Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Apalagi Yang…

Memilih kepala keluarga yang kafir saja DIHARAMKAN dalam Islam.. Apalagi memilih kepala daerah yang kafir.. karena wilayahnya jauh lebih luas, pengaruhnya jauh lebih dahsyat, dan tanggung-jawabnya jauh lebih besar.

Lihatlah bagaimana Allah mengharamkan muslimah memilih suami yang kafir sebagai kepala rumah tangga.

وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ

“Janganlah kalian menikahkan kaum musyrikin (dengan muslimah) hingga mereka beriman. Sungguh seorang budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka itu mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga.” [QS. Al-Baqarah 221]

Bahkan ketika ada suami isteri yang kafir, kemudian sang isteri masuk Islam, sedang suaminya tidak mau masuk Islam, maka keduanya harus dipisahkan, sebagaimana Allah firmankan:

فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ” [ الممتحنة : 11] 

“Jika kalian telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) yg kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” [Almumtahanah:11].

Bahkan para ulama Islam telah berijma’ tidak bolehnya muslimah menikah dengan lelaki kafir, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Barr -rohimahulloh-: “Ijma’ ulama.. bahwa seorang muslimah tidak boleh menjadi isterinya orang kafir.” [Attamhid 12/21].

Kaum Muslimin.. menjadikan orang kafir sebagai kepala rumah tangga saja Allah haramkan, apalagi menjadikan orang kafir sebagai kepala daerah!!

Semoga bermanfaat..

Silahkan dishare..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Kaum Muslimin.. Masihkah Kalian Ber-nyawakan Islam..?!

Sungguh, nyawa itulah yang menjadikan kalian hidup dan bermanfaat..

Lihatlah bagaimana bila jasadmu tanpa nyawa; tak ada gunanya sama sekali, bahkan bisa jadi hanya mengganggu orang yang berada di sekitarmu.

Sebaliknya, nyawa tanpa jasad, masih bisa merasakan kenikmatan, sebagaimana orang saleh yang meninggal dalam kecelakaan, sehingga jasadnya tidak tersisa sedikitpun.. ruhnya masih bisa hidup dan merasakan kenikmatan di alam barzakh.

KTP Islammu = ibarat sebuah jasad.. dan semangat yang dibarengi praktek syariatmu = ibarat nyawanya.. lalu apa gunanya jasad tanpa nyawa?! Apa gunanya KTP Islam, tanpa ada ruh Islamnya?!

Ingatlah wahai kaum muslimin, jika kalian ingin mulia, maka muliakanlah Allah.. yaitu dengan menjunjung tinggi dan menerapkan firman-firman-Nya.

Ingatlah bahwa Allah telah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan pemimpin orang-orang yabg membuat agama kalian bahan ejekan dan permainan, yang mereka adalah orang-orang ahli kitab sebelum kalian dan orang-orang kafir. Takutlah kalian kepada Allah jika kalian benar-benar beriman. [Alma’idah: 57].

Camkanlah kata di akhir ayat: jika kalian benar-benar beriman.. itu berarti siapapun yang memilih pemimpin kafir, imannya sangat dipertanyakan!!

Oleh karena itulah, dalam ayat lain Allah memvonis munafik, siapapun dari kaum muslimin yang memilih orang kafir sebagai pemimpin:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (*) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang MUNAFIK, bahwa bagi mereka adzab yang pedih. (yaitu) mereka yang menjadikan orang-orang KAFIR sebagai pemimpin meninggalkan kaum mukminin.
Apakah mereka menginginkan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu?! Maka, sungguh semua kemuliaan itu milik Allah.”
[Annisa: 138-139].

Allah juga telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ

Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman-teman setia, sehingga kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita rahasia) karena dorongan kasih sayang, padahal mereka telah ingkar terhadap kebenaran yang datang kepada kalian. [Al-mumtahanah: 1].

Lihatlah, menjadikan teman setia saja tidak boleh, apalagi sampai memilihnya sebagai pemimpin !

Wahai kaum muslimin, buktikanlah keimananmu dengan memilih pemimpin yang MUSLIM

Semoga bermanfaat…

Share yuk..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Pojok Infaq…

Donasi Wakaf Lantai Masjid Yayasan Risalah Islam

Bismillah,

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631)

“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf Alquran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi).

“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.” (HR. Muslim)

Cukuplah dari ketiga hadist tersebut diatas menjadi pengingat kita, bahwa investasi akhirat dg amal jariyah sangat kita butuhkan nantinya di akhirat kelak, salah satunya dengan Membangun Masjid.

Tempat terpancar syiar Islam dan iman, kebersamaan kaum muslimin dalam sholat jamaah, tempat untuk mengagungkan asma Allah dalam sujud dan ruku’, madrasah bagi kaum muslimin dengan majlis-majlis ilmu di dalamnya.

Alhamdulillah berkat rahmat dan karunia Allah Ta’ala semata, Dakwah Sunnah di Kudus semakin berkembang dan semakin besar, Hal ini ditandai dengan jumlah kajian sunnah dan jamaah semakin bertambah.

Untuk itu Yayasan Risalah Islam membutuhkan dan sedang *Membangun Masjid Menara Iman* di Desa Gondang Manis, Kec Bae, Kudus, sebagaimana fungsinya, masjid ini, membutuhkan proses pengerjaan untuk pemasangan lantai dan tembok menggunakan bahan granit.

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut *Yayasan Risalah Islam* membuka *Donasi Wakaf Lantai Masjid Menara Iman* adapun Luasan yang akan kerjakan lantai dasar dan lantai satu serta tembok seluas 1.070m2 seharga Rp.150rb/m2 sudah termasuk biaya pemasangan.

Alhamdulillah sejauh ini donasi telah mencapai Rp. – / lantai seluas -m2, yang artinya kami masih menunggu 1.070 donatur lagi.

Donasi bisa disalurkan ke:

Bank Syariah Mandiri, cab.Kudus, no rek: 7080723177 a/n Yayasan Risalah Islam (Kode ATM Bersama: 451)

format konfirmasi
nama*jumlah transfer*luas lantai* WakafLantai
contoh:

Akmad Danardi*900rb*6 m2*WakafLantai
kirim konfirmasi ke 

WA/SMS: 089628222285 

Telegram : yrisalahislam

FB : risalahislam.or.id

Line : risalahislam

BB : 5D2A64E4
jika tidak konfirmasi akan dimasukkan ke donasi umum Yayasan Risalah Islam
Laporan Donasi harian: http://bit.ly/2dKqh4Z
Ttd, 

Akhmad Danardi, ST.

08974322234

_Ketua Yayasan Risalah Islam_
Jika tidak mampu membantu dana, antum bisa menyebarkan pesan ini, semoga tetap akan mjd jariyah yg tdk akan terputus pahalanya
Masjid ini akan dikelola oleh Yayasan Risalah Islam, dan Ustadz Musyaffa’ Addariny, Lc., MA. sbg salah satu dewan pembinanya

Orang Yang Lebih GEMBIRA Dan Lebih BUTUH Terhadap Pahala Sedekah

Seandainya ‘orang yang bersedekah’ sadar bahwa sedekahnya itu SAMPAI di tangan Allah sebelum sampai ke tangan si miskin, tentunya orang yang memberi akan lebih GEMBIRA dengan pemberiannya daripada orang yang mengambil pemberian.

Seandainya ‘orang yang memberi’ mengetahui bahwa dia itu BUTUH terhadap pahala sedekahnya melebihi kebutuhan si miskin terhadap sedekahnya, tentunya tangannya menjadi lebih RINGAN dalam memberi daripada tangan si miskin dalam menerima pemberiannya.

Seandainya ‘orang yang memberi’ mengetahui bahwa MANFAAT sedekahnya untuk dirinya jauh lebih besar daripada manfaat sedekah itu untuk si miskin, tentunya dia ingin MEMPERBANYAK sedekahnya melebihi keinginan si miskin untuk mendapatkan pemberian yang banyak.

Mari bantu orang yang membutuhkan di sekitar kita…

Kita selalu semangat dalam mencari harta dan berpikir bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas… maka harusnya kita juga semangat dan berpikir demikian dalam masalah pahala, bahkan harusnya lebih semangat lagi, wallohul musta’an…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Manfaatkanlah Waktumu Sebaik-Baiknya

Manfaatkanlah waktumu sebaik-baiknya.. karena keadaan dirimu saat ini lebih baik daripada keadaan dirimu di masa yang akan datang.

Ibnus Sammak -rohimahulloh- mengatakan:

“Apakah yang dinanti oleh orang :
– yang rambutnya telah memutih setelah sebelumnya hitam,
– yang wajahnya mengeriput setelah sebelumnya mulus,
– yang punggungnya membungkuk setelah sebelumnya tegak,
– yang penglihatannya merabun,
– yang anggota badannya melemah,
– yang tidurnya menjadi hanya sebentar, dan
– yang bagian tubuhnya sedikit demi sedikit rusak di masa hidupnya..?!

Maka, rahmat Allah bagi orang yang memahami hal ini dan memperhatikannya dengan baik, lalu memanfaatkan hari-harinya..”

[Siyaru A’lamin Nubala’ 8/330]

——

Ironisnya, banyak orang mengundur-undur rencana baiknya, padahal keadaannya di masa depan biasanya tidak lebih baik daripada keadaannya saat ini.

Oleh karena itu, mulailah dari sekarang..

Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menjawab Beberapa Dalih / Syubhat Tentang Memilih Pemimpin Kafir..

Jawabannya sangat mudah, ana rangkum dalam poin-poin berikut ini:

1. Para ulama sudah ijma dalam masalah haramnya mengambil pemimpin yang kafir, sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi dan yang lainnya.

Dan ijma’ mereka adalah hujjah bagi kita semua sebagai kaum muslimin di zaman akhir ini, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya): “umatku tidak akan ber-ijma’ dalam kesesatan”.. ini menunjukkan bahwa ijma’ umat ini adalah kebenaran yang harus diambil dan tidak boleh diselisihi.

Jika demikian, sebenarnya masalah haramnya mengambil pemimpin kafir, tidak perlu dibahas lagi dan diganggu-gugat karena kebenaran dalam masalah sudah Allah tunjukkan melalui ijma’ para ulama dalam masalah ini.

2. Para ulama ahli tafsir dan ahli ushul fikih telah mengemukakan kaidah baku yang sangat masyhur; bahwa “yang menjadi standar sebuah nash adalah keumuman lafalnya, bukan kekhususan sabab (nuzul/wurud)-nya”.

Maksud dari kaidah ini, bahwa setiap nash yang datang dari Al Qur’an maupun Hadits, pada asalnya berlaku umum, tidak hanya berlaku pada kasus yang menjadi sebab nash itu datang atau diturunkan.. Contoh sederhananya adalah nash yang diturunkan karena meninggalnya para syuhada di perang uhud, juga berlaku untuk para syuhada di peperangan lainnya, dan kita tidak boleh mengkhususkan nash tersebut untuk para syuhada uhud, selama nashnya bermakna umum.

Sehingga asbabun nuzul sebuah ayat atau asbabul wurud sebuah hadits, itu sebenarnya hanya untuk penjelas dan penguat sebuah hukum yang menyertainya saja, tidak bisa digunakan untuk mengkhususkan hukum nash tertentu dalam kasus itu saja.

Jadi, apapun sebab turunnya ayat tersebut, tetap saja ayat itu berlaku umum, karena redaksi ayat itu adalah redaksi yang umum.. berlaku kapan pun dan dimana pun.. beginilah para ulama kaum muslimin memuliakan Alquran dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Apapun makna yang digunakan untuk redaksi “awliya'”, maka tetap saja bisa menjadi dalil tentang haramnya mengambil pemimpin kafir bagi kaum muslimin.

Jika “awliya'” dalam ayat itu bermakna pemimpin dan inilah yang sesuai dengan pemahaman Amirul Mukminin Umar bin Khottob -rodhiallohu :anhu-, maka sudah sangat jelas bahwa ayat itu menegaskan tentang haramnya memilih pemimpin yang kafir.

Jika “awliya'” dalam ayat itu bermakna: temanan, atau sekutu, teman akrab, dst.. maka petunjuk ayat ini dalam mengharamkan tindakan mengambil pemimpin kafir lebih kuat lagi.. karena artinya menjadi demikian; bahwa jika mengambil teman akrab, atau sekutu (dst) saja Allah haramkan, apalagi menjadikan mereka pemimpin.. karena menjadikan seseorang pemimpin lebih dahsyat pengaruh buruknya bagi kaum muslimin daripada hanya menjadikannya sebagai teman akrab, atau sekutu, dst.. inilah illatnya (inti masalahnya), dan hukum itu selalu berjalan seiring dengan illatnya.

4. Perkataan Ibnu Taimiyah -rohimahulloh- yang menyatakan bahwa “Allah akan menolong negara yang adil meski ia kafir dan tidak akan menolong negara yang zalim, meski ia mukmin”, bukan berarti beliau membolehkan memilih pemimpin kafir.. karena konteks perkataan beliau itu hanya berkenaan tentang pengaruh baik keadilan dan pengaruh buruk kezaliman dalam sebuah negara, bukan dalam konteks boleh tidaknya memilih pemimpin kafir.

Jadi perkataan “keadilan bisa memakmurkan negara”, tidak otomatis bermakna “boleh memilih pemimpin kafir yang adil”.. karena dua masalah ini sangat berbeda.. dan harusnya dibedakan. Oleh karena itulah, Ibnu Taimiyah di tempat lain dengan jelas mengharamkan memilih pemimpin yang kafir.

5. Penulis ingin menegaskan di sini, bahwa jika ada orang yang mengatakan; “ada lebih dari seratus ayat yang menunjukkan larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin”, maka dia tidaklah salah.. karena disamping ayat yang mengharamkan mengambil awliya’ dari orang kafir, ada ayat-ayat yang mencela kekafiran, kemunafikan, kemaksiatan, kezaliman, berhukum dengan selain hukum Allah, dan keburukan-keburukan lainnya, dan itu semua bisa digunakan untuk mengharamkan tindakan memilih pemimpin yang kafir.. karena sebagaimana dikatakan oleh para ulama; “tidak ada dosa yang lebih besar dari kekufuran”, bagaimana orang yang demikian dijadikan pemimpin kaum muslimin.. dan kita tahu ayat yang menjelaskan hal itu semua berjumlah ratusan, wallohu a’lam.

Sekian, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin.

Silahkan dishare..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Sungguh Allah Akan Menghinakan Musuh Al Qur’an

Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah menyabdakan (yang artinya):

“Sungguh dengan sebab Kitab (Al Qur’an) ini, Allah akan mengangkat sekelompok kaum, dan dengannya pula Dia akan merendahkan sekelompok kaum yang lain.” [HR. Muslim: 817].

Siapapun yang membela Al Qur’an, Allah akan mengangkat derajatnya.. sebaliknya siapapun yang merendahkannya, Allah akan meruntuhkan martabatnya.

Karena Al Qur’an adalah kalamullah; firman Allah yang Dia jamin penjagaannya dan kemurniannya.. maka merendahkannya berarti merendahkan Allah ta’ala.. Sungguh Dia tidak akan rela dengan siapapun yang merendahkannya.. Ingatlah, disamping Allah maha pengampun dan maha penyayang, Allah juga maha kuat perkasa, serta maha pedih siksa dan hukumanNya.

Kaum Muslimin, jadilah pasukan-pasukan pembela Al Qur’an, sehingga Allah memuliakan kalian.. Dan jangan sampai kalian merendahkan Al Qur’an atau membela orang-orang merendahkannya, sehingga Allah meruntuhkan martabat kalian.

Jangan sampai Anda menjadi pelajaran bagi orang lain.. Tapi, cerdaslah, dan ambillah pelajaran dari orang lain.

Lihatlah orang-orang yang hari ini mencari ketenaran dan kedudukan dengan jalan merendahkan Al Qur’an atau membela orang yang merendahkan Al Qur’an, nantinya Allah pasti akan menghinakannya.

Allah azza wajalla telah berfirman (yang artinya):

“Harusnya orang-orang yang menyelisihi perintah RasulNya, takut akan mendapatkan cobaan atau azab yang pedih.” [QS. Annur: 63].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Perbanyaklah Istighfar

Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan:

“Istighfar adalah kebaikan yang paling agung, oleh karena itu, siapa yang merasa kurang dalam perkataannya, atau kurang dalam amalannya, atau kurang dalam rezekinya, atau merasa gonjang-ganjing hatinya; maka hendaklah dia hadapi dengan kalimat tauhid dan istighfar.”

[Al-Fatawa 11/698].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Jangan Sampai Anda Terlena

Hatim Al-Ashomm rohimahullahu Ta’ala mengatakan,

“Jangan terlena dengan keberadaanmu di tempat yang baik, kerena tidak ada tempat yang lebih baik dari surga, tapi nyatanya Adam mendapati apa yang sudah dapati.

Jangan pula terlena dengan banyaknya ibadah, karena Iblis setelah ibadah lamanya, ternyata menjumpai apa yang dia jumpai.

Jangan pula terlena dengan banyaknya ilmu, karena ba’am bin ba’uro telah menjumpai apa yang dia jumpai, padahal dia telah tahu nama Allah yang paling agung (Al-Ismul A’zhom).

Dan jangan pula terlena karena telah bertemu dan melihat orang-orang saleh, karena tidak ada orang yang lebih saleh dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi ternyata pertemuan dengan beliau tidak memberikan manfaat untuk para musuh beliau dan kaum munafikin..”

[Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 1/510]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sudah Ditanggung Allah

Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.

Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.

Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,

“وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”

Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” QS. Hud (11): 6.

Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.

Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.

Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?

Penuhi syarat-Nya!

Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.

Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.

Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,

“وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”

Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh.” QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.

Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.

Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.

Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.

Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya. Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.

Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.

Semoga renungan singkat ini bermanfaat…

Penulis : Ustadz Abdullah Zaen MA,  حفظه الله تعالى

Posted by : Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى