Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Rahasia Mengapa Seringkali Orang Miskin Lebih Bahagia…

Yahya bin Mu’adz -rohimahulloh- mengatakan:

Orang-orang fakir itu menjadi lebih bahagia dari orang-orang kaya karena mereka dalam kekangan Allah, seandainya mereka dilepaskan dari kepungan kefakiran, tentunya kamu dapati sedikit dari mereka yang teguh dalam dzikirnya.

[Hilyatul Aulia 10/63].

———–

Karena kebahagiaan hati itu dengan berdzikir…
bukan dengan harta…
sayang, banyak pula orang miskin yang ingin mendapatkan kebahagiaan dengan cara orang kaya, yakni dengan harta…
padahal cara membahagiakan dirinya sangat dekat dengannya dan sangat mudah dilakukannya…
basahilah lisan dengan berdzikir, dan penuhilah hati dengan bersyukur.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da210215-1254

Termasuk Tindakan Yang Bodoh…

“Maka termasuk tindakan yang bodoh, jika engkau datang ke kuburan orang yang sudah jadi tulang belulang, lalu engkau meminta kepadanya, padahal DIALAH YANG SEBENARNYA BUTUH KEPADA DO’AMU. Dan engkau tidaklah butuh untuk meminta kepadanya.

Karena dia sama sekali tidak kuasa memberikan SEDIKITPUN manfaat ataupun mudharat untuk dirinya sendiri, lalu bagaimana dia akan memberikan hal itu kepada yang lain ?!”

[Syeikh Utsaimin rohimahulloh, dalam Alqoulul Mufid 1/11]
Diterjemahkan oleh :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Penyakit Kronis Zaman Now !!

Katanya “tidak tahu“, tapi menghukumi sesuatu .. yang tentangnya ia “tidak tahu”.

Sehingga jatuhlah dia dalam keadaan .. yang ditakutkan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam “sesat dan menyesatkan“.

Sungguh kasihan umat Islam Indonesia .. yang “dizalimi” oleh orang-orang yang seperti dia.

Tapi ingatlah, bahwa ada sunnatullah yang pasti berjalan .. “siapapun yang merendahkan Agama Allah pasti ia akan Allah rendahkan“.

Kecuali apabila dia bertaubat .. oleh karenanya, silahkan bertaubat … sebelum terlambat … Atau anda akan rasakan sendiri keburukan suatu akibat.

Silahkan menunggu akibatnya .. kita akan tunggu bersama.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tentang Sholat Jamak Tanpa Qoshor Atau Sebaliknya

PERTANYAAN:

Boleh tidak akh, sholat dijamak (*) tanpa qoshor (*) atau sebaliknya qoshor tanpa jamak, atau dijamak dan di qoshor ?

JAWABAN:

Antara jamak dan qoshor bisa berkumpul dan bisa berpisah tergantung keadaan orangnya.

1. Bila dia mukim biasa, maka dia tidak boleh qoshor tidak boleh jamak.

2. Bila dia mukim, tapi ada kegiatan yang sangat mendesak, sehingga perlu menjamak shalat, seperti dia menjalani operasi yang cukup lama.. maka dia boleh menjamak, tidak boleh meng-qoshor.

3. Bila dia musafir, dan masih dalam perjalanan.. afdhalnya meng-qoshor dan menjamak.

4. Bila dia musafir tapi sudah menetap untuk sementara waktu saat safarnya.. maka afdhalnya dia meng-qoshor tanpa menjamak.. dengan catatan tidak ada adzan di masjid dengan dia menetap.. karena kalau ada masjid, dan ada adzan, dia wajib mendatangi panggilan adzan tersebut selama mampu dan harus mengikuti imamnya.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

====
NB (admin):
(*) JAMAK: Menggabungkan 2 sholat Fardhu di satu waktu, seperti:

● Menggabungkan Sholat fardhu Zhuhur dengan ‘Ashar (masing-masing 4 roka’at) di waktu Zhuhur (Jamak Taqdiim) atau di gabungkan “berurutan” di waktu ‘Ashar (Jamak Takhir).

● Menggabungkan Sholat fardhu Maghrib (3 roka’at) dan ‘Isya (4 roka’at) di waktu Maghrib (Jamak Taqdiim) atau di digabungkan “berurutan” di waktu ‘Isya (Jamak Takhir).

● Sedangkan untuk Sholat fardhu Shubuh, maka TIDAK ADA dan TIDAK BOLEH di Jamak.
===============
(*) QOSHOR: Mengurangi jumlah bilangan roka’at, seperti:
.
● Sholat fardhu Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya dari 4 roka’at menjadi 2 roka’at.
.
● Sedangkan untuk Sholat Shubuh yang 2 roka’at dan Maghrib yang 3 roka’at, maka TIDAK ADA dan TIDAK BOLEH di qoshor.

.
ARTIKEL TERKAIT
PERTANYAAN :
.
bila sudah jamak zhuhur dan ‘ashar di waktu zhuhur (jamak taqdim), lalu kita tiba di rumah atau tempat tujuan dan teryata masih panjang waktu ‘ashar… perlukah mengulang sholat ‘ashar..?
.
JAWABAN : klik LINK berikut..
Perbedaan Sholat Yang Di Jamak Dan Di Qoshor

Malam Pertama Saat Kau Dikuburkan…

Saat itulah banyak kejadian kau alami, tapi tidak seorang pun dapat menceritakannya kepadamu.

Sebaliknya, kamu pun tidak dapat menceritakannya kepada siapapun.

Yang jelas, kita semua harus mempersiapkan bekal masing-masing.

Dan bekal itu bukanlah harta, namun TAKWA, yakni: melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Carilah bekal kalian, dan sebaik-baik bekal adalah KETAKWAAN.” [Albaqoroh: 197].

Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

Wahai kaum mukminin, BERTAKWALAH kalian kepada Allah, dan lihatlah diri masing-masing apakah yang sudah dia persiapkan untuk hari esoknya, dan BERTAKWALAH kalian kepada Allah.” [Alhasyr: 18].

Lihatlah bagaimana Allah mengulang perintah untuk bertakwa hingga dua kali di ayat yang pendek ini, agar kita tidak lupa bahwa persiapan yang paling baik untuk hari esok adalah TAKWA, wallohua’lam

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da230515-0705

Renungan…

Setiap muslim pasti menginginkan bisa menutup hidupnya dengan tauhid, Laa ilaaha illalloh, karena Baginda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah menyabdakan:

“Barangsiapa yang akhir ucapannya ‘laa ilaaha illalloh‘, niscaya dia masuk surga”.

Tapi ironisnya, banyak dari mereka kurang memperhatikan tauhid di masa hidupnya, malas mempelajarinya, atau bahkan ‘muak‘ dengan ajakan untuk mentauhidkan Allah dalam ibadahnya.

Bagaimana mungkin seseorang menutup hidupnya dengan sesuatu yang dia acuhkan, atau bahkan dia benci selama hidupnya ?!

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu mentauhidkan Allah dalam kehidupan ini, sehingga Allah mengizinkan kita untuk menutup hidup ini dengannya… La ilaaha illalloh, tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da010815-1328

Ingin Ilmu Anda Menyebar..? Amalkan Ilmu Itu..!

Ibnul Jauzi rahimahullah (w 597 H) mengatakan:

“Aku banyak bertemu para syeikh, keadaan mereka berbeda-beda, keilmuan mereka juga bertingkat-tingkat. Namun yang paling bermanfaat bagiku dalam bergaul dengannya adalah orang yang mengamalkan ilmunya, meskipun ada yang lebih alim dari dia.

Aku juga telah bertemu para ulama hadits, mereka punya hapalan dan keilmuan, namun mereka bermudah-mudahan dalam ghibah yang mereka legalkan dengan label ‘jarh wat ta’dil’. Mereka juga mengambil upah dari bacaan hadits, dan segera menjawab pertanyaan agar terjaga namanya, meski dia jatuh dalam kesalahan.

Aku juga telah bertemu dengan Abdul Wahhab Al Anmathi, dia dulu berjalan di atas ‘aturan’ salaf, ghibah tidak pernah terdengar di majlisnya, tidak pula mengambil upah dari kegiatan memperdengarkan haditsnya. Dan aku pernah membaca hadits roqo’iq di depannya, maka diapun menangis, dan menangis lama, sehingga tangisan itu merasuk ke dalam hatiku -padahal saat itu aku masih kecil-, dan membangun pilar-pilar akhlak (dalam jiwaku). Dia memang serupa dengan ciri-cirinya para syeikh yang sifat-sifat mereka kami dengar dari nukilan (kitab).

Aku juga telah bertemu dengan Abu Manshur Al Jawaliki. Dia banyak diam, sangat berhati-hati dalam ucapannya, sangat kuat ilmunya, dan muhaqqiq. Namun begitu, kadang ketika ditanya masalah yang mudah, yang sebagian muridnya akan segera menjawabnya, dia berhenti menjawabnya hingga yakin dengan jawabannya. Dia itu banyak puasa dan pendiam.

Manfaat yang kudapatkan dengan melihat dua orang ini -Al Anmathi dan Al Jawaliqi-, lebih banyak dari manfaat yang kuambil dari selain dua orang ini. Sehingga dari keadaan ini aku paham, bahwa petunjuk dengan tindakan lebih kuat pengaruhnya daripada petunjuk dengan ucapan.

Aku juga melihat para syeikh yang memiliki banyak waktu berkholwat (dengan teman-temannya) untuk nyantai dan canda. Akibatnya mereka jauh dari hati manusia, dan keteledoran mereka itu mencerai-beraikan kembali ilmu yang sudah mereka kumpulkan, sehingga ketika hidupnya, mereka kurang bermanfaat, dan ketika meninggalnya mereka dilalaikan, dan hampir tidak ada seorang pun yang tertarik dengan kitab-kitab mereka.

Maka hendaklah kalian menjaga ilmu dengan amal, karena ini merupakan pokok yang paling mendasar. Sungguh orang yang paling kasihan adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam ilmu yang tidak diamalkan, hingga hilang darinya kenikmatan dunia dan kebaikan akhirat, lalu dia datang merugi (di akhirat), padahal dia harus menanggung hujjah yang kuat terhadapnya”. [Shoidul Khothir 108-109].

Subhanallah.  Ini di zaman beliau, bagaimana jika beliau hidup di zaman ini ?! Ghibah dengan label ‘tahdzir dan nasehat’ di mana-mana. Banyak orang berilmu, tapi tidak tampak sama sekali pada akhlaknya.

Bahkan, tidak hanya yang punya ilmu, yang modal nongol di TV pun, berlomba-lomba untuk membicarakan hukum Allah. Seandainya mereka merenungi bahwa berbicara hukum syariat dalam sebuah masalah, itu sama saja mengabarkan hukum hal tersebut atas nama allah, tentunya mereka akan diam seribu bahasa.

Semoga Allah memperbaiki keadaan umat ini, dan menuntun mereka semakin dekat kepada syariat-Nya

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

da210316-0737

Susah Diam, Retorikanya Bagus, Tapi Jahil…

Inilah cobaan yang sangat berat bagi banyak orang di zaman ini, zaman medsos, zaman dimana setiap orang bisa memiliki panggung bicara sendiri-sendiri… anak SD pun bisa punya panggung bicara sendiri untuk bicara apapun yang dia sukai, dan hampir semuanya punya pendengar yang mendukungnya.

Bagi orang yang susah diam, retorikanya bagus, tapi jahil… sungguh zaman ini adalah zaman yang sangat berat… karena banyak hal yang akan dia komentari, banyak orang yang akan mendukungnya, padahal dia jahil, sehingga akan banyak terjerumus dalam kesalahan… dan biasanya orang yang demikian akan sulit memperbaiki kesalahannya, karena mengakui kesalahan itu tidak hanya butuh ilmu, tapi juga butuh jiwa yang besar dan kesatria.

Sungguh sangat tepat perkataan yang disebutkan oleh At-Thufi -rahimahullah-:

إن أشد الناس شقاء من بلي بلسان منطلق، وقلب منطبق، فهو لا يحسن أن يتكلم، ولا يستطيع أن يسكت.

Sungguh orang yang paling celaka adalah orang yang diuji dengan lisan yang liar (susah diam) dan hati yang tertutup (oleh kejahilan), sehingga dia tidak bisa berbicara dengan baik (ngawur), dan juga tidak bisa diam“. [Syarah Mukhtashar Raudhah 3/41].

Semoga kita semua Allah jauhkan dari ujian ini, amin.

Jika kita sudah tahu ada orang yang diuji oleh Allah dengan ujian ini, maka jangan sampai kita memperparah keadaan dia, sehingga dia semakin terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam.

Misalnya, jika ada orang yang sangat getol memusuhi dan menjatuhkan ustadz-ustadz salafi dengan sebutan talafi, maka jangan sampai kita menyebarkan tulisannya, atau menjadikannya semakin terkenal… Diamkan saja hal itu agar dia tenggelam dengan sendirinya. Tidak perlu digubris, dan anggaplah apa yang dikatakannya sebagai angin lalu.

Sebaliknya, sibukkan diri untuk terus menuntut ilmu dan menguatkan akidah dan manhaj yang benar, semakin kuat ilmu kita, maka semakin kuat pertahanan kita terhadap pengaruh buruk dari luar.

Tidak perlu risau dengan ocehannya dan orang-orang yang semisalnya, karena orang sepertinya tidak hanya ada di zaman ini saja, dari dulu juga ada orang-orang seperti itu, dan akhirnya mereka tenggelam oleh zaman, tapi Islam tetap Allah jaga dengan baik dan utuh. Ingatlah selalu firman Allah ta’ala:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

Adapun buih, dia akan hilang (dengan sendirinya) sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Adapun yang bermanfaat bagi manusia, dia akan tetap ada di bumi“. [Ar-Ra’d: 17].

Ingatlah, bahwa siapa yang bertakwa dalam ucapannya dan perbuatannya, maka dialah yang akan Allah menangkan, dan diantara bentuk ketakwaan kita adalah meninggalkan orang-orang yang demikian untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi kita.

Sungguh sangat pas bagi kita perkataan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada kaumnya yang diabadikan Allah dalam Alqur’an:

اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Mohonlah kalian pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sungguh bumi ini milik Allah dan Dia akan mewariskannya kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa“. [Al-A’raf: 128].

Iya, hasil akhir yang baik akan selalu Allah berikan kepada orang yang bertakwa… siapa yang lebih bertakwa, dialah yang akan Allah menangkan… Jadi berlomba-lombalah untuk menjadi yang paling bertakwa, baik dalam ucapan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin… Pasti Allah memenangkan kita dan memuliakan kita.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

Jangan Hanya Mengaku, Tapi Buktikanlah…

“Orang yang mengaku atau menyandarkan dirinya kepada SALAF, maka harusnya dia membuktikan penamaan dan pengakuan ini, yaitu: dengan MENERAPKAN manhaj salaf dalam hal akidah, perkataan, perbuatan, dan bermasyarakat, hingga dia menjadi seorang “salafi sejati“, dan menjadi teladan baik yang benar-benar mencerminkan madzhab salaf saleh.

Maka, barangsiapa menginginkan manhaj (salaf) ini, harusnya dia berusaha mengenalnya, mempelajarinya, dan menerapkannya pada DIRINYA dahulu, lalu mendakwahkan dan menjelaskannya kepada masyarakat.

Inilah jalan keselamatan, ini pula jalan golongan yang selamat Ahlussunnah Waljama’ah, jalan orang yang berjalan di atas petunjuk Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya.

Lalu bersabarlah dan teguhlah dalam mempertahankan hal itu.”

[Oleh: Syeikh Sholeh Fauzan, Assalafiyyah – haqiqotuha wasimaatuha, http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14381 ]

Diterjemahkan oleh :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da150115-1253

Dua Hal Yang Tak Dapat Dipisahkan…

HIDAYAH dan KEBAHAGIAAN adalah dua hal yang saling beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Sedang KESENGSARAAN adalah pasangannya KESESATAN yang tidak bisa terpisah darinya.

Maka kapan ada hidayah; di situ ada kebahagiaan, dan kapan ada kesesatan; di situ ada kesengsaraan.

Orang yang dulunya jauh dari Allah dan jauh dari keta’atan kepada-Nya, kemudian dia menjadi istiqomah; dia akan dapatkan dalam hatinya sebuah KELEZATAN yang dahulu hilang, RASA MANIS yang dahulu tidak ada, dan RASA HIDUP yang dahulu tidak dia rasakan.

Dan benarlah Allah dalam firman-Nya (yang artinya): “Maka, barangsiapa yang mengikuti PETUNJUK-Ku; dia TIDAK AKAN sesat dan tidak pula celaka. Sedang barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku; pasti dia akan merasakan penghidupan yang sempit“. [Thoha: 124].

Oleh: Syeikh Abdurrozzaq Alu Badr, حفظه الله تعالى,. http://al-badr.net/muqolat/2648

******

Anda mencari kebahagiaan ?.. Ikutilah petunjuk-Nya.. !!

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da030714-1643