Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Saya Muslim, Saya Dukung A***K = Saya Muslim, Saya Menolak Perintah Allah…

Saya muslim, saya tolak AH***

Inilah yang harusnya dikampanyekan untuk warga Jakarta saat ini… karena melihat secara obyektif keadaannya, baik dari sisi sifat, akhlak, maupun trackrecordnya.

Kalau ada yang mengatakan “Saya muslim, saya dukung A***K”, ini sama dengan mengatakan: “Saya muslim, saya menolak perintah Allah”.

Pantaskah mengaku muslim tapi menolak perintah Allah?!

Sungguh pengakuan yang sangat kontradiktif.. harusnya dia malu kepada Allah -sebelum malu kepada manusia-, karena Islam adalah agama Allah, dan Allah yang Maha Adil telah berfirman:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah kaum MUKMININ menjadikan kaum KAFIRIN sebagai pemimpin mereka, meninggalkan (pemimpin dari) kaum mukminin! Barangsiapa melakukan hal itu, maka Allah berlepas diri darinya” [Alu Imron: 28, lihat Tafsir Thobari 6/313].

Allah yang Maha Penyayang juga berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang BERIMAN, janganlah kalian jadikan kaum yahudi dan kristen sebagai (pemimpin) yang melindungi kalian. Karena mereka itu akan saling melindungi satu sama lain. Dan barangsiapa dari kalian (yang mukmin) menjadikan pemimpin dari mereka (yang kafir), maka berarti dia menjadi bagian dari mereka” [Al-Maidah: 51, lihat Tafsir Al-Jalalain hal 146].

Wahai kaum muslimin, cerdaslah dalam melihat situasi… Wahai warga pribumi jakarta, pilihlah orang yang memperhatikan nasib kalian, jangan mudah termakan media.

Sungguh media saat ini sangat tidak berimbang… buktinya, kalian tidak akan banyak mendapatkan kampanye di media, seperti:

Saya non muslim, saya dukung YU*** (misal saja)

Saya pribumi, saya dukung YU*** (misal saja)

Wahai warga jakarta, sungguh kami sangat mengharapkan kebaikan dunia dan akhirat untuk kalian…

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Pesan Ringkas Dan Padat Bagi Pasutri

Abul Aswad Addu’ali (pencetus ilmu nahwu, wafat tahun 69 H, rohimahulloh)… ketika menikahkan putrinya beliau berpesan kepadanya:

“Muliakanlah kedua matanya, hidungnya, dan kedua telinganya.”

[Lihat kitab Mu’jamul Udaba’ 4/1467].

Tidak semua orang mampu memahaminya, karena bahasanya yang tinggi… Namun bila direnungkan, sungguh dalam pesan yang singkat itu terdapat makna yang dalam, beliau menginginkan agar putrinya tersebut, memuliakan suaminya dengan tiga hal:

1. Penampilan yang indah, agar kedua mata suaminya senang dan selalu tertarik memandangnya.
2. Parfum yang wangi, agar hidung suaminya nyaman mencium harumnya.
3. Kata-kata yang baik, agar kedua telinga suaminya terhibur dan bahagia ketika mendengarnya.

Meskipun pesan ini dikatakan Abul Aswad untuk putrinya, bukan berarti seorang suami tidak perlu melakukan hal ini… Bahkan sudah sepantasnya, seorang suami juga berusaha untuk mewujudkan isi pesan ini.

Karena Allah ta’ala telah berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Para istri itu berhak mendapatkan kebaikan, sebagaimana kebaikan yang dibebankan kepada mereka”. [Al-Baqoroh: 228].

Mari jaga jalinan suci pernikahan, dengan cara saling memuliakan… Muliakanlah dia dengan penampilan yang indah, aroma yang wangi, dan perkataan yang baik dan menghibur.

Semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bahaya Melepaskan Pandangan Tanpa Kendali

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya
bagi seorang hamba daripada tindakan
“melepaskan pandangan”, karena
sesungguhnya dia bisa menjatuhkan
seorang hamba pada keadaan “asing
yang menakutkan” antara dia dengan
Rabbnya..”

[Adda’ wad Dawa’, hal:416]

Ustadz Musyaffa’ ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Untuk Anda Yang Sedang Lelah Dan Hilang Arah

Untuk anda yang sedang lelah dan hilang arah..
==========

Hidup ini adalah PERJALANAN PANJANG, dan sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Perjalanan panjang adalah potongan dari adzab..” [HR. Bukhori dan Muslim]

Sehingga wajar bila di tengah perjalanan itu akan banyak cobaan, musibah, rintangan, hilang arah, lelah, bingung, dan seterusnya..

Oleh karenanya, bila Anda merasa bingung, lelah, tidak punya arah… maka berhentilah sejenak, istirahatkan diri, dan fokuslah untuk menguatkan diri dahulu, agar Anda menjadi kuat kembali, dan bisa meneruskan kembali sisa perjalanan Anda..

Fokuslah ketika itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, niscaya Allah akan menguatkan jiwa dan raga Anda.. Perbanyak dzikir, sholat, berdoa, membaca Alquran, dan ketaatan lainnya..

Atau bila masih bingung, fokuskan diri Anda untuk membasahi lidah Anda dengan DZIKIR, yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, sampai Anda kuat kembali..

Dan acuhkan untuk sementara urusan dengan manusia, kecuali yang darurat saja.. Karena saat Anda lelah atau lemah, Anda harus meringankan dan menurunkan beban di pundak Anda untuk sementara waktu, hingga Anda kuat kembali mengangkatnya dan berjalan lagi..

Ingatkan diri..
bahwa kita hidup di dunia bukan di surga, maka jangan harap ada kebahagiaan murni dan abadi..
sebaliknya dunia ini juga bukan neraka, maka tidak mungkin ada kesedihan dan kesengsaraan yang murni dan abadi..

Kebahagiaan dan kesedihan akan datang silih berganti, maka jangan sampai goyah dalam langkah perjalanan panjang Anda menuju surga..

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kaidah Bagus

Sebelum salam = banyak berdo’a.
Setelah salam = banyak berdzikir.

========

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- pernah ditanya:

Manakah yang lebih afdhol untuk do’a “Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik..” dibaca sebelum salam atau sesudah salam, ataukah yang lebih afdhol dibaca di dua waktu itu..?

Beliau menjawab:

Yang lebih afdhol do’a itu dibaca sebelum salam, karena seperti itulah dia datang dalam sebagian riwayat, dan karena do’a itu tempatnya sebelum salam, sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud, setelah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menyebutkan tasyahud, beliau menyabdakan: “kemudian hendaklah dia memilih sebagian do’a-do’a yang dia kehendaki..”

Berdasarkan keterangan ini, maka seorang yang sholat membaca do’a “Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik” sebelum salam.

Adapun setelah salam, apa yang Allah firmankan..?

Dia berfirman (yang artinya): “Apabila kalian telah selesai sholat, maka BERDZIKIRLAH kalian kepada Allah..” [An-Nisa’: 103]. Di ayat ini, Allah TIDAK mengatakan: “maka berdo’alah kalian kepadaNya..”

[Sumber: Liqo’ul babil maftuh 22/255].

Dalam kesempatan lain beliau juga mengatakan:

“Sesungguhnya Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah mengarahkan kita tentang waktu berdo’a di dalam sholat, beliau -‘alaihis sholatu wassalam- mengatakan saat mengajari Abdullah bin Mas’ud tentang tasyahud “kemudian setelah itu, hendaklah dia memilih sebagian do’a-do’a yang dia kehendaki..” Ini menunjukkan bahwa tempat do’a adalah sebelum salam, bukan setelahnya.

Kemudian penalaran yang lurus juga menunjukkan hal ini, yakni bahwa do’a itu waktunya sebelum salam, karena selagi engkau dalam sholatmu, maka engkau sedang bermunajat kepada Allah ‘azza wajall. Kemudian setelah engkau bersalam, maka terputuslah munajat dan hubungan antara engkau dengan Allah.

Maka, manakah yang lebih baik, berdo’a ketika engkau dalam keadaan bermunajat kepada kepada Allah… ataukah berdo’a setelah selesai sholat dan setelah hubungan itu putus..?! Tentunya keadaan pertama yang lebih baik.

Oleh karena itu, bagi yang ingin berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala, maka berdo’alah sebelum salam..”

wallohu a’lam.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Belajar BERSABAR bersama Syeikhul Islam (18-20, selesai)…

Selanjutnya yang bisa membantu orang untuk bersabar dan memaafkan orang lain adalah dengan memahami hal-hal berikut ini:

18. Bahwa sikap sabar dan memaafkan akan menjadi pasukan terkuatnya dalam mengalahkan musuhnya… terutama dari sisi perasaan lawannya.

Musuh itu akan merasa hina di hadapannya dan merasa takut kepadanya… bahkan dia akan takut kepada manusia, karena mereka tidak akan diam melihatnya, walaupun yang dizalimi mendiamkannya.

Tapi apabila dia membalas, semua ini akan hilang darinya… makanya, biasanya orang yang mencela atau mengganggu orang lain, dia akan berharap musuhnya membalasnya… bila musuhnya sudah membalas, hatinya akan tenang dan merasa terbebas dari beban yang dipikulnya sebelumnya.

19. Apabila kita memaafkan, maka musuh akan merasa bahwa kita di atasnya, dia akan melihat dirinya selalu di bawah kita… dan inilah bukti nyata dari sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam:
وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا
“Tidaklah Allah memberikan seorang hamba dari sikapnya memaafkan, melainkan kemuliaan”.

20. Jika kita memaafkan, maka itu akan menjadi kebaikan, yang nantinya akan menelurkan kebaikan lainnya, lalu kebaikan lainnya itu akan menelurkan kebaikan lainnya, dan begitu seterusnya.

sehingga kebaikannya akan selalu bertambah, karena diantara balasan dari kebaikan adalah kebaikan lainnya, sebagaimana balasan dari keburukan adalah keburukan lainnya.

Dan bisa jadi sikap sabar dan memaafkannya itu menjadi sebab selamatnya dia dari neraka, dan kebahagiaan abadinya di surga Allah ta’ala.

Jika dia membalas, maka hilanglah semua kebaikan itu darinya, wallohu a’lam.

Demikian, semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, untuk menjadi hamba yang selalu bersabar dan mudah memaafkan, serta selalu yakin dengan indahnya balasan… hingga Allah memasukkan kita semua dalam firdaus-Nya, amin.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (14-17)…

Selanjutnya yang bisa membantu orang untuk bersabar dan memaafkan orang lain adalah dengan memahami hal-hal berikut ini:

14. Dengan bersabar, orang yang mengganggu dan menyakitinya akan menyesal dengan tindakan buruknya kepada kita… bahkan dia akan malu terhadap kita, dan menjadi pembela kita… tidak hanya itu, bahkan  orang-orang akan banyak mencelanya dan membela kita yang diganggu.

15. Bisa jadi dengan balas dendam itu, lawannya akan semakin menjadi-jadi, dan mafsadahnya akan semakin besar… berbeda bila dia bersabar, kemungkinan besar dia akan aman, dan lebih ringan mudhorot yang diterima olehnya.

Tentunya orang yang berakal akan memilih mudhorot yang lebih kecil untuk selamat dari mudharat yang lebih besar.

16. Orang yang terbiasa membalas dan tidak sabar, dia pasti akan terjatuh dalam kezaliman dan melampui batas kezaliman yang dia terima… karena biasanya kemarahan yang memuncak akan menjadikan seseorang tidak memikirkan lagi apa yang dia katakan dan lakukan.

Sehingga keadaan dia yang asalnya sebagai hamba yang menunggu pertolongan Allah karena dizalimi… berubah menjadi orang yang menunggu hukuman dan kemarahan Allah karena kezalimannya.

17. Bahwa kezaliman yang diterimanya akan menjadi sebab penghapus dosa dan pengangkat derajatnya… bila dia membalas dendam dan tidak bersabar, kezaliman itu tidak menjadi penghapus dosanya, dan tidak akan menjadi pengangkat derajat bagi dia.

Karena Wanita Kami Sangat ISTIMEWA…

Sebagian orang, menganggap bahwa Islam sangat membelenggu kaum wanita, buktinya: dalam berpakaian di luar rumah mereka harus mengenakan JILBAB dan pakaian yang menutup hampir 100% tubuhnya!

Terlihat logis… Namun, sebenarnya ada sisi lain yang tidak mereka lihat atau sengaja mereka sembunyikan… coba Anda renungkan beberapa hal berikut ini:

1. Yang memerintahkan wanita kami berjilbab adalah Allah ta’ala [lihat: Surat Al-Ahzab: 59]…  Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… Maha Bijaksana dan Maha Tahu maslahat hambaNya… Pantaskah Tuhan yang demikian, menginginkan keburukan dari kebijaksanaannya untuk hamba-Nya.

Bahkan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah meyabdakan, bahwa kasih sayang Allah kepada hambaNya jauh lebih dahsyat, daripada kasih sayang seorang ibu kepada anak kecil yang disusuinya. [HR. Bukhori: 5999, Muslim: 2754].

Anda tentu YAKIN semua perintah ibu, pasti untuk kebaikan Anda, tidak mungkin bertujuan buruk… Begitu pula Allah, bahkan Dia jauh melebihi ibu Anda. Ketika Dia memerintahkan jilbab, tentu yang Dia inginkan kebaikan, bukan keburukan.

2. Lihatlah alam sekitar Anda, semua benda yang ditutupi pasti akan terjaga dan terlindungi dengan baik… dan ini adalah salah satu sisi kebaikan yang Allah inginkan dari syariat jilbab.

– Lihatlah bagaimana permen harus selalu terbungkus dengan sempurna, agar terjaga baik dan bersih. Bahkan saat terjatuh ke tanah, dia akan tetap terjaga baik.. Coba bayangkan bila dia terbuka tanpa penutup, tentunya tidak lama akan lusuh, kotor, pudar, dan rusak, bahkan walaupun belum jatuh ke tanah.

– Lihatlah buah-buahan… tanpa kulitnya, isinya akan rusak… dengan penutup itulah isinya akan terjaga dengan baik, bersih, dan segar… bahkan seringkali para petani memberi bungkusan tambahan saat masih kecil, agar ketika buah-buah itu besar dan matang, dia dalam keadaan bersih, indah, dan terjaga dari gangguan alam.

– Dan lihatlah bumi, bagaimana Allah menjaganya dengan lapisan tebal, agar terjaga dari gempuran gangguan dari luar angkasa, coba bayangkan kerusakan yang bumi alami tanpa penutup itu.

3. Memang dengan penutup jilbab/hijab, seorang muslimah tidak akan bebas bergerak di luar rumah… Namun, bila dipikir lebih dalam, bukankah dengan itu, seorang muslimah akan diposisikan sebagai seorang yang terhormat?!

– Muslimah tidak akan mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan fitrahnya yang halus dan jilbabnya yang mulia… ia akan kreatif mencari dan memilih pekerjaan yang menjaga tubuh dan agamanya, toh jatah rejeki dia sudah Allah jamin sampai kepadanya.

Bahkan sebenarnya dia tidak boleh bekerja, kecuali bila diizinkan oleh suaminya, atau ayahnya (bagi yang belum menikah), itulah Islam yang memuliakan dan memanjakan seorang muslimah.

– Muslimah tidak memerlukan banyak produk kecantikan… karena jilbabnya sudah sangat melindungi kulitnya dan menjaga dengan baik keindahannya.

Sungguh KASIHAN orang yang diperbudak setan, setelah dia buka jilbabnya, dia harus menjaga kulitnya yang terpapar sinar matahari dan polusi, dia harus menjaga rambutnya agar terus terlihat wah, model pakaiannya menjadi berlusin-lusin agar tampak istimewa… dst.

Lalu apa yang dia dapatkan setelahnya, tidak lain hanya sanjungan dari makhluk yang serba lemah dan terbatas, atau kebencian dari orang yang iri dan dengki dengan kecantikannya… Dan setelah itu semua, dia harus menanggung siksa Allah karena maksiat buka aurat dan menarik pandangan haram orang lain kepadanya, na’udzubillah.

– Dengan memakai jilbab, seorang muslimah akan banyak mendapatkan pahala… selama dia memakaikan jilbabnya, maka selama itu pula dia mendapatkan pahala… semakin tertutup rapat, pahala akan semakin besar… semakin berat cobaan dari lingkungan sekitar, semakin berat juga timbangan pahalanya.

Jilbab adalah keistimewaan bagi wanita kami… mereka menjadi terhormat di mata manusia, dan semakin mulia di sisi Allah ta’ala.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Jilbab = Budaya Arab, Bukan Syariat Islam…?

Jilbab = budaya Arab, bukan syariat Islam…?

Pertanyaan di atas bisa benar bila jawaban yang tepat untuk pertanyaan berikut ini “TIDAK”

Apakah Allah ta’ala memerintahkan untuk memakai jilbab ?

Jika Anda menjawab “tidak”, maka silahkan mengatakan bahwa Jilbab bukan Syariat Islam… Tapi bila jawaban Anda “ya”, maka konsekuensinya, Anda harus katakan bahwa itu Syariat Islam.

Karena, termasuk diantara CIRI yang membedakan antara syariat dengan adat adalah adanya perintah yang memberatkan seorang hamba, sehingga dia pantas mendapatkan pahala dengan mentaatinya.

Dan jelas, jilbab merupakan sesuatu yang memberatkan seorang muslimah, baik di zaman dahulu maupun di zaman sekarang.

Lalu adakah Allah ta’ala memerintahkannya ?

Simaklah firman Allah ta’ala berikut ini:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

“Wahai Nabi (Muhammad), perintahkanlah kepada para isterimu, kepada putri-putrimu, dan kepada wanita-wanita kaum mukminin, agar mereka menjulurkan ke seluruh tubuh mereka jilbab-jilbab mereka”. [Al-Ahzab: 59].

Cobalah direnungkan, bila jilbab itu adat Arab, untuk apa Allah memerintahkannya ?

Pantaskah memerintahkan sesuatu yang sudah dilakukan, bahkan menjadi adat kebiasaan masyarakat ?

Jika jilbab itu benar adat Arab dan bukan Syariat Islam, harusnya redaksi ayatnya berupa KABAR tentang adat jilbab di zaman beliau, bukan berupa PERINTAH untuk mengenakan jilbab, wallohu a’lam.

Semoga uraian di atas bermanfaat dan bisa dipahami dengan baik.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Transgender : Gender Imitasi…

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Ustadz, Ada seorang teman bertanya: Beberapa hari yang lalu ada pembahasan tentang LGBT di salah satu TV swasta. Salah satu yang bikin menarik adalah fakta yang disampaikan oleh si narasumber (yang mengaku gay), bahwa karena para waria ditolak beribadah di masjid umum, sehingga mereka membangun masjid sendiri. Bukan bermaksud menilai ibadah orang lain, tapi apakah sah shalat para kaum lgbt, dalam hal ini orang-orang transgender? (seperti bencong di Indonesia). Trus bagi masjid yang menolak mereka untuk beribadah, apakah hal tersebut dibenarkan? Demikian ummi, terima kasih. Mohon penjelasannya ust.

———–

Jawaban:

Bismillah, was sholatu wassalamu ala rosulillah, amma ba’du:

Pertanyaan di atas, bisa dijawab dengan beberapa poin berikut ini:

1. Transgender, atau mengubah jenis kelamin adalah dosa besar, pelakunya dilaknat oleh syariat… Meskipun demikian, dosa besar ini tidak sekaligus mengeluarkan seseorang dari Islam… sehingga orang yang ber-transgender, bukan berarti langsung murtad… karena itu bukan dosa kekufuran, wallohu a’lam.

2. Gender adalah kehendak Allah yang tidak bisa diubah sama sekali… Dia tidak hanya terbatas pada alat vital dan bentuk lahir tubuh… tapi dia adalah keseluruhan jiwa dan raga seseorang… bahkan tidak bisa dipungkiri, perbedaan RAGA antara pria dan wanita tidak hanya pada bagian-bagian yang tampak secara kasat mata saja.

Sehingga bukan berarti ketika Mr.P dihilangkan dan diubah menjadi Ms.V, orang tersebut menjadi wanita… sebaliknya bukan berarti ketika Ms.V menjadi Mr.P, orang tersebut menjadi pria.

Manusia adalah makhluk yang terbatas… tidak semua yang dia lakukan, bisa mengubah hakekat sesuatu… Ada hal-hal yang tidak mungkin diubah oleh manusia.

Bisa diambil contoh ketika manusia ingin mengubah dirinya menjadi kera, atau orang utan… apapun operasi yang dia lakukan untuk menjadikan dirinya kera atau orang utan, itu tidak akan mengubah hakekat dia sebagai manusia.

Contoh lain, orang yang dilahirkan sebagai anak pak selamet… apapun yang dia lakukan dengan usaha bagaimanapun, itu tidak akan bisa menjadikan dirinya menjadi anaknya pak rahmat.

Contoh lagi, orang yang dilahirkan dengan darah bangsawan, apapun yang dilakukannya, tidak akan mengubah garis keturunannya sama sekali, karena itu semua sudah ketentuan Allah dan Dia maha melakukan apa yang Dia kehendaki.

Begitu juga dengan gender, apapun yang dilakukan oleh manusia dengan tubuhnya… itu tidak akan mengubah hakekat gender yang telah diputuskan Allah untuknya… yang terlahir sebagai pria, maka selamanya, hakekat dirinya adalah pria… dan yang terlahir sebagai wanita, maka selamanya hakekat dirinya adalah wanita.

Memang benar, dia bisa mengelabui mata, sehingga sekilas tampak sebagai wanita… tapi itu hanya tipuan saja… hakekat dirinya tidak akan berubah sama sekali.

Jadi, status orang yang ber-transgender itu dikembalikan kepada asal gender dia saat dilahirkan… yang asalnya pria, dihukumi sebagai pria… yang asalnya wanita dihukumi sebagai wanita.

3. Shalat orang yang ber-transgender tetap sah, selama ikhlas dan memenuhi syarat dan rukunnya.

Tapi yang perlu ditekankan di sini, bahwa syarat rukun ini berdasarkan hakekat gender dia… bukan gender buatan atau gender tipuan dia… sehingga yanh hakekat dirinya pria, maka harus shalat bersama jama’ah pria dan sesuai cara shalat jama’ah pria… dan yg hakekat dirinya wanita dia harus shalat bersama jama’ah wanita dan sesuai cara shalat jama’ah wanita.

Tidak dibolehkan bagi siapapun untuk menyerupai lawan jenisnya… baik yang sudah ber-transgender ataupun yang belum… baik dalam berpakaian, atau dalam gaya bicara, atau dalam gerak-geriknya… baik itu dilakukan dengan bercanda ataupun dengan sungguh-sungguh… karena semua tindakan menyerupai lawan jenis dilaknat oleh Syariat Islam.

4. Masjid yang menolak mereka yang ‘bergender imitasi’ untuk beribadah di dalamnya, ada dua kemungkinan:

a. Jika menolak sama sekali… ini tidak bisa dibenarkan, karena mereka masih berkewajiban shalat… Asalkan mereka memakai pakaian yang sesuai dengan hakekat gendernya, dan memasuki ruangan masjid yang sesuai dengan hakekat gendernya, maka tidak ada alasan untuk melarang mereka beribadah di dalam masjid.

b. Jika masjid menolak mereka, karena mereka memang tidak mau ditertibkan… hakekatnya pria, tapi masuk ke ruangan wanita… begitu pula sebaliknya, hakekatnya wanita, tapi masuk ke ruangan pria, maka melarang mereka dalam keadaan seperti ini sangat dibenarkan… bahkan diwajibkan dalam Islam… dan kasus inilah yang banyak terjadi di lapangan. wallohu a’lam.

5. Adanya masjid khusus untuk mereka yang ber-transgender, ini adalah kemungkaran yang harus dihilangkan… karena hal itu akan menumbuh-suburkan kebiasan yang telah dilaknat Allah… apalagi tentunya dalam masjid itu akan terjadi hal-hal yang terbalik dan bertentangan dengan aturan ibadah dalam Islam… jama’ah yang hakekatnya wanita, shalat dengan tata cara shalatnya pria… sebaliknya jama’ah yang hakekatnya pria, shalat dengan tata cara shalatnya wanita… maka kerusakan apalagi yang lebih dahsyat dari ini. wallohul mustaan.

wallohu a’lam.

Demikian, semoga penjelasan di atas jelas dan bermanfaat.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى