All posts by BBG Al Ilmu

Kisah Seteguk Air Di Saat Berbuka..!

Sobat! Setiap kali berbuka, air mineral atau yang sering disebut dengan air putih selalu terasa begitu istimewa bahkan paling menggoda hati anda.

Cleguk, cleguk, haaaah lega, rasa dahaga yang telah sekian jam seakan membakar kerongkongan anda, sekejap sirna.

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Setiap orang yang berpuasa itu pastilah merasakan dua kegirangan: kegirangan di saat ia berbuka puasa, dan kegirangan di saat ia menghadap kepada Tuhan-nya. (Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi setelah malam mulai larut, maka seteko apalagi hanya seteguk air mineral kembali menjadi hal yang biasa, bahkan kembali anda memandangnya dengan sebelah mata anda.
Ternyata, puasa mampu memaksa anda menyadari arti air minum. Kenikmatan yang sering anda lupakan, dan al hamdulillah dengan berpuasa anda kembali menyadarinya.

Sobat, coba anda renungkan sesaat, ternyata selama ini banyak kenikmatan yang belum mampu anda sadari kehadirannya. Andai anda mengalami kondisi serupa di saat berpuasa, tertahan dari menikmati hal hal tersebut, niscaya anda terpaksa menyadarinya.

Udara segar, mata sehat, denyut nadi yang terus berjalan tiada henti, pendengaran, lisan anda, dan masih banyak lagi, betapa sering anda lupakan kehadirannya sebagai nikmat dan karunia ilahi. Haruskah Allah Ta’ala menghalangi anda dari kenikmatan kenikmatan tersebut agar anda dapat menyadari kehadirannya?

Semoga ibadah puasa cukup sebagai teguran bagi anda agar segera bertobat dan menyadari segala kenikmatan yang telah Allah karuniakan kepada anda, jangan sampai anda terlambat menyadarinya. Anda terus hanyut dalam kelalain hingga semuanya hilang atau minimal sejenak Allah menahannya dari anda.

Ya Allah ampunilah dosa dosa hamba-Mu ini yang telah lalai dari sekian banyak kenikmatan yang telah Engkau karuniakan kepada hamba.

DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

DIA dan Mereka…

‏﴿٢٧﴾ وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوٰتِ أَن تَمِيلُوا۟ مَيْلًا عَظِيمًا

(27) Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).
(An Nisaa: 27)

Perhatikanlah siapa yang ada dan apa yang terjadi di sekelilingmu, khususnya pada Ramadhan ini!

Keinginan siapa yang engkau turuti,
ALLAH atau mereka ?

(Terinspirasi dari nasehat Syeikh Shalih Sindi -hafizhahullah-)

Muhammad Nuzul Dzikri, Lc,  حفظه الله تعالى

Puasa Perut, Tapi Tidak Puasa Mulut…

Sobat, hari hari ini anda sedang menjalankan puasa, yaitu menahan diri dari makan dan minum, itu wajar, orang lain juga demikian, alias ndak hebat.

Yang hebat tuh, jika selain menahan perut dari makan dan minum, anda juga berhasil menahan mulut anda dari kata kata keji, umpatan, hardikan dan kotor.

Betapa banyak orang yang ketika mulutnya terhalang dari makanan dan minuman ia menggantinya dengan makian dan sumpah serapah. Rasa lapar dan dahaga ternyata sering kali menyebabkan sebagian orang kalap, sehingga mudah mengucapkan umpatan, kata kata keji atau kotor, alias emosinya kacau atau yang disebut dengan bad mood.

Sobat camkan baik-baik, makan dan minum itu semula halal, namun dengan berpuasa anda diwajibkan menahannya, tentu umpatan, makian, kata-kata keji yang sedari awal haram, lebih layak untuk anda tahan mulut anda darinya.
Jangan hanya berjuang menahan mulut anda agar tidak dimasuki oleh makan dan minum, namun anda lupa untuk menahan mulut anda dari umpatan, dan kata kata keji.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ

Puasa itu bagaikan perisai, karenanya bila engkau sedang berpuasa, maka janganlah engkau berkata keji, dan jangan pula berteriak-teriak. Bila ada orang yang memakimu atau memusuhimu, maka inspirasilah dirimu dan juga ingatkan dia dengan berkata : “Sesungguhnya saya sedang berpuasa”. (Bukhari dan Muslim)

Selamat menjalankan ibadah puasa semoga benar benar menjadi orang yang bertaqwa.

DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Menjadi Yang Terbaik Di Bulan Ramadhan

Anda ingin menjadi yang terbaik di bulan Ramadhan tapi anda bukanlah seorang ustadz atau kiyai..?

Anda ingin menjadi yang terbaik di bulan Ramadhan tapi anda hanyalah seorang awam..?

Saudaraku,
Kesempatan itu terbuka lebar untuk anda.

Simak penuturan Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- saat ditanya: “Siapakah ahli puasa yang mendapat pahala terbesar (terbaik)..?” Maka beliau -shollallahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan:

أكثرهم لله ذكرا. (رواه احمد وابن المبارك)

“Yang paling banyak berdzikir kepada ALLAH..”
(HR. Ahmad dan Ibnul Mubarok)

Saudaraku,
Penuhi hari-hari puasamu dengan berdzikir..!

● Disaat kita beraktifitas di rumah, di kantor atau tempat manapun, iringi dengan dzikir.

● Saat dalam perjalanan, dampingilah dengan dzikir, sambil mengemudi atau menjadi penumpang, basahilah lisan kita dengan asma ALLAH.

● Bagi yang sedang sakit, berdzikirlah saat anda terbaring lemah di atas kasur.

● Atau bagi wanita haid, nifas atau bumil dan menyusui, berdzikirlah di tengah kendalamu.

Ingatlah ALLAH selalu dalam derap langkahmu, jangan lupa membaca do’a dan dzikir yang telah diajarkan Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- mulai dari saat membuka mata sampai kita pejamkan kembali kedua mata ini.

Baca, renungkan lalu tuangkan makna demi makna dzikirmu itu dalam kehidupanmu !

Jadikan Ramadhan ini sebagai momentum berdzikir, maka anda menjadi ahli puasa yang terbaik.


Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

=====
Beberapa dzikir yang bisa kita amalkan setiap saat, setiap hari, klik :

1. https://bbg-alilmu.com/archives/54812

2. https://t.me/bbg_alilmu/16705

3. https://t.me/bbg_alilmu/24279

Hukum Menelan Sisa Makanan Di Sela-Sela Gigi Ketika Puasa…

Syaikh Al-Fauzan hafizhahullah,

حكــم_بلــع_بقايــا_الطعــام_التــي_فــي_الأسنــان
.
للشيــخ الفوزان حفظه الل

الســؤال : إذا بقي شيء من طعام بين أسنان الصائم ، هل يعتبر ذلك من المفطرات إذا ابتلعها الصائم ؟

الجـــواب:
الحمد لله “إذا أصبح الصائم ووجد في أسنانه شيء من مخلفات الطعام ، هذا لا يؤثر على صيامه ، لكن عليه أن يلفظ هذه المخلفات ويتخلص منها ، ولا تؤثر على صيامه ، إلا إذا ابتلعها ، فإذا ابتلع شيئاً مما تخلف في أسنانه متعمداً ، فإن هذا يُفسد صيامه ، أما لو ابتلعه جاهلاً أو ناسياً ، هذا لا يؤثر على صيامه ، وينبغي للمسلم أن يحرص على نظافة فمه وأسنانه بعد الطعام ، سواء في حاله الصيام أو غيره ، لأن النظافة مطلوبة للمسلم” انتهى .

“مجموع فتاوى الشيخ صالح الفوزان” (2/401) .

Pertanyaan :

Jika masih tersisa sedikit dari makanan diantara gigi orang yang berpuasa, apakah itu tergolong membatalkan puasa jika seorang yang berpuasa menelannya ?

Jawaban :

“Alhamdulillah, jika pagi hari seorang yang berpuasa itu mendapati pada giginya ada sedikit sisa makanan, ini tidak berpengaruh pada puasanya. Akan tetapi ia wajib mengeluarkan sisa makanan tersebut dari mulutnya, tidak berpengaruh pada puasanya.

Kecuali jika ia MENELANNYA,
jika ia menelan sesuatu dari sisa makanan diantara giginya dengan sengaja, maka ini membatalkan puasa.

Adapun jika ia menelannya dalam keadaan tidak tahu (jahil) atau lupa, ini tidak berpengaruh pada puasanya.

Dan sepantasnya seorang muslim untuk bersemangat dalam membersihkan mulut dan giginya selesai makan. Sama saja apakah dalam kondisi berpuasa ataupun tidak, karena kebersihan itu dituntut bagi seorang muslim”. 

Majmu Fatawa Syaikh – Shalih Al-Fauzan 2/401

Start Yang Baik

“Ini kan baru hari-hari pertama Ramadhan, insyallah saya akan semangat beribadah di 10 hari terakhir.”

Kalimat yang sering kita dengar karena meremehkan hari-hari pertama dengan dalih bahwa puncak Ramadhan dan lailatul qadar ada di akhir Ramadhan.

Saudaraku,
Memang benar puncak Ramadhan ada di akhir, dan amalan tergantung akhirnya, tapi bukankah sebuah start sangat menentukan hasil akhir ? Kebaikan dan ibadah adalah sebuah perlombaan (QS. Al Baqarah: 148), dan para juara terbiasa memiliki start yang bagus untuk mengendalikan jalannya perlombaan.
Bukankah pembalap terbaik sekalipun gagal meraih juara karena start di posisi terbelakang ?!

Kaidah menyatakan:
“Diantara ganjaran dari kebaikan yang kita lakukan adalah taufiq untuk kebaikan berikutnya.”

Jika kita berhasil mengisi hari pertama Ramadhan dengan amal shalih, maka amal hari pertama akan mengundang amal shalih di hari kedua, dan jika kita beramal di hari kedua, maka amal hari kedua akan mengundang amal hari ketiga, begitu selanjutnya sampai kita menutupnya dengan husnul khatimah.

Sebaliknya saudaraku,
Kaidah menyatakan:
“Diantara hukuman dari dosa adalah undangan untuk dosa berikutnya.”

Jika kita mengisi hari pertama dengan berbagai dosa, maka dosa-dosa hari pertama akan mengundang dosa di hari kedua dan begitu seterusnya sampai kita gagal di akhir Ramadhan.

Mari kita cetak start yang sebaik mungkin di hari-hari pertama ini.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc, حفظه الله تعالى

Katanya Setan Dibelenggu – Mengapa Masih Ada Saja Yang Bermaksiat..?!

Dibelenggunya setan di bulan Ramadhan adalah hakekat yang telah disabdakan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. [Lihat riwayat sahihnya di Sunan Annasa’i: 2106, Musnad Ahmad: 7148].

Adapun mengapa masih ada orang yang bermaksiat, maka ada beberapa jawaban, diantaranya:

a. Meskipun setan telah dibelenggu, tapi pada asalnya manusia memiliki nafsu syahwat, ini tidaklah hilang dengan dibelenggunya setan di bulan Ramadhan, hanya saja pengaruhnya akan semakin lemah.

b. Sebagian ulama, mengkhususkan belenggu itu hanya pada setan-setan kelas kakapnya saja, sehingga setan-setan kroconya tidak demikian, mereka mengambil pengkhususan ini dari riwayat Imam Nasa’i dalam Sunannya: 2106.

c. Sebagian ulama memberikan jawaban, bahwa belenggu tersebut tidak melumpuhkan setan secara total dalam mengganggu manusia, namun melemahkannya.

Tingkat lemahnya setan dalam menggoda manusia, sangat tergantung pada kualitas puasa orang tersebut, semakin tinggi kualitas puasanya; semakin kuat belenggunya dan semakin lemah godaannya.. semakin rendah kualitas puasanya; semakin lemah pula belenggunya dan semakin kuat godaannya.

Tapi karena dia tetap terbelenggu di bulan Ramadhan; sehingga godaannya di bulan itu lebih lemah daripada godaannya di bulan lainnya.

[Semua jawaban ini disebutkan oleh Alhafizh Ibn hajar -rahimahullah- dalam Fathul Bari 4/114… Adapun Ibnu Taimiyah -rahimahullah-, beliau dalam Majmu’ Fatawa 25/246, hanya menyebutkan jawaban ketiga saja].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mana Yang Lebih Utama Bagi Wanita, Sholat Tarawih Berjama’ah Di Masjid atau Sholat Di Rumah Mereka ..?

Pertanyaan :
Assalamu’alaykum Ustadz, baarakallahu fiik, maaf Ustadz ada pertanyaan berkaitan dengan Tarawih.

Mengingat adanya hadits tentang pahala sholat sepanjang malam bagi mereka yang sholat tarawih + witir bersama Imam di masjid, apakah sebaiknya wanita juga sholat berjama’ah di masjid ataukah pahala sholat di rumah/kamar mereka tetap lebih utama bagi mereka dari pahala bersama Imam ? Syukron Ustadz

Jawaban :
Waalaikumussalam warohmatulloh wabarokatuh.

Shalatnya perempuan di rumah tetap lebih afdhal.

Walaupun saat shalat di masjid dia mendapatkan pahala shalat semalam suntuk.

Jika dia mampu shalat di rumah, maka itu yg lbh afdhal.

Jika khawatir menjadi malas shalat di rumah, maka sebaiknya shalat di masjid.

Wallohu a’lam.

Musyaffa’ Ad Dariny, MA,  حفظه الله تعالى

Tambahan : Diantara dalilnya…

Sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat seorang wanita di ruang tidurnya lebih baik dibandingkan shalatnya di ruang tengah. Dan shalatnya di ruang kecil di rumahnya, lebih baik dibandingkan shalatnya di ruang tidurnya.” (HR. Abu Daud dalam kitab sunan, tercantum dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 3833)

Dari Ummu Humaid, isteri Abu Humaid As-Sa’idy, sesungguhnya beliau datang (menemui) Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama engkau. Beliau menjawab: “Sungguh aku mengetahui bahwa engkau suka menunaikan shalat bersamaku, akan tetapi shalatmu di kamar tidurmu lebih baik dibandingkan shalatmu di ruang tengah rumahmu, dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid khusus rumahmu, dan shalatmu di masjid khusus rumahmu, lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid di sekitar masyarakatmu, dan shalatmu di masjid sekitar masyarakatmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjidku. Kemudian dia (Ummu Humaid) minta dibangunkan baginya masjid (tempat shalat) di tempat paling ujung rumahnya dan paling gelap. Maka beliau shalat di sana sampai bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla (wafat).” (HR. Ahmad, para perawinya tsiqah/terpercaya).

Ngapain Sih Pakai Puasa Segala..?

Anda pernah menjalani operasi ? Atau paling tidak anda memiliki saudara yang pernah menjalaninya?

Bila pernah, coba diingat kembali kenangan yang pernah anda lalui itu. Mungkin saja dokter yang menangani anda, meminta anda agar berpuasa selama beberapa jam, bahkan kadang kala anda harus berpuasa sampai 8 jam lamanya.
Nah, apakah ketika anda menjalani puasa 8 jam itu terbetik di hati anda harapan mendapat pahala dari Allah, walau hanya sedikit ? Atau mungkin juga pahala dari dokter yang menangani anda ?

Apa yang membedakan puasa itu dengan puasa yang sedang anda amalkan sekarang ini? Puasa yang sedang anda amalkan di bulan ini, begitu besar pahalanya:

(الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ) رواه مسلم

Shalat lima waktu, shalat jum’at hingga shalat jum’at selanjutnya, dan puasa bulan ramadhan hingga puasa bulan Ramadhan selanjutnya adalah penghapus dosa-dosa yang terjadi diantaranya, selama pelakunya menghindari dosa-dosa besar.” Riwayat Muslim

Bila demikian, apa yang menjadikan puasa di bulan ini memiliki keutamaan yang begitu besar, Sedangkan puasa yang diperintahkan oleh pak dokter, tidak ?
Coba anda renungkan, apa perbedaan antara keduanya ?
Saya yakin, spontan anda akan berkata: Sangat besar perbedaannya. Tapi coba anda mulai menuliskan perbedaan itu di secarik kertas, ada berapa perbedaankah yang berhasil anda tuliskan ?

Ketahuilah saudaraku! semakin banyak jumlah perbedaan yang berhasil anda tuliskan, berarti semakin besar pula pemahaman anda tentang puasa Ramadhan. Dan semakin besar pengetahuan anda semakin besar pula pahala yang –insya Allah- berhasil anda dapatkan darinya.

Sebaliknya, semakin sedikit perbedaan yang berhasil anda sebutkan, maka itu indikasi bahwa pahala puasa anda juga sedikit.

(رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ) رواه أحمد وحسنه الألباني

Mungkin saja orang yang berpuasa, dari puasanya itu hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja.” Riwayat Ahmad, dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani.

Saudaraku! Apakah anda rela bila perjuangan anda bangun pagi makan sahur, selanjutnya menahan lapar dan haus hingga terbenam matahari, sia-sia begitu saja ? Bukan pahala yang anda dapatkan, akan tetapi yang anda dapatkan hanyalah derita lapar dan haus belaka.
Anda tidak ingin petaka itu menimpa anda? Anda ingin tahu kiatnya ?

Temukan jawabannya pada ucapan Abu Bakar bin Abdillah Al Muzani berikut:

مَا فَضَلَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه النَّاسَ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وِلاَ صَلاَةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ

Tidaklah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berhasil mengungguli orang lain dikarenakan ia lebih banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi ia mengungguli mereka dengan sesuatu yang tertanam di dalam dadanya.”

Inilah jawabannya! Isi hati beliaulah yang menjadikannya berhasil mengungguli seluruh umat Islam.
Beliau tidak pernah berpuasa di bulan ramadhan lebih dari satu bulan, dan dalam satu hari juga shalat fardhu yang beliau lakukan hanya lima waktu dan demikian juga lainnya.
Yang membedakan beliau dari lainnya ialah niatnya. Beliau berpuasa sama dengan kita, akan tetapi niat puasa beliau jauh lebih baik dari niat puasa kita.

Sekedar menggambarkan perincian niat para ulama’ maka berikut saya sebutkan beberapa jenis-jenis niat dalam suatu amalan:

1. Niat menjalankan ibadah kepada Allah dengan berpuasa di bulan Ramadhan, dan ini adalah niat yang paling utama dan paling mendasar. Tanpa niat ini amalan anda tidak akan diterima Allah, dan tidak bernilaikan ibadah, bahkan bisa saja puasa anda berubah menjadi amal kemaksiatan.

(قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ) رواه مسلم

Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman: Aku adalah Dzat Yang paling tidak membutuhkan kepada persekutuan, karenanya barang siapa yang mengamalkan suatu amalan sedangkan padanya ia menyekutukan Aku dengan selain Aku, niscaya Aku meninggalkannya bersama sekutunya itu.” Riwayat Muslim

Niat inilah yang membedakan antara anda sebagai seorang yang beragama islam dengan orang-orang kafir, atau musyrik.
Walaupun niat jenis ini adalah niat yang paling mendasar dan pokok, akan tetapi niat inilah yang paling sering kita lalaikan.
Sudahkah anda senantiasa menghadirkan niat jenis pertama ini dalam ibadah puasa anda?

2. Niat meneladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah puasanya, atau yang sering disebut dengan ittiba’.
Coba sekarang anda membayangkan, seakan-akan anda
sedang mengamati gerak-gerik dan etika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selama menjalankan puasa Ramadhan, seakan-akan anda hidup bersama beliau. Apakah perasaan anda kala itu sama dengan perasaan pada hari-hari sebelumnya ?

Niat semacam ini adalah niat kedua yang paling mendasar agar puasa anda bernilai ibadah dan mendatangkan puasa. Walau demikian, ternyata niat semacam ini sering kali terlupakan, bukankah demikian saudaraku ?
Apalah artinya puasa anda bila ternyata anda berpuasa hanya sekedar mengikuti kebiasaan dan perilaku orang lain ?! Berpuasa hanya mengikuti perilaku masyarakat tidaklah ada gunanya di sisi Allah.
Apa yang selama ini anda lakukan, yaitu hanyut dengan perilaku masyarakat tanpa menyadari teladan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah puasa menjadikan puasa anda tidak bernilai ibadah, Sikap anda itu hanyalah menjadikan puasa anda bernilai tradisi belaka.

عِبَادَاتُ أَهْلِ الغَفْلَةِ عَادَاتٌ

Amal ibadah orang-orang yang lalai hanyalah bernilaikan adat istiadat.”

Dan perilaku seperti inilah yang dimaksudkan dalam hadits tanya jawab malaikat Mungkar dan Nakir di alam kubur:

(مَا كُنْتَ تَقُولُ فِى هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم؟ فَيَقُولُ: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيُقَالُ: لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلاَّ الثَّقَلَيْن) رواه البخاري

Apa yang dahulu engkau katakan/yakini tentang orang ini, yaitu Muhammad ? Si mayitpun menjawab: Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang diyakini oleh masyarakat banyak. Maka dikatakan kepadanya: Engkau tidak tahu dan juga tidak pernah membaca ? Selanjutnya ia dipukul dengan palu dari besi tepat di tengah-tengah antara ke dua telinganya, sehingga menjadikannya kesakitan dan menjerit dengan jeritan yang dapat didengarkan oleh seluruh yang ada di sekitarnya selain jin dan manusia. Riwayat Bukhary.
Apakah anda rela tergolong ke dalam orang-orang yang dikisahkan dalam hadits ini ? Tentu tidak.

3. Niat menjalankan kewajiban atau rukun Islam. Niat inilah yang biasanya disebut-sebut oleh para da’i dan penceramah pada setiap bulan ramadhan. Niat jenis ini hanya berfungsi sebagai syarat sah atau tidaknya puasa anda. Niat ini hanya bertujuan menggugurkan kewajiban belaka, akan tetapi niat ini, bila tidak disertai oleh kedua niat di atas, tidak cukup untuk mendatangkan pahala di sisi Allah.

4. Niat mendahulukan keridhaan Allah daripada kesenangan pribadi.
Betapa tidak, ketika anda berpuasa, anda meninggalkan berbagai hal yang anda cintai, makan, minum, bergaul dengna istri, semuanya anda tinggalkan karena mendahulukan perintah Allah. Semua hal yang anda cintai itu, dengan hati yang tulus anda tinggalkan hanya karena mencari keridhaan Allah semata.

(يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى) متفق عليه

Orang yang berpuasa meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya hanya karena Aku. Muttafaqun ‘alaih

Bila anda telah kuasa mendahulukan keridhaan Allah dibanding nafsu anda, maka itulah sejatinya takwa. Dengan senantiasa mendahulukan ridha Allah dibanding seruan nafsu, maka anda sedikit demi sedikit dapat merasakan manisnya iman.

(ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ) متفق عليه

Tiga hal, barang siapa yang ketiganya ada pada dirinya, niscaya ia akan mendapatkan/merasakan manisnya keimanan (ketiga hal itu ialah):
– Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain keduanya, dan
– ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah, dan
– ia membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah ia diselamatkan Allah darinya, bagaikan kebenciannya bila hendak dicampakkan ke dalam api. (Muttafaqun ‘alaih).

Niat ini adalah niat yang sangat tinggi, dan mungkin saja untuk saat ini, niat ini terasa begitu berat untuk kita miliki. Tidak heran, bila kita senantiasa merasa tidak sabar untuk segera berbuka puasa, dan bahkan sekedar matahari terbenam, balas dendam dan pelampiasan diri segera kita lancarkan. Makan dan minum sebanyak-banyaknya, sampai terasa susah untuk berdiri ? Bukankah demikian ?

5. Sebagai upaya membangun benteng pelindung dari sengatan api neraka.
Pada kesempatan yang lalu saya telah menyebutkan bahwa diantara manfaat dan tujuan ibadah puasa ialah menebus benteng atau perisai yang dapat melindungi diri anda dari sengatan panas api neraka.

(الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ ، مَرَّتَيْنِ) رواه البخاري

Puasa adalah perisai, maka orang yang sedang berpuasa hendaknya tidak berkata-kata keji dan berperilaku layaknya orang-orang bodoh (semisal berteriak-teriak-pen). Dan bila ada seseorang yang memerangi atau mencacinya, hendaknya ia membela diri dengan berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa, 2 kali“. Riwayat Bukhari

Dan pada riwayat lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا) متفق عليه

Barang siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dirinya dari api neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” Muttafaqun ‘alaih

Pernahkah, harapan semacam ini terbetik dalam hati anda selama anda menjalankan ibadah puasa?
Dan masih banyak lagi niat dan harapan yang seyogyanya anda miliki, agar puasa anda semakin sempurna dan pahala yang anda perolehpun semakin besar.

Apa yang saya paparkan di sini hanyalah sekedar upaya saya mengingatkan anda untuk lebih banyak mengkaji berbagai rahasia dan hikmah yang tersimpan di balik ibadah puasa anda.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan kerahmatan dan ilmu yang bermanfaat kepada anda, sehingga anda berhasil menggapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Amiin

Wallahu a’alam bisshawab.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da280517-0702