All posts by BBG Al Ilmu

Masalah 404: Yang Lebih Afdhol Bagi Seorang Wanita Muslimah Antara Ibadah I’tikaf Di Masjid Dan Melayani Suami Di Dalam Rumah

Ustadz M Wasitho, حفظه الله تعالى

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustad, terhadap seorang perempuan yang sudah menikah, manakah yang lebih utama antara melakukan itikaf di masjid dengan melayani suami di rumah ?….
جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Yang lebih utama bagi seorang wanita muslimah yang telah menikah adalah berada di dalam rumahnya untuk melayani suaminya dan menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, karena hal ini hukumnya Wajib atasnya.

Sedangkan melakukan ibadah I’tikaf adalah Sunnah hukumnya. Sehingga dengan demikian, seorang wanita muslimah tidak boleh beri’tikaf kecuali seizin suaminya.

Maka dari itu, janganlah ada diantara kita yang menyibukkan dirinya dengan ibadah-ibadah yang hukumnya sunnah, namun di waktu yang bersamaan ia meninggalkan atau melalaikan ibadah-ibadah yang wajib.

Di dalam hadits Qudsy, Allah Ta’ala berfirman:
(Wa Ma Taqorroba ilayya ‘Abdi Bi Syai-in Ahabba ilayya Mimma Iftarodhtuhu)

Artinya: “Dan Hamba-Ku tidaklah mendekatkan dirinya kepada-Ku dgn sesuatu amalan yang lebih Aku cintai daripada melakukan ibadah-ibadah yang telah Aku Wajibkan kepadanya.”

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 11 Juni 2014).

» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.

View

Angkuhnya Orang Berilmu

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Angkuh/kasarnya orang berilmu & tawadhu’/lembutnya orang jahil/sesat merupakan musibah.

Masyarakat akhirnya menjauhi orang berilmu tersebut dan malah simpati kepada orang yang jahil dan sesat.

Ilmu seharusnya semakin menambah tawadu dan ramahnya seseorang bukan semakin manjadikannya angkuh dan kasar.

Sungguh sedih tatkala melihat seorang awam tertarik dengan dai syi’ah karena lembutnya dan trauma dengan dai ahlus sunnah karena kasarnya

View

Puasa Batin Sebelum Lahir

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat! Sesaat lagi tamu istimewa bagi setiap muslim kan tiba, yaitu bulan Romadhan. Betapa tidak, pada bulan ini, pintu-pintu menuju surga dibuka lebar-lebar, sedangkan pintu-pintu menuju neraka di tutup rapat-rapat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

: «إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين»

“Bila Ramadhan telah tiba, maka seluruh pintu menuju surga dibuka, dan sebaliknya seluruh pintu menuju neraka di tutup, sedangkan setan setan dibelenggu.” (Muslim)

Pada bulan ini setiap orang yang beriman berpuasa dengan menahan lapar, dahaga dan syahwat birahinya. Walaupun ketiga hal itu sebelumnya halal untuk anda nikmati.

Anda meninggalkan ketiga hal halal tersebut dalam rangka mentaati perintah Allah. Namun demikian, betapa sering anda lalai untuk meninggalkan hal-hal haram yang nyata-nyata haram, semisal berdusta, berkhianat, suuzhon, memandang yang tidak halal, riba dan lainnya.

Sobat! Coba anda renungkan, mungkinkah Allah menerima puasa anda dari perbuatan yang sebelumnya halal, yaitu makan, minum dan yang serupa, sedangkan anda tetap menjalankan berbagai perbuatan haram yang tiada pernah dihalalkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه»

“Barang siapa yang tidak kuasa meninggalkan ucapan dusta, perbuatan dusta dan perilaku bodoh, maka Allah tiada butuh/menerima puasanya yang sekedar menahan rasa lapar dan dahaga.” (Bukhari)

Sobat! Sebagaimana sejak sekarang anda telah mulai berpikir dan mempersiapkan diri untuk meninggalkan makan dan minum pada siang hari di bulan ramadhan, sudahkan anda memulai persiapan anda untuk meninggalkan segala perbuatan haram ?

View

Silau! Aneh Namun Nyata

 Ditulis oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Mentari di pagi hari, nampak begitu indah dan menyejukkan, seakan membawa sejuta harapan untuk anda, sehingga andapun senang memandanginya.

Namun tatkala sang mentari telah meninggi, sinarnya begitu terik dan sangat terang, sehingga terasa panas dan andapun tidak kuasa lagi untuk memandangnya. Bahkan kalaupun anda memaksakan diri untuk memandangnya, niscaya mata anda menjadi silau.

Bukan hanya silau di saat memandangnya, sampaipun setelah anda memalingkan pandanganpun, pandangan mata anda masih kabur, sehingga kesusahan untuk melihat. Bukankah demikian sobat? Tidak percaya, buktikan sendiri.

Kejadian di atas membawa pelajaran besar pada kita semua, betapa mentari yang begitu nyata ternyata anda tidak kuasa melihatnya, anda hanya bisa merasakan dampaknya, yaitu panas, dan terang.

Namun betapa bodohnya kita bila telah merasakan terang dan teriknya sinar mentari, kita masih menyibukkan diri untuk mencari bukti tentang keberadaannya.

Kenyataan di atas juga menjadi bukti bahwa anda memiliki banyak kelemahan, sampaipun sekedar untuk menyaksikan sesuatu yang nyata semisal sang mentari anda tidak kuasa melakukannya. Jangan salahkan mentari kenapa susah dilihat di siang hari, namun sadarilah kelemahan diri anda.

Sobat! Mentari mengajari kita untuk jujur, mengakui kelemahan dan keterbatasan kita, maka dari itu, jadilah orang yang pandai mawas diri bukan orang yang hobi menyombongkan diri.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Dilarang Sering Lihat Saldo Rekening !!!

Ustadz Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu kebiasaan yang selayaknya dihindari dengan rekening anda, terlalu sering ngecek saldo rekening tabungan. Terlebih setelah merebaknya fasilitas internet banking dan mobile banking. Padahal dia sendiri tahu, dia belum melakukan transaksi apapun dengan rekeningnya. Dia tidak mengambil uangnya, tidak pula mendapatkan kiriman dari luar.

Tapi itulah manusia, umumnya mereka merasa tenang, merasa tentram, ketika melihat hartanya. Mendapatkan kebahagiaan, ketika menghitung uangnya. Merasa senang, ketika melihat saldo rekeningnya, terlebih ketika datang tanggal muda.

Kita tentu telah menghafal surat al-Humazah. Salah satu surat yang mengingatkan kita agar tidak menjadi orang yang rakus harta. Namun, ada satu keterangan yang penting untuk kita garis bawahi, terkait hobi melihat saldo rekening.

Diantara sifat tercela yang Allah sebutkan dalam surat al-Humazah,

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

Yaitu orang yang mengumpulkan harta dan suka menghitung-hitungnya. (QS. Al-Humazah: 2).

Makna kata [وَعَدَّدَهُ] ’menghitung-hitungnya’ ada dua:

Pertama, makna’addadah [عَدَّدَهُ] adalah ta’did [التعديد], artinya dia menghitung jumlah uang dan harta yang dia miliki di luar kebutuhan.

Kedua, kata’addadah [عَدَّدَهُ] bermakna ja’alahu uddatan [جعله عُدة], artinya dia meyakini bahwa hartanya adalah satu-satunya modal untuk bisa melanjutkan hidupnya.

(Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 4/489).

Kita memiliki kaidah, bahwa jika ada ayat yang memiliki beberapa penjelasan tafsir dari para ulama, dan tidak ada yang bertentangan, maka semua tafsir itu dianggap benar. (Syarh Muqadimah Tafsir, Ibnu Utsaimin, hlm. 20).

Jika kita perhatikan, dua keterangan tafsir di atas, tidak saling bertentangan. Sehingga tafsir ayat ini, mencakup keduanya.

Tafsir Ibnu Utsaimin

Dalam tafsir Juz Amma, Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

وقيل: معنى التعديد يعني الإحصاء يعني لشغفه بالمال كل مرة يذهب إلى الصندوق ويعد، يعد الدراهم في الصندوق في الصباح، وفي آخر النهار يعدها، وهو يعرف أنه لم يأخذ منه شيئاً ولم يضف إليه شيئاً لكن لشدة شغفه بالمال يتردد عليه ويعدده، ولهذا جاءت بصيغة المبالغة {عدده} يعني أكثر تعداده لشدة شغفه ومحبته له يخشى أن يكون نقص، أو يريد أن يطمئن زيادة على ما سبق فهو دائماً يعدد المال

Ada sebagian ulama yang menjelaskan, makna ’addadah’ adalah suka menghitung-hitung, karena saking cintanya dia dengan hartanya. Setiap saat dia buka lemari, lalu menghitung uangnya. Dia hitung uangnya di pagi hari, sore juga dia hitung lagi. Padahal dia tahu pasti, dia sama sekali tidak mengambil uang itu sedikitpun. Juga tidak menambahkan uang ke dalam lemari. Namun karena saking cintanya dengan harta, dia bolak-balik menghitungnya. Karena itulah, ayat ini diungkapkan dengan pola kalimat hiperbola ’addadah artinya terlalu sering menghitung, karena saking cintanya dengan harta. Dia khawatir jangan-jangan berkurang. Atau dia ingin mencari ketenangan batin ketika melihat uangnya bertambah. Sehingga dia terus-menerus menghitungnya. (Tafsir Juz Amma, hlm. 315)

Sebagai seorang mukmin, tentu kita tidak ingin memiliki sifat tercela seperti yang disebutkan dalam surat al-Humazah di atas. Kendalikan jari-jari anda, jangan terlalu sering mengintip saldo rekening tabungan.

Allahu a’lam.

Ref:  http://pengusahamuslim.com/sering-lihat-saldo-rekening-dilarang/#.U5hjO7HLOBU

View

Pengantar Surat Ke Neraka

Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

AKHI UKHTI

Betapa besarnya jasa tukang pos,

Pada masa lalu, yang dengan sepeda atau motornya memasuki gang-gang kecil untuk menyampaikan surat dari handai taulan atau dari teman…

Namun pada masa kini tugas mereka sudah tergantikan dengan berbagai sarana tehnologi yang begitu modernnya…

Namun ketahuilah,,,, ternyata ada pengantar-pengantar surat yang pada hakekatnya mengantarkan dirinya ke dalam neraka…

MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SUKA MEMINDAH OMONGAN ORANG

TANPA SADAR ATAU TIDAK OMONGAN ITU MENIMBULKAN PERMUSUHAN DI ANTARA MANUSIA

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM BERSABDA

« لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ ».

 “Nammam (orang yang melakukan namimah) itu tidak akan masuk surga” (HR Muslim no 303).

NAMIMAH ADALAH menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka 

Bila kiranya ada berita yang kau dengar…

Maka berdiamlah sejenak ketika hendak menyampaikan berita itu… 

KE SURGA

ATAU KE NERAKA
 
ENGKAU BEBAS MEMILIH 

DAN INGATLAH, BAHWA SEMUA YANG KELUAR DARI LISANMU DAN TULISANMU AKAN KAU RASAKAN DAMPAKNYA

DI SINI

DAN DI SANA

اللهم سلم سلم

View

Kedua Orangtua Penghafal Al Qur’an Mendapat Kemuliaan

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat.

Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia.

Keduanya bertanya :
“Mengapa kami dipakaikan jubah ini..?”

Dijawab :
“Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an”.
[HR. Al-Hakim]

Mari kita ajari anak-anak kita dalam menghafal dan mempelajari Kitabullah…

Siapa sangka besok bangun dari kubur kita bisa memakai jubah..

Semoga bermanfaat.. !

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Musang Berbulu Domba

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Pepatah di atas adalah petuah bijak yang diwariskan oleh nenek moyang kepada kita. Harapannya, kita menjadi generasi penerus yang waspada dan bijak, sehingga cerdik dalam menghadapi segala kondisi.

Betapa sering, maling berteriak maling, penjahat menangis sendu meminta iba. Bahkan dalam banyak kesempatan penjahat melalui tetesan air mata buayanya, terus melancarkan kejahatannya dan memangsa korbannya yang lugu. Benar-benar bak buaya sang pembunuh kejam berdarah dingin.

Tidakkah anda ingat bagaimana dahulu iblis atau setan mengesankan dirinya sebagai pemberi nasehat yang patut dipercaya, sehingga Nabi Adam Alaihissalam bersama istri nya terperdaya dan terperangkap dalam makarnya. Allah Taala berfirman:

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ

“Lalu setan membisikkan kepadanya (Adam) dan berkata: sudikah engkau aku tunjukkan kepada satu pohon abadi dan kerajaan yang tiada pernah sirna ?” (Thaha 120)

Pada ayat lain, Allah berfirman:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“Setan bersumpah kepada keduanya: sungguhlah aku adalah pemberi nasehat untuk kalian berdua.” (Al A’araf 21).

Di sisi lain, betapa banyak korban kejahatan dengan tegar dan tabah menerima kenyataan. Walau terjatuh, mereka segera bangkit dan kembali mengobarkan semangat juangnya. Berbekalkan jiwa besarnya, mereka memetik pelajaran dari segala yang menimpanya, menyesali, bertaubat dan tidak hanyut dalam budaya mengkambing hitamkan musuh. Demikianlah teladan yang dicontohkan oleh Nabi Adam alaihissalam, sebagaimana dikisahkan pada ayat berikut:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Adam dan istrinya berdoa: wahai Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri, dan jikalau Engkau tidak mengampuni kami dan menyayangi kami, pastilah kami menjadi orang orang yang merugi.” (Al A’raf 23)

Sobat! Ketahuilah bahwa seburuk apapun musuh anda, bila anda selalu waspada, cerdik dan kuat niscaya musuh dapat dikalahkan, telebih bila anda senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla. Namun sebaliknya selemah apapun musuh anda, bila anda memang lemah, lengah dan ceroboh niscaya anda kalah.

Pelajaran, ini dapat saya rasakan dari sikap Bapak Prabowo pada debat CAPRES CAWAPRES, yang masih saja dikorbankan dan terus dituduh sebagai penjahat HAM, namun demikian, beliau berjiwa besar dan terus berusaha membangun kekuatan diri bukan sibuk mengungkit kelicikan musuh dan lawannya. Sepatutnya kita meneladani sikap besar tersebut, sebagaimana diisyaratkan pada ayat berikut:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Dan sungguhlah orang yang bersabar dan memaafkan, sejatinya sikap tersebut benar benar bagian dari sikap besar (terpuji).” (As Syura 43).

Ref: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=646260702121773&id=405218379559341&refid=17

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

10 Sebab Matinya Hati Manusia

Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

قلوبنا ماتت بعشرة أشياء

Hati kita mati disebabkan 10 hal:

1. عرفنا الله ولم نؤد حقه

1. Kita tahu bahwa Allah itu ada, tapi tidak melaksanakan hak-Nya.

2. وقرأنا كتاب الله ولم نعمل به

2. Kita membaca al-Qur`an, tapi tidak mengamalkannya.

3. وادعينا محبة رسول الله (صلي الله عليه وسلم) وتركنا سنته

3. Kita mengaku cinta Rasulullah صلى الله عليه وسلم , tapi meninggalkan sunnahnya.

4. وادعينا معاداه الشيطان ووافقناه على ما غوانا

4. Kita mengaku setan itu musuh kita, tapi kita mengikuti rayuannya.

5. وقلنا نحب الجنة ولم نعمل لها

5. Kita menginginkan surga, tapi tidak berusaha mendapatkannya.

6. وقلنا نخاف النار ووهبنا أنفسنا لها

6. Kita takut neraka, tapi justru kita menyerahkan diri kita untuknya.

7. وعلمنا أن الموت حق ولم نشق له

7. Kita tahu bahwa kematian adalah pasti, tapi kita tidak mempersiapkannya.

8. وانشغلنا بعيوب الناس ونسينا عيوب أنفسنا

8. Kita sibuk dengan aib orang lain, tapi melupakan aib diri sendiri.

9. وأكلنا نعم ربنا ولم نشكر له

9. Kita menikmati karunia Allah, tapi tidak mensyukurinya.

10. ودفنا موتانا ولم نعتبر

10. Kita ikut mengubur saudara-saudara kita yang telah mati, tapi tidak bisa mengambil pelajaran.

أستغفر الله ..أستغفرالله..أستغفرالله..

View

Mensikapi Perbedaan Dalam Memilih Pemimpin

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Pemilu.. oo.. pemilu.. sungguh engkau cukup membuat pilu.. membuat pilu dikalangan kaum muslimin. Pemimpin.. pemimpin itu adalah yang menuntukan arah jalan yang dipimpin, apakah dia membawa kita kepada surga atau malah kepada neraka waliyadzubillah.

Memang demokrasi bukanlah dari islam namun bagaimanakah kita menghadapi dan menyikapi jika hal itu bertabrakan dengan kita ?

Saksikan video penjelasannya oleh Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

KLIK:
http://www.youtube.com/watch?v=Q4VaMDE5yKk

Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View