All posts by BBG Al Ilmu

Perkara Haram (3) : Menahan Dan Meminta…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

· PERKARA HARAM KETIGA ·

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan beberapa perkara yang haram, diantaranya adalah:

وَمَنْعًا وَهَاتِ
“Menahan dan meminta”.

√ Arti “menahan” yaitu menahan perkara-perkara wajib yang harus dia tunaikan, seperti :

⑴ Zakat, merupakan hak orang-orang miskin yang seharusnya dia tunaikan tapi tidak ditunaikan.
⑵ Nafkah-nafkah yang wajib yang harusnya diberikan kepada orangtuanya, anak dan istrinya tapi dia tidak keluarkan haknya.
⑶ Nafkah wajib kepada pekerjanya yaitu gaji, tapi tidak dia keluarkan.

√ Arti “meminta” yaitu dia hanya meminta. Hak orang lain tidak dia berikan sementara dia menuntut haknya bahkan menuntut perkara-perkara yang bukan haknya.

Oleh karenanya seseorang jangan hanya bisa menuntut saja tapi tidak menunaikan kewajibannya.

Dan banyak model orang seperti ini, yang hanya menuntut tapi lupa bahwasanya dia punya tanggung jawab yang harus dia sampaikan.

Courtesy : BIAS

Perkara Haram (4) : Perkataan Yang Hanya Berlandaskan KATANYA

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

· PERKARA HARAM KEEMPAT ·

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَكره لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ

“Dan Allāh MEMBENCI bila kalian ‘qīla wa qāla’ (berkata hanya berlandaskan “katanya”).”

Dan ini peringatan kepada kita semua.

Di zaman sekarang, dimana begitu banyak media, berita-berita yang tersebar di internet banyak sekali yang belum tentu benar.

Dan tidak boleh kita menyebarkan setiap berita yang datang kepada tanpa kita cek terlebih dahulu. Apalagi datangnya dari situs-situs atau website-website yang tidak jelas ketsiqahannya.

Bukankah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (رواه مسلم)

“Cukuplah seorang (dikatakan) berdusta jika dia menyampaikan seluruh apa yang dia dengar.”
(HR. Muslim)

Karena kalau kita menyampaikan seluruh kabar – dan namanya kabar pasti ada tambahan, kekurangan atau dusta, belum lagi kabar-kabar yang berkaitan dengan ghibah, namīmah, maka kita ikut menyebarkan “katanya dan katanya” ini.

Dalam hadits juga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

بِئْسَ مَطِيّةُ الرجلِ زَعَمُوا (رواه أبو داود )

“Sungguh buruk (seburuk-buruk) tunggangan seseorang adalah perkataan ‘mereka menduga’.”
(HR. Abū Dāwud)

Maksudnya adalah seorang menukil berita namun tapi tidak jelas sumber perkataan tersebut (katanya begini, menurut/dugaan nya begini).

Hal ini dilarang oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ingatlah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالا يَعْنِيهِ  (حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا)

“Diantara keindahan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak penting baginya.”
(Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Oleh karena itu kalau ada kabar yang tidak jelas dan tidak bermanfaat baginya, bagi agamanya, masih diragukan maka tidak perlu dia sebarkan.

Kalau sudah terlanjur dibaca maka tidak perlu di share, tidak semua kabar harus kita share karena masih banyak sekali perkara yang masih “katanya dan katanya”.

Ingat, kalau kita sebarkan setiap berita padahal pada berita tersebut bermacam-macam isinya – ada isinya hanya kedustaan, ghibah, namīmah – maka ini kita termasuk menyebarkan perkara-perkara dosa.

Maka benar sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam,
“Cukuplah seorang dikatakan berdusta jika menyampaikan semua apa yang dia dengar.”

Courtesy : BIAS

Perkara Haram (5) : Banyak Soal…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

PERKARA HARAM KELIMA ·

Kemudian perkara yang haram berikutnya adalah “banyak soal”.

Suāl dalam bahasa arab bisa memiliki 2 makna ;

⑴ Makna pertama: Pertanyaan
⑵ Makna kedua : Meminta

Dan keduanya ini dilarang, terlalu banyak bertanya dan terlalu banyak meminta.

· MAKNA PERTAMA: Terlalu banyak bertanya.

Adalah bertanya hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti bertanya tentang hal-hal yang mustahil terjadi atau pertanyaan yang tujuannya untuk mencari keringanan.

Pernah seorang ustadz ditanya:

“Ustadz, apa hukum makan daging dinosaurus?”

Ini pertanyaan yang tidak bermanfaat. Dinosaurus sudah tidak ada, kalaupun dahulu ada maka siapa yang menyembelih dan siapa yang mau makan dagingnya?

Atau pertanyaan lain: “Apakah dinosaurus pernah ada?”

Ini pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada manfaatnya.

Contoh juga pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan dirinya, misal:

“Ustadz, misal kalau saya di bulan, kapan saya shalat dzuhur?”

Kalau pertanyaan berkaitan dengan seorang yang memang astronot maka tidak mengapa tetapi kalau kita bukan astronot dan hanya tinggal dirumah serta tinggal di bumi, maka untuk apa bertanya yang seperti ini?

Ini dilarang oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Atau pertanyaan lain: “Kalau Ka’bah itu terbang, lalu bagaimana kaum muslimin shalat?”

Hal ini siapa yang menerbangkan dan kapan terjadi?
Intinya kalau ada permasalahan yang pelik, nanti ada saatnya ulama akan membahas masalah-masalah tersebut.

· MAKNA KEDUA: Terlalu banyak meminta

Seseorang tidak dilarang untuk bekerja dengan dirinya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan orang lain. Tapi kalau terlalu sering meminta tolong kepada orang lain maka hatinya akan kurang bergantung kepada Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.

Hendaknya seseorang bergantung hanya kepada Allāh Subhānahu Wa Ta’āla, berusaha menjaga kehormatan (‘izzah) dirinya.

Dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

لاَ تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ يَوْمض الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.

“Senantiasa salah seorang dari kalian meminta dan meminta sampai dia bertemu Allāh di hari kiamat dalam kondisi wajahnya tidak ada dagingnya sama sekali.” (Bukhāri No. 1405 dan Muslim no. 2443)

Artinya Allāh membalas perbuatan tidak tahu malu yaitu meminta-minta yang terus menerus (takatstsuran), yaitu sudah punya tetapi meminta lagi dan lagi.

Adapun orang yang meminta karena butuh dan benar-benar tidak punya dan butuh bantuan maka tidak dilarang.

Yang dilarang adalah jika sebenarnya dia bisa berusaha sendiri dan tidak terlalu perlu meminta tapi meminta-minta terus. Ini yang bisa menghinakan diri seseorang dihadapan manusia dan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.

والله تعالى أعلم بالصواب

Courtesy : BIAS

Engkau Adalah Milik Harta, Jika…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Seorang penyair berkata:

أنت للمال إذا أمسكته، وإذا أنفقته فالمال لك

“Sesungguhnya engkau adalah milik harta jika engkau menahan harta tersebut. Dan harta menjadi milikmu tatkala engkau menginfakkan harta tersebut.” (Al-Ahnāf bin Qais)

Dan ini benar, bahwasanya jika seorang dia mencari harta yang banyak, sementara tidak dia infaqkan maka sesungguhnya dialah milik harta.

Kenapa?
Karena dia bekerja keras untuk mencari harta tersebut, dia tunduk kepada harta tersebut sementara harta tersebut bukan miliknya.

Oleh karenanya, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ

“Sungguh celaka penyembah dinar dan sungguh celaka penyembah dirham.” (HR. Bukhāriy)

Di sana ada orang-orang yang benar-benar diperbudak oleh harta, dinar dan dirham. Waktunya habis untuk tunduk kepada dinar dan mencari harta tersebut.

Bahkan ibadahnya diatur oleh harta tersebut. Kapan hartanya mengatakan, “Tunda ibadahmu, tinggalkan ibadahmu.” Maka demi harta dia akan tinggalkan dan tunda-tunda ibadahnya.

Maka benarlah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Sungguh celaka penyembah dinar dan sungguh celaka penyembah dirham.”

Adapun jika harta tersebut kita ingin infaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka sesungguhnya harta tersebut milik kita.

عَنْ أَبِي مَيْسَرَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهُمْ ذَبَحُوا شَاةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَقِيَ مِنْهَا قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا

Dalam suatu hadits tatkala disembelih seekor kambing kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh istri-istri Nabi untuk membagikan (daging) kambing tersebut kepada orang lain. Maka setelah dibagikan (daging) kambing tersebut Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā: “Wahai ‘Aisyah, bagian mana dari kambing tersebut yang masih tersisa?”

Maka kata ‘Aisyah: “Tidak ada yang tersisa kecuali hanya bagian pundak dari kambing.”

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
“Seluruh kambing tersisa kecuali pundak kami yang tidak tersisa.”

(HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Tatkala ‘Aisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā menjelaskan kenyataan bahwasanya daging kambing semua sudah dibagikan tidak ada yang tersisa, yang belum dibagikan hanyalah bagian pundak kambing, maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan sebaliknya; justru yang telah dibagikan seluruhnya itulah yang tersisa.

Artinya apa? Tersisa di akhirat.

Itulah harta yang benar-benar milikmu, yang akan membangun istanamu di akhirat.

Adapun yang belum dibagi, itu yang tidak tersisa, karena itu tidak jadi milikmu.

Dan ini sesuai dengan sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Ada 3 perkara yang mengikuti mayat tatkala mayat dikuburkan, yaitu keluarganya, hartanya dan amalannya. Maka yang 2 akan kembali yaitu keluarga dan hartanya. (HR. Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960 dari shahābat Anas bin Mālik) 

Tatkala seseorang dikubur maka harta dan keluarganya (istri dan anak-anak) tidak akan ikut dikubur.

Akan tetapi yang tersisa ikut dikubur bersama adalah amalnya.

Tatkala harta tidak diinfaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla atau tidak diinfaqkan sesuai yang diridhai Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka harta tersebut tidak akan menjadi amal.

Tetapi saat harta tersebut diinfaqkan dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka berubahlah status harta tersebut menjadi amalan shalih dan akan menyertai sang hamba dalam kuburnya.

Oleh karena itu, tatkala kita mencari harta, niatkanlah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tatkala kita mencari nafkah untuk anak istri, niatkanlah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tatkala kita mengumpulkan harta, niatkanlah bahwa harta tersebut akan kita gunakan sebagiannya untuk dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Karena saat kita mencari nafkah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan mengeluarkannya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka harta tersebut akan menjadi amal shalih yang akan menemani kita di kubur dan akan membela kita tatkala di akhirat kelak.

Akan tetapi sebaliknya, jika ternyata harta tersebut tidak kita niatkan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita gunakan hanya sekedar untuk berfoya-foya, tidak ada tujuan yang jelas, membangun rumah yang tinggi tanpa niat karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita kumpulkan harta, tanah, emas, dollar, rupiah yang banyak tapi bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka sesungguhnya harta yang kita kumpulkan tersebut akan menjadi bumerang dan memperberat hisab kita di akhirat kelak.

Allāh berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya kalian akan benar-benar ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla atas segala nikmat yang kalian rasakan.” (At-Takātsur 8)

وبالله التوفيق
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Courtesy : BIAS.

Tebarlah Benih Kebaikan…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Tanamlah kebaikan di mana saja… dan jangan menunggu balasan kebaikan itu dari orang yang kau bantu, karena sangat mudah bagi Allah untuk membalas kebaikan itu lewat tangan hambaNya yang lain.
Dan ingatlah terus, bahwa perbuatan baik tidak mungkin akan hilang balasannya.

Jikapun tidak Anda dapatkan di dunia yang fana ini, mustahil dia akan hilang dari sisi Allah Rabbul Alamin, balasan kebaikan itu pasti akan Anda temui di akherat nanti.

Karena Mereka Hanya Suka Orang SALEH, Bukan Orang Yang Ingin MENSALEHKAN Lingkungannya…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Lihatlah bagaimana baginda Nabi shollallohu alaihi wasallam sebelum diutus sebagai rasul, kaumnya sangat simpati kepada beliau.

Sehingga mereka menjulukinya dengan julukan “Ash-Shoodiqul Amin” (orang yang jujur dan amanah), itu karena beliau orang yang saleh.

Namun lihatlah ketika beliau diutus Allah ta’ala, ketika beliau ingin mensalehkan lingkungannya, mereka dengan serta merta memusuhinya dan menjulukinya dengan julukan “tukang sihir, pendusta, gila” dan julukan-julukan buruk lainnya.

Penyebabnya, karena penyeru kebaikan yang ingin mensalehkan lingkungannya akan mengusik hawa nafsu mereka, terutama ketika dia ingin membebaskan mereka dari kekangan hawa nafsu tersebut.

Oleh karenanya, Luqman berwasiat kepada anaknya untuk BERSABAR ketika memerintahkannya ber-amar ma’ruf nahi munkar, karena konsekuensinya pasti akan dimusuhi orang… Nabi -shollallohu alaihi wasallam- saja dimusuhi, apalagi orang yang di bawahnya.

Tapi, hendaklah Anda tegar, dan ingatlah selalu pahala yang sangat agung dari-Nya… “sungguh satu saja engkau berhasil memberi petunjuk kepada orang lain, itu lebih baik bagimu melebihi onta merah”, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam.

Dan bagi Anda yang belum mampu menjadi penyeru kebaikan, hormatilah dan dukunglah para penyeru kebaikan itu, karena sebenarnya mereka adalah “pahlawan penyelamat” Anda dan masyarakat lainnya dari azab yang membinasakan, Allah azza wajall berfirman (yang artinya):

“Tuhanmu tidak akan MEMBINASAKAN negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang muslihun” (yakni orang-orang yang berusaha mensalehkan lingkungannya). [QS. Hud: 117]

Semoga bermanfaat…

Potret Kehati-hatian Generasi Salaf Dalam Berfatwa…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Nafi mengatakan, bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Ibnu Umar -rodhiallohu anhuma- tentang suatu masalah, maka Ibnu Umar pun mengangguk anggukkan kepalanya dan tidak langsung menjawab.

Sampai orang-orang mengira bahwa beliau tidak mendengar pertanyaan orang itu, maka orang itupun mengatakan kepada beliau: “Semoga Allah merahmatimu, tidakkah engkau mendengar pertanyaanku?”.

Beliau menjawab: “Ya (aku telah mendengarnya), tapi kalian saja yang seakan menganggap bahwa Allah tidak akan meminta pertanggung-jawaban kepada kami dari apa yang kalian tanyakan.

Biarkanlah kami memahami (dengan mendalam) apa yang kau tanyakan -semoga Allah merahmatimu-.

Jika kami punya jawabannya (akan kami jawab), tapi jika kami tidak memiliki jawaban; kami akan beritahukan kapadamu bahwa kami tidak memiliki ilmu tentangnya”.

[Kitab: Ath-Thobaqot, karya: Ibnu Saad, 5202].

Kiat Mengenali “Musang Berbulu Domba”!…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Satu kepastian yang telah menjadi sunnatullah, bahwa di dunia ini segala urusan diciptakan berpasang pasangan. Ada baik, ada buruk, ada atas ada bawah, ada benar dan ada salah, ada pandai ada bodoh demikian seterusnya.

Sepatutnya anda menyadari bahwa “siapapun diri anda, pasti ada saja yang suka dan ada pula yang membenci”.

Bila anda adalah orang baik paling baik, maka sadarilah bahwa orang paling baik pastilah dibenci oleh orang buruk hingga orang paling buruk.

Namun demikian, janganlah anda berkecil hati, karena seluruh orang baik pastilah mencintai anda.

Sebaliknya, andai anda adalah orang buruk paling buruk, maka pasti saja anda memiliki kawan, bukan hanya satu atau dua, namun buaaanyak sekali, yaitu orang buruk hingga paling buruk semisal anda.

Namun, pada saat yang sama sadarilah bahwa orang baik hingga orang paling baik pasti pula membenci anda.

Karena itu, sekedar merasa bahwa diri anda baik atau benar belumlah cukup, namun lihatlah siapakah kawan dan lawan anda.

Bila terbukti, bahwa orang yang senang dengan anda adalah orang orang yang bejat, para pengumbar hawa nafsu, malas ibadah, bodoh, nan hina, maka itu indikasi anda serupa dengan mereka.

Sebaliknya bila orang orang yang membenci anda adalah orang – orang baik, mereka rajin beribadah, berilmu dan berakhlaq mulia, maka ini bukti nyata bahwa anda bukanlah dari golongan mereka.

Pendek kata! Silahkan anda menyembunyikan jati diri anda, dengan cara apapun, namun ketahuilah bahwa sahabat-sahabat anda adalah cermin dari diri anda. Setiap insan akan dengan mudah mengenali diri anda dari teman teman yang ada disekitar anda. Dalam pepatah arab berdinyatakan:

عنِ المرْءِ لا تَسألْ وسَلْ عن قَرينه،
فكُلُّ قَرينٍ بالمُقَارِنِ يَقْتَدي

“Janganlah engkau bertanya tentang diri seseorang, namun tanyalah tentang kawan karibnya. Karena setiap manusia pastilah meniru perilaku kawan karibnya.”

Domba tidak akan pernah bersahabat dengan serigala, sebagaimana srigalapun juga tidak akan kuasa menahan rasa laparnya agar dapat bersahabat dengan domba.

 

Kasihan Orang Yang Riya’…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Kasihan orang yang riya’ :
– ia meninggalkan pujian Allah lantas berharap pujian manusia
– ia meninggalkan Allah Yang Maha Kuasa dan memilih manusia yang penuh kekurangan dan kehinaan
– ia mengagungkan makhluk yang hina dan tidak mengagungkan Allah Yang Maha Agung
– ia memilih ganjaran dunia dan meninggalkan ganjaran akhirat
– ia mengagungkan dunia dan tidak mengagungkan akhirat
– ia tidak mengagungkan hari qiamat dimana seluruh rahasia dan isi hati akan dibongkar oleh Allah
– di akhirat ia disuruh mencari pahala dari orang-orang yang ia harapkan pujian dan penghormatan mereka tatkala di dunia
– di akhirat ia yang pertama kali disiksa di neraka
– di dunia ia selalu gelisah menanti pujian manusia dan komentar indah dari manusia. Lebih gelisah lagi jika ternyata riya’ nya tidak membuat orang memujinya dan menghormatinya
– di dunia ia capek berkreasi demi memamerkan amal ibadanya, capek dalam berkreasi menulis status dan capek berkreasi dalam ber-selfie- untuk meng-share pose ibadahnya. Apalagi yang nge-like- hanya sedikit.

 

Tips Melawan Riya’…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Orang yang terbiasa banyak ibadah biasanya lebih mudah menata hati untuk ikhlas meskipun dihadapan banyak orang. Yang jarang beribadah lebih rawan terkena riya tatkala beribadah dihadapan banyak orang.

Maka lawanlah riya dengan membiasakan diri banyak beribadah, karena dengan kebiasaan banyak beribadah akan muncul sikap cuek terhadap komentar orang lain.
Contoh : yang jarang berzikir atau baca quran di hadapan orang pada awalnya kawatir riya.

Tapi kalau sudah terbiasa dan berusaha melawan riya dan sering melakukannya maka timbul sikap cuek terhadap komentar orang tatkala sedang beribadah