Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Hidayah Itu Allah Yang Memberikan

Keikhlasan dan ketakwaan seseorang, memang sangat mempengaruhi diterimanya dakwah dan nasehatnya.

Tapi, jangan sampai kaidah ini dibalik.. jangan sampai kita beranggapan bahwa jika pendengarnya tidak tersentuh oleh nasehatnya, berarti ustadznya kurang ikhlas atau minim takwa saat menyampaikan ilmunya.

Mengapa demikian..?

Karena Allah-lah yang berkehendak memberikan hidayah, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Sungguh kamu (Muhammad), tidak akan mampu memberikan hidayah kepada orang yang kau cintai, namun Allah-lah yang mampu memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki..” [Al-Qashash: 56].

Dan Allah bisa saja berkehendak tidak memberikan hidayah kepada suatu kaum yang telah dinasehati oleh seorang pendakwah yang super ikhlasnya dan tinggi takwanya.

Diantara bukti yang sangat kuat dalam masalah ini adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

“Telah ditampakkan kepadaku seluruh ummat manusia, maka akupun melihat seorang nabi; bersamanya sekelompok orang, (kulihat juga) seorang nabi; bersamanya satu dua orang, (bahkan aku melihat) ada seorang nabi; yang tidak satu pun orang bersamanya..” [HR. Muslim: 374].

Lihatlah, di sana ada seorang NABI yang dakwah dan nasehatnya tidak diterima oleh ummatnya sama sekali.. mungkinkah kita katakan, ada nabi yang kurang ikhlas, atau minim takwa..?! Tentunya tidak.

Pintu husnuzhon harusnya kita buka lebih lebar.. daripada pintu su’uzhon.. apalagi bila sasarannya adalah pendakwah yang terlihat baik dan saleh, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jangan Meremehkan Sesuatu Yang Terlihat Kecil

Dalam masalah kemaksiatan sahabat Abu Bakar -rodhiallohu ‘anhu- pernah mengatakan:

“Sungguh Allah bisa saja mengampuni dosa besar, maka janganlah engkau putus asa (karenanya). Dan bisa saja Dia meng-adzabmu karena dosa kecil, maka janganlah engkau terlena (karenanya)..”

[Syarah Shahih Bukhori, karya Ibnu Batthol, 10/203].

Sedangkan dalam masalah ketaatan, Ibnul Mubarok -rohimahullah- pernah mengatakan:

“Betapa banyak amalan kecil, dibesarkan oleh niat. (Sebaliknya) betapa banyak amalan besar, dikecilkan oleh niat..”

[Jami’ul Ulum Wal Hikam, karya Ibnu Rojab, 1/71].

Hal ini juga telah ditegaskan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam sabdanya:

“Jangan sampai engkau meremehkan kebaikan apapun, walaupun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang bersahabat..” [HR. Muslim: 2626].

Lihatlah bagaimana beliau memberikan contoh perbuatan yang kecil dan sederhana, namun demikian, beliau melarang kita meremehkannya.

——-

Jika kita melatih diri untuk memperhatikan yang kecil-kecil, insya Allah yang besar akan semakin kita perhatikan.. sebaliknya bila kita sering menyepelekan yang kecil-kecil, maka lambat laun kita juga akan menyepelekan sesuatu yang besar.

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Negara Saudi Akhirnya Membolehkan Perayaan Maulid ..??

Beberapa teman menanyakan tentang kebenaran berita di atas, apakah benar demikian, ataukah itu isu dari berita yang telah dipelintir.

Beberapa kali saya jawab, bahwa itu hanyalah berita yang dipelintir oleh media saja.. itu hanya berita hoax, alias isu dan kabar burung.

Dan Alhamdulillah ulama yang dijadikan sandaran sumber isu tersebut akhirnya memberikan klarifikasi tentang berita tersebut, beliau adalah Syeikh Abdullah Al-Muthlaq -hafizhahullah-.

Berikut ini berita yg memuat klarifikasi beliau, dan dibuat oleh halaman berita “Sabaq”.

“Syeikh Abdullah Al-Muthlaq, seorang penasehat dewan kerajaan dan anggota kibar ulama, telah mengeluarkan klarifikasi mengenai pendapatnya tentang perayaan Maulid Nabi, untuk membantah isu ysng beredar, yang mengatakan bahwa:

‘Saudi akhirnya mengakui (perayaan) Maulid Nabi, dari seorang anggota dalam dewan kerajaannya, dan dia menganggap itu termasuk amal saleh.’

… … …

Syeikh Abdullah Al-Muthlaq mengatakan dalam klarifikasinya: bahwa telah disandarkan kepadaku akhir-akhir ini bahwa aku membolehkan perayaan maulid (kelahiran) Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, makhluk paling mulia, dan kekasihku. Dan bahwa aku memasukkannya dalam ibadah-ibadah yang bisa mendekatkan kaum muslimin kepada Allah ta’ala.

Ini adalah kedustaan yang disandarkan kepadaku dan tindakan membohongi kaum muslimin secara umum yang mereka berprasangka baik kepada para ulamanya.

Seandainya orang-orang yang berdusta melalui judul berita yang mereka susun sendiri, membaca perkataanku yang dia sebutkan di bawah judulnya, tentu mereka akan tahu bahwa aku tidak membolehkan perayaan maulid (kelahiran) orang terkasih dan terpilih (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Sungguh orang yang paling besar dalam kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Ali bin Abi Thalib, Dua putranya; Hasan dan Husein, dan para Khulafa’ Rosyidin yang lainnya seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Umar bin Abdul Aziz -radhiallahu anhum- dan juga selain mereka; tidak ada satu pun yang melakukan maulid tersebut, mereka juga tidak mengajak manusia untuk melakukannya. Hal itu juga tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau tidak juga mengajak kepadanya.

Para penyair dari kalangan sahabat -radhiallahu anhum- yang mencintai Nabi -shallallahu alahi wasallam- dengan kecintaan yang agung, seperti: Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Ka’ab bin Zuhair, dan selainnya, mereka tidak pernah memuji Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dengan pujian yang diberikan oleh para penyair maulid, seperti Al-Bushairi dan yang lainnya, sungguh mereka telah melampui batas dalam memuji beliau, hingga mereka jatuh dalam kesyirikan yang tidak diridhai oleh beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak akan beliau terima, bahkan beliau telah memperingatkan dan melarang umat beliau darinya.”

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Sumber:https://sabq.org/%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D9%84%D9%82-%D9%8A%D8%B1%D8%AF-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%81%D8%AA%D9%88%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D9%84%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A-%D9%85%D8%A7-%D9%86%D8%B3%D8%A8-%D8%A5%D9%84%D9%8A-%D8%A7%D9%81%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D8%A1-%D9%88%D9%83%D8%B0%D8%A8

KUNYAH… Sunnah Yang Telah Menjadi Asing di Tengah Kita-Kita…

Kunyah adalah panggilan yang berawalan “abu” bagi laki, atau “ummu” bagi perempuan, misalnya: Abu Bakar, atau Ummu Salamah.

Kunyah ini sekarang sangat asing di sekitar kita.. bahkan di zaman ini memakai kunyah diidentikkan dengan teroris, atau Islam radikal, atau garis keras!!

Padahal dulu di zaman Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- kunyah adalah sesuatu yang sangat lazim di masyarakat beliau.. beliau sendiri berkunyah Abul Qosim, bahkan semua isteri beliau berkunyah.. suatu hari Aisyah -rodhiallohu ‘anha- pernah mengatakan:

“Ya Rasulallah, semua isterimu mempunyai kunyah, kecuali aku.”

Maka beliau mengatakan kepadanya: “Ambillah kunyah, kamu (berkunyah) ‘ummu abdillah.'”

Dan Aisyah pun setelah itu dipanggil dengan panggilan Ummu Abdillah hingga wafatnya, padahal beliau tidak pernah melahirkan sama sekali. [HR. Ahmad: 25181, dishahihkan oleh Al-Arnauth].

Bahkan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah menyapa anak kecil yang sedih karena burungnya mati dengan tujuan menghiburnya: “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan (burung) ‘Nughoir’ terhadapmu ?

Oleh karena inilah, dalam Madzhab Syafi’i kunyah dianjurkan, hal itu telah ditegaskan oleh Imam Nawawi -rohimahullah-:

Disunnahkan memanggil orang yang mulia dengan kunyah, baik laki-laki maupun perempuan, baik memiliki anak maupun tidak, baik berkunyah dengan nama anaknya atau nama lainnya.

Dan tidak mengapa kunyah bagi anak kecil.

Bila orang yang berkunyah itu memiliki beberapa anak, maka sunnahnya memakai nama anak pertamanya untuk kunyahnya.

Dan Imam Syafi’i telah menegaskan akan tidak bolehnya berkunyah dengan ‘Abul Qosim’, baik dia namanya Muhammad atau selainnya, karena adanya hadits shahih dalam masalah itu (yang melarangnya).” [Kitab: Roudhotut Tholibin 3/235].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Agar Mata Hati Terbuka

Agar mata hati terbuka, sehingga kita bisa melihat hal ihwal dunia dengan lebih jernih.. dan berkata-kata dengan mutiara hikmah.

======

Imam Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan:

“Siapa yang ingin Allah bukakan hatinya, dan Allah berikan hikmah kepadanya; maka hendaklah dia berkholwat (menyendiri dengan ibadah), mengurangi makan, dan tidak bergaul dengan orang-orang yang bodoh dan sebagian ulama yang tidak memiliki sikap obyektif dan tidak memiliki adab”

[Manaqib Imam Syafi’i lil Baihaqi 2/172].

———

Ibarat pandangan seseorang kepada sesuatu yang sangat besar, semakin dia jauh dari benda itu, maka semakin menyeluruh pula pandangan dia terhadap sesuatu tersebut.

Begitu pula pandangan kita terhadap dunia, semakin kita menjauh dari dunia, kita akan dapat memandang hakekat dunia itu dengan lebih menyeluruh.

Apalagi bila Allah memberikan kita setitik ilmu-Nya karena kedekatan kita dengan-Nya, tentu akan semakin jelas pandangan mata hati kita terhadap dunia ini dan semakin lengkap pengetahuan kita tentangnya, wallohu a’lam.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sudah Sholat 60 TAHUN, Tapi…

Sudah sholat 60 tahun, tapi tidak ada sholat yang diterima sama sekali..

=====

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menyabdakan (yang artinya):

“Sungguh ada orang yang telah sholat 60 tahun, tapi tidak ada satupun sholatnya yang diterima, (karena) kadang dia menyempurnakan ruku’nya tapi tidak menyempurnakan sujudnya, kadang pula dia menyempurnakan sujudnya tapi tidak menyempurkan ruku’nya..”

[Dihasankan oleh Syeikh Albani dalam Assilsilah Ash-shohihah 6/81].

——-

Sungguh kita perlu melihat diri kita masing-masing, sudahkah sholat kita sesuai dengan tuntunan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam..? Sudahkah sholat kita memenuhi syarat dan rukunnya..?

Mungkin juga kita perlu bertanya kepada orang lain yang mumpuni agamanya; sudahkan sholat kita baik menurut pandangan dia… karena bisa jadi kita merasa sholat kita sudah baik dan benar, tapi ternyata masih belum lurus sesuai aturannya.

Ingatlah bahwa sholat adalah amalan ibadah yang sangat urgen dalam hisab di hari kiamat nanti, hal ini telah ditegaskan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau (yang artinya):

“Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat nanti adalah sholat; apabila baik sholatnya, akan baik pula amal-amal dia yang lainnya, tapi apabila rusak sholatnya, akan rusak pula amal-amal dia yang lainnya..” [Assilsilah Ash-Shahihah 3/343].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Tetaplah Menjaga Akhlak Saat Berbeda Pendapat…

Ingatlah bahwa orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya [HR. Abu Dawud: 4682]

====

Syeikh Binbaz -rohimahulloh- mengatakan:

“Apabila dalil telah tegak dalam suatu masalah, maka wajib hukumnya mengambil pendapat yang sesuai dengan dalil tersebut, baik dalil dari Kitabullah ataupun dari sunah Rasul -shallallahu ‘alaihi wasallam-, meskipun pendapat itu menyelisihi imam besar, bahkan walaupun menyelisihi sebagian sahabat.

Karena Allah mengatakan (yang artinya): “Jika kalian berselisih dalam suatu masalah, maka kembalikanlah masalah itu kepada Allah dan RasulNya”, Allah -subhanah- TIDAK mengatakan: “kembalikanlah kepada orang ini dan orang itu.”

Akan tetapi, sudah seharusnya ada langkah memastikan kabar yang sampai kepada kita, serta menghormati dan menjaga adab terhadap para ulama.

Jika seseorang menemukan pendapat yang lemah dari salah satu imam, atau ulama, atau ahli hadits yang tepercaya; (harusnya dia maklum bahwa) hal itu tidak menurunkan kedudukan mereka.

Harusnya dia menghormati para ulama, menjaga adab terhadap mereka dan mengatakan perkataan yang baik, serta tidak mencela dan merendahkan mereka.

Tapi harusnya dia menjelaskan yang benar beserta dalilnya, sekaligus mendoakan kebaikan untuk ulama tersebut, juga mendoakan agar dirahmati dan diampuni.

Beginilah harusnya akhlak seorang ulama terhadap ulama lainnya, (yaitu) menghormati para ulama karena kedudukan mereka, dan mengerti akan keagungan, keutamaan, dan kemuliaan mereka.”

[Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 26/305].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Musibah Juga Ada Manfaatnya…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Seandainya saja tidak ada ujian dan cobaan di dunia, tentunya seorang hamba akan terkena banyak penyakit; takabur, ujub, diktator, dan keras hati, yg itu semua adalah sebab kebinasaan dia, cepat atau lambat”

[Zadul Ma’ad 4/179].

——-

Oleh karena itu, lihatlah hikmah dari setiap kejadian yang Anda alami, dan ambillah sisi positifnya.

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya bisa baik, ini tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin.


Jika mendapatkan kebaikan; dia bersyukur, dan itu baik untuknya. (sebaliknya) jika tertimpa musibah; dia bersabar, dan itu juga baik untuknya”

[HR. Muslim: 2999].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى