dalam Aqidah Dan Amaliyah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَاٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim no. 867, hadits dari Jabir bin Abdillah).

Beliau bersabda akan sesatnya semua bid’ah, dan “tidak membedakan” antara bid’ah aqidah dan amaliyah dalam statusnya yang sama-sama sesat.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

Maka setiap orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru, dan dia nisbatkan kepada agama padahal tidak ada dasarnya di dalam agama, maka dia sesat. Agama ini berlepas diri darinya, baik itu dalam masalah aqidah atau amal atau ucapan yang zhahir maupun yang bathin” (Jaami’ul Ulum wal Hikam hal 128)

➡️ Siapakah Ahlul Bid’ah itu ?

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah adalah madzhab yang terdahulu dan telah terkenal sebelum Allah menciptakan Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Ia adalah madzhab para sahabat yang diterima dari Nabi mereka. Barangsiapa yang menyelisihi (madzhab tersebut), maka ia adalah AHLUL BID’AH menurut (kesepakatan) Ahlussunnah wal Jama’ah” (Minhajus Sunnah II/482 dengan tahqiq Muhammad Rasyad Salim).

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata :

Maka setiap orang yang melakukan ibadah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan Allah, atau dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan al-Khulafaa’ ar-Rasyidun, maka ia adalah seorang mubtadi’ (AHLUL BID’AH), baik ibadah yang dilakukannya itu berkaitan dengan asma Allah dan sifat-Nya, atau berkaitan dengan hukum dan syariat-Nya” (Majmu’ Fatawa wa Rasail II/291 no. 346)

➡️ Apakah Orang Yang Jatuh ke Dalam Kebid’ahan, Maka Langsung Dapat Disebut Ahlul Bid’ah ?

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata :

Tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kebid’ahan maka (dengan serta merta) kebid’ahan jatuh atasnya (sehingga ia menjadi ahlul bid’ah), dan tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kekufuran maka (dengan serta merta) kekufuran jatuh atasnya (sehingga ia menjadi kafir)”

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata :

Maka wajib bagi kita untuk tenang dan tidak tergesa-gesa. Kita tidak berkata kepada seseorang yang datang dengan membawa satu bid’ah dari ribuan sunnah bahwa dia adalah seorang ahlul bid’ah” (Syarah Hadits Arba’in, hadits ke 28).

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata :

Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidak-tahuannya itu, dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’ (ahlul bid’ah), namun perbuatannya (tetap) disebut sebagai perbuatan bid’ah” (Muntaqa Fatawaa al-Fauzan II/181, Asy-Syamilah)

Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullah berkata :

Adapun pelaku bid’ah ini kadang-kadang berasal dari seorang mujtahid, maka dalam ijtihad seperti ini (kalau hasil ijtihadnya salah), pelakunya tidak dapat dikatakan sebagai ahlul bid’ah.

Dan kadang-kadang pelaku bid’ah ini berasal dari orang bodoh, maka (karena kebodohannya) hukum sebagai ahlul bid’ah ditiadakan darinya, meskipun ia berdosa karena ia telah melalaikan (dirinya) dalam menuntut ilmu, kecuali jika Allah berkehendak (yang lain).

Boleh jadi juga terdapat beberapa kendala yang menghalangi orang yang terperosok dalam jurang bid’ah menjadi ahlul bid’ah.

Adapun orang yang terus menerus dalam bid’ahnya padahal telah nampak kebenaran baginya, karena ia mengikuti nenek moyang dan berjalan di belakang tradisi dan budaya, maka orang seperti ini sangat layak untuk dicap sebagai AHLUL BID’AH, karena ingkar dan berpaling dari kebenaran” (Ilmu Ushul Bida’ hal 209 – 210).

Maka pelaku bid’ah dalam aqidah dan amaliyah bisa disebut sebagai Ahlul Bid’ah dan bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah jika termasuk dalam pengertian di atas.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

KTT DO’A : Adab # 20 – Suci Dari Najis dan Hadats…

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Allah Ada Di Hati..??

Sebagian orang berkata, Allah itu berada di hati..

Karena ada hadits: qolbu Mukmin baitullah…
Hati Mukmin itu adalah rumah Allah..

Padahal hadits itu TIDAK ADA ASALNYA..
Dusta atas nama Rasulullah..

Bahkan keyakinan itu lebih kufur dari Nasrani..
Karena Nashrani hanya mengkhususkan pada Yesus saja..

Sedangkan ia menjadikannya pada hati setiap muslim..

Allah bersemayam di atas Arasy-Nya..

Di atas langit ke tujuh sana..
Namun Allah tidak butuh kepada Arasy..

Karena Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya..
Tanyakan kepada fitrah mu..
Ketika berdo’a Kemana hatimu menghadap..

Tanyakan kepada dirimu..
Ketika Rasulullah mi’raj, dimana beliau bertemu Allah..
Kalaulah Allah berada di hati..
Atau di mana-mana..
Tidak perlu beliau mi’raj ke langit ke tujuh sana..

Di malam lailatul qodar..
Allah menurunkan Al Qur’an..
Turun itu dari atas ke bawah..
Kalaulah Allah berada di hati atau dimana mana..
Tentu tidak perlu disifati turun..
Namun..
Ketika akal manusia telah lemah..
Ia mengingkari bersemayamnya Allah di atas Arasy..

Karena berkonsekuensi Allah membutuhkan tempat katanya..
Itu karena ia mengira bahwa bersemayamnya Allah sama dengan bersemayamnya makhluk..

Makhluk bila bersemayam ia butuh kepada tempat bersemayam..

Padahal Allah tidak serupa dengan Makhluk-Nya..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da060414-1444