Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Jenggot

Ada banyak hadits yang menerangkan anjuran untuk memendekkan dan mencukur habis kumis, dan perintah membiarkan jenggot, memanjangkannya, dan memuliakannya. Karena dalam terpeliharanya jenggot, ada nilai ketampanan dan tanda kelelakian.

Sayang banyak orang yang membalik keadaan ini. Mereka memanjangkan kumisnya dan menggundul jenggotnya atau memendekkannya, atau menyisakannya di bagian yang sempit dari wajahnya, dan itu sangat bertentangan dengan petunjuk Nabi, ikut-ikutan para musuh Allah dan Rosul-Nya, serta merendahkan diri dari martabat pria nan wibawa turun ke gaya wanita dan orang-orang rendahan, sehingga tepatlah bagi mereka ucapan seorang penyair:

“Seseorang akhirnya kalah di hari datangnya ujian kepadanya, sehingga dia melihat baik apa yang sebenarnya tidak baik.”

Pas juga perkataan penyair lainnya: “Tidak aneh bila ada banyak wanita bergaya pria. Tapi yang aneh adalah pria yang bergaya wanita. [Kitab Mulakhkhosh Fiqhi 1/29]

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله

Jangan Enggan Menyebarkan Status (Pesan) Kebaikan Kepada Orang Lain

Menyebarkan status sendiri, atau copas dari orang lain, sama-sama dapat pahala menunjukkan kebaikan. Karena sebenarnya, mereka semua sama-sama mengambil ilmu dari yang lain.

Yang satu mengambil ilmu dari ulama lain, sedangkan yang ngopas mengambil ilmu dari pembuat status. Dan dua-duanya masuk dalam sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Siapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya..” [HR. Muslim: 1893].

Ingat pula bila Anda tidak mampu menyaingi orang lain dalam membuat sendiri ‘pesan kebaikan’, maka paling tidak Anda tidak kalah dalam menyebarkannya kepada orang lain.

Mari berlomba-lomba dalam menyebarkan kebaikan. Semoga itu semua menjadi ‘tabungan kebaikan’ bagi kita semua.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ingin Dakwah Diterima ? Penuhilah Satu Syarat Ini…

Jika kita menginginkan dakwah kita diterima, tumbuhkanlah rasa takut kepada Allah dan Hari Akhir dalam hati manusia. Inilah diantara rahasia mengapa ayat-ayat yang turun di masa awal dakwah Nabi shollallohu alaihi wasallam (ketika di Makkah) banyak membicarakan tentang Neraka dan adzab Allah di hari kiamat. Ini juga yang diisyaratkan Allah dalam banyak perintahNya kepada hambaNya yang paling mulia, Muhammad shallallahu alaihi wasallam, diantaranya:

فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ

“Maka, berilah peringatan dengan Al Quran ini orang yang takut dengan ancaman-Ku.” [QS. Qof:45]

إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا

“Kamu hanyalah seorang pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepada hari kiamat.” [QS. An Nazi’at:45]

فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَىٰ * سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ * وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى * الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ * ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ

“Berilah peringatan (kepada kaummu), karena peringatan itu pasti bermanfaat.  Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Sedang orang-orang yang celaka akan menjauhinya, yaitu orang yang akan memasuki api (neraka) yang paling besar. Kemudian dia “mati tidak, hidup pun tidak” di dalamnya.” [QS. Al A’la:9-13]

Dan masih banyak ayat lain yang senada dengannya. Oleh karena itu, berikanlah perhatian khusus pada hal ini dalam berdakwah, dan yang paling membantu untuk menumbuhkan rasa takut ini adalah materi akidah dan tauhid, wallohua’lam.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Bagi-Bagi Pahala Tanpa Sadar

Seorang syeikh ditanya,

“Ada seseorang yang rajin sholat malam dan melakukan banyak amal ketaatan, tapi sayangnya ia banyak ghibah (menggunjing) orang..”

Syeikh menjawab: “Mungkin Allah memang menjadikannya beramal untuk diberikan pahalanya kepada orang lain..!”

_______

Sungguh kerugian yang nyata.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari ghibah, meski banyak yang melakukannya
dengan polesan agama. Aamiiin…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

 

Yang haram Mahal Dan Susah, Yang Halal Murah dan Mudah…

Yang HARAM saja MAHAL dan SUSAH… Tapi ternyata yang HALAL malah MURAH dan MUDAH.

* Orang yang ingin minuman keras atau obat terlarang, dia harus susah-susah cari tempat atau pengedarnya, setelah itu harus membayarnya dengan harga tinggi. Tapi sholat di masjid, itu dekat tempatnya dan semuanya gratis, malah mendapatkan pahala yang sangat besar.

* Orang yang ingin selingkuh, dia harus susah payah cari tempatnya dan sembunyi-sembunyi dalam melakukannya. Sedang menggauli isterinya yang ada di rumahnya, itu mudah, gratis, mulia, dan mendapatkan pahala.

* Orang yang ingin korupsi, dia harus capek memutar-mutar pikirannya, dan menyuap sana-sini untuk menyembunyikan dosanya. Sedang mereka yang
mencukupkan diri dengan yang halal akan berpikir positif, jujur, dan yakin bahwa akhirnya jatah rizkinya akan sampai kepadanya.

Memang, setan sangat piawai dalam menghias setiap keburukan. Jika bukan karena karunia Allah, tentu kita akan terjerumus pada setiap lubang yang digali oleh setan.

Semoga Allah melindungi kita dari godaannya, dan memberikan taufiqNya sehingga menjadi berkah umur kita di dunia. Aamin.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Pesan Untuk Sahabatku…

Wahai sahabatku…

Jika engkau melihatku dalam
kemaksiatan atau dalam kesalahan…
Nasehati aku, dan luruskan arah jalanku.

Jangan khawatir itu akan mengganggu
perasaanku, atau menyempitkan dadaku.

Aku rela merasakan sempitnya hidup
sesaat di dunia… Daripada aku rasakan
sempitnya hidup di akherat sepanjang masa.

Musyaffa’ Addariny, حفظه الله تعالى

Orang Jahil Tidak Tahu Dirinya…

Imam Dzahabi rohimahulloh:

الجاهل لا يعلم رتبة نفسه فكيف يعرف رتبة غيره؟!

“Orang jahil itu tidak tahu derajat dirinya, bagaimana ia akan tahu derajat orang lain?!”

Banyak sekali orang sekarang mengaku; “Aku hanya orang bodoh”, “Aku hanya penuntut ilmu”, “Aku hanya orang awam”,  “Aku hanya… hanya… dan hanya…”

Tapi di sisi lain, dia sangat berani dan dengan cara serampangan merendahkan para ulama Ahlussunnah…

Semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah (cobaan) tersebut… amin.

Musyaffa’ Addariny, حفظه الله تعالى

Berbaik-Sangkalah Kepada Saudaramu…

Ketika dia mengingatkanmu agar jangan melakukan ritual yang tidak dituntunkan oleh nabi tercinta shallalahu ‘alaihi wasallam, itu bukan karena dia melarangmu beribadah. Tapi agar anda selamat dari kerugian, akibat ibadah yang tidak berpahala, karena nabi shallalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka amalan itu ditolak (percuma, tanpa pahala).” [HR. Muslim]

Ketika ada orang lain mengingatkan anda agar jangan membeli emas, karena itu sebenarnya emas palsu, pantaskah anda membencinya ?

Seharusnya anda sangat berterima kasih kepadanya, dan berusaha mencari dan membeli emas yang asli. Begitu pula dalam masalah ibadah, harusnya anda berterimakasih lalu mencari dan melakukan ibadah yang benar-benar ada tuntunannya dari nabi shallalahu ‘alaihi wasallam.

Jika kita harus berhati-hati dalam masalah dunia, tentunya kita harus lebih berhati-hati dalam masalah akhirat.

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

image

Teguhlah.. Jangan Goyah

Syeikh Al-Utsaimin rohimahulloh pernah berpesan:

“Teguhlah, jangan goyah dengan banyaknya serangan yang diarahkan kepadamu, atau banyaknya celaan atas pendapatmu.. 

Selama kamu di atas kebenaran, maka teguhlah, karena kebenaran itu tidak mungkin tersingkir.. 

Setelah itu, belalah dirimu jika posisimu lemah, karena tidak ada keadaan yang lebih rendah dari tindakan membela diri. Adapun jika posisimu kuat, maka seranglah. Dan hari-hari itu akan terus berputar.. 

Tapi yang paling penting, jika posisimu lemah, kamu harus teguh, dan jangan katakan: manusia, semuanya menyelisihi pendapat itu..

Akan tetapi, teguhlah, karena Allah pasti akan menolong agamaNya, kitabNya, dan RasulNya di semua zaman.. 

Dan memang harus ada gangguan, lihatlah Imam Ahmad, dia diseret di pasar dengan hewan bagal, dan dicambuki, tapi dia tetap sabar dan teguh.. 

Dan lihatlah Syeikhul Islam, dia diarak di atas gerobak dan dijebloskan dalam penjara, tapi dia tetap teguh.. 

Selamanya tidaklah mungkin bumi bertabur banyak mawar dan bunga, bagi orang yang berpegang teguh kepada sunnah. Siapa yang menginginkan hal itu, berarti dia telah menginginkan kemustahilan..”

[Syarah Annuniyyah, Syeikh Al-Utsaimin 3/270]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

“Kafir Yang Adil Lebih Baik Daripada Muslim Yang Zalim” ?

Jangan mudah terkecoh… Jadilah muslim yang cerdas… Cobalah berpikir sejenak…

1. Siapa kafir yang adil itu, A***K kah?
Siapa muslim yang zalim itu, YU*** kah? (misal saja)

Tentunya, tidak bisa dipastikan… bahkan bisa jadi kenyataannya YU*** lebih adil dari A***k, dan kemungkinan ini juga sangat besar.

Jika demikian, berarti jargon seharusnya, “Muslim yang adil jelas lebih baik daripada kafir yang zalim”.

2. Seharusnya kaum muslimin marah dan tersinggung dengan jargon ini, karena seakan semua muslim itu zalim… dan setiap yang kafir itu adil… kaum muslimin, dimanakah harga diri kalian?

3. Jargon “kafir yang adil lebih baik … “, katanya itu perkataan sahabat Ali -rodhiallohu anhu-… Coba tanya mereka:

– Mana sanad perkataan itu kepada beliau?

Jika tidak ada, berarti perkataan itu dinisbatkan secara dusta kepada beliau… apalagi kenyataannya perkataan itu bersumber dari orang syi’ah, dan mereka banyak memalsukan perkataan sahabat Ali -rodhiallohu anhu- agar orang-orang percaya dan ikut mereka.

– Seandainya itu benar perkataan sahabat Ali -rodhiallohu anhu-… maka Ada perkataan ALLAH yang jelas-jelas membantahnya, bahkan dalam BANYAK ayat Alqur’an, diantaranya:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah kaum MUKMININ menjadikan kaum KAFIRIN sebagai pemimpin mereka, meninggalkan (pemimpin dari) kaum mukminin! Barangsiapa melakukan hal itu, maka Allah berlepas diri darinya” [Alu Imron: 28, lihat Tafsir Thobari 6/313].

Mana yang harusnya didahulukan… Tentu, tidak boleh ragu, harusnya perkataan ALLAH yang didahulukan… apalagi perkataan sahabat Ali itu tidak bersanad sama sekali.

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى