All posts by BBG Al Ilmu

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-16

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-15) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 16 🌼

Bahwa mereka meyakini, bahwa kekokohan di muka bumi itu pemberian dari Allah semata.
Allah berikan kepada siapa yang melaksanakan kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya berupa ilmu yang bermanfaat dan beramal sholeh

Sebagaimana firman Allah [QS An-Nur : 55]

‎وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ

Allah berjanji, Allah mengatakan ini janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

Apa janji-Nya ?

‎لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ

Allah akan berikan kepada mereka khilafah di muka bumi, sebagaimana Allah memberikan khilafah kepada orang-orang sebelum mereka.

Allah akan kokohkan tuk mereka agama mereka yang Allah ridhai untuk mereka.
Dan Allah akan gantikan setelah rasa takut dengan rasa aman .

Kapan itu terjadi ?
Yaitu ketika mereka hanya beribadah kepada-Ku saja dan tidak mempersekutukan Aku sedikitpun juga.

Lihat di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji dan ini merupakan janji Allah.
Kapan janji Allah terbukti ? Dan untuk siapa ?
Untuk orang yang beriman dan beramal sholeh.

Apa janjinya ?” Yaitu KHILAFAH.
Apa syaratnya ?” Yaitu:
1. mereka hanya beribadah kepada Allah dan menjauhkan kesyirikan.
2. Mereka beriman dan beramal sholeh
👉🏼 Ini syarat yang harus di penuhi.

Adapun kemudian berkoar-koar menegakkan khilafah, bukanlah itu manhaj para nabi. Kenapa ?
Karena bukanlah tujuan dakwah para nabi untuk menegakkan Khilafah. Tapi tujuan dakwah para nabi adalah AGAR MANUSIA men-TAUHID-kan ALLAH SAJA.

Maka dari itulah manhaj salaf berkeyakinan bahwa khilafah itu adalah pemberian dari Allah, murni.

Ketika kita beriman, beramal sholeh, berilmu, beramal dan hanya mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan maka Allah akan berikan kepada kita apa yang Allah janjikan tersebut.

Dalam ayat tersebut Allah memberikan syarat agar kita di berikan kekokohan di muka bumi dan keamanan itu adalah mentauhidkan Allah dan sesuai dengan syaria’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah juga berfirman [QS Al-Hajj :41]

‎الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ

Yaitu orang-orang yang apabila kami kokohkan di muka bumi, mereka menegakkan sholat, membayar zakat, ber-amar ma’ruf nahi mungkar, itu orang-orang seperti itu.”

Ketika mereka di kokohkan di muka bumi, mereka menegakkan sholat, membayar zakat.
Kenapa ?
Karena sebelumnya mereka memang sudah menegakkan sholat dan membayar zakat.
Sehingga dengan mereka senantiasa menegakkan syari’at Allah pada diri-diri mereka, Allah pun tegakkan syari’at di negri-negri mereka.
👉🏼 Jadi ini adalah merupakan janji dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Maka Khilafah tidak mungkin di berikan kepada kaum muslimin, kecuali dengan mengikuti manhaj Khulafa Ar-Rasyidin yang pertama, manhaj Nabawiyah, sebagaimana di sebutkan dalam hadits An Nu’man bin Basyir:
Nanti akan ada kenabian kemudian setelah itu Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah kemudian kerajaan yang menggigit, kemudian setelah itu kerajaan yang diktaktor, kemudian kembali kepada Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.”

Jadi akhowat islam bahwa Khilafah adalah murni janji dari Allah.
Kalau kita ingin mendapatkan janji itu maka laksanakan syariat-syariatnya, yaitu BERIMAN, BERAMAL SHOLEH.

Dan tidak mungkin beriman dan bermal sholeh kecuali dengan
👉🏼 ilmu yang bermanfaat dari Alqur’an hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
👉🏼 mengikuti manhaj salafusholeh
Terutama itu mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.

Maka dari itulah dakwah salafiyah, sangat menitik beratkan kepada TAUHID.
Karena itu merupakan azas atau pokok segala amal.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Tak Perlu Khawatir Dengan Rezeki…

Rezeki kita sudah diatur dan sudah ditentukan. Kita tetap berikhtiar. Namun tetap ketentuan rezeki kita sudah ada yang mengatur. So, tak perlu khawatir akan rezeki.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin) adalah qalam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.” (HR. Tirmidzi no. 2155. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnul Qayyim rohimahulah berkata,

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena REZEKI DAN AJAL ADALAH DUA HAL YANG SUDAH DIJAMIN, SELAMA MASIH ADA SISA AJAL, REZEKI PASTI DATANG. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali)

Masihkah kita khawatir dengan rezeki?

Ingatlah, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى

Sumber : https://rumaysho.com/10276-tak-perlu-khawatir-dengan-rezeki.html

Untaian Nasihat Imam Syafi’i Tentang Hakikat Kehidupan dan Kematian…

ندم وحزن هز كل كياني  فانساب دمعي واستكان لساني

Menyesal, berduka dan tersentak seluruh keadaanku.
Air mataku berderai dan mulutku terkunci.

النفس حيرى والذنوب كثيرة  والعمر يمضي والحياة ثواني

Jiwaku linglung dan dosaku menumpuk.
Umur terus berlalu dan hidup hanyalah beberapa detik berlalu.

يا نفس كفي عن معاصيك التي  كادت تميت الحس في وجداني

Wahai jiwaku berhentilah dari maksiatmu, karena itu yang mematikan perasaanku.

أنسيت أن الموت آت، فاجمعي  يا نفس من طيب ومن إحسان

Apakah kamu lupa bahwa kematian pasti datang, maka bersiaplah
Wahai jiwaku berbekallah dengan kebaikan dan kebajikan.

أنا لست أخشى الموت بل أخشى الذي  بعد الممات، وعسرة السؤلان

Sebetulnya aku tidak pernah takut kepada kematian tapi takut kehidupan setelah kematian dan sulitnya pertanyaan.

ماذا أقول إذا فقدت إرادتي   وتكلمت بعدي يدي ولساني

Apakah yang akan aku ucapkan bila aku sudah tidak punya kehendak lagi. Dan bila setelah itu yang berbicara tanganku dan lisanku.

ماذا.. وكل جوارحي تحكي بما   صنعت.. ولست بعالم النسيان

Apakah yang akan terjadi… Saat seluruh anggota tubuhku berbicara tentang apa yang aku perbuat sementara aku tidak di alam lupa.

أخشاك يا شمس الشتاء فكيف لا   أخشى العذاب وحرقة النيران

Panas matahari musim dingin kau takuti bagaimana tidak takut adzab dan panasnya neraka.

أنا يا الهي حائر فتولني   ولأنت تهدي حيرة الحيران

Wahai Tuhanku, aku bingung bimbinglah aku karena sungguh Engkau penunjuk hamba yang sedang bimbang.

أنا إن عصيت فهذا لأني غافل   ولقد علمت عواقب العصيان

Andai aku bermaksiat terus hingga lupa diri. Padahal aku tahu akibat buruk kemaksiatan.

أنا إن عصيت فهذا لأني ظالم  والظلم صنع من يد الإنسان

Andai aku terus maksiat, sungguh aku zalim. Dan kezaliman sudah menjadi watak manusia.

لكنك الغفار فاغفر ما جنت   نفسي على نفسي فأنت الحاني

Akan tetapi Engkau maha pengampun maka ampunilah dosaku. Kesalahan demi kesalahan Engkau maha lembut.

أشكو إليك ضآلتي ومذلتي  فارفع بفضلك ما أذل زماني

Aku mengadu kepadamu akan kesesatan dan kehinaanku. Ya Allah Angkatlah dengan karuniamu dari kehinaan.

أدعوك في صمتي، وفي نطقي   وفي همسي بقلب دائم الخفقان

Aku memohon kepadamu pada tiap diam dan berbicaraku. Dan dalam bisikan hatiku aku selalu bermunajat Padamu.

أدعوك فاقبل دعوتي وارفع بها   شأني، وكن لي يا عظيم الشان

Aku berdoa kepadamu, terimalah doaku, Angkatlah derajatku dan tolonglah aku wahai dzat yang maha Agung.

لك في الفؤاد مهابة ومحبة   يا من بحبك يستضيء كياني

Engkau di hatiku senantiasa aku agungkan dan cintai. Wahai dzat yang dengan kecintaanmu bersinarlah kehidupanku.

أنا يا إلهي عائد من وحدتي   أنا هارب من كثرة الأشجان

Wahai Tuhanku, aku kembali dari peraduannya. Aku lari dari berbagai macam salahku.

من لي سواك يجيرني ويعيدني   من عالم الأهواء.. والشيطان

Tidak ada selainmu yang bisa melindungiku dan menyelamatkanku.
Dari hawa nafsu dan setan. 

سدت بوجهي كل أبواب المنى   فأتيت بابك طالب الغفران

Di hadapanku tertutup semua pintu harapan, aku datangi pintumu untuk mengejar pengampunan.

يارب إني قد أتيتك تائبا  فاقبل بعفوك توبة الندمان.

Wahai Tuhanku, sungguh aku datang kepadamu untuk bertaubat. Terimalah dengan ampunanmu sebagai hamba yang bertaubat penuh penyesalan.

Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

da051216-0626

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-15

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-14) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 15 🌼

Bahwa dakwah mereka, itu sifatnya tampak kepada manusia seluruhnya, tidak bersifat rahasia, tidak pula mengkhususkan.

Allah berfirman : [QS Yusuf : 108]

‎قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ

Katakanlah inilah jalanku, aku berdakwah kepada Allah

‎ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Diatas basiroh aku dan orang-orang yang mengikutiku

‎ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين

Dan mahasuci Allah, tidak aku termasuk orang yang berbuat kesyirikan

Demikian pula Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beraabda:

‎لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ

Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tampak di atas kebenaran

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata: “Kalau kamu melihat suatu kaum yang berbisik-bisik dalam agama mereka tanpa keumumman manusia, maka ketahuilah bahwa mereka di atas dasar kesesatan.” ( Ad-Darimi dalam “Sunannya”)

Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.
Imam Al-Bukhari berkata: “Bab bagaimana ilmu itu di cabut.”

Dan Umar bin Abdul ‘aziz menulis kepada Abu Bakar bin Hazm, “Lihatlah dari hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka tulislah, karena aku khawatir hilangnya ilmu dan hilangnya para ulama.”

Dan jangan kamu menerima kecuali hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam saja, hendaknya kamu menyebarkan ilmu dan hendaklah kalian duduk sampai di ajari orang-orang yang tidak faham. Karena ilmu tidak akan binasa sampai ia bersifat rahasia.” (Diriwayatkan Imam Al -Bukhari dalam shohinya).

Syaikh Ubailan berkata:
Mengajarkan ilmu syari’at dan menjelaskan agama kepada manusia harus sifatnya alamiah (terang-terangan) di masjid-masjid dan di tempat-tempat yang bersifat umum, yang bicara untuk mereka agama dan di jelaskan kepada mereka hukum-hukum syari’at supaya seluruh manusia mengambil manfaat dari situ, sehingga menyebarlah kebaikan.”

Inilah makna daripada dakwah mereka yang bersifat umum mengajarkan manusia kebaikan, mengajarkan perkara-perkara agama dan ibadah, demikian pula muamallah, antara yang baik dan tidak.

Maka hendaknya semua ini harus sifatnya terang-terangan, tidak boleh kita mengkhususkan dalam artian rahasia.
Maka kalau itu sifatnya rahasia, ini kata Uman bin Abdul ‘aziz, tanda bahwa mereka diatas KESESATAN

Maka dari itulah yang lebih baik dalam berdakwah itu bukan dengan ngumpet-ngumpet, kajian secara rahasia, tetapi hendaknya kajian itu terang-terangan di masjid-masjid, tempat-tempat umum.

Namun tentunya untuk akhwat, untuk para wanita, karena adanya hadits yang menunjukkan keutamaan mereka untuk di rumah, Syaikh Albani memandang bahwa kajian mereka di rumah itu lebih baik daripada di masjid dan di tempat umum…”kenapa ?”
Karena wanita itu hendaknya mereka tidak banyak keluar dari rumah.

Dan keluarnya wanita itu dari rumah merupakan perkara yang tentunya banyak menebar fitnah.
Walaupun datangnya wanita ke masjid untuk taklim boleh-boleh saja.
Tapi dengan syarat-syarat yang harusnya tentu di perhatikan, seperti:
** tidak tabaruj dan yang lainnya,
** tidak bercampur baur laki-laki dan wanita dan yang lainnya.

👉🏼 Perkumpulan-perkumpulan rahasia dalam urusan kebaikan dan urusan dakwah itu terlarang dalam Islam… “TIDAK BOLEH“.

👉🏼 Maka kewajiban kita adalah dakwah kita harus terlihat dengan jelas, supaya manusia mengetahui tentang kebenaran ini secara umum.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Sebarkan SALAM #3


Bismillahirrohmaanirrohiim…

ASSALAAMU ‘ALAYKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH…

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhu, ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai Islam bagaimana yang baik. Beliau menjawab, “Memberikan makan (pada orang yang membutuhkan), serta MENGUCAPKAN SALAM PADA ORANG YANG DIKENAL DAN YANG TIDAK DIKENAL.” 

(HR. Al Bukhari no. 6236).

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-14

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-13) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 14 🌼

Mereka ahlussunnah meyakini bahwa mengikuti hawa nafsu dalam masalah kebid’ahan itu akan merusak agama lebih berat dari pada mengikuti hawa nafsu dalam masalah syahwat, walaupun dua-duanya berat.
Bukan berarti bahwa melakukan hawa nafsu dalam syahwat itu di anggap remeh…”TIDAK“.

Akan tetapi kalau di banding-bandingkan mana yang lebih berat antara mengikuti hawa nafsu dalam masalah ke bid’ahan, dimana seseorang beribadah sesuai dengan seleranya dan hawa nafsunya, sehingga kemudian ia membuat-buat ibadah yang tidak di syari’atkan atau membuat-buat keyakinan sesuai dengan akalnya saja. Sehingga merubah ketentuan syari’at.
Mana yang lebih besar antara orang yang itu dengan orang yang mengikuti hawa nafsu dalam syahwat, seperti misalnya berzina ataupun yang lainnya.

Maka ahlussunnah memandang bahwa mengikuti hawa nafsu dalam masalah yang pertama untuk kebid’ahan itu lebih berat,..”KENAPA ?”
Karena itu bisa merusak-rusak aqidah, merusak agama, merusak ketentuan syari’at.

Sedangkan syahwat itu hanya merusak pribadi orangnya saja, tidak sampai merusak agama Dien ini, walaupun ke dua-duanya merupakan perkara yang berat yang bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka.
Kenapa demikian ?

Karena yang pertama ini sudah kita sebutkan bisa merusak agama. Dan itulah yang menyebabkan orang-orang ahli kitab dan orang-orang musyrikin kafir kepada kebenaran.

Allah berfirman : [QS Al-Qasas : 50]

‎فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ

Jika mereka tidak mau mengikuti dakwah, wahai Muhammad, ketahuilah sesungguhnya mereka mengikuti hawa nafsu mereka

‎وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ

“Dan adakah orang yang paling sesat dari orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tanpa petunjuk dari Allah”

Disini Allah mengatakan, bahwa orang yang paling sesat itu adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak mau mengikuti petunjuk, tidak mau mengikuti hidayah, tidak mau mengikuti dien yang Allah turunkan karena lebih mengikuti nenek moyang atau keyakinan-keyakinan bapak-bapak atau pendeta-pendeta mereka dan yang lainnya.

Inilah yang di sebut dengan hawa nafsu dalam dien dengan kebid’ahan dan pemikiran-pemiliran yang menyesatkan.
Allah mengatakan bahwa adakan orang yang paling sesat atau lebih sesat dari orang-orang seperti itu.
Ini menunjukkan ini adalah lebih berat dan sangat berat sekali.

Maka dari itu ikhwatal Islam saudaku sekalian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan itu dalam ayat-ayat yang banyak tentang bahaya mengikuti hawa nafsu dalam masalah dien.

Allah juga berfirman: [QS Al-Maidah : 77]

‎يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Hai ahli kitab, jangan kamu berlebih-lebihan dalam agama kamu itu dengan tanpa hak, jangan kamu mengikuti hawa nafsu kaum yang yelah sesat sebelum kamu. Mereka telah menyesatkan banyak orang dan sesat dari jalan yang lurus

Allah mengatakan bahwa di larang untuk berlebih-lebihan dalam dien. Lalu Allah mengatakan jangan mengikuti hawa nafsu, artinya dalam agama tidak boleh di sesuaikan dengan selera dan hawa nafsu karena inilah lebih berat.

Allah juga berfirman: [QS Al-Baqarah : 120]

‎وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ _ۗ

Orang Yahudi dan Nasrani  tidak akan ridha kepada kamu, sampai kamu mengikuti millah mereka.

‎وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ _ۗ

Katakanlah sesungguhnya hidayah Allah itulah hidayah yang terbaik

‎وَلَنْ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Kalau kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepada kamu dari ilmu, maka Allah tidak akan menjadi wali dan tidak pula menjadi penolong buat kamu.

Disini ancaman keras bagi orang yang mengikuti hawa nafsu Yahudi dan Nasrani di dalam agama dan merubah-rubah dien.

‎نسأل الله السلامة والعافية

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT : KAIDAH BERIKUTNYA
Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-15

Sebarkan SALAM #2


Bismillahirrohmaanirrohiim…

ASSALAAMU ‘ALAYKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH…

Dari Abu Hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk SURGA sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai ? SEBARKAN SALAM di antara kalian”

(HR. Muslim, at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad – lihat Shohiihul Jaami’ no. 7081)

Sebarkan SALAM kepada sesama MUSLIM, baik yang anda kenal maupun yang anda tidak kenal.
.
Sebagian kalangan berlaku aneh karena hanya mau mengucapkan salam pada orang yang segolongan dengannya. Di luar kelompoknya, ia pun bersikap cuek, tidak mau mengucapkan salam, lebih dari itu tidak mau berbicara. Padahal mereka yang pantas disalami adalah seorang muslim, bukan kafir yang tidak boleh mendahulukan ucapan salam pada mereka.
.
Imam Al Bukhari dalam kitab shahihnya membawakan hadits berikut dalam judul Bab “Salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal”.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhu, ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai islam bagaimana yang baik. Beliau menjawab, “Memberikan makan (pada orang yang membutuhkan), serta MENGUCAPKAN SALAM PADA ORANG YANG DIKENAL DAN YANG TIDAK DIKENAL.” (HR. Al Bukhari no. 6236).
.
Dikeluarkan oleh Ath Thohawiy, Ath Thobroniy, Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan bentuk yang lain dari Ibnu Mas’ud . Hadits ini sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: hadits marfu’). Lafazh hadits tersebut adalah:

مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ

DI ANTARA TANDA-TANDA (dekatnya) HARI KIAMAT adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia HANYA MENGUCAPKAN SALAM KEPADA ORANG YANG DIA KENALI SAJA.” (Lihat Fathul Bari, 11: 25)
.
Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “MENGUCAPKAN SALAM KEPADA ORANG YANG TIDAK KENAL MERUPAKAN TANDA IKHLASH DALAM BERAMAL KEPADA ALLAH TA’ALA, tanda tawadhu’ (rendah diri) dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” (Lihat Fathul Bari, 11: 25)
.
Coba lihat bagaimana amalan mulia ini dianggap sebagai bentuk tawadhu’ (rendah diri).
.
.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc,  حفظه الله تعالى
.
Sumber : https://rumaysho.com/3213-hanya-mengucapkan-salam-pada-orang-yang-dikenal.html

Diantara Sebab Bandelnya Anak…

Kita mungkin heran melihat ada seorang sholeh dan begitu cerdas sekelas Al-Imam Al-Bukhari (Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh bin Bardzibah Al-Bukhari Al-Ju’fi) rahimahullah. Kita sungguh berangan-angan bisa memiliki anak yang sholeh seperti Al-Imam Al-Bukhari dan juga para imam yang lainnya.

Diantara sebab Al-Imam Al-Bukhari menjadi anak yang sholeh adalah karena kesholehan ayah beliau Abul Hasan Isma’il bin Ibarahim.

Ahmad bin Hafsh berkata:

دَخَلْتُ عَلَى أَبِي الْحَسَنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنَ إِبْرَاهِيْمَ عِنْدَ مَوْتِهِ فَقَالَ: لاَ أَعْلَمُ فِي جَمِيْعِ مَالِي دِرْهَماً مِنْ شُبْهَةٍ

“Aku masuk menemui Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata, “Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat” (Taariikh At-Tobari 19/239 dan Tobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubro 2/213)

Setelah sang ayah meninggal dunia maka Al-Imam Al-Bukhari dipelihara dan dirawat oleh sang ibu. Akan tetapi pada hakekatnya Allah-lah yang telah memelihara Al-Imam Al-Bukhari dan memberikan kesholehan kepadanya karena kesholehan ayahnya.

Allah berfirman :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu” (QS Al-Kahfi : 82)

Al-Haafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وقد قيل إنه كان الاب السابع وقيل العاشر. وعلى كل تقدير فيه دلالة على أن الرجل الصالح يحفظ في ذريته

Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas-pen) adalah ayah/kakek ketujuh, dan dikatakan kakek yang kesepuluh. Dan apapun pendapatnya (kakek ke 7 atau ke 10-pen) maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang sholeh akan dijaga keturunannya” (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/348)

Lihatlah bagaimana Allah menjaga sampai keturunan yang ketujuh karena kesholehan seseorang.

*Sekarang kita renungkan tentang diri kita sebagai ayah…apakah kita termasuk orang-orang sholeh…?? Banyak ibadah…?, menjaga diri untuk tidak memakan dan membeli dari harta yang syubhat??*

Maka janganlah seseorang heran jika mendapati anak-anaknya keras kepala dan bandel…, tidak mau diajak sholat ke masjid…, sulit untuk menghafal al-Qur’an.., tidak mau disuruh ngaji…!!!

Bisa jadi sebabnya adalah dirinya sendiri yang tidak sholeh dan memakan atau menggunakan harta haram…sehingga dampaknya kepada anak-anaknya.

Seorang salaf berkata:

إِنِّي لَأَجِدُ أَثَرَ الْمَعْصِيَةِ فِي أَهْلِي وَدَابَّتِي

Sungguh aku mendapati dampak buruk maksiat pada keluargaku dan tungganganku

Akan tetapi memang bisa saja Allah menguji seorang yang sholeh dengan anak-anak yang bandel dan durhaka, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Nuuh ‘alaihis salaam, demikian juga kisah tentang anak Ibnul Jauzi rahimahullah.

Akan tetapi pada asalnya bahwa jika seorang ayah sholeh maka Allah akan menjaga anak-anaknya. Wallahu a’lam bi As-Showaab.

Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja MA,  حفظه الله تعالى
Sumber: http://firanda.com/index.php/artikel/keluarga/526-diantara-sebab-bandelnya-anak

Radio Rodja 756 AM | Rodja TV

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-13

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-12) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 13 🌼

Mereka memandang tidak boleh atau haram hukumnya memberontak kepada pemimpin yang zalim dan fasik selama dia masih muslim dan sholat.
Bahkan mereka mencela orang yang memberontak itu…kenapa ?
Karena berdasarkan hadits yang sangat banyak dan ijmaa’ Ulama Ahlussunnah dalam hal ini.

Adapun hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
Siapa yang mengingkari keburukan mereka ia telah berlepas diri dan siapa yang membenci atau tidak suka keburukan tersebut, ia telah selamat, tapi yang celaka itu orang yang ridho dan mengikuti keburukan mereka.

Lalu mereka berkata, “Bolehkah kami melawan mereka dengan pedang ?” Kata para sahabat.
Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh, selama mereka menegakkan untuk kalian sholat.
(HR Imam Muslim di Nomer 4906)

Disini tegas bahwa kewajiban kita, kalau pemimpin tersebut melakukan keburukan, kita tidak suka keburukan itu.
Tapi TIDAK BOLEH kita melawan mereka dengan pedang atau memberontak.

Karena Rasulullah mengatakan: “Tidak boleh selama mereka menegakkan pada kalian sholat.”

Demikian pula dari hadits Hudzaifah bin Al Yaman yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

‎يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى

Akan ada setelahku pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mau mengambil sunnahku.”

Berarti ini pemimmpin berhukum dengan hukum selain Allah.

Dan akan ada pada mereka orang-orang yang hati mereka hatinya hati setan dalam tubuh manusia.

Lalu kata Hudzaifah, “Bagaimana aku lakukan, jika aku dapatkan pemimpim-pemimpin seperti itu, hai Rasulullah ?

Kata Rasulullah: “Tetap kamu dengar dan ta’at, maksudnya dalam perkara yang ma’ruf. Walaupun ia memukul penggungmu dan mengambil hartamu, tetap dengar dan ta’at.
(HR Muslim di nomer hadits 4891)

Disini Rasulullah tegas, walaupun dia menzolimi kamu, tetap kamu harus sabar menghadapinya….سُبْحَانَ اللّهِ …ini sesuatu yang luar biasa berat tentunya.

Berkata Syaikhul Islam Taimiyah:
Orang-orang yang ahli bid’ah yang menyangka bahwa mereka di atas kebenaran seperti orang-orang khawarij. Yang mereka menegakkan permusuhan dan peperangan terhadap jama’ah kaum muslimin, maksudnya pemimpin kaum muslimin. Maka merekapun berbuat bid’ah dan mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan mereka.

Maka bahaya orang-orang khawarij itu lebih besar daripada bahaya pemimpin-pemimpin yang zalim.

Orang-orang yang berbuat zalim itu sebetulnya tahu bahwa itu adalah haram.
Maksudnya para pemimpin yang zalim itu terkadang mereka tahu bahwa mereka telah berbuat keharaman.

Itu lebih mending daripada orang-orang khawarij yang mengatasnamakan agama, mengkafirkan, memberontak, akhirnya terkucurlah darah kaum muslimin.

Maka dari itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam jauh-jauh hari sudah memperingatkan tentang bahaya khawarij itu.
Dimana Rasulullah mengatakan:

الْخَوَارِجُ كِلابُ النَّارِ

Khawarij itu anjingnya api neraka
(Diriwayatkan oleh Imam Al-Ajurri)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan dalam riwayat Muslim, kata Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:

شر قتلى قتلوا تحت أديم السماء

Seburuk-buruknya orang yang terbunuh adalah orang khawarij dan sebaik-baiknya orang yang di bunuh adalah yang di bunuh oleh orang khawarij.”

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Sebarkan SALAM #1


Bismillahirrohmaanirrohiim…

ASSALAAMU ‘ALAYKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH…

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Sebarkan SALAM, berilah makan, dan jadilah kalian bersaudara sebagaimana Allah perintahkan.”

(HR. Ibnu Majah, Syaikh Al Albani berkata Shohih – lihat Shohiihul Jaami’ no. 1089)