Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Dahsyatnya Pengaruh Bacaan Al Qur’an Untuk Rumah Kita…

Abu Huroiroh -rodhiallohu ‘anhu- mengatakan:

“Sungguh rumah akan benar-benar dilapangkan untuk penghuninya, dikunjungi oleh para malaikat, ditinggalkan oleh para setan, dan menjadi banyak kebaikannya, bila dibacakan Al Qur’an di dalamnya.

Sebaliknya, rumah akan benar-benar disempitkan untuk penghuninya, ditinggalkan oleh para malaikat, dikunjungi oleh para setan, dan menjadi sedikit kebaikannya, bila tidak dibacakan Al Qur’an di dalamnya”

[HR. Addarimy dalam Kitab Sunannya: 3352, shohih]

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

da250914

Allah Melihat Kepada Hati Dan Amal…

Surat Yusuf berisi tentang pujian terhadap Akhlak Nabi Yusuf alaihissalam.

Misalnya pujian bahwa beliau adalah
* seorang yang alim,
* seorang yang hakiim,
* seorang yang berbuat baik kepada yang lain,
* seorang yang sangat jujur,
* seorang penyabar,
* seorang yang bertaqwa… dst.

Ternyata tidak ada pujian dari Allah terhadap ketampanannya… Itu menunjukkan bahwa ketampanan tidaklah berharga di sisi Allah.

Untuk apa sebuah ketampanan, bila buruk tingkah laku orangnya?!

Hal ini selaras dengan sabda Nabi -shollalohu alaihi wasallam-:

إنَّ اللَّهَ لا ينظرُ إلى صورِكُم وأموالِكُم ، ولَكِن ينظرُ إلى قلوبِكُم وأعمالِكُم

“Sungguh Allah tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, tapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian.” [HR. Muslim]

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

da140814

Dunia Atau Surga .. Pilihan Ada di Tanganmu

Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

“Siapa yang dunia menjadi ambisinya; Allah akan cerai-beraikan urusannya, Allah jadikan kefakiran ada di depan matanya, dan dunia tidaklah datang kepada dia kecuali yang Allah tulis untuknya.

Dan siapa yang akherat menjadi ambisinya; Allah akan sederhanakan urusannya, Allah jadikan kekayaan ada di dalam jiwanya, dan dunia -dengan terpaksa- akan tetap datang kepadanya.”

[HR. Attirmidzi: 2465 dan Ibnu Majah: 4105, dishahihkan oleh Al-Albani]

Yahya bin Mu’adz Arrazi -rohimahulloh- dahulu mengatakan:

“Meninggalkan dunia itu berat, tapi meninggalkan surga lebih berat, dan maharnya surga adalah meninggalkan dunia.”

[Tanbihul Ghofilin: 1/82].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Hati Kita, Al Qur’an, dan Cinta Kepada Allah…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-:

“Jika kamu melihat seseorang perasaan dan rindunya kepada bait-bait syair, bukan kepada ayat-ayat (Allah)… kepada lantunan suara bait-bait syair, bukan kepada lantunan suara Al Qur’an,


Maka, ini diantara bukti paling kuat akan kekosongan hatinya dari kecintaan kepada Allah dan firman-Nya”

[Al-Jawabul Kafi, hal: 236].

Dan dahulu sahabat Utsman bin Affan rodhiallohu ‘anhu pernah mengatakan:

“Jika hati kalian bersih (sehat), tentu ia tidak akan pernah kenyang dengan firman Allah”

——-

Sungguh, kita perlu jujur kepada diri sendiri, sudahkah merasakan kenikmatan saat mendengar lantunan bacaan ayat-ayat Allah ?!

Itulah diantara barometer paling mudah akan bersih dan sehatnya hati kita.. dari sini kita bisa menilai tingkatan cinta kita kepada Allah ta’ala.

Sayang sebagian dari kaum muslimin, malah enggan dan malas untuk meluangkan sedikit waktunya untuk membaca Al Qur’an.. semoga keadaan kita tidak demikian.. tapi jika ini keadaan anda, maka sadarlah dan ubahlah dari sekarang.. masih ada waktu.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Keberkahan ILMU AGAMA Yang Tiada Duanya

Syeikh Abdurrahman Assa’di rohimahulloh berkata,

“Kebaikan apakah yang lebih agung daripada kebaikan ilmu (agama)..?! Semua kebaikan akan terhenti kecuali kebaikan ilmu (agama), nasehat, dan arahan.

Setiap masalah ilmu yang diambil faedahnya dari seseorang, baik satu masalah atau lebih, sehingga orang yang mempelajarinya atau orang lain mendapat manfaat darinya; sesungguhnya itu adalah kebaikan-kebaikan yang pahala akan terus mengalir kepada pemilik faedah ilmu tersebut.

Ada seorang sahabat yang mengabarkan kepadaku, dia berfatwa pada suatu permasalah faraidh (ilmu waris) di saat syeikhnya sudah meninggal, lalu dia bermimpi melihat syeiknya mengatakan di dalam kuburnya: ‘permasalahan ini yang kamu telah berfatwa tentangnya, pahalanya telah sampai kepadaku..’

Dan ini adalah perkara yang sudah maklum dalam syariat: (sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits): ‘Barangsiapa memberikan contoh kebaikan, maka baginya pahala dari amalannya dan pahala dari orang-orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat..’

Jika amal-amal yang lain terhenti oleh kematian, maka para ulama kebaikannya akan semakin bertambah setiapkali arahannya dimanfaatkan..”

[Alfatawa Assi’diyyah, hal: 73].

——-

MasyaAllah… betapa besarnya pahala para ulama… para penyebar ilmu agama.. dan orang-orang yang ngeshare status-status kebaikan sehingga diambil manfaatnya oleh orang lain.. semoga kita semua mendapatkan pahala yang agung ini, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sebuah Nasehat Untuk Pemberi Nasehat

Sambil memberi nasehat, berusahalah untuk sedikit demi sedikit memperbaiki diri.

Sebagian ulama mengatakan:
“Ada TIGA ayat dalam Al Qur’an yang hendaknya selalu ada di depan mata seorang penuntut ilmu..”

Ayat pertama:

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Aku tidaklah ingin melanggar larangan yang telah kusampaikan kepada kalian..” [QS. Hud: 88]

Ayat kedua:

لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُون

“Mengapa kalian katakan; apa yang tidak kalian lakukan..” [QS. Ash-Shoff:2]

Ayat ketiga:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُون

“Apakah kalian memerintahkan manusia berbuat kebaikan, namun kalian lupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Alkitab?! Tidakkah kalian berpikir..?!” [QS. Albaqoroh: 44]

[Oleh: Syeikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhohulloh, dalam Syarah Kitab Kabair, 35].

———

Janganlah Anda gunakan pesan ini sebagai penghalang menasehati orang lain… Tapi manfaatkanlah sebagai penyemangat dalam mengubah diri ke arah yang lebih baik.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, baik dalam menuntut ilmu, mengamalkan, maupun menyebarkannya, aamiin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menuntut Ilmu Yang Tidak Pada Tempatnya…

Ibnu Qutaibah -rohimahulloh- mengatakan:

“Dahulu seorang penuntut ilmu mendengarkan (kajian) untuk mendapatkan ilmu, dia mendapatkan ilmu untuk diamalkan, dan dia mencari ilmu Agama Allah untuk mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada yang lain.

Tapi sekarang, penuntut ilmu mendengar untuk mengumpulkan (ilmu), dia mengumpulkan (ilmu) agar disebut-sebut, dan dia menghapal agar bisa menang (dalam debat) dan membanggakan diri”
[Ikhtilaful Lafzh, 18]

———

Subhanalloh… ini beliau katakan di zamannya, padahal beliau meninggal tahun 276 H, lalu bagaimana keadaannya di zaman ini, yakni: lebih dari SEBELAS ABAD setelahnya.

Semoga kita menjadi golongan pertama, bukan golongan kedua, aamiiin.

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Tanya Kenapa…

Tanyalah diri Anda, mengapa dia lebih rajin membaca status di FB, WA, BB, dst… tapi dia malas membaca Al Qur’an ?!

Saya bantu jawab ya, “karena dia lebih SENANG kepadanya, sehingga dia lebih rajin membacanya”

Tanya juga dia, mengapa dia malas membaca Al Qur’an, sedang orang lain rajin membacanya ?!

Dan jawablah sendiri, “alasan paling mungkin adalah karena orang itu lebih mencintai Al Qur’an daripada Anda”

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Amalan Yang Bisa Berpahala TANPA Niat

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika seseorang melakukan perbuatan yang MUBAH dan dia tidak meniatkannya untuk ibadah, maka tidak ada pahala padanya.

KECUALI bila ada manfaatnya bagi makhluk lain, misalnya: ketika seseorang memberikan nafkah kepada orang yang wajib dinafakahinya, maka mungkin saja dia tidak menghadirkan niat TAPI dia mendapatkan pahala.

Begitu pula jika seseorang menanam biji, atau menanam pohon, lalu sebagiannya dimakan oleh burung atau hewan melata, atau orang, maka sungguh dicatat baginya pahala kebaikan..”

[Liqo’ bab maftuh 5/53].

———-

Bila tanpa niat saja berpahala, bagaimana bila diniatkan untuk ibadah.. Bagaimana bila niatnya adalah tujuan-tujuan baik yang bisa bermacam-macam.. Oleh karenanya ada perkataan yang bagus: “Niat adalah ladang bisnisnya para ulama..”

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Siapa yang Bilang..?

Siapa yang bilang Ulama Islam dahulu sudah IJMA’ (konsesus/sepakat) tidak bolehnya memilih pemimpin KAFIR ?

=====

Beberapa ulama Islam telah menegaskan adanya Ijma’ dalam masalah ini, diantaranya:

1. Ibnul Mundzir -rohimahulloh- (w 319 H):
“Telah ber-ijma’ semua ulama yang diketahui bahwa seorang kafir tidak boleh ada kekuasaan di atas seorang muslim sama sekali.” [dinukil oleh Ibnul Qoyyim dalam Ahkamu Ahlidz Dzimmah 2/787].

2. Ibnu Hazm -rohimahulloh- (w 456 H):
“Para ulama telah bersepakat, bahwa imamah (kepemimpinan) tidak boleh (diberikan) kepada … seorang kafir, maupun anak kecil.” [Marotibul Ijma’, hal: 208].

3. Qodhi ‘iyadh -rohimahulloh- (w 544 H):
“Para ulama telah ber-ijma’ bahwa imamah (kepemimpinan) tidak akan sah untuk orang kafir.” [dinukil oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim 6/315].

Bahkan bila ada pemimpin muslim, kemudian murtad, maka para ulama juga telah IJMA’ kepemimpinannya harus dicopot.

Qodhi ‘Iyadh -rohimahulloh- mengatakan:

“Para ulama telah ber-ijma’ bahwa .. jika ada pemimpin muslim menjadi kafir; hilang jabatannya.” [dinukil oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim 6/315].

Alhafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- (w 852 H):
“Bahwa imam (pemimpin) menjadi hilang jabatannya karena sebab kekafiran, berdasarkan IJMA.'” [Fathul Bari 13/123].

Dan ini sangat selaras dengan hadits Ubadah bin Shamit -rodhiallohu anhu-:

“Kami dulu telah dibaiat (oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam) agar mendengar dan patuh (pada pemimpin), di saat kami senang maupun sedih, di saat kami susah maupun mudah.

Bahkan di saat pemimpin mengambil hak semaunya, agar kami tidak menggugat kepemimpinannya, KECUALI bila kalian telah melihat KEKAFIRAN YANG NYATA padanya.” [HR. Bukhori: 7056, Muslim: 1709].

Semoga bermanfaat… dan silahkan dishare..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى