All posts by BBG Al Ilmu

Surgapun Berdo’a

Ustadz Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Dari Anas bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu-, ia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda :

من سأل الجنة ثلاث مرّات قالت الجنة : اللّهمّ أدخله الجنة, و من استجار من النار ثلاث مرّات قالت النار : اللّهمّ أجره من النار

“Barangsiapa yang meminta Surga sebanyak tiga kali maka Surga berkata, ‘Ya اللّـﮧ masukkan hamba-Mu itu ke dalam Surga’. Dan barangsiapa yang memohon perlindungan kepada اللّـﮧ dari api Neraka maka Neraka berkata, ‘Ya اللّـﮧ, lindungilah hamba-Mu itu dari api Neraka’.”

[Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah rohimahulloh no. 4340, dishohihkan oleh Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohih sunan Ibni Majah no. 4331]

الّلهمّ إنّي أسألك الجنّة و أعوذ بك من النّار

Alloohumma innii as-alukal jannata wa a’uudzu bika minan-naar(i)

Ya اللّـﮧ sesungguhnya aku memohon Surga kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari api Neraka.

Semoga اللّـﮧ memilih saya dan pembaca bbm ini sebagai penghuni Surga-Nya kelak.

آميــــــــــــــــــــن يَا رَبَّ العَالَمِينْ

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad

View

Jangan Lupakan Persiapan Masuk Liang Kubur..!

Ustadz Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku seislam yang saya muliakan..sesibuk apapun kita jangan pernah melupakan persiapan untuk masuk liang kubur..cepat atau lambat kematian akan menyapa kita..hanya amal sholeh saja yang mau menemani kita di dalamnya sementara harta yang kita kumpulkan dan keluarga yang kita cintai dan mencintai kita, semuanya akan kembali ke rumahnya.

Dari Anas bin Malik ~rodhiyallohu ‘anhu~, dia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda :

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit itu tiga perkara; Dua kembali dan satu yang tinggal. Mayit diikuti keluarga, harta dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya kembali pulang dan yang tinggal adalah amalnya.”

HSR. Bukhori no. 6514 dan Muslim no. 7613

Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda :

أي إخواني! لمثل اليوم فأعدّوا

‘Wahai saudara-saudaraku! Untuk hari seperti ini maka persiapkanlah bekal kalian.'”

[ HR Al-Bukhori dalam kitab at-Taarikh, Ahmad dan Ibnu Majah ~rohimahumulloh~, dihasankan oleh Syaikh al-Albani ~rohimahulloh~ dalam Ash-Shohihah no. 1751]

Semoga اللّـﮧ menyelamatkan penulis dan pembacanya dari akhir umur yang jelek..dan semoga kita termasuk hamba2-Nya yang selamat dunia dan akhirat.

آميــــــــــــــــــــن يَا رَبَّ العَالَمِينْ

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

View

Tidakkah Anda Khawatir Dengan Harta Anda ?

Al Sofwa
 
Tidakkah anda merasa khawatir, shalat siang dan malam hari anda tidak diterima?

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah tidak menerima sholat seseorang yang di dalam perutnya ada makanan haram (al-Kabair, adz-Dzahabi, hal. 120)
 
Tidakkah anda merasa khawatir, sedekah anda dan zakat anda tidak diterima?

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci terlebih dahulu dan Allah juga tidak menerima sedekah dari harta haram” (HR. Ibnu Majah)
 
Tidakkah juga anda merasa khawatir, haji dan umrah anda tidak diterima ?
Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila seorang berangkat untuk menunaikan ibadah haji dengan harta yang halal, saat dia menginjakkan kakinya ke atas kendaraan, ia menyeru, “Labbaikallahumma labbaik”, maka ada yang menyeru dari langit, “Diterima hajimu dan engkau berbahagia, bekalmu berasal dari harta halal, kendaraanmu dibeli dari harta halal, dan hajimu mabrur dan diterima. Dan apabila ia berangkat dengan harta haram, saat dia menginjakkan kakinya ke atas kendaraan, ia menyeru, “ Labbaikallahumma labbaik”, maka ada yang menyeru dari langit, “ Tidak diterima kedatanganmu, dan engkau tidak mendapatkan kebahagiaan, bekalmu berasal dari harta haram, biaya hajimu dari harta haram dan hajimu tidak mabrur”. (HR. Thabrani)
 
Tidakkah Anda merasa ngeri mendengar kabar yang pernah disampaikan oleh nabi Anda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,
 
  كل جسد نبت من سحت فالنار أولى به
 
“Setiap jasad yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka Neraka lebih berhak menyantapnya (HR. al-Baihaqiy di dalam Syu’abul Iman, Syaikh al-Albani di dalam Shohih al-Jami’, no.4519 berkata : Shohih).
 
View

Nikmat Allah Itu Ada Tiga

Ustadz Jafar Salih, Lc, حفظه الله تعالى

Nikmat Allah itu ada tiga:

– nikmat yang didapati si hamba dan ia menyadarinya

– nikmat yang dinanti dan diharapkan kedatangannya

– dan nikmat yang didapat si hamba tapi ia tidak menyadarinya.

Apabila Allah ingin menambah nikmat-Nya kepada si hamba, Dia perkenalkan pada hamba-Nya nikmat-Nya yang pertama. Kemudian dijadikan si hamba ini mensyukurinya sehingga dengan syukur ini terikatlah nikmat tadi dan tidak pergi. Karena nikmat itu pergi dengan sebab kemaksiatan dan bertahan dengan sebab mensyukurinya.

Kemudian Allah membimbingnya untuk mengerjakan amalan yang mengundang datangnya nikmat yang kedua, yaitu nikmat yang ia nantikan kedatangannya. Dan Allah tunjuki padanya jalan-jalan yang menghalangi datangnya nikmat ini sehingga ia pun menjauhinya. Sehingga datanglah nikmat kedua ini kepadanya dengan sempurna. Kemudian Allah memperkenalkan kepadanya nikmat-nikmat yang sebelumnya tidak disadari olehnya.

Ibnul Qayyim dalam Al Fawaaid

View

Laa Adri !! (Saya Tidak tahu)

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Sebuah perkataan yang semestinya tidak ragu-ragu untuk diucapkan seorang muslim tatkala ditanya tentang permasalahan agama yang ia tidak mengetahui atau ragu akan jawabannya. Tidak perlu ia mutar kanan..mutar kiri hanya karena malu untuk mengucapkannya.

Sungguh seorang ulama besar sekelas Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad betapa sering saya mendengarnya mengucapkan Laa Adri. Padahal beliau mengucapkannya dihadapan banyak orang..di mesjid Nabawi…padahal pertanyaan yang beliau tidak tahu tersebut seandainya ditanyakan kepada sebagian kita maka dengan segera akan menjawabnya tanpa ragu dan penuh PeDe. Akan tetapi beliau tidak mau menjawab kecuali di atas ilmu dan keyakinan, jika beliau ragu maka beliau tidak malu dan tidak segan untuk mengatakan Laa Adri.

Belasan tahun yang lalu saya pernah bertanya kepada seorang ustadz :”Mana yang lebih dahulu Imam Malik ataukah Imam Abu Hanifah?”

Maka sang ustadz berkata : “Lebih dahulu apanya, lahirnya atau wafatnya?”

Saya berkata : “Terserah ustadz deh, mau lahirnya atau wafatnya.”

Sang ustadz berkata : “Kalau lahirnya saya tidak tahu, adapun wafatnya…hm hm, saya juga tidak tahu.” Hatiku berkata, “Kenapa tidak dari awal bilang saja tidak tahu, jadi tidak perlu ngalor ngidul dan memerinci tanpa faedah.”

Saya jadi teringat dengan sebuah lelucon :

Paijo bercerita :” Saya punya tiga ekor sapi, warta putih, hitam, dan coklat. Yang putih dan hitam saya keluarkan untuk digembalakan pada jam 8 pagi. Adapun yang coklat…juga saya keluarkan untuk digembalakan pada jam 8 pagi. Pada jam 5 sore, yang putih dan hitam saya masukan dalam satu kandang, adapun yang coklat…maka saya masukan juga kedalam kandang yang sama dengan yang putih dan hitam. Yang putih dan hitam saya perah susunya pada jam 10, adapun yang coklat juga saya perah susunya pada jam 10.”

Paimen komentar : “Wahai Paijo, kenapa kamu perinci dan kamu bedakan antara sapi putih dan hitam dengan sapi coklat? wong semuanya sampean perlakukan sama saja !!.”

Paijo menimpali : “Saya perinci karena sapi putih dan hitam adalah sapi milik saya.”

Paimen bertanya: “Emang yang coklat milik siapa?”

Paijo menjawab: “Adapun sapi yang coklat…juga sapi milik saya !!!”

Sebagian orang terpancing untuk mudah menjawab pertanyaan yang diajukan karena kasihan melihat kondisi orang yang bertanya…akan tetapi hendaknya ia ingat dan kasihan dengan kondisinya kelak pada hari kiamat jika ia dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas fatwanya yang ngawur dan tanpa ilmu.

Dan ingatlah pula bahwasanya jika ia salah berfatwa maka dosa pelakunya akan ditanggung olehnya !!!

View

Meninggalkan Dosa

Ustadz Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Seorang yang paham, tidak menyuruh manusia meninggalkan dunia. Karena mereka tidak akan mampu meninggalkannya.

Tapi orang yang paham akan menyuruh manusia meninggalkan dosa. Karena meninggalkan dunia adalah keutamaan, sedangkan meninggalkan dosa adalah kewajiban. Maka bagaimana bisa seseorang diajak kepada keutamaan, sedangkan dia masih sulit menunaikan kewajiban?!

Apabila sulit bagi mereka meninggalkan dosa, cobalah dengan menjadikan mereka cinta kepada Allah. Yaitu dengan mengingatkan mereka akan karunia-karunia Nya, nikmat-nikmat Nya, kebaikan-kebaikan Nya dan sifat-sifat Nya yang sempurna dan agung. Karena hati-hati manusia tercipta untuk mencintai-Nya. Sehingga kapan hati telah terikat dengan Allah, mudah baginya meninggalkan dosa-dosa.

Yahya bin Muadz pernah berkata: Orang yang berakal yang mencari dunia lebih baik daripada orang jahil yang meninggalkannya.
(Ibnul Qayyim dalam Al Fawaaid)

Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Munafik, Memang Munafik!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Sekedar mendengar kata munafik saja terasa menyebalkan, apalagi bertemu dan berinteraksi dengan orangnya, iiih benci banget deh. Kata orang jawa: amet-amet jabang bayi. Maksudnya, semoga anak keturunan kita tidak berjumpa dan juga tidak menjadi orang munafik. Amiin.

Namun demikian, tahukah anda siapakah orang munafik itu? Adakah daftar nama, alamat dan profesinya? Tentu tidak ada, karena munafik itu adalah sikap dan perilaku, bukan nama atau identitas.

Karena itu, bila anda ingin mengetahui siapa itu munafik, maka kenalilah ciri-cirinya, niscaya anda dapat mengenali siapakah orang munafik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ”

“Ada empat hal, yang bila keempatnya ada pada diri seseorang, maka berarti ia adalah seorang munafik tulen. Dan bila pada diri seseorang terdapat salah satu dari keempat hal itu, maka itu pertanda dirinya terjangkiti kemunafikan hingga ia meninggalkannya:
1. Bila diberi kepercayaan (amanat), ia berkhianat.
2. Bila berbicara, ia berdusta
3. Bila berjanji, ia ingkar janji.
4. Bila ia bersilang pendapat, maka ia bersikap keji.” (Muttafaqun Alaih)

Ali Al Qary dalam kitabnya Mirqatul Mafatih, menjelaskan bahwa maksud dari bersikap keji ketika bersilang pendapat ialah dengan sikap gegabah menuduh orang yang menyelisihi pendapatnya dan ditambah lagi ia juga hobi untuk berkata-kata yang menyelisihi fakta.

Sobat! Marilah kita semua belajar membiasakan diri dengan sikap dan perilaku orang-orang yang beriman dan berjuang meninggalkan kebiasaan buruk semisal perilaku munafik di atas. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk berakhlak karimah dan beramal sholeh. Amiin.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Berjualan Cinta, Mengakunya Cinta Sejati

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Kasih sayang dan cinta suci antara dua insan yang berbeda jenis, sebaiknya dipadu hingga ke pelaminan. Keduanya bisa menyatukan rasa cinta dan membuktikan manisnya rasa cinta suci. Ketulusan, pengorbanan, kesetiaan, dan kedamaian sungguh terasa dalam pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لم نر – ير – للمتحابين مثل النكاح»

“Tiada ikatan yang paling berguna bagi dua insan yang saling mencintai dibanding pernikahan.” (Ibnu Majah)

Namun demikian, kadang kala, dua insan yang dahulu saling mencintai, terpaksa harus berpisah. Kodrat ilahi menentukan bahwa cinta antara kedua insan tersebut hanya cukup untuk mendorong roda-roda pedati rumah tangga mereka dalam beberapa waktu saja. Karena cinta telah pudar bahkan telah sirna, maka dengan sangat terpaksa pedati rumah tangga merekapun mogok bahkan rusak.

Dalam kondisi semacam ini, sering kali masing-masing pihak berkata: dialah penyebab perceraian ini. Langka dari kedua insan itu yang berkata dengan jujur: “sayalah biang perpisahan ini,” alih-alih mengakui semua, sekedar mengakui bahwa dirinya juga punya andil saja tidak sudi.

Sobat! Ketahuilah bahwa kesetiaan yang sejati ialah kesetian yang anda berikan ketika anda dikhianati atau dizholimi. Adapun setia di saat ia setia, berbuat baik di saat dia berbuat baik maka sejatinya itu hanyalah praktek barter alias memperdagangkan cinta dan kesetian. Cinta sejati ialah cinta yang anda berikan walaupun dia telah membenci, hingga akhirnya iapun tak kuasa untuk terus membenci. Cinta yang sejati anda tersebut dapat merubah kebencian menjadi cinta dan kesetiaan.

Namun demikian, betapa banyak orang yang belum bisa memahami arti kehidupan ini, sehingga mereka bisa tertawa terbahak-bahak, disaat melihat saudaranya terperosok dalam lumpur, walaupun dirinya sedang berada dalam lumpur yang sama. Itulah manusia, maunya tampil suci walaupun dirinya sedang berlumuran lumpur.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak orang yang ingin tampil suci dengan berkata: “mengapa dia tidak mau mengucapkan salam kepada saya setiap kali berjumpa?” Padahal orang tersebut juga berkata: “mengapa dia tidak mengucapkan salam kepada saya setiap kali berjumpa.” Bila demikian, terbayang sudah, mustahil rasanya mereka bisa bersatu dan bersahabat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, akibatnya setiap kali mereka berdua berjumpa, yang ini memalingkan wajahnya dan yang itupun juga memalingkan wajahnya. Orang yang paling baik dari mereka adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam. (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam konteks silaturrahim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»

“Tidak dikatakan menyambung tali slilaturrahim orang yang biasa membalas kunjungan atau pemberian, namun orang yang menyambung tali silaturrahim ialah orang yang berusaha menjaga/ menyambung hubungan silaturrahimnya dengan kerabat yang telah memutuskan hubungan dengannya. (Muttafaqun ‘alaih)

Sobat! Sikap dan pola pikir semacam ini sepatutnya kita pelajari dan kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari, agar hidup kita menjadi tentram dan nyaman.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Do’a Sapu Jagad

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Robbanaa aatinaa fid-dun yaa hasanah, wafil aa-khiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban-naar.”

“Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah 201)

Penjelasan:
Doa ini merupakan doa yang singkat tapi sangat berguna karena mencakup semua aspek kehidupan diantaranya memiliki kandungan, memohon kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan keselamatan dari siksa api neraka. Doa ini baik dibaca dalam setiap kesempatan.

Sebab Turunnya Ayat:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas, katanya, “Suatu golongan dari kalangan Arab biasa datang ke tempat berwukuf lalu berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah tahunku ini tahun hujan dan tahun kesuburan, serta tahun kasih sayang dan kebaikan,’ tanpa menyebut-nyebut soal akhirat walau sedikit pun.” Allah pun menurunkan tentang mereka, “Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Ya Tuhan kami berilah kami (kebaikan) di dunia, tetapi tiadalah bagian di akhirat.” (Q.S. Al-Baqarah 200)

Setelah itu datanglah golongan lain yakni orang-orang beriman yang memohon, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka. Mereka itulah yang beroleh bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.'” (Q.S. Al-Baqarah 201)

Oleh karenanya Allah Ta`ala memberikan pujian kepada para hamba yang memohon kebaikan urusan dunia dan akhirat.

Berkata Imam Ibnu Katsir rohimahullah, “Terkumpul dalam doa ini permohonan segala kebaikan dunia dan perlindungan dari segala keburukan nya, dikarenakan segala kebaikan dunia mencakup seluruh keinginan seperti ; kesehatan, keselamatan, rumah yang indah, pasangan yang cantik, rezeki yang banyak, ilmu yang bermanfaat, amal yang salih, kendaraan yang mewah, dan seterusnya dari aneka nikmat yang termasuk dalam kebaikan dunia.

Adapun kebaikan akhirat maka yang paling diharapkan adalah masuk ke dalam surga serta aneka nikmat di dalam nya, dan terhindar dari rasa takut pada hari kiamat, padang mahsyar, hari perhitungan dan hisab, serta terbebas kan dari siksa neraka.

Berkata Al Qo`sim abu abdurrahman, “Barangsiapa yang telah diberikan hati yang pandai bersyukur, lisan yang berdzikir, tubuh yang mampu bersabar, maka ia telah di berikan di dunia suatu kebaikan, dan di akhirat kebaikan, dan ia akan di hindarkan dari api neraka.”

Di riwayat kan dari Abdul Aziz bin Syuhaib bahwa Qotadah bertanya kepada Anas radhiyallah anhu tentang doa yang paling banyak di baca oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Anas menjawab :

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّا .

“Dan Anas jika hendak berdoa dengan suatu doa maka ia melantunkan doa ini.” (HR Muslim).
« Tafsir Ibnu Katsir 2/262~263 »

View

Ternyata Segelas Air Putih Bisa Lebih Berharga Daripada Dunia Dan Seisinya

Ustadz M Wasitho, حفظه الله تعالى

» Diriwayatkan bahwa Ibnus Samak rahimahullah masuk menemui khalifah Harun Ar-Rasyid memberikan nasehat, sampai khalifah menangis.

Kemudian Ibnus Samak meminta segelas air, dan mengatakan: “Wahai amirul mukminin, seandainya engkau dihalangi dari (meminum) minuman ini (padahal engkau dalam keadaan sangat kehausan), kecuali dengan (membayar) dunia dan seisinya, apakah engkau akan menebus segelas air itu dengannya?”. Khalifah menjawab: “Ya”. Ibnus Samak mengatakan (kepadanya): “Minumlah dengan puas, semoga Allah memberkahi anda”.

Ketika khalifah telah minum, Ibnus Samak berkata lagi kepadanya: “Wahai amirul mukminin, beritahukan kepadaku seandainya engkau dihalangi mengeluarkan minuman ini dari (diri)mu, kecuali dengan (membayar) dunia dan seisinya, apakah engkau akan menebusnya?” Khalifah menjawab: “Ya”. Ibnus Samak mengatakan (kepadanya): “Lalu apakah yang akan engkau lakukan dengan sesuatu (yakni dunia dan seisinya) yang mana seteguk air lebih baik darinya?”.

(*) Dialog antara seorang ulama dengan kholifah ini menunjukkan bahwa kenikmatan Allah yang berupa minum air di saat kehausan yang sangat lebih besar daripada memiliki dunia seisinya. Kemudian adanya kemudahan di dalam mengeluarkannya dengan buang air termasuk kenikmatan yang sangat berharga. Ini juga menunjukkan betapa besarnya nikmat kesehatan. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah, hal. 366, ta’liq dan takhrij: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi).

» BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

View