All posts by BBG Al Ilmu

Menjadikan Sabar Dan Sholat Sebagai Penolong

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya),

“Wahai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar..” ( Qs Al Baqoroh – 153 )

● Imam asy-Syaukani rohimahullah berkata,

Dalam ayat ini terdapat motivasi terbesar bagi hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menetapi sifat sabar ketika menghadapi segala kesusahan..

karena barangsiapa yang Allah bersamanya, maka dia tidak akan takut (menghadapi) segala rintangan (apapun) meskipun (sebesar) gunung.

( Fathul Qodîr – 1/246 )

● Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

Seorang mukmin, setiap kali bertambah kesulitan yang menimpanya, maka bertambah pula keimanannya kepada Allah..

Karena dia beriman bahwa,
* pertolongan bersama kesabaran,
* jalan keluar bersama penderitaan,
* bersama kesulitan ada kemudahan.

( Syarah Riyadh Ash Shoolihiin – 222 )

Penghalang Dari Adzab Allah

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin (w. 1421 H) rohimahullahu ta’ala berkata,

أنجى ما ينجيك من عذاب الله عز وجل هو ذكر الله, فعليك بالذكر دائما. والإنسان الموفق يمكن أن يذكر الله على كل حال كما قالت عائشة رضي الله عنها (كان النبي ﷺ يذكر الله على كل أحيانه.

Sesuatu yang paling besar harapannya untuk menyelamatkanmu dari adzab Allah adalah dzikir. Maka hendaknya engkau selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dan seorang hamba yang terbimbing akan selalu dimudahkan berdzikir kepada Allah di setiap keadaan apapun. Sebagaimana Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha pernah mengatakan, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam senantiasa berdzikir kepada Allah di setiap keadaannya.

( Syarah Bulughul Maram – 15/445 )

Yang Paling Baik Ibadahnya

Dikatakan kepada Sa’id bin Jubair (w. 95 H) rohimahullah,

“من أعبد الناس؟ “

Siapakah manusia yang paling baik ibadahnya..?

Beliau menjawab,

“رجل اجترح من الذنوب, وكلما ذكر ذنوبه احتقر عمله.”

Seseorang yang melakukan dosa, dan setiap ia mengingat dosanya, ia menganggap rendah amal (sholeh)nya (sehingga ia lebih semangat beramal sholeh).

( Shifatush Shofwah – 551 )

Kekawatiran Sahabat Akan Dirinya – Dan Kita Pun Harusnya Lebih Kawatir Lagi Akan Diri Kita

Seorang sahabat menangis ketika menjelang kematiannya dan ditanyakan kepadanya tentang hal itu, maka dia menjawab,

سمعت رسول الله ﷺ يقول : إن الله تعالى قبض خلقه قبضتين فقال : هؤلاء في الجنة وهؤلاء في النار، ولا أدري في اي قبضتين كنت.

Aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Sesungguhnya Allah Ta’ala menggenggam makhluk-Nya menjadi dua genggam, kemudian Allah Ta‘ala berfirman, ‘yang ini di surga dan yang ini di neraka..’

Sementara aku tidak mengetahui ada di genggaman yang mana diriku.

(Jaami’ul Uluum wal Hikam – 56)

Agar Bisa Menghadapi Masalah Dengan Mudah

Apapun masalahnya, sebesar dan sesulit apapun masalah kita, jika kita DEKAT dengan Allah, pasti semuanya bisa dihadapi dan dijalani dengan mudah.

Karena tidak ada yang sulit di hadapan Allah yang maha mengetahui segala sesuatu, maha kuat, dan maha berkuasa atas segala sesuatu.

Ingatlah terus firman-Nya,

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب، ومن يتوكل على الله فهو حسبه

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya..” [Ath-Thalaq 2-3]

Jika kita sudah dekat dengan Allah, maka alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah ta’ala .. Jika belum, maka fokuslah untuk terus mendekat kepada-Nya.

Mohonlah terus kepada-Nya, agar masalah-masalah itu dimudahkan dan diangkat oleh-Nya, terutama dalam sujud-sujud kita .. Tidak ada yang bisa memudahkan dan mengangkat masalah kita, kecuali Dia.

Semoga bermanfaat dan Allah berkahi, aamiin

✏️
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sedekah Sebagai Naungan Kelak Di Akherat

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ

“Naungan orang yang beriman pada hari kiamat adalah sedekahnya..” (HR. Ahmad)

Maka hendaknya kita bersedekah.

Bersedekah jangan menunggu kaya dan menunggu nanti. Semakin berat bersedekah, semakin besar pahalanya. Semakin rasanya kita bakhil dengan harta yang kita miliki kemudian kita keluarkan dan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka semakin besar pahalanya.

Diantara pahalanya adalah setiap orang yang bersedekah dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan dinaungi oleh sedekahnya pada hari kiamat kelak.

Dari Kajian ‘Keutamaan & Keajaiban Sedekah’
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi Lc, حفظه الله تعالى

Jauhilah Lima Perkara

Ada seseorang datang kepada al-Imam Ibnul Mubarok rohimahullah lalu berkata, ‘berikanlah nasehat kepadaku..’

Maka Ibnul Mubarok rohimahullah pun mengatakan,

اترك فضول النظر توفق للخشوع، واترك فضول الكلام توفق للحكمة، واترك فضول الطعام توفق للعبادة، واترك فضول النظر فى عيوب الناس توفق فى الإطلاع على عيب نفسك، اترك الخوض في ذات الله توق الشك و النفاق.

1. Jauhilah olehmu dari banyak melihat sesuatu yang tidak bermanfaat, niscaya engkau akan dimudahkan untuk lebih khusyu’ (dalam beribadah).

2. Jauhilah olehmu dari banyak berbicara yang tidak bermanfaat, niscaya engkau akan dimudahkan untuk memiliki hikmah (dalam segala keadaan).

3. Jauhilah olehmu dari banyak makan secara berlebih-lebihan, niscaya engkau akan dimudahkan untuk beribadah.

4. Jauhilah olehmu dari keinginan untuk mengetahui dan mencari-cari aib orang lain, niscaya engkau akan dimudahkan untuk melihat dan mengetahui aib dirimu sendiri.

5. Dan tinggalkanlah perdebatan dalam berbicara tentang Dzat Allah (dalam masalah agama), niscaya engkau akan dilindungi dari penyakit kebimbangan dan kemunafikan.

( Tanbihul Mughtaribin – 88 )

Kekayaan Yang Sesungguhnya

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah (diukur) dari banyak harta benda, akan tetapi kekayaan itu ialah kekayaan hati (yang selalu merasa cukup)..”

(HR. Al Bukhari no. 6446 – Muslim no. 1051)

● Al-Imam Ibnu Baththol rohimahullahu Ta’ala berkata,

معنى الحديث ليس حقيقة الغنى كثرة المال، فكثير من الموسع عليه فيه لا ينتفع بما أوتي، جاهد في الازدياد لا يبالي من أين يأتيه.
فكأنه فقير من شدة حرصه، وإنما حقيقة الغنى غنى النفس، وهو من استغنى بما أوتي وقنع به ورضي ولم يحرص على الازدياد ولا ألحّ في الطلب.

Hadis ini bermakna bahwa kekayaan yang sebenarnya bukanlah pada harta yang banyak. Karena, banyak orang yang Allah luaskan harta padanya namun ia tidak merasa cukup dengan pemberian itu, ia terus bekerja untuk menambah hartanya sehingga ia tidak peduli dari mana harta itu didapatkan, maka seakan-akan ia orang yang miskin, disebabkan karena ambisinya (terhadap dunia) yang sangat besar.

Oleh karena itu kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa, yaitu orang yang selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak terlalu berambisi untuk menambah hartanya dan terus-menerus mencarinya.

(Syarah Shohih Al Bukhari no. 6646)

Baik Dan Buruknya Sikap Seorang Istri Bisa Mempengaruhi Perilaku Suaminya

Al Hasan Al Bashri (w. 110 H) rohimahullahu Ta’ala bercerita,

Suatu hari aku pernah mendatangi sebuah toko pakaian di salah satu sudut kota Makkah karena ingin membeli sebuah baju. Ketika aku berada di toko tersebut mulailah si pedagang memuji-muji barangnya dan bersumpah .. aku pun meninggalkannya sambil berkata pada diriku, ‘tidak pantas aku membeli barang dari orang seperti ini..’

Dan aku pun membeli baju dari pedagang yang lain.

Dua tahun kemudian aku berhaji dan pergi ke tempat orang yang sama dan kali ini aku tidak lagi mendapati dia memuji-muji pakaiannya dan tidak suka bersumpah ..

Aku pun bertanya kepadanya, ‘bukankah engkau yang dahulu aku temui berjualan di sini..?’

Pedagang itu menjawab, ‘iya benar..’

Lalu aku katakan kepadanya, ‘apa yang membawamu kepada perubahan yang aku lihat sekarang..? aku tidak lagi melihatmu memuji dan bersumpah..’

Pedagang itu bercerita, ‘dahulu aku memiliki seorang istri yang kalau aku datang membawa rezeki yang sedikit dia mencela dan meremehkannya .. kalau aku bawakan dia rezeki yang banyak dia malah anggap sedikit dan kurang .. Allah Ta’ala melihat keadaanku dan mewafatkan istriku.

Lalu aku pun menikah dengan wanita lain yang memiliki agama dan akhlak yang baik .. jika aku hendak pergi memenuhi kewajiban harianku ke pasar, ia tarik bajuku lalu berpesan kepadaku,

يَا فُلانُ ، اتَّقِ اللَّهَ ، وَلا تُطْعِمْنَا إِلا طَيِّبًا ، إِنْ جِئْتَنَا بِقَلِيلٍ كَثَّرْنَاهُ ، وَإِنْ لَمْ تَأْتِنَا بِشَيْءٍ أَعَنَّاكَ بِمِغْزَلِنَا !

‘wahai suamiku, takutlah kepada Allah, berikanlah kami dari makanan yang halal .. kalau engkau datang membawa rezeki yang sedikit, niscaya aku akan membuatnya banyak (merasa cukup dengan nya), dan kalau engkau tidak membawa pulang apapun, aku akan membantumu mencari rezeki dengan alat pemintal (benang) milikku ini.

(Al Mujalasah – 2166)

Pahala Patungan Untuk Membangun Masjid

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah ditanya,

“Dua orang atau tiga orang atau lebih, bekerja sama dalam membangun masjid. Apakah masing-masing di antara mereka dicatat pahala membangun masjid atau kurang dari (membangun masjid) itu..?”

Beliau rohimahullah menjawab,

Apakah anda telah membaca surat ‘idza zulzilat’ Apa yang Allah firmankan di akhir ayat..?

Penanya,

( فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ )

Dan barangsiapa yang melakukan (kebaikan) sebesar dzarroh (atom), maka dia akan melihatnya. (Az-Zalzalah/99: 7)

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah, berkata,

( فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ )

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarroh sekalipun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah sekalipun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” [Az-Zalzalah/99: 7-8]

Masing-masing akan mendapatkan pahala apa yang dikerjakan. Bahkan dia mendapatkan pahala kedua dari sisi lain, yaitu bekerja sama terhadap kebaikan. Karena jika mereka tidak bekerjasama,  masing-masing hanya dapat melakukan sedikt, maka tidak akan berdiri bangunan masjid.

Contoh hal seperti itu, seseorang menginfakkan seratus riyal (mata uang arab saudi-pent) untuk membangun masjid, maka infak tersebut memberikan manfaat dari dua sisi :
– Pertama pahala perbuatan, yaitu pahala dari uang tersebut
– Kedua, pahala membantu sampai menjadi masjid.

Akan tetapi kalau ada ywng menyumbangkan untuk pembangunan masjid sebanyak dua puluh ribu riyal, dan yang lainnya menyumbang dua puluh riyal, maka kita tidak mungkin mengatakan, mereka sama (pahalanya), dan masing-masing sama mendapatkan pahala membangun secara sempurna. Hal ini tidak mungkin.

Lihatlah wahai saudaraku..! Pahala itu sesuai dengan amalan. Kami katakan, “(Orang) ini mendapatkan pahala amalan sesuai dengan apa yang diinfakkan dan mendapatkan pahala saling membantu untuk mendirikan masjid..”

(Liqo Al-bab Al-Maftuh, 21/230)

=======
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun sebesar sarang burung atau lebih kecil darinya, niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga..”

( HR. Ibnu Majah )

mau ikutan..? pembangunan masjid assunnah ummu Habibah di Ds Toya, Lombok Timur. Pembangunan difokuskan pada ruang utama sholat agar insyaa Allah sudah bisa digunakan untuk sholat berjama’ah 5 waktu dan sholat tarawih pada bulan Ramadhan 1446 (Maret 2025) insyaa Allah .. info lengkapnya: https://bbg-alilmu.com/archives/69260

BSI | 748 000 9996 | AL ILMU INFAQ
info : 0838 0662 4622