Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?!… Siapa Yang Akan Tertarik Menikahinya….?!

Tidak bisa dipungkiri, banyak orang tua yang punya kekhawatiran seperti ini… memang secara kasat mata, hal tersebut tampak wajar, karena begitu rusaknya lingkungan masyarakat sekarang ini.

Kalau dahulu, muda-mudi malu bila ketahuan berpacaran… sekarang keadaan menjadi terbalik, muda-mudi akan malu bila tidak punya pacar… semoga Allah memperbaiki keadaan ini, dan melindungi keluarga kita dari perbuatan zina, amin.

Namun, bila kita lihat masalah ini dari kaca mata iman, maka sungguh tidak ada alasan bagi orang tua utk khawatir, mari perhatikan beberapa poin berikut ini:

1. Bahwa mendapatkan suami, merupakan bagian dari takdir Allah… dan Allah sudah menentukan takdir itu sebelum anak Anda dilahirkan… sehingga apapun yang terjadi, memakai jilbab syar’i atau tidak, semuanya akan berjalan sebagaimana tulisan takdir Allah.

2. Ingatlah, bahwa sebuah barang akan laris sesuai minat pembelinya… anak yang baik dan taat berhijab, akan diminati oleh orang yang agamanya baik… sebaliknya anak yang mengumbar aurat dan tidak peduli agama, dia akan diminati oleh pemuda yang buruk agamanya… maka sebagai orang tua, Anda bisa memilih manakah pangsa pasar yang Anda inginkan untuk putri kesayangan Anda.

3. Pacaran adalah musibah yang sangat besar bagi muda mudi… yang paling kasihan adalah wanita… seringkali kehormatan wanita dalam pacaran tidak dihargai sama sekali, bahkan seringkali pelacur lebih dihargai daripada wanita yang dipacari.

Apalagi jika terjadi kehamilan, justeru wanita dan keluarganya akan menanggung biaya yang besar, sekaligus rasa malu seumur hidupnya.

4. Syariat Islam telah memberikan banyak solusi untuk mencarikan suami bagi putri kita, diantaranya:

a. Orang tua yang mencarikan suami untuk putrinya… sebagaimana Allah kisahkan dalam Alquran, ketika calon mertua Nabi Musa menawarkan putrinya untuk dia pinang.

Dan hal ini juga bisa dilakukan oleh saudaranya, atau teman wanitanya, atau orang lain yang bisa membantu dia mencarikan calon suami yang baik.

b. Ketika seorang putri tertarik kepada seorang pemuda, maka tidak mengapa dia meminta kepada ayahnya untuk menawarkan dirinya kepada pemuda tersebut… Ini juga yang disebutkan oleh Allah dalam kisah Nabi Musa. Ternyata calon isterinyalah yang meminta ayahnya agar menawari Nabi Musa untuk mau meminangnya dengan syarat yang diajukan.

c. Dibolehkan juga bagi seorang wanita untuk menawarkan dirinya sendiri kepada seseorang yang dia inginkan, tentunya dengan syarat hal itu tidak menimbulkan fitnah dan keburukan.

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh seorang sahabat wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam… dan beliau tidak mengingkari tindakannya tersebut… ini menunjukkan bahwa hal itu boleh dilakukan.

Intinya, jilbab yang syar’i bukanlah penghalang bagi putri Anda mendapatkan suami… bahkan sebaliknya, jilbab itulah yang menjadikan putri Anda pantas mendapatkan suami yang baik agamanya… suami yang bisa menuntunnya menuju surga dan selalu berdoa untuk kebaikan Anda sebagai mertuanya.

Perlu juga diingat, bahwa seorang ortu haruslah sadar, bahwa termasuk diantara hak putrinya adalah dicarikan suami yang saleh, maka tunaikanlah hak ini, dan berusahalah sebaik mungkin untuk putri Anda, karena dialah nantinya yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan Anda. Wallohu a’lam.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

image

Kaya, Tapi Zuhud – Miskin, Tapi Gila Harta.. Mungkinkah..?

Itu sangat mungkin.. bagaimana bisa demikian..? Mari simak pemaparan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini :

“Ketika harta berada di tanganmu, bukan di hatimu, dia tidak akan membahayakanmu, walaupun jumlahnya banyak.

Sebaliknya, ketika harta itu di hatimu, dia akan membahayakanmu, walaupun harta itu tidak ada sedikitpun di tanganmu.

Imam Ahmad pernah ditanya: ‘Bisakah seseorang menjadi zuhud, padahal dia memiliki seribu dinar..?’

Beliau menjawab: ‘Ya, (bisa saja), asalkan dia tidak senang bila harta itu bertambah, dan dia tidak sedih bila harta itu berkurang..’

Oleh karenanya para sahabat menjadi orang yang paling zuhud terhadap harta yang ada di tangan mereka.

Sufyan Ats-Tsauri juga pernah ditanya: ‘Bisakah orang yang kaya menjadi zuhud..?’

Beliau menjawab: ‘Ya (bisa saja), yaitu jika saat hartanya bertambah dia bersyukur, dan saat hartanya berkurang dia juga bersyukur, dan bersabar..’

[Sumber: Madarijus Salikin 1/463].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

image

MUTIARA SALAF : Kerugian Yang Besar

Imam Auza’i rohimahullah berkata,

“Tidaklah waktu demi waktu di dunia ini melainkan akan ditampakkan kepada seorang hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, bahkan detik demi detik.

Dan tidaklah berlalu satu detik saja sedang dia tidak berdzikir mengingat Allah ta’ala, melainkan akan tercabik-cabik
hatinya karena merasa rugi.

Lalu bagaimana dengan orang yang detik demi detik, hari demi hari, dan malam demi malam berlalu sedang dia tidak berdzikir mengingat Robbnya..?!”

[Kitab: Hilyatul Auliya’ 6/142]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Sunnah Dalam Sholat Yang Banyak DILUPAKAN

Ada sebuah do’a di dalam sholat yang sangat Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tekankan untuk dibaca di akhir sholat, namun banyak dari kaum muslimin yang melupakannya.

Doa tersebut ada dalam penggalan hadits berikut ini:

Dari Sahabat Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah memegang tangannya, dan beliau mengatakan :

“Ya Mu’adz, demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu..”

Kemudian beliau mengatakan: “Aku wasiatkan kepadamu ya Mu’adz, jangan sekali-kali kamu meninggalkan membaca (do’a ini) di akhir SETIAP sholat:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

ALLAAHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK
(Ya Allah, bantulah aku dalam berdzikir kepada-Mu, dalam mensyukuri-Mu, dan dalam membaikkan ibadah kepada-Mu)

Dan Mu’adz pun setelah itu mewasiatkan do’a ini kepada Ash-Shunabihi (orang yang dicintainya). [HR. Abu Dawud: 1522, hadits ini shohih].

Subhanallah, lihatlah bagaimana beliau ingin agar do’a ini benar-benar diamalkan oleh Mu’adz… sampai-sampai beliau mengutarakan kecintaannya kepada Mu’adz dengan 5 penekanan :

1. Bersumpah dengan nama Allah.
2. menggunakan kata “Innii” (sesungguhnya aku).
3. menggunakan kata “la-uhibbuk” (benar-benar mencintaimu).
4. Mengulangi sumpah dan ungkapan cinta itu sebanyak dua kali.
5. Menyebut nama Mu’adz sebagai penegas sasaran seruan beliau.

Dan beliau juga memberikan 3 penekanan lain pada sabda beliau ini, yaitu:
1. Menggunakan redaksi wasiat “uushiika..”
2. Menggunakan nun taukid: “la tada’anna” (jangan sekali-kali engkau meninggalkan)
3. Penegasan bahwa itu di SETIAP sholat “kulli sholah..”

Tentunya ini semua menunjukkan betapa pentingnya do’a ini dalam kehidupan ummatnya… jika demikian, sudahkah Anda mengamalkannya..?!

Mari amalkan sunnah ini di setiap akhir sholat kita… Ingat, amal Anda adalah untuk Anda sendiri…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

NB : Do’a ini dibaca di penghujung setiap sholat (antara sesudah tasyahud akhir dan sebelum salam) .. baik di sholat sholat fardhu maupun di  sholat sholat sunnah.

APAKAH MEMBACA PUJIAN KEPADA ALLAH DAN BERSHOLAWAT DAHULU SEBELUM MEMBACA DO’A DI DALAM SHOLAT (SAAT SUJUD DAN SEBELUM SALAM)..?

simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
.
https://bbg-alilmu.com/archives/33201

 

 

Sunnah Yang Banyak Ditinggalkan

Mungkin banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengamalkan sunnah ini atau bahkan tidak kenal dengan sunnah ini sama sekali, padahal dahulu Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wasallam- selalu membacanya dalam sholat sebelum salam.

Sahabat Ali bin Abi Tholib -rodhiyallohu ‘anhu- mengatakan: “bacaan paling akhir yang dibaca Beliau diantara tasyahud dan salam adalah:

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

ALLAHUMMAGH-FIR LII
MAA QOD-DAMTU
WA MAA AKH-KHORTU,
WA MAA ASRORTU
WA MAA A’LANTU,
WA MAA ASROFTU
WA MAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII,

ANTAL MUQODDIMU
WA ANTAL MUAKH-KHIRU,
LAA ILAAHA ILLAA ANTA

(Ya Allah, ampunilah aku, karena dosa yang kulakukan dahulu dan yang kulakukan belakangan, dosa yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, dosa dari perbuatanku yang melampui batas dan dosa yang Engkau lebih tahu daripada diriku. Engkaulah Dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau)

[HR. Muslim: 771].

Kalau Anda sudah menghapalnya, maka mulailah untuk mempraktekkannya… Beliau yang maksum saja selalu membaca do’a ini, bagaimana dengan kita…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

 

Salah Satu Sisi Hakikat Dunia

Salah satu sisi hakikat dunia…

1. Sebelum mendapatkannya, harus banting tulang untuk mengumpulkannya. Bahkan banyak yang harus melabrak aturan Allah ta’ala.

2. Ketika menikmatinya, harus hati-hati menjaganya, agar tidak cepet rusak atau hilang atau dibegal dst. Atau bahkan harus disembunyikan karena takut dicuri atau kena lain dst.

3. Setelah itu, dia pasti akan sirna dan fana. Dan menyisakan tanggung-jawab di pundak kita, baik di alam kubur maupun di alam akherat kelak.

——

Jika demikian, pantaskah kita dilalaikan olehnya. Pantaskah kita menggunakan segala cara untuk mendapatkannya.

Padahal Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda,

“Sungguh seseorang tidaklah akan mati, hingga RIZKINYA disempurnakan, maka bertakwalah kalian kepada Allah, dan carilah cara yang baik dalam mendapatkannya..” (HR. Ibnu Majah – dishohihkan oleh Syeikh Albani)

Jika yang menggunakan cara halal dan cara haram sama-sama akan disempurnakan rizkinya, tanpa berkurang dan tanpa bertambah sedikitpun, mengapa memilih cara yang haram..?

Ya Allah, lindungilah kami dari godaan setan yang terkutuk. Semoga bermanfaat…

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jika Ingin Tahu KECINTAAN Kepada ALLAH Yang Ada Pada Dirimu

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan:

“Jika kamu ingin tahu KECINTAAN kepada ALLAH yang ada pada dirimu maupun orang lain, maka lihatlah kecintaan hatimu kepada ALQUR’AN, dan (apakah) kelezatanmu dalam mendengarkannya melebihi kelezatan para penyanyi dan penari mendengarkan musik.

Karena sudah dimaklumi bahwa orang yang mencintai idolanya, maka perkataan dan ucapannya akan menjadi sesuatu yang paling dia cintai, sebagaimana dikatakan (dalam sebuah syair):

‘Jika kamu mengaku mencintai-Ku, lalu mengapa kamu menjauhi kitab-Ku..?!

Tidakkah kamu merenungkan (dan merasakan) kelezatan perkataanku yang ada di dalam kitab-Ku..?!’

Sahabat Utsman bin Affan juga mengatakan: ‘Seandainya hati kita bersih, tentunya dia tidak akan kenyang dengan kalamullah’

Bagaimana pecinta akan kenyang dengan ucapan orang yang dicintainya, yang dia adalah tujuan akhir yang dicarinya..?!”

[Kitab: Adda’ wad Dawa’, Ibnul Qoyyim, hal: 258]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Renungan

Allah merahasiakan diterimanya sebuah amalan, agar hati kita selalu khawatir.

Dia juga selalu membuka pintu taubat, agar kita selalu punya harapan.

Dan Dia menjadikan penentu status seseorang pada amalan penutup hidupnya, agar tidak seorang pun tertipu dengan amalnya.

Seandainya paras dan ragamu lebih penting dan berharga dari ruhmu, tentunya ruh tidak naik ke langit, sedang raga harus dikubur dalam tanah.

Betapa banyak orang terkenal di muka bumi, namun ia tidak dikenal di penghuni langit.

Sebaliknya, betapa banyak orang tak dikenal dibumi, namun ia dikenal baik oleh penghuni langit.

Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah kekuatan takwa, bukan kekuatan raga.

Maka lihatlah kedudukanmu di sisi Allah, dan tinggalkan penilaian manusia.

[Sumber dari pesan berbahasa arab]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Renungan

Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat, ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..

Aku melihat hidup teman-temanku tak ada duka dan kepedihan, ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri..

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian, ternyata ia begitu menikmati badai ujian dalam kehidupannya..

Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna, ternyata ia hanya berbahagia menjadi apa adanya..

Aku melihat hidup tetanggaku beruntung, ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung..

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui.. ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmatMu.. bahwa di belahan dunia lain masih ada yang belum seberuntung yang aku miliki saat ini..

Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa Allahu Rabbi tak pernah mengurangi ketetapanNya.. hanya aku lah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan Ilahi..

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain..

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku.. Tapi rezekiku tahu dimana diriku..

Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah Ta’ala telah memerintahkannya menuju kepadaku.. Allah Ta’ala menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku..

Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja.. karena bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..

Mereka lupa bahwa hakekat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya..
Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki sang bayi, Ismail ‘alayhissalam

Ikhtiar itu perbuatan..
Rezeki itu kejutan..

Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rezeki akan ditanya kelak..
“Darimana dan digunakan untuk apa”
Karena rezeki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik“…

Halalnya saja dihisab..dan haramnya diadzab..!

Maka, aku tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain..

Bila aku iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya..

Astaghfirullah..

#copas

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Pilihlah Calon Ibu Yang Salehah Untuk Anak Kita…

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Aqil mengatakan:

Sebab pertama yang dapat menjadikan anak-anak kita saleh adalah dengan banyak berdoa untuk mereka di penghujung malam dan siang.

Sebagaimana Allah kisahkan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

“Ya Rabb, jadikanlah aku seorang yang mendirikan shalat, begitu pula keturunanku”.

Demikian juga do’a beliau:

“Dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari tindakan menyembah berhala”.

Ini harus dilakukan setelah engkau memilihkan untuk mereka ibu yang SALEHAH, bukan ibu yang cantik.

Karena anakmu tidak peduli apakah ibunya cantik atau tidak, ia selamanya tidak memperdulikan hal itu.

Dia ibunya, ya ibunya (bagaimanapun parasnya).

Tapi, apabila ibunya salehah, anak akan menjadi bangga karenanya, dia akan menjadi bangga sekali.

Oleh karenanya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan: “Pilihlah isteri yang agamis, engkau akan beruntung”.

http://safeshare.tv/w/iQkCAzQkwB