All posts by BBG Al Ilmu

Jangan Hanya Mengaku, Tapi Buktikanlah…

“Orang yang mengaku atau menyandarkan dirinya kepada SALAF, maka harusnya dia membuktikan penamaan dan pengakuan ini, yaitu: dengan MENERAPKAN manhaj salaf dalam hal akidah, perkataan, perbuatan, dan bermasyarakat, hingga dia menjadi seorang “salafi sejati“, dan menjadi teladan baik yang benar-benar mencerminkan madzhab salaf saleh.

Maka, barangsiapa menginginkan manhaj (salaf) ini, harusnya dia berusaha mengenalnya, mempelajarinya, dan menerapkannya pada DIRINYA dahulu, lalu mendakwahkan dan menjelaskannya kepada masyarakat.

Inilah jalan keselamatan, ini pula jalan golongan yang selamat Ahlussunnah Waljama’ah, jalan orang yang berjalan di atas petunjuk Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya.

Lalu bersabarlah dan teguhlah dalam mempertahankan hal itu.”

[Oleh: Syeikh Sholeh Fauzan, Assalafiyyah – haqiqotuha wasimaatuha, http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14381 ]

Diterjemahkan oleh :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da150115-1253

Hakikat Taubat…


Tata Cara Shalat Taubat

1. Berwudhu dengan sempurna (sesuai sunah). Mengenai cara wudhu yang sesuai sunah, bisa anda pelajari di http://carasholat.com/cara-wudhu-yang-benar-menggunakan-keran/
.
2. Shalat dua rakaat, tata caranya sama dengan shalat pada umumnya.
.
3. Tidak ada bacaan khusus ketika shalat. Anda bisa membaca al-Fatihah kemudian membaca surat apapun yang anda hafal.
.
4. Berusaha khusyuk dalam shalatnya, karena teringat dengan dosa yang baru saja dia lakukan.
.
5. Beristigfar dan memohon ampun kepada Allah setelah shalat.
.
6. Tidak ada bacaan istigfar khusus untuk shalat taubat. Bacaan istigfarnya sama dengan bacaan istigfar lainnya, misalnya: astaghfirullah wa atuubu ilaih…
.
7. Inti dari shalat taubat adalah memohon ampun kepada Allah, dengan menyesali perbuatan dosa yang telah dia lakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
.
Allahu a’lam.
.
Ustadz Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى
(Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
.
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

.
.
.
Read more https://konsultasisyariah.com/4673-bagaimana-cara-melaksanakan-shalat-sunah-taubat.html

Ayat-Ayat MANHAJ… # 2

Silahkan baca Ayat-Ayat MANHAJ # 1  DI SINI

Surat Annisaa ayat 140

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.”

Ayat ini walaupun sebabnya khusus untuk kaum kafirin, namun lafadz umum. Dan kaidah mengatakan, “Yang dianggap itu keumuman lafadznya bukan kekhususan sebabnya.”

Imam Ath Thobari rahimahullah dalam tafsirnya berkata:

وفي هذه الآية، الدلالة الواضحة على النهي عن مجالسة أهل الباطل من كل نوع، من المبتدعة والفسَقة، عند خوضهم في باطلهم. وبنحو ذلك كان جماعة من الأئمة الماضين يقولون

Dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas akan larangan duduk di majelis ahli batil dari semua jenisnya baik ahli bid’ah dan orang orang fasiq ketika mereka sedang berbicara dalam kebatilannya. Dan kepada pendapat ini jamaah ulama terdahulu berpendapat..
Lalu beliaupun mengebutkannya.”

Imam Al Baghowi dalam tafsirnya membawakan perkataan ibnu Abbas:

دخل في هذه الآية كل محدث في الدين، وكل مبتدع إلى يوم القيامة

Masuk dalam ayat ini semua orang uang mengada-ada dalam agama dan setiap orang yang membuat bid’ah sampai hari kiamat.” (Tafsir Al Baghowi 1/491).

ibnu Abbas juga berkata:

لا تجالس أهل الأهواء فإن مجالستهم ممرضة للقلب

“Jangan duduk di majelis ahli hawa, karena duduk di majelis mereka menimbulkan penyakit hati.” (Dikeluarkan oleh ibnu Bathoh dalam Al ibanah 2/438).

Maka berhati hatilah saudaraku, dari duduk di majelis ahli hawa dengan alasan mencari ilmu kepada siapa saja. karena mencari ilmu wajib kepada orang yang telah mumpuni dan aqidahnya lurus sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِن مِنْ أشراطِ السَّاعة أنْ يُلْتَمَسَ العلمُ عِنْدَ الأصاغِرِا

Sesungguhnya diantara tanda hari kiamat adalah ilmu dicari dari para ASHOGIER.” (HR ibnul Mubarok dalam kitab Az Zuhud).

Abu Shalih bertanya kepada ibnul Mubarok, “Siapakah ASHOGIER itu ?” Beliau menjawab: “Yaitu ahli bid’ah.”
Sebagian ulama menafsirkan juga bahwa ASHOGIER itu orang orang yang dangkal ilmunya. Dan kedua tafsir tersebut tidak bertentangan, karena ahli bid’ah itu dangkal ilmunya. Jika kuat tentu ia akan meninggalkan kebid’ahannya.

Banyak kita lihat sebagian ikhwah yang tadinya duduk di majelis sunnah lalu kemudian berubah dan meninggalkannya karena tidak memperdulikan ayat, hadits dan nasehat para ulama. 

Allahul Musta’an

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ayat-Ayat MANHAJ… # 1

Surat Al An’am ayat 153

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah. Dan janganlah kamu mengikuti jalan jalan lainnya, niscaya ia akan memecah belahmu dari jala-Nya. Itulah yang Dia wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa.”

Perhatikanlah ayat ini. Allah memerintahkan untuk mengikuti jalannya dan melarang mengikuti jalan jalan lainnya. Imam Mujahid menjelaskan bahwa yang dimaksud jalan jalan lainnya adalah bid’ah dan syubhat.

Lalu Allah menyebutkan akibatnya yaitu bahwa jalan jalan tersebut akan memecah belah kalian dari jalanNya.

Imam Ath Thobari dalam tafsirnya berkata:

فيشتّت بكم، إن اتبعتم السبل المحدثة التي ليست لله بسبل ولا طرق ولا أديان, اتباعُكم إياها =” عن سبيله “, يعني: عن طريقه ودينه الذي شرعه لكم وارتضاه

Maka akan mencerai beraikan kamu jika mengikuti jalan jalan yang diada adakan yang sama sekali bukan jalan Allah bukan pula agamaNya.
Mencerai beraikan kamu dari jalanNya yaitu tata cara dan agamaNya yang Allah syari’atkan dan ridloi.

Ayat ini menunjukkan bahwa hakekat perpecahan itu bukanlah karena tidak mengikuti kebanyakan manusia, akan tetapi berpecah belah dari jalan Allah.

Oleh karena ibnu Mas’ud berkata:

الجماعة ما وافق الحق ولو كنت وحدك

Aljama’ah itu adalah yang sesuai dengan kebenaran walaupun kamu sendirian.” (Dikeluarkan oleh Al Laalikaai dalam syarah i’tiqod ahlissunnah dengan sanad yang shahih).

Imam Al Auza’iy berkata:

عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس، وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوه بالقول.

Hendaklah kamu mengikuti jejak salaf walaupun manusia menolakmu. Jauhi olehmu pendapat pendapat manusia walaupun dihiasi dengan kata kata yang indah“. (Dikeluarkan oleh Al Aajurry dalam kitab Asy Syari’ah dengan sanad yang shahih).

Imam ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

اعلم أن الإجماع والحجة والسواد الأعظم هو العالم صاحب الحق، وإن كان وحده، وإن خالفه أهل الأرض، فإذا ظفرت برجل واحد من أولي العلم، طالب للدليل، محكم له، متبع للحق حيث كان وأين كان، ومع من كان، زالت الوحشة

Ketahuilah bahwa ijma, hujjah, dan assawadul a’dzom itu adalah ulama yang berpegang kepada kebenaran walaupun ia sendirian, walaupun ia diselisihi oleh penduduk bumi.
Jika kamu mendapatkan seorang ulama penuntut dalil dan mapan padanya dan selalu mengikuti kebenaran kapan saja dan dimana saja dan bersama siapapun, maka hilanglah kesendirianmu.”
(I’laamul Muwaqi’in 3/398)

Bersambung… Silahkan baca Ayat-Ayat MANHAJ # 2  DI SINI

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sudahkah Selalu Mengingat Dosa…?

Shalih bin Hassan berkata : “Suatu ketika, al-Hasan al-Bashri berpuasa, lalu kami datang kepadanya dengan membawa makanan saat maghrib tiba

Ketika Shalih bin Hassan berada di dekat al-Hasan al-Bashri, Shalih bin Hassan berkata, Aku bacakan ayat ini kepada al-Hasan al-Bashri : “Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan Neraka yang menyala-nyala. Dan (ada) makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih” (QS. Al-Muzammil [73]: 12-13).

Al-Hasan al-Bashri tidak menjamah makanan yang dibawa untuknya. Ia berkata : “Bawa ke sana makanan ini !Kami pun mengambil makanan itu. Ia meneruskan puasanya sampai esok paginya.

Ketika ia ingin berbuka puasa, ia ingat ayat tadi, lalu berbuat seperti kemarin. Pada hari ke-3, anaknya pergi kepada Tsabit al-Bunani, Yahya al-Buka’ dan beberapa rekan al-Hasan al-Bashri, lalu berkata :

Tolong temui ayahku, sebab ia tidak makan makanan sedikit pun sejak 3 hari yang lalu. Setiap kali aku menghidangkan makanan untuk berbuka puasa, ia ingat ayat ini : “Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan Neraka yang menyala-nyala. Dan (ada) makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih” (QS. Al-Muzammil [73]: 12-13).

Lalu teman-teman al-Hasan al-Bashri datang menemui al-Hasan al-Bashri dan lama berada di tempatnya, hingga akhirnya menyuapinya dengan seteguk tepung” (Az-Zuhd hal 284 oleh Imam Ahmad).

Subhanallah, rupanya ia takut akan dosa yang pernah ia lakukan dan ‎tidak pernah melupakannya, sehingga selalu tertanam di hati rasa takut akan adzab Allah…

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

إن الرجل يذنب الذنب فما ينساه، وما يزال متخوفا منه حتى يدخل الجنة

Sesungguhnya ada orang yang berdosa kemudian tidak melupakannya, dan selalu merasa takut (kepada Allah karenanya) hingga ia pun masuk Surga” (Az-Zuhd no. 338 oleh Imam Ahmad).

Seseorang yang dosanya sedikit, maka mereka pun tahu dari dosa manakah datangnya suatu musibah…

Muhammad bin Sirin rahimahullah pernah mendapat musibah, maka ia pun berkata : “Ini adalah pembalasan atas dosaku yang kutunggu selama 40 tahun

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

“Salah seorang generasi salaf telah mengevaluasi dirinya sejak usia baligh, ternyata kesalahannya tidak lebih dari 36 kesalahan. Kemudian ia mohon ampun kepada Allah sebanyak 100.000 kali untuk setiap kesalahan, shalat 1000 raka’at untuk setiap kesalahan, dan khatam (membaca al-Qur’an) satu kali dalam setiap ruku’. Kendati demikian, ia berkata : “Aku tetap khawatir kekuatan Allah menyiksaku karena kesalahan tersebut, dan penerimaan taubatku dalam bahaya” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal 539)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِيْ تُحِلُّ النِّقَم

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa-dosa yang akan dibalas dengan siksaan…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Kebahagiaan Yang Hakiki…

Berjuta jiwa melalang buana…
Mencari kebahagiaan di pucuk-pucuk dunia…
Membuang harta, merebut tahta, berburu wanita…
Namun kiranya mereka terlupa, bahwa kebahagiaan itu berada di dalam dada…

Pusat kebahagiaan itu terletak di hati…
Apabila hati telah dipenuhi dengan cahaya keimanan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat…

Kenapa…?

Karena hati manusia berada di tangan Allah…
Dan hanya Allah yang bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki…

Ketahuilah…

Hati yang telah mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan, akan menjadikannya mencintai Allah melebihi segalanya, dan memiliki rasa takut kepada siksa-Nya, serta selalu mengharap rahmat-Nya…

Ketika itu ia akan selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, hatinya akan lembut, dan air matanya pun akan bercucuran, karena dirinya selalu disibukkan oleh dosa-dosanya…

Perilakunya…
jauh dari hawa nafsu dan pengaruh syaitan…
jauh dari fitnah syahwat dan syubhat…
jauh dari kesyirikan dan kebid’ahan…
jauh dari dosa-dosa besar maupun kecil…
jauh dari menjual agamanya untuk mencari keuntungan dunia yang sedikit…

Bagi orang yang beriman, kebahagiaan yang amat mereka dambakan adalah kehidupan di akhirat yang lebih baik dan abadi…

Karena mereka tahu dunia tempat yang penuh bencana dan fitnah, kehidupan sementara, sedikit, menipu, dan tidak ada kebahagiaan yang hakiki…

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“…Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut [29]: 64)

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata :

Tiadalah urusan manusia di dunia ini, meskipun berumur panjang, kecuali seperti satu nafas dalam lambung kehidupan Surga. Siapa yang menyia-nyiakan satu nafas yang dengannya ia bisa hidup selamanya, sungguh ia termasuk orang yang rugi…

Syumaith bin ‘Ajlaan rahimahullah berkata :

“Barangsiapa menjadikan kematian dihadapan kedua matanya, dia tidak akan peduli dengan kesempitan dunia dan kelapangannya” (Shifatush Shofwah III/342)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata :

Hasrat seorang mukmin hendaknya selalu menyatu dan lengket dengan kehidupan akhirat pada seluruh hidupnya, hingga seperti sedang hidup di dalamnya…

Dan hasrat kepadanya itu begitu menguasai mereka, sehingga segala yang ada di dunia ini akan menggerakkannya untuk selalu ingat kepada akhirat…

Jika melihat kegelapan…
ia akan teringat bagaimana gelapnya alam kubur…
Jika melihat orang yang disakiti…
ia lalu membayangkan bagaimana siksa di akhirat…

Jika mendengar suara mengerikan…
ia terbayang tiupan sangkakala pada hari Kiamat…
Jika melihat orang yang tidur…
ia pun akan terbayang akan kematian…

Baginya tiada berarti rasa sakit, ujian, hilangnya kekasih, ancaman maut, serta perjuangan menepis segala penghalang yang menghadang di jalannya…

Bukankah bagi orang yang menginginkan kesembuhan dari suatu penyakit, maka ia tidak akan memperdulikan betapa pun pahitnya obat yang harus ia minum…?

Lalu ia juga mengandaikan dirinya masuk Neraka dan mendapatkan siksa, maka hidupnya akan terasa berat, dan kerisauan hatinya selalu membayangi setiap langkahnya…

Inilah hasrat seorang mukmin yang selalu terkait dengan itu semua, dan itulah yang selalu menyibukkannya…

Saudaraku, sudahkah seperti itu keadaanmu…?

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Dua Hal Yang Tak Dapat Dipisahkan…

HIDAYAH dan KEBAHAGIAAN adalah dua hal yang saling beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Sedang KESENGSARAAN adalah pasangannya KESESATAN yang tidak bisa terpisah darinya.

Maka kapan ada hidayah; di situ ada kebahagiaan, dan kapan ada kesesatan; di situ ada kesengsaraan.

Orang yang dulunya jauh dari Allah dan jauh dari keta’atan kepada-Nya, kemudian dia menjadi istiqomah; dia akan dapatkan dalam hatinya sebuah KELEZATAN yang dahulu hilang, RASA MANIS yang dahulu tidak ada, dan RASA HIDUP yang dahulu tidak dia rasakan.

Dan benarlah Allah dalam firman-Nya (yang artinya): “Maka, barangsiapa yang mengikuti PETUNJUK-Ku; dia TIDAK AKAN sesat dan tidak pula celaka. Sedang barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku; pasti dia akan merasakan penghidupan yang sempit“. [Thoha: 124].

Oleh: Syeikh Abdurrozzaq Alu Badr, حفظه الله تعالى,. http://al-badr.net/muqolat/2648

******

Anda mencari kebahagiaan ?.. Ikutilah petunjuk-Nya.. !!

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da030714-1643