Category Archives: Firanda Andirja

Buah Dari Menunda-Nunda Adalah Penyesalan Dan Kerugian

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata ;

تﺎﻣاﺪﻨﻟاو ﻰﻠﻋ ﺪﺒﻌﻟا ، ﻲﻫو ةﺮﺠﺷ ﺎﻫﺮﻤﺛ ناﺮﺴﺨﻟا ﻦﻴﺴﻟا ، فﻮﺳو ، ﻰﺴﻋو ، ﻞﻌﻟو : ﻰﻬﻓ ﺮﺿأ ءﻲﺷ .;

“Saya akan melakukannya…., nanti akan saya kerjakan…, mungkin saja saya lakukan nanti…, semoga akan saya lakukan….(kata-kata yang menunjukan kemalasan dan menunda-nunda) yang kata-kata seperti ini sangat memberi kemudorotan kepada seorang hamba. Kata-kata ini merupakan sebuah pohon yang buahnya adalah kerugian dan penyesalan-penyesalan”

(Madaarijus Saalikiin 1/470)

Anda Sedang Bersedih…?

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Bukan hanya anda yang bersedih. Masih banyak orang bahkan semua orang pernah bersedih. Namanya hidup di dunia pasti tidak terlepas dari permasalahan, kegelisahan, kekawatiran, dan kesedihan. Allah berfirman :

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي كَبَدٍ (٤)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS Al-Balad : 4)

Demikianlah kehidupan dunia, siapapun orangnya, orang kaya, orang terkenal, artis, raja, presiden, menteri…semuanya pasti pernah dan sering merasakan kepayahan dan duka cita serta kegelisahan dalam kehidupan mereka.

Bahkan terkadang kita rakyat jelata kasihan melihat orang yang terkenal atau pejabat atau orang kaya yang wajah mereka menunjukkan kesedihan yang mendalam yang terkekang dalam dada mereka.

Seorang penyair berkata :

وَكُن مُوسِراً شِئْتَ أُو مُعسِراً….فَلا بُدَّ تَلْقَى بِدُنْيَاكَ غَمّْ

“Jadilah engkau orang kaya jika kau mau atau jadi orang yang dalam kesulitan…

Bagaimanapun juga duka cita akan menerpa kehidupan duniamu…”

وَدُنياكَ بِالغَمِّ مَقْرُوْنَةٌ…فَلاَ يُقْطَعُ العُمرُ إِلّا بِهَمّْ

“Kehidupan duniamu selalu bergandengan dengan duka cita…
Maka tidaklah umur dilalui kecuali dengan duka cita…”

حَلاَوَةُ دُنْيَاكَ مَسْمُوْمَةٌ… فَلاَ تَأَكُلِ الشَهدَ إِلاَّ بِسُمّْ

“Manisnya kehidupan duniamu teracuni…
Maka engkau tidak mencicipi manisnya madu kecuali dengan terkontaminasi racun…”
 
Bagaimanapun indahnya dan manisnya dunia ini ibarat madu yang manis, akan tetapi manisnya pasti terkontaminasi dengan racun kesedihan dan kepayahan.

Semua ini menjadikan kita untuk bersabar menghadapi kepayahan dan kesedihan dunia…toh kesedihan itu hanyalah sementara…

Semuanya ini mengingatkan kita agar tidak terpedaya dengan kenikmatan dan manisnya dunia…. serta menjadikan kita selalu rindu menuju surga Allah yang berisi kebahagiaan yang abadi yang tidak terkontaminasi dengan kesedihan, kekhawatiran, dan kegelisahan….

Allah berfirman :

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (٤٩)

“Masuklah ke dalam syurga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (QS Al-A’roof : 49)

Wahai Pelaku Maksiat, Janganlah Egois !!!

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Dosa, bagaimanapun juga pasti dan pasti dan pasti akan ada dampak buruknya, cepat atau lambat, baik di dunia, terlebih di akhirat. Maka sungguh pelaku maksiat telah menzolimi dirinya sendiri. Bahkan terkadang ia menzolimi istri dan anak-anaknya, karena akibat maksiat yang ia lakukan terkadang merembet pada keluarganya !!

Maka janganlah ia egois hanya ingin memuaskan syahwat dan hawa nafsunya dengan mengorbakan istri dan anak-anaknya !!

Apa Susahnya ?!

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sambil ngantri beristighfar 100 kali atau lebih dari itu…, sambil bertasbih…, bertahlil…, bertakbir…dan dzikir-dzikir lainnya…

Detik-detik jangan sampai berlalu sia-sia…

Tentu sangat tidak susah, akan tetapi menjadi sangat susah tatkala tangan gatal ingin baca berita di internet…, karena waktu menunggu paling asyik buat ngenet..atau nge-FB, atau nge-Twitt.., nge-BB, nge-WA, dll…,
Tidak dilarang sih, akan tetapi jangan lupa diselingi dengan dzikir…

أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS Ar-Ro’du : 28)

Presiden Sukarno Mendukung Gerakan Pemurnian Agama “Wahabisme”?

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Pesan Presiden RI. Pertama Ir. H. Sukarno “Agar Umat Islam Kembali Ke Manhaj Salaf”

Di buku yang berjudul “Dibawah Bendera Revolusi” (yaitu kumpulan tulisan dan pidato-pidato beliau) jilid pertama, cetakan kedua,tahun 1963. pada halaman 398, beliau mengatakan sebagai berikut :

((” Tjobalah pembatja renungkan sebentar “padang-pasir” dan “wahabisme” itu. Kita mengetahui djasa wahabisme jang terbesar : ia punja kemurnian, ia punja keaslian, – murni dan asli sebagai udara padang- pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada islam dizamanja Muhammad!”

Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah.”

Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan! ….))

baca selengkapnya disini:

http://firanda.com/index.php/artikel/wejangan/815-presiden-sukarno-mendukung-gerakan-pemurnian-agama-wahabisme

Haji Reguler Lebih Afdhol Daripada Haji Plus !!

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Sebagian jamaah haji memahami ungkapan “Pahala Sesusi Dengan Kadar Kesulitan”, dengan menganggap bahwa kepayahan dalam beribadah haji (atau ibadah apapun secara umum) memang dituntut dalam syari’at agar pahala semakin banyak.

Karenanya ada diantara mereka yang “sengaja” berhaji jalan kaki misalnya tanpa mau mengikuti “pelayanan biro haji”?!, atau ada yang sengaja melakukan haji ifrod karena anggapan haji ifrod lebih berat pelaksanaannya maka itu lebih baik?!.

Bahkan ada yang berkata haji regular lebih afdhol daripada haji plus, karena haji reguler lebih repot dan lebih banyak jalannya !!

Apakah benar demikian??

Tidak demikian! Akan tetapi pahala itu sesuai dengan besar kecilnya manfaat, mashlahat dan faidah amal, juga sesuai dengan ketaatan ia kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka mana diantara dua amal ada yang paling baik, dan pelakunya paling taat dan mengikuti (sunnah) maka amal itulah yang paling utama, karena amalan itu tidak berbeda-beda derajatnya hanya dari sisi kuantitas saja, namun berbeda-beda sesuai kondisi hatinya tatkala beramal…”

“Dan landasan hal ini adalah seorang hamba hendaknya mengetahui bahwasanya Allah tidaklah memerintahkan kita kecuali dengan perkara yang mendatangkan kebaikan bagi kita, dan tidaklah Allah melarang kita kecuali dari perkara yang mendatangkan kerusakan kepada kita…Allah memerintahkan untuk beramal sholeh karena ada manfaat dan kebaikan bagi kita. Dan terkadang amal-amal sholeh tersebut tidak bisa terlaksanakan kecuali dengan kesulitan, seperti jihad, haji, beramar ma’ruf, bernahi munkar, dan menuntut ilmu. Maka kesulitan tersebut dijalani dan diberi ganjaran karena kesulitan tersebut mendatangkan manfaat…” (Majmu’ fataawa 25/281-282)

Kesimpulan :

          Tidak bisa dikatakan secara mutlak bahwa haji reguler lebih afdhol dan lebih mabrur daripada haji plus, meskipun memang secara kenyataan bahwa haji reguler lebih repot dan lebih letih serta lebih banyak jalan kakinya, tidak sebagaimana haji plus. Akan tetapi meskipun haji reguler lebih banyak “letih”nya, akan tetapi haji plus lebih banyak infaqnya. Dan dalam hadits Aisyah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :

ولَكِنَّهَا عَلَى قَدْرِ نَفَقَتِكِ أوْ نَصَبكِ

“Akan tetapi pahalanya sesuai dengan kadar nafkahmu/biayamu dan letihmu”

Tentu haji plus bayarnya lebih mahal, dan ini tentu biaya yang dikeluarkan dalam rangka menjalankan perintah Allah. Maka masing-masing baik haji reguler atau haji plus telah melakukan perkara yang baik, maka tidak bisa dikatakan secara mutlak bahwa haji reguler lebih mabrur daripada haji plus, atau sebaliknya.

Baik yang haji plus atau reguler hendaknya melaksanakan hajinya dengan sesuai sunnah dan penuh ketakwaan. Haji mabrur bisa diraih dengan haji plus ataupun haji reguler.

Wallahu A’lam bishowaab

Ref :
http://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/814-haji-reguler-lebih-afdhol-daripada-haji-plus
 

Suami Yang Baik Banyak Mengalahnya

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

قَالَ مُعَاوِيَةُ : يَغْلِبْنَ الْكِرَامَ وَيَغْلِبُهُنَّ اللِّئَامُ

Mu’aawiyah (radhiallahu ‘anhu) berkata : “Mereka para wanita mengalahkan para suami yang mulia, dan mereka dikuasai oleh para suami yang buruk” (Fathul Baari 9/265)

Sungguh wanita adalah makhluk yang lembut dan sangat butuh dengan kelembutan. Hatinya bisa tertawan dengan kelembutan….bukan dengan kekerasan seorang suami.

Seorang wanita yang bertekuk lutut dihadapan seorang suami karena kerasnya sang suami bukan berarti menunjukkan sang suami hebat dan berakhlak mulia…. Karena kalau menundukan dengan kekerasan maka orang jalanan, preman, dan petinjupun mampu melakukannya.

Akan tetapi suami yang bisa menawan hati istrinya dengan kelembutan meskipun sering mengalah dan bersabar dengan sikap-sikap istrinya, itulah suami yang hebat dan mulia…

Kebahagiaan Menantimu…

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Janganlah engkau menjadi seseorang yang menanti kebahagiaan untuk mendatangimu…

Tapi jadilah engkau seseorang yang berusaha berjalan menuju kebahagiaan. Ia tidak akan pergi darimu, akan tetapi ia ingin engkau yang mendatanginya dan meraihnya…

Tidak Akan Pernah Tertutup…

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Jika seluruh pintu-pintu dunia telah tertutup, seluruh jalan-jalan telah buntu dihadapanmu, segeralah angkat kedua tangan ke langit….sesungguhnya pintu-pintu langit tidak akan pernah tertutup bagi orang yang merendah memohon kepadaNya.

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS An-Naml : 62)

Agar Harta Anda Pasti Aman

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَجْعَلَ كَنْزَهُ فِي السَّمَاءِ حَيْثُ لاَ يَأْكُلُهُ السُّوْسُ وَلاَ يَنَالُهُ السُّرَّاقُ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنّ قَلْبَ الرَّجُلِ مَعَ كَنْزِهِ

“Barangsiapa yang mampu untuk meletakkan harta simpanannya di langit -sehingga tidak dimakan oleh ulat, dan tidak pula bisa disentuh para pencuri-maka lakukanlah, karena hati seseorang bersama harta simpanannya” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qoyyim rahimahullah hal 159)

Nasehat yang berharga agar menyimpan harta di langit yaitu dikeluarkan untuk di jalan Allah dengan disedekahkan atau diwakafkan atau semua yang diridoi oleh Allah. Karena jika telah dikeluarkan sesuai yang diridoi Allah maka harta telah menjadi aman, tidak usah dipikirkan lagi, pasti terjaga hingga di akhirat kelat.

Adapun jika harta masih di simpan maka akan menjadi beban pikiran, takut rusak dimakan ulat -jika berupa tumbuhan-, atau dicuri, atau, bangkrut, atau berkurang, dll.