All posts by BBG Al Ilmu

Memperbaiki Diri…

Memiliki satu musuh sudah sangat banyak

Mempunyai seribu sohib masihlah kurang, itulah pesan salah seorang ulama! Biasanya seorang yang memiliki musuh akan berusaha untuk menyakiti musuhnya

Kecuali syetan banyak dari kita yang telah mengetahui bahwa dia adalah musuh kita, tapi malah berkawan dan bersahabat dengannya

Bahkan melakukan hal-hal yang menyenangkan syaitan

Padahal Allah telah mengingatkan:
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu maka jadikanlah dia sebagai musuhmu. (QS Fathir: 6)

Akhi/Ukhti

Siapapun yang membencimu
Siapapun yang memusuhimu
Ada satu langkah untuk menyakitinya
Untuk membuatnya gusar dan sengsara;
Satu langkah yang diridhai Allah, namun membuat musuhmu sengsara
membuatnya seperti cacing yang kepanasan

Yaitu:
Memperbaiki diri
Dekatkan dirimu pada Ilahi
Tinggalkan segala yang dibenci Rabbi
Basahi bibirmu dengan asma Allah
Tidak perlu kamu mendengki dan menghasut
Apalagi berbuat yang tak dibenarkan

Cukup kamu memperbaiki diri, Niscaya kamu sudah menyakiti musuh-musuhmu, dari bangsa Jin dan Manusia

Seorang alim ulama pernah berwasiat:
Bila kamu ingin menyakiti musuhmu, maka perbaikilah dirimu. Tiada senjata yang lebih ampuh, lebih dari kita memperbaiki diri sendiri

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Baju Najis…

Memakai baju Najis bagi banyak orang menjadi masalah yang berat dan dianggap larangannya berlaku dalam segala kondisi. Padahal sejatinya tidaklah demikian. Baju Najis hanya terlarang untuk dikenakan bila hendak mendirikan shalat atau ibadah lain yang dipersyaratkan agar dalam kondisi suci semisal thowaf menurut mayoritas ulama.

Dengan demikian bila Anda ditanya: bolehkah mengenakan baju Najis? Maka pertanyaan ini harus dijawab dengan terperinci, tidak bisa dijawab dengan satu jawaban, alias kondisional.

Apalagi bila yang bertanya ternyata dalam kondisi terpaksa, alias tidak ada pilihan selain mengenakan baju Najis atau telanjang bulat.

Fleksibilitas berpikir dan penilaian menjadi salah satu kriteria bagi pelajar ilmu fiqih.

Sebagaimana kemampuan memprediksi berbagai perbedaan kondisi yang ada, sebab dan akibat setiap masalah, juga menjadi kriteria selanjutnya.

Orang yang kaku dalam menerapkan ilmu fiqih, menutup mata dari perbedaan kondisi yang menyelimuti kasus, maka ia tidak layak belajar ilmu fiqih dan kalau tetap memaksakan diri apalagi sampai berfatwa maka berbahaya bisa mencelakakan ummat.

Dahulu ada seorang sahabat yang terluka parah di kepalanya, namun ia bermimpi basah. Oleh sebagian sahabat difatwakan agar ia mandi besar dengan tetap menyiram kepalanya, dan ternyata setelah mandi lelaki tersebut meninggal dunia.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar kasus ini beliau murka dan bersabda:

قتلوه قاتلهم الله الا سألوا اذ لم يعلموا فانما شفاء العي السؤال

Merekalah yang telah membunuh lelaki itu, semoga Allah memerangi mereka. Mengapa mereka tidak bertanya ketika menyadari bahwa dirinya tidak tahu ? Karena sejatinya penawar kebodohan adalah bertanya (kepada yang berilmu). Riwayat Ahmad, Abu Dawud dll.

Fiqih itu membutuhkan keluwesan bukan asal berani bicara lantang suaranya, namun fiqih membutuhkan keteguhan dalam menetapi dalil dengan metode pendalilan yang jelas.

Orang orang yang terjangkiti kemalasan berpikir, atau yang berprinsip: asal mantap atau sebaliknya asal mudah tidak layak belajar fiqih, karena kebenaran tidak diukur dari itu semua namun dari kebenaran dalil dan ketepatan pendalilan.

Sekedar hafal dalil belum cukup sampai ia mampu menerapkan dalil dengan tepat alias menguasai metodologi pendalilan yang benar. Semoga bermanfaat.

Jual Rumah Ke Pembeli Yang Akan KPR Via Bank…

Pertanyaan di grup:
“Afwan ustad mau bertanya. Gimana hukumnya ana mau jual rumah ana. Untuk dpt pembeli yg bisa bayar cash sulit. Boleh gk klo ada yg mau beli rumah ana kredit tapi dia kredit lewat bank. Jadi bank beli rumah ana kemudian si pembeli tadi nyicil ke bank. Apa uang hasil jual rumah ana ke bank terkena dampak riba dari si pembeli. Karna nyicil secara riba ke bank?”

Jawaban:
1- Kalau antum tidak ikut TTD sebagai saksi dalam perjanjian KPR si pembeli dan bank, hukum asalnya boleh. Jadi antum hanya tahu terima uang. Si pembeli yang transaksi riba. Tapi apakah ada bank yang mau penjualnya tidak TTD?

2- Kalau pembelinya muslim maka nasehati tentang riba.
Antum mau keluar, dia malah masuk.

3- Kalau sudah terjalin (meskipun antum ikut TTD), maka uang antum tetap halal karena hasil jual rumah sendiri. Adapun ribanya yang menjalin adalah si pembeli. Antum kena dosa sebagai saksi. Tapi uangnya hak antum.

Wallahu a’lam.
_________________________
Muflih Safitra ,  حفظه الله تعالى 

Tipe Suami yang Tidak Punya Rasa Cemburu (Dayyuts)…

Sebagian suami sama sekali tidak memiliki rasa cemburu, jika istrinya keluar dari rumahnya kemudian dilihat oleh para lelaki, atau istrinya bercampur dengan para lelaki di tempat kerja, atau istrinya berdua-duaan dengan seorang lelaki lain di mobil, atau istrinya berbicara dengan lelaki lain di telepon, atau istrinya berbicara lama dengan lelaki lain di hadapannya, atau saling sms-sms-an dengan lelaki lain, dan seterusnya…kemudian ia tidak merasa cemburu….lelaki macam apakah ini yang tidak cemburu….

Tidak adanya rasa cemburu inilah yang menyebabkan timbulnya kerusakan di masyarakat, timbulnya berbagai macam penyakit sosial…

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah jauh-jauh mewanti-wanti bahaya sifat ini, beliau bersabda

ثَلاَثَةٌ حَرَّمَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ عَلَيْهِمِ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُ وَالدَّيُّوْثُ الَّذِي يُقِرُّ الْخَبَثَ فِي أَهْلِهِ

Tiga golongan yang Allah mengharamkan surga atas mereka, pecandu bir, anak yang durhaka kepada orang tuanya, dan dayyuts yang membiarkan kemaksiatan pada istrinya (keluarganya). [Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no 2512 dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, lihat juga syahidnya dari hadits ‘Ammar bin Yasir no 2071 dan 2367]

Dayuts adalah orang yang tidak memiliki rasa cemburu karena istrinya. [Lisanul ‘Arab II/150, An-Nihayah fi ghorinil hadits IV/112]

Para ulama memandang sikap seperti ini merupakan dosa besar. [Al-Kabair I/54]

Namun yang menyedihkan yang terjadi di zaman ini, betapa banyak lelaki yang membiarkan istrinya terbuka menjadi bahan tontonan para lelaki, membiarkan para lelaki bergolak syahwatnya kerana melihat istrinya…. bahkan ia bangga dengan hal itu…, bangga kalau istrinya jadi barang tontonan, bangga jika aurat istrinya jadi pemuas nafsu pandangan para lelaki….

Bahkan sebagian kaum muslimin -yang terpengaruh dengan gaya hidup orang-orang kafir- memandang bahwasanya merupakan bentuk kemajuan dan modernisasi jika istrinya bertemu dengan sahabat lelaki suami maka sang istri mencium lelaki tersebut…

Bagaimana seorang mukmin yang sejati tidak cemburu melihat istrinya dicium oleh lelaki lain…??? inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun

Sesungguhnya wanita adalah sosok yang sangat mengharapkan perhatian dan kasih sayang suaminya. Hatinya akan berbinar-binar jika suaminya menyatakan kasih sayangnya dan cintanya padanya. Oleh karena itu terkadang seorang istri sengaja melakukan tingkah laku tertentu untuk menguji ukuran cinta suaminya kepadanya. Suami yang baik adalah yang mampu membuat istrinya merasa bahwa ia mencintainya. Jika seorang istri mengetahui bahwa suaminya cemburu karena dirinya maka ia akan sayang kepada suaminya karena ia merasa bahwa suaminya sayang kepadanya dan perhatian kepadanya.

Sebaliknya sebagian suami kecemburuannya berlebihan tanpa sebab. Hal ini timbul akibat prasangka buruk terhadap istrinya, yang tentunya hal ini sangat menjadikan sang istri menjadi tertekan karena gerak-geriknya selalu dianggap salah oleh suaminya, ia dianggap tidak sayang kepada suaminya…ia dianggap masih mencari pria lain…dan seterusnya tuduhan-tuduhan buruk di arahkan kepada istrinya yang sholihah yang sayang kepadanya.

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL QOYYUUM

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Daftar Isi Lengkap : Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH

Riyaa’ Terselubung…

Syaitan tidak berhenti berusaha menjadikan amalan anak Adam tidak bernilai di sisi Allah. Diantara cara jitu syaitan adalah menjerumuskan anak Adam dalam berbagai model riyaa’. Sehingga sebagian orang “KREATIF” dalam melakukan riyaa’, yaitu riyaa’ yang sangat halus dan terselubung. Diantara contoh kreatif riyaa’ tersebut adalah:

Pertama : Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas sholat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwasanya ia tidaklah demikian. Ia adalah seorang yang dermawan, rajin sholat malam, dan rajin menuntut ilmu. Secara tersirat ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.

Model yang pertama ini adalah model riya’ terselubung yang terburuk, dimana ia telah terjerumus dalam dua dosa, yaitu mengghibahi saudaranya dan riyaa’, dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibahi menjadi korban demi memamerkan amalan sholehnya

Kedua : Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang sholeh, karenanya ia berhak untuk dimuliakan oleh Allah dengan memberikan banyak karunia kepadanya.

Ketiga : Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, “Syaikh Fulan / Ustadz Fulan…luar biasa ilmunya…, sangat tinggi ilmunya mengalahkan syaikh-syaikh/ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun…”

Keempat : Merendahkan diri tapi dalam rangka untuk riyaa’, agar dipuji bahwasanya ia adalah seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan “Merendahkan diri demi meninggikan mutu”

Kelima : Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwasanya keberhasilan tersebut karena kepintaran dia dalam berdakwah

Keenam : Ia menyebutkan bahwasanya orang-orang yang menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwasanya ia adalah seorang wali Allah yang barang siapa yang mengganggunya akan disiksa atau diadzab oleh Allah.

Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.

Ketujuh : Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para dai/ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz menunjukkan ia adalah orang yang sholeh dan disenangi para ustadz. Padahal kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaan. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.

Kedelapan : Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia sebutkan bahwasanya istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riyaa’.

Para pembaca yang budiman, ini sebagian bentuk riyaa’ terselubung, semoga Allah melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riyaa’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riyaa’ akan tetapi tujuan kita adalah untuk mengoreksi diri sendiri.

Hanya kepada Allahlah tempat meminta hidayah dan taufiiq.

Ditulis oleh Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Posted by Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى