Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Guru Beda Pendapat, Murid Beda Pendapatan …?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Serupa bisa jadi, namun sama belum tentu, betapa banyak hal-hal yang sekilas nampak serupa namun ketika dicermati baik baik terbukti tidak sama alias berbeda.

Di sinilah letak ketekunan dan kejelian orang yang berilmu, mengkaji, menganalisa dengan seksama hingga akhirnya dapat membedakan antara berbagai hal yang sekilas nampak serupa.

Sedangkan orang yang kurang ilmu, sering kali malas untuk berpikir apalagi sampai mengharuskan dirinya merenung dalam waktu lama. Mereka lebih sering mencukupkan diri dengan penilaian sekilas walaupun sering kali terbukti kesimpulannya salah.

Sejarah telah membuktikan betapa banyak murid beda pendapat dengan guru, dan semua berjalan baik baik saja. Namun kini, betapa banyak orang yang belum siap melihat fakta itu, mereka menuntut murid harus “sendiko dawuh” sama guru, tidak boleh beda pendapat, sekecil apapun, bila tidak, maka akan segera dihukumi dengan label “kurang ajar” “tidak santun” “tidak menghormati orang tua”.

Andai kondisi ini terjadi, bisa jadi tidak ada mazhab Maliky, Syafii, dan Hambali.

Imam Malik adalah guru Imam Syafi, dan Imam Ahmad adalah murid Imam Syafii. Walau demikian, sejarah telah membuktikan mereka bukan hanya berbeda pendapat dalam satu atau dua masalah. Betapa banyak masalah yang mereka berbeda pendapat, tanpa ada masalah antara mereka.

Masalah terjadi, bukan antara guru, karena sesama guru memahami bahwa perbedaan pendapat itu dinamika ilmu. Namun masalah kemudian terjadi antara sesama murid, karena mereka “cupet ilmu” dan sering kali “ada kepentingan terselubung” dibalik perbedaan pendapat guru, bahkan ada “perbedaan pendapatan” murid yang diselimuti dengan perbedaan pendapat guru.

Karena ulah murid yang cupet ilmu, muncullah fanatik mazhab dan perseteruan tercela antara sesama murid. Karena itu, wahai para murid (baca: panitia kajian) waspadalah, jangan berselimut dengan perbedaan pendapat guru, dan sadarilah bahwa antara guru guru anda pasti akan terjadi perbedaan pendapat, dan akan terus terjadi perbedaan pendapat, karena itu bagian dari dinamika ilmu.

Dahulu, Imam Qatadah As Sadusy berkata:

من لم يعرف الاختلاف لم يشم رائحة الفقه بأنفه

“Orang yang belum mengenal perselisihan pendapat para ulama’ berarti batang hidungnya belum pernah mencium aroma Ilmu Fiqih.”(Ibnu Abdil Bar dalam kitab Jaami’ Bayaanil Ilmi Wa Fadhlihi)

Imam-imam Syi’ah Dalam Literatur Syi’ah…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Syi’ah meyakini bahwa diantara kriteria seseorang imam adalah mengetahui hal yang gahib. Bahkan sebagian referensi mereka dengan tegas menyatakan bahwa imam mereka mengetahui segala hal yang ghaib. Sebagai salah satu implementasinya, para imam mengetahui kapan dan dimana mereka mati, bahkan mereka tidak mati melainkan bila mereka telah menghendakinya.

Berikut beberapa riwayat yang termaktub dalam kitab Al Kafy karya Al Kulainy. Perlu diketahui bahwa agama Syi’ah meyakini bahwa kitab Al Kafy adalah kitab yang paling autentik dan riwayatnya paling shahih, atau setara dengan Sahih Imam Bukhary bagi umat Islam selain mereka.

Riwayat pertama:

عن عبد الواحد بن علي قال قال أمير المؤمنين علي بن أبي طالب عليه السلام: (أنا أورث النبيين إلى الوصيين ومن الوصيين إلى النبيين، وما بعث الله نبيا إلا وأنا أقضي دينه وأنجز عداته، ولقد اصطفاني ربي بالعلم والظفر ولقد وفدت إلى ربي اثني عشر مرة، فعرفني نفسه، وأعطاني مفاتيح الغيب. 

“Diriwayatkan dari Abdul Wahid bin Ali, ia mengisahkan: Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) ‘alaihissalaam berkata: Aku diberi kekuasaan untuk menyampaikan warisan para nabi kepada para washy (imam), dan warisan para washi kepada para nabi. Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun melainkan akulah yang melunasi piutangnya dan menepati janjinya. Sungguhnya Allah telah memilihku untuk menerima ilmu dan kemenangan. Aku benar-benar telah menghadap kepada Allah (Tuhanku) sebanyak dua belas kali. Pada setiap kali itulah Allah memperkenalkan dirinya kepadaku dan Dia mengaruniaiku kunci-kunci ilmu ghaib.”( Biharul Anwaar 39/350 & Tafsir Furaat hal: 67.)

Riwayat kedua: 

قال أبو جعفر محمد بن علي بن الحسين (114هـ): أما علم ما كان وما سيكون، فليس يموت نبي ولا وصي إلا والوصي الذي بعده يعلمه. 

“Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al Husain (114 H) berkata: “Adapun perihal ilmu tentang segala hal yang telah berlalu, dan juga yang akan terjadi pada masa mendatang, maka tidaklah ada seorang nabipun atau washi (pengemban wasiat sebagai imam-pen) yang meninggal melainkan pengemban wasiat selanjutnya telah mengetahuinya.”( Al Kafy oleh Al Kulainy 1/240 )

Riwayat ketiga:

عن سيف التمار قال: كنا مع أبي عبد الله عليه السلام جماعة من الشيعة في الحجر، فقال : علينا عين؟ فالتفتنا يمنة ويسرة، فلم نر أحدا، فقلنا: ليس علينا عين، فقال: ورب الكعبة ورب البنية –ثلاث مرات- لو كنت بين موسى والحضر، لأخبرتهما، أني أعلم منهما، ولأنبأتهما بما ليس في أيديهما؛ لأن موسى والخضر عليهما السلام، أعطيا علم ما كان، ولم يعطيا علم ما يكون، وما هو كائن حتى تقوم الساعة، وقد ورثناه من رسول الله صلى الله عليه وآله وراثة. 

“Diriwayatkan dari Saif At Tammar, ia mengisahkan: Pada suatu hari kami sekelompoh pengikut agama Syi’ah bersama-sama dengan Abu Abdillah (Ja’far As Shaadiq) di Hijir Ismail. Lalu beliau bertanya: Apakah ada mata-mata yang mengawasi kita? Maka kamipun segera menengok ke kanan dan ke kiri, akan tetapi kami tidak melihat seorang mata-matapun, sehingga kami berkata kepada beliau: Tidak ada seorang mata-matapun yang mengawasi kita. Selanjutnya Ja’far As Shaadiq berkata: Sungguh demi Tuhan Penguasa Ka’bah, dan sungguh demi Tuhan Penguasa Hijir Ismail -tiga kali-, andai aku berada bersama-sama dengan Nabi Musa dan Khidir, niscaya akan aku kabarkan kepada keduanya bahwa aku lebih berilmu dibanding keduanya, dan mereka berdua akan aku ajari ilmu yang tidak mereka kuasai. Yang demikian itu dikarenakan Nabi Musa dan Khidir alaihimassalaam hanya dikaruniai ilmu tentang hal-hal yang telah berlalu, dan tidak dikaruniai ilmu tentang hal-hal yang akan datang, dan yang akan terjadi hingga Hari Qiyamat.Dan sungguh, kami benar-benar telah mewarisi ilmu itu dari Rasulullah .”( Al Kafy oleh Al Kulainy 1/260-261)

Saudaraku! Anda adalah seorang muslim, tentu anda memiliki hati nurani yang senantiasa memancarkan cahaya keimanan. Coba bandingkan doktrin Shana Syi’ah ini dengan firman Allah Ta’ala berikut:

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ الأعراف 188

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku, dan tidak (pula) menolak kemadharatan, kecuali yang Allah kehendaki. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku telah banyak mengumpulkan harta kekayaan, dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” Al A’raf 188.

Saudaraku! bila pada ayat ini Nabi telah mengikrarkan bahwa dirinya tidak mengetahui hal yang ghaib, menurut anda, mungkinkah beliau dapat mewariskan ilmu tentang yang ghaib tersebut kepada anak cucunya?

Saudaraku! menurut hemat anda, apa alasan yang menjadikan agama Syi’ah membiarkan riwayat-riwayat semacam ini ada pada kitab yang paling autentik menurut mereka?

Riwayat keempat: 

عن أبي عبد الله جعفر الصادق: إني لأعلم علم ما في السماوات وما في الأرض وأعلم ما في الجنة وأعلم ما في النار، وأعلم ما كان وما يكون. 

“Diriwayatkan dari Abu Abdullah Ja’far As Shaadiq, ia menegaskan: “Sungguh aku telah menguasai ilmu tentang segala isi langit dan segala isi bumi, aku juga mengetahui tentang isi surga dan juga isi neraka. Sebagaimana aku juga telah menguasai ilmu tentang segala yang telah berlalu dan yang terjadi pada masa mendatang.”( Al Kafy oleh Al Kulainy 1/261 )

Riwayat kelima: 

عن أبي بصير قال قال أبو عبد الله عليه السلام: أي إمام لا يعلم ما يصيبه وإلى ما يصير فليس ذلك بحجة لله على خلقه. 

“Abu Bashir meriwayatkan dari Abu Abdullah (Ja’far As Shaadiq) alaihissalam: Imam siapapun yang tidak mengetahui tentang segala apa yang akan menimpanya dan nasib yang akan akan ia alami, maka ia tidak dapat menjadi hujjah bagi Allah atas makhluq-Nya.”( Al Kafy oleh Al Kulainy 1/258)

Riwayat keenam:

عن أبي عبد الله جعفر الصَّادق (148هـ) قال: إن عندنا علم ما كان وعلم ما هو كائن إلى أن تقوم السَّاعة. 

“Dari Abu Abdullah Ja’far As Shaadiq (148 H), ia menuturkan: “Sesungguhnya kami memiliki ilmu tentang segala hal yang telah berlalu dan ilmu tentang segala hal yang akan terjadi hingga kebangkitan hari qiyamat.” (Al Kafy oleh Al Kulainy 1/252 ) 

Ini hanyalah setetes dari lautan riwayat yang ada dalam kitab Al Kaafi karya Al Kulainy -kitab yang menurut agama Syi’ah sebagai kitab paling autentik setelah Al Qur’an.

Sekedar membaca judul-judul yang ada dalam kitab Al Kafi karya Al Kulainy, niscaya bulu kuduk anda merinding karenanya. Betapa tidak, berbagai judul yang diluar kewajaran, sehingga menjadikan khayalan kita membayangkan sosok dewa-dewa Hindu dan Buda. Berikut sebagian judul-judul tersebut:

باب: أن الأئمة عليهم السلام عندهم جميع الكتب التي نزلت من عند الله عز وجل وأنهم يعرفونها على اختلاف ألسنتها.

Bab: Bahwa para imam memiliki seluruh kitab, dan mengetahuinya dengan segala perbedaan bahasanya.
( Al Kafy oleh Al Kulainy 1/227) 

باب: إنَّ الأئمة يعلمون جميع العلوم التي خرجت إلى الملائكة والأنبياء والرسل عليهم السلام.

Bab: Bahwasanya para imam mengetahui segala ilmu yang turun kepada para malaikat, nabi dan rasul.( Al Kafy oleh Al Kulainy 1/255) 

باب: أنَّ الأئمة عليهم السلام يعلمون متى يموتون، وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم

Bab: Bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan meninggal, dan bahwasanya mereka tidaklah meninggal melainkan atas kehendak mereka sendiri.( Al Kafy oleh Al Kulainy 1/258)

باب: إنه ليس شيء من الحق في يد الناس إلا ما خرج من عند الأئمة عليهم السلام، وإن كل شيء لم يخرج من عندهم فهو باطل.

Bab: Bahwa tidaklah ada sedikitpun kebenaran yang ada di masyarakat selain yang pernah diajarkan oleh para imam, dan bahwa segala sesuatu yang tidak diajarkan oleh mereka, maka itu adalah batil.( Al Kafy oleh AL Kulainy 1/399 ) 

باب أن الأئمة عليهم السلام علم ما كان وما يكون، وأنه لم يخف عليهم الشيء صلوات الله عليهم. 

“Bab: bahwasanya para imam alaihimussalam, memiliki ilmu tentang segala yang telah berlalu dan yang akan datang, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi atas mereka.( Al Kafy oleh Al Kulainy 1/260)

Saya yakin, ketika membaca judul-judul bab di atas, batin anda menjerit, iman anda berkobar, terlebih-lebih bila anda mengingat ikrar Nabi Muhammad yang telah diabadikan dalam Al Qur’an: 

قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُونَ الأنعام 50

“Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Tidaklah aku mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah : “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkannya.” Al An’am 50.

Bila anda hendak mendapatkan riwayat-riwayat atau judul-judul bab yang semakna dengan yang telah diutarakan di atas, niscaya anda kewalahan membacanya, begitu banyak dan begitu nyata.

Saudaraku, setelah membaca sekelumit riwayat dan judul-judul bab yang termaktub dalam kitab Al Kafi, mungkin anda bertanya: apa mungkin para imam-imam agama Syi’ah adalah jelmaan Malaikat? Atau mungkin anda bertanya: Apa sebenarnya perbedaan imam-imam agama Syi’ah dengan dewa-dewa yang diyakini oleh penganut agama Hindu dan Buda?

Manhaj Ilmu & Manhaj Amal

Abu Abdurrahman As Sulamy berkata:
Para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan Al Qur’an kepada kami, menceritakan bahwa, dahulu mereka tidaklah berpindah dari sepuluh ayat pertama ke sepuluh ayat selanjutnya hingga mereka menguasai kandungan ilmu dan amalan pada sepuluh ayat pertama, selanjutnya para sahabat berkata :dengan demikian kami belajar ilmu dan amal secara bersamaan. (Bukhari dan lainnya)

Subhanallahu, manhaj ilmu dan manhaj amal. Sungguh cerdas metode atau manhaj para sahabat dalam belajar, ilmu dan aplikasinya.

Betapa banyak sekarang orang yang pandai ilmu, paham bahwa suatu permasalahan adalah mubah, namun pada prakteknya, ia mencak mencak karena melihat ada orang lain yang berbeda selera dengannya.

Paham bahwa baju putih atau hijau sama sama mubah, hanya saja yang putih lebih utama atau sunnah, namun pada prakteknya ketika melihat temannya berbaju hijau, ia merasa jijik, seakan akan sahabatnya memakai baju najis.

Paham bahwa tawakkal itu bukan hanya teori atau ajaran yang terus di dendangkan, namun tawakkal juga amalan dan tindakan. Karena itu belajar tawakkal bukan hanya dengan duduk membaca buku, namun juga praktek langsung di pasar, di ladang dan lainnya.

Suatu hari ada segelintir orang yang duduk di Masjid, mereka mengaku bahwa mereka sedang bertawakal kepada Allah, walau tanpa bekerja maka rejeki pasti datang. Melihat mereka, sahabat Umar bin Khatthab merasa keheranan dengan cara berpikir mereka, lalu beliau berkata:

أنتم متواكلون ، إنما المتوكل من بذر الحب وتوكل على الله

Kalian adalah orang yang bermalas-malasan, orang yang bertawakkal sebenarnya ialah orang yang menabur benih diiringi dengan tawakkal kepada Allah.

Manhaj ilmunya benar, namun belum sempurna karena terbukti manhaj amalnya masih pincang.

Penulis,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Persatuan, Sunnah & Syi’ah, Mungkinkah? (bagian – 1)

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى.

Upaya mendekatkan pemikiran, kepercayaan, visi dan misi umat Islam merupakan cita-cita syari’at Islam. Yang demikian itu, karena kekuatan, kebangkitan, kejayaan dan tatanan masyarakat serta persatuan umat Islam di setiap masa dan negara tergantung kepadanya..

Setiap seruan kepada pendekatan semacam ini -bila benar-benar bersih dari berbagai kepentingan, dan pada aplikasinya tidak mendatangkan dampak negatif yang lebih besar dibanding kemaslahatannya – maka wajib atas setiap muslim untuk memenuhinya, dan bahu membahu bersama seluruh komponen umat Islam guna mewujudkannya.

Beberapa tahun terakhir, seruan semacam ini ramai dibicarakan orang, kemudian berkembang sampai ada dari sebagian umat Islam yang terpengaruh dengannya. Tak luput darinya Universitas Al Azhar, suatu lembaga pendidikan agama Islam paling terkenal dan terbesar yang dimiliki oleh Ahlus Sunnah, yang menisbatkan dirinya kepada empat Mazhab Fiqih . Hal ini menyebabkan Universitas Al Azhar melebarkan misi “Pendekatan” melebihi misi yang sebelumnya ia emban sejak masa Sholahuddin Al Ayyuby.

Pengaruh ini telah mengakibatkan Al Azhar keluar dari misi awalnya itu kepada upaya mengenal berbagai Mazhab lainnya, terutama “Mazhab Syi’ah Al Imamiyyah Al Itsnai ‘Asyariyah”. Walaupun dalam hal ini, Al Azhar masih berada di awal perjalanan.

Oleh karenanya, sangat urgen bagi setiap muslim yang berkompeten, untuk mengkaji, mempelajari, dan memapaparkan masalah ini. Kajian yang bertujuan menggali segala hal yang terkait dengan mempertimbangkan segala dampak dan resiko yang mungkin terjadi.

Dikarenakan berbagai permasalahan dalam agama sangat rumit, maka penyelesaiannyapun haruslah dengan cara yang bijak, cerdas dan tepat. Dan hendaknya orang yang mengkajinya-pun benar-benar menguasai segala aspeknya, berilmu, dan obyektif dalam setiap kajian dan kesimpulannya. Dengan demikian solusi yang ditempuh -dengan izin Allah- benar-benar membuahkan hasil yang diinginkan dan mendatangkan berbagai dampak positif.

Menurut hemat kami, syarat pertama agar perihal ini -juga setiap perkara yang berkaitan dengan berbagai pihak- berhasil adalah adanya interaksi dari kedua belah pihak atau seluruh pihak terkait.

Kita contohkan dengan perkara pendekatan antara Ahlus Sunnah dengan sekte Syi’ah. Guna merealisasikan seruan taqrib antara kedua paham ini didirikanlah suatu lembaga di Mesir, yang didanai oleh anggaran belanja negara yang berpaham Syi’ah. Negara dengan paham Syi’ah ini telah memberikan bantuan resmi tersebut hanya kepada kita.

Akan tetapi, mereka tidak pernah memberikan hal tersebut kepada bangsa dan penganut pahamnya sendiri. Mereka tidak pernah memberikan bantuan ini guna mendirikan “Lembaga Pendekatan” di kota Teheran, atau Qum, atau Najef atau Jabal ‘Amil, atau tempet-tempat lain yang merupakan pusat pengajaran dan penyebaran paham Syi’ah.

Bahkan sebaliknya, beberapa tahun terakhir ini dari berbagai pusat pengajaran dan penyebaran paham Syi’ah tersebut diterbitkan berbagai buku yang meruntuhkan impian solidaritas dan taqrib. Buku-buku yang menjadikan bulu roma kita berdiri. Diantara buku-buku tersebut adalah buku (Az Zahra) tiga jilid, yang diedarkan oleh ulama’ kota Najef. Pada buku tersebut, mereka mengisahkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu, ditimpa suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan selain dengan air mani kaum lelaki!!? Buku tersebut berhasil didapatkan oleh ustadz Al Basyir Al Ibrahimy, ketua Ulama’ Al Geria (Al Jazaer) pada kunjungan pertamanya ke Iraq.

Sebenarnya, orang orang yang berjiwa kotor yang telah mencetuskan paham keji semacam ini, merekalah yang pantas untuk mendekatkan dirinya kepada Ahlus Sunnah, bukan sebaliknya.

Sebagai contoh: Diantara perbedaan paling mendasar antara kita dengan mereka berkisar seputar:
1. Dakwaan bahwa mereka lebih loyal dibanding kita kepada Ahlul Bait .
2. Dan sikap mereka yang menyembunyikan –bahkan menampakkan- kebencian dan permusuhan kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal kita semua mengetahui bahwa diatas pundak merekalah agama Islam tegak. Kebencian ini menjadikan mereka berani melemparkan tuduhan keji semacam ini kepada Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu.

Andai mereka bersikap obyektif, niscaya mereka lebih dahulu mengurangi kebencian dan permusuhan mereka kepada para imam generasi pertama umat Islam ini. Kemudian mereka bersyukur kepada Ahlus Sunnah atas sikapnya yang terpuji terhadap para Ahlul Bait.

Ahlus sunnah tidak pernah lalai dari kewajiban menghormati dan memuliakan mereka (ahlul bait).

Lain halnya bila yang dimaksudkan dengan penghormatan kepada ahlul bait adalah: menjadikan mereka sebagai sesembahan yang diibadahi bersama Allah, sebagaimana yang mereka lakukan di berbagai kuburan ahul bait yang berada di tengah-tengah penganut paham Syi’ah.

Interaksi harus dilakukan secara imbal balik antara kedua belah pihak yang diinginkan untuk terjalin toleransi dan pendekatan antara keduanya. Akan tetapi interaksi tidak akan pernah terwujud selain dengan mempertemukan antara yang positif dan yang negatif (pro dan kontra). Sebagaimana interaksi juga tidak akan pernah terealisasi bila berbagai gerak dakwah dan aplikasinya hanya terfokus pada satu pihak semata, sebagaimana yang terjadi sekarang ini

Sebagaimana kami mengkriti keberadaan lembaga taqrib tunggal yang berpusatkan di ibu kota negeri Ahlus Sunnah, yaitu Mesir ini, karena tidak diimbangi oleh pusat-pusat kota negri Mazhab Syi’ah.

Bahkan berbagai pusat penyebaran paham Syi’ah itu gencar mengajarkannya, dan memusuhi paham lain. Kami juga mengkritiki upaya memasukkan permasalahan ini sebagai mata kuliah di Universitas Al Azhar, selama hal yang sama tidak dilakukan di berbagai perguruan Syi’ah.

Disebabkan upaya ini -sebagaimana yang sekarang terjadi- hanya diterapkan sepihak, maka tidak akan pernah berhasil. Bahkan tidak menutup kemungkinan malah menimbulkan interaksi balik yang tidak terpuji.

Termasuk cara paling sederhana dalam mengadakan pengenalan ialah dengan memulainya dari permasalahan furu’ sebelum membahas berbagai permasalahan ushul (prinsip)!.

Ilmu Fiqih Ahlus Sunnah dan Ilmu Fiqih Syi’ah tidaklah bersumberkan dari dalil-dalil yang disepakati antara kedua kelompok. Dasar-dasar fiqih keempat Imam Mazhab Ahlus Sunnah berbeda dengan dasar-dasar fiqih Syi’ah.

Selama tidak terjadi penyatuan dasar-dasar dan ushul sebelum kita mengkaji berbagai permasalahan furu’. Selama tidak ada penyatuan persepsi kedua belah pihak dalam sumber-sumber hukum, yang diimplementasikan pada lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka miliki, maka tidak ada gunanya kita menyia-nyiakan waktu membahas permasalahan furu’. Yang kita maksudkan bukan hanya ilmu ushul fiqih, akan tetapi ushul/dasar-dasar agama kedua belah pihak dari akar permasalahannya yang paling mendasar.

(dinukil dari buku: Mungkinkah Sunnah dan SYi’ah Bersatu?
(Sebuah Tinjauan Kritis Terhadap Prinsip-prinsip Dasar
Sekte Syi’ah Imamiyah Itsnai ‘Asyariyah) Oleh: SYeikh Muhibbuddin Al-Khathiib

Bersambung ;……

Lupakan Naruto, Kembali Fokus…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Saudaraku sekalian, jangan teralihkan dengan masalah naruto, dan lupa kalau para pengikut penyembah api, generasi kaum Majusi sedang mengancam.

Fokus, bangun tembok pagar yang kokoh, kenalkan ummat tentang para sahabat Nabi shallahu alaihi wa sallam.

Ajarkan kepada ummat Al Qur’an dan As sunnah sebagai sumber hukum agama.

Ajarkan kepada masyarakat bahwa Islam tidak pernah merestui apalagi mengajarkannya dusta sampaipun yang disebut dengan taqiyah.

Tanamkan bahwa zina haram, tanpa terkecuali yang atas nama mut’ah atau kawin kontrak.

Sampaikan bahwa Islam menyebar berkat jasa dan cucuran keringan dan darah para sahabat.

Ajarkan bahwa keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjalin hunungan yang harmonis dengan para sahabat lain.

Jelaskan bahwa generasi penerus kaum majusi sejatinya hanya ingin mengembalikan kejayaan bangsa Majusi, sehingga mereka ingin memindahkan Pusat Ibadah Ummat Islam ke bekas puing puing dinasti Majusi.

Tinggalkan naruto dan mari kita semua berjibaku menghadapi serangan penggiat agama majusi.

Manhaj Salaf, Titik

Manhaj atau dalam bahasa jawa disebut “coro” alias metode. Jadi yang mau paham apa itu “manhaj” ya belajarlah islam bukan hanya sebatas judulnya namun tuntas hingga aplikasinya. Dan ini berlaku dalam semua permasalahan.

Betapa banyak orang yang kenal judul “sholat” namun belum paham tatacara sholat dengan benar dan seutuhnya, baik dalam kondisi normal atau ketika terjadi kondisi spesial bagaimana solusinya.

Sekedar mengetahui cara sholat yang benar belum cukup, sampai anda mengetahui berbagai kesalahan dan solusinya. Betapa sering orang melakukan kesalahan dalam sholat, baik yang disengaja atau tidak sejgaja , sehingga anda harus tahu solusinya, cukupkah kesalahan itu diganti dengan sujud sahwi atau harus mengulang raka’at ditambah sujud sahwi di akhir sholat.

Betapa sering ada orang yang berang ketika Haji atau Umrah dan sesampai di Madinah melihat orang sholat yang tidak menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud, atau duduknya monoton; tawarruk saja atau iftirasy saja, dan masih banyak lagi kasusnya.

Menyaksikan hal baru ini, banyak yang berang bahkan kecewa sampai sampai berkata: kemana ulamaknya kok masyarakat madinah sholatnya seperti ini, banyak yang ndak nyunnah.

Ketika saya balik bertanya, berarti menurut anda: sholat mereka seperti tersebut adalah sholat yang bid’ah?

Tanpa ragu ragu dia menjawab : iya sholatnya bid’ah.

Ini nih, contoh orang yang sebenarnya kurang paham manhaj, berbagai tatacara sholat yang dia persoalkan di atas hanyalah amalan sunnah alias tidak wajib, bahkan diperselisihkan antara para ulama’, sehingga bisa jadi menurut mereka yang “sunnah” atau benar adalah apa yang mereka lakukan bukan yang kita lakukan.

Memperlakukan amalan yang sunnah atau khilafiyah sejak dahulu kala, bagaikan amalan yang wajib dan disepakati antara ulamak, adalah bentuk dari “KURANG NGEH ” tentang manhaj, atau bisa jadi “salah asuh” dalam urusan manhaj.

Jadi yang namanya manhaj itu, memahami islam dan mengamalkannya dengan cara yang benar.

Khowarij dianggap sesat karena salah memahami dalil dan salah menyikapi orang yang berbuat salah (dosa) sampai mengkafirkannya. Sebagaimana orang orang yang fanatik (ta’ashub) juga dianggap salah walaupun guru yang mereka fanatik kepadanya benar, karena mereka beranggapan bahwa gurunya pasti selalu benar sedangkan yang lain pasti selalu salah.

Penulis,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Haruskah Anda Menembak Semua Musuh ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat, bermimpi bisa mengalahkan semua musuh dan bahkan menumpas semua musuh itu sangatlah mudah. Namun kenyataannya, sekedar mengalahkan satu musuh saja kadang kala mengharuskan kita menguras segala tenaga dan kemampuan kita. Dalam kondisi semacam ini, anda pasti terpaksa menghemat amunisi anda, memilih sasaran yang tetap lalu membidiknya dengan tepat pula.

Dalam kondisi semacam ini bisa jadi anda harus menerima kenyataan bahwa ada musuh yang harus anda lawan dengan tangan kosong alias dengan kepalan tangan anda, karena sayang kepada amunisi anda bukan kepada musuh anda. Dan bisa jadi anda terpaksa harus membiarkan musuh melenggang pergi karena anda tidak ingin kehabisan tenaga dan amunisi.

Dan bisa jadi ada pula musuh yang terpaksa anda beri “makan” agar ia menjinak sehingga membiarkan anda menghadapi musuh lain yang lebih berbahaya.

Kondisi semacam ini terjadi dalam segala bentuk permusuhan sampaipun permusuhan dalam urusan agama. Alangkah bijaknya bila anda pandai menghemat amunisi untuk ditembakkan kepada musuh yang paling berbahaya dan paling berat, sedangkan sebagian musuh barang kali cukup anda selesaikan dengan kepalan tangan anda. Dan bisa jadi pula anda musuh yang untuk saat ini perlu anda memberinya “umpan” agar jinak walau hanya untuk sementara.

Anda harus paham dan menyadari bahwa amunisi dan tenaga anda tidak akan pernah cukup untuk menumpas seluruh musuh secara bersamaan. Namun percayalah bahwa bila anda pandai mengatur amunisi dan perlawanan anda dengan baik, niscaya anda bisa mengalahkan semua musuh anda.

Antara Orang Cerdas Dan Orang Telat Cerdas…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Bermimpi sukses itu kerjaan setiap orang, dan kagum kepada orang sukses itu adalah perilaku setiap orang. Namun sadarkah anda bahwa hanya berbekalkan rasa kagum dan mimpi menjadi sukses tidak cukup untuk menjadi orang sukses?

Orang yang puas dengan rasa kagum kepada orang sukses, apalagi beranggapan bahwa rasa kagumnya yang hanya dibubuhi dengan doa sudah cukup untuk menjadikannya turut sukses, sejatinya adalah orang yang telat cerdas.

Orang cerdas selalu sadar bahwa setiap kesuksesan biasanya mengandung empat unsur utama:
1. mimpi menjadi orang sukses yang belanjut menjadi tekad kuat.
2. Usaha keras yang diiringi dengan pengorbanan.
3. Doa yang dilandasi oleh keyakinan dan iman.
4. Taufiq dan pertolongan Allah Azza wa Jalla.

Dengan keempat hal inilah orang sukses menggapai suksesnya.

Karena itu, akan lebih bijak bila setiap kali anda melihat orang sukses anda mempelajari langkahnya, melihat pengorbananya bukan hanya menggeleng-gelengkan kepala anda dengan keras karena tak kuasa menahan rasa kagum .

Karena itu bila anda ingin sukses seperti mereka, maka jangan puas dengan kekaguman dan terus hanyut dalam geleng geleng kepala kekaguman. Namun segera bulatkan tekad, langkahkan kaki, lakukan pengorbanan dan teguhkan iman anda. Insya Allah anda segera menyusul menjadi orang sukses.

Contoh nyata, bila anda melihat orang mengendari mobil mewah, maka jangan hanya kagum dengan kemewahan mobilnya, karena hanya kagum anda tidak akan pernah bisa memilikinya. Namun pikirkanlah, berapa harganya dan bagaimana ia dapat memiliki uang sebanyak itu sehingga bisa membelinya.

Anda melihat lelaki memiliki istri cantik, jangan hanya kagum kepada kecantikan istri lelaki itu, namun pikirkan dengan apa wanita secantik itu terpikat kepada lelaki itu dan bagaimana lelaki itu berhasil memiliki hal tersebut, dan dengan apa lelaki itu mengikat wanita itu sehingga setia kepadanya?

Selamat mencoba, semoga sukses.

Selamat Tinggal Asap…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Saudaraku sekalian! Barangkali saat anda membaca status ini, anda atau saudara anda atau sahabat andansedang diselimuti asap pembakaran ladang atau hutan.

Anda menjerit, semua orang menjerit meminta agar pemerintah atau lembaga HAM atau yang serupa segera turun tangan. Anda seakan menggantungkan asa kepada mereka & mugkin kini anda sedang menelan pil pahit kekecewaan kepada mereka yang lambat atau seakan berpangku tangan menonton derita anda.

Sobat! Bangun dan segera sadarlah dari mimpi panjang anda. Bangun dan buka mata anda lebar lebar, bahwa siapapun yang anda harapkan uluran tangannya, sejatinya mereka adalah manusia biasa yang tidak kuasa dan memiliki apa apa.

Bangun dan segera gantungkan hati dan harapan anda kepada Allah Ta’ala Yang memiliki segala sesuatu, tanpa terkecuali air hujan yang dapat memusnahkan seluruh kepulan asap yang selama ini menyiksa hidup anda.

Segera angkat tangan anda, gantungkan harapan anda hanya kepada Allah Ta’ala, dan sucikan hati anda dari segala bentuk harapan dan asa kepada sesama manusia, siapapun dia.

Lalaikan dan abaikan segala janji dan bualan kosong dan sombong manusia siapapun dia. Dan kobarkan iman dan harapan anda hanya kepada Allah Ta’ala. Simak janji Allah yang pasti dipenuhi dan ditepati, tiada pernah ingkar janji: 

أمن يجيب المضطر إذا دعاه ويكشف السوء ويجعلكم خلفاء الأرض أءله مع الله قليلا ما تذكرون

Siapakah yang kuasa mengabulkan permintaan orang yang sedang dalam kesusahan dan menyingkirkan keburukan dan menjadikan kalian sebagai pemimpin di muka bumi. Adakah sesembahan lain bersama Allah, sungguh sangat sedikit dari kalian yang mengingat. ( An Namel 62)

Segera angkat tangan anda, dan ajak saudara saudara anda untuk bersama sama bersimpuh di hadapan Allah Ta’ala memohon ampunan dan kasih sayang-Nya dengan menurunkan rahmat- Nya / hujan ke bumi kita.

Tumpahkan air mata dan panjatkan doa anda hanya kepada Allah Ta’ala di akhir malam dan waktu waktu mustajab lainnya.

Ajak saudara saudara anda untuk bersama sama berdoa di saat khutbah jum’ah dan juga dengan mengadakan shalat istisqa’, meminta turunnya hujan, lupakan manusia apapun jabatannya dan senyaring apapun janji manisnya.

Perbanyaklah permohonan ampun alias istighfar kepada-Nya, karena dengan istighfar urusan anda menjadi mudah walau tanpa janji manis dan uluran tangan sesama manusia. Ingat kembali firman Allah Taala:

فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا يرسل السماء عليكم مدرارا

Aku berkata: mohonlah ampunan kepada Tuhan kalian, sejatinya Dia Maha Pengampun. Dia yang kuasa menurunkan air hujan dari langit dengan deras kepada kalian . ( Nuh 10 – 11 

Oplosan…

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Betapa sering saya mendengar atau membaca kata di atas! Akibatnya saya kadang berpikir, kok ada ya orang yang mau minum bensin atau etanol? Padahal sudah banyak korban yang bergelimpangan, mati konyol!

Sekian lama saya merenungkan hal ini, hingga akhirnya saya berkesimpulan itulah salah satu akibat dari kecanduan. Terlanjur kecanduan akhirnya membabi buta, tidak lagi peduli dengan nasib yang akan menimpanya. Hanya ada satu ambisi mereka, melampiaskan kecanduannya. Semua itu karena jiwa mereka sebelum raganya telah mati akibat kecanduannya.

Karena itu Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk segera bertaubat setiap kali berbuat dosa, agar tidak kecanduan berbuat dosa.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“إن المؤمن إذا أذنب ذنباً كانت نكتةٌ سوداء في قلبه. فإن تاب ونَزَع واستغفر صُقِل منها، وإن زاد زادت حتى يغلَّف بها قلبه، فذلك الران الذي ذكر الله في كتابه: { كلا، بل ران على قلوبهم }”. رواه الترمذي، 

Seorang mukmin bila berbuat dosa maka dititikkan warna hitam dalam hatinya, namun bila ia bertaubat dan segera meninggalkan dosanya maka hatinya kembali cemerlang bersih. Akan tetapi bila ia mengulangnya kembali maka warna hitam di hatinya akan terus bertambah hingga suatu saat nanti benar benar menyelimuti seluruh hatinya. Itulah jelaga yang Allah Taala sebutkan pada firman-Nya: ” tidaklah sekali-kali, sejatinya hati mereka telah berjelaga akibat dari dosa dosa yang telah mereka lakukan. ( At Tirmizy dll)

Bisa jadi, awalnya mereka hanya menonton para peminum khomer atau oplosan, tanpa dirasa pada diri mereka tumbuh rasa penasaran untuk mencoba dan akhirnya mereka ikut kecanduan. Karena itu dalam islam, anda dilarang untuk duduk bersama peminum khomer.

Sobat! Jangan biarkan diri anda dijangkiti Panyakit ketagihan. Segera bebaskan diri anda dari segala bentuk kesalahan dan kemungkaran, agar jiwa anda tidak mati sebelum matinya raga anda.

Bersahabat dengan orang jahat, juga demikian, segera tinggalkan agar anda tidak ketagihan berteman dan menyaksikan perbuatan jahat, bisa jadi suatu saat anda akan penasaran ikut mencoba kejahatannya.

Betapa banyak saudara kita yang saat ini mulai merasa enjoy bersahabat bahkan dipimpin oleh orang kafir. Bila kondisi ini terus berkepanjangan bisa jadi mereka merasa penasaran untuk mencoba agama orang kafir dan akhirnya benar benar ikut kafir. Paling kurang muncul anggapan bahwa kafir sama saja dengan muslim atau bahkan lebih baik dibanding muslim, na’uzubillah.

Bulatkan tekad, satukan langkah, abaikan ego pribadi dan segera selamatkan anak cucu anda dari jerat jerat kekufuran. Apa yang akan anda katakan kepada Allah bila kelak anak cucu anda dicekoki “oplosan kekufuran” oleh pemimpin kafir, gara gara anda membiarkan orang kafir memimpin dan mengatur urusan anda dan urusan anak cucu anda.