Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

13 Perkara ‘JANGAN MENUNGGU’ Yang Perlu Diperhatikan

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka engkau akan bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka engkau akan semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka engkau akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru engkau peduli, tapi pedulilah dengan orang lain..! Maka engkau akan dipedulikan.

5. Jangan menunggu orang memahamimu. baru engkau memahami dia, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu akan paham denganmu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. Tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu projek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka projek akan menunggumu.

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka engkau akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan sekadar uang yang datang tapi juga rezeki yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka engkau akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah, maka akan bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah..! maka engkau tentu bisa..!

13. Jangan menunggu waktu luang untuk ber-Ibadah. Tapi luangkan waktu untuk ber-Ibadah.

Dan.. Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan tulisan ini kepada semua orang yang engkau kenal..

Sehingga kita semua tersadar .. Amin.

Diposting ulang oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Untuk Kaum Syiah Di Hari Asyuro 10 Muharrom…

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

1. Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menganjurkan puasa di hari Asyuro adalah untuk bersyukur dan berbahagia atas agungnya nikmat Allah kepada Nabi Musa di hari itu, mengapa kalian malah memperingatinya dengan kesedihan?!

“Saat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- datang di Madinah, beliau mendapati Kaum Yahudi berpuasa di Hari Asyuro’, maka beliau bertanya kepada mereka: ‘Hari apakah ini, yang kalian berpuasa di dalamnya?’.

Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang agung, di dalamnya Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, maka Musa pun berpuasa untuk MENSYUKURINYA, maka kami berpuasa di dalamnya’.

Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan: ‘Kami lebih berhak dan lebih pantas MENGIKUTI Musa daripada kalian!’, maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- berpuasa di dalamnya, dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa di dalamnya”. [HR. Muslim: 1130].

2. Jika mereka mengatakan, kami memperingati kematian Husein di Karbala pada hari itu.

Kita katakan: Jika setiap imam yang mati diperingati hari wafatnya, mengapa kalian tidak memperingati hari wafatnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, hari wafatnya Ali, Hasan, dan imam-imam kalian lainnya sebagaimana cara kalian memperingati wafatnya Husein?!

Bahkan Ali bin Abi tholib juga wafatnya secara syahid dan dibunuh dengan kejam, namun Hasan dan Husein tidak pernah memperingati hari wafat ayahnya dg kesedihan sebagaimana kalian.

3. Jika mereka mengatakan: karena Husein dibunuh dengan cara sadis.

Kita katakan: Bukankah Hamzah bin Abdul Muttolib juga dibunuh di peperangan, dia juga dimutilasi dengan sadis setelahnya… mengapa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak memperingati hari wafatnya dengan kesedihan?! Bahkan kalian juga tidak memperingati hari wafatnya dengan kesedihan dan melukai badan?!

Wahai Kaum Syiah… Berpikirlah dengan hati nurani kalian saat menyaksikan ritual menyakiti tubuh, menampar pipi, memukul dada dst… dan tanyalah diri Anda, pantaskah itu sebagai Ajarannya Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- yang diutus sebagai RAHMATAN LIL ALAMIN?!

Semoga Allah mengembalikan kalian kepada Ajaran Nabi-Nya yang benar…

Dunia Yang Untuk Anda, Bukan Anda Yang Untuk Dunia..!

“Sungguh mengherankan; jika manusia mengejar dunia yang diciptakan untuknya, hingga seakan-akan dia yang diciptakan untuknya -wal iyaadzu billah-, dia melayani dunia dengan pelayanan yang luar biasa, dia memforsir badannya dan pikirannya, (mengorbankan) kesantaiannya dan waktu bersama keluarganya (untuk dunia).

Lalu apa (hasilnya)..?

Bisa jadi dia kehilangan dunia itu dalam sekejab..! Bisa jadi dia keluar dari rumahnya lalu tidak kembali lagi.. tidur di atas ranjangnya, lalu tidak bangun lagi.. dan ini nyata adanya.

Dan mengherankannya lagi, fenomena-fenomena ini kita saksikan, tapi hati-hati ini keras.

Kita menyaksikan seorang yang akad nikah dengan seorang perempuan, lalu meninggal sebelum dia menggaulinya, padahal dia sangat berhasrat dan telah lama menginginkannya, namun kematian menghalanginya.

Kita melihat banyak orang yang surat-surat undangan pernikahannya sudah bersama mereka, lalu mereka meninggal padahal si pengantin wanita masih di mobil mereka.

Jadi, apa gunanya dunia jika sampai seperti ini dalam menipu..?

Oleh karena itu, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam -yang sangat penyayang, sangat penyantun, dan sangat simpati terhadap kaum mukminin- telah mengabarkan; bahwa beliau khawatir terhadap kita, bila dunia ini dibuka untuk kita, sehingga kita saling berlomba untuk mendapatkannya, dan inilah yang terjadi.

Maka waspadalah saudaraku, jangan sampai kehidupan dunia ini menipumu, dan jangan sampai pula (setan) penipu mengelabuimu.

Bila Allah meluaskan rizkimu dan kamu bersyukur, maka itulah yang baik bagimu, sebaliknya bila Dia menyempitkan rizkimu dan kamu bersabar, maka itulah yang baik bagimu.

Adapun menjadikan dunia sebagai target utamamu dan tujuan akhir ilmumu, maka ini adalah kerugian di dunia dan di akherat.

Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari berbagai cobaan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

[Oleh: Syeikh Utsaimin, Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/687].

Diterjemahkan oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Perumpamaan Orang Yang TERGODA Dengan Dunia

Ada sesendok madu yang jatuh ke lantai, lalu datanglah semut mencicipinya dari PINGGIRNYA.. setelah itu dia pergi meninggalkannya.

Namun rasa madu itu terlalu nikmat baginya, maka dia pun kembali untuk melahapnya.. kemudian dia berusaha meninggalkannya lagi.

Belum jauh dia meninggalkannya, dia merasa belum cukup dengan apa yang dinikmatinya dari PINGGIRAN madu itu, akhirnya dia pun memutuskan masuk ke TENGAH madu itu untuk menikmati manisnya lebih banyak lagi.

Maka sampailah dia di pertengahannya, dan mulai menikmati manisnya madu itu dengan lebih leluasa…

Tapi, ketika dia ingin keluar, ternyata dia tidak bisa, kaki-kakinya telah masuk lengket dalam madu itu… dan keadaannya terus seperti itu hingga dia mati.

========

Begitulah dunia, manisnya akan terus menggoda… jangan sampai kita terlena dengannya.

Tapi, gunakanlah dia untuk mendapatkan PAHALA akherat, bukan HANYA untuk menikmatinya SAJA.

Semoga kita selalu mendapat taufiq-Nya dalam memperlakukan dunia.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Baca Cepat Dapat Banyak… Atau Baca Dengan Tartil Tapi Dapat Dikit ?!

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Orang-orang berbeda pendapat tentang mana yang lebih afdhol, apakah membaca (Alqur’an) dengan tartil tapi yang dibaca menjadi sedikit, ataukah membaca dengan cepat sehingga yang dibaca menjadi banyak? Ada dua pendapat dalam hal ini:

(Pendapat Pertama):

Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas -rodhiallohu anhuma- dan yang lainnya berpendapat: bahwa membaca dengan tartil dan tadabbur dengan kuantitas bacaan yang sedikit; lebih afdhol daripada bacaan yang cepat dengan kuantitas banyak.

Mereka yang memilih pendapat ini berhujjah; karena tujuan membaca (Alqur’an) adalah memahaminya, mentadabburinya, mendalaminya, dan mengamalkannya. Adapun membaca dan menghapalnya adalah wasilah (yang mengantarkan) kepada makna-maknanya, sebagaimana sebagian ulama salaf mengatakan:

“Alqur’an itu turun untuk diamalkan, maka buatlah bacaannya menjadi amalan”.

Oleh karenanya, (yang disebut) Ahlul Qur’an adalah mereka yang mengetahui isinya dan mengamalkannya, meskipun mereka belum menghapalnya di luar kepala.

Adapun orang yang telah menghapalnya, namun tidak mengamalkan isinya; maka dia bukanlah Ahlul Quran, meskipun dia telah menegakkan huruf-hurufnya setegak busur panah.

Mereka (juga) berdalil: karena iman adalah amalan yang paling afdhol, sedang memahami dan mentadabburi Alqur’an itulah yang membuahkan keimanan.

Adapun hanya membacanya tanpa memahami dan mentadabburinya, maka itu bisa dilakukan oleh orang yang baik dan orang yang buruk, bisa dilakukan oleh orang mu’min dan orang munafik, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-

مثل المنافق الذي يقرأ القرآن، كمثل الريحانة، ريحها طيب، وطعمها مر

“Perumpamaan orang MUNAFIK yang membaca Alqur’an , seperti tumbuhan rehanah (kemangi), baunya enak, tapi rasanya pahit”.

Dan manusia dalam hal ini ada empat tingkatan: (a) Ahli Qur’an dan Iman, inilah manusia yang paling utama. (b) Orang tidak Ahli Qur’an dan Iman. (c) Orang yang diberi hapalan Qur’an, tapi tidak diberi keimanan. (d) Orang yang diberi keimanan, namun tidak diberi hapalan Qur’an.

Mereka mengatakan: Sebagaimana orang yang diberi keimanan tanpa hapalan Qur’an itu lebih utama daripada orang yang diberi hapalan qur’an tanpa keimanan, maka begitu pula orang yang diberi (kelebihan) mentadabburi dan memahami isi Alqur’an saat membacanya itu lebih utama daripada orang yang diberi (kelebihan) banyak dan cepat dalam membaca tapi tanpa tadabbur.

Mereka juga berdalil: bahwa inilah petunjuk Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, sungguh beliau dahulu membaca Surat Alqur’an dengan tartil sehingga surat itu menjadi lebih panjang dari surat yang lebih panjang darinya. Beliau juga pernah sholat malam dengan SATU AYAT hingga pagi tiba.

(Pendapat Kedua):

Sedang para sahabatnya Imam Syafi’i -rohimahulloh-, mereka mengatakan: Bacaan yang banyak lebih utama, sebagaimana haditsnya Ibnu Mas’ud -rodhiallohu anhu-, bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

من قرأ حرفا من كتاب الله، فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، لا أقول: الم حرف، ولكن ألف حرف، ولام حرف، وميم حرف

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabulloh; maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dengan pahala sepuluh kali lipatnya, aku tidak mengatakan: Alif Lam mim, itu satu haruf, namun Alif itu satu huruf, Lam itu satu huruf, dan Mim itu satu huruf”. (HR. Attirmidzi dan dia menshahihkannya).

Mereka juga berdalil: karena Utsman bin Affan membaca Alqur’an (30 juz) dalam satu rekaat, dan mereka atsar-atsar dari banyak generasi salaf tentang banyaknya bacaan qur’an mereka.

Yang benar dalam masalah ini adalah dengan dikatakan:

bahwa pahala bacaan dengan tartil dan tadabbur itu lebih agung dan mulia kedudukannya, sedang pahala bacaan yang banyak itu lebih banyak jumlahnya.

Maka, orang yang pertama itu seperti orang yang bersedekah dengan permata yang berharga tinggi, atau orang yang memerdekakan budak yang harganya mahal sekali. Sedang orang yang kedua itu seperti orang yang bersedekah dengan dirham yang banyak, atau orang yang memerdekakan beberapa budak yang harganya murah.

Disebutkan dalam Shohih Bukhori, bahwa Qoatadah mengatakan: Aku telah bertanya Anas tentang bacaannya Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Maka dia menjawab: “Beliau dahulu benar-benar memanjangkan bacaannya”.

Syu’bah mengatakan: Abu Jamroh mengatakan kepada kami: aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa aku orang yang cepat membaca, bisa saja aku membaca Qur’an dalam semalam; sebanyak sekali atau dua kali. Maka Ibnu Abbas mengatakan: “Sunguh bila aku membaca satu surat saja, itu lebih aku senangi, daripada aku melakukan apa yang kamu lakukan itu. Jika kamu harus melakukannya, maka bacalah dengan bacaan yang didengar kedua telingamu, dan dipahami oleh hatimu!.

Ibnu Mas’ud mengatakan: “Janganlah kalian membaca Qur’an dengan cepat seperti bacaan syair, jangan pula ngawur membacanya seperti suara kurma kering yang bertabrakan, berhentilah pada keajaiban-keajaibannya, dan gerakkanlah hati dengannya, jangan sampai tujuan salah seorang dari kalian selesai hingga akhir suratnya”.

[Oleh Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-, Kitab: Zadul Ma’ad 1/327-329]

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Anda Ingin BAHAGIA… Ingat, Hanya SATU KUNCINYA

KEBAHAGIAAN… yang merasakannya adalah HATI.

Oleh karenanya, hati menjadi KUNCI kebahagiaan seseorang… Sayang banyak orang salah jalan, dan mencari kebahagiaan dengan memanjakan diri dan nafsunya.

Padahal harusnya dia HANYA membutuhkan SATU KUNCI kebahagiaan !!

Kunci tersebut adalah: DEKATNYA dia dengan Allah ta’ala.

⚉  Oleh karena itulah Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Ingatlahlah bahwa dengan ber-DZIKIR (mengingat-Ku); hati-hati akan menjadi tenang”. [Surat: Arro’d: 28].

⚉  Oleh karena itu pula Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan kepada sahabat tercintanya Abu Bakar, saat puncak kecemasan menghampirinya di dalam goa, sebagaimana dikisahkan oleh Alqur’an (yang artinya):

“Janganlah BERSEDIH, karena sungguh Allah BERSAMA kita”. [Attaubah: 40].

⚉  Oleh karena ini pula, Allah memerintahkan kepada mereka yang terkena musibah untuk mengatakan:

“Inna lillahi wa inna ilahi rojiun” (Sungguh kami milik ALLAH, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali). [Albaqoroh: 156].

Oleh karenanya, ketika memerintahkan bersabar, Allah berfirman (yang artinya):

“Bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah BERSAMA orang yang bersabar”. [Al-Anfal: 46].

⚉  Oleh karena ini pula, mereka yang baru MASUK ISLAM akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara, karena kontrasnya jarak mereka dengan Allah, antara sebelum masuk Islam dengan sesudah masuk Islam.

👉🏼  Kebahagiaan itu ketika KITA semua dekat dengan KEKASIH HATI KITA… Allah yang Maha Pengasih dan Maha Mengasihi.

Ya Allah sayangilah kami, dan ampunilah kami, karena kebodohan kami tentang-MU… Sungguh Engkau Maha Dekat dan sudi memperkenankan do’a kami.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Nasehat Bagi Orang Yang Berkata : Mending TIDAK TAHU Hukumnya Agar Tidak Berdosa

Mending TIDAK TAHU hukumnya, sehingga ketika kita melakukannya, kita tidak berdosa..

========

Sekilas tampak logis, tapi sebenarnya :

1. Ketidak-tahuan yang DISENGAJA adalah perbuatan dosa, karena dia telah meninggalkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Menuntut ilmu (agama) adalah kewajiban bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah: 224, dishohihkan oleh Syeikh Albani) .. Oleh karenanya, kita wajib mengetahui ilmunya dahulu apapun yang kita lakukan.

2. Ketidak-tahuan dalam hal agama akan mendatangkan banyak kerugian.  Sebagaimana dalam masalah duniawi, kita akan sulit maju kecuali dengan ilmu dunia, begitu pula dalam masalah akherat, kita akan sulit menjadi mulia kecuali dengan ilmu agama.

3. Ketidak-tahuan adalah sesuatu yang berusaha kita hindari dalam hal dunia .. lalu bagaimana mungkin ketidak-tahuan menjadi sesuatu yang kita cari dalam hal akherat..?!

————

Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, menjadikan kita bermanfaat dengan ilmu tersebut, dan memberikan kita keikhlasan dalam amal dan perbuatan, aamiin.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Bolehkah Mengucapkan Selamat Tahun Baru..?

Ucapan selamat itu ada beberapa keadaan:

1. Ucapan selamat karena datangnya sesuatu perkara mubah yang menjadikan seseorang bahagia, tanpa terikat dengan waktu sama sekali… ucapan selamat ini terkait dengan datangnya nikmat tertentu, bukan terkait dengan datangnya waktu tertentu.

Seperti: ucapan selamat untuk pernikahan, ucapan selamat atas lahirnya anak, ucapan selamat atas kelulusan sekolah, atau diterima di universitas tertentu, atau lulus diterima PNS, atau yang semisalnya.

Ini semua termasuk perkara adat kebiasaan yang dibolehkan, bahkan bisa jadi pelakunya mendapatkan pahala, karena dengan jalan itu dia bisa memasukkan kebahagiaan ke dalam hati orang lain.

2. Ucapan selamat karena datangnya momen tertentu, seperti hari raya, atau datangnya tahun tertentu, atau bulan tertentu, atau hari tertentu… maka yang dibolehkan hanya pada tiga momen, yaitu ucapan selamat untuk hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan masuknya bulan Ramadhan, karena adanya dalil yang jelas dalam tiga momen ini.

Adapun selain itu, maka tidak diperbolehkan, karena tidak adanya contoh atau tuntunannya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ataupun dari para sahabatnya.

Contohnya seperti: Ucapan selamat tahun baru, baik hijri atau masehi. Ucapan selamat millenium baru, baik hijri ataupun masehi. Ucapan selamat untuk hari isro mi’roj. Ucapan selamat untuk maulid. Ucapan selamat ulang tahun kita. Ucapan selamat untuk hari ibu… dst.

Semua contoh ucapan selamat ini tidak pernah ada contohnya, tidak pernah ada tuntunannya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabat beliau, bahkan tidak juga dari para ulama generasi salaf… padahal dorongan untuk melakukan itu telah ada di zaman mereka, dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk melakukannya, serta mereka mampu melakukannya… meskipun demikian, tidak ada satupun riwayat yang mengabarkan bahwa satu saja dari mereka pernah melakukannya.

Itu menunjukkan bahwa ucapan-ucapan selamat di momen-momen itu tidak disyariatkan dan bukan kebaikan, karena seandainya itu suatu kebaikan tentunya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya, wallohu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ilmu Anda BERMANFA’AT..?

Ilmu yang bermanfa’at, adalah: Ilmu yang diamalkan oleh pemiliknya, sehingga keadaannya berubah menjadi LEBIH BAIK.

Semakin banyak ilmunya yang diamalkan, semakin banyak pula ilmunya yang bermanfa’at.

Sehingga bukanlah syarat bermanfa’atnya ilmu seseorang; DIA HARUS DIIKUTI OLEH BANYAK ORANG… Oleh karenanya, ada seorang Nabi yang TANPA pengikut sama sekali, dan itu bukan berarti ilmu NABI tersebut tidak bermanfa’at.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat, maka ada seorang Nabi dan yang ikut bersamanya satu kelompok kecil, ada seorang Nabi dan yang ikut bersamanya (hanya) SATU DUA orang, dan ada juga seorang Nabi (tapi) TIDAK bersamanya seorang pengikutpun”. [HR. Bukhori: 5752, dan Muslim: 374]

———–

Intinya: Janganlah risau jika hanya ada sedikit orang yang mendengar Anda, tetaplah berpegang-teguh dengan KEBENARAN dan terapkanlah dalam hidup Anda… Dengan begitu Ilmu Anda menjadi bermanfa’at.

Dari sini kita juga bisa memahami, bahwa manfa’atnya Ilmu seseorang bisa untuk dirinya sendiri, dan bisa juga untuk orang lain… wallohu a’lam.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

 

Sujud Sahwi Setelah Salam

Jika imam sujud sahwi setelah salam, apakah makmum mengikutinya..?

=====

Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan :

Intinya: Jika sujud (sahwi) nya imam sebelum salam, maka makmum wajib mengikutinya, apapun keadaannya.

Jika sujud (sahwi) nya imam SETELAH SALAM, maka apabila makmum tidak ketinggalan sama sekali; dia wajib mengikuti (sujud sahwinya) imam.

Namun, apabila makmum ketinggalan sebagian (masbuq *) dari sholat imamnya, maka dia tidak usah mengikuti (sujud sahwi) imamnya, karena adanya udzur bagi dia untuk tidak mengikutinya (yaitu: adanya pemisah antara dia dengan sholatnya, berupa salam).

Maka, apabila makmum (masbuq tsb) mendapati lupanya imam, dia wajib sujud sahwi setelah salam. Dan apabila lupanya imam terjadi sebelum dia masuk bersamanya, maka dia tidak wajib sujud sahwi (setelah itu).

[Majmu’ Fatawa Syeikh Al-Utsaimin 14/46].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

NOTE :
(*) Masbuq dalam istilah para Ulama fikih adalah orang yang ketinggalan imam dalam sebagian roka`at sholat atau seluruhnya atau mendapati imam setelah satu roka`at atau lebih. (Haasyiyah Ibnu Abidîn, 1/400)

ref: https://almanhaj.or.id/7483-masbuq-dalam-shalat