Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Alam Tidak Salah…

@ Kutipan faidah dari khutbah shalat Istisqa yang disampaikan oleh DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Indonesiaku sayang, Indonesiaku malang. Kekeringan yang tak kunjung hilang, krisis yang semakin eksis, bencana yang banyak melanda, kekacauan yang tak karuan dan longsor multi dimensi datang silih berganti. Apakah bumi tak lagi layak untuk dihuni? Apakah alam tak lagi bersahabat? Siapakah dalang dibalik kekacauan ini? Apa solusinya?

Allah ta’ala berfirman

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Ternyata, manusialah dalang semua kerusakan ini. Bukan alam yang tidak bersahabat atau bumi yang tak layak untuk dihuni. Namun sayang, manusia justru menuding alam seraya berkata, “Bumi tidak layak untuk dihuni”. Betul bahwa bumi tak akan layak untuk dihuni bila manusia terus bertahan dengan kepongahannya. Sebaliknya, keberkahan langit dan bumi akan Allah kembalikan tatkala manusia kembali kepada-Nya. Tapi, itulah manusia.

Ternyata, manusialah yang mengeksploitasi bumi dan merusak alam. Sadarkah kita dengan hal itu? Kitalah yang tidak bersahabat dengan alam dan kita jugalah yang tidak ramah kepada lingkungan. Kita lebih mementingkan kepuasan nafsu daripada panggilan iman dan rintihan alam. Maha benar Allah yang telah mengabarkan bahwa kerusakan ini akibat ulah tangan manusia.

Lantas, apa kesalahan fatal yang dibuat manusia sehingga bencana terus datang dan berulang? Illegal logging? Penggundulan hutan? Buang sampah sembarangan? BUKAN. Bukan itu semua. Tapi ada kesalahan X yang banyak dilupakan manusia.

Apakah manusia lupa bahwa di masa nabi Nuh belum ada eksploitasi alam seperti zaman kita, tapi kenapa banjir bandang datang bertandang? Lupakah kita bahwa di masa kaum nabi Sholeh dan nabi Luth belum ada penggundulan hutan dan perusakan alam seperti zaman kita, tapi kenapa gempa yang dahsyat datang mengguncang? Mungkin ada yang berkata, “Itu hanya kejadian alam. Apa masalahnya?.”

Wahai kaum muslimin, siapakah yang mengatur kegiatan di alam ini? Siapakah yang menciptakan alam semesta? Apakah semua terjadi secara alami tanpa ada yang mengatur? Ya Allah… Dimana iman dan pembenaran terhadap Al-Quran? Kemana perginya?

Sadarlah dan percayalah bahwa semua terjadi karena kesalahan X yang banyak dilupakan. Apa kesalahan itu? Sikap menentang ketetapan-Nya dan melanggar aturan-Nya. Bukankah Allah telah menyebutkan

لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Allah menegur kita dengan sangat lembut dan sopan. Allah menegur kita melalui seruan azan, tangisan yatim, isakan si miskin, dan deruan angin bencana. Adakah yang mendengar?

Allah timpakan paceklik, tsunami, banjir bandang dan tanah longsor agar manusia kembali kepada Allah. Allah sangat sayang kepada kita. Buktinya, Allah hanya menghendaki agar kita merasakan SEBAGIAN dari akibat perbuatan buruk yang kita lakukan. Ya, SEBAGIAN dan bukan semuanya.
Sadarlah, sadarlah dan sadarlah.

Mujahid mengingatkan kita semua dengan ucapannya

البهائم تلعن عصاة بني آدم إذا أمسك المطر وتقول : هذا من شؤم ذنوب بني آدم

Saat hujan tak kunjung turun, hewan-hewan ternak melaknat para pendosa seraya berkata, “Semua ini akibat dosa-dosa manusia.” (Tafsir Sirajul Munir: 1/95)

Pelaku dosa menghalangi turunnya hujan. Pelaku dosa membuat murka Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Lalu, apa solusinya?

Hanya ada satu solusi untuk atasi semua bencana ini dan tidak ada duanya. Yaitu mengetuk pintu ampunan Allah dengan istigfar dan taubat. Tatkala tanda kemurkaan Allah mulai tampak, Nabi Nuh berpesan kepada umatnya

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

“maka aku berkata (kepada mereka), “mohonlah ampunan dari Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya dia akan menurunkan hujan yang deras kepada kalian.” (QS. Nuh: 10-11)

Siapapun kita dan apapun profesi yang kita jalani, percayalah bahwa Allah sangat senang dengan pertaubatan kita. Wahai kaum muslimin, kembalilah ke jalan Allah dan lepaskanlah jubah kesombongan dari diri kita. Apa yang bisa kita sombongkan dihadapan-Nya? Kenapa kita lancang bermaksiat kepada-Nya?

Allah ta’ala berfirman

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), dan Dia Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Kita tidak punya apa-apa… Kembalilah… Bertaubatlah… Sebelum semuanya terlambat…

Diary Muslim Plus, Sabtu 3 Okt 2015

Gila Itu Macam-Macam…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ungkapan di atas adalah arti dari pepatah arab yang berbunyi:

الجنون فنون

Ada orang gila yang terekspresi dengan bertelanjang ria, ada pula yang dengan memaki maki setiap orang yang dijumpai, ada pula yang dengan berbicara sendiri dan ada pula yang berbicara tanpa kenal aturan dan batasan.

Dan menurut para dokter jiwa, gila itu bertingkat tingkat, ada yang parah seperti yang tergambar pada sikap aneh di atas. Ada pula yang sedang, belum sampai telanjang namun hampir telanjang atau bahkan memakai baju tanpa pernah dicuci.

Ada pula yang ringan, diantaranya dengan berbicara ngelantur alias ngalor ngidul ndak karuan, seakan lupa arah timur dari barat, walaupun penampilannya masih necis bersih dan perlente.

Dari mereka ada yang berkata bahwa istri tetangga adalah istrinya juga, ada lagi yang berkata bahwa ia mengetahui hal gaib, dan ada lagi yang berkata dirinya adalah keturunan malaikat, ada pula yang mengaku sholat subuh di Makkah, Zhuhurnya di Istiqlal Jakarta sedangkan Asharnya di masjid kampungnya. Dan ada pula yang ngakunya baru selesai menunaikan ibadah haji, padahal bukan bulan haji, malah ada pula yang mengaku BISA BERHAJI DUA KALI setahun.

Lebih unik lagi, ada yang mengaku bahwa Ka’bah datang berkunjung ke rumahnya, bukannya ia yang thawaf mengelilingi Ka’bah namun Ka’abahlah yang mengelilingi dirinya.

Dan masih banyak lagi ekspresi penyakit mental alias gila.

Ketika melihat ulah atau mendengar ucapan mereka hanya ada satu sikap yang pantas anda lakukan, yaitu merasa iba kepada mereka dan bersyukur anda selamat dari petaka yang menimpa mereka.

الحمد لله الذي عافاني مما ابتلاك به وفضلني على كثير مما خلق تفضيلا

Segala puji hanyak milik Allah Yang telah menyelamatkan aku dari petaka yang menimpamu, dan benar benar telah memberiku banyak kelebihan dibanding kebanyakan makhluq ciptaan-Nya.

Awas ! Setan Digital…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Saudaraku, setiap hari anda memohon perlindungan kepada Allah Taala dari godaan setan yang terkutuk. Alasannya jelas, karena setan selalu membisikkan kesesatan, kejelekan dan kebodohan. Sebagaimana setan juga membisikkan agar anda memusuhi kebenaran, menjauhi kebaikan dan kemuliaan. Ujung ujungnya anda menjadi temannya di neraka.

Namun tahukah anda bahwa setan itu bisa berupa manusia sebagaimana juga bisa berupa bangsa jin? Simaklah firman Allah pada ayat terakhir dari surat terakhir dalam Al Qur’an:

الذي يوسوس في صدور الناس من الجنة والناس

Yang selalu membisikkan (kejelekan) ke dalam dada manusia dari golongan jin dan juga golongan manusia.

Bila selama ini anda begitu kawatir akan godaan setan dari bangsa jin, maka sudahkah anda mewaspadai godaan setan dari bangsa manusia?

Setan dari bangsa manusia, menggunakan segala daya dan fasilitas yang ia miliki untuk menyesatkan dan menjerumuskan anda, tanpa terkecuali media masa yang mereka miliki, semisal stasiun METROTEPOS.

Stasiun telepisi yang tanpa henti mnyudutkan kebenaran ( baca: ISLAM) dan menyuarakan kesesatan.

Karena itu sebagai ummat islam, sudah saatnya anda menjauhi tipi jaringan jaringan setan semisal metrotepos. Dan bahkan jauhi segala media yang merusak iman, akhlaq dan moral anda sebagai ummat Islam.

Percayalah bahwa rejeki anda tidak bertambah dengan nonton tipi dan juga tidak bekurang karena tidak nonton tipi.

Namun sebaliknya, yakinlah bahwa agama dan ummat anda sering dirugikan dan disudutkan oleh tipi semisal metrotepos.

Ingat hukum pasar: “penawaran dan permintaan” , bila retting metrotepos turun insyaAllah menjadi pelajaran bagi yang lain. Paling kurang anda tidak ikut memakmurkan metrotepos sebagai penyebar kebencian kepada Islam.

Katakan sejak sekarang : selamat tinggal metrotepos.

Itulah Indonesia…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Nampaknya; kata kata di atas jawaban yang tepat untuk menggambarkan kondisi negri kita. Carut marut negara, masyarakat, sosial, budaya, politik dan ekonomi yang berkepanjangan nampaknya belum cukup sebagai bukti belum mampunya bangsa ini dalam menyelesaikan masalah sendiri. Namun demikian, lihatlah betapa garang dan tanpa malu banyak komentator yang mengkritisi dan menyalah nyalahkan negara lain.

Jakarta macet semakin macet, ekonomi semaki seret, politik semakin ruwet, namun demikian, media kita gegap gempita “menggurui” Saudi dalam mengurusi jamaah haji.

Ngurusi jamaah haji yang hanya berjumlah 200 ribu saja kacau balau, mau nggurui yang selalu ngurusi 5 juta jamaah haji.

Daftar tunggu yang ndak jelas kapan ada solusinya, dana talangan haji, pemondokan dan lain lain sampai saat ini terus bermasalah, namun demikian para komentator terkesan begitu pandai menyelesaikan masalah haji di Mina, Arafah , Makkah dan Muzdalifah.

Setelah sekian lama saya mikir, nampaknya saya menemukan jawaban paling tepat yaitu “itulah indonesia”.

Marilah kita bercermin sebelum berbicara, agar tidak memalukan. Sepatutnya kita menyadari bahwa apapun ucapan kita pastilah kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah.

Move On (Antara Kemarin dan Hari Ini)…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Dalam banyak kesempatan dan bisa jadi dalam segala kondisi anda dituntut untuk segera berpikir dan bersikap maju alias segera menyesuaikan dengan setiap perkembangan dan perebuhan.

Bila anda memiliki anak yang lucu, cantik atau tampan, biasanya anda senang menggendongnya dan menciuminya.

Namun tahukah anda bahwa setiap hari ia bertambah besar dan dewasa. Mungkinkah anda akan terus menggendong dan menciuminya padahal kini ia telah dewasa karena anda masih terbelenggu oleh kenangan bersamanya kemarin semasa ia masih bayi atau kanak kanak?

Status anda sebagai seorang ayah atau ibu tiada pernah berubah namun tubuh pikiran dan perilaku anak anda terus berkembang dan berubah. Pada kondisi semacam ini anda dituntut untuk pandai dan secara terus menerus menyesuaikan diri dengan setiap perkembangan anak anda. SALAH BESAR bila anda terus berpikir bahwa “dia adalah seorang bayi atau anak kecil yang belum bisa apa apa dan juga belum paham apa apa”.

Bisa jadi anak anda tidak menyadari terjadinya pertumbuhan dan perubahan pada dirinya. Namun hal itu tidak boleh terjadi pada anda. Sebagai orang tua anda harus menyadari setiap perubahan yang terjadi pada anak anda.

Dengan demikian anda dituntut untuk terus MOVE ON menyadari dan beradaptasi dengan setiap perubahan.

Bila anda tidak pandai untuk move on menanggapi pertumbuhan anak anda niscaya anak anda akan terus kekanak kanakan alias menjadi korban : SALAH ASUH.

Karena itu, segera move on alias berpikir dan bersikap cerdas seiring dengan perkembangan yang terjadi.

Hal serupa bisa terjadi pula pada persahabatan dan permusuhan. Bisa jadi musuh bebuyutan anda kemarin, kini telah berubah sikap sehingga menjadi teman atau sebaliknya, teman kemarin kini telah berubah menjadi lawan.

Intinya jangan terbelenggu dengan sikap lawan pada hari kemarin, karena bisa jadi hari ini dia tah mulai menapakkan kakinya sebagai kawan anda. Dan jangan pula hanyut dalam kenangan indah bersama kawan, karena bisa jadi kini ia telah menjadi musuh yang paling kejam. Segera bangkit dan sesuaikan pikiran dan sikap anda menghadapi setiap perubahan.

Bila anda seorang pemuda yang baru saja menikah dan gagal untuk move on maka anda pasti menyesal alias RUGI BESAR alias pandir.

Bila setelah menikah anda masih terbelenggu dengan bayangan hari kemarin bahwa dia adalah wanita yang haram untuk anda sentuh; sehingga anda takut untuk mendekat apalagi menjamahnya; niscaya anda menyesal seumur hidup.

Berdamai Dengan Teman, Cerdaskah ?…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Menurut anda, bijakkah bila ada orang yang menjalin perdamaian dengan sahabat sendiri yang selalu seiya dan sekata dengan anda?

Kalau sudah bersahabat bahkan selalu seiya dan sekata, buat apa anda membuat perjanjian damai?

Kalau menurut hemat saya yang bodoh ini, bila ada orang yang masih berpikir untuk membuat perjanjian damai dengan sahabat apalagi saudara sendiri yang selalu seiya dan sekata maka ia adalah PENDUSTA BESAR DALAM persahabatan dan kekeluargaannya, alias musang berbulu domba. Perilaku musang, bengis, keji dan selalu berkhianat namun berpenampilan bagaikan domba jinak.

Persahabatan apalagi persaudaraan menjadikan anda merasa bahwa derita sahabat atau saudara anda adalah derita anda sendiri. Kekurangan mereka adalah kekurangan anda sendiri sehingga anda mengobatinya dengan penuh kasih sayang, tanpa perlu ada perjanjian.

Persahabatan yang sejati dan persaudaraan yang hakiki menumbuhkan kesadaran pada diri anda untuk berkorban demi sahabat atau saudara anda. Karena itu, dahulu kaum Anshar radhiallahu anhum yang benar benar telah menjadi sahabat bahkan saudara kaum Muhajirin, dalam diri mereka tumbuh kesadaran untuk iitsar ( mendahulukan saudaranya dibanding diri sendiri) terhadap kaum Muhajirin, tanpa perlu ada perjanjian damai dan saling menahan diri.

Biasanya, Adanya perjanjian damai karena adanya perbedaan bahkan jurang atau perseteruan yang memisahkan, sehingga perlu dibuat jembatan agar bisa terjalin komunikasi dan kesepahaman, atau minimal komitmen bersama untuk saling menahan diri agar jurang tidak semakin lebar.

Ini adalah pemahaman dan persepsi dangkal saya, bisa jadi saudara punya persepsi yang berbeda dan sepenuhnya saya menghormati persepsi dan pemahaman saudara. Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab.

Kunjungan Ke Gus Idrus Ramli…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah; pada hari ini 2 Dzul Hijjah 1436 Hijriyah saya Muhammad Arifin Badri; bersama Ustadz Muhammad Yasir Lc dan juga Usta Nur Kholis Kurdian Lc. M.Th.i berkesempatan untuk bersilaturrahmi ke kediaman Gus Idrus Ramli.

Alhamdulillah dengan mudah kami menemukan kediaman beliau berkat pertolongan Allah Taala lalu petunjuk arah yang beliau berikan. Tiba di kediaman beliau di kecamatan Kencong Jember, pada sekitar pukul 15.30.

Kami langsung disambut oleh tuan rumah yaitu Gus Idrus Ramli yang segera mempersilahkan kami masuk dan duduk di rumah beliau.

Tanpa menunggu perkenalan atau lainnya; masyaAllah Gus Idrus segera menyuguhi kami dan salah satunya adalah hidangan favorit saya; secangkir kopi tubruk yang begitu berkesan dari lidah hingga ke lubuk hati.

Bukan sekedar minuman dan camilan; walaupun bukan jam makan; kami juga disuguhi makan nasi; berlaukkan lele; gule; dan sate; lengkap sudah.

Setelah beramah tamah dan memperkenalkan diri; kami membicarakan kondisi ummat yang akhir akhir ini sering diberitakan kurang harmonis dan seakan tidak bisa dipertemukan dalam nuansa ukhuwah.

Padahal realitanya tidaklah demikian, dari pertemuan kami dengan beliau yang berlangsung sekitar 1 jam 30 menit, kami dapat mencatatkan beberapa hal positif:

1. Selama ini Gus Idrus Ramli belum pernah berinisiatif untuk beredebat dengan seorangpun dari teman teman salafy atau yang sering disebut dengan wahaby. Yang terjadi beliau hanya memenuhi undangan pihak lain untuk menyampaikan ceramah atau diskusi/debat.

Pernyataan ini patut dicermati bersama; sebenarnya masalah yang terjadi adalah masalah lokal daerah tertentu yang kemudian melibatkan pihak luar.

Sebagai buktinya perdebatan serupa tidak terjadi di jember walaupun di jember ada STDI IMAM SYAFII dan ada pula pondok As Salafy binaan ust Luqman Baabduh.

Menurut beliau; apa untungnya perdebatan bila hanya untuk unjuk kekuatan atau memancing keributan masyarakat?

Yang lebih unik; walaupun perdebatan dengan salafy hanya dua kali namun demikian; perdebatan ini banyak diberitakan di media; terutama medsos.

Adapun perdebatan beliau dengan kelompok syi’ah yang begitu sering; jarang dimuat dan dibicarakan media termasuk medsos. Beliau sangat keheranan dengan hal ini; ada apa? Mungkinkah ada pihak pihak yang sengaja MENGADU DOMBA?

2. Beliau sepakat betapa pentingnya kita menjaga kesatuan dan ukhuwah sesama ummat Islam.

3. Beliau juga sependapat bahwa perbedaan pendapat adalah satu hal yang wajar dan tidak mungkin bisa dihindari karena telah terjadi sejak dahulu kala.

Namun demikian beliau menekankan pentingnya kedewasaan sikap dan sikap toleransi alias saling menghormati pihak lain dalam menjalankan pilihan dan keyakinannya.
4. Menghormati pendapat bukan berarti menutup rapat ruang untuk bermuzakarah (diskusi ilmiyah) antara para ahli ilmu, guna meningkatkan keilmuan dan bukan dalam rangka unjuk kekuatan dihadapan publik.

5. Kami memaparkan bahwa di kampus kami STDI IMAM SYAFII; kami mempelajari ilmu fiqih muqqaranah /perbandingan. Karena itu rujukan fiqih yang diajarkan di kampus adalah kitab Bidayatul Mujtahid karya Imam Ibnu Rusyud Al Hafizh, dan untuk ilmu ushul fiqih kami menggunakan kitab Raudhatu An Nazhir karya Imam Ibnu Qudamah yang merupakan ringkasan dari kitab Al Mustashfa karya Imam Ghozali As Syafii. Dan untuk ilmu tafsir; maka kami menggunakan Tafsir Ibnu Katsir as syafii.

6. Kami juga menyampaikan bahwa kunjungan semacam ini insyaAllah bukan hanya sekali saja namun kami akan berusaha melanjutkannya sehingga terwujud hubungan yang harmonis. Sebagaimana beliau juga mengutarakan minatnya untuk berkunjung ke kampus STDI IMAM SYAFII.

7. Adapun perbedaan yang ada antara praktek keagamaan yang ada di masyarakat dengan yang diamalkan dan diajarkan di STDI IMAM SYAFII adalah satu hal yang sudah dimaklumi bersama. Tidak ada manfaatnya bila kita menyibukkan diri dengan perbedaan perbedan itu dan melupakan sekian banyak persamaan yang ada. Kami sepakat untuk bercermin dengan apa yang terjadi dahulu pada Imam Syafii yang berguru kepada Imam Muhammad bin Hasan Al Hanafi sebagaimana beliau juga berguru kepada Imam Malik dan di saat yang sama beliau juga menjadi gurunya Imam Ahmad. Padahal antara mereka terjadi perbedaan yang cukup banyak, namun perbedaan perbedaan tersebut dapat dikelola dengan bijak sehingga suasana kondusif.

8. Kami juga berkomitmen untuk tidak saling mengusik dan menyinggung kegiatan pihak lain; demi terciptanya ukhuwah di tengah tengah ummat islam secara umum dan muslimin di Jember secara khusus.

Semoga kunjungan ini dapat menjadi sarana terciptanya persatuan dan kejayaan ummat Islam.

Amiin Ya Rabbal Alamin

Ref :  https://www.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri/posts/881992551881919:0

Haruskah Memakai Brand “Salafy” …?

Nama atau kalau boleh bisa juga disebut dengan “brand” memang penting, terlebih bila diperlukan untuk menunjukkan identitas, sehingga dengan nampaknya identitas anda mendapat keuntungan dan terhindar dari kerugian. Para ulama’pun telah dengan tegas menjelaskan bahwa penggunaan brand “salafy” adaah satu hal yang disyari’atkan alias dibenarkan.

Sebutan “salafy” untuk menggambarkan cara anda dalam beragama, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam.

Salafy, berarti dalam beragama anda meneladani generasi terdahulu dari ummat Islam, yaitu para sahabat, dan ulama’ yang mengikuti jejak mereka.

Penggunaan nama “salafy” serupa dengan penggunaan nama muslim” atau “mukmin”, sama sama identitas diri anda.

Namun demikian, kadang kala karena satu alasan, anda “TERPAKSA” menyembunyikan identitas diri anda sebagai seorang muslim, demi terwujudnya kepentingan yang atau terhindarnya kerugian yang besar.

Kondisi ini terjadi pada para sahabat yang tinggal di kota Makkah pada awal Islam. Mereka merahasiakan identitas mereka sebagai seorang muslim, karena kawatir diintimidasi oleh orang orang kafir Quraisy, sebagaimana dikisahkan dalam surat Al Fateh 25.

Kondisi serupa juga terjadi pada diri seorang mukmin dari pengikut sebagian rasul terdahulu. Ia merahasiakan keislamannya agar dapat menyusup ke barisan orang -orang kafir dan memberikan pembelaan kepada para utusan ALlah tersebut di hadapan musuh musuh mereka, sebagaimana dikisahkan dalam surat Yasiin.

Merahasiaan atau menyembunyikan identitas sebagai seorang muslim dan mukmin bila dirasa perlu tidaklah merusak iman atau menodainya. Bahkan itu sebagai bagian dari kearifan sikap dalam menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan.

Hal serupa juga bisa terjadi dan patut anda lakukan dengan identitas anda sebagai seorang “salafy”. Bila dirasa perlu dan tentunya dengan pertimbangan yang masak lagi mendalam, anda juga sepatutnya menyembunyikan brand “salafy” anda. Percayalah bahwa menyebunyikan brand “salafy” bila diperlukan karena pertimbangan yang matang, tidak akan melunturkan ke”salay’an anda, sebagaimana merahasiakan status sebagai “muslim” tidak melnturkan keislaman para sahabat.

Suatu hari, di salah satu perumahan di kota Jember terjadi kondisi yang sedikit meresahkan. Ulah sebagian pemuda yang kurang bijak alias ceroboh telah memantik amarah sebagian pengurus takmir masjid. Akibatnya mereka membuat pengumuman di masjid “SALAFY TIDAK BOLEH SHOLAT DI MASJID INI”.
Tak ayal lagi pengumuman ini meresahkan sebagian staf STDI Imam Syafii dan juga mahasiswanya yang kebetulan tinggal di perumahan tersebut.

Mendapat laporan tentang ini, maka saya segera mengumpulkan suluruh staf dan mahasiswa STDI Imam Syafi’i yang tinggal di perumahan tersebut di atas. Setelah mendengarkan alur masalah dan kondisi yang terjadi, saya berkata kepada mereka: “Al hamdulillah, masalah telah selesai dan tidak perlu ada yang di risaukan. Karena pengumumannya berbunyi “SALAFY TIDAK BOLEH SHOLAT DI MASJID INI”, maka kalian semua tidak perlu kawatir atau risau. Sebab kalian adalah staf dan juga Mahasiswa Imam Syafi’i dan bukan staf atau murid di pondok As Salafy..”

Mereka heran, kok ustadz tahu bahwa masalah sudah selesai, padahal ustadz baru tahu masalahnya dari laporan kami..?

Saya menjawab: “iya, sudah selesai karena yang dilarang sholat di masjid adalah SALAFY sedangkan kalian adalah Imam Syafii dan bukan As Salafy. Kalian harus paham dan membuka mata bahwa di kota kita tinggal ini “Jember” kampus kita dikenal dengan sebutan “IMAM SYAFI’I sedangkan sebutan “SALAFY” dikenal sebagai brand dan merek pondok yang diasuh oleh Ust Luqman Baabduh. Beliau menamai pondoknya dengan AS SALAFY. Jadi pada kondisi ini gunakanlah brand yang telah melekat kepada kalian dan sengaja kita pilih yaitu IMAM SYAFI’I dan jangan merebut brand yang telah melekat pada pondok ustadz Luqman yaitu AS SALAFY..”

Ada salah satu mahasiswa yang nyletuk: “Tapi ustadz, bukankah kita juga salafy..?”

Saya menjawab: “iya , betul kita semua beriman bahwa dalam beragama ini kita harus meneladani generasi salaf, namun dalam kondisi seperti ini jangan sok paham, namun bersikaplah pura pura bodoh. Bersikaplah seperti masyarakat yang kebanyakannya masih belum paham apa beda STDI IMAM SYAFI’I dari pondok AS SALAFY. Terutama untuk memahami tulisan yang dibuat oleh orang yang tidak paham. Jangan pahami tulisan orang bodoh dengan cara piker dan pemahaman orang berilmu. Kalau kalian ditegur oleh takmir masjid: kok masih ke masjid padahal sudah ada pengumuman, maka katakan kepada mereka bahwa : kami dari “Imam Syafii”..”

Alhamdulillah, mereka mengikuti saran saya, dan al hamdulillah masalah dapat terselesaikan dengan aman tanpa ada kegaduhan yang lebih berat. Nampaknya “pura pura bodoh” dalam kondisi tertentu adalah “ilmu” dan sebaliknya : “Sok paham” dalam beberapa kondisi adalah cermin dari kebodohan yang sebenarnya.

Wallahu ta’ala a’alam bisshowab.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى