Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Islam Nusantara & Islam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Menurut anda, Islam Nusantara sama atau berbeda dari Islam Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Kalau sama, buat apa nama baru @Islam Nusantara@? karena ternyata sama dengan Islam Arab, karena beliau adalah orang arab.

Kalau beda, maka kelak surganya sama atau beda ya?

Nampaknya, yang jelas, Islam Arab akan satu surga dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sama-sama arab, al qur’annya arab, dan haditsnya juga arab.

Namun @Islam Nusantara@ kira kira kitabnya berbahasa apa ya?

Nama tuhannya, pakai bahasa arab atau bahasa nusantara ya? Nabinya juga pakai nama arab atau nusantara ya?

Dan, kata @Islam@ itu sendiri kira kira bahasa apa ya, arab atau nusantara?

Setahu saya, @Islam@ itu bahasa arab, seharusnya, kalau mau pakai @nusantara@ ya jangan pakai nama @Islam@ tapi pakai nama yang benar benar nusantara.

Jadi usulan saya, @Islam nusantara@ ndak pantas pakai nama agama @Islam@ tapi diganti agama @berserah diri nusantara@, tuhannya bernama @gusti@ dan nabinya bernama @Pujianto@ atau @Pujiono@.

Bagaimana anda setuju dengan usulan saya?

Buka Rumah Makan Baru…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Betapa sering ketika ada satu rumah /warung makan yang laris manis; segera di sekitar tempat tersebut berdiri rumah/warung makan serupa.

Menurut anda; salahkah mereka yang ikut serta mengais rejeki di dekat warung yang laris tersebut? Perlu diketahui bahwa mereka sebagaimana juga pemilik warung pertama; membuka usahanya di tempat sendiri; tanpa mengganggu siapapun ermasuk pemilik warung pertama.

Namun demikian; betapa sering pemilik warung pertama berang dan mulai unjuk taringnya kepada pemilik warung kedua atau ketiga. Alasannya sederhana; ia meyakini bahwa keberadaan warung kedua dan ketiga “mengurangi rejekinya” atau “mengurangi pelanggannya”.

Padahal urusan rejeki; sepenuhnya urusan Allah; masing masing telah mendapat kodrat rejekinya; tiada akan pernah berkurang atau direbut orang. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن روح القدس نلث في روعي أنها لن تموت نفس حتى تستوفي رزقها فأجملوا في الطلب خذوا الحلال ودعوا الحرام

“Sesungguhnya ruhul qudus ( Malaikat Jibril) telah membisikkan ke dalam jiwaku bahwa tiada pernah ada seorang jiwapun yang akan mati hingga ia telah mengenyam seluruh rizkinya. Karena itu bersikaplah yang baik dalam mencari rizkimu; tempuhlah jalan yang halal dan jauhilah jalan yang haram.” (Al Bazzar dan lainnya)

Walau demikian, tetap saja ada kekawatiran yang akhirnya memancing terjadinya persaingan yang tidak sehat dan sikap sikap yang tercela. Ada iri, dengki, hasad, dan perilaku melampaui batas dan bahkan kesengajaan untuk mengambil hak saudaranya dengan lancang. Itulah manusia; memang manusia dan lagi lagi manusia.

Kondisi serupa juga terjadi antara para pemuda atau para penyeru dakwah; kekawatiran kehilangan murid; pamor tersalip; popularitas surut dan lainnya kadang kala merusak hubungan. Muncullah iri; dengki; hasad, sombong dan perilaku buruk lainnya.

Padahal urusan hati dan hidayah sepenuhnya milik Allah; sebagaimana ditegaskan pada ayat berikut:

إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء

“Sesungguhnya engkau tiada kuasa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, namun Allah-lah yang kuasa memberi hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki.”

Demikian pula urusan derajat pangkat dan popularitas; semuanya adalah rahasia dan kuasa Allah, untuk apa diperebutkan? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اذا أحب الله العبد قال لجبريل عليه السلام إني أحببت فلانا فأحبه فيحبه جبريل ثم ينادي في اهل السماء إن الله تبارك وتعالى قد أحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء ثم يوضع له القبول في الأرض

“Bila Allah mencintai seorang hamba; maka segera Allah berfirman kepada malaikat Jibril alaihissalam: sesungguhnya Aku mencintai si fulan; maka cintailah dia; dan Jibrilpun segera mencintai orang itu. Selanjutnya malaikat Jibril berkata kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Mulia mencintai si fulan maka cintailah dia; segera seluruh penduduk langit mencintainya. Dan selanjutnya dijadikanlah orang itu menjadi orang yang selalu diterima di muka bumi.” (Ahmad dan lainnya)

Jadi untuk apa iri dan dengki; namun waspadalah bisa jadi keberadaan anda dianggap sebagai ancaman oleh orang lain.

Secantik Apapun Istrimu; Kalau Kentut Kau Pasti Tutup Hidung…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat; mencari istri cantik sah sah saja. Sebagaimana mencari istri sholehah itu adalah satu keniscayaan atas setiap insan. Dan mendapatkan istri cantik nan sholehah apalagi kaya raya itu adalah impian setiap pemuda.

Namun demikian; kalaupun anda telah berhasil mendapatkan istri cantik; sholehah dan kaya raya; tetap saja kalau dia kentut anda akan kebauan dan akhirnya tutup hidung. Dan bila dia sedang buang hajat alias kotoran; toh tetap saja anda tidak suka untuk melihatnya.

Bukan sekedar anda tidak suka untuk melihat atau menciumnya, anda pasti segera mengarahkannya agar menjauh ketika kentut dan buang hajat; dan juga segera membersihkan dirinya; agar kotoran itu tidak merusak keharmonisan hubungan anda. Mustahil anda berkata kepadanya: karena aku cinta maka tidak mengapa engkau kentut sebarangan dan kencing sembarangan dan tidak usah bersuci. Joroook dan menjijikkan bukan?

Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila anda sedang bermesraan dengan istri yang cuuuuuantik juuueelita, tiba tiba dia ngompol atau minimal kentut. Waaah bisa kacau tuh keharmonisan anda berdua; dan sejuta rayuan gombal andapun bisa buyar semua.

Tetapi; sebau apapun kentut dan kotoran istri anda; pastilah setelah semuanya hilang dan dibersihkan anda segera lengket kayak perangko; dan sejuta rayuan gombalpun segera mengalir deras kembali. Bukankah demikian sobat?

Sobat! Kondisi di atas hanyalah ilustrasi sederhana bagi kita semua dalam membangun hubungan sosial kemasyarakan dengan sesama ummat Islam yang dibangun di atas ukhuwah islamiyah.

Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; sebagaimana Allah Ta’ala tegaskan:

إنما المؤمنون إخوة

“Sejatinya sesama orang orang yang beriman adalah saling bersaudara.”

Sekuat apapun persaudaraan antara kita; bukan berarti kita buta; menutup mata dari segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Ukhuwah antara kita mengharuskan kita untuk saling mencintai dan membela.

Dan di saat yang sama bila saudara kita berbuat salah; dosa dan khilaf; baik dalam hal amalan; ucapan atau keyakinan; maka sepatutnya kita menegurnya agar segera membersihkan dirinya dengan istighfar dan taubat; sebagaimana yang kita lakukan kepada istri kita tercinta bila dirinya ternodai dengan kotoran atau najis.

Karen itu; pahamilah sobat bahwa teguran yang tulus dan santun sejatinya adalah implementasi dari kasih sayang dan ukhuwah. Demikianlah dahulu Rasulullah shallahu alaihi wa sallam menjelaskan hubungan antara ukhuwah dan amar ma’atuf nahi mungkar, beliau bersabda:

انصر أخاك ظالما أو مظلوما. قالوا: يا رسول الله ننصره مظلوما فكيف ننصره ظالما؟قال: تكفه عن الظلم فذاك نصرك إياه.

“Tolonglah saudaramu; baik dia berbuat zholim atau dia dizholimi. Spontan para sahabat bertanya keheranan: wahai Rasulullah, kita menolongnya di saat ia dizholimi itu adalah wajar; namun bagaimana halnya kita menolongnya di saat ia berbuat zholim? Beliau menjawab: dengan cara engkau menghalanginya dari perbuatan zholimnya maka itulah bentuk pertolongan kepadNya.” (Bukhori; At Tirmizi dll)

Karena itu tidak sepatutnya anda risau dengan adanya teguran; nasehat; ingkar mungkar; bantahan yang terjadi sesama ummat islam dan juga para ulama’ selama itu semua dilakukan secara SANTUN; OBYEKTIF & TANPA PAMRIH alias LILLAH semata. Wallahu a’alam bisshawab; selamat mencari istri yang cuuuantik; sholehah dan kalau kentut baunya huuaaruuuum & kalau dapat segera kabari saya.

Akidah Salaf, Manhaj Harakah & Akhlaq Tabligh

Sebagian kaum muslimin mengira bahwa ucapan di atas adalah wajar bahkan benar. Seakan mereka lupa bahwa para salaf yang nota bene adalah para sahabat nabi; tabiin; tabiut tabiin dan ulama’ sepeninggal mereka adalah ummat yang paling mulia akhlaqnya.

Sebagaimana mereka adalah generasi yang paling baik dalam mengemban misi dakwah sebagai penerus perjuangan para nabi alaihimussalam.

Pemerintahan pada zaman beberapa masa di khilafah Umawiyah dan juga Abbasiyah tidak seindah yang dibayangkan oleh sebagian orang.

Pada sebagian zaman itu; sebagian khalifah membunuh banyak ulama’ hanya karena perbedaan idiologi semisal masalah ” al Qur’an adalah kalam ilahi”. Sebagaimana mereka juga memenjarakan dan bahkan membunuh sebagian ulama’ dengan tuduhan subversi “makar merebut kekuasaan”.

Bahkan sebagian khalifah telah menunda nunda shalat hingga akhir waktu bahkan kadang kala keluar batas waktunya. Dan masih banyak lagi kisah kelam yang pernah menghiasi lembaran sejarah para ulama’ salaf.

Namun seberat apapun yang mereka alami; mereka tetap teguh berprinsip bahwa Islam adalah satu satunya solusi bagi seluruh problematika ummat. Islam telah utuh sebagaimana firman Allah Ta’ala:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا

“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian dan menggenapkan kenikmatan-Ku atas kalian dan Aku juga telah merestui Islam sebagai agama kalian.”

Hasilnya? Islam tetap jaya hingga akhirnya Islam tetap menyebar dan memimpin dunia. Berbagai cobaan berhasil mereka lalui dengan tanpa merubah syariat islam atau garis perjuangan tanpa perlu mengadopsi berbagai ajaran dan hasil pikiran orang.

Semua problemtika ummat mereka selesaikan dengan kembali ke jalan Allah dan meneladani sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan keteladanan salafusshalih.

Mungkin anda berkata: kok bisa dengan bersahaja dan hanya mempelajari islam; mengamalkan dan mendakwahkan Islam seutuhnya tanpa pengurangan atau penambahan semua problematika dapat terselesaikan? Padahal di zaman kita; dengan sarana berbagai tekhnologi; hasil pemikiran para ilmuan; dan metode perubahan atau penyegaran ummat Islam masih saja terpuruk bahkan seakan semakin terpuruk.

Betul sobat! Ingat bahwa semua tekhnologi tergantung kepada yang menggunakannya; sebagai contoh HP atau Komputer yang ada di depan anda; bisa berguna dan bisa juga menjadi biang petaka bagi Islam.

Hasil penelitian manusia pastilah cacat alias tidak sempurna seiring ketidak sempurnaan para ilmuan yang menelitinya; dan akibatnya hasilnya juga tidak akan pernah sempurna.

Terlebih dari itu semua; kejayaan dan pertolongan sejatinya hanyalah milik Allah. Kalau Allah menghendaki maka pasti terjadi dan bila Allah belum menghendaki maka seluruh upaya manusia pastilah akan berujung pada kebuntuan. Simaklah firman Allah Ta’ala:

قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيء قدير

“Katakan : Ya Allah; wahai Penguasa segala kerajaan; Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau juga mencabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau juga menghinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di Tangan-Mulah segala kebaikan; sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu sungguhlah berkuasa.” (Ali Imran 26)

Sobat! Masihkah ada alasan untuk mencari solusi dari selain kembali kepada jalan atau agama Allah seutuhnya?

Dahulu Khalifah Umar radhiallahu anhu menjelaskan tentang resep keberhasilannya menundukkan Romawi dan Persia dengan berkata:

نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة بغيره أذلنا الله

“Kita adalah satu kaum yang Allah muliakan berkat agama Islam; sehingga acap kali kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam; pasti Allah timpakan kehinaan kepada kita.”

Inilah resep manjur dan mujarab kejayaan ummat; bukan dengan memodifikasi islam dengan harokah hasil rekayasa sebagian manusia atau metode lainnya. Allahu Akbar.

Penulis,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Nasib Para Modifikator️…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Anda pernah melihat pengendara sepeda motor yang telah sukses memodif sepeda motornya sehingga menimbulkan suara sangat brisik& asap yang mengepul?
Ada lagi yang mengganti lampu remnya dengan warna putih sehigga sangat menyilaukan mata pengandara yang dibelakangnya?

Bagaimana perasaan anda saat itu?

Bisa jadi pak polisi mrnilang mereka dan anda sebagai masyarakat juga kadang kala mengumpat mereka. Andai kuasa barang kali anda akan mengusir mereka dari jalanan.

Ini adalah nasib yang bisa dialami oleh para modifikator kendaraan.

Tidak jauh; nasib yang dialami oleh para modifikator agama. Kelak di hari qiyamat; mereka akan kena tilang bukan oleh polisi namun oleh malaikat.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu mengisahkan: pada suatu hari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallaam mendatangi kuburan, lalu beliau mengucapkan salam:

ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺩَﺍﺭَ ﻗَﻮْﻡٍ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ، ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻜُﻢْ ﻟَﺎﺣِﻘُﻮﻥَ

“Semoga keselamatan senantiasa menyertai kalian wahai penghuni kuburan dari kaum mukminin, dan kami insya Allah pasti akan menyusul kalian“.

Selanjutnya beliau bersabda: “aku sangat berharap untuk dapat melihat saudara-saudaraku“.

Mendengar ucapan ini, para sahabat keheranan, sehingga mereka bertanya: “bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab :

ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ ﻭَﺇِﺧْﻮَﺍﻧُﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪُ

“Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah ummatku yang akan datang kelak“.

Kembali para sahabat bertanya:

“wahai rasulullah, bagaimana engkau dapat mengenali ummatmu yang sampai saat ini belum terlahir?“.

Beliau menjawab:

ﺃَﺭَﺃَﻳْﺖَ ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻟَﻪُ ﺧَﻴْﻞٌ ﻏُﺮٌّ ﻣُﺤَﺠَّﻠَﺔٌ ﺑَﻴْﻦَ ﻇَﻬْﺮَﻱْ ﺧَﻴْﻞٍ ﺩُﻫْﻢٍ ﺑُﻬْﻢٍ ﺃَﻟَﺎ ﻳَﻌْﺮِﻑُ ﺧَﻴْﻠَﻪُ

“Menurut pendapat kalian, andai ada orang yang memiliki kuda yang di dahi dan ujung-ujung kakinya berwarna putih dan kuda itu berada di tengah-tengah kuda-kuda lainnya yang berwarna hitam legam, tidakkah orang itu dapat mengenali kudanya?”

Para sahabat menjawab : “tentu saja orang itu dengan mudah mengenali kudanya“.

Maka Rasulullah menimpali jawaban mereka dengan bersabda:

ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻢْ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﻏُﺮًّﺍ ﻣُﺤَﺠَّﻠِﻴﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀِ، ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻓَﺮَﻃُﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤَﻮْﺽِ ﺃَﻟَﺎ ﻟَﻴُﺬَﺍﺩَﻥَّ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻋَﻦْ ﺣَﻮْﺿِﻲ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺬَﺍﺩُ ﺍﻟْﺒَﻌِﻴﺮُ ﺍﻟﻀَّﺎﻝُّ

“Sejatinya ummatku pada hari qiyamat akan datang dalam kondisi wajah dan ujung-ujung tangan dan kakinya bersinar pertanda mereka berwudlu semasa hidupnya di dunia“.
Aku akan menanti ummatku di pinggir telagaku di alam mahsyar.

Dan ketahuilah bahwa akan ada dari ummatku yang diusir oleh Malaikat, sebagaimana seekor onta yang tersesat dari pemiliknya dan mendatangi tempat minum milik orang lain, sehingga iapun diusir.

Melihat sebagian orang yang memiliki tanda-tanda pernah berwudlu, maka aku memanggil mereka: “kemarilah“.

Namun para Malaikat yang mengusir mereka berkata:

ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ : ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻗَﺪْ ﺑَﺪَّﻟُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪَﻙَ

“sejatinya mereka sepeninggalmu telah merubah-rubah ajaranmu“.

Mendapat penjelasan semacam ini, maka aku (Rasulullah) berkata:

ﺳُﺤْﻘًﺎ ﺳُﺤْﻘًﺎ ﻟِﻤَﻦْ ﺑَﺪَّﻝَ ﺑَﻌْﺪِﻱ

“menjauhlah, menjauhlah wahai orang-orang yang sepeninggalku merubah-rubah ajaranku” (diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim).

Muungkin anda berkata: sedemikian beratkah hukuman yang ditimpakan kepada para modifikator agama Islam?

Ya; betul& itu pantas untuk mereka terima; karena semasa mereka hidup di dunia merekadengan kejamnya melemparkan tuduhan bahwa “hanya dengan Islam saja” urusan ummat tidak akan selesai. Mereka dengan darah dinginnya mengatakan bahwa uswah nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya sudah kadaluarsa sehingga harus dimodernisasi agar bisa sejalan dengan perkembangan zaman. Keji bukan tuduhan semacam ini?

Dahulu imam Malik berkata:

من ابتدع في الاسلام بدعة فقد زعم أن محمدا خان الرسالة

Siapapun yang membuat suatu bid’ah berarti dia telah menuduh Nabi Muhammad telah berkhinanat dalam menyampaikan kerasulannya.

Sobat! Anda tidak ingin bernasib seperti mereka? Tentu jawabannya: tidak.

Karena itu, jagalah kemurnian ajaran Islam dan amalkan seutuhnya tanpa ditambah atau dikurangi.

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang mendapat syafaat Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallaam pada hari kiyamat kelak. Amiin

Kendaraan Modivikasi & Islam Modivikasi…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat, tahukan anda bahwa di jalan raya banyak berseliwaran kendaraan kendaraan hasil karya tangan tangan kreatif, alias modivikasi. saking kreatifnya, sampai-samp[ai anda tidak lagi dapat mengenali merek, kemampuan dan berbagai hal tentang kendaraan tersebut.

Menurut anda, mobil bermerekkan TOYOTA (misalnya) yang telah dimodivikasi total itu layak untuk disebut sebagai mobil TOYOTA?

Dan tepatkah, bila anda ingin membeli mobil baru bermerek TOYOTA untuk menjadikan mobil hasil modivikasi itu sebagai acuan anda untuk menilai kemampuan atau keunggulan mobil TOYOTA?

Bila benda semisal kendaraan yang telah dimodivikasi total tidak lagi dapat dijadikan acuan dalam penilaian, dan tidak pula bisa disamakan dengan mobil aslinya, maka demikian pula hal hal lainya, tanpa terkecuali urusan agama.

Agama Islam yang telah dimodivikasi dengan budaya lokal, kejawen, atau nasional, atau AD/ART organisasi, atau pergerakan, tidak pula pantas dijadikan acuan untuk menilai Islam.

Orang-orang yang kreatif memodifikasi ajaran agama Islam, dengan mencampur adukkannya dengan budaya lokal, atau AD/ART atau doktrin kelompok juga tidak lagi pantas dijadikan sebagai acuan untuk menilai Ummat Islam, apalagi mewakili mereka terlebih lagi mewakili generasi terbaik dari ummat islam atau yang sering disebut dengan SALAFUS SHOLEH.

SALAFU SHOLEH adalah generasi hasil orisinil pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sedangkan kelompok yang telah memodovikasi islam dengan budaya, doktri kelompok, atau lainnya tak ubahnya bagaikan mobil modivikasi, yang bahan dasarnya Islam namun hasil akhirnya sudah samar, sesamar mobil hasil modivikasi. Karena itu akan lebih baik jujur saja, seperti para pemuda kreatif yang mengakui bahwa kemdaraan mereka adalah hasil modivikasi dan bukan lagi ori, demikian pula agama sebagian orang yang faktanya adalah hasil modivikasi bukan lagi ori. Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab.

He he he ; Pada Rebutan Status…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Mengaku secara sepihak itu kan mudah, murah dan lumrah alias manusiawi alias setiap orang melakukannya. Merasa sebagai orang paling cuaakep, atau minimal cakep, puualing baik, atau minimal baik, paling puaandai atau minimal pandai, paling sedikiiit dosanya atau perasaan lain yang serupa.

Sikap seperti ini manusiawi karena setiap orang merasa senang bila menjadi baik; cakep; pandai, kaya dan lainnya.

Namun sekedar merasa cakep apa berarti pasti cakep? Sekedar merasa pandai apa pastii pandai?

Saya yakin; BUKTI DAN FAKTA lebih penting dari sekedar klaim sepihak atau anggapan masing masing insan.

Masyarakat akan lebih percaya kepada bukti dan fakta dibanding kepada pengakuan sepihak dan bualan kosong.

Bila anda menyadari hal ini, maka apalah gunanya bagi anda berseteru dengan orang lain hanya gara gara rebutan status ” sayalah orang yang bertaqwa” sedangkan anda bukan. Untuk apa anda memperebutkan gelar “sayalah muslim orisinil/sejati” sedang anda muslim imitasi. Mengapa urat urat leher anda menegang hanya karena rebutan ” salafy sejati” atau “salafy KW2” .

Saya yakin pembuktian dalam bentuk aksi nyata; ilmu; amalan, ucapan lebih penting untuk anda lakukan.

Bahkan bila anda terus memperebutkan status semisal di atas, salah salah anda bisa terjerumus kedalam kesombongan atau tazkiyatunnafsi “merasa diri sendiri telah suci” . Allah berfirman:

ولا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى

“Dan janganlah kalian mempersaksikan/merasa bahwa dirimu telah suci; sedangkan Allah-lah Yang lebih mengetahui siapakah orang yang benar benar bertaqwa.”

Seharusnya Ulama’ Beri Solusinya, Dong!…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Demikian celotehan sebagian orang di saat mendengar fatwa ulama bahwa “bunga bank” riba, ” BPJS tidak sesuai syariat Islam” dan fatwa fatwa serupa lainnya.

Sekilas celotehan ini nampak manusiawi dan logis, kalau ini dan itu haram maka masyarakat pasti bingung dan ingin mengetahui apa solusi atau alternatifnya?

Namun kalau dipikir ulang, menuntut agar ulama selalu memberi solusi setiap kali memfatwakan “haram” sesuatu sama halnya “MENUHANKAN” alias menganggap para ulama’ seakan tuhan. Orang orang yang berceloteh demikian ini, seakan beranggapan bahwa ulama’ berwenang, mengetahui dan memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Seakan mereka belum mengetahui bahwa urusan dunia ini melibatkan banyak pihak, dari rakyat jelata, penguasa,, ilmuwan, pengusaha, konsumen, produsen, politikus dan lainnya.

Sehingga idealnya fatwa ulama’ haruslah didukung oleh seluruh elemen masyarakat, bukan malah semuanya dibebankan kepada ulama’, dan semua elemen masyarakat menghujat para ulama’ yang berfatwa, seakan fatwa ulama’ adalah biang masalah dan carut marutnya urusan masyarakat.

Hasbunallahu wa ni’mal wakiil.

Antara Anak singa Dan Srigala…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat, semua orang pasti mengetahui bahwa singa pastilah lebih kuat dibanding srigala. Namun demikian semasa singa baru saja terlahir dari induknya pastilah tidak berdaya bila harus menghadapi srigala dewasa. Enam anak singa yang masih lemah tidak akan berdaya menghadapi seekor srigala dewasa yang buas nan kelaparan. Karena itu tidak bijak bila anak singa mengandalkan NAMA BESARNYA sebagai SINGA, sehingga BONEK (bondo nekad) ingin memangsa srigala dewasa yang sedang kelaparan, apalagi srigala berjumlah 2 atau lebih.

Dalam kondisi seperti ini, anak singa harus bersabar dan bersembunyi SESAAT dari penglihatan srigala, agar esok hari setelah dewasa dapat keluar dan dengan mudah memangsa srigala.

Anak singa yang hidup di hutan belantara secara naluri dapat menghitung kekuatan diri dan musuhnya, sehingga ia dapat mempertahankan hidupnya. Namun demikian, betapa mengherankan bila banyak dari manusia walau memiliki akal pikiran sering kali kurang mampu meni bang kekuatan diri dan lawannya. Banyak manusia yang hanya mengedepankan rasa lapar dan emosinya.

Betapa indahnya petuah imam Syafii rahimahullah:

من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الاخرة فعليه بالعلم

Barang siapa yang mengehendaki sukses dalam kehidupan dunia maka hendaknya ia berbekalkan dengan ilmu dan barang siapa menghendaki sukses dalam kehidupan akhirat maka hendaknya ia juga berbekalkan dengan ilmu.

Iedul Fitri= Kembali Kepada Fitrah ? Salah Kali !

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Banyak khathib atau penceramah bahkan pejabat yang mengurusi masalah agama masyarakat beranggapan bahwa kata “al fithru/ الفطر” berarti fitrah yang salah satu artinya adalah asal mula penciptaan dan akhirnya diartikan dengan suci.

Sebatas yang pernah saya pelajari dan faktanya juga demikian arti kata “fithri” adalah lawan dari ” shaum”. Al fithru di sini artinya ialah makan pagi, sebagaimana kata ” as shaum” berarti menahan diri.

Dengan demikian iedul fithri arti bahasanya ialah = kembali makan pagi setelah sebelumnya dilarang.

Bila demikian apa istimewanya kembali makan pagi setelah sebelumnya dilarang? Bukankah akan lebih religi dan mantep bila diaryikan dengan fithrah alias asal muasal penciptaan yang identik dengan kesucian?

Oooh, sangat istimewa, karena dengan memahami arti kata ini maka anda dihadapkan pada satu fakta sederhana namun sarat dengan arti religius yang sangat mendalam. Anda dihadapkan pada satu fenomena bahwa makan, minum, melampiaskan syahwat atau menahannya benar benar karena perintah Allah dan keteladanan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Inilah arti keislaman yang sejati, yaitu ketika anda benar benar telah menyerahkan seluruh urusan anda kepada perintah Allah dan keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah ikrar yang sepatutnya anda jadikan pedoman dalam hidup anda sebagai seorang muslim
إن صلاتي ونسكي ومحيايى ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan kematianku seutuhnya aku persembahkan teruntuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan. ( al an’am 162-163)

Ramadhan dan Iedul Fitri mengajarkan kepada anda bahwa Nilai suatu amalan bukanlah terletak pada makan atau mi um atau meninggalkan keduanya semata, namun terletak pada ketepatan alias keteladanan yang diiringi oleh ketulusan niat lillahi rabbil ‘alamiin. Apalah artinya menahan makan dan minum alias berpuasa bila menyelisihi tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, semisal orang yang berpuasa pada hari ied?

Dan sebaliknya betapa buruknya orang yang menurutkan hawa nafsunya dengan makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan, karena itu tentu menyimpang dari tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Sobat, marilah kita pelajari sunnah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar kita bisa beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Bukan waktunya lagi bagi anda untuk hanya menuruti semangat, emosional, perasaan atau tradisi masyarakat dalam beramal, namun sudah tiba saatnya bagi anda untuk selalu memastikan legalitas setiap amalan anda ditinjau dari dalil dan uswah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Selamat merayakan IEDUL FITRI, semoga Allah menerima seluruh amalan ibadah saudara dan memberi umur yang panjang untuk dapat merayakannya kembali pada tahun tahun yang akan datang.
تقبل الله منا ومنكم صالح الاعمال