All posts by BBG Al Ilmu

Bedakan Antara Pencatatan dan Pembukuan Hadits… dan Sebab Imam Al Bukhori Rohimahullah Menulis Kitab Shahih Al Bukhori…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

 

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-7

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-6) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 7 🌼

Bahwa mereka mengagungkan seluruh perkara-perkara agama.
Maka mereka menyerukan kepada apa yang di seru oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai kemampuan.

Manhaj salaf tidak pernah meremehkan perkara masalah apapun dari urusan agama.
Adapun orang yang tidak mengikuti salaf, mereka meremehkan sebagian perkara agama dengan alasan furu’ (cabang) katanya.
Sehingga mereka menganggap bahwa masalah furu’ itu tidak perlu di besar-besarkan.

Sehingga dengan seperti itu mereka tidak menghormati masalah-masalah yang sifatnya furu’.
Masalah-masalah yang mereka anggap sepele, seperti masalah jenggot, masalah isbal dan yang lainnya.

Sedangkan PENGIKUT MANHAJ SALAF TIDAK PERNAH MEREMEHKAN MASALAH-MASALAH AGAMA SEKECIL APAPUN JUGA.

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Baqarah : 208] :

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Hai orang-orang yang beriman, masuklah di dalam Islam seluruhnya.”

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, jilid 1 halaman 335:
Allah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman yang membenarkan Rasulnya, agar mereka berpegang kepada seluruh tali-tali Islam dan syari’at-syari’atnya.
Dan mengamalkan seluruh perintah-perintahNya. Dan meninggalkan semia larangan-laranganNya. Selama mereka punya kemampuan.”

Allah juga berfirman [QS Al-Hajj : 32]

‎ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu adalah termasuk ketaqwa’an hati.

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah, itu adalah menunjukkan ketaqwaan hati. Sedangkan seluruh agama, seluruh yang Allah perintahkan dalam Alqur’an dan di perintahkan oleh Rasul, sekecil apapun itu adalah syiar Allah yang harus kita agungkan.

Allah juga berfirman [QS An-Nur : 15]

‎إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ

Ingatlah ketika kalian mengambilnya dengan lisan-lisan kalian dan kalian mengucapkan dengan mulut-mulut kalian, apa-apa yang tidak ada padanya ilmunya dan kalian menganggap itu hina atau remeh. Padahal itu di sisi Allah besar.”

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang meremehkan perintah-perintah Allah, syariat Allah yang mereka anggap remeh, maka ini termasuk perkara kemunafikan.

Dan berapa banyak yaa ahowat Islam, perkara-perkara yang di anggap remeh, tapi ternyata…سُبْحَانَ اللّهِ … itu tonggak kebaikkan kaum muslimin.

Contoh misalnya masalah yang berhubungan dengan takjil atau mempercepat/mempergegas berbuka puasa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Senantiasa umatku diatas kebaikan, selama mereka bergegas berbuka puasa.”

Ini dia masalah meluruskan shaff, ternyata jika kita tidak lakukan itu menyebabkan itu hati kita bercerai berai.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan Hadits An-Nu’man bin Basyir raddliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎ عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

hai hamba-hamba Allah luruskan shaff-shaff dan kalian atau Allah akan jadikan hati kalian bercerai berai.

Nah ini Ikhwatul Islam,
👉🏼 JADI KITA DI
DALAM MENDIDIK ADALAH DIDIKLAH MEREKA DALAM MENGAGUNGKAN SYARIAT-SYARIAT ALLAH SEKECIL APAPUN.
Selama itu adalah perintah Allah dan perintah Rasulnya. Kita mengagungkan Ia.
Jangan menganggap meremeh masalah yang dianggap katanya furu’ (bercabang)

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Sudah Berapa Kali..?

Sudah berapa kali kita bernafas sejak Shubuh tadi ? TAK TERHITUNG…

Sudah berapa kali jantung kita berdetak sejak Shubuh tadi ? TAK TERHITUNG…

Sudah berapa kali sejak Shubuh tadi kita bersyukur kepada Allah atas dua nikmat diatas ? MUNGKIN BELUM SAMA SEKALI…

#renungan

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-6

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-5) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 6 🌼

Mereka memulai dakwah mereka, dengan yang dimulai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Mereka mendahulukan apa yang di dahulukan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Maka dengan cara seperti ini sangat memungkinkan untuk menghasilkan maslahat dan menjauhi mafsadah.

Maksud beliau adalah dalam berdakwah kita hendaknya melihat mana yang lebih di dahulukan yaitu masalah TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.

Ambil sebuah contoh misalnya nasihat Luqman kepada anaknya.

Allah Ta’ala berfirman [QS. Luqman : 13]

‎وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, dimana Luqman menasehatinya. Ia berkata, ‘Hai anakku jangan kamu sekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedholiman yang agung.”

Maka para Rasulpun demikian, mereka memulai dakwah dari TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.

Tidak ada Rasul yang memulai dakwahnya dari ekonomi misalnya, atau dari politik misalnya……Tidak ada.
Semua Rasul berdakwah di mulai dari tauhid, menjauhkan agar manusia menjauhkan kesyirikan.

Allah berfirman: [QS Al-Anbiyaa:25]

‎وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Tidaklah kami utus seorang Rasulpun, kecuali kami wahyukan kepadanya , bahwa tidak ada ILLAH yang berhak di sembah kecuali Aku. Maka sembahlah Aku.”

Maka di dalam berdakwah, ketika TIDAK memulai dari sisi tauhid, tapi lebih misalnya mendahulukan masalah-masalah yang lain.
Ini adalah ciri dakwah yang tidak sesuai dengan manhaj para nabi.

Dan dakwah seperti ini tidak akan berdiri di atas azas yang kokoh.
Karena pondasi seseorang adalah tauhid.
Pondasi amal tauhid seseorang tidak akan beramal, kecuali apabila aqidah telah kuat di hati, menghujam di dada.
Tapi ketika aqidah itu masih lemah, maka dia tidak akan membuahkan amal.

Adanya orang-orang yang masih suka berbuat maksiat itu akibat dari pada lemahnya keimanan, lemahnya aqidah.

Maka dari itulah, ketika pondasinya telah di kuatkan, إِنْ شَاءَ اللّهُ untuk membuat diam dan yang lainnya itu lebih kokoh lagi… bi-iznillah.

Oleh karena itulah ya Akhowat Islam , semua yang mereka memulai dakwahnya dari TAUHIDULLAH, pasti Allah akan bela, Alllah akan tolong mereka.
Bahkan buah dan hasilnya akan lebih berkah.

Maka lihatlah bagaimana dakwahnya Syaikhul Islam Taimiyah, dakwahnya Syaikh Muhamammad bin Abdul Wahab dan juga para ulama-ulama yang mereka memulai dakwahnya dari TAUHIDULLAH JALLA WA ‘ALA.
Maka sangat berkah sekali dan hasilnya pun juga memberikan berbagai macam kebaikan-kebaikan.

Ya inilah ya Akhul Islam, kaidah yang ke 6 yang harus kita perhatikan di dalam masalah berdakwah yaitu memulai yang paling penting, kemudian setelahnya yang penting-penting.
Jangan sampai kita memulai yang tidak terlalu penting, lalu kita tinggalkan yang lebih penting dari itu.

Demikian pula kita dalam menuntut ilmupun juga demikian.
Kita mulai menuntut ilmu dari perkara yang paling penting terlebih dahulu.
Yaitu untuk masalah tauhid, masalah iman dan segala sesuatu yang menyempurnakan keimanan.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-5

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-4) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 5 🌼

Bahwa dakwah yang mereka prioritaskan dan pertama kali mereka serukan adalah TAUHID

Maka dakwah tidak akan pernah sukses, dan ibadahpun tidak akan di terima kecuali dengan Tauhid.

Karena para Rasul demikian di perintahkan oleh Allah.

Allah berfirman [QS Al-Anbiyaa:25]

‎وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Tidaklah kami utus seorangpun Rasul sebelummu, kecuali Kami wahyukan kepadanya: Bahwa tidak ada Illah yang berhak di sembah kecuali Aku, maka beribadahlah kepada Ku.”

Nabi juga ketika mengirim para da’i ke negeri-negeri, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau ajarkan kepada mereka supaya yang pertama kali mereka dakwahkan adalah LAA ILLAAHA ILLALLAH

Seperti dalam hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’az ke Yaman, beliau bersabda:
Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kamu dakwahi adalah syahadat LAA ILLAAHA ILLALLAH

Maka dari itulah dakwah-dakwah yang tidak memulai dari tauhid, hakikatnya adalah dakwah yang membuang pokok dan azas segala sesuatu.
Makanya dakwah para Nabi dari tauhid dulu.
Karena itulah pokoknya, azasnya.
Amalnya tidak akan di terima kecuali dengan tauhid.

Bahkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan datang kecuali dengan adanya tauhid.

Maka TAUHIDULLAH yaitu mengesakan Allah dan menjauhkan kesyirikan adalah sumber kemenangan, sumber keberkahan, sumber pertolongan, bahkan sumber berbagai macam kebahagiaan bagi seorang hamba adalah Tauhidullah Jalla Jalalu

Maka suatu dakwah yang tidak memperhatikan masalah tauhid itu adalah dakwah yang tidak sesuai dengan dakwah para nabi.

Kita lihat di zaman sekarang ada yang memulai dakwah , dan prioritas dakwahnya terlihat dalam masalah politik, yang lain bahas masalah khilafa, yang lain bahas masalah fadhail amal.
Ini semua tentunya dakwah yang tidak sesuai dengan manhaj para Rasul.

Dakwah yang haq, dakwah yang sesuai dengan manhaj para Rasul adalah dakwah yang menitik beratkan kepada masalah tauhid.
Menjadikan manusia untuk hanya mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.

Karena itulah perintah Allah yang teragung/ yang terbesar.
Bahkan itulah tujuan penciptaan manusia dan jin.

Allah berfirman:
Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku saja.

Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.
Maka seorang yang beramal dengan amal apa saja, kalau ia berbuat syirik tidak akan di terima Allah.

Maka bagaimana suatu dakwah akan tegak, akan menang sementara mereka tidak peduli dengan adanya kesyirikan. Tidak berusaha untuk mengingkari kesyirikan.

👉🏼 Maka dakwah yang haq adalah dakwah yang benar-benar mengagungkan masalah tauhid.
Dakwah yang benar-benar memprioritaskan masalah Tauhid Wallahi jalla wa’ala

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silakan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Berhentilah, Wahai Pelaku Maksiat…

Wahai pelaku maksiat, berhentilah dari semua dosa dan maksiat yang dimurkai Allah…

Engkau menginginkan kenikmatan Surga, tetapi tetap bergelimang dalam kemaksiatan…
Engkau menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, tetapi tetap berpindah dari satu maksiat ke maksiat yang lain…

Sampai kapan kebaikan-kebaikan tetap gersang, sedangkan keburukan-keburukan terus bersemi…?
Sampai kapan merasa acuh tak acuh, padahal telah datang ancaman siksa yang sangat keras…?
Sampai kapan engkau marah ketika dinasihati…?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ أبغضَ الكلامِ إلى اللَّهِ أن يقولَ الرَّجلُ للرجل : اتَّقِ اللَّهَ ، فيقولُ عليكَ نفسك

“Sesungguhnya ucapan yang paling dibenci Allah adalah seseorang yang ketika dikatakan kepadanya : “Bertakwalah kamu kepada Allah“, maka dia pun menjawab : “Urusi saja dirimu sendiri” (HR. An-Nasaa’i, hadits dari Abdullah bin Mas’ud, lihat ash-Shahiihah no. 2939 dan 2598)

Bukankah sekarang waktunya untuk menyesali dosa-dosa yang telah lalu…?
Bukankah sekarang waktunya bangkit dari kelalaian…?
Bukankah sekarang waktunya untuk mengagungkan Rabbul ‘izzah…?
Bukankah sekarang waktunya untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah…?

Berapa banyak air mata penyesalan tertumpah di hari Kiamat, menangisi dosa-dosa yang tercatat di dalam Kitab…?
Siapakah yang akan membela saat berdiri di hari Hisab, lalu ditanyakan apa yang diperbuat…?

Sungguh aneh, bagaimana manusia bergembira, sementara maut membuntuti, kuburan menanti, Kiamat semakin mendekati, dan dihadapan Allah kelak mereka berdiri…

Alangkah kerasnya hati akibat cinta dunia, dan mengabaikan kematian…
Alangkah kerasnya hati akibat banyaknya dosa dan maksiat, serta mengabaikan akhirat…

Manusia yang hatinya lembut adalah jika hatinya merasa takut kepada Allah, hingga mereka paling sedikit dosanya dan cepat meneteskan air mata…

Jika rasa takut itu berada di dalam hati, maka ia akan membakar tempat-tempat nafsu syahwat di hati, dan akan mengusir kecintaan terhadap dunia darinya…

Ketika hasrat ibadah terasa lemah, saat taat dirasa berat, tatkala syahwat makin menguat, dan kala hati terkubur dalam futur, maka jawablah :

Relakah aku mati dalam keadaan seperti ini ?

Hitungan terakhir adalah keluarnya nyawa…
Hitungan terakhir perpisahan dengan keluarga…
Hitungan terakhir adalah masuknya ke kubur…

Bersegeralah, wahai pelaku maksiat…!

Yang tersisa tinggal beberapa hembusan nafas…
Sekiranya dia tertahan, niscaya terputuslah amalan…
Semoga Allah merahmati orang yang melihat dirinya, lantas menangis karena dosa-dosanya…

Demi Allah, barangsiapa tidak mendapatkan rahmat, maka tempatnya adalah adzab Allah…
Demi Allah, barangsiapa tidak mendapatkan ampunan, maka tempatnya adalah adzab Allah…
Demi Allah, barangsiapa tidak mendapatkan Surga, maka tempatnya adalah Neraka Allah…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى 

Do’a Kala Dilanda Kesedihan #1

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) : DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUK,
WABNU ‘ABDIK.. WABNU AMATIK,
NAASHIYATII BIYADIK,
MAADHIN FIYYA HUKMUK,
‘ADLUN FIYYA QODHOO-UK,
AS-ALUKA BIKUL-LISMIN HUWA LAK,
SAMMAYTA BIHI NAFSAK,
AW ANZAL-TAHU FII KITAABIK,
AW ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHOLQIK,
AWIS TA’-TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHOIBI ‘INDAK,
AN TAJ’ALAL QUR’AANA ROBII’A QOLBII
WANUURO SHODRII
WAJALAA-A HUZNII
WA DZAHAABA HAMMII

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.”

Do’a di atas didasarkan pada hadits dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallah ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Tidaklah seseorang tertimpa kegundahan dan kesedihan lalu berdo’a (dengan do’a di atas) . . . melainkan Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegelisahannya serta menggantikannya dengan kegembiraan.

Ibnu Mas’ud berkata, “Ada yang bertanya, Ya Rosulallah, bolehkah kita mempelajarinya ?’ Beliau menjawab, Ya, sudah sepatutnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya‘.

(HR. Ahmad dalam Musnadnya I/391, 452, Al-Hakim dalam Mustadraknya I/509, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya VII/47, Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2372, Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 10198 –dari Maktabah Syamilah-. Hadits ini telah dishahihkan oleh Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim, keduanya banyak menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka. Juga dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Takhriij Al-Adzkaar dan dishahihkan oleh Al-Albani  dalam al-Kalim al Thayyib hal. 119 no. 124 dan Silsilah Shahihah no. 199.)