Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Meninggalkan Kota Makkah…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

13 Tahun lamanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdakwah di kota Makkah, kota paling utama di muka bumi.

Darah beberapa sahabat beliau ditumpahkan dengan cara cara keji oleh orang orang musyrikin quraisy. Sahabat Yasir, Sumayyah, dan lainnya dibunuh dengan cara cara keji.

Bilal bin Rabah, Khabbab bin Al Arat, Ammar bin Yasir, Dan lainnya disiksa dengan cara cara yang sangat kejam.

Berbagai perilaku, intimidasi, penghinaan, pelecehan dan permusuhan dilakukan oleh Quraisy. Dan masih banyak lagi kejadian besar selama beliau berdakwah di kota Makkah.

Berbagai kejadian itu disikapi dengan tenang dan penuh perhitungan, dan tentunya semua itu atas bimbingan wahyu ilahi.

Diantara alasan beliau memilih sikap menahan diri ialah belum adanya kekuatan yang cukup untuk melawan apalagi menundukkan kekuatan musuh.

Dengan segala kesabarandan keyakinan beliau berhijrah meninggalkan kota paling mulia di muka bumi yaitu Makkah beserta Ka’bah dikuasai oleh orang orang kafir.

Beliah lebih memilih untuk mempertahankan keselamatan hidup sahabat sahabatnya dengan cara mengizinkan kepada mereka untuk berhijrah ke Etiopia, dan selanjutnya ke Madinah daripada melakukan perlawanan sebelum terwujudnya persiapan dan kekuatan yang matang dan mumpuni.

Semua itu beliau lakukan walau emosi dan amarah para sahabat kepada orang orang Quraisy seakan tidak terbendungkan lagi, sebagaimana yang tergambar pada pengakuan sahabat Khabbab bin Al Arat berikut:

Kami mengadu kepada Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam yang kala itu sedang berbaring dibawah naungan Ka’abah, berbantalkan bajunya. Kami berkata kepada beliau:

أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا، أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لَنَا؟

Mengapa engkau tidak memohonkan pertolongan bagi kami? Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kami?

Menanggapi pertanyaan ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

: «كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ، أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ»

Dahulu pada ummat sebelum kalian, ada seseorang yang ditanam di tanah, lalu digergaji kepalanya hingga terbelah menjadi dua bagian, walau demikian, siksaan itu tidak mampu memalingkannya dari agamanya.

Ada pula orang yang kepalanya disisir dengan sisir besi, sehingga kulit dan urat uratnya terpisah dari tengkoraknya, walau demikian, siksaan itu tidak mampu memalingkannya dari agamanya.

Sungguh demi Allah, Ia pastilah menyempurnakan agama ini, hingga akan ada orang yang seorang diri bepergian dari kota San’a hingga ke Hadramaut, tanpa ada yang ia tukti selain Allah dan selain serigala yang mengancam domba dombanya. Namun sayang sekali kalian adalah orang orang yang tergesa gesa. ( Bukhari)

Menurut saudara, ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan para sahabat yang telah disiksa oleh Quraisy untuk bersabar, apakah beliau tidak berempati dengan penderitaan sahabatnya?

Menurut hemat saudara, mungkinkah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersikap lemah dan kehilangan semangat juang dan pengorbanan demi ummatnya?

Sobat! Inilah hikmah dan kearifan sikap yang beliau contohkan di saat dalam kondisi lemah sedangkan musuh dalam kondisi kuat.

Beliau terus tegar pada jalur perjuangan yang benar yaitu membangun keyakinan/ iman kepada agama dan janji Allah dan menguatkan kesabaran para sahabatnya, karena kedua hal ini; IMAN DAN KESABARAN adalah modal utama sekaligus kekuatan utama untuk mengalahkan musuh.

Simak firman Allah Ta’ala berikut:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan mereka sebagai pemimpin pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, berkat kesabaran mereka dan mereka beriman/percaya dengan ayat ayat Kami. ( As Sajdah 24)

Sobat! Bila anda peduli dengan keterpurukan ummat Islam, maka mari kita bersama sama mengasah iman kita dan iman ummat kita, sebagaimana kita juga bersama sama menguatkan kesabaran atau ketabahan ummat kita agar tidak emosional dalam menghadapi setiap tahap perjuangan yang kita lalui.

Selamat berjuang.

1364. Apakah modal usaha pinjaman kena zakat ?

1364. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, ana punya dana di rekening sekitar 700 juta namun dari jumlah itu sekitar 600 juta adalah modal yang saya pinjam dari saudara untuk jalankan suatu usaha. Sisa 100 juta adalah hasil keuntungan dari usaha tersebut. Yang dikenakan zakat maal yang mana ya ustadz ?

Jawab 1:
Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

700 juta karena semua itu telah menjadi uang antum.

Jawab 2 :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Hutang yang di gunakan untuk usaha tetap wajib di keluarkan untuk zakat, demikian juga keuntungan yang mana keduanya telah berlalu satu tahun penuh maka wajib di tunaikan zakat.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊1364. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, ana punya dana di rekening sekitar 700 juta namun dari jumlah itu sekitar 600 juta adalah modal yang saya pinjam dari saudara untuk jalankan suatu usaha. Sisa 100 juta adalah hasil keuntungan dari usaha tersebut. Yang dikenakan zakat maal yang mana ya ustadz ?

Jawab 1:
Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

700 juta karena semua itu telah menjadi uang antum.

Jawab 2 :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Hutang yang di gunakan untuk usaha tetap wajib di keluarkan untuk zakat, demikian juga keuntungan yang mana keduanya telah berlalu satu tahun penuh maka wajib di tunaikan zakat.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Sholat Ied Dan Sholat Jum’at…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Diantara kemurahan yang Allah berikan pada kaum muslim ialah adanya keringanan untuk tidak mendirikan sholat jum’at bila bersatu dengan shalat ied.

Sebagai gantinya bagi yang telah mendirikan sholat ied dan tidak ingin menghadiri sholat jum’at maka ia boleh mencukupkan diri dengan mendirikan sholat zhuhur.

Sahabat Ibnu Abbas mengisahkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»

Pada hari ini telah bersatu dua hari raya, maka barang siapa menghendaki maka sholat iednya ini menggugurkan kewajibannya menghadiri sholat jum’at. Adapun KAMI, MAKA KAMI AKAN TETAP MENDIRIKAN SHOLAT JUM’AT ( Abu Dawud, Ibnu Majah dll)

Berdasarkan hadits ini maka:
1. bila iedul fitri jatuh pada haru jum’at maka bagi yang telah mendirikan sholat ied boleh untuk tidak mendirikan sholat jum’at.
2.dan sebagai gantinya ia cukup mendirikan sholat zhuhur.
3. imam masjid jami’ tetap dianjurkan untuk menegakkan sholat jum’at.
4. Hukum ini adalah rukhshah/keringanan dan bukan kewajiban, dengan demikian orang yang mendirikan sholat jum’at mendapat tambahan pahala dibanding yang tidak menghadiri sholat jum’at.

Wallahu A’alam bisshawab.

Bau Mulutmu Kurang Sedap, Ketika Berpuasa? Jangan Takut!…

Ustadz Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Ah, aku malu untuk banyak berbicara, mulutku berbau kurang sedap.

Kira-kira demikianlah desah batin anda tatkala menyadari bahwa bau mulut anda mulai terasa tidak sedap di saat anda sedang berpuasa. Dan mungkin saja anda buru-buru berkumur dengan cairan penyegar mulut. Selanjutnya, andapun merasa lebih pede setelah berkumur untuk berbicara dan berinteraksi dengan orang lain.

Tidak perlu berkecil hati saudaraku! Bau mulut anda yang kurang sedap karena berpuasa, ternyata tidak sia-sia. Walau terasa tidak sedap pada penilaian orang, akan tetapi di sisi Allah, sangat dicintai dan bernilai tinggi.

(وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ) متفق عليه

“Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibanding aroma misik.” Muttafaqun ‘alaih

Saudaraku! coba anda renungkan, mengapa bau mulut orang berpuasa yang kurang sedap kok dicintai Allah, sehingga di akhirat mendapatkan balasan yang begitu indah. Mungkin pernah terbetik pikiran: iih agama Islam ini kok terkesan kotor ya.

Aduuh, gimana sih, agama yang aku cintai ini; bau mulut orang berpuasa yang kurang sedap dianggap bernilai ibadah.

Penampilan orang yang berhaji dibuat sedemikian rupa, dilarang mengenakan wewangian, memotong kuku, penampilannya tidak rapi, akibatnya bau keringatpun jadi menyengat.

Bila sholat, menempelkan wajah ke tanah atau lantai masjid yang mungkin saja karpetnya telah lama tidak dibersihkan.

Semuanya mengesankan keterbelakangan, kolot, kumuh dan kotor.
Saudaraku! Mungkin demikianlah iblis membisikkan ke dalam hati anda, dengan suara yang santun nan lirih, sehingga terkesan ia sedang membela kepentingan anda.

Tentu sebagai orang yang beriman, anda langsung memberangus berbagai bisikan biadab tersebut dan tidak pernah memberinya peluang untuk melekat di batin anda. Akan tetapi betapa banyak dari saudara-sadara kita yang lemah iman menjadi termenung dan kebingungan memikirkannya.

Ketahuilah saudaraku! Bahwa efek samping dari berbagai amal ibadah di atas, walaupun terasa tidak baik dan kurang menyenangkan, akan tetapi itu merupakan bagian dari uji keimanan anda. Itu adalah bagian dari pengorbanan demi tegaknya ibadah kepada Allah.

Akankah dengan adanya efek samping yang kurang menyenangkan itu, anda menjadi hanyut oleh badai bisikan setan ataukah anda tetap tegar berjuang mencari keridhaan Allah, dengan segala konsekwensi dan tantangannya?

Segala hal yang kurang menyenangkan yang menimpa anda semasa menjalankan ibadah kepada Allah adalah bagian dari duri dan aral yang melintang di jalan-jalan menuju surga Allah.

Demikianlah ketetapan Allah yang berlaku pada kehidupan dunia. Pintu-pintu surga bertabirkan duri dan kesusahan. Sedangkan pintu-pintu neraka diselimuti oleh kesenangan.

Walau demikian, rasa sakit dan hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut tidak akan sia-sia begitu saja.

Semuanya bernilai ibadah dan mendapatkan balasan yang setimpal dan bahkan lebih baik.

Bau mulut anda semasa berpuasa akan berubah menjadi aroma yang lebih harum dibanding aroma minyak misik.

Penampilan anda yang kusut lagi berdebu semasa berihram menjalankan manasik haji dan umrah, berbuah ampunan dari Allah.

(انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي شُعْثاً غُبْراً، اشْهَدُوا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُم ذُنُوبَهُم) رواه الطبراني وابن حبان وحسنه الألباني

“Saksikanlah hamba-hambaku yang sedang berpenampilan kusut lagi berdebu. Persaksikanlah bahwa aku telah mengampuni seluruh dosa-dosa mereka.” Riwayat At Thabrani, Ibnu Hibban dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani.

Bekas sujud yang melekat di dahi, hidung, lutut, tangan dan kaki anda akan terhindar dari sengatan api neraka.

(حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ مِنِ ابْنِ آدَمَ أَثَرَ السُّجُودِ) رواه البخاري

“Allah mengharamkan atas api neraka untuk menyentuh anggota tubuh manusia yang membawa bekas sujud.” Riwayat Bukhary

Tidakkah anda mengimpikan untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang kelak di hari kiamat mulutnya berbau harum bak misk, dan tubuh anda selamat dari sengatan api neraka.?

Saudaraku! Besarkan hatimu dan ridhailah Islam sebagai agamamu, niscaya Allahpun meridhaimu.

Sadarlah, bahwa jalan menuju ke surga penuh dengan duri tajam, dan aral yang melintang. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan hati anda dan membulatkan tekad tekad anda, dan menjadikan perjumpaan kita di surga.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Amiin, wassalamu’alaikum.

Menanti Berbuka Semakin Indah Dengan Yang Satu Ini…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Di bulan Ramadhan ini, setiap muslim memiliki tradisi baru yaitu menantikan detik-detik matahari terbenam yang menandai datangnya malam dan kepergian siang. Ada satu alasan anda menantikan terbenamnya matahari, yaitu pada waktu itu anda diizinkan untuk berbuka puasa.

Dan biasanya pula, untuk menyambut terbenamnya matahari ini, istri atau ibu anda menyiapkan menu makanan dan minuman yang lezaat. Terlebih lagi anda menyantap hidangan dan minuman itu setelah sesiangan menahan rasa lapar dan dahaga. Padahal sepenuhnya anda menyadari, tanpa anda nantikan matahari pasti terbenam, dan tanpa istri atau ibunda mempersiapkan hidangan atau minuman, mentari pasti terbenam.

Anda bisa bayangkan, bagaimana perasaan anda bila setelah penantian yang cukup melelahkan, anda membuka tutup saji hidangan yang terletak di meja makan, ternyata anda tidak menemukan secuil makanan dan setetes air minuman. Kira kira, apa dan bagaimana perasaan anda? Kecewa, konyol, marah dan duka yang mendalam,…. Bukankah demikian?

Sobat! Kondisi di atas sejatinya adalah ilustrasi sederhana tentang ajal yang saat ini tidak anda nantikan namun pasti datang menjemput anda. Saat ini, selama anda menjalani kehidupan di dunia, sejatinya anda sedang berpuasa, menahan diri dari berbagai kenikmatan yang menanti anda di surga kelak. Kehidupan dunia ini bagaikan puasa yang saat ini anda jalankan, dan tidak lama lagi mentari kehidupan anda pastilah berakhir dan terbenam. Namun sudahkah anda menyiapkan hidangan lezat dan minuman segar yang akan anda santap setelah anda memejamkan mata kehidupan di dunia dan membuka mata di kehidupan di akhirat?

Bila ibadah puasa dengan menahan diri dari kenikmatan dunia menjadikan anda dan keluarga anda sadar untuk menyiapkan sajian berbuka, maka mengapa selama ini perintah Allah kepada anda untuk menahan diri dari syahwat dan kenikmatan haram seakan belum menggugah anda dari kelalaian panjang dari menyiapkan sajian untuk berbuka di akhirat kelak? Mungkinkah anda lebih siap untuk menahan rasa kecewa dan duka yang akan menimpa anda ketika kelak membuka mata di alam kubur, melebihi kesiapan anda untuk menahan kecewa dan duka karena setelah mentari dunia terbenam anda tidak menemukan secuil hidangan atau setetes minuman?

Renungkan baik baik sobat! Dan simak firman Allah Ta’ala berikut, semoga anda segera terjaga dari kelalaian anda yang telah berkepanjangan:

)أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ(

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al Hadid 16 )

Islam Nusantara? Hiii, Ogah Aaaah…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Akhir akhir ini ramai dibicarakan tentang gagasan islam nusantara. Pro dan kontra seputar masalah ini begitu tajam. Masing masing mengutarakan argumen dan alasannya. Di saat yang sama masing masing berusaha menjatuhkan argumen pihak yang bersebrangan.

Di negara demokrasi persilangan pendapat semacam ini satu hal yang akan terus terjadi.

Namun apapun yang terjadi dan apapun pendapat orang; saya juga merasa berhak untuk berpegang dengan keyakinan sendiri bahwa Islam datang dari Arab, Kitab Sucinya juga berbahasa Arab; Nabinya juga berasal dari Arab, maka saya akan mengikuti ISLAM YANG BISA MENYATUKAN saya dengan orang orang arab dan bangsa lainnya, bersatu kerena ISLAM, dan berpisah juga karena ISLAM.

Saya tidak percaya dengan agama apapun namanya yang menjadikan saya benci dan bermusuhan dengan bangsa Arab atau bangsa lainnya hanya karena perbedaan bahasa, suku, atau batas wilayah. Saya benci dengan agama apapun yang mengajak kita bersatu karena KENDI dan berpisah karena KENDI.

Istri-istri Kejam! Lebih Cinta Kepada Kulkasnya Dibanding Suaminya…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Bulan ramadhan adalah momentum istimewa untuk membuktikan nilai nilai ketakwaan kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama manusia. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang orang sebelum kalian niscaya kalian menjadi orang orang yang bertaqwa.”  (Al Baqarah 183 )

Namun demikian, betapa disayangkan, pada kenyataannya, kini bulan Ramadhan malah menjadi momentum bagi sebagian kaum wanita untuk membuktikan kekejamannya kepada suami dan anak-anaknya.

Anda tidak percaya? Atau barang kali sebagia wanita, anda merasa tersinggung dengan ucapan ini?

Sobat! Izinkan saya membuktikannya, betapa banyak di bulan Ramadhan kaum ibu/wanita yang berkata kepada suami atau anak anaknya: “ayolah ayah, habiskan sisa hidangan yang tinggal sedikit, jangan sampai menuh menuhi kulkas kita”.
” ayolah nak, habiskan hidangannya, ibu malas kalau menyimpannya lagi di kulkas, kulkasnya sudah penuh.”

Anda pernah berkata demikian? Atau pernahkah istri saudara mengatakan demikian?

Sekilas nampak mencerminkan rasa sayang, namun sejatinyan menyimpan kekejaman yag luar biasa. Betapa tidak, istri atau ibu itu tanpa sadar lebih senang bila perut dan tubuh suami atau anak anak ya menjadi tempat penimbunan makanan yang tidak habis, namun mereka tidak rela bila kulkasnya dipenuhi atau terus menjadi tempat menimbun/menyimpan sisa makanan.

Akibatnya, di bulan ramadhan banyak orang yang kekenyangan& bisa jadi kolesterol dan gula darahnya meningkat.

Romadhan yang sehatusnya melatih kita untuk emngurangi konsumsi makan dan minum namun faktanya malah melipatgandakan jumlah makanan dan minuman yang kita santap. Mungkin inilah salah satu biang yang menjadikan kita merasa bahwa ramadhan terasa hampa.

Walau Carut Marut, Namun Mentari Harapan Pasti Bersinar…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Carut marutnya negri kita atau centang berentangnya masyarakat anda, bukanlah alasan bagi anda untuk pesimis, apalagi menyombongkan diri dengan merasa bahwa hanya anda yang benar atau selamat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

” إذا قال الرجل: قد هلك الناس، فهو أهلكهم

Bila ada orang yang berkata: semua masyarakat telah binasa, maka dialah sejatinya orang yang paling binasa. ( Ahmad dan lainnya )

Seburuk apapun kondisi yang ada, maka percayalah banyak kebaikan yang masih menyelimuti kehidupan kita. Bahkan bila direnungkan dengan baik, setiap keburukan yang terjadi maka sejatinya itu adalah nikmat dari sisi lain. Semuanya itu sederhana saja, yaitu dari mana anda memikirkan dan memandang kondisi yang ada? Bila anda memandangnya dari sudut yang negatif maka nampak negatif, namun bila anda memandangnya dari sisi yang positif, maka sekejap semuanya berubah menjadi nikmat dan indah.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal hal itu adalah baik untuk kalian, dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal hal itu adalah buruk bagi kalian. Dan allah mengetahui sedangkan kalian tidaklah mengetahui. ( Al Baqarah 216 )

Di saat anda ditipu seseorang, sesaat terasa menyakitkan, namun ketahuilah bahwa kejadian itu membawa sejuta kebaikan, anda menjadi lebih waspada dan mengenali bahwa orang yang selama ini anda puja dan sanjung ternyata musang berbulu domba, sehingga esok hari anda tidak tertipu untuk kedua kalinya. Karena itu dahulu Nabi shalallallahu alaihi wa sallam selalu memuji Allah atas segala kondisi yang menimpa beliau.

Begini Mereka Sholat..!

Sobat, banyak dari kaum muslim yang merasa bahwa urusan sholat dan tatacaranya adalah masalah yang sudah mereka kuasai.

Mereka menduga bahwa tidak perlu lagi masalah sholat diajarkan karena sudah basi dan tidak ada yang baru. Menurut mereka; masalah yang lebih mendesak untuk disampaikan adalah masalah seputar problematika pemerintah yang jauh dari syafiat Islam atau bahkan memusuhinya.

Sobat, berikut ada satu hadits yang menurut hemat saya dapat menjadi bukti kebenaran atau kesalahan persepsi di atas.

عن البراء بن عازب (كانوا يصلون مع رسول الله صلى الله عليه وسلم , فإذا ركع ركعوا , و إذا قال ; سمع الله لمن حمده ; لم يزالوا قياما حتى يروه قد وضع وجهه ( و في لفظ : جبهته ) في الأرض , ثم يتبعونه )

Sahabat Al Bara’ bin Aazib menceritakan bahwa dahulu para sahabat mendirikan sholat berjamaah bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Dan bila beliau ruku’ maka para sahabat pun turut serta ruku’ dan bila beliau mengucapkan : “sami’allahu liman hamidahu” maka para sahabat akan tetap berdiri tegak (tidak segera sujud) hingga beliau benar benar telah meletakkan dahinya di lantai, barulah mereka turun untuk sujud. (Muslim dan lainnya)

Imam An Nawawi As Syafii rohimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar bahwa setelah i’itidal, makmum disunnahkan untuk sedikit menunggu dan tidak tergesa gesa sujud sampai imam benar benar sujud dengan meletakkan dahinya di lantai .. kecuali bila mereka kawatir akan ketinggalan karena sujud imamnya pendek/cepat.

Sobat, siapakah dari kita yang telah mengetahui sunnah ini..? Dan siapakah dari kita yang sudah menerapkan sunnah ini..?

Masihkah ada anggapan bahwa masalah shalat sudah basi untuk dipelajari..? Dan masihkah ada dari kita yang merasa bahwa sudah waktunya bagi kita untuk memimpin dunia..?

Sholat kita saja masih jauh dari praktek sholat yang dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam; apalagi yang lainnya..?

Karena itu marilah kita belajar dan belajar .. belajar ilmu dan belajar amal. Mulailah pembelajaran kita sejalan dengan urutan rukjn islam dan rukun iman kita.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Gaduh Di Masjid…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Apa perasaan anda di saat anda sedang beribadah ; sholat atau berdzikir atau berdoa, sedangkan orang disekitar anda membuat kegaduhan?

Mungkinkah anda merasa nyaman menjalankan ibadah anda?

Bila anda merasa terusik dan terganggu dengan suara-suara keras yang terdengar di saat anda beribadah, maka sudah sepatutnya anda juga bersikap bijak; janganlah anda mengeraskan suara anda di saat orang lain sedang beribadah.

Sebagai aplikasi dari kepekaan sosial di atas ialah anda menjaga suasana masjid agar tetap tenang, dan kondusif bagi saudara saudara anda yang sedang menjalankan ibadah termasuk sholat sunnah. Mereka mendirikan sholat sunah yang disebut dengan sholat rawatib mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( من ثابر على ثنتي عشرة ركعة من السنة بنى له بيت في الجنة . أربع قبل الظهر وركعتين بعد الظهر وركعتين بعد المغرب وركعتين بعد العشاء وركعتين قبل الفجر )

“Barang siapa setiap hari dengan tabah mendirikan shalat sunnah sebanyak 12 rakaat, niscaya Allah membangunkan untuknya satu rumah di dalam surga; empat rakaat sebelum shalat zhuhur, dua rakat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya’ dan dua rakaat sebelum sholat fajar (subuh).” (Riwayat Ibnu Majah dan lainnya).

Dan kalaupun mereka tidak sedang mendirikan shalat, maka banyak dari mereka yang sedang berdoa atau berdikir kepada Allah Azza wa Jalla. Ketahuilah bahwa jeda waktu antara azan dan iqamah adalah salah satu waktu yang spesial untuk berdoa alias waktu yang mustajabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدعاء ﻻ يرد بين اﻷذان واﻹقامة

“Doa tidak akan ditolak bila dipanjatkan antara azan dan iqamah.” (Abu Dawud, At Tirmizy dan lainnya)

Dan bila anda berdalih bahwa kami sedang berdzikir dan berdoa seusai sholat maka ketahuilah bahwa anda berdzikir atau berdoa bukan alasan yang dapat dibenarkan untuk mengusik konsentrasi orang lain yang juga sedang berdzikir atau sholat.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan:

أن النبي صلى الله عليه و سلم اعتكف وخطب الناس فقال أما إن أحدكم إذا قام في الصلاة فإنه يناجي ربه فليعلم أحدكم ما يناجي ربه ولا يجهر بعضكم على بعض بالقراءة في الصلاة

“Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’itikaf, lalu beliau menyampaikan peringatan dengan bersabda: Sesungguhnya bila salah seorang dari kamu sedang mendirikan sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat dengan Tuhannya, karena itu hendaknya engkau seutuhnya memahami apa yang engkau ucapkan kepada Tuhan-nya. Dan jangalah sebagian dari kalian ketika sedang sholat mengeraskan bacaannya sehingga mengganggu sebagian yang lain.” (Ahmad dan lainnya)

Bila anda dilarang mengeraskan bacaan dalam sholat sehingga menggangu kekhidmatan orang lain yang juga sedang sholat, tentu dengan alasan yang sama, bacaan bacaan lain lebih pantas untuk dilarang.

Apalagi bila anda hanya sebatas membaca bait bait syair atau bacaan lainnya guna memanggil masyarakat agar datang ke masjid maka ketahuilah bahwa panggilan sholat yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah seruan Azan dan iqamah. Dengan demikian, masih adakah alasan bagi anda untuk menyia-nyiakan waktu spesial antara azan dan iqamah?

Dan masihkah anda sampai hati untuk mengangkat suara keras-keras sehingga sedikti atau banyak mengusik konsentrasi orang yang sedang sholat sunnah atau sedang memanjatkan doa atau dzikir kepada Allah?