Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-53) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 54 🌼
Alhamdulillah… ini adalah pembahasan terakhir dari “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, in-syaa Allah Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى akan melanjutkan dengan pembahasan kitab baru.
🌼 Kaidah yang ke 54 🌼
⚉ Ahlussunnah meyakini apa yang ditunjukan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala [QS Hud : 116]
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.“
“Kalaulah Rabb-mu berkehendak, Allah akan jadikan mereka satu ummat (atau satupadu), namun mereka senantiasa berselisih kecuali yang dirahmati oleh Rabb-mu.”
👉🏼 Dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwasanya persatuan itu adalah rahmat sedangkan perpecahan itu adalah azab, dan Allah memerintahkan kita untuk bersatu-padu di atas kebenaran.
“Diantara manusia yang kami ciptakan ada suatu ummat yang memberikan hidayah dengan kebenaran dan dengan kebenaran itu mereka bersikap adil.“
Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam mengabarkan bahwa ummat Islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu. Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan siapa mereka, yaitu “…orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku di hari ini…” Artinya, siapa yang seperti aku (Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam) dan para sahabatku di hari ini maka dialah yang selamat.
👉🏼 Berarti keselamatan itu adalah dengan cara mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata, “…apabila kebahagiaan dunia dan akhirat dengan cara mengikuti para Rasul berarti orang yang paling berhak terhadap para Rasul adalah yang paling tahu tentang atsar-atsar jejak-jejak para Rasul dan yang paling mengikuti mereka, maka orang-orang yang berilmu yang senantiasa mengikuti jejak kaki para Rasul, merekalah orang-orang yang diberikan oleh Allah kebahagiaan di setiap zaman dan tempat merekalah “Thoifah Najiyah” (kelompok yang selamat), merekalah Ahlussunnah wal Hadits dari ummat Islam ini…“
Ibnu Taimiyyah rohimahullah juga berkata (dalam Majmu Fatawa di jilid 4 halaman 26), “…Ahli Hadits dan Ahlussunnah adalah orang yang paling tahu tentang sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan keadaan-keadaannya, mereka paling bisa membedakan shohih dan dho’if. Imam-imam mereka adalah orang-orang yang faqih, yang betul-betul memahami Alqur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, dan betul-betul mengikutinya. Dengan pembenaran, dengan amalan, dengan kecintaan, loyalitas dan permusuhan semuanya karena iman diatasnya. Yang mereka membantah pendapat-pendapat yang bathil dan mengembalikan dalil-dalil yang bersifat global kepada Alqur’an dan hikmah, sehingga mereka tidak pernah menegakkan suatu ucapan siapapun sebagai pokok-pokok agama mereka APABILA ternyata tidak sesuai dengan atau tidak “tsabit” dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam…“
“…Bahkan mereka hanya menjadikan apa yang di bawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berupa Alqur’an dan Hadits sebagai pokok yang menjadi sandaran mereka…” (Majmu Fatawa jilid 4 halaman 347)
Beliau juga berkata, “…oleh karena itulah orang-orang mu’tazilah, murji’ah dan yang lainnya dari kalangan ahli bid’ah menafsirkan Alqur’an dengan ro’yu, ro’yu dengan akal mereka sendiri. Oleh karena itu kamu dapati mereka tidak menjadikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, atsar sahabat dan tabi’in sebagai pegangan mereka. Mereka tidak bersandar kepada sunnah, tidak pula kepada ijma’ salafush-sholeh dan atsar mereka, akan tetapi sandaran mereka adalah akal, dan bahasa arab yang mereka takwil-takwil. Sandaran mereka juga adalah hawa nafsu sehingga pada waktu itu mereka menjadi orang-orang yang tersesat jalannya…“
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
ابن حجر في الدرر الكامنة (6/24 ط.دائرة المعارف) مترجما لابن سند بعد أن ذكر ذكاءه وعلومه : (في أواخر عمره: تغير ذهنه ونسي غالب محفوظاته؛ حتى القرآن ؛ ويقال: إن ذلك كان عقوبة له لكثرة وقيعته في الناس). !!
Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab Adduror AlKaminah 6/24 (cet. Dairotulmaarif) menyebutkan beografi ibnu sanad dan menceritakan (hebatnya) kecerdasan dan keilmuannya. Lalu beliau berkata: “Di akhir hayatnya ia lupa moyoritas hafalannya bahkan alqur’anpun ia lupa. Dikatakan bahwa itu akibat ia seringkali mencaci manusia.”
👉🏼 Orang yang merusak sesuatu wajib menggantinya kecuali dalam 3 keadaan: 1. Karena menghindari bahaya yang akan menimpanya. 2. Diizinkan oleh pemillik barang. 3. Diizinkan oleh syariat.
⚉ Adapun yang PERTAMA, contohnya adalah apabila ada perampok hendak mengambil harta kita atau membunuh, dan tidak mungkin menghindar darinya kecuali dengan membunuhnya. Maka diizinkan membunuhnya karena terpaksa dan tidak ada ganti rugi.
Apabila sedang berihram, bulu mata kita menyakiti mata dan harus dicabut. Maka boleh mencabutnya dan tidak terkena dam.
Tapi bila ia mencukur rambutnya bukan karena rambutnya yang menyakiti, tapi karena banyaknya kutu. Maka ia wajib membayar dam. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam.
⚉ Adapun yang KE-DUA, maka memecahkan barang milik orang lain dengan seizin pemiliknya tidak mewajibkan apapun juga dan tidak berdosa.
⚉ Adapun yang KE-TIGA, Contohnya kata syaikh Al Utsaimin rohimahullah, bila kita menghancurkan alat maksiat milik orang lain, tidak wajib membayar ganti rugi, karena hal tersebut diizinkan oleh syariat.
قال ابن القيم: “لا تصح لك درجة التواضع حتى تقبل الحق ممن تحب وممن تبغض
فَتَقْبَلُهُ مِنْ عَدُوِّكَ كَمَا تَقْبَلُهُ مِنْ وَلِيِّكَ
بل حقيقة التواضع:
أنه إذا جاءك قبلته منه وإذا كان له عليك حق أديته إليه
فلا تمنعك عداوته من قبول حقه ولا من إيتائه إياه”
مدارج 2/ 321
Ibnu Qayyim berkata:
“Tidak sah derajat tawadlu’mu sampai kamu menerima dari orang yang kamu cintai dan orang yang kamu benci. Kamu menerima kebenaran yang datang dari musuhmu sebagaimana kamu menerimanya dari teman setiamu. Bahkan hakikat tawadlu adalah: Apabila musuhmu datang kepadamu (membawa kebenaran) kamu menerimanya dan jika ia memiliki hak yang wajib kamu laksanakan, maka kamupun tetap melaksanakannya. Sehingga permusuhanmu dengannya tidak mencegahmu untuk menerima kebenaran darinya dan tidak juga untuk melaksanakan haknya.”
FAEDAH DO’A :
. 1. Meminta perlindungan dari sifat al jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah
. 2. Meminta perlindungan dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan.
. 3. Meminta perlindungan dari fitnah dunia. Seluruh kelezatan di dunia dan pemandangan nan indah, Allâh Azza wa Jalla jadikan sebagai cobaan dan ujian dari-Nya. Allâh Azza wa Jalla juga memberikan kemampuan kepada para hamba-Nya untuk mengelola isi dunia, lalu Allâh melihat bagaimana mereka berbuat! Barangsiapa mengambilnya dari yang halal, meletakkannya sesuai dengan haknya, memanfaatkannya agar ia bisa beribadah kepada Allâh, maka itu semua menjadi bekal baginya untuk pergi ke tempat yang lebih mulia dan kekal.
. Dengan demikian, sempurnalah baginya kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan tetapi sebaliknya, barangsiapa menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya dan tujuan ilmu serta keinginannya, maka ia akan mendapat dunia sesuai dengan yang telah ditetapkan baginya oleh Allâh Azza wa Jalla. Lalu akhirnya, hidupnya sengsara, dia tidak merasakan kelezatan dan syahwatnya kecuali hanya sebentar saja. Kelezatannya sedikit, tetapi kesedihannya berkepanjangan.
. 4. Meminta perlindungan dari azab kubur. Azab kubur merupakan kehidupan akhirat yang pertama kali. Azab kubur adalah penentuan bagi seorang hamba. Jika ia selamat di dalam kuburnya, maka ia akan lebih selamat lagi di hari akhirat kelak. Dan sebaliknya, apabila ia tidak selamat didalam kuburnya, lebih-lebih dia tidak akan selamat di dalam kehidupan akhirat kelak.
. Wallahu a’lam
. Beberapa Do’a Sebelum Salam Lainnya :