Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Dingin, Kedinginan, Panas, Kepanasan…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ruwet sampai mumet. Itulah manusia, di saat panas katanya kepanasan, sehingga maunya yang dingin, eeh disaat dingin katanya kedinginan sehingga maunya yang panas.

Itulah manusia, apapun rasanya dan apapun yang didapat tetap saja berkeluh kesah; serasa paling menderita di dunia.

(إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا)
“Manusia diciptakan dalam kondisi penuh dengan ambisi.”

(إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا)
“Bila ditimpa kesusahan ia senantiasa berkeluh kesah.”

(وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا)
“Dan bila mendapat kebaikan ia berlaku kikir.” (Surat Al Maarij 19-20)

Sobat! Pernahkah anda merasa sebagai orang paling beruntung/bahagia di dunia, minimal di komunitas anda? Dan pernahkah anda merasa sebagai orang paling buntung di dunia atau minimal di komunitas anda?

Manakah yang paling sering anda lakukan, merasa paling beruntung atau merasa paling buntung?

Bila anda lebih sering merasa paling buntung maka segera benahi sholat anda, itu pertanda sholat anda bermasalah. Dan bila anda lebih sering merasa paling beruntung maka bersyukurlah, dan jaga sholat anda dan tingkatkanlah. Demikianlah sebagian pelajaran yang dapat kita petik dari kelanjutan ayat ayat di atas.

Kunci Hidup Bahagia : Cintailah Apa Yang Anda Miliki Dan Sadarilah Bahwa Tidak Semua Yang Anda Cintai Bisa Anda Miliki.

Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Banyak konsep hidup bahagia, namun nampaknya konsep di atas adalah yang paling simpel, nyata dan mudah diterapkan lagi ces pleng. Betapa tidak, ini adalah resep Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَبْتَلِى عَبْدَهُ بِمَا أَعْطَاهُ فَمَنْ رَضِىَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَارَكَ اللَّهُ لَهُ فِيهِ وَوَسَّعَهُ وَمَنْ لَمْ يَرْضَ لَمْ يُبَارِكْ لَهُ

Sejatinya Allah Tabaraka Wa Ta’ala menguji hamba-Nya dengan apa yang Ia berikan kepada hambanya itu. Maka siapapun dari hamba Allah yang puas dengan pemberian Allah Azza wa Jalla, maka Allah pasti memberkahi pemberian-Nya itu dan melapangkannya. Namun siapapun yang tidak puas dengan pemberian -Nya itu niscaya Allah tiada pernah memberkahi pemberian-Nya itu. (Ahmad dan lainnya)

Influensa Bagi Pengidap HIV…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Bagi banyak orang flu adalah penyakit ringan, insyallah dengan sedikit minum obat, atau madu atau herbal segera sembuh, bahkan tanpa berobatpun maka sistem kekebalan tubuhnya akan melawan virus influensa yang menyerangnya.

Namun tidak demikian bagi pengidap HIV. Mereka telah kehilangan sistem kekebalan tubuh, sehingga virus selemah apapun pasti dapat mencelakakannya, bagaimana bila yang menyerangnya adalah kangker atau jantung koroner, kira kura apa yang terjadi pada pengidap HIV tersebut?

Demikianlah gambaran virus syiah yang menyerang masyarakat, sedangkan kekebalan iman dan ilmu agamanya sangatlah lemah bahkan tiada sama sekali.

Anda memperingatkan bahwa syiah mengajarkan mut’ah namun ternyata zina merajalela, perselingkuhan memasyarakat dan pergaulan bebas menjadi budaya, hubungan diluar nikah menjadi identitas kawula muda.

Anda menjelaskan syiah membenci sahabat namun ternyata banyak masyarakat tidak tahu siapa itu sahabat dan mengapa mereka tidak boleh dibenci.

Anda menjelaskan syiah mengkultuskan imam imam mereka namun ternyata masyarakat biasa dengan kultus orang sholeh sebagai orang orang sakti yang bisa merebut nyawa orang mati dari tangan malaikat pencabut nyawa dan budaya ngalap berkah di kuburan mereka.

Anda menjelaskan syiah meragukan keaslian Al Quran namun ternyata banyak dari masyarakat tidak tahu apa itu al Qur’an selain namanya.

Bila demikian, bagaimana solusinya? nampaknya bagi banyak orang membangun kekebalan iman lebih mendesak dilakukan dibanding memperingatkan serangan virus seperti yang dilakukan oleh para tenaga medis.

Tentunya dengan terus berusaha menangkal dan mengedukasi masyarakat tentang virus yang mengancam mereka.

Musuh Dalam Selimut…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Hiii, mengerikan sekali ya perumpamaan di atas. Coba anda bayangkan perumpamaan di atas dengan baik, terbayang deh betapa hancurnya hati anda bila ternyata musuh anda setiap hari dan setiap malam selalu berada satu selimut dengan anda.

Hayo, siapa yang selama ini berada dalam selimut anda?
Terbayang deh, betapa hancurnya diri anda bila hal itu terjadi pada diri anda, bahkan bisa jadi anda mati karena ngenes menyesali nasib yang menimpa anda. Betapa tidak, anda mempercayainya, hingga anda memasukkannya ke dalam selimut anda.

Namun sebaliknya juga demikian, betapa hancurnya hidup orang yang ada dalam selimut anda bila ternyata andalah sebenarnya musuh besarnya. Anda selalu mendatangkan petaka, bencana, dan derita dalam hidupnya, padahal sebelumnya ia mengimpakan bahwa ia akan mendapatkan surga dan hidup damai bila berada dalam selimut anda.

Allah Telah mengisahkan perihal musuh dalam selimut dalam Al Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi anda. Bagaimana Nabi Nuh dan Luth ‘alaihimassalam memiliki musuh dalam selimutnya yaitu istri mereka sendiri.

Sebagaimana Allah juga menceritakan bagaimana Asiyah memiliki musuh dalam selimutnya yaitu Fir’aun.

Kedua kisah ini bisa anda baca pada surat At Tahrim ayat 10-11.

Karena itu selektiflah dalam memilih pasangan hidup yang akan anda jadikan sebagai teman dalam selimut anda. Dan senantiasa didiklah teman dalam selimut anda agar senantiasa menjadi teman dan tidak berubah menjadi musuh.

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى ثُمَّ أَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ وَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ ثُمَّ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Semoga ALLAH merahmati suami yang bangun malam lalu ia sholat malam, dan selanjutnya membangunkan istrinya agar shalat malam, dan bila istrinya enggan untuk bangun maka ia percikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati istri yang bangun malam lalu ia sholat malam, dan selanjutnya membangunkan suaminya agar shalat malam, dan bila suaminya enggan untuk bangun maka ia percikkan air di wajahnya. (An Nasai.)

Sobat! Jadilah sebagai teman dalam selimut yang rajin membangunkan teman satu selimut (suami / istri) anda dan jangan sebaliknya, menjadi musuh dalam selimut yang menyebabkan suami atau istri anda malas untuk bangun malam.

 

 

Beli Motor Bekas…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Di sekitar anda mungkin saja banyak betebaran toko toko dengan sebutan MOKAS alias “motor bekas”.

Menurut hemat anda, bila anda memiliki uang yang cukup, manakah yang lebih baik membeli motor baru atau “mokas”, Apalagi “mokas” tukang ojek?

Dan kalaupun uang anda cekak, sehingga hanya bisa beli “mokas” maka mungkinkah anda memilih “mokas” tukang ojek, atau memilih “mokas” orang kantoran, apalagi bila anda mengetahui bahwa mesin “mokas” tukang ojek sudah rusak? Akankah mulusnya bodi “mokas” tukang ojek mampu memikat anda sedangkan anda menyadari bahwa mesinnya bobrok?

Sobat! Perihal “mokas” ini adalah ilustrasi sederhana bagi calon pasangan anda. Bila dalam urusan motor saja anda tidak sudi untuk terperdaya oleh bodi “mokas” tukang ojek yang aduhai namun mesinnya bobrok. Akan tetapi mengapa dalam urusan pasangan hidup anda lebih mementingkan bodi yang aduhai dan mengabaikan mesin yang bobrok?

Wanita yang rela di”coba” sebelum dimiliki, senang digandeng atau dibonceng sebelum dimiliki walaupun bodinya menggoda namun terbukti mesinnya “bobrok”. Mungkinkah bodinya yang dipoles dan didempul mampu menjadikan anda buta mata akan bobrok akhlaq dan moralnya?

Wanita yang rela diperlakukan seperti taster, dicoba dulu sebelum dimiliki, semisal yang terjadi pada malam valentinday. Setelah dicoba dan ternyata kurang cocok maka segera diletakkan dan dicampakkan, bagaikan “mokas” tukang ojek atau parfum taster.

Relakah anda, atau keluarga anda diperlakukan semacam itu?

Sobat, mungkin anda berkata, valentin day telah berlalu, mengapa baru saat ini berbicara? Mengapa bukan kemarin sebelum hari valentin day?

Sobat! Ketahuilah biasanya penyesalan itu terjadi setelah anda terbentur atau menjadi korban, atau paling kurang mulai ada indikasi anda akan merugi atau menjadi korban. Madapun kemarin, maka janji manis dan impian indah bisa jadi membutakan mata banyak orang. Apalagi urusan valentin day adalah urusan cinta dan urusan cinta itu biasanya menjadikan anda buta mata.

Karena itu, saya merasa saat inilah yang lebih potensi anda mendengarkan saran atau nasehat. Mengapa karena anda telah melihat korban berjatuhan atau barang kali anda telah merasakan betapa getirnya berada pada kondisi terancam atau berada di pinggir jurang.

Sebelum terlambat, jangan pernah rela diperlakukan bagaikan “mokas” apalagi “mokas tukang ojek

Kisah “Suami Mania Sambel Trasi”…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Suatu hari ada seorang lelaki bercerita perihal istrinya. Ia memuji dan menyanjung istrinya, berbagai kebolehan istrinya dalam hal memasak dan kesholehannya ia ceritakan. Salah satu kebolehan istrinya ialah pandai membuat “sambal”. Menurutnya, setiap orang boleh saja bisa membuat sambal, namun sambal buatan istrinya sangat istimewa, “lezaaaat sekali”.

Walau demikian, ternyata istri pujaannya itu sangat tidak suka dengan sambal terasi, satu hal yang sangat berlawanan dengan sang suami yang boleh dikata “mania sambel trasi”.

Suatu saat sang suami benar benar “rindu” kepada sambal trasi kesukaannya, maka untuk mengobati rasa rindunya, maka ia membuat sendiri sambal trasi kesayangannya. Ia membuat sambal trasi yang puuuedas.

Saking girangnya suami mendapat kesempatan berjumpa dengan “sambal trasi kesayangannya” sampai sampai ia membawa sepiring nasinya dan secobek sambal trasi kreasinya ke dalam kamar tidurnya, untuk ditunjukkan kepada istri “tercintanya”.

Setelah menunjukkan sambal trasi kreasinya, segera sang suami melahap sambal itu dengan penuh lahap, dan segera keringat bercucuran dari dahi dan wajahnya, sambil sesekali sang suami berkata: wuaah wuaah, leezaaat.

Bisa anda bayangkan, apa yang terjadi pada diri istrinya, yang saat itu sedang hamil muda. Sang Istri sambil menutup hidungnya, tiada henti “huwek huwek”. Namun demikian, karena suami terlanjur hanyut dalam “kenikmatan” sambal trasi, terus melahap sambalnya dan tidak menggubris sang istri yang “huwek huwek”. Ia berpikir bahwa sikap istri tersebut karena ia sedang hamil muda, bukan karena aroma “sambel trasi” kesayangannya.

Bahkan ketika sang istri berkata: “mas, aku tidak suka dengan bau sambel trasi” sang suami tetap saja santai melahap sambal trasinya. Dengan dingin sang suami menanggapi ucapan istrinya dengan berkata: ” iya, tapi aku suuka sekali sambel trasi”.

Karena benar benar tidak kuasa menahan bau trasi yang menusuk hidung dan mengocok perut, sang istri akhirnya berkata: aduuuh mas, tapi aku tidak kuat dengan bau sambal trasi, tolong mas menyantap sambel trasi ya di luar kamar tidur.

Akhirnya sang suami dengan tanpa merasa bersalah membawa sambal trasinya keluar kamar.

Sobat! Menurut anda, kira kira suami di atas, benar benar mencintai istrinya atau tidak? Menurut pendapat anda, apakah sanjungan dan pujian yang biasa diucapkan oleh suami itu kepada istrinya jujur dari dalam hatinya?

Kisah nyata di atas, dapat menjadi gambaran bagi orang orang yang semangat “membaca shalawat Nabi shallallahu alaihi wa sallam” memuji beliau dan menyanjungnya. Namun demikian, larangan larangan beliau mereka langgar.

Mengetahui riba dibenci Nabi, namun tetap saja mereka menjalankan praktek riba. Mengetahui nabi membenci wanita yang mengumbar auratnya, namun tetap saja aurat dirinya, anak dan istrinya dibiarkan keleleran di mana mana.

Mengetahui bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam membenci praktek suap menyuap, tipu menipu, curang dan dusta, namun semua itu telah menjadi budaya dalam hidupnya, bahkan sampaipun dalam pendidikan mereka berdusta, berdakwah mereka berdusta, berdagang mereka berdusta.

Mereka mengetahui nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk shalat berjamaah, namun ternyata mereka meninggalkannya. Alih alih sholat berjamaah, sholat sendirianpun sering kali ditinggalkannya.

Mereka mengetahui nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengamalkan sunnah dan ajarannya, namun ternyata mereka lebih mengedepankan budaya dan tradisi masyarakatnya. Setiap kali membaca hadits atau disampaikan kepadanya hadits nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dengan entengnya mereka berkata: aah, itukan tradisi orang arab, atau aah itu kan islam di arab, kalau islam di jawa tentu berbeda, islam kelompok kami berbeda.

Hasbunallallahu wa ni’mal wakiil.

 

Hidup Bersama Orang Baik Tidak Kalah Beratnya Dari Hidup Bersama Orang Buruk…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Mungkin anda sering berkeluh kesah dan berkata: aduuh, susahnya hidup di masyarakat yang majemuk. Ada yang rajin sholat, namun banyak juga yang pemabok. Ada yang jujur namun tidak jarang pendusta, ada yang berjilbab namun banyak pula yang mengumbar auratnya. Ada yang berilmu dan dermawan namun betapa banyak yang bodoh dan pelit bahkan rakus. Bahkan ada yang muslim, namun banyak pula yang musyrik penganut agama-agama selain Islam.

Selanjutnya anda berangan angan: Duhai indahnya hidup di komplek orang orang baik. Semua masyarakat rajin sholat berjamaah di masjid, wanitanya menutup aurat, jujur, dan dermawan semua.
Sobat, apa yang anda ucapkan benar adanya, hidup di tengah tengah masyarakat yang majemuk memang berat. Sepanjang waktu, anda diuji dengan kehadiran mereka, diuji dengan orang kafir yang menjadi tetangga anda. Mereka menceritakan dan bahkan mendakwahi anda, dan diuji dengan pendusta, sehingga betapa sering anda menjadi korban penipuannya. Sebagaimana anda juga diuji dengan orang-orang jahat yang tidak ragu ragu untuk mengusik dan menggangu ketenangan anda.

Demikianlah faktanya, sehingga anda dituntut untuk sabar menghadapi mereka. Bila anda tidak sabar sudah dapat dipastikan diri anda sendirilah yang benar benar paling celaka.

Sabar dengan manahan amarah, sabar dengan mengajari yang bodoh, sabar dengan menyantuni yang lemah, sabar dengan tetap tabah dan istiqamah sebagai orang baik, dermawan, jujur dan amanah.

Namun bila anda tidak sabar, maka anda akan marah, mengamuk dan hanyut oleh arus orang-orang buruk dan berputus asa. Demikianlah ketentuan Allah yang belaku di dunia ini, siapapun anda maka anda pasti dicoba dengan seluruh orang yang ada disekitar anda. Dan siapapun diri anda, maka ketahuilah bahwa anda adalah cobaan bagi semua orang disekitar anda.

Hanya dengan berbekalkan sabar anda dapat selamat dan istiqamah, Allah Ta’ala berfirman:

وَما أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا الفرقان ٢٠

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelummu melainkan mereka itu pastilah makan makanan dan berjalan di pasar. Dan Kami menjadikan sebagian dari kalian sebagai ujian bagi sebagian lainnya apakah kalian bersabar, dan Tuhan-mu itu Maha Melihat.” (Al Furqan 20)

Dan kalaupun anda tinggal di komplek orang – orang baik, maka mereka juga cobaan bagi anda. Apakah anda bisa meneladani ketekunan dan keuletan mereka dalam kebaikan?

Anda bisa bayangkan, bila anda berada di tengah tengah orang dermawan yang ringan tangan bersedekah bukan hanya dengan jutaan bahkan milyaran, maka anda bisa jadi merasa gengsi bila bersedekah dengan seribu rupiah, sehingga anda “TERPAKSA” mengimbangi kedermawan mereka. Bila itu tejadi maka anda akan binasa karena ternyata tidak ikhlas dalam bersedekah.

Bila imam masjid mereka sholat tarawih dengan membaca surat-surat yang panjang, bisa jadi menyebabkan anda merasa berat untuk berjamaah sholat tarawih di masjid bersama mereka.

Atau bisa jadi anda tidak kuasa menahan kecemburuan hati anda tatkala melihat orang lain lebih berilmu, lebih lancar rejekinya, lebih banyak sedekahnya, lebih banyak amal ibadahnya, lebih banyak disanjung oleh orang.

Bila ternyata anda hidup di tengah tengah orang -orang yang rajin menuntut ilmu, maka mereka pasti akan banyak mengadakan kegiatan kajian dan yang serupa. Mereka bekerja seperlunya, dan hidup di dunia sederhana, jauh dari kemewahan dan gemerlap hidup dunia.

Mereka puas dengan mengendarai motor atau kendaraan butut, menghuni rumah sederhana dan makan ala kadarnya.

Bisa jadi anda merasa kelelahan mengikuti keuletan mereka dalam menuntut ilmu, hingga akhirnya anda mundur secara teratur, dan kemunduran anda bisa jadi menyebabkan mereka sedikit demi sedikit turut mundur secara teratur, dan demikian seterusnya.

Mungkin dalam kondisi ini anda berkata: kalau saya mengikuti mereka, kapan saya bisa bekeja mencari kekayaan guna membangun rumah yang megah, membeli kendaraan yang mewah dan menikmati berbagai kenikmatan dunia?

Hidup bersama orang-orang baik ternyata tidak mudah, karena itu Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk membekali dirinya dengan kesabaran agar dapat hidup bersama orang-orang yang rajin beribadah. Allah Ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِالدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau (wahai Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan di waktu petang karena mengharap keridhaan Allah. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka, karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya sehingga segala urusanya telah melampaui batas.” (Al Kahfi 28)

Sobat! Bila demikian halnya, apa yang akan anda lakukan?

Hanya ada satu solusi, yaitu sabar dalam menjalankan kebaikan, sabar sehingga tidak terpengaruh dengan perilaku orang yang buruk, sabar meneladani orang baik, dan sabar dengan senantiasa puas dengan apa yang telah anda dapatkan, inilah kebahagian yang sejatinya selama ini anda kejar dan anda cari.

Siapakah Harut Dan Marut…?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Pertanyaan:
‘Afwan, bukankah Harut dan Marut adalah nama dua malaikat?
Mohon penjelasan. Syukron.

Jawaban:
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhamamad, keluarga dan sahabatnya.

Karena ada beberapa teman yang mempertanyakan tentang tentang jati diri Harut dan Marut? Maka saya perlu untuk meluruskan penafsiran hal ini.

Benar, ada sebagian ulama’ beranggapan bahwa dua nama ini adalah nama kedua malaikat yang diturunkan ke bumi untuk diuji.

Kronologinya: Dahulu para Malaikat memperolok-olok dan merasa keheranan dengan tingkah laku umat manusia. Maka Allahpun membuktikan bahwa ulah manusia itu tidak ada yang perlu diherankan, sebab mereka hidup dibekali dengan hawa nafsu. Dan untuk semakin membuktikan akan hal itu, maka Allah meminta agar para malaikat memilih dua orang dari mereka yang hendak diuji dengan diberi hawa nafsu.

Maka merekapun memilih Harut dan Marut, doa malaikat yang paling rajin dan paling bertaqwa. Akan tetapi tatkala keduanya telah diberi hawa nafsu, dan diturunkan di muka bumi, maka keduanya membuat kerusakan seperti yang dilakukan oleh manusia.

Saudaraku! Perlu diketahui bahwa kisah ini TIDAK BENAR adanya, karena alasan berikut:

1. Kisah ini bersumber dari bani israil (israiliyat) sehingga tidak layak untuk diambil. Setelah Ibnu Katsir merinci berbagai riwayat yang menjadi dasar anggapan ini, beliau menyimpulkan: “Dari ini semua, terbukti bahwa kisah ini bersumber dari penuturan Ka’ab Al Ahbar, yang pada gilirannya ia menukilkannya dari kitab-kitab Bani Israil.”. (Tafsir Ibnu Katsir 1/355)

Pada kesempatan lain, beliau berkata : “Singkat kata, perincian cerita itu bersumberkan dari dongeng-dongeng Bani Israil, karena tidak pernah ada satupun hadits shahih dari Nabi Muhammad, yang memiliki sifat ma’shum (terlindung dari kesalahan) dan yang tidak berkata-kata atas dasar hawa nafsunya.’ (Tafsir Ibnu Katsir 1/360)

2. Malaikat adalah makhluq Allah yang taat dan patuh kepada Allah Ta’ala, sehingga tidak mungkin dan tidak masuk di akal bila ada oknum dari mereka yang mengajarkan ilmu sihir kepada manusia. Padahal kita semua tahu, bahwa ilmu sihir adalah kekufuran. Sehingga penafsiran ini nyata-nyata bertentangan dengan firman Allah Ta’ala pada surat Al A’araf 206, & Al Anbiya’ 26-27.

Terlebih-lebih menurut kisah-kisah Israiliyat yang ada, kedua malaikat yang diturunkan ke bumi itu ternyata adalah malaikat Jibril dan Mikail. Tentu ini adalah suatu hal aneh dan tidak dapat diterima nalar sehat.

Oleh karena itu, Ibnu Katsir dan juga lainnya menegaskan bahwa penafsiran yang benar dalam hal ini, Harut dan Marut adalah nama dua orang yang tinggal di negri Babil (Iraq). Keduanya mengajarkan sihir kepada masyarakat kala itu. Setelah usai menjelaskan maka ini, Ibnu Katsir berkata : “Inilah pernafsiran yang paling tepat  dan benar, karenanya tidak perlu merisaukan pendapat-pendapat lainnya.”  (tafsir Ibnu Katsir 1/351)

Wallahu Ta’ala a’alam

Raja Saudi Telah Wafat, Kapan Giliran Anda?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA,  حفظه الله تعالى

Sobat, kematian adalah satu kepastian yang tidak dapat dihindarkan, siapapun bisa saja wafat, kaya, miskin, tua, muda, raja ataupun rakyat jelata.

Banyak orang sibuk mengikuti berita kematian seseorang, tanpa terkecuali ketika raja Saudi Arabia yaitu Raja Abdullah bin Abdul Aziz meninggal dunia. Dunia gempar, ada yang senang dengan kematiannya dan ada pula yang berduka dengan kematianya.

Lebih jauh sebagian orang bertanya: siapakah raja selanjutnya? Kemanakah harta kekayaannya, bagaimanakah keluarganya, dan masih banyak lagi pertanyaan serupa lainnya.

Namun demikian, adakah dari kita yang berkata: Raja Abdullah bin Abdul Aziz telah dijemput oleh malaikat maut, lalu kapan giliran saya ? Sehari lagi? Dua hari lagi atau berapa lama lagi? Seakan kita lalai, sehingga sikap kita mengesankan bahwa kenikmatan, kesehatan, umur kita akan terus dan tiada pernah putus atau habis.

Aneh memang, kita sibuk memikirkan hal hal yang sudah pasti bukan dan tidak bisa kita dapatkan dan juga bukan urusan kita. Namun ternyata kita lupa untuk memikirkan diri kita, hal yang pasti menimpa kita, yaitu kematian yang pasti, cepat atau lambat menjemput kita sebagaimana telah menjemput Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap jiwa pasti merasakan kematian, sedangkan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan juga dengan kebaikan. Dan kepada Kami-lah kalian pasti kembali.” (Al Anbiya’ 35)

Kini Raja Abdullah bin Abdul Aziz mulai mempertanggung jawabkan seluruh amalannya, dan esok giliran andalah yang juga harus mempertanggung jawabkan amalan anda. Mengapa saat ini seakan anda menjadi malaikat penimbang amalan, dengan menyibukkan diri mengorek dan mengorek amalan Raja Abdullah bin Abdul Aziz namun lalai untuk mengorek amalan anda sendiri?

Tidakkah kita bisa bersikap bijak seperti yang pernah disampaikan oleh Khalifah Umar bin Al Khatthab pada salah satu khutbahnya beikut ini:

حاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْل أَنْ تُوزَنُوا ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ ، يَوْمَ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

“Hitunglah amalan kalian sendiri sebelum amalan kalian dihitung (dihisab), dan timbanglah amalan kalian sendiri sebelum amalan kalian ditimbang dan berhiaslah untuk menghadapi hari yang seluruh manusia dihadapkan kepada Allah, padanya kalian akan dihadapkan kepada-Nya tanpa ada yang tersembunyi sedikitpun.” (At Tirmizy dan Ibnu Abi Syaibah dll)