All posts by BBG Al Ilmu

Keutamaan Silaturahim…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Bismillahirrahmanirrahim,
Washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah,

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala, kita memasuki bagian ke 3 dari pembahasan keutamaan silaturahim.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu berkata: Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).”
(HR. Bukhari)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotifasi kita untuk menyambung silaturahim.

Ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjaran di akhirat tetapi juga duniawi, contohnya adalah menyambung silarurahim.

Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturhim dalam hadits ini yaitu dilapangkan rizikinya dan dipanjangkan umurnya.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.”

Ini adalah motifasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.

Oleh karenanya pendapat yang rajih di antara pendapat para ulama, bahwasanya barang siapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’ kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka maka hal itu tidak mengapa.

Karena Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barang siapa yang mau,” yang artinya: barang siapa yang berminat dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya,maka hendaknya menyambung silaturahim.

Ikwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala,

Makna dari dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur secara umum ada 2 pendapat di kalangan para ulama.

Pendapat pertama:

Menyatakan makna majasi, kiasan, karena rizki sudah tercatat dan juga umur tidak mungkin di ubah-ubah lagi.

Oleh karenanya maksud dilapangkan rizki adalah rizkinya diberkahi Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Meskipun rizkinya tidak berubah namun Allāh kasih keberkahan dengan banyaknya manfaat, membawa faidah, digunakan untuk beramal sholih, untuk hal-hal yang di cintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Demkian juga dengan maksud dari dipanjangakan umur, artinya umurnya tidak berubah, sessuai dengan yang ditakdirkan.

Akan tetapi Allāh berkahi umurnya, sehingga umurnya bisa dia gunakan untuk banyak kebaikkan, banyak beribadah atau dihindarkan dari sakit yang menggangu keberkahan umurnya sehingga waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang.

Karena pernah kita dapati seorang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya atau sebagian umurnya hilang sia-sia.

Pendapat yang kedua:

Dibawakan  kepada makna yang hakiki, yaitu benar-benar dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rizkinya.

Kita tahu bahwasanya Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa merubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh Subhanahu wa Ta’ala:

يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ

“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS: Ar-Ra’d Ayat: 39)

Jadi, malaikat mungkin diperintahkan oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala untuk mencatat umur hamba, misalnya umurnya 60 tahun, kemudian karena hamba ini bersilaturahim maka Allāh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh mencatat umurnya menjadi 70 tahun, yang perubaham ini, yaitu  dari 60 menjadi 70, semua sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.

Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah,

Seakan -akan tertulis di Lauhul Mahfuzh dicatat oleh malaikat awalnya 60 th kemudian karena dia beramal sholih maka Allāh perintahkan menjadi 70 th.

Demikian juag dengan rizki, yang tadinya dicatat tertentu oleh malaikat dan karena dia bersilaturahim maka ditambah rizkinya oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala, dan semuanya telah tercatat  Lauhul Mahfuzh.

Dan Wallahu A’lam bi Showab, saya lebih condong dengan pendapat yang kedua.

Karena kenyataan yang ada silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki.

Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemnudian rizkinya ditambah-tamba oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala, berapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit.

Mungkin harusnya dia celaka tapi dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala sehingga bertambah umurnya.

Semoga Allāh  Subhanahu wa Ta’ala memberkahi harta kita dan umur kita dan semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahmi.

Courtesy: BIAS

Riya’

Ustadz Abdullah Roy, حفظه الله تعالى

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Riya’ adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allāh, akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji.

Riya’ hukumnya HARAM dan dia termasuk syirik kecil yang samar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

Riya’ adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun besar amalan tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﺍﻟﺸُّﺮَﻛَﺎﺀِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﺃَﺷْﺮَﻙَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﻭَﺷِﺮْﻛَﻪُ

“Allāh berkata: ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya’.” (HR. Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni oleh Allāh, artinya dia harus diadzab supaya bersih dari dosa riya’ tersebut.

Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allāh, yang kalau Allāh menghendaki maka akan diampuni langsung dan kalau Allāh menghendaki maka akan diadzab.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ لا ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ

“Sesungguhya Allāh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki.” (QS. An Nisā: 48)

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka?

Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal shaleh.

Mereka adalah orang yang:
① Mengajarkan Al Quran supaya dikatakan sebagai seorang qāri, seorang yang suka membaca, seorang yang mahir membaca.

② Dan juga orang yang berinfak supaya dikatakan dermawan.

③ Dan berjihad supaya dikatakan seorang pemberani.

Beramal bukan karena Allāh.

Sebagaimana hal ini dikabarkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadits shahih.

Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlash-lah di dalam beramal dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga.

Para salaf kita, merekapun merasakan beratnya memperbaiki hati mereka.

Dan hanya kepada Allāh kita meminta keikhlashan di dalam beramal, menjauhkan kita dari riya’, sum’ah, ujub dan berbagai penyakit hati.

Dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada mashlahat yang lebih kuat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh yang ke-20 ini. Dan sampai bertemu kembali pada halaqoh yang selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Courtesy : BIAS

Manusia Tuntunan & Tontonan…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Dalam kehidupan; setiap insan pastilah butuh kepada tuntunan; agar setiap derap langkah kehidupannya selalu berada di atas kebenaran.

Sungguhlah nista dan sengsara hidup orang orang yang lepas dari tuntunan. Bagi mereka kotoran bisa saja mereka jadikan perhiasan; dan kebenaran mereka anggap sebagai kesalahan; sehingga mereka memeranginya dengan segala cara.

Sebaliknya kesalahan akan terus mereka perjuangkan dengan segala cara. Semua itu akibat dari hilangnya tuntunan dari kehidupan.

Karena itu; orang yang berakal sehat pastilah mencari tuntunan dan mengikuti tuntunan karena dengan tuntunan mereka akan terpuji; selamat dari kenistaan dan hidup mulia. Bukan hanya mulia; bahkan pada saatnya nanti setiap sikap dan ucapan mereka dapat dijadikan sebagai tuntunan bagi orang lain yang sedang kehilangan tuntunan. Allah Ta’ala berfirman:

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Maka bertanyalah kepada ahluz zikri ( ulama) bila engkau tidak mengetahui. (( al anbiya’ 7))

Adapun orang orang yang telah kehilangan tuntunan apalagi sengaja mencampakkannya; maka setiap ucapan dan tingkahnya akan menjadi tontonan alias cibiran bagi orang lain.

Sungguhlah nista dan sengsara mereka yang telah terlepas dari tuntunan. Bagi mereka kotoran bisa saja mereka jadikan sebagai perhiasan; dan kebenaran mereka anggap sebagai kesalahan; sehingga mereka memeranginya dengan segala cara.

Sebaliknya kesalahan akan terus mereka perjuangkan dengan segala cara. Semua itu akibat dari hilangnya tuntunan dari kehidupan. Bagi mereka hanya ada satu harapan dan keinginan yaitu nafsu dan nafsu; sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firmannya:

فمثله كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث

Perumpamaan mereka bagaikan anjing yang bila engkau mengusirnya maka anjing itu menjulurkan lidahnya dan kalaupun engkau membiarkannya maka anjing itu juga tetap menjulurkan lidahnya. (( al aaraf 176))

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa anjing selalu menjulurkan lidahnya; karena adanya nafsu makan yang sangat besar. Demikian pula orang yang telah kehilangan tuntunan; hanya ada satu keinginan baginya yaitu memuaskan nafsunya dengan segala cara.

Orang orang seperti ini tidaklah pantas menjadi tuntunan namun sebaliknya biasanya masyarakat menjadikannya sebagai tontonan alias cibiran. Na’uzubillah min zaalika.

Takbiratul Ihram Dan Kesalahan Yang Sering Dilakukan..

Kajian.

Lihat video : http://carasholat.com/tata-cara-takbiratul-ihram-dalam-shalat-video/

1. Takbiratul Ihram merupakan rukun shalat. Harus dilakukan baik menjadi imam, makmum, maupun shalat sendirian.

Nabi bersabda: “Kunci shalat adalah bersuci, memulainya dengan takbir, dan mengakhirinya dengan salam.” (HR. Abu Daud dan disahihkan Al Albani)

2. Yang dimaksud takbiratul ihram adalah ucapan: Allaahu akbar…, bukan mengangkat tangan ketika takbir.

3. Mengangkat tangan hanyalah gerakan yang disunnahkan untuk dilakukan ketika mengucapkan takbiratul ihram.

4. Keadaan tangan ketika takbir:

  • Telapak tangan dibentangkan secara sempurna dan tidak menggenggam.
  • Jari-jari telapak tangan tidak terlalu lebar dan tidak terlalu rapat.
  • Telapak tangan dihadapkan ke kiblat dan diangkat setinggi pundak atau telinga

5. Cara mengangkat tangan ketika takbir ada 3:

  • Mengangkat tangan lalu bersedekap sebelum takbir (HR. Bukhari dan Nasa’i)
  • Mengangkat tangan lalu sedekap bersamaan dengan takbir (HR. Bukhari)
  • Mengangkat tangan lalu bersedekap sesudah takbir (HR. Bukhari dan Abu Daud)

6. Takbiratul ihram harus dilakukan dalam keadaan posisi tubuh tegak sempurna dan tidak boleh sambil condong mau rukuk. Karena syarat sah-nya takbiratul ihram adalah dilakukan sambil berdiri bagi yang mampu.

7. Takbiratul ihram hanya dilakukan sekali dan tidak perlu diulang-ulang.

8. Takbiratul ihram tidak disyaratkan harus dibarengkan dengan niat shalat. Menggabungkan dua hal ini adalah mustahil. Karena anggapan inilah, banyak orang yang ditimpa penyakit was-was ketika takbir, sehingga takbirnya dilakukan berulang-ulang.

9. Orang yang shalat sendirian atau makmum, takbirnya dibaca pelan. Hanya terdengar dirinya sendiri.

10. Jika ada kebutuhan, misalnya suara imam terlalu pelan, sehingga dikhawatirkan tidak terdengar makmum yang di belakang maka dibolehkan bagi sebagian makmum untuk mengulang suara imam dengan keras. Namun, jika tidak ada kebutuhan maka tidak boleh. Misalnya suara imam sudah ada pengeras suara (mikrofon). Hal ini berlaku untuk semua shalat.

11. Cara membaca takbir: Allaahu akbar. Yang dipanjangkan hanya lafal: Allaa..h. sedangkanAkbar dibaca pendek.

Kesalahan ketika Takbiratul Ihram

1. Telapak tangan tidak dibuka sempurna, tetapi agak menggenggam.

2. Telapak tangan tidak dihadapkan ke kiblat.

3. Mengangkat tangan tidak setinggi bahu atau telinga.

4. Was-was ketika takbir, sehingga dilakukan secara berulang-ulang.

5. Takbir sambil tergesa-gesa untuk melakukan rukuk. Hal ini biasa dilakukan untuk makmum masbuq yang menjumpai imam sedang rukuk. Agar mendapatkan satu rakaat bersama imam. Namun kesalahan ini menyebabkan batalnya takbir yang dia lakukan. Karena syarat sahnya takbir adalah dilakukan sambil berdiri. Dan jika takbiratul ihram batal maka shalatnya juga batal. Mula Ali Qari mengatakan, “Adapun orang yang bertakbir sambil menunduk sebagimana yang dilakukan orang-orang awam karena terburu-buru maka shalatnya tidak sah. Karena berdiri adalah syarat sahnya takbiratul ihram bagi yang mampu.”

6. Kesalahan dalam membaca takbir:

  • Aaallaa..hu (AaaL..dibaca panjang). Lafal ini artinya: Apakah Allah Maha-Besar?
  • Aaa..k-bar (Aaa..k..dibaca panjang). Lafal ini artinya: Apakah Allah Maha-Besar?
  • Akbaa…r (baa..r..dibaca panjang). Akbaa..r artinya beduk. Sehingga kalimat Allaahu Akbaa..r artinya Allah adalah beduk. Maha Suci Allah…

Kesalahan-kesalahan dalam membaca lafal takbir menyebabkan kesalahan arti. Semua arti yang salah di atas merupakan kalimat kekufuran. Orang mengatakan: “Apakah Allah Maha Besar??” Berarti telah meragukan sifat Maha Besar Allah.

7. Makmum bertakbir dengan suara keras sehingga mengganggu orang lain ketika shalat jamaah. Yang boleh bertakbir dengan keras hanyalah imam.

8. Ada sebagian makmum yang mengulang suaranya imam padahal suara imam sudah keras dan terdengar ke semua jamaah. Biasanya ini dilakukan ketika shalat id, karena meniru yang ada di masjidil haram. Padahal ini adalah satu hal yang tidak perlu dilakukan. Karena riwayat yang menyebutkan Abu Bakr mengeraskan suara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat jamaah terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sehingga suara beliau pelan.

9. Tidak menggerakkan lidah ketika membaca takbir, atau bertakbir namun di hati. Sebagian ulama menganggap orang yang bertakbir di batin (hati) dan tidak diucapkan bisa membatalkan shalat. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam Syafi’i. Karena shalat adalah ibadah zikir dan gerakan. Bertakbir merupakan bagian dari zikir ketika shalat. Bertakbir baru bisa dianggap sah jika diucapkan.

Hati Yang Sejuk…

Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang baik hatinya, Semoga hati kita sekalian selalu disinari kesejukan, keselamatan dan kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku”. Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.”

Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”? Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)”.
(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)