Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Kamu Bisa MELIHAT Bagaimana Dunia dan Penghuninya SETELAH Matimu..!!

Jika kamu ingin melihat keadaan dunia dan penghuninya setelah kematianmu, maka lihatlah kematian orang lain.

Kamu akan dapati bahwa teman yang PALING akrab pun akan melupakannya, bahkan orang yang menjadi ‘BELAHAN JIWANYA‘ pun akan meninggalkannya dan mencari kesibukan dengan dunianya.

Maka jadikanlah hidupmu semuanya untuk ALLAH, Dialah satu-satunya yang tidak akan lupa.

Dan perbaikilah hubunganmu dengan ALLAH, Dialah satu-satunya yang tidak akan fana.

Ingatlah selalu firman-Nya:

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

Tidaklah penghuni langit dan bumi, melainkan mereka akan menghadap kepada Allah yang maha penyayang sebagai seorang HAMBA” [Surat Maryam: 93].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da150116-2021

 

Janganlah Iri Kepada AHLI MAKSIAT Dengan Kemaksiatan Dan Kekayaan Mereka…

Sufyan Ats-Tsauri -rohimahulloh- mengatakan:
Wahai saudaraku, janganlah iri kepada ahli maksiat dengan kemaksiatan mereka, dan jangan pula iri kepada mereka dengan gelimangan nikmat yang ada pada mereka.

Karena di hadapan mereka; ada sebuah hari yang :
* kaki-kaki mereka akan terpleset,
* jasad-jasad mereka akan gemetar,
* rona wajah mereka akan berubah (pucat),
* waktu berdiri (menanti hisab) akan panjang,
* proses hisab amalan mereka akan sangat keras, dan
* hati-hati mereka di hari itu akan beterbangan hingga sampai ke kerongkongan-kerongkongan mereka!

Maka, bagaimana besarnya penyesalan mereka (ketika itu), atas maksiat-maksiat yang telah mereka lakukan dahulu. [Hilyatul Aulia: 7/24].

Sungguh sangat tidak patut ‘iri’ terhadap sesuatu yang merugikan dan menjadikan sesal yang berkepanjangan. Wallohul musta’an.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da211015-2015

Perbanyaklah Membaca Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam…

Perbanyaklah membaca sirah Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, terutama pada fase dakwah di Mekah sebelum hijrah… itu akan menjadikan kita semakin tegar menghadapi cobaan dalam berdakwah.

=====

Karena, biasanya orang yang membawa kebenaran dan memperjuangkannya, dia akan mendapatkan cobaan dan rintangan sebagaimana pendahulunya.

* Jika ada yang diboikot karena dakwahnya, maka ingatlah bahwa beliau dan para sahabat beliau juga pernah diboikot, bahkan hingga TIGA TAHUN lamanya… sampai-sampai mereka harus makan dedaunan. [Lihat: Sirah Ibnu Hisyam 1/388].

* Bila ada yang dituduh pendusta dan tukang sihir, maka ingatlah bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- juga pernah dituduh demikian, bahkan Allah abadikan hal itu dalam Alqur’an:

Mereka (orang² kafir) heran dengan datangnya seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka sendiri, dan orang-orang kafir itu mengatakan: ‘orang ini adalah tukang sihir, tukang dusta’.” [QS. Shad: 4].

* Bahkan beliau sampai dikatakan gila oleh para penentang dakwahnya, Allah juga abadikan hal ini dalam kitab-Nya:

“Mereka (orang-orang kafir) itu mengatakan: wahai orang yang diturunkan kepadanya Adz-Dzikr (Alqur’an), sungguh kamu benar-benar gila“. [QS. Al-Hijr: 6].

* Jika ada yang dituduh memecah belah umat, maka beliau juga dahulu telah menerima hal yang sama. Ketika itu ‘Utbah bin Rabi’ah pernah mengatakan kepada beliau:

Sungguh kamu telah datang kepada kaummu dengan masalah besar, dengannya kamu PECAH BELAH persatuan mereka, kamu rendahkan kedudukan mereka, kamu cela Tuhan dan agama mereka, dan kamu KAFIRKAN nenek moyang mereka“. [Lihat: Sirah Ibnu Hisyam, 1/359].

* Bila ada yang diusir dari tempat tinggalnya, maka ingatlah bahwa beliau juga akhirnya terusir dari kota kelahiran beliau (Mekah) yang sangat beliau cintai… ketika akan berpisan dengan kota suci itu, beliau mengatakan:

Betapa baiknya engkau sebagai negeri, dan betapa cintanya diriku kepadamu, seandainya bukan karena kaumku mengeluarkanku darimu, tentu aku tidak akan menetap di tempat selainmu“. [HR. Attirmidzi: 3926, shahih].

* Bahkan di banyak kesempatan beliau dan para sahabatnya harus berperang dengan para penentang tersebut… tidak lain, tujuannya adalah agar dakwah tetap bisa berlangsung dengan baik, dan kebenaran bisa sampai kepada umat manusia. Oleh karenanya dalam perang badar beliau bermunajat:

“Ya Allah, jika pasukanku dari kaum muslimin ini binasa; Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini“. [HR. Muslim: 1763].

* Dan masih banyak lagi rintangan dan gangguan yang beliau alami.

Meski demikian, beliau tetap saja maju di jalan dakwah yang terjal tersebut, karena itulah jalan kemuliaan di dunia dan di akhirat… Siapa pun yang ingin mendapatkan kemuliaan seperti beliau, maka ikutilah jalan beliau.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menasehatilah… Tapi Tetap Jaga Perasaannya, Apalagi Diantara Ahlussunnah Sendiri…

Abdulloh bin Mubarok -rohimahulloh- mengatakan:

Dahulu bila seseorang melihat saudaranya melakukan
sesuatu yang dibenci, dia (mengingatkannya dengan)
amar ma’ruf secara rahasia, dan dia (mengingatkannya
dengan) nahi munkar secara rahasia.

Namun sekarang, jika seseorang melihat orang lain
melakukan sesuatu yang dibenci, dia membuat marah
saudaranya tersebut, dan mengoyak tabir yang
menutupinya.”

[Kitab: Roudhotul Uqola’ 1/196]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da181214-1349

Mengapa Masih Meminta Kepada MAKHLUK Dalam Berdo’a..?

Cobalah renungkan ayat yang sangat dahsyat penjelasannya berikut ini:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلا ضَرًّا إِلاَّ ما شاءَ اللَّهُ

“Katakanlah (Muhammad kepada umatmu): “aku TIDAK memiliki untuk diriku satupun manfa’at dan tidak pula satupun mudhorot, kecuali apa yang Allah kehendaki.” [Al-A’rof: 188].

Perhatikanlah dengan mendalam poin-poin yang dikandung ayat ini:

1. Jika NABI yang PALING MULIA saja tidak memiliki daya apapun untuk memberikan manfa’at ataupun mudhorot, lalu bagaimana dengan orang yang kemuliaannya di bawah beliau ?!

2. Jika kepada diri sendiri saja, Beliau tidak mampu memberikan apapun tanpa kehendak Allah, lalu bagaimana akan mampu memberikannya kepada yang lain.

3. Jika hanya satu manfa’at saja Beliau tidak mampu berikan, bagaimana Beliau akan mampu memberikan banyak manfa’at. Itu tidak mungkin tanpa kehendak Allah.

4. Ayat ini diturunkan kepada Beliau saat masih hidup… Jika saat hidup saja Beliau tidak mampu memberikan manfaat dan mudhorot apapun, lalu bagaimana setelah wafatnya ?!

5. Jika SEMUANYA tergantung kehendak Allah, maka mengapa masih menujukan permohonan dan do’a kepada yang selain-Nya ?!

Sungguh ayat yang sangat agung dalam mementahkan dalih mereka yang masih mendua dalam berdo’a, bahkan saat mereka di masjid-masjid Allah.

Ingatlah selalu firman-Nya:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Sungguh masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian berdoa (meminta) kepada SIAPAPUN disamping berdoa kepada Allah” [Al-Jin: 18].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da220914-1252

Ahli Ibadah Yang JAHIL dan Ahli Ilmu Yang FAJIR…

Ahli Ibadah yang JAHIL dan ahli ilmu yang FAJIR … Dua orang yang menjadi cobaan paling berat bagi kaum muslimin dalam agamanya.

=====

Sufyan Ats-Tsauri -rohimahulloh- mengatakan:

Ada yang mengatakan: Berlindunglah kepada Allah dari fitnah yang ditimbulkan oleh ahli ibadah yang jahil, dan ahli ilmu yang fajir, karena fitnah yang ditimbulkan oleh keduanya merupakan fitnah yang nyata bagi siapapun yang terkena fitnah.”

[Akhlaqul Ulama, karya: Al-Ajurri, hal: 63]

Kenapa demikian? Alasannya telah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim -rohimahulloh-, beliau mengatakan:

Karena manusia biasanya akan mengikuti ulamanya dan ahli ibadah mereka. Apabila para ulamanya fajir, dan para ahli ibadahnya jahil, maka musibah dari keduanya mudah menyebar, dan fitnahnya menjadi sangat besar pengaruhnya, baik untuk kalangan khusus maupun untuk kalangan umum.”

[Miftahu Daris Sa’adah 1/160]

——-

Oleh karenanya, marilah kita kembalikan semua perkara kepada Alqur’an dan Sunnah, dan pahamilah keduanya sebagaimana pemahaman ulama salaf yang merupakan generasi terbaik umat ini.

Sungguh di akhir-akhir ini, fitnah dari dua jenis orang ini sangat kita rasakan di sekitar kita.. orang yang bergelar profesor atau doktor, tapi banyak membawa pemikiran yang nyeleneh, dan kaum muslimin banyak terfitnah atau tertipu olehnya.

Begitu pula halnya dengan tokoh yang terkenal ibadahnya, tapi kurang dalam ilmu syariatnya.. kaum muslimin mengikutinya tanpa menanyakan dalil amalan yang dibawa, padahal amalan itu tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga tidak mendatangkan pahala.. atau bahkan membahayakan keamanan dan keutuhan negara.

Saudaraku seiman, sudah saatnya untuk selalu memegang teguh perkataan salah seorang ulama salaf: “Sungguh ilmu (syariat) ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian!”

Semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan kebenaran.. dan melindungi kita dari fitnah dua orang di atas, amin.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da151216-2156

Fakta Sejarah Tentang Keyakinan Bahwa Allah Berada di Atas Arsy…

Imam Syafi’i (wafat 204 H) dan guru senior beliau Imam Malik (wafat 179 H), meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy.

Begitu pula Imam Abu Hanifah (wafat 150 H), Imam Ahmad (wafat 241 H), dan para Imam Ahlussunnah lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua.

=====

Inilah fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri oleh siapapun yang jujur dan obyektif.

Imam Syafi’i -rahimahullah- pernah mengatakan:

Makna firman Allah dalam kitab-Nya: MAN FIS SAMAA’ adalah: Dzat yang berada di atas langit, di atas Arsy, sebagaimana Dia firmankan: ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy’ (QS. Thaha: 5) … Maka, Allah itu di atas Arsy sebagaimana Dia kabarkan sendiri, tanpa perlu mempersoalkan bagaimananya … ‘Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, Dia maha mendengar lagi maha melihat‘ (QS. Asy-Syuro: 42)”.

[lihat: Manaqibusy Syafi’i lil Baihaqi 1/397-398].

Perhatikanlah bagaimana Imam Syafi’i -rahimahullah- mengumpulkan dua ayat di atas… itu menunjukkan bahwa dua ayat itu saling melengkapi, dan tidak boleh dipertentangkan.

Kesimpulan dari dua ayat itu menurut Imam Syafi’i -rahimahullah- adalah, bahwa “Allah tidak sama dengan makhluk dalam keberadaan-Nya di atas Arsy“.

Inilah pemahaman yang harus kita teladani, bukan malah mempertentangkan dua ayat tersebut, dan mengatakan: karena Allah tidak sama dengan makhluk, maka Allah tidak berada di atas Arsy.

Inilah yang menjadikan Imam Syafi’i -rahimahullah- mengatakan: “tanpa mempersoalkan bagaimananya”, karena mempersoalkan hal itu akan menggiring seseorang untuk mempertentangkan dua ayat tersebut, lalu menafikan keberadaan Allah di atas Arsy-Nya.

Ini pula yang menjadikan Imam Malik -rahimahullah- membid’ahkan pertanyaan tentang ‘bagaimana’ keberadaan Allah di atas Arsy-Nya. [Lihat: Al-Asma was Sifat lil Baihaqi 2/360].

Karena memang hal itu tidak pernah dipersoalkan oleh para sahabat -radhiallahu anhum-, dan kita juga tidak akan tahu jawabannya bagaimanapun kita mengusahakannya… karena itu hal gaib, dan kita tidak boleh mengatakan satu huruf pun tentang itu, kecuali dari sumber yang maksum.

Contoh mudahnya: kita tahu ada kurma di surga… kita juga tahu bahwa nikmat di surga tidak sama dengan nikmat yang ada di dunia… Bolehkah kita mempersoalkan ‘BAGAIMANA‘ hakikat kurma itu ? Lalu setelah itu, kita mentakwilnya atau menafikannya ?… tentu tidak boleh.

Kita akan tetap mengatakan: bahwa ada kurma di surga, walaupun kita tidak tahu perincian detilnya, tapi yang jelas kurma itu jauh lebih baik dan lebih enak dari kurma yang ada di dunia.

Seperti inilah para ulama salaf memahami semua kabar ghaib, baik tentang Allah -jalla wa’ala-, malaikat, nikmat dan siksa kubur, timbangan amal, shirat, surga, neraka, dan hal-hal ghaib lainnya… karena mereka-reka hal itu tanpa sumber yang maksum akan menjatuhkan seseorang pada kesalahan.

Imam Abu Hanifah -rahimahullah- juga meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy, beliau mengatakan:

Orang yang tidak mengikrarkan bahwa Allah di atas Arsy, maka dia telah kufur, karena Allah ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy‘ (QS. Thaha: 5), dan Arsy-Nya di atas langit yang tujuh“. [Lihat: Kitabul ‘Arsy lidz Dzahabi 2/178].

Lihatlah bagaimana kerasnya pengingkaran beliau dalam masalah ini, karena beliau hidup di zaman yang tergolong masih awal dalam sejarah Islam, beliau lahir tahun 80 H, masih ada beberapa sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang hidup ketika itu, sehingga kesesatan dalam bidang akidah ketika itu masih tergolong sedikit… wajar bila ‘mengingkari keberadaan Allah di atas Arsy’ dianggap kufur ketika itu.

Adapun Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-, maka beliau juga sama dengan imam-imam ahlussunnah sebelumnya dalam meyakini keberadaan Allah di atas Arsy-Nya.

Dalam bantahannya kepada kelompok Jahmiyah, beliau mengatakan: “Mengapa kalian mengingkari bahwa Allah berada di atas Arsy, padahal Dia sendiri telah mengatakan: ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy’ (QS. Thaha: 5)”. [lihat: Arradd alaz Zanadiqah, hal 287].

Beliau juga dengan tegas mengatakan: “Dia berada di atas Arsy, tapi pengetahuan-Nya meliputi apapun yang ada di bawah Arsy, tidak ada satupun tempat yang luput dari pengetahuan-Nya“. [Lihat: Arrad alaz Zanadiqah, hal 293].

Bahkan, inilah akidahnya seluruh ulama Ahlussunnah di masa awal-awal Islam, Imam Ibnu Abdil Barr -rahimahullah- (wafat 463 H) mengatakan:

Ahlussunnah telah ber-ijma’ (sepakat), dalam mengikrarkan dan mengimani semua sifat-sifat Allah yang datang dalam Alqur’an dan Assunnah.

Mereka memaknai sifat-sifat itu dengan makna hakiki, bukan dengan makna majazi, dan mereka tidak mem-bagaimana-kan satupun dari sifat-sifat itu. Mereka juga tidak membatasi Allah dengan sifat yang terbatas.

Adapun para ahli bid’ah, Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Khawarij: mereka semua mengingkari sifat-sifat itu, mereka tidak memaknainya dengan makna hakiki, bahkan beranggapan bahwa orang yang mengikrarkan sifat-sifat itu sebagai ‘MUSYABBIH‘ (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Sebaliknya, mereka di mata orang-orang yang menetapkan sifat-sifat itu adalah orang-orang yang meniadakan sesembahannya.

Dan kebenaran ada di pihak mereka yang mengatakan dengan apa yang dikatakan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, merekalah para imam (ahlussunnah wal) jama’ah, walhamdulillah”. [Lihat: Attamhid libni Abdil Barr 7/145].

Jadi, jika Anda merasa asing di zaman akhir ini, karena berpegang teguh dengan akidah ini, maka tidak perlu bersedih, karena sebenarnya Anda telah bersama seluruh ulama ahlussunnah waljama’ah di zaman awal Islam.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menafikan Allah Di Atas Arsy-Nya Bukan Akidah Ahlussunnah Waljama’ah…

MENAFIKAN ALLAH DI ATAS ARSY-NYA, BUKAN AKIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH… karena itu bertentangan dengan Alqur’an, Assunnah, Ijma’ Sahabat, dan fitrah alami manusia.

Apapun retorika yang dipakai… dan siapapun yang menjadi rujukan… jika itu menyelisihi Alqur’an, Assunnah, dan Ijma’ para sahabat = maka tetap saja harus ditinggalkan, karena itu kebatilan.

Sudah sangat tegas Allah berfirman (yang artinya):
Allah yang maha penyayang itu berada di atas Arsy” [QS. Thaha: 5].

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang sangat masyhur, juga sangat tegas menjelaskan bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- akhirnya di bawa ke atas menghadap Allah, untuk menerima syariat shalat lima waktu.
Dan ketika itu beliau melewati langit pertama hingga langit ketujuh, kemudian naik lagi hingga menemui Rabbnya -subhanahu wa ta’ala.. ini jelas menunjukkan bahwa Allah berada di atas makhluk-Nya, tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya.

Sahabat Ibnu Mas’ud -radhiallahu anhu- juga berkata:
Jarak antara langit dunia dengan langit setelahnya adalah jarak perjalanan 500 tahun, jarak antara setiap dua langitnya adalah 500 tahun, jarak antara langit ketujuh dengan Alkursi adalah 500 tahun, jarak antara Al-kursi dengan air adalah 500 tahun, dan Arsy di atas air itu, dan Allah -jalla dzikruhu- di atas Arsy, tapi Dia mengetahui apapun yang antum lakukan“.
[HR. At-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabir: 8987, sanadnya hasan].

Bahkan Ibnu Abdil Barr -rohimahulloh- (wafat 463 H) telah mengatakan, bahwa seluruh ulama dari generasi Sahabat dan Tabi’in mengatakan bahwa Allah itu di atas Arsy. [Lihat: Attamhid 7/138-139].

Jika Anda masih sulit menerima keterangan ini, cobalah merenung saat Anda berdo’a, mengapa tangan Anda menengadah ke atas ? Mengapa juga hati Anda menghadap ke atas ? bisakah Anda mengingkari fitrah ini.

Dan masih banyak lagi, dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas, berada di atas Arsy-Nya… TIDAK SEPANTASNYA ORANG YANG MENGAKU BERAKIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH MENOLAK KETERANGAN INI, HANYA KARENA AKALNYA TIDAK MAMPU MEMAHAMINYA DENGAN BAIK DENGAN BAIK dan dengan tetap mensucikan Allah dari menyerupai makhluk-Nya.

Harusnya kita menerima kabar langit yang bersanad shahih tersebut dengan apa adanya, memaknainya sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah ta’ala, dengan tanpa mentakwilnya, atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Seringkali orang menolak nash syariat, karena adanya kaidah yang dia anggap bertentangan dengan nash tersebut, contoh mudahnya: sebagian orang menolak ketentuan hukum waris dalam Alqur’an, karena membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan, hal itu dia anggap bertentangan dengan kaidah keadilan Allah.

Padahal sebenarnya “KEADILAN” itu tidak harus berarti persamaan, tapi keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing. Tentunya kebutuhan anak laki-laki jauh lebih banyak daripada kebutuhan anak perempuan.
(Anak laki-laki saat menikah harus memberikan mahar, sedang yang perempuan malah mendapatkan mahar… saat sudah menikah, anak laki-laki harus menafkahi isterinya, sedang anak perempuan, malah mendapatkan nafkah dari suaminya… saat ada yang terjatuh dalam pembunuhan secara tidak sengaja, saudara laki-laki harus menanggung diyat-nya, sedang yang perempuan tidak).

Hal ini juga terjadi dalam bab sifat-sifat Allah, sebagian orang menolak kabar tentang sebagian sifat Allah, karena dalam pandangan dia, hal itu tidak sesuai dengan kaidah bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.

Padahal kriteria “TIDAK MENYERUPAI MAKHLUK” itu tidak berarti harus menafikan atau mentakwil sifat tersebut, tapi bisa juga dengan menetapkan sifat itu sesuai kemuliaan dan keagungan Allah, yang sangat jauh berbeda dengan makhluk-Nya… Dan inilah yang harusnya diambil oleh seorang hamba yang menjunjung tinggi Firman Allah dan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- telah menyebutkan perkataan yang pantas ditorehkan dengan tinta emas dalam hal ini, beliau mengatakan:
Adapun kita membuat suatu kaidah, dan kita katakan itulah hukum asalnya, kemudian kita menolak Assunnah (Hadits) karena alasan menyelisihi kaidah itu, maka demi Allah (ini tidak boleh sama sekali), sungguh merusak SERIBU kaidah yang tidak dibuat Allah dan Rasul-Nya lebih wajib bagi kita, daripada menolak SATU hadits“. [I’lamul Muwaqqi’in 2/252].

Dan jauh sebelum itu, Imam Syafi’i -rahimahullah- telah mengatakan:
Tidak boleh ada qiyas, bila sudah ada khabar“. [Ar-Risalah, hal: 599].. dan itu berarti: “Tidak boleh ada ijtihad, bila sudah ada nash yang menjelaskan”, karena qiyas dan ijtihad menurut beliau adalah dua kata yang satu makna. [Ar-Risalah, hal 477].

Sehingga bila sudah ada nash yang menjelaskan tentang dimana keberadaan Allah dan sifat-sifat Allah lainnya, maka tunduklah kepada nash-nash itu, dan buanglah semua ijtihad kita.. lalu nafikan semua konsekuensi batil yang berasal dari kepala kita yang lemah ini.

Karena nash yang haq, pasti punya konsekuensi yang haq, dan itulah yang harusnya diambil.

Bila Anda menemukan konsekuensi yang batil dari nash yang haq, maka yakinlah bahwa konsekuensi yang batil itu pasti dari akal Anda yang lemah, dan itulah yang harus Anda buang.

Nash yang haq tidak mungkin menunjukkan kebatilan bila dipahami dengan baik dan lurus.

Inilah manhaj ulama salaf kita, manhaj ahlussunnah waljama’ah dalam bab sifat-sifat Allah ta’ala. wallahu a’lam.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kegaduhan Itu Dari Mana Bermula..?

Jawabannya, biasanya datang dari orang yang ilmunya masih setengah-setengah, belum matang.

Imam Syaukani -rahimahullah- menukil perkataan seorang ulama di zamannya, “Ali bin Qaasim Hanasy” (wafat 1219 H):

“Manusia itu terbagi menjadi tiga tingkatan:

PERTAMA : Tingkatan atas, yaitu tingkatan para ulama besar, mereka adalah orang-orang yang mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, meski mereka berbeda pendapat, tapi hal itu tidak menimbulkan fitnah (kegaduhan), karena mereka saling memahami antara satu dengan yang lainnya.

KEDUA : Tingkatan bawah, yaitu tingkatan orang-orang awam, yang masih di atas fitrahnya, mereka tidak benci kebenaran, mereka adalah pengikut orang-orang yang menjadi panutannya. Apabila panutannya benar, maka mereka pun demikian. Apabila panutannya dalam kebatilan, maka mereka juga seperti itu.

KETIGA : Tingkatan tengah, inilah tempat munculnya keburukan dan sumber fitnah dalam agama. Mereka ini tidak belajar ilmu dengan mendalam hingga sampai pada tingkatan pertama, mereka juga tidak meninggalkan ilmu hingga turun ke tingkatan bawah.

Mereka ini jika melihat orang yang berada di ‘tingkatan atas‘ mengatakan perkataan yang tidak mereka ketahui, perkataan yang menyelisihi apa yang mereka yakini, yang sebabnya adalah kekurangan mereka (dalam mendalami ilmu); mereka akan lepaskan panah-panah celaan, dan mereka menganggap perkataan (ulama) itu sangat buruk.

Di sisi lain, mereka juga merusak fitrah orang-orang yang berada di tingkatan bawah dari menerima kebenaran, dengan penjelasan-penjelasan batil yang menyesatkan.

Maka, ketika itulah fitnah-fitnah dalam agama ini muncul dengan kuat”.

Setelah menyebutkan perkataan ini, Imam Syaukani -rahimahullah- mengatakan: “Sungguh benar apa yang dia katakan, dan siapapun yang merenungi hal ini, ia akan mendapatinya seperti itu“.

[Sumber: Al-Badrut Thaali’, hal 511].

——-

Jika demikian adanya, maka harusnya setiap dari kita memahami posisi masing-masing, dan hendaknya setiap dari kita menjaga diri dan lisan, agar jangan sampai menzalimi orang lain.

Ingatlah selalu sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-: “Seorang muslim (sejati) adalah orang yang kaum muslimin selamat dari (keburukan) tangan dan lisan dia“. [HR. Bukhari: 10, dan Muslim: 64].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى