All posts by BBG Al Ilmu

Antara Resah, Takut Dan Waspada…

Tiga kata ini sekilas nampak sama, namun sejatinya jauh berbeda.

Anda resah sehingga anda tidak tenang, terus terbebani pikiran anda, sehingga karena resah anda menjauh atau menyendiri, untuk mencari ketenangan.

Dan karena takut, anda menjauh alias tidak berani menghadapi dan bisa jadi karena terlalu takut anda menyerah lalu mengikuti apa saja yang diinginkan oleh orang yang anda takuti.

Sedangkan anda waspada, karena anda menyadari bahwa ada bahaya yang mengancam diri anda, sehingga anda mempersiapkan diri dengan perbekalan yang dapat digunakan untuk mencegah bahaya atau melawan bahaya tersebut. Tidak ada rasa gentar atau takut, bahkan sebaliknya anda optimis mampu mengalahkan mara bahaya yang mengancam diri anda.

Bagaikan hujan anda tidak takut hujan yang akan turun, dan tidak pula resah, karenanya anda tetap beraktifitas seperti sedia kala, pergi ke pasar, ke kantor, menghadiri pengajian dan lainnya, Hanya saja anda bersikap waspada dengan sedia payung sebelum datangnya hujan, atau anda mengendarai kendaraan dan tidak mengendarai sepeda motor.
Dan kalaupun anda bersepeda motor maka anda persediaan mantel hujan, guna melindungi diri anda agar tidak basah kuyub terkena air hujan.

Paham komunis dan syi’ah sedang gencar-gencarnya dijajakan di negri ini, indikatornya jelas dan bukti-buktinya nyata, hanya orang yang menutup mata saja yang tidak dapat melihatnya atau menutup telinganya yang tidak dapat mendengarnya.

Sebagai orang yang beriman anda gentar ? Tentu saja tidak, karena anda percaya bahwa ajaran mereka adalah sesat sedangkan anda berjiwa mujahid, siap mengorbankan jiwa, raga harta dan segala isi dunia demi tegaknya Islam dan runtuhnya kekufuran.

Namun salahkah bila anda merasa resah dan kemudian mewaspadai penyebaran paham komunis dan syi;ah di tengah tengah ummat Islam. Karena resah maka selanjutnya anda bersikap waspada, dengan mengajarkan Islam yang benar agar masyarakat imun alias kebal dan tidak mudah terpengaruh dengan kedua paham sesat tersebut.

Setiap muslim wajib resah dengan menyebarnya kemungkaran apalagi kekufuran. Pengamen yang gumbrang gambreng di depan rumah saja meresahkan anda apalagi para penjaja kekufuran. Pemulung yang suka mencuri barang masyarakat saja menyebabkan anda resah, masak anda tidak resah dengan merajalelanya komunisme dan syi’ah? aneh bin ajaib itu namanya.

Sebagai orang yang beriman, anda perlu waspada, karena bisa jadi kedua paham sesat nan kufur tersbeut mengancam diri anda, keluarga anda, kerabat anda atau masyarakat anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه و ذلك أضعف الإيمان . رواه مسلم

Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, hendaknya ia merubahnya (mencegahnya) dengan kekuasaannya ; jika ia tak kuasa, maka ia merubahnya dengan lisannya (ucapannya) ; dan jika ia tak kiasa , maka ia merubahnya dengan hatinya (membenci dan menjauhinya) , dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (Muslim)

Namun keresahan anda dan kewaspadaan anda tidak sepatutnya berlebihan, menjadikan anda panik, hingga keluar dari aturan agama anda atau menghalalkan segala macam cara.

Resah dan waspada bukan berarti takut atau gentar dan layak menjadi alasan untuk berubah haluan dari syari’at Islam atau sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya dilaksanakan secara proporsional, karena tidak bijak bila mewaspadai hujan dengan membawa tenda, namun bawalah payung, atau mewaspadai sengatan nyamuk dengan membawa senapan otomatis atau meriam. Sebaliknya juga demikian salah besar bila mewaspadai serangan srigala bila anda bersenjatakan raket penepuk nyamuk atau lalat, mewaspadai banjir bandang namun anda hanya berbekalkan balon udara.

Resah dan waspada adalah cambuk untuk berjuang mengingkari kemungkaran dan menebarkan kebenaran. Wallahu Ta’ala A’alam bisshowab

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Hukum Istri Memandikan Jenazah Suami dan Sebaliknya

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum… Ustad, saya mau tanya : apakah seorang suami/istri bila salah satu dari mereka meninggal lebih dulu boleh memandikan jasad pasangan mereka masing2..? Blm lama ini saya dapat kiriman sms kisah perihal tsb. diatas. Nanti saya kirimkan kisah itu jg ke pak Ustadz. Mohon penjelasannya ..ustadz. Terima kasih ustadz .

Jawab:
Bismillah. Menurut pendapat ulama yg shohih bahwa seorang istri BOLEH memadikan jenazah suaminya yang lebih dahulu meninggal dunia. Demikian juga sebaliknya, BOLEH bagi seorang suami memandikan jenazah istrinya yang lebih dahulu meninggal dunia.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

عن عائشة رضي الله عنها قالت : (رَجَعَ إلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ جِنَازَةٍ بِالْبَقِيعِ وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعًا فِي رَأْسِي وَأَقُولُ : وَارَأْسَاهُ , فَقَالَ : بَلْ أَنَا وَارَأْسَاهُ , مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ وَكَفَّنْتُكِ , ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ ) رواه أحمد (25380) ، وابن ماجة (1456)، وصححه الشيخ الألباني في صحيح ابن ماجة (1/247) .

1. Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, ia menceritakan, ‘bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pulang ke (rumah)ku setelah mengantar jenazah ke Baqi’, beliau menemuiku ketika aku sedang sakit kepala, aku mengeluh: “Duh kepalaku.” Beliau bersabda, “Saya juga Aisyah, duh kepalaku.” Kemudian beliau menyatakan,

«مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي، فَقُمْتُ عَلَيْكِ، فَغَسَّلْتُكِ، وَكَفَّنْتُكِ، ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ، وَدَفَنْتُكِ»

“Tidak jadi masalah bagimu, jika kamu mati sebelum aku. Aku yang akan mengurusi jenazahmu, aku mandikan kamu, aku kafani, aku shalati, dan aku makamkan kamu.” (HR. Ahmad nomor.25380, Ibnu Majah nomor.1465, dan derajatnya dinyatakan SHOHIH oleh syaikh al-Albani di dalam Shohih Ibnu Majah I/247).

2. Riwayat yang menerangkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berwasiat agar dimandikan oleh istrinya, Asma’ binti `Umais radhiyallahu ‘anha, sehingga istrinya melaksanakan wasiat ini. (HR. Imam Malik dalam al-Muwaththa’ I/223, Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya nomor.6113, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya III/249).

3. Atsar yang diriwayatkan Ibnul Mundzir bahwa Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu memandikan jenazah Fathimah radhiyallahu `anha, dan hal ini diketahui oleh para sahabat Radhiyallahu `Anhum, namun tiada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya; karena itu hal ini merupakan sebuah irma’ (konsensus para sahabat).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq. (Klaten, 20 November 2014)

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

Ref : https://abufawaz.wordpress.com/2014/11/22/hukum-istri-memandikan-jenazah-suami-dan-sebaliknya/

Ternyata Sia-Sia…

Bayangkan jika kita sedang menginap di penginapan di lantai 15 misalnya.

Suatu ketika lift mati karena listrik padam.
Kita yang sedang di bawah terpaksa naik ke atas dengan menaiki tangga.

Sesampainya di atas, ternyata kita lupa kunci tertinggal di bawah.
Letihnya menaiki tangga ternyata sia-sia…

Begitulah jika kita melakukan amal sholih, tapi kita lupakan kuncinya: IKHLAS dan ITTIBA’ (*).

Amal dikerjakan dengan susah payah namun ternyata sia-sia.

Muflih Safitra, حفظه الله تعالى

(*) Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya.

Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL MUN’IM

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH…

Kapan Mertua Perempuan dan Menantu Perempuan Menjadi MAHRAM..?

1⃣  Mahram adalah wanita yang dilarang bagi lelaki untuk menikahinya (Shahih Fiqh Sunnah III/71).

2⃣  Di antara mahram seorang laki-laki adalah ibu mertua dan menantu perempuan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ … وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ … وَحَلآَئِلُ أَبْنَآئِكُمُ …“

Diharamkan atas kamu (mengawini) … ibu-ibu isterimu (mertua)… (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu)…” (QS. An-Nisaa’: 23)

Contoh:
Muflih menikahi Ela. Ibunya Ela (bahkan termasuk neneknya Ela dari jalur ibu dan bapaknya) menjadi mahram Muflih. Bapaknya Muflih pun menjadi mahram Ela.

3⃣  Mertua dan menantu menjadi mahram dengan semata-mata sahnya akad nikah suami istri, sekalipun mereka belum berhubungan badan. (Al-Wajiz Syaikh Abdul Azhim Badawi hal. 293, Syarh Zaadil Mustaqni’ Syaikh Shalih Fauzan hal.462).
Ini berdasarkan keumuman QS. An-Nisaa’: 23 di atas.

4⃣  Perlu dicermati bahwa “menantu” tidak sama dengan “anak perempuan istri”.
#Menantu menjadi mahram dengan semata-mata akad nikah, walau belum berhubungan badan.
#Anak perempuan istri (dari suami lama) baru menjadi mahram suami baru jika si istri telah digauli suami barunya.
Contoh:
Zainab ditinggal wafat suaminya. Keduanya punya anak, Maryam. Zainab menikah lagi dengan Zaid. Maka, Maryam baru menjadi mahram Zaid bila Zaid telah menggauli Zainab.

5⃣  Terdapat kaidah yang dapat memudahkan memahaminya:

العقد على البنات يحرم الأمهات والدخول بالأمهات يحرم البنات

“Akad dengan anak perempuan mengharamkan para ibunya, dan persetubuhan dengan para ibu mengharamkan anak perempuan.” (Syarh Mukhtashar Khalil, Al-Khurasyi 9/12, Hasyiyah Ad-Dasuqiy ‘ala Syarh Al-Kabir 8/23, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah 4/38, Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan 98/13)

6⃣  Hubungan mahram dengan ibu mertua ini adalah untuk selamanya (mu’abbad). Artinya, sekalipun seorang suami sudah mentalak istrinya, maka mertua tetap mahram menantu.

Muflih Safitra, حفظه الله تعالى

Terlambat Shalat Jenazah, Bagaimana Mengejar Takbirnya..?

Kerap dalam shalat jenazah, ada beberapa orang yang datang terlambat, sehingga mereka pun tertinggal beberapa takbir dari imam. Bagaimana mereka mengerjakan takbir yang terlewat?

Kesimpulan:

 Orang yang terlambat ikut shalat jenazah hendaknya langsung bertakbir dan shalat bersama imam, tidak menunggu imam melakukan takbir berikutnya.

 Orang yang terlambat ikut shalat jenazah tetap harus mengerjakan takbir yang terlewatkan dan membaca bacaan masing-masing takbir tersebut setelah imam salam.

 Ada dua pendapat tentang cara makmum masbuq mengejar ketertinggalan dalam shalat jenazah:
(1) Menghitung sesuai kondisinya (takbir lalu membaca Al-Fatihah);
(2) Menghitung sesuai kondisi imam (takbir lalu membaca sesuai bacaan imam). Salah satu dari kedua pendapat boleh diamalkan tanpa mengingkari orang yang menyelisihi.

 Riwayat hadits yang menjadi dalil pendapat pertama lebih banyak daripada riwayat untuk pendapat kedua. Maka menghitung sesuai kondisi diri makmum (takbir lalu membaca Al-Fatihah) lebih utama dikerjakan.

 Jika sudah sangat terlambat dan khawatir jenazah akan segera diangkat sebelum makmum masbuq selesai shalat, maka cukup baginya bertakbir secara berturut-turut tanpa bacaan lalu salam.

Muflih Safitra, حفظه الله تعالى

Jangan Terlena Dengan Amalmu…

Suatu hari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di depan para sahabatnya, ia hendak menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tiba-tiba beliau pingsan, kemudian setelah beberapa saat, beliau siuman, kejadian itu berulang 3X, baru setelah itu beliau bisa menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung ini, renungkanlah artinya:

“Sesungguhnya orang pertama yang akan diadili kelak pada hari kiamat ada 3.
Pertama, seseorang yang mati syahid, dia dihadpkan kepada Allah & disebutkan oleh-Nya semua kenikmatan yang pernah diberikan kepadanya, maka diapun mengakuinya, kemudia dia ditanya (oleh Allah): Apa yang telah kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut? dia menjwb: Aku telah berjuang untuk-Mu hingga mati syahid. Dijawab (oleh Allah): Kamu dusta, kamu tidaklah berjuang kecuali supaya dikatakan pemberani, & kamu pun telah dikenal, dengan demikian, dia diperintahkan untuk diseret di ats mukanya & dimasukkan ke dalam api neraka.

Kedua, seorang yang menuntut ilmu & mengajarkannya, & membaca Al-Qur’an, maka dia dihadapkan kepada Allah & disebutkan oleh-Nya semua kenikmatan yang pernah diberikan kepadanya, maka diapun mengakuinya, kemudia dia ditanya (oleh Allah): “Apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?” dia menjawab: “Aku telah menuntut ilmu & mengajarkannya, & membaca Al-Qur’an karena-Mu.” Dijawab (oleh Allah): “Kamu dusta, kamu tidaklah menuntut ilmu kecuali supaya dikatakan sebagai orang alim, & tidaklah membaca Al-Qur’an kecuali supaya dikatakan sebagai qari’ & kamu pun telah dikenal dengan demikian.” Kemudian diperintahkan untuk diseret di atas mukanya & dimasukkan ke dalam api neraka.

Ketiga seorang dermawan yang diberikan padanya berbagai macam kekayaan, maka dia dihadapkan kepada Allah & disebutkan oleh-Nya semua kenikmatan yang pernah diberikan kepadanya, maka diapun mengakuinya, kemudia dia ditanya (oleh Allah): Apa yang telah kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut? dia menjawab: Tiada satu jalanpun yang Kau cintai di situ seseorang untuk ber’infaq, kecuali telah aku keluarkan semata-mata untuk-Mu. Dijawab (oleh Allah): “Kamu dusta, kamu tidaklah melakukan itu kecuali supaya dikenal sebagai dermawan, & kamupun telah dikenal dengan demikian, kemudian diperintahkan untuk diseret di atas mukanya & dimasukkan ke dalam api neraka”. (HR Muslim and Tirmidzi, Ibnu Hibban).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia & perhiasannya, pasti kami berikan (balasan) penuh pekerjaan mereka di dunia (dengan Sempurna) & mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat, kecuali neraka, & sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) & terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)

Ingin dipuji adalah tabiat manusia
Menyebrangi samudera yang luas, dalam dan penuh hiu, lebih ringah dari pada mengarungi lautan ikhlas. Karena dalam semua itu, diri kita termotivasi untuk kesenangan jiwa kita, untuk nafsu dan naluri manusiawi: popularitas, prestige, kesenangan tersendiri, cinta petualangan, kehebatan dll.

Namun dalam puncak dan samudera keikhlasan: kita memerangi diri kita untuk tidak menyukai apa yang disukainya, untuk membenci apa yang dicintai. Kita suka dipuji, tapi kita harus menghilangkan perasaan itu. Kita suka disanjung, namun kita wajib menghapus keinginan itu. Kita suka dunia, kemewahaan, namun kita diperintahkan untuk menundukkan gejolak nafsu itu dari dalam hati kita, agar yang ada dalam niat dan hati hanyalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala kita beramal, demi sesuatu yang lebih indah dan menakjubkan dari semua itu.

Memang manusia yang berbuat baik, pantas untuk mendapatkan pujian dan sanjungan. Namun beramal baik untuk mendapatkan pujian dan sanjungan adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan memerangi sesuatu yang tumbuh di dalam hati adalah perjuangan yang tidak akan pernah tuntas. Karena penyakit itu tumbuh dan berakar di dalam hati. Semoga Allah Jalla wa ‘Ala membimbing kita agar tetap ikhlas beramal.
Beratnya medan menuju puncak ikhlash

قال الفضيل بن عياض: أدركنا أناس يراءون بما يعملون فصاروا الآن يراءون بما لا يعملون.
– أعربنا في القول .. وأخللنا في العمل .. حتى أصبح إخلاصنا يحتاج إلى إخلاص.
إن من دلائل الإخلاص وعلامات المخلصين اتهامهم لأنفسهم بالتقصير في حق الله ، وعدم القيام بالعبودية لملك الملوك ، بل ومقتهم لأنفسهم ولا يرونها أهلاً لأي فضل ، قال تعالى { والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلةٌ أنهم إلى ربهم راجعون }.

Al Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Kita telah menjumpai orang-orang yang berlaku riya’ dengan apa yang mereka kerjakan, namun saat ini kita mendapati orang-orang yang berlaku riya’ dengan apa yang tidak mereka lakukan”.

Mendaki puncak himalaya susah dan membutuhkan perbekalan dan perlengkapan, serta butuh beberapa hari, atau beberapa pekan untuk sampai ke puncaknya. Tapi itu tetap lebih mudah dibanding mendaki puncak keikhlasan.

Dan perjuangan untuk sampai ke puncak keikhlasan, untuk merapat ke pantai ikhlas membutuhkan waktu yang kadang lebih panjang dari pada keliling dunia, karena kadang sampai ajal menjemput, ada yang belum sampai ke puncaknya.

سئل التستري: “أي شيء أشد على النفس؟! قال: “الإخلاص؛ لأنه ليس لها فيه نصيب”.

At Tsauri rahimahullah ditanya, “Apakah yang paling berat untuk jiwa? Maka ia berkata, “al Ikhlash, karena tidak ada bagian nafsu di dalamnya”.

Dan seorang ulama’ besar, yang terkenal kezuhudannya, Sufyan at Tsauri rahimahullah berkata:

“ما عالجت شيئاً أشد عليّ من نيتي؛ إنها تتقلبُ عليّ”.

“Tiada ada sesuatu yang lebih berat aku tangani daripada niatku sendiri, sesungguhnya ia suka berbolak-balik”.

Ada Kemudahan
Beratnya medan menuju ikhlash. Sulitnya mengobati hati. Sukarnya memurniatkan niat untuk ilahi. Akan menjadi mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan itu adalah rahasia, kenapa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

“Wahai Yang Maha Membolak-balikkah hati, Tetapkanlah hatiku di atas agamamu”. (HR Tirmidzi)

Dan Tatkala Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi Subhanahu wa Ta’ala “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah”. (HR Tirmidzi)

Tiada kemudahan kecuali yang Allah Subhanahu wa Ta’ala buat mudah, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa menjadikan yang sukar itu mudah apabila Dia berkehendak, tapi sayangnya, kita yang sering lupa memohon keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua amal kita.

Simaklah petuah singkat berikut.
Minta rezeki tidak pernah lupa
Minta sehat dan kesembuhan selalu sedia
Minta kesuksesan dan keberhasilan senantiasa dibaca
Tapi minta keikhlasan, mungkin ada sebagian yang lupa

Washalatu wassalamu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain.

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Mengapa Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi..?

Alasannya: Menjaga perasaan teman, tidak enak sama bos, menyenangkan pelanggan….?!

Subhaanallaah, takut membuat manusia marah tapi berani membuat Allah murka…?!

Saudaraku, yang menciptakanmu, yang selalu memberikan rezeki dan mencurahkan nikmat kepadamu adalah Allah ‘azza wa jalla, bukan manusia.

Yang Maha Mampu membalasmu dan menolongmu hanya Allah ‘azza wa jalla, bukan manusia.

Dialah Allah yang Maha Luas rahmat-Nya dan sangat keras azab-Nya. Maka Allah yang lebih patut engkau takuti, bukan manusia.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ الله تعالى عَنْهُ وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس

“Barangsiapa mencari keridhoaan Allah walau dengan membuat manusia marah, maka Allah ta’ala akan ridho kepadanya dan menjadikan manusia pun ridho kepadanya, dan barangsiapa yang mencari keridhoaan manusia walau dengan membuat Allah murka, maka Allah murka kepadanya dan Allah jadikan manusia pun murka kepadanya.” [HR. Ibnu Hibban dari Aisyah radhiyallahu’anha, At-Ta’liqootul Hisan: 276, lihat juga Ash-Shahihah: 2311 dan Shahih At-Targhib: 2250]

Saudaraku, menjaga imanmu jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini. Menjaga hubungan baikmu dengan Allah ‘azza wa jalla jauh lebih berharga daripada hubunganmu dengan makhluk.

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى