All posts by BBG Al Ilmu

Pembatal Pahala Sedekah

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

إن المن والأذى يبطل الصدقة، وعليه فيكون لقبول الصدقة شروط سابقة ومبطلات لاحقة، أما الشروط السابقة :
١– فالإخلاص لله.
٢– والمتابعة.
وأما المبطلات اللاحقة:
١–فالمن.
٢– والأذى.

“Sesungguhnya:
– mengungkit-ungkit, dan
– menyakiti orang yang menerima
menggugurkan pahala sedekah.

Atas dasar ini, diterimanya sedekah memiliki syarat-syarat yang mendahului dan pembatal-pembatal yang muncul belakangan.

Adapun syarat-syarat yang mendahului:
1. Ikhlas karena Allah.
2. Mengikuti petunjuk Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Sedangkan pembatal-pembatal yang muncul belakangan adalah:
1. Mengungkit-ungkitnya.
2. Menyakiti orang yang menerimanya..”

(Tafsir Surat al-Baqoroh, jilid 3 hlm. 314)

Semua Ada Konsekuensinya

Silahkan kamu berbuat semaumu..
Silahkan kamu hidup sesukamu..
Silahkan kamu cintai siapa yang kamu suka..
Namun semua itu ada konsekuensinya..

Malaikat Jibril berkata kepada Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam,

يا محمد، عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزي به، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس

“Wahai Muhammad,
– silahkan kamu hidup sesukamu, sesungguhnya kamu pasti akan meninggal
– silahkan cintai orang yang kamu suka, sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya
– silakan kamu berbuat semaumu, namun kamu pasti akan diberi balasannya.

Ketahuilah.. sesungguhnya kemuliaan mukmin itu ada pada sholat malam, dan keperkasaannya adalah saat ia tidak membutuhkan bantuan manusia..”

(HR Al Hakim dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kedudukanmu Di Sisi Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

جاء عنْ بعْضِ السَّلفِ أَنَّهُ قال: إذا أَحبَّ أَحدُكمْ أنْ يَعْلَم كيف مَنْزِلَتُهُ عِنْدَ اللَّهِ؟ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزلَةُ اللَّهِ منْ قَلْبِهِ؟ فإِنَّ اللَّهَ يُنْزِلُ العَبدَ مِنْ نَفْسِهِ حَيْثُ أَنْزَلَهُ العَبْدُ منْ قَلْبِهِ

“Sebagian salaf berkata, “Bila kamu ingin mengetahui bagaimana kedudukanmu di sisi Allah, maka lihatlah bagaimana kedudukan Allah di hatimu. Karena Allah Mendudukkan hamba-Nya sesuai dengan kedudukan Allah di hati hamba..”

(Majmu Fatawa 2/384)

Semakin Allah agung di hati seorang hamba..
Semakin agung si hamba di mata Allah ‘Azza wajalla..
Semakin ia banyak mengingat Allah semakin banyak pula Allah mengingat dia..

Tanda orang yang mengagungkan Allah adalah..
Mengagungkan perintah dan larangan-Nya..
Maka bila seorang hamba meremehkan syari’at-Nya..
Maka ia pun remeh di mata Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Getirnya Ujian Sebelum Datangnya Kenikmatan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

Diantara ihsan Allah yang sempurna kepada hamba-hambaNya adalah memberikan getirnya ujian sebelum diberi kenikmatan.

Ketika Allah hendak menyempurnakan kenikmatan surga kepada Adam, Allah berikan kepadanya pedihnya dikeluarkan dari surga dan merasakan derita kehidupan dunia yang kesenangannya diwarnai oleh kepayahan.

– Tidaklah Allah menguji hamba-Nya kecuali karena Dia ingin memberinya kenikmatan.

– Tidaklah Allah menimpakan bala kepadanya kecuali karena Dia ingin memberinya keselamatan.

– Tidaklah Allah mematikannya kecuali karena Dia ingin menghidupkannya kembali.

– Tidaklah Dia menjadikan dunia penuh kepayahan kecuali agar si hamba berharap kehidupan akherat, dan

– Tidaklah Allah mengujinya dengan sikap manusia yang tidak baik kepadanya, kecuali karena agar si hamba kembali kepada-Nya.

( Mukhtashor Showa’iq Mursalah hal. 844 )

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bagaikan Emas Sepuhan

Al Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

إِذَا ظَهَرَتِ الْغِيبَةُ، ارْتَفَعَتِ الْأُخُوَّةُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّمَا مَثَلُكُمْ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ مَثَلُ شَيْءٍ مَطْلِيٍّ بِالذَّهَبِ، أَوْ بِالْفِضَّةِ دَاخِلُهُ خَشَبٌ وَخَارِجُهُ حَسَنٌ

“Apabila telah tampak ghibah maka akan terangkatlah pertemanan karena Allah ‘Azza wajalla.

Dan perumpamaan kalian di zaman tersebut bagaikan sesuatu yang disepuh dengan emas atau perak padahal ia adalah kayu agar terlihat bagus.”

(Attaubikh Wattanbih – karya Abu Syaikh Al Ashbahani no 183)

Seperti halnya di zaman ini..
Sebagian orang terlihat anggun dengan kesolehannya..

Namun saat bersendirian dengan media sosial..
Ia suka meng-ghibah, mengadu domba dan mejelek jelekkan..
Bahkan dibumbui dengan kedustaan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ridho Dengan Ketentuan Allah

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

إنّ الرِّضا من جُمْلةِ ثمراتِ المَعْرِفة، فإذا
‏عَرَفْتَهُ رضِيتَ بِقَضائِه.

“Sesungguhnya ridho adalah termasuk buah dari pengetahuan. Bila kamu mengenal Allah, kamu pasti ridho dengan ketentuan-Nya..”

(Shoidul Khothir 1/109)

Karena Allah tak pernah menzholimi hamba hamba-Nya..
Ketentuan-Nya dipenuhi hikmah dan keadilan..
Ilmu dan kasih sayang-Nya meluasi segala sesuatu..

Dia memberi ujian bukan untuk menzholimi..
Tapi untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat..

Namun…
Semua itu membutuhkan keyakinan..
Lemahnya keyakinan seringkali menimbulkan su-uzhon kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Melupakan Kekeliruan Saudaranya

Imam Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“ما يزال التغافل عن الزلات من أرقى شيم الكرام، فإن الناس مجبولون على الزلات والأخطاء

“Senantiasa melupakan ketergelinciran (orang lain) merupakan perangai tertinggi orang yang mulia. Karena manusia memang difitrahkan bisa tergelincir dan keliru.

فإن إهتم المرء بكل زلة وخطيئة
تعب وأتعب غيره

Maka jika seseorang selalu menyibukan diri dengan ketergelinciran dan kekeliruan (orang lain), ia akan capek sendiri dan menyusahkan orang lain.

والعاقل الذكي من لا يدقق في كل صغيرة وكبيرة مع أهله وأحبابه وأصحابه وجيرانه

Maka seorang yang berakal dan cerdas adalah seorang yang tidak meneliti setiap (ketergelinciran) yang kecil dan yang besar pada keluarganya, orang-orang yang ia cintai, para sahabatnya dan tetangganya.

Oleh karena itu Imam Ahmad bin Hambal berkata:

تسعة أعشار حسن الخلق في التغافل “.

Sembilan persepuluh akhlak yang baik ada dalam melupakan ketergelinciran saudaranya..”

(Tahdzib al-Kamal 19 – 370)

Cita Cita Yang Paling Tinggi

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

‏مَن لم يكُن لهُ هِمّةٌ إلّا بطنه وفرجه؛ عُد
‏من البهائم، والهمّة تبلغ الرتبة العالية،
‏لأنّ النّاس بِهمتهم.

“Siapa yang keinginannya terbatas pada perut dan kemaluannya maka ia sama dengan binatang ternak.

Karena cita cita itu hendaknya tinggi, dan nilai manusia itu sesuai dengan cita cita dan keinginannya..”

(Roudhotul ‘Uqola hal 253)

Cita cita yang paling tinggi adalah meraih surga Allah Azza wajalla..
Itulah menjadikan keinginan kita selalu kepada kebaikan..

Namun saat cita cita kita sebatas dunia..
Kita sering tak peduli dengan batasan batasan Allah..
Malas kepada ketaatan dan amal salih..
Keinginan pun sebatas kepuasan dunia semata..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Sebagai Wasilah

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فَمن أحب اللَّذَّة ودوامها والعيش الطيّب فليجعل لَذَّة الدُّنْيَا موصلا لَهُ إِلَى لَذَّة الآخر بِأَن يَسْتَعِين بهَا على فرَاغ قلبه لله وإرادته وعبادته فيتناولها بِحكم الِاسْتِعَانَة وَالْقُوَّة على طلبه لَا بِحكم مُجَرّد الشَّهْوَة والهوى

“Siapa yang ingin kelezatan dunia dan kebahagiaannya terus ada maka jadikanlah kelezatan tersebut sebagai wasilah yang menyampaikannya kepada kelezatan akherat. Dengan menggunakannya untuk menjadikan hatinya untuk Allah, baik niat maupun ibadahnya.

Ambillah kelezatan dunia itu untuk lebih kuat mencari akherat. Bukan mengambilnya dengan hukum syahwat dan hawa nafsu..”

(Al Fawaid hal 197-198)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Larangan Untuk Berburuk Sangka Dan Tajassus – 4

● Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..”

( Al-Hujurat/49 : 12 )

TAJASSUS adalah : mencari-cari kesalahan atau kejelekan orang lain

● Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

“Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan.

Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita..”

( Roudhotul ‘Uqola – 133 )