Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Soal Sholat Setelah ‘Ashar…

Pertanyaan:
Ustadz ana pernah dengar antum mengatakan ada sholat setelah ashar. Bukankah Nabi melarang sholat setelah ashar ?

Jawab:
Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Dalam shahih Bukhari, ‘Aisyah mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan dua roka’at setelah ‘ashar di rumahnya. 

Adapun hadits yang melarang sholat setelah ‘ashar itu tidak bersifat mutlak. dalam riwayat imam Ahmad ada pengecualian:

لا تصلوا بعد العصر إلا والشمس مرتفعة

“Jangan sholat setelah ‘ashar kecuali apabila matahari masih tinggi.”

Hadits ini menunjukkan bahwa larangan sholat ‘ashar itu apabila matahari telah menguning. Adapun apabila masih tinggi maka diperbolehkan.

wallahu a’lam

Mengenal Istilah Ilmu Hadits…

Ilmu mushtholah hadits adalah ilmu tentang pokok pokok dan kaidah kaidah yang dengannya diketahui sanad dan matan dari sisi diterima atau ditolak.

Tema ilmu ini adalah tentang sanad dan matan untuk diketahui apakah bisa diterima atau ditolak.

Buahnya adalah membedakan antara hadits yang shahih dengan hadits yang tidak shahih.

Makna Hadits:
Hadits adalah setiap yang disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam berupa ucapan, atau perbuatan, atau persetujuan, atau sifat. Maknanya sama dengan khobar.

Makna Atsar
Atsar adalah yang disandarkan kepada para shahabat dan tabiin berupa ucapan atau perbuatan. Dan terkadang digunakan juga untuk makna hadits.

Sanad atau isnad.
Adalah rantai perawi yang menyampaikan kepada matan.

Adapun isnad juga mempunyai makna menyandarkan hadits kepada yang mengucapkannya secara musnad.
Matan adalah penghujung sanad berupa ucapan, baik ucapan nabi ataupun yang lainnya.

Musnad
Ada beberapa makna:

1. Kitab yang mengumpulkan hadits sesuai nama shahabat yang meriwayatkannya. seperti musnad Ahmad dll.

2. Hadits yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Semakna dengan sanad.   
Muhadits

Adalah orang yang menyibukkan diri dengan ilmu hadits secara riwayat dan pemahaman. Ia memiliki pengetahuan yang luas tentang riwayat dan keadaan perawi.

Al Hafidz
Derajat yang lebih tinggi dari muhaddits. Sebagian ulama mengatakan bahwa syarat di sebut Al Hafidz adalah apabila hafal 100 ribu hadits.

Badru Salam,  حفظه الله

Kaidah Memahami Al Qur’an ke 16 : Apabila Disendirikan Mempunyai Makna Yang Bersifat Umum…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah yang ke 16

Sebagian lafadz dalam al qur’an apabila disendirikan, mempunyai makna yang bersifat umum. Apabila disandingkan dengan yang lainnya, maka ia menunjukkan kepada sebagian makna dan sandingannya menunjukkan kepada makna sebagiannya lagi.

Contoh kaidah ini adalah lafadz iman dan amal shalih. Lafadz iman apabila disendirikan mempunyai makna umum yang mencakup padanya amal shalih. Tetapi bila disandingkan seperti dalam firman Allah:

إن الذين ءامنوا وعملوا الصالحات

“Sesungguhnya orang orang yang beriman dan beramal shalih.”

Makna iman dalam ayat ini adalah tashdiq (pembenaran), keyakinan dan aqidah. Sedangkan amal shalih maksudnya adalah syariat yang bersifat ucapan dan perbuatan.

Contoh lainnya adalah lafadz birr dan taqwa. Lafadz birr bila bersendirian bermakna menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Tetapi ketika disandingkan dengan lafadz taqwa, bermakna semua ibadah yang dicintai oleh Allah baik berupa ucapan ataupun perbuatan, dan lafadz taqwa bermakna menjauhi larangan larangan Allah Ta’ala.

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Ke 17 : Orang-Orang Yang Mendapat Hidayah dan Yang Tersesat…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

 

Menambah Cahaya Wajah…

Diantara keutamaan mempelajari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:

Menambah cahaya wajah

Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam mendo’akan orang yang mempelajari hadits Nabi agar diberikan cahaya di wajahnya, beliau bersabda :

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Semoga Allah memberikan nudlrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya, berapa banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faqih darinya, ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasehati pemimpin kaum muslimin dan berpegang kepada jama’ah mereka karena do’a mereka meliputi dari belakang mereka”. [HR At Tirmidzi no 2658]

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,” Kalaulah tidak ada keutamaan menuntut ilmu (hadits) kecuali hadits ini, cukuplah ia sebagai kemuliaan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendo’akan untuk orang yang mendengar sabdanya, memahami, menghafal dan menyampaikannya. Inilah martabat-martabat ilmu ; yang pertama dan kedua adalah mendengarkan dan memahaminya dengan hati maksudnya mengikatnya dan menjadi tetap di dalam hatinya…
Yang ketiga adalah menghafalnya sehingga tidak melupakannya, dan yang keempat adalah menyampaikan dan menyebarkannya kepada umat sehingga tercapai maksud dan buahnya yaitu menyebarkannya kepada umat, karena ia bagaikan harta karun yang terpendam di dalam bumi yang apabila tidak dipergunakan ia akan segera hilang. Ilmu bila tidak diinfakkan dan diajarkan akan hilang, namun bila diinfakkan ia akan berkembang dan bertambah.

Barangsiapa yang melaksanakan empat martabat ini, ia termasuk ke dalam do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut yang mengandung keindahan lahir dan batin. Karena nudlrah adalah keindahan dan keelokan yang menghiasi wajah akibat pengaruh iman, kebaikan batin, kegembiraan hati, dan merasakan kelezatannya yang semuanya itu tampak sebagai cahaya di wajah.” [Miftah Darissa’adah 1/94]

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,” Tidak ada seorangpun dari ahli hadits kecuali di wajahnya terdapat cahaya berdasarkan hadits ini.” [Qowa’id tahdits hal 48]

Hadits di atas memberikan motivasi kepada kita untuk mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain, oleh karena itu setiap kita berusaha dan berlomba-lomba untuk memahami hadits dan mengamalkannya dalam kehidupan kita, dan mendahulukannya dari perkataan siapapun.

Badru Salam,  حفظه الله

​Buat yang mau belajar ilmu hadits (…dari Ustadz Badru Salam,  حفظه الله… ) yuk ikuti chanel: telegram.me/ulumulhadits

Keutamaan Mempelajari Hadits…

​Mempelajari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah keutamaan yang amat agung, imam An Nawawi rahimahullah berkata,
”Sesungguhnya diantara ilmu yang paling penting adalah mempelajari hadits-hadits nabi, maksudnya mempelajari matan-matannya, shahih, hasan, dan dla’ifnya, dan ilmu-ilmu hadits lainnya, buktinya adalah : bahwa sesungguhnya syari’at kita berdasarkan kepada Al Qur’an dan sunnah, dan sunnah adalah poros hukum-hukum fiqih, dan kebanyakan ayat-ayat hukum adalah bersifat global, dan penjelasannya ada dalam sunnah.

Para ulama bersepakat bahwa diantara syarat mujtahid baik dari qadli maupun mufti adalah berilmu tentang hadits-hadits hukum. Maka menjadi jelas bahwa menyibukkan diri dengan hadits adalah kebaikan yang paling utama dan taqorrub yang paling agung…”.

Al ‘Allamah Asy Syihab Ahmad Al manini Ad Dimasyqi rahimahullah berkata,
”Sesungguhnya ilmu hadits adalah ilmu yang mempunyai kedudukan tinggi, kebanggan yang agung, dan sebutan yang mulia. Tidak ada yang memperhatikannya kecuali ulama dan tidak ada yang terhalang darinya kecuali orang-orang yang bodoh, dan kebaikan-kebaikan ilmu hadits tidak pernah habis sepanjang zaman…” [qowaid tahdits hal 44]

Badru Salam,  حفظه الله

​Buat yang mau belajar ilmu hadits (…dari Ustadz Badru Salam,  حفظه الله… ) yuk ikuti chanel: telegram.me/ulumulhadits

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 15 : Menghilangkan Jawab Syarat Untuk…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 15 :

Menghilangkan jawab syarat untuk menunjukkan keagungan dan beratnya perkara yang diancam.

Contohnya firman Allah Ta’ala

ولو يرى الذين ظلموا إذ يرون العذاب أن القوة لله جميعا

“Kalaulah orang orang zalim itu melihat di saat mereka melihat adzab. Sesungguhnya kekuatan itu milik Allah semuanya.” (Al Baqoroh:165)

Dalam ayat ini tidak disebutkan jawab syaratnya untuk menunjukkan betapa beratnya keadaan orang yang zalim itu disaat mereka melihat adzab.

Contoh lainnya firman Allah:

كلا لو تعلمون علم اليقين

“Sekali kali tidak. Seandainya mereka mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”

Artinya tentu kalian tidak akan terus menerus dalam kelalaian dan berbangga bangga dengan banyaknya sesuatu.

Dan sebagainya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah ke 16 : Apabila Disendirikan Mempunyai Makna Yang Bersifat Umum…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

FAQIH Itu…

آثار وفوائد سلفية:

قال التابعي الإمام الحسن البصري :

Berkata Tabiin imam Al Hasan Al Bashri:

إنما الفقيه : 

Sesungguhnya faqih itu adalah

الزاهد في الدنيا

orang yang zuhud di dunia.

الراغب في الآخرة

berharap akherat

البصير بأمر دينه

berilmu tentang urusan agamanya

المداوم على عبادة ربه

selalu beribadah kepada Rabbnya

[ مسند الدارمي ٣٠٢ ]

Badru Salam,  حفظه الله تعالى