Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Nabi Bukan, Malaikat Juga Bukan, Tuhankah Mereka…?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Al Khumainy menjelaskan kedudukan imam-imam Syi’ah dengan berkata :

إن للإمام مقاما محمودا ودرجة سامية وخلافة تكوينية، تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون. وإن من ضروريات مذهبنا: أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل. 
“Sesungguhnya seorang imam –dalam idiologi Syi’ah memiliki kedudukan yang terpuji, dan, derajat yang tinggi, dan khilafah (perwakilan) dalam hal penciptaan. Seluruh parsial alam semesta ini tunduk kepada kewaliannya dan kekuasaannya. Dan diantara prinsip mazhab kami: Bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat yang didekatkan tidak pula oleh nabi yang telah ditunjuk menjadi seorang rasul.” (Al Hukumah Al Islamiyyah oleh Ayatullah Al Khumainy 52)

Lembaran kitab-kitab biografi tokoh-tokoh agama Syi’ah, banyak menceritakan perihal tokoh mereka dengan nama Abdul Husain (Hamba Husain) bukan lagi hamba Allah Azza wa Jalla.
– Abdul Husain bin Ali wafat tahun 1286 H, ia adalah seorang tokoh terkemuka agama syi’ah pada zamannya, sampai-sampai dijuluki dengan Syeikhul ‘Iraqain (Syeikh kedua Iraq/ Iraq & Iran). 
– Abdul Husain Al Aminy At Tabrizi 1390 H, penulis buku Al Ghadir.
– Abdul Husain Syarafuddin Al Musawy Al ‘Aamily 1377 H, penulis buku Abu Hurairah, kitab Kalimatun Haula Ar Riwayah, Kitab An Nash wa Al Ijtihaad, Al Muraja’aat
– Abdul Husain bin Al Qashim bin Sholeh Al Hilly wafat tahun 1375 H.
– Abduz Zahra’ (Hamba Az Zahra’/Fatimah) Al Husainy, penulis kitab: Mashaadiru Nahjil Balaaghah wa Asaaniduhu.

Dengan lebih fulgar Muhammad Baqir Al Majlisy, meriwayatkan ucapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu:

نحن خزان الله في أرضه وسمائه، وأنا أحيي وأنا أميت، وأنا حيٌّ لا أموت.

“Kami adalah para penjaga (kekayaan atau ilmu) Allah di bumi dan di langit, akulah yang menghidupkan dan akulah yang mematikan, serta aku senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati.” (Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy 39/347)

Setelah membaca riwayat riwayat palsu dan dusta namun demikian diyakini dan diajarkan oleh sekte Syi’ah, menurut hemat anda, siapakah mereka?

berbagai data di atas, membuktikan bahwa tuhan yang mereka sembah sebetulnya bukan Tuhan yang anda sembah.

Ini Imam Atau Tuhan…?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sekte syi’ah meriwayatkan ucapan salah satu Imam mereka:

عن أبي عبد الله جعفر الصادق: إني لأعلم علم ما في السماوات وما في الأرض وأعلم ما في الجنة وأعلم ما في النار، وأعلم ما كان وما يكون. 

“Diriwayatkan dari Abu Abdullah Ja’far As Shaadiq, ia menegaskan: “Sungguh aku telah menguasai ilmu tentang segala isi langit dan segala isi bumi, aku juga mengetahui tentang isi surga dan juga isi neraka. Sebagaimana aku juga telah menguasai ilmu tentang segala yang telah berlalu dan yang terjadi pada masa mendatang.” (Al Kafy oleh Al Kulainy 1/261)

Ucapan di atas tentu bertentangan dengan ayat berikut:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ( النمل 65)

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, selain Allah, dan mereka tidak mengetahui bahwa mereka akan dibangkitkan.” An Namel 65.

Riwayat dan pernyataan semisal sangat banyak dalam kitab kitab syi’ah.

Inilah sebagian doktri syi’ah yang di ajarkan dalam kitab2 mereka.

Menurut anda: siapakah sejatinya kaum syi’ah yang kultus kepada imamnya sejauh ini?

Tahun Baru…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Memangnya ada apa dengan barunya tahun?

Adakah jaminan untuk anda mendapat surga dengan datangnya tahun baru?

Adakah jaminan bahwa anda selamat dari neraka, dengan datangnya tahun baru?

Adakah jaminan untuk anda terbebas dari jerat setan, dengan datangnya tahun baru?

Adakah jaminan bahwa umur anda bertambah panjang, dengan datangnya tahun baru? Percayalah bahwa walaupun tahun berputar ulang “baru” namun anda tidak akan mengalami perubahan kecuali bila anda sendiri yang membuat perubahan itu?

Tahukah anda bahwa pada setiap tahun baru , sekian banyak saudara anda yang menghembuskan nafas terakhirnya? Mungkinkah anda adalah salah satu dari mereka yang harus mengakhiri nafasnya di dunia ini ?

Tahukah anda bahwa sekian banyak saudara anda yang terjerembab dalam dosa? Masihkah anda menanti giliran untuk menjadi korban selanjutnya?

Murid Meluruskan Kesalahan Guru, Wajar, Guru Mengajari Murid Yang Bodoh, Kewajiban…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Kebenaran selalu lebih mulia dan tinggi dibanding ikatan apapun, tanpa terkecuali ikatan perguruan. sejarah para ulama’ membuktikan akan hal ini, Imam Syafii pernah berguru kepada Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid senior Imam Syafii, rahimahumullah. Namun demikian,mmereka berbeda pendapat, bahkan mazhab.

Perbedaan antara mereka sangatlah masyhur, dan sewajarnya perbedaan pendapat antara ulama’, antara mereka terjadi bantah membantah, demi tegaknya kebenaran dan pudarnya kesalahan. Perbedaan yang terjadi dan bantah membantah yang ada, tidak menyebabkan mereka saling membenci atau melupakan status sebagai murid dan guru.

Imam syafii sering membantah pendapat gurunya sendiri yaitu Imam Malik. Bahkan kadang kala bantahan beliau terasa sedikit pedas, sebagaimana yang terjadi pada masalah khiyarul majlis ( hak membatalkan transaksi selama penjual dan pembeli masih berada satu majlis).

Kala itu menyebar informasi bahwa Imam Malik tidak memfatwakan adanya khiyarul majlis, padahal beliau meriwayatkan hadits hadits tentang hal ini dalam kitabnya Al Muwattha’.

Tak ayal lagi, pendapat beliau ini menuai kritik dari ulama’ semasa beliau tanpa terkecuali Imam Syafii.

Tanpa mengurangi rasa hormat sebagai seorang Murid, Imam Syafii mengomentari pendapat gurunya dengan berkata:

رحم الله مالكاً لست أدري من اتهم في إسناد هذا الحديث اتهم نفسه أو نافعاً وأعظم أن أقول اتهم ابن عمر

Semoga Allah merahmati Malik, aku tidak tahu siapakah yang ia tuduh telah salah dalam meriwayatkan hadits ini? Apakah ia menuduh dirinya yang salah, atau gurunya yaitu nafi’, dan aku merasa sungkan untuk mengatakan bahwa Malik telah menuduh Ibnu Umar salah meriwayatkan hadits ini.

Allahu Akbar! Inilah contoh murid cerdas dan berbakti kepada guru, kebenaran lebih dijunjung tinggi dibanding apapun, demi baktinya kepada guru. Murid yang berbakti tidak rela bila kesalahan gurunya berkepanjangan, sehingga kesalahannya menyebar dan diikuti oleh banyak orang, akibatnya dosanya juga berkepanjangan.

Andai sikap dan ucapan Imam Syafii semisal di atas, dilakukan oleh seorang murid zaman sekarang, kira kira julukan apa ya yang akan disandangkan kepadanya?

Dan sebaliknya, bila murid melakukan kesalahan baik sikap atau pendapat makabitu adalah kewajiban guru sebagai seorang berilmu untuk menyampaikan atau mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.

Anda bisa saja membuat alasan atau penafsiran atau pembelaan, namun tetap saja itu adalah persepsi anda, bisa diterima dan bisa pula ditolak. Intinya, saya hanya ingin mencontohkan bagaimana dahulu para ulama’ membangun senioritas dan memperlakukannya, selebihnya terserah kepada anda.

Iblispun Berkedok Sebagai Penasehat…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Saudaraku, kebenaran diukur dengan dalil dan bukti, bukan diukur dengan judul, atau kemasan atau hal lain yang serupa. Bersikaplah dengan bijak dalam segala urusan, berpikir obyektif, dan senantiasa mewaspadai peran emosi ketika hendak memutuskan. Dan jangan lupa mohon petunjuk kepada Allah Azza wa Jalla agar selalu menunjukkan jalan kebenaran dalam setiap urusan anda.

Indahnya judul, atau kemasan bukanlah jaminan bagi benar atau salahnya isi dan kandungan. Pelajari lebih jauh dengan menggunakan dalil dan bukti bukan sekedar melihat judul.

Ingat, dahulu nabi Adam alaihissalam terperdaya oleh judul “nasehat” sehingga terjerembab dalam perbuatan dosa. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

Iblis bersumpah kepada keduanya: sesungguhnya aku adalah pemberi nasehat bagi kalian berdua. ( Al A’raf 21)

Benar atau salahnya suatu urusan tidaklah ditentukan oleh judul dan kemasan, namun lihatlah isinya lalu timbanglah dengan dalil dan bukti. Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab.

Husnuzzhon Bukan Dalil…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Betapa banyak dan sering sebagian saudara kita berdalil dengan husnuzzhon, untuk membenarkan suatu ucapan atau perbuatan, Sebagaimana banyak pula yang berdalil dengan senioritas, atau mayoritas atau hal lain serupa.

Ketahuilah bahwa semua itu bukanlah dalil untuk membenarkan atau menyalahkan suatu ucapan atau perbuatan.

Berbaik sangka dan senioritas hanya berfungsi dalam sikap, yaitu anda memberi uzur (toleransi) dan menghormati yng lebih tua. Namun urusan salah atau benar tidak berubah, yang salah tetap salah walau yang melakukan adalah nenek moyang anda. Dan yang benar adalah benar walau yang melakukan atau mengucapkan adalah cucu atau bahkan cicit anda.

Kalaupun ibu bapak bahkan nenek moyang anda mengatakan suatu ucapan yang salah maka katakanlah itu salah, namun urusan hormat dan berbakti maka tetap saja berbakti walau kesalahan mereka sampai pada level kafir.

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Lukman 15)

Satu kemunduran sikap dan mental bila anda telah mengenal Islam, lalu masih pula berdalil dengan senioritas dan husnuzzhon untuk menerima suatu ucapan dan sikap atau menolaknya.

Katakanlah kebenaran sebagai kebenaran dan kesalahan sebagai kesalahan tanpa harus melanggar prinsip prinsip husnuzzhon dan hormat kepada yang tua atau sayang kepada yang muda.

Testimoni Mantan Kafir…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Dalam dunia pemasaran, testimoni begitu manjur untuk menarik konsumen baru. Wajar bila berbagai perusahaan menjadikannya sebagai salah satu trik pemasarannya.

Dan nampaknya testimoni juga manjur dalam dunia dakwah yang memiliki banyak kemiripan dengan pemasaran.

Testimoni mantan manjur untuk MENARIK ATAU MENJARING “konsumen baru” atau pengikut baru.

Anda tidak percaya?

Sahabat Anas bin Malik radhiallahu anhu menceritakan: 

” ما سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم على الإسلام شيئا إلا أعطاه
وفي لفظ:
أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم غنما بين جبلين، فأعطاه إياه، فأتى قومه فقال: «أي قوم أسلموا، فوالله إن محمدا ليعطي عطاء ما يخاف الفقر»

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tiada pernah menolak permintaan seseorang demi masuknya seseorang ke agama Islam.
Pada salah satu redaksi hadits ini sahabat Anas radhiallahu anhu berkata:

Suatu hari ada seorang lelaki yang datang menjumpai beliau untuk meminta domba sebanyak “DUA LEMBAH”.

Karena begitu girang lelaki itu kembali ke kaumnya, dan berkata kepada mereka: wahai kaumku, hendaknya kalian masuk Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi pemberian yang begitu banyak seakan ia tidak pernah kawatir jatuh miskin.

فقال أنس: «إن كان الرجل ليسلم ما يريد إلا الدنيا، فما يسلم حتى يكون الإسلام أحب إليه من الدنيا وما عليها»

Sahabat Anas berkata: bisa jadi ada seseorang yang masuk Islam hanya demi mendapatkan harta kekayaan dunia, namun sekedar ia masuk Islam, tanpa terasa semuanya berubah hingga akhirnya agama Islam lebih ia cintai dibanding dunia beserta seluruh isinya. (muslim)

Testimoni dalam sejarah dakwah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Namun tentunya SEBATAS UNTUK MENGAJAK dan MENJARING pengkut baru bukan untuk kajian kitab atau fatwa atau penafsir al Qur’an atau As Sunnah atau menjadi “PANUTAN DAN TELADAN”.

wallahu a’alam bisshowab.

Selamat Natal ? Ogah Aah…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sebagai orang Islam, saya tidak akan mengucapkan kata di atas. Itu idiologi kufur mereka, saya tidak berkepentingan, apalagi itu nyata nyata kekufuran menurut syari’at agama saya. Biarkan saja, mau natlan atau mau yang lain terserah mereka, Allah Ta’ala berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ 

Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku . (Al Kafirun 6)

Bahkan sebagai seorang muslim saya merasa iba, sekaligus sedih karena mereka tersesat sehingga masih percaya dengan agama yang telah mansukh (kadaluarsa), karena mereka tersesat jalan, mereka sedang meniti jalan menuju ke neraka. Haram hukumnya bila saya malah bersenang-senang apalagi mengucapkan selamat kepada mereka yang sedang menuju ke neraka dan sedang merayakan kesesatannya.

Walau demikian, saya juga tidak dibenarkan untuk mengejek mereka apalagi memaki mereka dan tuhannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ فَيَسُبُّواْ اللّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ {108}

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al An’aam 108)

Saudaraku! bersikaplah secara proporsional dan jangan berlebih-lebihan. Selamat menjadi ummat Islam, semoga istiqomah.

Toleransi Bangsa JIN dan JIL…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Toleransi Bukan Berarti Menggadaikan Prinsip Agama.
Toleransi dianjurkan, berbuat baik disyari’atkan, tolong menolong menjadi suatu kepastian walaupun anda bersebrangan agama dengan tetangga. Namun itu semua bukan berarti islam membenarkan anda untuk meggadaikan idiologi dan prinsip agama anda. Islam tidak pernah mengizinkan kepada anda untuk bersikap lembek dalam urusan aqidah dan keimanan:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya engkau bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu.” Al Qalam 9

Al Mujahid berkata: Mereka mendambakan jikalau engkau sedikit melunak (mendekat) kepada tuhan-tuhan mereka, dan meninggalkan sebagian dari kebenaran yang ada padamu.”

Inilah prinsip agama Islam yang tidak dapat di tawar-tawar, sebagaimana yang tertuang pada firman Allah Ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ {1} لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ {2} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {3} وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ {4} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5} لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ 

“Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun; 1-6).

Saya yakin, Anda meyakini dan beriman bahwa satu-satunya agama yang benar dan diterima di sisi Allah ialah agama Islam. Keyakinan ini tertanam kokoh dalam jiwa anda, dan tidak mungkin tergoyahkan oleh apapun.

Kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang sah harus selalu anda yakini.

Kebaikan perilaku dan keluhuran tutur kata, bukan berarti keraguan akan kebenaran agama anda.

Persahabatan dan kerja sama, juga bukan berarti keraguan akan kesalahan agama orang lain.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran; 85).

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَم
ُ
“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah agama Islam”. Ali Imran 19

)وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ( 

“Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggamannya. Tiadalah seorangpun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, lalu ia mati, sedangkan ia belumberiman kepada agama yang aku diutus dengannya, melainkan ia menjadipenghuni neraka.” Riwayat Muslim

Dengan demikian, bila anda menginginkan toleransi berupa hubungan yang baik, tidak saling melanggar hak dan kepemilikan, maka itu semua telah diajarkan dalam syari’at.

Namun bila yang anda inginkan dari toleransi ialah lunturnya idiologi, iman dan keyakinan, maka sejatinya itu bukan toleransi. Sikap tersebut sejatinya adalah pelecehan harkat dan martabat.

Bila yang anda inginkan dari toleransi ialah merendahkan harga diri dan menerima kehinaan dan penindasan, maka itu sejatinya kemalasan be rookie dan indikasi adanya jiwa pengecut lagi penakut.

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُون
َ
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusir kamu dari negrimu dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan meeka sebagai kawan, maka meeka itulah orang-orang yang berbuat zalim.” Al Mumtahanah 9

Benarkah setiap agama memiliki kebenaran relatif?
Para pendakwah paham Jaringan Islam Liberal (JIL) mempropagandakan adanya “kebenaan relatif” pada setiap ajaran dan agama. Anggapan ini sejatinya hanyalah perangkap dan kamuflase yang sedang diperankan oleh para penggiat paham islam liberal. Sejatinya, dibalik slogan ini mereka menyembunyikan kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan pembelaan terhadap segala bentuk kesesatan.

Wajar bila setiap paham baru yang menodai kesucian agama Islam, kaum libralis senantiasa berada di barisan terdepan para pembelanya. Namun sebaliknya, bila ada seruan untuk memurnikan ajaran Islam, apalagi menerapkannya, niscaya kaum islam liberal menjadi orang pertama yang menentangnya.
Aneh bin ajaib.

Kemudian bila anda hendak menerapkan paham liberal ini, yaitu setiap paham dan agama memiliki kebenaran yang relatif, maka mustahil anda dapat melakukannya. Sebab telah menjadi fitrah setiap manusia untuk memilih yang benar dan bermanfaat serta menjauhi dan memerangi segala yang salah dan merugikan.

Dan bila anda sedikit merenung, niscaya anda sampai pada kesimpulan bahwa doktrin ini bertujuan untuk meruntuhkan bangsa dan negara serta umat Islam secara khusus. Bila doktrin ini diterapkan, maka setiap orang yang memiliki paham tertentu, bebas bergerak dan menjalankan pemahamannya. Dengan demikian, kaum komunis bebas lenggang kangkung, kaum banci akan bebas menjalankan hasratnya. Para penjahat bebas menjalankan kejahatannya, koruptor bebas melakukan korupsinya, dan kaum kanibal bebas menerapkan pemahamannya dst.

Bila demikian, maka pengadilan harus ditutup, sebab setiap orang yang melakukan suatu tindakan, baik itu merugikan orang lain atau menguntungkan pada hakekatnya sedang menjalankan pemahamannya.
Dahulu bangsa Indonesia mengenal suatu aliran yang dikenal dengan “Darmo Gandul”. Darmo gandul mengajarkan slogan : “Istrimu adalah istriku, dan hartamu adalah hartaku”. Mungkinkah kaum liberal menoleransi aliran ini, sehingga mereka membiarkan orang-orang yang menganut paham “Darmo Gandul” menerapkan pahamnya kepada istri dan harta mereka?

Walau demikian, kaum liberalis tidak istiqomah dalam menerapkan doktrin ini. Mereka hanya menerapkan doktrin ini kepada setiap paham yang menyelisihi Islam. Akan tetapi tatkala mereka berhadapan dengan kaum muslimin atau aqidah Ahlis Sunnah, mereka berubah wajah. Mereka dengan beringas menyerang serta menganggap sesat paham atau Aqidah Ahlis Sunnah yang meyakini bahwa kebenaran hanya dimiliki oleh Islam. Mengapa mereka tidak menerapkan doktrin mereka, dan berkata: sesungguhnya pada pemahaman ini terdapat kebenaran, dan sepantasnya dibiarkan berkembang di masyarakat.

Sebagai salah satu buktinya ialah tulisan koordinator mereka yang bernama Ulil Abshar Abdallah. Ia menganggap bahwa agama Islam yang diajarkan oleh Nabi dan yang diamalkan oleh Ahlus Sunnah hingga saat ini tidak segar lagi dan sudah ketinggalan zaman atau kurang dewasa dll. Oleh karena itu; ia menyeru untuk mengadakan penyegaran.

Renungkan saudaraku! Bukankah ini merupakan sikap menghakimi dan menyalahkan suatu pemahaman?!

Andai kaum liberal benar-benar menerapkan doktrin ini kepada setiap orang, niscaya mereka menerima/toleransi dengan pemahaman Ahlis Sunnah yang menyakini bahwa paham kaum liberal adalah sesat dan layak untuk dimusnahkan dan disingkirkan dari muka bumi. Namun kenyatannya tidak demikian, mereka sangat berang dan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk memerangi agama Islam yang murni, yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Fenomena ini membuktikan kepada kita bahwa sejatinya liberal bangkit dan bergerak guna menghancurkan agama Islam dan menumbuh suburkan setiap paham dan aliran yang menyelisihi Islam. Liberalisasi Islam bukan bertujuan menyegarkan pemahaman Islam.

Saudaraku! Untuk menepis perangkap adanya “kebenaran relatif” pada setiap agama, simaklah beberapa dalil berikut:

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَـذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ {20} وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ {21} فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَاتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَآنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ الأعراف 20-22

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata:”Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)” Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya:”Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua” Maka syaitan membujuk keduanya (untuk makan memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah baginya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka:”Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:”Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua”. Al A’araf 20-22.

Iblis -guru besar setiap penyeru kabatilan-, tatkala ingin mengoda dan menyesatkan Nabi Adam dan Istrinya Hawwa ‘alaihimas salaam, ia mengemas godaannya tersebut dalam kemasan nasehat, dan saran agar mereka berdua dapat hidup kekal. Tidak cukup hanya dengan mengesankan bahwa bisikannya adalah nasehat agar mereka berdua dapat menjadi malaikat dan kekat di surga. Iblis benar-benar ahli dalam menggunakan tipu muslihat, ia menguatkan godaannya ini dengan sumpah palsu.

Karena begitu lembut dan halus tipu daya Ibllis, sehingga keduanya terperdaya oleh talbis dan tadlis (pengelabuhan Iblis) ini. Tak ayal lagi mereka terjerumus dalam kesalahan besar, yaitu melanggar larangan Allah Ta’ala dengan memakan buah yang telah dilarang untuk mereka makan.

Demikianlah ajaran Iblis dan demikianlah metode para penyeru kebatilan di setiap zaman dan tempat. Mereka mengemas kebatilan dengan kata-kata indah, slogan-slogan menggiurkan, dan iming-iming manis.

Fenomena ini bahkan telah menjadi sunnatullah pada makhluqnya, agar terbukti siapa dari mereka yang benar-benar beriman dan ta’at dan siapa dari mereka yang hanya menuruti setiap bisikan syahwat, nafsu dan akalnya. Rasulullah pernah menceritakan fenomena ini dalam sabdanya berikut ini:

عن أبي هريرة عن رسول الله قال: (لما خلق الله الجنة والنار أرسل جبريل إلى الجنة فقال: أنظر إليها وإلى ما أعددت لأهلها فيها. قال: فجاءها ونظر إليها وإلى ما أعد الله لأهلها فيها، قال: فرجع إليه، قال: فوعزتك لا يسمع بها أحد إلا دخلها، فأمر بها فحفت بالمكاره، فقال: ارجع إليها فانظر إلى ما أعددت لأهلها فيها. قال: فرجع إليها، فإذا هي قد حفت بالمكاره. فرجع إليه، فقال: وعزتك لقد خفت أن لا يدخلها أحد. قال: اذهب إلى النار فانظر إليها وإلى ما أعددت لأهلها فيها، فإذا هي يركب بعضها بعضا، فرجع إليه، فقال: وعزتك لا يسمع بها أحد فيدخلها، فأمر بها فحفت بالشهوات فقال: ارجع إليها فرجع إليها، فقال: وعزتك لقد خشيت أن لا ينجو منها أحد إلا دخلها. رواه أحمد وأبو داود والتِّرمذي والنسائي وصححه الألباني

“Dari sahabat Abu Hurairah , ia menuturkan dari Rasulullah bersabda: “Tatkala Allah menciptakan Surga dan Neraka, Ia mengutus Malaikat Jibril untuk menuju ke Surga, kemudia Ia berfirman: Lihatlah Surga, dan apa yang telah Aku persipakan di dalamnya untuk penghuninya. Maka Malaikat Jibril mendatangi Surga, dan melihatnya dan apa (kenikmatan) yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya. Kemudian Malaikat Jibril kembali kepada Allah, dan berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, tidaklah ada seseorang yang mendengar tentangnya, kecuali ia akan memasukinya. Maka Allah memerintahkan agar Surga diliputi dengan kesusahan. Kemudian Allah befirman kepada Malaikat Jibril: kembalilah engkau ke sana, dan lihatlah apa yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya. Maka Malaikat Jibril-pun kembali ke Surga, dan ternyata ia telah diliputi dengan kesusahan. Kemudian Malaikat Jibril kembali ke Allah, lalu ia berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, aku amat khawatir tidak akan ada yang masuk ke dalamnya. (Kemudian) Allah berfirman kepadanya: Lihatlah Neraka, dan apa yang telah Aku persipakan di dalamnya untuk penghuninya. Maka Malaikat Jibril mendatangi Neraka, dan melihatnya dan apa (siksa) yang telah Allah persiapkan di dalamnya untuk para penghuninya, ternyata Neraka dalam keadaan saling tumpang tindih, Kemudian Malaikat Jibril kembali kepada Allah, dan berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, tidaklah ada seseorang yang mendengar tentangnya, kemudian ia akan memasukinya. Maka Allah memerintahkan agar Neraka diliputi dengan syahwat (kesenangan). Kemudian Allah befirman kepada Malaikat Jibril: kembalilah engkau ke sana, Maka Malaikat Jibril-pun kembali ke Neraka. Kemudian Malaikat Jibril kembali ke Allah, lalu ia berkata: Sungguh demi Keperkasaan-Mu, aku amat khawatir tidak akan ada yang takut darinya kecuali ia akan masuk ke dalamnya. (riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, An Nasa’i dan dishahihkan oleh Al Albani).

Ngaku Sama Tapi Tak Sudi Berganti Agama.
Ada satu hal yang mengherankan dalam kehidupan para penggiat paham islam liberal. Mereka mengaku bahwa seluruh agama sama, yaitu sama-sama menuju kepada keselamatan dengan berserah diri. Bahkan tidak canggung-canggung, sebagian tokoh islam liberal mengklaim bahwa agama lain lebih dewasa ketimbang agama Islam.

Ulil Absar Abdallah berkata : “Jadi, Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa terjadi di kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan keselamatan di luar gereja. Baru pada 1965 masehi, Gereja katolik di Vatikan merevisi paham ini. Sedangkan Islam yang baru berusia 1.423 tahun dari hijrah nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti katolik.” (Islam Liberal & Fundamental hal 127) .

Walau demikian, suatu hal yang sangat aneh telah terjadi pada para penganut paham islam liberal. Mengaku bahwa Kristen dan lainnya lebih dewasa, namun mereka tidak sudi berpindah agama. 
Fakta ini menurut hemat saya hanya memiliki dua penafsiran:

1- Klaim bahwa selain Islam lebih dewasa, tidak benar adanya, alias paham liberal adalah salah. Mereka enggan berpindah ke agama yang menurut mereka lebih dewasa, karena bila berpindah agama, berakibat mereka tidak lagi dapat memainkan peranannya dalam tubuh umat Islam, sebagaimana yang dinginkan oleh “tuan-tuan” mereka. 

2- Klaim ini benar, sehingga para penganut Islam Liberal tetap mempertahankan kesalahan, dan kesesatan. Dengan demikian, mereka layak menyandang gelar “penyesat umat manusia.”

Balon Bocor Lalu Meletus & Balon Meletus Tanpa Bocor…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Menurut anda, balon manakah yang letusannya lebih keras ? Balon yang sudah bocor beberapa lubang, atau balon yang tidak bocok sama sekali dan tiba tiba meletus?

Ini gambaran sedergana bagi orang yang telah menyalurkan nafsu atau syahwatnya sedikit demi sedikit. Memandang, menyentuh, mencium, memeluk, mencumbu dan lainnya. Giliran sudah saatnya meletus alias setelah nikah, bisa dibayangkan ketusannya paling paling hanya bersuara dor, cicak saja tidak terkejut.

Namun orang yang belum pernah bocor, tidak lewat pandangan atau cumbuan atau sentuhan apalagi pelukan dan ciuman. Bila tiba saatnya meledak karena telah halal alias menikah, bisa dipastikan letusannya : DUUUUUUUUOOOOOOOOOR.

Karena itu Islam mengharamkan praktek bocor balon, agar kelak letusan balon anda sempurna dan selalu sempurna

Inilah salah satu alasan mengapa banyak suami yang kurang bisa meletus di saat berjumpa dengan istrinya, sering membocori balonnya, sehingga kempes.