Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (6)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal keenam yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan meyakini bahwa “balasan itu sesuai dengan jenis amalan”, dan bahwa dirinya adalah seorang yang zalim dan banyak berdosa… bahwa orang yang memaafkan manusia; Allah akan memaafkan dosanya, dan orang yang mengampuni kesalahan manusia; Allah akan mengampuni kesalahannya.

Maka, apabila dia meyakini bahwa sikapnya memaafkan, melupakan kesalahan orang, dan berbuat baik kepada mereka yang mengganggunya, adalah sebab Allah melakukan hal yang sama terhadapnya, sehingga dengannya Allah akan memaafkannya, melupakan kesalahannya, dan memberikannya kebaikan walaupun dia banyak dosa… tentu dengan keyakinan seperti ini, dia akan mudah memaafkan dan bersabar atas gangguan orang terhadapnya.

Dan sungguh ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang cerdas berfikir.

[Jami’ul Masa’il, 1/170].

———-

Intinya, jika ingin dosa-dosa Anda diampuni Allah, serta mendapatkan banyak kebaikan dan nikmat Allah meski Anda banyak salah… lakukanlah hal yang sama kepada manusia, banyaklah memaafkan mereka dan berikan kebaikan kepada mereka, walaupun mereka banyak salah kepada Anda… karena “balasan itu sesuai dengan amalan yang Anda lakukan”.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (5)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal kelima yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan mengingat bahwa tidaklah seseorang memilih sikap membalas dendam untuk dirinya, melainkan Allah tinggalkan padanya kehinaan yang dia rasakan pada dirinya… sebaliknya, apabila dia memaafkan, maka Allah ta’ala akan memuliakannya.

Inilah yang dikabarkan oleh seorang yang paling benar dan harus dibenarkan, Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-: “Tidaklah Allah menambahkan untuk seorang hamba karena sikap memaafkan, melainkan kemuliaan”. [HR. Muslim: 2588].

Maka, kemuliaan yang timbul dari sikap memaafkan itu lebih baik dan lebih bermanfaat baginya, melebihi kemuliaan yang timbul dari sikap membalas dendam… Karena balas dendam hanyalah kemuliaan yang tampak secara lahir, tapi ia meninggalkan kehinaan dalam batin… Adapun sikap memaafkan, mungkin manusia melihatnya kehinaan, namun sikap itulah yang sebenarnya memberikan kemuliaan lahir dan batin.

[Lihat: Jami’ul Masa’il, 1/170].

———–

Intinya, ingatlah terus hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, bahwa Allah akan menambah kemuliaan seseorang dengan sikap memaafkan, dan kemuliaan ini mencakup kemuliaan lahir dan kemuliaan hati… dan hal ini sebagai bantahan anggapan sebagian orang, bahwa tindakan memaafkan adalah sikap lemah dan hina, sungguh ini anggapan yang salah karena menyelisihi sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (4)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal keempat yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan mengingatkan diri, bahwa jika memaafkan dan berbuat baik kepadanya, itu akan menjadikan hatinya bersih dari membenci saudaranya, hatinya akan suci dari kebencian, kedengkian, niat balas dendam, dan niat buruk lainnya.

Dengan begitu, akan tumbuh pada dirinya manisnya memaafkan… bahkan kelezatan dan manfaat memaafkan itu -baik yang sekarang ataupun yang nanti- menjadi berlipat-lipat melebihi kepuasan yang timbul dari tindakan membalas dendam.

Dan itu masuk dalam firman Allah ta’ala (yang artinya): “Allah mencintai orang-orang berbuat baik.” [Alu Imron: 134], maka jadilah dia hamba yang dicintai Allah.

Dengan demikian, keadaannya seperti orang yang diambil darinya satu dirham perak, lalu dia mendapatkan ribuan dinar emas sebagai gantinya. Tentu saat itu dia akan senang tiada tara atas balasan yang diberikan Allah kepadanya.

(Jami’ul Masa’il, 1/169-170).

———–

Intinya, Ingatlah bahwa dengan bersabar dan memaafkan orang lain, hati Anda akan sehat dan bersih dari penyakit hati… bahwa manfaat dan kelezatan yang ditimbulkan oleh sikap memaafkan, jauh lebih besar dan berlipat-lipat melebihi manfaat dan kepuasan yang ditimbulkan oleh sikap membalas dendam… biarlah orang lain mengambil satu dirham perak dari Anda, bila dengannya Allah berikan untuk Anda ribuan dinar emas.
.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (3)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal ketiga yang bisa membantu kita untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan mengingatkan diri akan indahnya pahala yang Allah janjikan bagi orang yang memaafkan dan bersabar, sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Balasan keburukan adalah keburukan yang semisal dengannya. Namun siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat buruk padanya), maka pahalanya ditanggung Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim”. [Asy-Syuro: 40].

Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan kelas-kelas manusia dilihat dari sikap mereka ketika diganggu:

(a) Orang yang zalim, yaitu orang yang membalas keburukan melebihi batasan haknya. Ini Allah sebut di akhir ayat.

(b) Orang yang proporsional (muqtashid), yaitu orang yang membalas keburukan sesuai batasan haknya. Ini Allah sebut di awal ayat.

(c) Orang yang mulia (muhsin), yaitu orang yang memaafkan dan meninggalkan haknya sama sekali. Ini Allah sebut di tengah ayat.

Hendaknya seorang hamba juga mengingat panggilan kehormatan di hari kiamat nanti: “Berdirilah, orang pahalanya dalam tanggungan Allah!”, maka tidaklah dapat berdiri melainkan orang yang mengampuni dan berbuat baik kepada orang yang menzaliminya.

Ketika, seseorang ingat hal ini, dan juga mengingat bahwa pahala agung itu akan luput darinya dengan tindakan membalas dan mengambil penuh haknya, tentu akan menjadi mudah baginya untuk bersabar dan memaafkan.

[Jami’ul Masa’il, 1/169].

————

Intinya, dengan mengingatkan diri kepada pahala agung yang dijanjikan Allah ta’ala kepada hamba yang bersabar dan memaafkan saat dizalimi, bahkan di akherat nanti akan mendapatkan panggilan kehormatan… dan dengan membalasnya, dia akan kehilangan kesempatan untuk meraih pahala besar tesebut… maka, kita akan semakin mudah untuk bersabar dalam menghadapi gangguan dan celaan orang lain.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (2)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal kedua yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:
Dengan mengakui dosa-dosanya, bahwa Allah menjadikan mereka melakukan hal buruk kepadanya adalah karena dosa yang ada padanya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Musibah apapun yang menimpa kalian, maka itu disebabkan oleh tangan-tangan kalian sendiri, padahal Dia telah banyak memaafkan.” [Asy-Syuro: 30].

Maka, apabila seorang hamba menyadari bahwa semua musibah yang dialaminya adalah disebabkan dosa-dosanya, tentu dia akan menyibukkan dirinya dengan taubat dan istighfar dari dosa-dosanya, karena itulah yang menjadi penyebab datangnya gangguan mereka terhadapnya.

Dengan begitu, dia akan terhindar dari tindakan mencela mereka, atau menyalahkan mereka, atau menjelek-jelekkan mereka.

Bila engkau melihat seseorang menjelek-jelekkan manusia saat mereka menyakitinya, dan dia tidak introspeksi diri dengan menyalahkan dirinya dan beristighfar, maka ketahuilah bahwa musibahnya memang benar-benar nyata.

Dan apabila hal itu menjadikannya bertaubat, beristighfar, dan mengatakan “ini memang karena dosa-dosaku”, maka musibah itu menjadi kenikmatan yang ada pada dirinya.

Sahabat Ali bin Abi Thalib -rodhiallohu anhu- telah mengatakan pesan mutiara: “Jangan sampai seorang hamba berharap melainkan kepada Rabb-nya, dan jangan sampai seorang hamba khawatir kecuali terhadap dosanya.”

Diriwayatkan pula dari beliau dan yang lainnya: “Tidaklah musibah turun, melainkan karena sebab dosa. Dan tidaklah ia diangkat, melainkan dengan taubat.”

[Jami’ul Masa’il, 1/169].

———-

Intinya, jika Anda diganggu atau disakiti orang lain, maka ingatlah bahwa penyebabnya adalah dosa-dosa yang Anda lakukan…

Oleh karenanya, tidak perlu Anda membalasnya, tapi sibukkan diri dengan banyak istighfar dan taubat, sehingga musibah itu diangkat oleh Allah ta’ala…

Dengan langkah ini pula, kita bisa menjadikan musibah itu mendatangkan nikmat kebaikan.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (1)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar (dalam menghadapi gangguan manusia) ini.

Pertama: Dengan mengikrarkan bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan para hamba-Nya; baik geraknya, diamnya, bahkan keinginannya.

Maka, apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sebaliknya yang tidak Dia kehendaki takkan terjadi.

Sehingga tidak ada satupun partikel di alam ini bisa bergerak, baik di alam yang atas maupun di alam yang bawah, kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Jadi semua hamba itu hanyalah sebagai alat saja.

Maka, lihatlah kepada Dzat yang menjadikan manusia itu mengganggumu, jangan kau lihat kelakuan (buruk) mereka terhadapmu; niscaya kamu akan menjadi tenang, tanpa kegalauan ataupun kesedihan.

[Jami’ul Masa’il, 1/168].

Imam Ibnul Jauzi -rohimahulloh- dan syi’ah rofidhoh..

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Di dalam kitabnya “Al-Maudhu’at”, beliau menyebutkan sebuah hadits palsu, lalu beliau mengomentarinya dengan mengatakan:

“Ini adalah hadits palsu, yang memalsukannya Musa bin Qois, dia termasuk seorang syiah rofidhoh yang ekstrim, dan dia dijuluki ‘ushfurul jannah’ (burung pipit surga). InsyaAllah dia menjadi ‘hamirun nar’ (keledai neraka)”.

[Kitab Almaudhu’at 1/382].

————-

Sungguh dari dulu para ulama kaum muslimin dari berbagai madzhab ahlussunnah sangat membenci kelompok syiah rofidhoh… sebaliknya, syiah rofidhoh juga sangat membenci ulama-ulama ahlussunnah… dan sejarah yang menjadi saksinya.

Jika demikian, pantaskah ajakan untuk toleran terhadap mereka kita dengar?!

Sungguh kita sebagai Ahlussunnah Waljama’ah sangat menghormati Ahlul Bait dan Para Sahabat Nabi… tapi mereka malah menjadikan tindakan mencela sahabat Abu Bakar dan Umar, tindakan merendahkan Ibunda Aisyah dan Hafshoh dua isteri Nabi, sebagai IBADAH yang mulia.

Pantaskah kita toleran terhadap orang seperti mereka?!

Jika tindakan mencela bapak dan ibu kita saja sangat menyulut kebencian kita… apalagi jika yang dicela adalah tokoh kaum muslimin yang paling mulia setelah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-… apalagi bila yang dicela adalah isteri Nabi, yang merupakan IBUNDA kaum mukminin.

Wahai kaum muslimin, bangunlah… berbenahlah…

Banyak Maksiat, Tapi Banyak Nikmat… Mau?!

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Allah biasa menghukum hambaNya yang beriman dan dicintaiNya -yang dia melihat Allah sebagai Dzat yang maha pemurah-, karena sebab kesalahan yang sangat kecil atau kelengahan, sehingga dia menjadi hamba yang selalu terjaga dan waspada.

Adapun orang yang jatuh dan hina di mata Allah, maka Dia membiarkannya melakukan banyak maksiat. Setiap kali dia melakukan dosa, Allah tambahi lagi kenikmatan untuknya.

Orang yang tertipu mengira bahwa itu termasuk bentuk pemuliaan Allah terhadapnya, dia tidak tahu bahwa itu sejatinya menghinakannya, dan bahwa dengannya Allah menginginkan untuknya siksaan yang keras dan hukuman yang tiada akhirnya”.

[Kitab: Zadul Ma’ad, 3/506].

———-

Jangan terkecoh dengan nikmat dunia, dia bukanlah ukuran mulia dan hinanya seseorang di sisi Allah… dia juga bukan ukuran benar dan salahnya seseorang.

Semua hamba akan diberikan Allah nikmat dunia, sebagaimana firman-Nya:

“Kepada masing-masing golongan itu, baik golongan yang menginginkan dunia maupun golongan yang menginginkan akherat, Kami berikan bantuan dari Tuhanmu”. [Al-Isro: 20].

Ingatlah bahwa kenikmatan dunia ini sangatlah sedikit di mata Allah, oleh karenanya Allah tetap memberikannya walaupun kepada orang kafir, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Seandainya dunia ini sama di sisi Allah dengan sayap nyamuk, tentu Dia tidak akan meminumi orang kafir, meski hanya seteguk”. [HR. Attirmidzi: 2320 dan yang lainnya, dan disahihkan oleh Syaikh Albani].

Oleh karenanya, tetaplah teguh di atas syariat-Nya… Fokuskan hidupmu untuk meraih kehidupan akherat yang mulia… Dan tenanglah, jangan khawatir, dengannya Allah akan tetap memuliakanmu di dunia.

1389. Yang sunnah diucapkan ketika menaiki/menuruni tangga, eskalator, lift…

1389. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, ada sunnah mengucapkan takbir “Allahu Akbar” ketika berjalan pada jalanan menanjak dan mengucapkan tasbih “SubhaanAllah” ketika jalanan menurun.

Apakah hal ini juga berlaku, yaitu mengucapkan  “Allahu Akbar” dan SubhaanAllah” ketika kita menaiki/menuruni eskalator atau Lift di gedung-gedung bertingkat, dan apabila kita menaiki/menuruni tangga baik itu di rumah kita sendiri atau masjid ?

Jawab :
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Iya, TERMASUK juga.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1387. Uang pendaftaran perlombaan yang dipakai untuk beli hadiah…

1387. BBG Al Ilmu – 463

Tanya :
Ada event MTQ dengan memungut uang adminstrasi/pendaftaran, apakah ini tergolong perjudian ustadz ?

Jawab :
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Jika uang administrasi dibuat hadiah, maka tidak boleh. Walaupun hanya sebagian uang peserta yang dibuat hadiah, tetap tidak boleh.

Namun bila hadiah murni dari sponsor, maka dibolehkan.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊