Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Biasakanlah Menyebutkan DALIL Saat Mendidik Anak

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Sebaiknya anak-anak diberikan pengetahuan tentang hukum-hukum sesuatu beserta dalil-dalilnya… misalnya: ketika kamu mengatakan kepada anakmu: “Bacalah BASMALAH saat akan makan, dan bacalah HAMDALAH saat kamu selesai makan!”, jika kamu mengatakan itu; maka maksud perintahnya sudah tercapai.

Tapi bila kamu mengatakan: “Bacalah BASMALAH saat akan makan, dan bacalah HAMDALAH saat kamu selesai makan, KARENA Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menyuruh (kita) agar membaca basmalah sebelum makan, beliau juga mengatakan: ‘Sungguh Allah meridhoi seorang hamba yang memakan sesuap makanan dan dia membaca hamdalah karenanya, dan (seorang hamba) yang meminum seteguk minuman dan dia membaca hamdalah karenanya!”

Jika kamu melakukan hal ini, kamu akan mendapatkan 2 manfaat:

Pertama: Kamu membiasakan anakmu untuk mengikuti dalil.

Kedua: Kamu mendidik anakmu untuk mencintai Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, dan bahwa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- adalah seorang imam/pemimpin panutan yang wajib diikuti arahan-arahannya.

Dan hakekat ini banyak dilalaikan, kebanyakan orang mengarahkan anaknya kepada hukum-hukumnya saja, namun dia tidak mengaitkan arahan itu dengan sumbernya, yaitu: Alkitab dan Assunnah.”

[Kitab: Al-Qoulul Mufid ala Kitabit Tauhid: 2/423].

———-

Ada MANFAAT KETIGA yang bisa ditambahkan di sini: bahwa ORANG TUA juga akan belajar mengetahui dalil-dalil tersebut, dan menyampaikannya kepada anaknya, sehingga akan berkumpul banyak dalil padanya dan dia dapat menghapalnya dengan mudah karena dibarengi dengan praktek, wallohu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

270814

Renungkanlah…

“Mereka ingin membunuh Nabi Yusuf ‘alaihissalam, tapi beliau tidak mati.

Beliau juga dijual untuk dijadikan budak, tapi malah jadi raja.

Simpelnya: jangan sedih karena tindakan makar dan rencana buruk manusia, karena kehendak Allah di atas kehendak semuanya.”

——–

Meyakini hal ini, bukan berarti tidak berusaha sama sekali.. tapi berusahalah sesuai kemampuan Anda.

Adapun yang di luar kemampuan Anda, serahkan semuanya kepada Allah.. dan percayalah Allah tidak menyia-nyiakan orang yang menaruh kepercayaan dan mengembalikan urusannya kepada-Nya.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Apa Untungnya Ikut Perayaan Tahun Baruan..?

Bagi kaum muslimin yang ikut-ikutan merayakan tahun baru, mari pikirkan baik-baik..

1. Apa yang Anda dapatkan dari pergantian tahun ini ?

Anda dapat uang kah? atau dapat pahala? atau dapat kesehatan darinya? atau naik pangkat karenanya? atau ada nikmat lain dengan bergantinya tahun ini?!

Jika tidak, bahkan sebaliknya, uang Anda akan banyak berkurang… Anda akan mendapatkan banyak dosa… bahkan bisa jadi ada bahaya menimpa Anda? … Lalu mengapa anda merayakannya?!

2. Apa alasan Anda melakukannya ?

Kalau ikut-ikutan tren, siapa yang Anda ikuti? Nabi Muhammad ﷺ kah, atau kiyai kah, atau ustadz kah, atau sebenarnya Anda mengikuti non muslim?

Tahun baru masehi itu kalender siapa?
Bukankah kalender kaum muslimin adalah kalender hijriyah?
Apakah masehi itu kalender Islam, atau kalender dari non muslim?
Lalu mengapa Anda merayakannya?!

3. Anda sebagai kaum muslimin, adalah umat yang besar !

Oleh karena itu, tidak pantas anda menjadi ekor bagi umat lain, kemanapun mereka pergi Anda ikuti!

Yang pantas bagi Anda adalah mengikuti manusia terbaik dan paling sempurna, Nabi agung Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-.

Lihatlah bagaimana beliau menyikapi tahun baru yang dirayakan di zamannya. Sahabat Anas -rodhiallohu anhu- mengisahkan:

Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dahulu ketika datang ke Madinah, masyarakat di sana memiliki dua hari (istimewa) yang dimeriahkan dengan acara permainan.

Maka beliau bertanya: “Ada apa dengan dua hari ini?”.
Mereka menjawab: “Dahulu di zaman jahiliyah, kami biasa memeriahkannya dengan permainan”.

Maka beliaupun mengatakan: “Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya; itulah hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri”.

[HR. Abu Dawud: 1134 dan yg lainnya. Dishahihkan oleh Syeikh Albani].

Para pensyarah hadits ini, menjelaskan bahwa dua hari yg dirayakan oleh masyarakat Madinah ketika itu adalah hari Nairuz (hari pertama tahun syamsiyah/masehi) dan hari Mihrojan (hari pertengahan tahun syamsiyah/masehi).

Dua hari ini dirayakan oleh mereka, karena keadaan cuaca yang baik, cuacanya sedang; tidak panas dan tidak dingin, dan waktu malam dan siangnya seimbang lamanya. [sumber: Aunul Ma’bud 3/341].

Jadi, sekali lagi, apa untungnya ikut perayaan tahun baru ?! Lebih baik, gunakanlah untuk yang ibadah dan amal kebaikan yang akan sangat besar manfaat dan untungnya bagi diri Anda.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Agar Kehidupan Suami Istri Baik Dunia Akhirat

Agar kehidupan suami istri baik dunia akhirat, maka harusnya suami menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga dan memimpin istri dan anak-anaknya untuk menjalankan syariat-Nya sebaik mungkin.

======

“Tidak diragukan lagi, bahwa ketaatan seorang istri kepada suaminya adalah kewajiban, seorang istri dalam berinteraksi dengan suaminya harus taat dan menerima, dia harus mengalah, menunduk kepadanya. Sebaliknya harusnya seorang suami tidak menunduk kepada istrinya, harusnya bukan dia yang merendah, karena pada yang demikian ada banyak mafsadah.

Para qodhi (hakim) yang membicarakan kasus-kasus taatnya suami kepada istri, dan dominasi istri atas suami sebagai efek (negatif) darinya; pada akhirnya si istri tersebut malah tidak puas dengan suami yang selalu taat kepadanya.

Suami yang berinteraksi dengan beragam kebaikan untuk istri, tapi istri membuatnya taat kepada apapun yang diinginkannya; pada akhirnya istri itu malah membenci suami yang demikian.

Karena wanita itu tabiatnya butuh kepada seorang yang mengaturnya, jika seorang suami melakukan tugas ini kepadanya, mendidiknya dengan tegas, dan dia berjalan bersamanya pada hal-hal yang diperintahkan Allah -jalla wa’ala-, maka sungguh akhir yang baik akan didapatkan oleh keduanya..”

[Sumber: kaset dengan judul Al-Asalib Asy-Syar’iyyah fit Ta’amul Ma’an Nas, menit 31, detik 44]

———

Ingatlah selalu firman Allah ta’ala yang artinya:

“Teman-teman akrab pada hari (kiamat) itu, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa..”
[Az-Zukhruf:67].

Dan temasuk diantara teman akrab adalah suami dengan istrinya, dan ayah dengan anaknya.

Ingat juga firman Allah yang artinya:

“Pada hari (kiamat), ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya..” [Abasa: 34-36]

Mereka lari dari orang-orang terdekatnya, karena takut melihat banyaknya hak dan kewajiban yang belum ditunaikan kepada mereka, wallahu a’lam.

Oleh karenanya, marilah kita berusaha menunaikan kewajiban kita sebagai suami dan ayah sebaik mungkin, karena kita akan mempertanggung-jawabkan itu di hadapan Allah azza wajall..

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Membedakan Antara Istilah Khalifah, Raja, Amir, Sultan, dst.. Benarkah Demikian..?

Banyak orang membedakan antara istilah khalifah, raja, amir, sultan, dst.. benarkah demikian?

Syeikh Shaleh Al-Ushoimi -hafizhahulloh-, seorang anggota haiah kibar ulama mengatakan:

“Amir adalah nama untuk orang yang mengurusi urusan manusia dalam hal kekuasaan dan hukum.
Ada beberapa nama lain untuk makna ini, dia bisa disebut hakim, sultan, khalifah, dan imam. Nama-nama ini meskipun berbeda-beda, tapi maknanya sama. Nama-nama tersebut dalam syariat dipakai sebagai julukan untuk setiap orang yang mengurusi urusan manusia dalam pengaturan kekuasaan dan hukum.

Dan termasuk KESALAHAN, persangkaan bahwa nama khalifah itu (hanya) untuk orang yang mengumpulkan seluruh manusia dalam kekuasaannya, bahwa hanya dia yang berhak dibaiat secara syar’i, bahwa tidak ada baiat kecuali untuk seorang khalifah!

Karena istilah khalifah dalam syariat dan bahasa adalah julukan untuk setiap orang yang mengurusi urusan makhluk dalam hal hukum (kekuasaan), baik mereka (yang berada di bawahnya) itu seluruh kaum muslimin, atau sebagiannya. Dia dinamakan khalifah (penerus), karena dia meneruskan kekuasaan orang sebelumnya.

Maka siapapun yang telah sah kekuasaannya atas kaum muslimin, untuk semua kaum muslimin (di seluruh dunia) atau hanya di sebagian negeri; dia bisa disebut sebagai khalifah, karena dia telah didahului oleh orang sebelumnya yang mendahuluinya (dalam kekuasaan).

Dia juga -sebagaimana telah disebutkan tadi- disebut sebagai amir, hakim, sultan, dan imam. Nama-nama ini memiliki konsekuensi kewajiban yang sama dalam syariat, karena maknanya sama, yaitu orang yang mengurusi urusan manusia dalam hal kekuasaan dan hukum. Maka seorang yang hari ini disebut malik (raja) atau sultan atau amir, dia adalah khalifah secara syariat dan urf (pandangan masyarakat)…

Sunnahnya orang yang menjadi pengatur (tertinggi) urusan seluruh kaum muslimin itu satu orang, namun apabila sunnah ini tidak bisa ditegakkan, maka tetap sah kekuasaan setiap orang yang telah diakui kekuasaan dan hukumnya di negeri yang dikuasainya.

Dan inilah yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin berabad-abad lamanya, dari sejak abad pertama (Islam) hingga sekarang ini. Dan telah ada IJMA’ (dari para ulama Islam) akan sahnya kekuasaan mereka, meskipun wilayah mereka terpisah-pisah. Ijma’ para ulama Islam dalam masalah ini telah disebutkan oleh sekelompok ulama, diantara mereka adalah Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab, dan beberapa ulama yang lainnya.”

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=RmgbSCEqc-Y

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Do’a Makan Permen

Pertanyaan:

Tanya Ustadz, misalkan kita makan permen ataupun kerupuk, perlukah kita membaca bismillah sebelumnya? Dan apabila perlu, jika lupa juga harus membaca, “bismillahi awalihi wa akhirihi”..? Terima kasih ustadz

Jawaban:

Disunnahkan membaca bismillah juga. Kalau lupa juga demikian, disunnahkan membaca bismillah dengan tambahan “awwalahu wa aakhiroh” atau “fi awwalihi wa aakhirih”.

Perlu digarisbawahi di sini, bahwa basmalah dalam makan dan minum, sunnahnya hanya “bismillah” saja. Sebagaimana ditegaskan dalam sebuah riwayat.. Sunnahnya tidak menambahinya dengan “arrohmaanir rohiim.” Ini semua berdasarkan sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

Wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kasus : Memeriksa HP Suami Karena Curiga dan Cemburu

Pertanyaan :
Bolehkah istri memeriksa HP suami tanpa sepengetahuannya, karena dorongan cemburu..? (Terus terang) aku mencurigainya dan aku ingin mencari kepastian akan hal itu.

=====
Jawaban :
Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Syeikh Walid bin Rosyid As-Sa’iidan -hafizhahullah-, dan beliau memberikan jawaban sebagai berikut:

Segala puji bagi Allah.

Telah ditetapkan oleh para ulama, bahwa sesuatu yang masuk dalam hak milik pribadi seseorang, maka tidak boleh bagi orang lain untuk mengambilnya, kecuali dengan izinnya.

Dan HP suamimu itu masuk dalam hak milik pribadinya, makanya di sana ada urusan-urusan pribadinya, ada rahasia-rahasia dia, dan juga hal-hal yang dia tidak ingin ada orang lain mengetahuinya.

Oleh karena itu, aku melihat -wallohu a’lam- termasuk perkara yang diharamkan, jika kamu berusaha melihat isi HP nya, kecuali dengan izinnya.

Tindakan (memeriksa HP suami tanpa sepengetahuannya) itu merupakan tindakan tahassus dan tajassus yang diharamkan oleh syariat, terutama bila hal itu dilakukan tanpa alasan kecurigaan dan tanpa indikasi-indikasi yang kuat, sungguh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah melarang kita dari tindakan itu.

Allah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak hal dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kalian melakukan tajassus!”. [Al-Hujurot:12].

Di dalam hadits shahih, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga menyabdakan: “Janganlah kalian melakukan tajassuss, jangan pula melakukan tahassus”. [HR. Bukhori:5143, Muslim:2563]

Dan hendaknya jangan sampai setan mempermainkan dirimu, sehingga dia memasukkan dalam hatimu ilusi-ilusi, khayalan-khayalan, dan bisikan-bisikan buruk, yang setan tidak menginginkan darinya melainkan rusaknya hubunganmu dengan suamimu.

Jangan sampai engkau menurutinya, dan berusahalah untuk meminta perlindungan kepada Allah dari setan itu. Harusnya kamu berbaik sangka kepada suami, kecuali bila kamu telah melihat perkara (buruk) itu nyata di depan mata, jelas, dan terang, tanpa ada keraguan sama sekali.

Adapun sekedar khayalan-khayalan, keragu-raguan, dan ilusi-ilusi, maka hendaknya hal itu jangan diindahkan, apalagi hal ini biasanya akan menjadikan para suami marah, bahkan bisa saja hal itu menyebabkanmu kena talak, sehingga kamu akan menyesal ketika itu.

Karena termasuk diantara hal yang menjadikan suami marah, bila dia tahu bahwa istrinya meragukan kehormatannya, meragukan sifat amanahnya, meragukan rasa malu dan kesuciannya, serta meragukan agama dan keimanannya.

Ketika suamimu tahu bahwa engkau mengorek-ngorek HP nya; aku khawatir dia malah menjatuhkan talak kepadamu karena kemarahan yang dilampiaskannya, maka agar masalahnya tidak sampai pada apa yang diinginkan oleh setan, yaitu talak; harusnya engkau menahan diri dari tindakan ini, harusnya engkau berbaik sangka kepada suami, dan jangan sampai memberanikan diri mengorek-ngorek HP nya atau mengambilnya secara sembunyi-sembunyi.

Relakah engkau diperlakukan oleh suami seperti apa yang ingin engkau lakukan kepada suamimu itu, tentu jawabannya tidak.

Bagaimana bila engkau tahu bahwa suamimu curiga pada dirimu tanpa sebab (yang jelas), lalu dia mengambil HP mu, memeriksa apapun yang ada di dalamnya? Tentu Anda akan marah karena tindakan ini, dan apa yang menjadikanmu marah, itu juga akan menjadikan orang lain marah.

Dan termasuk diantara konsekuensi keimanan seseorang, adalah berusaha memperlakukan orang lain dengan sesuatu yang dia senang diperlakukan dengannya.

Oleh karena itu, jika Anda mau menerima nasehatku -semoga engkau mendapatkan taufiqNya-, harusnya engkau meninggalkan tindakan itu, dan bersihkan hati dari kecurigaan itu, harusnya engkau berbaik sangka kepada suami, dan tinggalkan kecurigaan-kecurigaan dan ilusi-ilusi itu, karena menyibukkan diri dengannya bisa menyebabkan rusaknya hubungan kalian berdua, lalu engkau nantinya akan menyesal di saat penyesalan tidak ada gunanya lagi, wallohu a’lam.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=aBCFu32aLsA

——–

Tajassus dan tahassus, pada intinya sama, yaitu usaha memata-matai orang lain, dengan tanpa sepengetahuan orangnya.

Ada yang mengatakan perbedaan keduanya, bahwa :
– tajassus itu dilakukan langsung oleh pelaku kepada sasaran korbannya, sedangkan
– tahassus dilakukan dengan mencari-cari info dari orang lain

perbedaan ini disebutkan oleh Syeikh Utsaimin -rohimahulloh-, wallohu a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Apakah Aku Mencintai Allah.. ??

Jika Anda ingin tahu jawaban pertanyaan di atas, maka lihatlah bagaimana semangatmu dalam mengikuti sunnah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Hal ini telah ditegaskan oleh Allah sendiri dalam firman-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): ‘Jika kalian benar-benar MENCINTAI ALLAH, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’.” [Alu Imron: 31].

Oleh karena itu, jika sunnah Nabi masih banyak Anda tinggalkan.. penampakan lahir Anda masih jauh dari Sunnah Nabi.. bahkan Anda masih bergelimang dengan amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya dari beliau.. maka malulah kepada Allah.. lalu malulah kepada manusia dengan pengakuan Anda mencintai Allah -azza wajall- !!

Ayat ini juga memberikan pelajaran berharga bagi kita.. bahwa mengikuti sunnah Nabi, disamping mendatangkan pahala yang agung, ternyata juga akan mendatangkan ampunan dari Allah untuk dosa-dosa kita.. sungguh ini merupakan keuntungan yang luar biasa dari Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah.

Sungguh di hari-hari ini, kecintaan kita kepada Allah dalam ujian yang sangat berat.. karena banyaknya ajakan untuk melakukan ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.. oleh karena itu, ingatkanlah terus diri kita masing-masing kepada ayat di atas.. dan ingatkan pula akan besarnya pahala yang Allah berikan kepada kita bila kita mengikuti sunnah Nabi dan menjauhi ibadah-ibadah yang tidak dituntunkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Jangan sampai kita lupakan, bahwa dengan berpegang teguh kepada sunnah Nabi dan menjauhi amalan yang tidak ada tuntunannya dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.. kita berarti ikut menjadi penjaga kemurnian nikmat Agama Islam yang sudah sempurna dan paripurna ini.. dan semakin berat perjuangan ini, maka semakin besar pula pahala yang kita dapatkan.. semoga Allah menjadikan kita semua sebagai pejuang-pejuang agama-Nya, amin.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Do’a Ucapan Selamat Untuk Kelahiran Anak Yang Shahih Dari Nabi Shollallahu ‘Alayhi Wasallam

Syeikh Prof. Dr. Ahmad Albaatli:

“Riwayat yang paling shohih dari Nabi -shollallohu ‘alayhi wasallam- dalam masalah memberikan ucapan selamat atas lahirnya seorang anak adalah:

بَارَكَ اللهُ لَك فِيهِ، وَجَعَلَهُ بَرًّا تَقِيًّا

“Semoga Allah memberkahinya untukmu, dan semoga Allah menjadikannya anak yang berbakti dan bertakwa..”

Hadits diriwayatkan oleh Al-Bazzar (7310) dengan sanad yang shohih.

=====

Mari kita hidupkan kembali sunnah ini.. lalu share dan sebarkanlah.. semoga Allah memberikan kita pahala dari orang-orang yang mengamalkannya.. amin.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bolehkah Seorang Istri Memeriksa Barang Pribadi Suami, Seperti HP nya..?

Syeikh Musthofa Al-Adawi -hafizhohulloh- pernah ditanya seorang istri yang curiga terhadap suaminya hingga dia ingin memeriksa HP suaminya… beliau menjawab:

“Anda tidak diperintahkan untuk melakukan tajassus… Anda dilarang melakukan tajassus, Allah telah berfirman (yang artinya): “Janganlah kalian melakukan tajassus” [Al-Hujurot:12].

Istri yang selalu menguntit suaminya, memeriksa HP nya, dan mencari-cari sesuatu yang bila tampak padanya akan berpengaruh buruk pada dirinya; dia tidak bisa dibenarkan dalam tindakannya, wallohu a’lam.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=rx1AMxuwfgY

=====

Hal senada juga dikatakan oleh Syeikh Abdul Aziz Al-Fauzan -hafizhohulloh- yang pernah ditanya tentang masalah ini, dan beliau menjawab:

“Tidak boleh, dan ini merupakan tindakan tajassus yang dilarang oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya): “Janganlah kalian melakukan tajassus!” [Al-Hujurot:12].

Hak seorang suami atas istrinya adalah hak yang paling agung setelah haknya Allah ta’ala atas diri seorang istri.

(Oleh karenanya), hak suami atas istrinya lebih agung daripada hak kedua orang tua istri tersebut atas dirinya, padahal hak kedua orang tua atas dirinya juga sangat besar.

Ketika seorang istri mengorek-ngorek rahasia-rahasia suami, dan mulai mencari-cari di dokumen-dokumen miliknya, atau di HP nya, dengan harapan mendapatkan bukti untuk dipertanggung-jawabkan, sehingga istri bisa mempertanyakannya atau menyudutkannya. Bahkan mungkin juga dia jadi berburuk-sangka kepada suaminya. Setiap yang dia lihat, dia bawa kepada kemungkinan terburuk.

Maka, ini tentu tidak boleh, dan tindakan seperti ini -sebagaimana diketahui oleh semua- tidak boleh dilakukan terhadap semua orang, lalu bagaimana dilakukan terhadap seorang suami yang haknya atas isteri tersebut merupakan hak yang paling besar setelah haknya Allah atas dirinya?! Tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan”.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=-cNKaVQMIQs

——-

NB:

# Tajassus adalah usaha mengorek-ngorek sesuatu yang tidak tampak pada orang lain tanpa sepengetahuan orangnya.

# Tajassus dilarang oleh Syariat Islam yang mulia, karena itu merupakan pintu keburukan yang biasanya mengantarkan kepada pertengkaran dan perpecahan.

Karena sudah menjadi fitrah manusia; suka menyembunyikan keburukannya dan menampakkan kebaikannya.. Sehingga, biasanya tindakan tajassus ini tidaklah dilakukan, melainkan untuk mencari keburukan orang lain.. dan seseorang biasanya akan menjauh dari orang yang mengetahui aibnya.

# Sebagaimana seorang istri tidak boleh melakukan tajassus terhadap suaminya, begitu pula seorang suami tidak boleh melakukan tajassus terhadap istrinya, karena redaksi larangan tajassus itu umum, maka harus diberlakukan secara umum, mencakup laki-laki dan perempuan.

# Harusnya suami istri menjunjung tinggi sikap saling husnuzhon (berbaik sangka).. dan sikap saling percaya di antara keduanya.. Ingatkan diri masing-masing bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing.. siapa yang bersalah, maka dia tidak akan luput dari ancaman hukuman Allah.

# Kepada orang lain saja, Islam memerintahkan kita untuk saling menutupi aib, pantaskah sebagai suami istri malah ingin mengorek-ngorek kesalahan dan aib pasangan hidupnya?!

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى