A GENTLE REMINDER… . BETAPA BANYAK ORANG LALAI DARI AMALAN YANG SATU INI KETIKA MALAM JUM’AT ATAU HARI JUM’AT, yaitu MEMBACA SURAT AL KAHFI. . Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. Padahal membaca surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) di hari Jum’at karena pahala yang begitu besar sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. . Hadits-hadits yang membicarakan hal ini kami bawakan sebagian pada posting yang singkat ini. Semoga bermanfaat. . Hadits PERTAMA: . مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ . “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471) . . Hadits KEDUA: . مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ . “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470) . INILAH SALAH SATU AMALAN DI HARI JUM’AT DAN KEUTAMAAN YANG SANGAT BESAR DI DALAMNYA. AKANKAH KITA MELEWATKAN BEGITU SAJA ? . . Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh sesuai tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. . Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. . . Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى
.
.
Ref : https://rumaysho.com/202-jangan-lupakan-membaca-surat-al-kahfi-di-hari-jumat.html
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Bersikap sederhana dalam beramal dan berpegang kepada sunnah itu dan merupakan poros agama.
Allah berfirman [QS Al-Maidah : 77]
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
“Hai ahli kitab, jangan kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian“
Allah juga berfirman [QS Al-An’am : 141]
ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ
“Jangan kalian berlebih-lebihan“
ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang berlebih-lebihan“
Allah juga berfirman [QS Al-Baqarah : 190]
وَلَا تَعْتَدُوا ۚ
“Jangan kalian melampaui batas“
ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas“
Ayat ini semua menunjukkan bahwa KITA DI DALAM BERAGAMA TIDAK BOLEH BERSIKAP GHULUW (BERLEBIH-LEBIHAN). Dan JUGA TIDAK BOLEH SEBALIKNYA YAITU TERLALU MEREMEHKAN. Akan tetapi kita berusaha beramal sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan kepada kita adalah sikap tidak berlebih-lebihan dan juga tidak meremehkan, maka itu adalah sebaik-baiknya jalan.
Disebutkan dalam Hadits Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil batu-batu untuk melempar jumroh, maka kemudian di berikanlah 7 batu sebesar satu ruas jari. Maka Nabi mengatakan: “Seperti inilah hendaklah kalian melempar.” Kata Rasulullah:
“Karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian yaitu adalah bersikap berlebih-lebihan dalam agama” (Hadits Riwayat Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shohih)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Dan rahbaniyyah (kependetaan) yang mereka buat-buat yang tidak pernah kami wajibkan atas mereka“
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita memberat-beratkan agama ini dengan cara menambah-nambah suatu yang tidak di syari’atkan atau melebihi syari’at.
Maka kewajiban kita adalah beramal sesuai dengan yang di contohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Maka Ubay bin Ka’ab berkata: “Hendaklah kalian memegang jalan kebenaran dan sunnah, karena tidak ada seorangpun yang diatas kebenaran dan sunnah ;alu ia mengingat Allah, lalu ia pun takut kepada Allah KECUALI AKAN GUGUR DOSA-DOSANYA. Sebagaimana pohon yang telah kering menggugurkan dedaunannya.
Dan bersikap sedang di dalam jalan kebenaran dan sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tapi tidak sesuai dengan jalan kebenaran dan sunnah.”
Maka bersemangatlah kalian kata Ubay, Agar amalan kalian itu kalau memang itu adalah sifatnya sederhana, sedang, SESUAI DENGAN minhaj para Nabi dan sunnahnya mereka.”
(Dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitabnya Az-Zuhd._ Demikian pula ‘Ala ‘Ahdika dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah.)
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Saat itulah banyak kejadian kau alami, tapi tidak seorang pun dapat menceritakannya kepadamu.
Sebaliknya, kamu pun tidak dapat menceritakannya kepada siapapun.
Yang jelas, kita semua harus mempersiapkan bekal masing-masing.
Dan bekal itu bukanlah harta, namun TAKWA, yakni: melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Carilah bekal kalian, dan sebaik-baik bekal adalah KETAKWAAN.” [Albaqoroh: 197].
Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Wahai kaum mukminin, BERTAKWALAH kalian kepada Allah, dan lihatlah diri masing-masing apakah yang sudah dia persiapkan untuk hari esoknya, dan BERTAKWALAH kalian kepada Allah.” [Alhasyr: 18].
Lihatlah bagaimana Allah mengulang perintah untuk bertakwa hingga dua kali di ayat yang pendek ini, agar kita tidak lupa bahwa persiapan yang paling baik untuk hari esok adalah TAKWA, wallohua’lam
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Yaitu bahwa Mereka Beriman Kepada apa yang di tunjukkan oleh Alqur’an dari Sunatullah Yang Bersifat Kauniyah qadariyah.
Kata beliau (Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى): Ujian kaum mukminin dimana ketika musuh mereka itu menang, itu terkadang mempunyai hikmah yang agung, tidak ada yang mengetahui secara terperinci kecuali Allah
Diantara HIKMAHNYA adalah:
1. Agar mereka betul-betul tunduk dan betul-betul tadharru’ (merendah) kepada Allah dengan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengalahkan musuh-musuh mereka.
2. Kalaulah mereka itu terus-menerus di tolong, maka di khawatirkan mereka akan terkena penyakit ujub. Kalaulah mereka terus menerus kalah, juga agama tidak akan tegak. Maka terkadang mereka menang terkadang mereka kalah.
Semuanya itu karena ada hikmah yang sangat besar sekali yaitu bahwa juga kalau terus menerus kaum muslimin menang, akan masuk kepada mereka orang-orang yang tujuannya bukan mengikuti Rasul, bukan pula untuk menegakkan agama, tapi hanya sebatas ingin mendapatkan kenikmatan saja.
Maka dengan adanya kekalahan itu, Allah pun kemudian membersihkannya.
Di antara hikmahnya juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menyempurnakan UBUDIYAH mereka di waktu senang maupun susah. Di waktu susah mereka betul-betul beribadah, di waktu senang merekapun betul-betul beribadah dimana mereka istiqomah dalam dua keadaan tersebut.
Kemudian diantara hikmahnya juga bahwa dengan musuh itu mengalahkan mereka atau menang akan terlihat siapa yang betul-betul jujur keimanannya dan siapa yang dusta keimanannya. Sehingga dengan seperti itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaring keimanan para hamba.
Kemudian beliau mengatakan, kenapa kaum muslimin kalah… tentu yang harus di ingat bahwa kekalahan kaum muslimin akibat dosa-dosa mereka. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan [QS Al-Imran : 165]
“Apakah ketika kalian di timpa musibah kalah di perang uhud, sementara kalian telah mendapatkan kemenangan di perang badar dua kali lipat, kalianpun berkata: “Bagaimana kami akan kalah ?” Katakanlah: “kekalahan itu akibat dari pada dosa kalian juga, kesalahan kalian juga“.”
Disini ada beberapa MUSYKILAH (masalah):
●●MUSYKILAH 1: Kelemahan kaum muslimin di seluruh dunia di zaman ini untuk menghadapi orang-orang kafir. Sebetulnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan obatnya. “Apa itu obatnya ?“ Yaitu : – betul-betul kembali kepada Allah, – menggantungkan hati kita kepada Allah, – menguatkan keimanan dan – tawakkal kita kepada Allah dan – menguatkan keyakinan bahwa Allah itu maha kuat lagi maha perkasa.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mengingatkan dalam Alqur’an QS Al-Ahzab, bagaimana kaum muslimin sangat ketakutan diperang ahzab itu.
Maka Allah pun kemudian mengirimkan pertolongannya, agar betul-betul yakin bahwa pertolongan hanya dari Allah saja. Tidak menyandarkan diri kepada kekuatan diri dan banyaknya jumlah…”TIDAK“.
●● MUSYKILAH yang ke 2: Bahwa orang-orang kafir yang menguasai kaum mukminin sehingga mereka membunuhi kaum mukminin, menyakiti mereka. Padahal kaum muslimin di atas haq, sementara mereka diatas ke bathilan.
Ini pernah di pertanyakan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kenapa koq bisa sampai terjadi seperti itu ? Yaitu dalam QS Al-Imran ayat 165 tadi, ketika kaum muslimin kalah di perang uhud, mereka berkata: “Mengapa kami bisa kalah ?” Maka Allah mengatakan: “Katakan kekalahan itu berasal dari kesalahan kalian“, artinya itu akibat dari dosa-dosa kalian juga.
●● MUSYKILAH yang ke 3: Yaitu terjadinya perselisihan hati dan aqidah diantara kaum muslimin, dimana perselisihan itu yang menghilangkan kekuatan. Allah berfirman [QS Al-Anfal: 46]
“Taatilah Allah dan RasulNya, dan janganlah berselisih, niscaya akan hilanglah kekuatan kalian.”
👉🏼 Perselisihan yang paling berat itu ketika perselisihan dalam masalah aqidah dan keyakinan , 👉🏼 maka kewajiban kita adalah untuk mempersatukan aqidah dulu, di atas tauhid, diatas aqidah yang shohihah.
Sebab sebatas persatuan badan tapi aqidahnya bercerai berai itu bukanlah hakikat pada persatuan yang akan menyebabkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Renungan malam… . Semoga kita semakin takut kepada Allah di mana pun kita berada. Ingatlah setiap dosa dan kesalahan akan nampak di sisi Allah dan akan dibalas.
“…Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya sampai 40 tahun, ia berdoa : “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada-Mu dan sungguh aku termasuk orang muslim” (QS. Al-Ahqaf [46] : 15).
BILA USIA 40 TAHUN, hendaknya manusia berusaha memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda dan lebih berhati-hati…
BILA USIA 40 TAHUN, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan dan semakin memperbanyak syukur…
BILA USIA 40 TAHUN, meningkatlah minat seseorang terhadap agama, dimana semasa mudanya jauh sekali dari agama dan banyak yang mulai menutupi aurat dan mengikuti majelis ilmu…
BILA USIA 40 TAHUN, namun belum juga ada minat terhadap agama, maka bisa jadi ini adalah pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia…
BILA USIA 40 TAHUN, tidak lagi banyak memikirkan “masa depan” keduniaan, mengejar karir dan kekayaan, tetapi jauh berpikir tentang nasib kelak di akhirat…
BILA USIA 40 TAHUN, perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa sebelum ruh sampai di tenggorokan…
BILA USIA 40 TAHUN, jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, mungkin meninggalkan shalat, berzina dll, maka akan lebih sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut…
Ibrahim al-Nakha’i rahimahullah berkata :
“Mereka (para salaf) berkata, jika seseorang telah mencapai usia 40 tahun dan berada pada suatu perangai tertentu, maka ia tidak akan pernah berubah hingga datang kematiannya”
(Ath-Thabaqat al-Kubra VI/277)
Imam Malik rahimahullah berkata :
“Aku dapati para ahli ilmu di negeri kami mencari dunia dan berbaur dengan manusia hingga datang kepada mereka usia 40 tahun. Jika telah datang usia tersebut kepada mereka, mereka pun meninggalkan manusia (yaitu lebih banyak konsentrasi untuk meningkatkan ibadah dan ilmu)” (At-Tadzkiroh hal 149).
Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab :
“Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah“
Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata :
“Kaum salaf, apabila diantara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan shalat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal di hari sesudahnya”