All posts by BBG Al Ilmu

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-12

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-11) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 12 🌼

Bahwasanya mereka meyakini bai’at syar’iyyah itu tidak boleh KECUALI kepada seorang imam yang muslim yang di bai’at oleh AHLUL HALI WAL’ AQDI.

Adapun kaum muslimin mengikuti mereka. Dan yang di maksud dengan AHLUL HALI WAL’ AQDI yaitu sebuah badan yang berisi para ulama yang ditunjuk oleh imam sebelumnya.
Mereka diangkat oleh imam sebelumnya untuk mengangkat imam setelahnya.

Dan penting kita pahami dulu tentang bai’at menurut ahlussunnah waljamama’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam kitab Minhajus Sunnah Jilid 1 halaman 527, berkata:
Maksud yang di inginkan dari kepemimpinan (Imamah) itu hanyalah bisa terhasilkan dengan kekuasaan (Sulthan) dan Qudroh (kemampuan). Apabila ia di bai’at dengan sebuah bai’at yang terhasilkan dengannya Al qudroh yaitu kemampuan untuk menjalankan siyasah syar’iyyah dan kekuasaan, jadilah ia seorang imam.”

artinya:
Bahwa yang berhak di bai’at itu adalah mereka yang mempunyai 2 syarat ini:

Yang PERTAMA adalah Alqudroh (KEMAMPUAN).
Kemampuan apa?
Yaitu untuk menegakkan siyasah syar’iyyah.

Yang KE-DUA : Sulthan (KEKUASAAN).
Ini menunjukkan bahwa bai’at itu hanya kepada mereka.

Adapun seperti di Indonesia, sebagian kelompok-kelompok membai’at kelompoknya, imam kelompoknya, tidak terpenuhi syarat tersebut.
Mereka tidak punya Qudroh tidak pula mempunyai kekuasaan apa-apa.

Kata Syaikhul Islam…. kita lanjutkan…
…”Oleh karena itu para ulama Salaf terdahulu berkata:
Siapa yang memiliki Qudroh (kemampuan) dan Sulthan (kekuasaan) yang ia bisa melakukan maksud tujuan kepemimpinan. maka ia dianggap sebagai Ulil Amri yang Allah perintahkan untuk mena’ati mereka selama tidak memerintahkan kepada maksiat.”

Jadi hakikat Imam atau pemimpin Ulil Amri itu adalah kerajaan dan kekuasaan.
Maksud kerajaan di sini artinya dia pemilik negara/ pemegang negara.

Dan kerajaan itu, tidak menjadi raja kecuali dengan hanya sebatas kesepakatan 1 orang atau 2 orang atau 4 orang.
Kecuali kalau kesepakatan 2,3 atau 4 ini di sepakati oleh seluruhnya selain mereka.
Sehingga dengan seperti itupun dia menjadi seorang raja yang berkuasa di suatu negara.

Demikian pula setiap perintah yang membutuhkan kepada bantuan tidak akan terhasilkan kecuali dengan yang menghasilkan sesuatu yang bisa membantu dia.
Maksud beliau bahwa artinya :
👉🏼 KEKUASAAN dan QUDROH inilah syarat seseorang itu boleh di bai’at.

Adapun kalau dia tidak punya kekuasaan dan tidak punya kemampuan, maka ini jelas bai’at-bai’at yang bathil seperti yang kita lihat di zaman sekarang ini yang merupakan bai’at-bai’at yang tidak sesuai dengan syari’at.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-11

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-10) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 11 🌼

Bahwa Ahlus Su’nnah wal Jama’ah waljama’ah mempunyai keyakinan, sebab yang paling besar terjadinya perpecahan itu FANATIKNYA sebagian kaum muslimin kepada kelompok atau jama’ah tertentu atau individu tertentu selain Rasulullah dan para sahabatnya, ini adalah merupakan sebab terbesar TERJADINYA PERPECAHAN.

Seseorang fanatik kepada kelompoknya atau Ustadznya atau organisasainya dan yang lainnya, bukan kepada kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-An’am: 159]

‎إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi kelompok-kelompok kamu tidak termasuk mereka sedikitpun juga

Berkata Ibnu Katsir :
Ayat ini umum, buat orang yang memecah belah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyelisihiNya.”

Allah juga berfirman [QS Ar-Rum: 31-32]

‎وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

‎مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ

Janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka berkelompok-kelompok
Setiap kelompok merasa gembira , berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Kata Ibnu Katsir:
Umat Islam berpecah belah sesama mereka, menjadi berkelompok-kelompok. Semuanya sesat kecuali satu, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Yang berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Dan juga berpegang kepada apa yang di pegang oleh generasi pertama dari kalangan sahabat dan Tabi’in dan para Ulama kaum Muslimin.”

Maka di sini Allah juga menyebutkan tentang sebab perpecahan itu.

Allah berfirman: [QS Ar-Rum: 32]

‎ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Setiap kelompok bergembira atau berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Ketika setiap orang itu lebih membanggakan kelompoknya atau yayasannya atau organisasinya atau ustadznya… pasti pecah.

Seperti yang kita lihat di zaman sekarang, ketika seseorang sedang ngefans kepada seorang ustadz, maka membabi buta dia mengikuti ustadz tersebut.
Ketika ada ustadz lain yang mengkritik, bisa jadi yang mengkritiknya itu benar, maka di sikapi dengan sinis, seakan-akan ustadznya itu tidak boleh salah. Seakan-akan orang yang mengkritiknya itu sesat ataupun yang lainnya.

Kalau mengkritiknya itu tanpa bukti, tanpa hujjah atau sebatas tuduhan, kita wajib membela ustadz kita.
Tapi kalau ternyata kritikannya di atas kebenaran, maka kata Syaikhul Islam:
siapa yang membela ustadznya padahal dia dalam keadaan diatas kesalahan dan di atas kebathilan yang jelas, maka dia telah berhukum dengan hukum jahiliyah.”

Maka dari itu ya akhwat islam, saudaraku…. kita mengikuti kajian sunnah itu bukan untuk berfanatik kepada ustadz-ustadz tertentu atau kelompok tertentu atau kepada yayasan tertentu….Tidak.

👉🏼  FANATIK kita HANYA KEPADA ALLAH dan RASUL-NYA.

Pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas:
Kamu ikut Ali atau ikut Utsman ?”
Kata Ibnu Abbas: “Aku mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Itulah ya akhwat Islam, fanatik kita hanya kepada Allah dan RasulNya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-10

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-9) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 10 🌼

Mereka meyakini bahwa aljama’ah adalah pokok dari pokok-pokok agama.
Yang di maksud dengan aljama’ah yaitu bersatu padu di atas kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman [QS Ali Imran : 103]

‎وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

Hendaklah kalian berpegang semua kalian kepada tali Allah dan jangan bercerai berai.

Disini Allah menyuruh kita berpegang kepada tali Allah yaitu Alqur’an dan Hadits.
Dan melarang kita bercerai-berai, artinya orang yang tidak berpegang pada Alqur’an dan Hadits pasti bercerai-berai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‎إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا

Sesungguhnya Allah mencintai untuk kalian tiga dan membenci untuk kalian tiga.”

Adapun yang Allah ridhoi yang 3;

** kamu beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga.

** dan hendaklah kamu berpegang kepada tali Allah semuanya dan jangan bercerai-berai.

** dan agar kamu menasehati para Ulil Amri (orang-orang yang Allah berikan kepada mereka kepemimpinan).

Berkata Imam Syafi’i:

Jika kamu berkata, apa makna perintah Nabi untuk berpegang kepada jama’ah ?
Aku berkata, kata Imam Syafi’i tidak ada makna kecuali satu.
Lalu jika kamu berkata, bagaimana tidak mempunyai makna kecuali satu ?
Aku berkata, apabila jama’ah mereka bercerai-berai di negeri-negeri, tidak ada yang mampu untuk mempersatukan badan-badan mereka yang bercerai-berai tersebut.Dan apabila mereka mendapatkan badan-badan telah berkumpul dengan kaum muslimin.
Demikian pula para kafirin, orang-orang yang bertaqwa dan orang yang hujar.

Kalau hanya sebatas berkumpulnya badan saja, kata beliau…. kalau begitu buat apa kita di suruh kita berpegang pada aljama’ah, kecuali jama’ah yang harus di ta’ati, yaitu Rasulullah dan para sahabatnya.

Abu Syamah berkata:
Yang di maksud dengan berpegang kepada aljama’ah adalah berpegang kepada kebenaran, walupun yang berpegang sedikit dan yang menyelisihi itu banyak. Karena kebenaran itulah yang di pegang oleh jama’ah yang pertama dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya.

Kita tidak melihat kepada banyaknya orang yang memegang ke bathilan setelah mereka.

Kemudian Syaikh berkata:
Ada 3 PERKARA yang mempersatukan manusia diatas jama’ah yang haq;

▪ Yang PERTAMA kata beliau Tauhid, yaitu aqidah yang shohihah.
Karena apabila aqidah berbeda-beda, tidak mungkin mereka akan bersatupadu.
Sebab persatuan badan tidak ada maknanya. Sebagaimana di katakan Imam Syafi’i tadi.

▪ Perkara yang ke DUA, yaitu rujukan yang menjadi rujukan harus satu juga, yaitu Alqur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam
Adapun kemudian merujuk masing-masing mazhab, masing-masing manhaj, maka ini tidak akan pernah mempersatukan.

▪ Perkara yang ke TIGA, yaitu adanya ke ta’atan kepada pemimpin yang satu, yaitu Ulil Amri yang di ta’ati.
Makanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

‎وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ

Untuk kamu memberikan NASIHAT kepada pemimpin kalian.”

Maksud NASIHAT di sini, yaitu MENTA’ATI MEREKA, sabar menghadapi kedholiman mereka.
Menta’ati tentunya DALAM KETA’ATAN BUKAN KEMAKSIATAN
.

Nah inilah 3 perkara yang menjadikan kaum muslimin bersatu padu diatas kebenaran aljama’ah

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Rajin Sholat Malam Namun Tetap Melakukan Maksiat…

Sebagian dari kaum muslimin rajin melakukan ibadah sholat malam, namun di siang harinya mereka melakukan maksiat, mengapa ibadah yang mereka lakukan tidak membuat mereka berhenti melakukan maksiat ?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

 

da290814-1330

Mengetahui Kesalahan Ijtihad Seorang Ulama Namun Tetap Mengamalkannya… Bagaimana Hukumnya..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-9

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-8) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 9 🌼

Bahwa kemenangan kaum muslimin dan kebaikan keadaan mereka terikat dengan 2 perkara:
1. Ilmu yang bermanfaat.
2. Amal Sholeh.

Berdasarkan firman Allah [QS At-Taubah: 33]

‎هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون

Dialah Allah yang telah mengutus Rasulnya dengan Huda (ilmu)
‎وَدِينِ الْحَقِّ  yaitu amal, untuk memenangkan di atas agama seluruhnya, walaupun orang-orang musyrikin itu tidak suka.”

Di sini Allah menyebutkan bahwa tujuan mengutus Rasul-Nya adalah membawa ilmu dan amal.
Untuk apa…?
Untuk Allah menangkan diatas seluruh agama.

Selama umat Islam mempraktekkan ilmu dan amal, menggabungkan 2 perkara ini, maka mereka pasti akan di berikan oleh Allah, KEMULIAAN dan KEMENANGAN.
Namun ketika salah satunya tidak ada, hanya berilmu tapi tidak beramal atau beramal tapi tanpa ilmu, maka disaat itu Allah akan hinakan mereka.

1. ILMU YANG BERMANFAAT.

Allah Ta’ala juga berfirman [QS At-Taubah: 122]

‎۞ وما كان المؤمنون لينفروا كافة ۚ فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون

Tidaklah layak kaum mukminin semuanya pergi ke medan perang, kalaulah ada sekelompok dari mereka untuk Tafaqquh dalam agama, agar mereka memberikan peringatan kaumnya ketika kembali kepada mereka. Agar mereka waspada.

Di sini Allah meyuruh agar ada sekelompok kaum muslimin yang betul-betul tafaqquh dalam agama agar menjadi da’i-da’i yang mengajarkan mereka tentang dien.

Dan tentu akhowat Islam, kita berusaha untuk menuntut ilmu tentunya kepada para ulama.
Demikian pula kita berusaha untuk semaksimal mungkin menyampaikan ilmu. Terutama di zaman sekarang ini.

Kata Syaikh Al-Albani rahimahullah:
Jihad yang paling besar di zaman sekarang ini adalah menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu.”

Dan akhowat Islam, dengan ilmu yang bermanfaat kita bisa mengetahui jalan yang haq.
Dengan ilmu yang bermanfaat kita bisa memilah mana aqidah yang benar, mana aqidah yang tidak benar.
Mana ibadah yang sesuai sunnah mana ibadah yang tidak, bahkan dengan ilmu yang bermanfaat kita melakukan TASHFIYAH (pembersihan Islam dari penyimpangan-penyimpangan).

2. AMAL SHALEH

Maka amal sholeh ini adalah merupakan buah daripada ilmu.
Dimana dengan amal sholehlah hati menjadi lurus, dengan amal sholehpun keadaan manusia menjadi lurus.
Dengan amal sholeh seseorang menjadi bekal menuju kehidupan akhirat tentunya.
Maka Islam menggabungkan 2 perkara yaitu ILMU dan AMAL.

Sebagaimana Allah juga berfirman [QS Al-Fatihah : 6-7]

‎اهدنا الصراط المستقيم
‎صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين

Berikan kami hidayah kepada jalan yang lurus, apa itu…?
Jalan orang-orang yang engkau berikan nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang di benci yaitu Yahudi, kata Rasulullah.
Dan pula orang yang sesat yaitu Nasrani.
(Sebagaiman Riwayat Tarmidzi demikian).

Orang Yahudi di benci, kenapa..?
Karena mereka berilmu tapi tidak beramal.
Sedangkan orang Nasrani tersesat karena beramal tanpa ilmu.

👉🏼  Berarti JALAN YANG LURUS ITU ADALAH MENGGABUNGKAN ANTARA ILMU dan AMAL.
Maka merekalah orang-orang yang di berikan nikmat atas mereka.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Kamu Bisa MELIHAT Bagaimana Dunia dan Penghuninya SETELAH Matimu..!!

Jika kamu ingin melihat keadaan dunia dan penghuninya setelah kematianmu, maka lihatlah kematian orang lain.

Kamu akan dapati bahwa teman yang PALING akrab pun akan melupakannya, bahkan orang yang menjadi ‘BELAHAN JIWANYA‘ pun akan meninggalkannya dan mencari kesibukan dengan dunianya.

Maka jadikanlah hidupmu semuanya untuk ALLAH, Dialah satu-satunya yang tidak akan lupa.

Dan perbaikilah hubunganmu dengan ALLAH, Dialah satu-satunya yang tidak akan fana.

Ingatlah selalu firman-Nya:

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

Tidaklah penghuni langit dan bumi, melainkan mereka akan menghadap kepada Allah yang maha penyayang sebagai seorang HAMBA” [Surat Maryam: 93].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da150116-2021

 

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-8

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-7) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 8 🌼

Bahwa mereka tidak menentang nash dengan akal, tidak pula dengan hawa nafsu, tidak pula dengan perasaan, tidak pula dengan ucapan siapapun dari manusia.
Karena manhaj salaf mengagungkan dari diatas segala-galanya.

Akal hanya di gunakan untuk memahami bukan untuk menentang
hawa nafsu wajib mengikuti keinginan Allah dan Rasul-Nya.
Perasaanpun demikian, pendapat manusia, itu semua di bawah pendapat Allah dan Rasul-Nya.

Kewajiban seluruh manusia adalah untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.

Maka kewajiban kita adalah untuk senantiasa lebih mengagungkan dalil daripada akal ataupun pendapat manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang lebih mengikuti hawa nafsunya daripada mengukuti perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman [ QS Asy Syura : 15]

‎ ۖ واستقم كما أمرت ۖ ولا تتبع أهواءهم

Dan istiqomahlah sebagaimana kamu di perintahkan dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu mereka.”

Allah juga berfirman [QS Al-Ahzab: 36]

‎وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ۗ

Tidak layak bagi mukmin tidak pula mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan perkara, mereka mencari alternatif yang lain dari mereka sendiri.”

Tidak layak apabila Allah dan Rasul-Nya sudah memutuskan, maka tidak boleh kita tolak dengan hawa nafsu kita atau akal kita atau pendapat seorang alim atau kyai atau yang lainnya.

👉🏼 MAKA KEWAJIBAN KITA ADALAH MENJADIKAN ALLAH dan RASUL-NYA SEGALA-GALANYA.
Dan ITU KESEMPURNAAN IMAN.

Allah berfirman [QS An_ Nisaa’: 65]

‎فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما

Maka tidak demi Rab-mu, mereka tidak beriman sampai mereka berhakim kepadamu dalam perkara yang mereka perselisihkan diantara mereka, kemudian mereka tidak mendapatkan rasa berat untuk menerima keputusan-Mu dan mereka taslim dengan sebenar-benarnya taslim.

Ini ayat menyebutkan bahwa keimanan tidak sempurna sampai terpenuhi 3 syarat.

👉🏼 Yang PERTAMA: Berhakim kepada Rasulullah dalam perkara yang di perselisihkan.
Berarti mendahulukan Rasulullah dari segala-galanya.

👉🏼 Kemudian yang KE DUA: Tidak mendapatkan rasa berat untuk menerima keputusan Rasul.

👉🏼 Kemudian yang KE TIGA : Taslim

Maka dari itulah orang yang lebih mendahulukan ro’yunya atau hawa nafsunya berarti dia belum taslim.
Dia belum menyerahkan dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS Al-Hujurat: 1]

‎يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله

Hai orang-orang yang beriman jangan kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Artinya juga, jangan mendahulukan perkataan siapapun dari pada perkataan Allah dan Rasul-Nya.

Disebutkan dalam Hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekali cabut dari dada manusia tapi dengan di wafatkannya para Ulama. Maka tersisalah orang-orang yang bodoh yang di mintai fatwa, lalu berfatwa dengan ro’yunya.”
Maka mereka sesat dan menyesatkan
Kata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam (HR Bukhori dan Muslim).

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN