Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Renungan

Tidakkah kalian melihat betapa sibuknya orang-orang sekarang dengan HP nya..?!

Pagi, siang, malam..
Sebelum dan sesudah sholat..
Sebelum tidur dan setelahnya..

Begitu pula keadaan generasi salaf zaman dulu, tapi sibuknya mereka dengan AL QUR’AN.

Sangat penting untuk direnungkan… Tapi lebih penting lagi untuk diamalkan…

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dalam Menasehati, Jangan Menunggu Diri Menjadi Sempurna

Berikanlah nasehat dan pesan kebaikan kepada orang lain, walaupun Anda masih banyak kekurangan.

Ibnu Rojab -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika tidak ada yang boleh memberi nasehat melainkan orang yang bebas dari kesalahan; tidak akan ada orang yang boleh memberi nasehat kepada manusia setelah Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam-, karena tidak ada orang yang maksum setelah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.”

Justru, dengan langkah ‘memberi nasehat’ itu, kita akan berusaha menjadi lebih baik, dan menambah rasa ‘malu’ kita untuk bermaksiat.

Dan pahala untuk orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain TIDAK disyaratkan harus menjadi sempurna atau harus melakukannya lebih dulu, wallohu a’lam.

SIAPAPUN yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala orang yang melakukannya”, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Memaafkan Kesalahan Anak, Istri, Orangtua

Abdullah bin Umar -rodhiallohu ‘anhumaa- mengatakan:

Ada seseorang yang mendatangi Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, dia mengatakan: “Wahai Rosululloh, berapa kali kita sebaiknya mengampuni pelayan (budak) kita..?”

Maka beliau diam, lalu orang itu mengulangi lagi perkataannya, dan beliau diam lagi (tidak menjawab).

Kemudian ketika orang itu mengulangi perkataannya untuk yang ketiga kali, beliau menjawab: “Ampunilah dia 70 kali pada setiap harinya..!”

[HR. Abu Dawud, dishohihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah: 488]

———

Subhanallah… Yang ditanyakan dalam hadits ini adalah tentang BUDAK alias hamba-sahaya… lalu berapa kali kita diperintahkan untuk mengampuni kesalahan anak kita, atau istri kita, atau bahkan kedua orang tua kita terutama ketika mereka sudah lanjut usia..?!

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Harta = Standar Kecintaan Allah..?!

Sungguh inilah pemahaman kapitalis yang sejak dulu diingkari oleh Islam.. Hal itu, telah Allah tegaskan dalam banyak ayat dalam Alqur’an.

Allah berfirman (yang artinya):

“Tidaklah harta-harta dan anak-anak kalian itu dapat mendekatkan kedudukan kalian di sisi Kami.” [QS. Saba’: 37]

Di ayat lain Allah berfirman (yang artinya):

“Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (bagi kalian).” [QS. Attaghobun:15]

Allah juga berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa menghendaki (nikmat dunia) yang disegerakan, maka Kami segerakan baginya di dunia itu nikmat yang kami kehendaki untuk siapapun yang Kami inginkan, kemudian Kami tentukan baginya neraka jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” [QS. Al-Isro: 18]

Allah juga berfiman (yang artinya):

“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya dengan memberinya kelapangan dan kenikmatan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” (15) Adapun bila Tuhannya mengujinya dengan kekurangan rezeki, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah menghinakanku” (16) padahal sama sekali tidak demikian..! (17)..” [QS. Alfajr: 15-17]

Bahkan, ini pula standar yang dipakai oleh Firaun untuk membenarkan ajarannya.. maka jangan sampai kita mengikuti jejaknya, Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Fir’aun menyeru kaumnya (seraya) berkata: “wahai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku, dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; tidakkah kalian melihatnya..?!

(**) Bukankah aku lebih baik daripada (Musa); orang yang hina, yang hampir tidak dapat menjelaskan perkataannya..?

(**) Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya..?”

(**)  Maka (dengan retorika itu) Fir’aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya, sungguh mereka adalah kaum yang fasik.” [QS. Azzukhruf: 51-54]

Sungguh.. harta, kedudukan, ketampanan, kecantikan, dan nikmat-nikmat dunia lainnya bukanlah standar kecintaan Allah kepada kita.

Namun.. yang menjadi standar kecintaan Allah kepada kita, adalah tingginya keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.. tanpa pandang bulu.. siapapun dia, dimana pun dia, dan bagaimana pun keadaannya.. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Ingatlah, bahwa kekasih-kekasih Allah; tidak ada ketakutan pada mereka, dan mereka juga tidak akan bersedih. Yaitu = orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya.” [QS. Yunus: 62-63]

Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya):

“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat rupa-rupa kalian, dan tidak pula melihat harta-harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati-hati dan amal-amal kalian.” [HR. Bukhori Muslim]

Semoga bermanfaat.. dan silahkan dishare..

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Jangan Kau Hujat Setan.. !!

Nabi -shalallahu alaihi wasallam- telah bersabda (yang artinya):

“Janganlah kalian hujat setan, tapi berlindunglah kepada Allah dari keburukannya”.

[Lihat: Silsilah Hadits Shahihah 5/547].

Imam Munawi -rohimahulloh- mengatakan:

“Jangan kalian hujat setan = karena hujatan tidak akan bisa menangkal keburukan setan kepadamu, dan juga tidak akan bermanfaat sedikit dalam permusuhanmu dengan setan.

Tapi berlindunglah kepada Allah dari keburukannya = karena Allah subhanahu wata’ala, Dia yang berkuasa atas setan, Dia yang mampu menolak tipu daya setan untuk siapapun dari hamba-hambaNya”.

[Faidhul Qodir, hadits no: 9789]

——

Hadits di atas memberikan kita pelajaran yang sangat berharga, bahwa apabila kita mengalami musibah, harusnya kita lebih mementingkan solusi… bukan mencela, atau menghujat, atau menumpahkan emosi kita.

Karena solusilah yang dapat mengubah keadaan itu biidznillah.. adapun hujatan, umpatan, atau celaan; itu tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi masalahnya menjadi semakin besar.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Kalau Ada Perintah Dari Nabi Shollallohu ‘alaihi Wasallam, Maka..

Kalau ada perintah dari Nabi shollallohu alaihi wasallam, jangan mencari celah untuk meninggalkannya, tapi semangatlah untuk mengikuti beliau.

======

Sebaliknya, jika beliau melarang, jangan mencari celah untuk melanggarnya, tapi semangatlah untuk menjauhinya, jangan bermain api untuk dirimu sendiri.

Syeikh ‘Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika datang larangan (dari syari’at), maka jauhilah, jangan bertanya apakah itu haram atau makruh..!

Sebaliknya, jika datang perintah (dari syari’at), maka ikutilah, tidak usah menanyakan apakah itu wajib atau sunnah..!

Dahulu para sahabat -rodhiallohu ‘anhum-, jika diperintah oleh Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- melakukan apapun, mereka tidak menanyakan: ‘wahai Rosulullah, apakah engkau bermaksud mewajibkan atau mensunnahkan..! Tapi mereka langsung menjalankannya.

Berbeda, ketika seseorang terjatuh dalam masalah, sehingga tidak mampu melakukan sesuatu yang diperintahkan atau tidak mampu meninggalkan sesuatu yang dilarang.. dalam keadaan seperti ini baru kita bahas apakah itu perintah wajib atau perintah sunnah..

Adapun sebelum itu, maka nasehatku kepada semua orang yang beriman, jika mendengar perintah Allah dan Rosul-Nya hendaknya dia mengatakan: ‘saya dengar dan saya taat..’, lalu mengerjakannya.

Begitu pula ketika mendengar larangan, hendaknya dia mengatakan: ‘saya dengar dan saya taat..’, lalu meninggalkannya, jangan sampai ia menjadikan dirinya dlm bahaya..

(Ingatlah) orang yang paling tinggi patuhnya kepada perintah Allah dan Rosul-Nya, merekalah orang yang paling kuat imannya..

Allah berfirman (yang artinya): “Sungguh perkataan kaum mukminin ketika diajak kepada hukum Allah dan RasulNya, tidak lain kecuali mereka mengatakan: ‘kami dengar dan kami patuh’. Mereka itulah orang-orang yang selamat..”

[Liqo bab maftuh 160].

——-

Pesan ini hanya sebagai pengingat saja.. karena di zaman ini, banyak orang ketika diingatkan untuk menjalankan suatu tuntunan agama, seringkali menjawabnya dengan mengatakan; itu kan hanya sunnah, bukan kewajiban..

Sebaliknya, kalau diingatkan meninggalkan sesuatu yang tidak baik, seringkali menjawab, itu kan hanya makruh, tidak sampai haram..

Bahkan seringkali ‘madzhab syafii’ yang sangat kita hormati, dipakai hanya untuk melegalkan melakukan sesuatu yang makruh, atau untuk meninggalkan sesuatu yang sangat dianjurkan oleh Islam..

Diingatkan untuk memanjangkan jenggot, bilangnya: “dalam madzhab Syafi’i jenggot hanya sunnah saja..!”

Dinasehati agar jangan merokok, jawabnya: “kami bermadzhab Syafi’i, rokok hanya makruh saja..”

Padahal dalam madzhab Syafii banyak yang mewajibkan memanjangkan jenggot, dan banyak juga dalam madzhab Syafi’i yang mengharamkan rokok.

Tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya.. Intinya, janganlah mencari celah untuk meninggalkan tuntunan Islam, atau untuk melakukan larangan Islam.. tapi berusahalah untuk selalu tunduk dengan motto kaum mukminin “sami’na wa atho’na”.

Semoga bermanfaat… Dan silahkan dishare..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

KESUKSESAN Bukan Ditentukan Oleh KECERDASAN…

Seorang ulama’ mengatakan:

Jika “kebesaran” seseorang ditentukan oleh KECERDASAN, tentunya kita akan memilki banyak orang besar… Namun ternyata ‘kebesaran’ itu ditentukan oleh kedisiplinan diri dan kekuatan dia dalam mengendalikan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsunya… itulah yang menghasilkan kesuksesan yang luar biasa.

———-

Dan tidak ada bukti yang lebih kuat dari kenyataan yang ada dalam kehidupan nyata dan bisa kita saksikan di sekitar kita… wallohu a’lam.

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Paradigma Yang Harus Diluruskan

Anda menang debat, belum tentu Anda yang benar.. karena bisa jadi menangnya Anda, karena lawan debat yang lemah ilmu atau lemah dalam retorika.

Ketika Anda punya dalil sangat kuat dan lawan kalah telak, bukan berarti dia akan mengikuti Anda.. karena hidayah hanya di Tangan Allah.

Saat Anda berhasil menundukkan hati mayoritas masyarakat kecil, belum tentu dakwah Anda akan aman dan lancar setelah.. karena satu penguasa bisa saja menghalangi atau mengusir Anda.

Oleh karena itu, banyaklah berdoa memohon kepada Allah, semoga dakwah tauhid dan sunnah yang Anda bawa dijaga, dimudahkan, dan diberkahi Allah ta’ala.. amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Apa Hukumnya Wanita Melihat Wajah Pria Melalui Televisi atau Melihat Secara Langsung..?

Pertanyaan di atas pernah diajukan kepada Syeikh Utsaimin -rohimahulloh-, dan beliau menjawab:

“Pandangan wanita kepada pria, tidak keluar dari dua keadaan, baik melalui layar televisi atau dengan cara lainnya.

1. Pandangan yang disertai dengan syahwat, maka ini diharamkan, karena adanya mafsadah dan fitnah di dalamnya.

2. Pandangan saja, tanpa ada syahwat dan tidak menikmati pandangan itu, maka hal ini tidak mengapa menurut pendapat yang sahih dari banyak pendapat ulama dalam masalah ini.

Pandangan seperti itu dibolehkan, karena adanya hadits yang valid dalam kitab shahihain, bahwa A’isyah -rodhiallohu anha- dahulu pernah melihat sekelompok lelaki habasyah saat mereka sedang bermain, ketika itu Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam menutupinya (*) dari mereka, dan beliau menyetujui tindakannya itu.

Dan karena para wanita biasa berjalan di pasar-pasar dan mereka biasanya melihat para lelaki meskipun para wanita itu bercadar.

Jadi, wanita itu boleh melihat pria, meskipun pria tidak boleh melihat wanita, dengan syarat tidak ada syahwat dan tidak ada fitnah.

Jika disertai adanya syahwat dan fitnah, maka pandangan itu menjadi haram, baik melalui televisi atau dengan cara lainnya.”

[Fatawa Mar’ah Muslimah 2/973]

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

(*) Mungkin maksud syeikh, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menutupi A’isyah agar tidak dilihat oleh para sahabat tapi A’isyah tetap bisa melihat mereka. (Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى)

Ada Pelacur Di Makkah : Cerminan Diri Anda…

Suatu hari seorang lelaki menemui Buya Hamka.

Kepada beliau, dengan gemas menggebu dia bercerita. “Subhanallah Buya”, ujarnya. “Sungguh saya tidak menyangka. Ternyata di Makkah itu ada pelacur, Buya. Kok bisa ya Buya? Ih. Ngeri.”

“O ya?”, sahut Buya Hamka. “Saya baru saja dari Los Angeles dan New York itu. Dan masya Allah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”

“Ah, mana mungkin Buya! Di Makkah saja ada kok. Pasti di Amerika jauh lebih banyak lagi!”

“Kita memang hanya akan dipertemukan, dengan apa-apa yang kita cari.”
tukas Buya dengan senyum teduhnya. [Copas]

——–

Terlepas benar tidaknya nukilan di atas, namun itulah kenyataannya.

Banyak yang mengkritik negara tertentu, padahal hal itu sangat sedikit dan sangat tertutup di negara itu.. tapi di sisi lain, orang tersebut memuji negaranya dengan sesuatu yang positif, padahal itu sangat sedikit di negaranya bila dibandingkan dengan negara yang dikritiknya.

Apapun yang kita cari pasti akan kita dapatkan.. kita cari yang baik, pasti akan dapat yang baik.. kalau kita cari yang buruk pun akan dapat yang buruk.

Tapi sadarlah, bila Anda melihat sesuatu yang buruk di tempat yang banyak kebaikannya, takutlah itu cerminan diri Anda.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى