Category Archives: Kholid Syamhudi

Telaga Dan Shirat

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

1. Telaga

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan telaga bagi setiap Nabi, dan telaga Nabi kita shalallahu alaihi wa sallam  yang terbesar, paling manis dan yang paling banyak didatangi pada hari kiamat.

Gambaran Telaga Nabi shalallahu alaihi wa sallam  :

1. Abdullah bin ‘Amar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Telagaku  (panjangnya) perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, wanginya lebih wangi dari misk (minyak kesturi), cahayanya seperti bintang-bintang di langit. Barangsiapa yang minum darinya niscaya ia tidak akan pernah merasa haus selama-lamanya.” (Muttafaqun ‘alaih).[1]

2. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesesungguhnya kadar (ukuran) telagaku adalah seperti jarak di antara Ailah dan Shan’a dari Yaman. Dan sesungguhnya di dalamnya ada teko-teko sejumlah bintang di langit.” (Muttafaqun ‘alaih).[2]

Orang yang Terusir dari Telaga:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Segolongan sahabatku datang kepadaku pada hari kiamat, lalu mereka terusir dari telaga. Aku bertanya: ‘Ya Rabb, sahabat-sahabatku.’ Lalu Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman: ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ciptakan (perbuatan-perbuatan bid’ah) setelah (kematian)mu. Sesungguhnya mereka kembali di atas pantat mereka (murtad).”  (Muttafaqun ‘alaih).[3]

2.  SHIRAT (JEMBATAN)

Shirath: ia adalah jembatan/titian yang dipasang di atas neraka Jahanam, orang-orang beriman melewatinya ke surga.

Orang yang melewati shirath:
Yang dapat melewati jembatan itu adalah orang-orang beriman. Adapun orang-orang kafir dan kaum musyrik, maka setiap golongan dari mereka mengikuti apa yang disembahnya di dunia, yaitu berhala, syetan, dan semisal keduanya dari tuhan-tuhan yang batil, lalu ia mendatangi neraka bersama sesembahannya yang pertama.

Kemudian setelah itu, tersisalah orang yang hanya menyembah Allah subhanahu wa ta’ala  pada zahir, sama saja ia benar atau munafik. Mereka itulah yang ditegakkan jembatan untuk mereka. Kemudian berbedalah kaum munafik dari orang-orang beriman dengan terhalangnya mereka melakukan sujud, dan cahaya yang meliputi orang-orang beriman. Maka kembalilah kaum munafik ke belakang, ke neraka, dan orang-orang beriman melewati titian menuju surga.

Lewat di atas titian adalah setelah dihisab, timbangan amal perbuatan, dan selesai darinya. kemudian manusia dipaksa lewat di atas jembatan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72)

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.  Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS. Maryam: 71-72).

Gambaran titian dan melewatinya:
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dalam hadits melihat dan gambaran titian… dan padanya ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam  , apakah titian itu?’ Beliau menjawab: “Tempat yang licin, di atasnya ada besi pengait, dan duri keras yang diratakan, baginya ada duri yang melinggar, ia ada di Najd. Dinamakan baginya: as-Sa’daan. Orang beriman di atasnya (jembatan) seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti kuda dan tunggangan yang baik/terlatih. Ada yang selamat diselamatkan, yang selamat tapi tergores, dan yang didorong di Neraka Jahannam.” (Muttafaqun ‘alaih).[4]

Orang yang pertama kali melewati titian:
Orang yang pertama kali melewati titian adalah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam   dan umatnya, dan tidak bisa melewati titian selain orang-orang yang beriman. Mereka diberi cahaya menurut kadar iman dan amal perbuatan mereka. Kemudian mereka melewati titian menurut hal tersebut. Dan diutus amanah dan silaturrahimm lalu keduanya berdiri di dua tepi titian, di kanan dan di kiri. Doa para rasul pada hari itu adalah: Ya Allah subhanahu wa ta’ala , selamatkan-selamatkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wa sallam   bersabda dalam hadits melihat Allah subhanahu wa ta’ala : ‘Kemudian dipancangkan titian di atas neraka Jahanam. Aku dan umatnya adalah yang pertama lewat, tidak ada yang berbicara pada hari itu selaian para rasul. Dan doa para rasul pada hari itu:

Ya Allah subhanahu wa ta’ala , selamatkan, selamatkan.’ Muttafaqun ‘alaih.[5]

Apakah yang diterima orang-orang beriman setelah melewati titian:
Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, ‘Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam   bersabda, ‘Orang-orang beriman selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di atas titian di antara surga dan nereka. Maka dilakukan qisas untuk sebagian mereka dari yang lain, yaitu kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Sehingga apabila mereka telah dibersihkan, mereka mendapat izin masuk surga. Demi diri Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang dari mereka lebih mengenali tempatnya di surga  melebihi tempatnya di dunia.” (HR. Bukhari).[6]

[1]  HR. Bukhari No 6579 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim No.2292

[2]  HR. Bukhari No. 6580 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim No. 2303.

[3]  HR. Bukhari No. 6585 dan ini adalah lafazhnya dan Muslim No. 2290 dan 2291.

[4]  HR. Bukhari No. 7439 dan Muslim No. 183 dan ini adalah lafazhnya.

[5]  Muttafaqun‘alaihi. HR Bukhari no 806, Muslim no: 182, dan ini adalah lafadznya.

[6]  HR. al-Bukhari no 6535

– – – – – •(*)•- – – – –

Menghadapi Fitnah

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Sudah menjadi fithrah manusia, jika mengalami atau tertimpa suatu musibah, maka dia akan berusaha menyelamatkan diri dengan segala cara yang mungkin dilakukannya. Namun, ada juga sebagian orang yang pasrah, berputus asa dan tidak mau mencari jalan keluar, akhirnya kebinasaan menjadi pungkasannya. Ada juga yang tidak menyadari dirinya sedang dalam musibah, sehingga tidak tergerak untuk mencari solusi, akhirnya penyesalan pun tak terelakkan.
 
Pada saat ini, banyak sekali bahaya yang mengintai kita sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم dalam banyak hadits tentang fitnah akhir zaman. Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai rasul yang penuh kasih sayang kepada umatnya, tidak hanya memberitahukan tentang fitnah ini saja, tapi juga memberitahukan solusinya. Al-Qur’ân dan sunnah Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم merupakan solusi yang tidak bisa ditawar-tawar. Kalau tidak, kesengsaraan mesti akan menimpa. Allah befirman:
 
“Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat ?” Allâh berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. (QS. Thaha/ 20:123-126)
 
Kini, fitnah-fitnah itu sudah banyak sekali disekitar kita, siap menerkam siapa saja yang lalai. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada dan menjaga diri.

Diantara fitnah-fitnah itu adalah fitnah harta. Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Iyadh , dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
 
Sesungguhnya masing-masing umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibni Hibban dalam shahihnya)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
 
Demi Allâh ! Bukan kefakiran yang saya khawatirkan atas kalian, namun yang saya khawatirkan adalah kalian diberi kemakmuran dunia sebagaimana pernah diberikan kepada umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka. Sehingga akhirnya dunia menyebabkan kalian binasa sebagaimana mereka. (HR. Bukhâri dan Muslim)
 
Harta itu fitnah dari semua sisi. Dimulai saat mengumpulkan dan mengembangkannya, kesibukan ini sering melalaikan seseorang dari beribadah kepada Allah . Juga kegemaran menumpuk harta yang tidak pernah bisa mencapai titik klimaks, diperparah lagi dengan prilaku menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisinya. Harta juga menjadi fitnah atau musibah bagi yang empunya saat harta dibelanjakan di jalan yang tidak dibenarkan syari’at atau enggan mengeluarkan zakat yang menjadi kewajibannya. Akibatnya, berbagai keburukan pun bermunculan akibat harta.
 
Kini harta yang sering menjadi sumber fitnah itu melimpah ruah di mana-mana, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau :

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَفْشُوَ الْمَالُ وَيَكْثُرَ وَتَفْشُوَ التِّجَارَةُ
 
Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat yaitu tersebar dan melimpahnya harta serta melimpahnya perniagaan (HR. an-Nasa’i dan al-Hakim, beliau mengatakan, “Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)
 
Dalam hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
 
Sungguh akan datang suatu masa, saat itu manusia tidak lagi peduli dengan cara apa dia menghasilkan harta, apakah dari sesuatu yang halal ataukah haram ! (HR. Bukhari)

http://klikuk.com/wp-content/uploads/2011/05/43-e1370001758894.jpg

– – – – – •(*)•- – – – –  
 

Ringkasan Fiqih Islam: Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Beriman kepada kitab-kitab, yaitu membenarkan dengan mantap bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-kitab kepada nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya sebagai petunjuk untuk hamba-hamba-Nya. Kitab-kitab tersebut berasal dari kalam-Nya secara hakekat.

Dan sesungguhnya apa yang dikandungnya adalah benar, tidak ada keraguan di dalamnya. Di antaranya ada yang Allah subhanahu wa ta’ala  sebutkan namanya di dalam Kitab-Nya, dan di antaranya ada yang tidak mengetahui nama dan jumlahnya selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Jumlah kitab-kitab samawiyah yang disebutkan di dalam al-Qur`an:

Allah subhanahu wa ta’ala  menjelaskan di dalam al-Qur`an bahwa Dia telah menurunkan kitab-kitab berikut ini:

Shuhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim as.
At-Taurat: Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  kepada Musa as.
Az-Zabur : Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  kepada Daud as.
Al-Injil : Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala  kepada Isa as.
Al-Qur`an: Yaitu kitab yang diturunkan oleh Allah  subhanahu wa ta’ala kepada Muhammad shalallahu alaihi wa sallam  untuk semua manusia.
Hukum beriman dan beramal dengan kitab-kitab samawiyah yang telah lalu:

Kita percaya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala  telah menurunkan kitab-kitab ini, membenarkan yang shahih dari berita-beritanya seperti berita-berita al-Qur`an, dan berita-berita yang belum diganti atau dirubah dari kitab-kitab terdahulu. Kita mengamalkan hukum-hukum yang belum dinasakh darinya disertai ridha dan berserah diri. Dan apa-apa yang tidak kita ketahui namanya dari kitab-kitab samawiyah, kita beriman dengannya secara umum.

Semua kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Injil dan Zabur dan selainnya sudah dinasakh dengan al-Qur`an al-’Azhim, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah subhanahu wa ta’ala  turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. Al-Maidah:48)

Apa yang ada di tangan Ahli Kitab yang dinamakan Taurat dan Injil, tidak benar menyandarkan semuanya kepada Nabi-Nabi Allah subhanahu wa ta’ala  dan Rasul-rasul-Nya. Telah terjadi penyimpangan dan perubahan dalam keduanya, seperti mereka menyandarkan anak kepada Allah subhanahu wa ta’ala , kaum Nashrani menjadikan Isa ‘alaihissalam sebagai tuhan, memberi sifat kepada al-Khaliq dengan sifat yang tidak pantas dengan kebesaran-Nya, menuduh para nabi, dan semisal yang demikian itu. Maka wajib menolak semua itu dan tidak beriman kecuali dengan apa yang datang pembenarannya di dalam Al-Qur`an atau sunnah(Al-Hadits).

Apabila Ahli Kitab menceritakan kepada kita, maka janganlah kita membenarkan dan jangan pula mendustakan mereka. Dan kita berkata: Kami beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala , kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Jika yang mereka katakan adalah benar, kita tidak mendustakan mereka. Dan jika yang mereka katakan adalah batil, kita tidak membenarkan mereka.

Hukum beriman dan mengamalkan al-Qur`an al-Karim:

Al-Qur`an al-Karim yang telah diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala  kepada penutup dan paling utama dari para rasul, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam adalah penutup kitab samawi, paling agung, paling sempurna, paling bijaksana. Allah subhanahu wa ta’ala  menurunkannya sebagai penjelas bagi segala sesuatu, petunjuk dan rahmat bagi semesta alam.

Ia adalah kitab paling utama. Malaikat paling utama, Jibril ‘alaihissalam turun dengannya kepada makhluk paling utama yaitu Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, kepada umat paling utama yang dikeluarkan untuk manusia, dengan bahasa paling utama dan paling fasih, yaitu bahasa Arab yang jelas. Setiap orang wajib beriman dengannya, mengamalkan hukum-hukum-Nya, beradab dengan adab-adabnya. Allah subhanahu wa ta’ala  tidak menerima amal ibadah dengan selainnya setelah turunnya (al-Qur`an) yang Allah subhanahu wa ta’ala  memberi jaminan terpeliharanya. Maka, ia terpelihara dari penyimpangan dan perubahan, dan dari tambahan dan kekurangan.

1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr:9)

 2. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)

Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, * dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. Asy-Syu’araa:192- 195)

Kandungan-kandungan ayat-ayat al-Qur`an:

Ayat-ayat al-Qur`an mengandung penjelasan segala sesuatu, yaitu berita atau tuntutan. Dan berita terbagi dua;

1. Berita tentang al-Khaliq (Sang Maha Pencipta), nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan perkataan-perkataan-Nya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala .

2. Berita tentang makhluk, seperti langit dan bumi, arsy dan kursi, manusia dan binatang, benda padat dan tumbuhan, surga dan neraka. Berita para nabi dan rasul serta para pengikut dan musuh mereka, dan balasan setiap golongan dan yang semisal dengan itu.

Tuntutan terbagi dua:

1. Perintah hanya menyembah Allah subhanahu wa ta’ala  saja, taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala  dan rasul-Nya, melaksanakan apa yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala , seperti shalat, puasa, dan subhanahu wa ta’alaperintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala  yang lain.

2. Larangan dari menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala , peringatan dari apa-apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala , seperti riba, perbuatan-perbuatan keji, dan larangan-larangan Allah subhanahu wa ta’ala  lainnya.

Bagi Allah subhanahu wa ta’ala puji dan syukur, untuk-Nya nikmat dan karunia, di mana Dia telah mengutus kepada kita Rasul paling utama dan menurunkan kepada kitab-Nya yang paling utama, serta menjadikan kita umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia:

1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah subhanahu wa ta’ala  telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah subhanahu wa ta’ala . Itulah petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala , dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah subhanahu wa ta’ala , maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (QS. Az-Zumar:23)

2. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala  telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala , membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi shalallahu alaihi wa sallam) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali ‘Imraan:164)

Copas dari:
http://klikuk.com/ringkasan-fikih-islam-beriman-kepada-kitab-kitab-allah/

– – – – – •(*)•- – – – –

Pondasi Pendidikan

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di -Rahimahullah- pernah berkata:

“Mengenal hukum-hukum syariat secara benar akan menambah kecerdasan akal dan menumbuhkan kepintaran;

Karena makna-makna syariat adalah makna pengertian terbaik dan etikanya adalah etika terluhur. Juga karena (kaedah) balasan sesuai jenis amal.

Sehingga sebagaimana ia menggunakan akalnya untuk berfikir tentang Rabb nya dan berfikir tentang tanda-tanda kebesaran yang Allah mengajaknya untuk memikirkannya, maka dia pun menambahkannya dari sisi itu”.

(Taisiral-Karimirrahman Fi Tafsir Kalaamil Mannaan dari al-Majmu’ al-Kaamilah LiMu’allafaat as-Sa’di bag. Tafsir , 5/449-450).

 Oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Perbaiki Keluarga

www.klikUK.com

Syeikh Ibnu Badies al-Jazairi berkata:
…Demikianlah wajib bagi seseorang untuk memulai dalam bimbingan dan dakwahnya kepada orang terdekatnya kemudian yang setelah mereka secara bertahap.
 
Setiap kita ketika melaksanakan tugas membimbing keluarganya dan orang terdekat dengannya maka tidak lama akan kita lihat kebaikan telah tersebar di masyarakat seluruhnya. Karena dari keluarga (rumah tangga) akan tersusun masyarakat. 

Ketika setiap kita memperhatikan keluarganya maka umat akan mencapai ketinggian dengan ketinggian yang dicapai para keluarga tersebut, seperti naiknya sesuai karena naiknya elemen-elemennya. Sehingga orang yang memperhatikan keluarganya otomatis telah memperhatikan umatnya. 

Ketika dia berniat dengan berkhidmat kepada keluarganya untuk berkhidmat kepada umat, maka dia mendapatkan pahala berkhidmat kepada semuanya; keluarganya dengan amalan dan umatnya dengan niat tersebut. Atau untuk keluarganya secara langsung dan umatnya secara tidak langsung. Ini semua termasuk yang dibalas pahala secara syariat.
 

Sumber: Majalah al-Ishlah al-Jazair edis 1 tahun 2007 hlm 66.

http://m.klikuk.com/perbaiki-keluarga/
– – – – – •(*)•- – – – –

Syirik Besar Dan Syirik Kecil – Part 2

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

2. Syirik Kecil: yaitu sesuatu yang dinamakan syirik oleh syara’ dan tidak sampai kepada syirik besar. Syirik ini mengurangi tauhid, tetapi tidak mengeluarkan dari agama. Ia adalah sarana menuju syirik besar. Pelakunya akan disiksa dan tidak kekal dalam neraka seperti kekalnya orang-orang kafir. Darahnya tidak boleh ditumpahkan dan hartanya tidak boleh diambil. Syirik besar menggugurkan semua amal ibadah. Adapun syirik kecil, maka ia menggugurkan amal ibadah yang menyertainya.

Seperti orang yang beribadah karena Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, ia juga ingin mendapat pujian manusia atasnya, seperti memperbaiki shalatnya, atau bersedekah, atau puasa, atau berzikir kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA agar manusia melihatnya, atau mendengarnya, atau memujinya. Ini adalah riya, bila disertai amal ibadah niscaya riya itu membatalkannya. Tidak ada ungkapan syirik dalam al-Qur`an kecuali yang dimaksud adalah syirik besar. Adapun syirik kecil, maka terdapat dalam sunnah-sunnah mutawatir.

1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:”Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya”. (QS. Al-Kahfi:110)

2. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM  bersabda, Allah SUBHANAHU WA TA’ALA berfirman (dalam hadits qudsi): ‘Aku adalah yang paling kaya dari sekutu. Barangsiapa yang melakukan amal ibadah yang di dalamnya menyekutukan yang lain dengan Aku, niscaya Aku meninggalkannya dan sekutunya.”[1]

Termasuk syirik kecil adalah bersumpah dengan sesuatu selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Dan ucapan manusia: Sesuatu yang dikehendaki Allah dan dikehendaki fulan, atau kalau bukan karena Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan fulan, atau ini dari Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan fulan, atau tidak ada bagiku selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan fulan, dan seumpamanya. Seharusnya ia berkata: Sesuatu yang dikehendaki Allah SUBHANAHU WA TA’ALA kemudian dikehendaki fulan, dan seterusnya.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM , beliau bersabda, “Barangsiapa yang bersumpah kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, maka dia telah kafir atau syirik.” HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi.[2]

Dari Huzaifah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM, beliau bersabda, “Janganlah engkau katakan: ‘Apa yang dikehendaki Allah dan dikehendaki fulan, akan tetapi katakanlah: apa yang dikehendaki Allah SUBHANAHU WA TA’ALA kemudian yang dikehendaki fulan.” HR. Ahmad dan Abu Daud.[3]
 

Syirik kecil bisa menjadi besar menurut apa yang ada di hati pelakunya. Maka, seorang muslim harus berhati-hati terhadap syirik secara mutlak/absolut: yang besar dan kecil. Syirik adalah kezhaliman yang besar yang tidak diampuni oleh Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Seperti dalam firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisaa`:48)

 
Perbuatan dan Ucapan yang termasuk syirik (menyekutukan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA) atau termasuk sarana-sarananya.

Ada perbuatan dan ucapan yang berada di antara syirik besar dan kecil menurut hati pelakunya dan yang bersumber darinya. Ia bertentangan dengan tauhid atau mengotori kemurniannya. Syari’at telah memperingatkan darinya, di antaranya adalah:

Memakai gelang atau benang dan semisalnya dengan tujuan menghilangkan mara bahaya atau penangkal datangnya mara bahaya. Hal itu termasuk syirik.
Menggantung tamimah[4] terhadap anak-anak, sama saja berasal dari kharz, atau tulang, atau tulisan. Hal itu untuk menjaga diri dari ‘ain[5] dan itu termasuk syirik.

Tathayyur, yaitu menganggap sial dengan burung atau seseorang atau suatu tempat atau semisalnya, dan itu termasuk syirik karena dia bergantung kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dengan keyakinan mendapat bahaya dari makhluk yang tidak mempunyai manfaat atau mudharat untuk dirinya sendiri. Keyakinan ini termasuk gangguan syetan dan waswasnya, hal itu menolak tawakkal.
Tabarruk (mengambil berkah) kepada pohon, batu, tempat-tempat bersejarah, kubur, dan semisalnya. Maka, meminta berkah, mengharap, dan meyakininya dalam perkara-perkara itu termasuk syirik; karena ia bergantung kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam mendapatkan berkah.

Sihir: yaitu yang samar dan halus sebabnya. Ia adalah nama dari jimat-jimat, mantera-mantera, ucapan, dan obat-obatan, maka hal itu memberi pengaruh di hati dan badan, lalu menyebabkan sakit atau meninggal dunia, atau memisahkan di antara seseorang dan istrinya. Ia adalah perbuatan syetan, dan kebanyakan dari sihir itu tidak bisa sampai kepadanya kecuali dengan perbuatan menyekutukan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Sihir adalah perbuatan syirik karena padanya mengandung ketergantungan kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dari jenis syetan, karena hal itu termasuk mengaku mengetahui yang gaib. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia …. (QS. Al-Baqarah :102)

Terkadang sihir adalah perbuatan maksiat yang merupakan bagian dari dosa besar, bila hanya dengan obat-obatan dan sejenisnya saja.

Meramal: ia adalah mengaku mengetahui yang gaib, seperti memberitakan yang akan terjadi di muka bumi karena bersandar kepada syetan, dan itu termasuk syirik; karena mengandung pendekatan diri kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan mengklaim mengetahui yang gaib bersama Allah SUBHANAHU WA TA’ALA.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM , beliau bersabda, “Barang siapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM .”[6]

Tanjim (astrologi): yaitu mengambil dalil dengan kondisi falak (peredaran bulan dan matahari) atas segala kejadian di permukaan bumi, seperti waktu bertiupnya angin, turunnya hujan, terjadinya penyakit dan kematian, nampaknya panas dan dingin, perubahan harga dan sejenisnya.

Itu termasuk syirik; karena menyandarkan sekutu bagi Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam mengatur dan terhadap ilmu gaib.
Meminta hujan dengan bintang: yaitu menyandarkan turunnya hujan kepada munculnya bintang atau tenggelamnya, seperti ia berkata: Kita diturunkan hujan dengan bintang ini dan bintang itu. Maka, ia menyandarkan hujan kepada bintang, bukan kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Ini termasuk syirik; Karena turunnya hujan berada di tangan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, bukan di tangan bintang dan yang lainnya.
Menyandarkan nikmat kepada selain Allah .

Segala nikmat di dunia dan akhirat berasal dari Allah.  Barangsiapa menyandarkannya kepada selain-Nya, sesungguhnya dia telah kafir dan menyekutukan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Seperti orang yang menyandarkan nikmat mendapat harta atau sembuh dari sakit kepada fulan atau fulan, atau menyandarkan nikmat perjalanan dan keselamatan di darat, laut dan udara kepada sopir, nakoda, dan pilot, atau menyandarkan mendapat nikmat dan terhindar dari mara bahaya kepada usaha pemerintah atau individu atau bendera dan semisalnya.

Maka, wajib menyandarkan semua nikmat kepada Allah  saja dan bersukur kepada-Nya. Adapun yang terjadi di atas tangan sebagian makhluk hanyalah merupakan sebab yang terkadang membuahkan hasil dan bisa juga tidak menghasilkan apa-apa. Terkadang bermanfaat dan bisa juga tidak berguna. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA: 

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah SUBHANAHU WA TA’ALA-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS. An-Nahl: 53).
 

[1]  HR. Muslim no. 2985

[2]  Shahih. HR. Abu Daud no. 3251, Shahih Sunan Abu Daud no 2787, at-Tirmidzi no. 1535 dan lafazd adalah miliknya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1241.

[3]  Shahih. HR. Ahmad no. 2354, lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 127, dan Abu Daud no. 4980 dan lafazd ini adalah miliknya, Shahih Sunan Abu Daud no. 4166.

[4]  Tamimah: sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal atau pengusir  penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang, dan lain sebagainya. (pent. Dikutip dari terj. Kitab Tauhid, Muhammad Yusuf Harun MA.)

[5]   Penyakit atau pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang, pent.)

[6]  Shahih. HR. Ahmad no. 9536 dan ini lafazdnya, dan al-Hakim no. 15, lihat Irwa` al-Ghalil no 2006.

Syirik Besar Dan Syirik Kecil – Part 1

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Syirik: yaitu menjadikan sekutu bagi Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyah, uluhiyah, asma’ dan sifat-Nya, atau pada salah satunya. Apabila seorang manusia meyakini bahwa bersama Allah SUBHANAHU WA TA’ALA ada yang menciptakan, atau yang menolong, maka dia seorang musyrik. Barangsiapa yang meyakini bahwa sesuatu selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA berhak disembah, maka dia seorang musyrik. Barangsiapa yang meyakini bahwa bagi Allah SUBHANAHU WA TA’ALA ada yang serupa pada asma’ dan sifat-Nya, maka dia seorang musyrik.

Bahaya Syirik

1.  Syirik kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA adalah perbuatan yang teramat zalim, karena telah melewati batas hak Allah SUBHANAHU WA TA’ALA yang khusus dengan-Nya, yaitu tauhid. Tauhid adalah keadilan paling adil dan syirik adalah kezaliman yang paling bengis dan kejahatan yang paling keji; karena ia mengurangi bagi Rabb semesta alam, menyombongkan diri dari taat kepada-Nya dan memalingkan kemurnian hak-Nya kepada selain-Nya dan memutarkan selainnya dengannya. Karena begitu besar bahayanya, maka sesungguhnya siapa yang berjumpa dengan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam keadaan syirik kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, sesungguhnya Allah SUBHANAHU WA TA’ALA tidak mengampuninya, seperti dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki, (QS. An-Nisaa’48)

2.  Syirik kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA merupakan dosa terbesar. Siapa menyembah selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA berarti dia telah meletakkan ibadah di tempat yang salah, dan memalingkannya kepada yang tidak berhak. Hal itu kezaliman yang besar, seperti firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman :13)

3. Syirik besar menggugurkan semua amal perbuatan dan memastikan kebinasaan dan kerugian, ia adalah dosa yang terbesar.

a. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65)

b. Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM  bersabda, ‘Maukah kalian aku beritahukan dosa yang terbesar? (Nabi mengucapkannya sampai tiga kali). Mereka menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Menyekutukan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, durhaka kepada kedua orang tua.’ Dan beliau duduk dan tadinya beliau bersandar: ‘Ketahuilah!, dan sumpah palsu.’ Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Beliau terus mengulanginya hingga kami berkata, ‘Semoga beliau diam.” Muttafaqun ‘Alaih.[1]

Keburukan-Keburukan Syirik:
Allah SUBHANAHU WA TA’ALA menyebutkan empat keburukan syirik dalam empat ayat, yaitu:

1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah SUBHANAHU WA TA’ALA tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa`:48)

2. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa` 116)

3. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah:72)

4. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Hajj:31)

Balasan Ahli Syirik
1. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ بينة

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al-Bayyinah :6)

2. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (151)

Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan:”Kami beriman kepada yang sebahagian dan kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (QS. An-Nisaa`:151)

3. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM   bersabda, ‘Barangsiapa yang meninggal dunia, sedangkan dia berdoa kepada sekutu dari selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, niscaya dia masuk neraka.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Dasar Syirik
Dasar syirik dan pondasinya dibangun atasnya adalah bergantung kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA niscaya menyerahkannya kepada sesuatu yang dia bertawakkal kepadanya, menyiksanya dengannya, menghinakannya dari sisi yang dia bergantung dengannya. Jadilah ia tercela, tidak ada pujian baginya, terhina tidak ada penolong baginya, seperti firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

Janganlah kamu adakan ilah-ilah yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah). (QS. Al-Isra` :22)
5. JENIS-JENIS SYIRIK

Syirik terbagi dua: Syirik besar dan syirik kecil.

1.  Syirik besar

Syirik besar mengeluarkan seseorang dari agama, menggugurkan semua amal ibadah, pelakunya menjadi halal darah dan hartanya, dan dikekalkan di dalam neraka apabila dia meninggal dunia dan tidak sempat bertaubat. Yaitu memalingkan ibadah atau sebagiannya kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, seperti berdoa kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, menyembelih dan bernazar kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA berupa ahli kubur, jin, syetan, dan selain mereka. Dan begitu pula berdoa kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA yang tidak bisa melakukannya selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA seperti meminta kekayaan dan kesembuhan, meminta hajat dan turun hujan kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Dan seperti yang demikian itu yang diucapkan orang-orang bodoh di sisi kubur para wali dan orang-orang shalih, atau di sisi berhala berupa pohon, batu, dan yang semisalnya.

Di antara macam-macam syirik besar:

a. Syirik dalam takut.

yaitu takut kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA berupa berhala atau patung, atau thagut, atau mayat, atau yang gaib (tidak terlihat mata, pent.) dari bangsa jin atau manusia bahwa ia bisa membahayakannya atau menimpakan kepadanya sesuatu yang dibenci. Takut ini termasuk tingkatan agama yang tertinggi dan teragung. Barangsiapa yang memalingkannya kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA maka sungguh dia telah menyekutukan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dengan syirik besar. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imrah : 175)

b. Syirik dalam tawakkal.

Tawakkal kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam segala perkara dan di semua kondisi termasuk jenis ibadah yang paling agung yang harus diikhlaskan hanya kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA saja. Barangsiapa yang bertawakkal kepada selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam perkara yang tidak bisa melakukannya selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, seperti tawakkal kepada orang yang sudah meninggal dunia dan orang-orang yang ghaib serta seumpama mereka dalam menolak bahaya, mendapatkan manfaat dan rizqi, berarti dia telah menyekutukan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dengan syirik besar. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al-Maidah :23)

c. Syirik dalam mahabbah (cinta).

Cinta kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA adalah cinta yang konsekuensi logisnya adalah kesempurnaan hina dan taat kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Inilah cinta yang murni hanya karena Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Tidak boleh menyekutukan seseorang dengan-Nya dalam mahabbah ini. Maka, siapa yang cinta kepada sesuatu seperti cintanya kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, berarti ia telah menjadikan sekutu dari selain Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam cinta mengagungkan, dan ini termasuk syirik. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS. Al-Baqarah:165)

d. Syirik dalam taat.

Termasuk syirik dalam taat adalah taat kepada para ulama, umara (pemerintah), pemimpin dan hakim dalam menghalalkan yang diharamkan, atau mengharamkan yang dihalalkan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Maka, siapa yang taat kepada mereka dalam hal itu, berarti dia telah menjadikan sekutu-sekutu (tandingan-tandingan) bagi Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam tasyri’ (menetapkan hukum), menghalalkan dan mengharamkan. Ini termasuk syirik besar, seperti firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-Rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubat :31)

Pembagian nifaq:
1. Nifaq besar: yaitu nifaq dalam keyakinan dengan cara menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Penganutnya adalah kafir, (ia akan dimasukkan) ke dalam neraka bagian paling bawah. Firman Allah SUBHANAHU WA TA’ALA:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisaa` :145)

2. Nifaq Kecil: yaitu nifaq dalam perbuatan dan seumpamanya. Pelakunya tidak keluar dari agama Islam, akan tetapi dia maksiat kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dan Rasul-Nya.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM  bersabda, “Ada empat perkara, siapa yang ada padanya empat perkara itu, niscaya ia adalah seorang munafik murni. Dan, siapa yang ada salah satunya padanya, berarti pada dirinya ada satu perkara nifaq sampai dia meninggalkannya: Bila diberi amanah, ia berkhianat, bila bicara ia berdusta, bila berjanji ia melanggar, dan bila berbantahan (bermusuhan) ia menyimpang/menyeleweng. “Muttafaqun ‘Alaih.[3]

Bersambung…

[1]  HR. al-Bukhari no. 2654 dan lafazd ini adalah miliknya, dan Muslim no.87

[2]  HR. al-Bukhari no 4497, ini adalah lafaznya dan Muslim no. 92.

[3]  HR. al-Bukhari no 34 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 58.

Nilai Waktu

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Untaian Nasehat.

Ihwan fillah yang berbahagia,
Mari kita manfaatkan waktu luang kita sebelum datang waktu sibuk…

Ibnul Qayyim, Rahimahullah, berkata: Membuang-buang waktu lebih berat daripada kematian, karena membuang-buang waktu memutusmu dari Allah dan negeri akherat. Sedang kematian memutusmu dari dunia dan penduduknya. Dunia semuanya awal sampai akhir tidak akan setara dengan duka sesaat, bagaimana dengan duka sepanjang umur ?  

Sumber: Fawaa’id al Fawaa’id halaman 853

– – – – – •(*)•- – – – –

Do’a Yang Sering Dipanjatkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Diantara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأثَمِ وَالـمَـغْــرَمِ

(Allahumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghromi)

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang.”

Ada seorang sahabat bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan (kepada Allah) dari lilitan hutang (dengan membaca doa di atas) ?”

Beliau menjawab:

إن الرجل إذا غرم حدث فكذب ووعد فأخلف

Artinya: “Sesungguhnya apabila seseorang terlilit hutang, jika dia berbicara, maka (biasanya) dia berdusta. Dan jika dia berjanji, maka (biasanya) dia ingkari.”
(HR. Al-Bukhari no. 798)

Mudah2an Allah menjauhkan kita dari sifat tersebut, nasehat untukku juga saudara2ku seiman, silahkan diteruskan kepada yang lain.

جَزَاك اللهُ خَيْرًا وَبَارَكَ اللَّهُ فيكم

Ringan Amal Besar Timbangan

• Untaian Nasehat

Banyak amalan-amalan ringan yang memiliki bobot timbangan besar sehingga kita bisa jadikan amalan-amalan rutin yang darinya Allah catat sebagai amal salih kita semua. Beberpa amalan-amalan itu antara lain :

~ Membaca dzikir setiap pagi dan sore.

Diantara dzikir yang disyariatkan adalah membaca :

‘subahanallah wa bihamdihi‘’

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca: ‘subahanallah wa bihamdihi‘ seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim)

~ Mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan maksiat maka dia mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

~Rajin beristighfar.
Dari Ibn Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang rajin beristighfar maka Allah akan berikan jalan keluar setiap ada kesulitan, Allah berikan penyelesaian setiap mengalami masalah, dan Allah berikan rizki yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud, hasan lighairihi)

KLIK amalan ringan yang kita sukai di: http://klikuk.com/amalan-ringan-yang-besar-pahalanya/ 

Selamat mengamalkan.
Semoga bermanfaat

www.KlikUK.Com
Titian Ilmu Penyejuk Qalbu

Pergunakan setiap kesempatan yang Allah berikan untuk mencetak amal salih sebaik baiknya,
– waktu muda sebelum tua
– waktu sehat sebelum sakit
– waktu luang sebelum sempit
– waktu kaya sebelum miskin
– waktu hidup sebelum mati

– – – – – •(*)•- – – – –