Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (9)…

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal kesembilan yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan orang lain adalah melihat hakekat berikut:

Apabila dia diganggu karena amalan yang dia lakukan karena Allah, atau karena melakukan ketaatan yang Allah perintahkan, atau karena meninggalkan maksiat yang dilarang… maka harusnya dia bersabar, dan jangan membalas, karena sesungguhnya dia sedang diganggu di jalan Allah, tentunya pahalanya ditanggung oleh Allah.

Oleh karena itulah, ketika darah dan harta para mujahidin di jalan Allah hilang, tidak ada ganti rugi sedikitpun, karena Allah telah membeli dari mereka jiwa dan harta mereka, sehingga nilai (ganti rugi) nya menjadi kewajiban Allah bukan kewajiban makhluk.

Jadi barangsiapa yang meminta ganti rugi dari makhluk, maka dia tidak berhak mendapatkan ganti rugi dari Allah. Dan sungguh siapa yang rusak karena Allah, pasti Allah yang menjamin gantinya.

Apabila dia diganggu karena musibah yang menimpanya, maka hendaknya dia kembalikan kepada dirinya, sehingga dengan itu dia tidak sempat menyalahkan orang yang mengganggunya.

Apabila dia diganggu karena kelebihan dunia yang ada padanya, maka hendaknya dia sabarkan diri, karena sebelum seseorang mendapatkan nikmat dunia, tentunya dia telah melakukan hal-hal yang lebih berat dari kesabaran itu untuk mendapatkan kenikmatannya.

Oleh karena itu, orang yang tidak mau sabar dengan pedihnya terik matahari, kehujanan, dinginnya salju, susahnya perjalanan, dan perampok jalan, maka jangan coba-coba melakukan usaha perdagangan.

Dan ini adalah hal yang telah diketahui oleh semua orang, bahwa siapapun yang sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu, maka dia harus mencurahkan kesabaran untuk mendapatkannya, kesabaran itu akan sebanding dengan kesungguhannya dalam mencarinya.

[Kitab: Jami’ul Masa’il, 1/171].

———-

Intinya: apapun sebabnya datangnya gangguan itu, hadapilah dengan sikap sabar, dan serahkan semuanya kepada Allah, sungguh Allah tahu berapa besarnya harga sabar yang kita perjuangkan.

Allah maha tahu apapun pengorbanan kita, tidak akan ada yang hilang di hadapan-Nya, bahkan Dia maha mensyukuri amalan para hambaNya, bila berkehendak, Dia akan memberikan balasan yang tak terhingga karena amalan yang sederhana.

Karena DUNIA Lebih Berharga Di Mata Mereka Daripada AGAMA

Ibnu Muflih -rohimahulloh- mengatakan:

“Diantara pemandangan yang mengherankan dari keadaan manusia adalah: banyaknya ratapan mereka atas rusaknya rumah, matinya kerabat dan pendahulu, dan sedikitnya harta sehingga mereka mencela zaman dan orang-orangnya, serta kepayahan hidup di dalamnya.

Padahal di sisi lain mereka juga melihat runtuhnya Islam, rapuhnya agama, matinya banyak sunnah, mencuatnya banyak bid’ah, dan banyaknya maksiat dilakukan manusia.

Tapi aku tidak dapati orang yang meratapi agamanya, tidak pula orang yang menangisi umurnya yang kurang dimanfaatkan, bahkan tidak pula orang yang menyesali waktunya yang disia-siakan.

Dan aku tidak lihat sebabnya, kecuali sedikitnya perhatian mereka terhadap agamanya, dan keagungan dunia di mata mereka”.

[Al-Adabusy Syar’iyyah 3/240].

————

Jika kita tidak bisa menghilangkan cinta dunia di hati, paling tidak mari tumbuhkan dan besarkan cinta agama di hati kita… dan sedikit demi sedikit berusaha untuk mengubah paradigma di benak kita.

Ingatlah selalu, di dunia kita tidak akan lama… semuanya akan berlalu dengan cepat… untuk menuju kehidupan akherat… di sanalah keabadian yang harusnya kita perjuangkan.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah dunia… amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

Kelompok Khowarij Adalah Pemburu Dunia…

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Imam Alhasan Albashri -rohimahulloh- pernah didatangi salah seorang dari kelompok khowarij, dia bertanya kepada beliau: “apa pendapatmu tentang kelompok khowarij?”.

Beliau menjawab: “mereka pemburu dunia”.

Dia: “darimana kamu katakan mereka pemburu dunia, padahal ada diantara mereka yang berjalan di tengah-tengah peperangan hingga banyak terluka, dia juga keluar meninggalkan isteri dan anaknya?!”.

Beliau: “coba kau jelaskan kepadaku perihal raja kita, apakah dia melarangmu untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji dan umroh?”.

Dia: “tidak”.

Beliau: “makanya aku berpandangan, sungguh sebabnya hanyalah karena dia menghalangimu dari harta dunia, sehingga kau memerangi dia”.

[Kitab: Albashoir wadz-dzakhoir 1/156]

————-

Khowarij adalah kelompok yang memandang bolehnya memberontak penguasa muslim yang sah… dan mereka banyak mengafirkan seseorang karena dosa besar yang diperbuatnya.

Banyak ulama ahlussunnah di zaman ini memasukkan ISIS dalam kelompok khowarij, semoga Allah segera memotong “tanduk” mereka, amin.

Cobalah Raba HATI Anda – Masih Hidupkah Dia..?!

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Seorang mukmin, tidak mungkin menjadi sempurna kenikmatannya karena kemaksiatan, tidak mungkin menjadi lengkap kebahagiaannya karena kemaksiatan.

Bahkan, tidaklah dia melakukan kemaksiatan, melainkan kegundahan akan mencampuri hatinya, tapi karena syahwatnya yang mabuk menutupi hatinya; dia tidak merasakan kegundahan itu.

Ketika kegundahan ini hilang dari hatinya, bahkan rasa ingin dan senang terhadap kemaksiatan malah bertambah, maka harusnya dia berprasangka buruk pada imannya dan menangisi KEMATIAN hatinya.

Karena seandainya hatinya masih hidup, harusnya perbuatan dosanya itu menjadikan hatinya gundah, berat, dan sulit menjalani…

Ketika hati itu sudah tidak bisa merasakan (pedihnya) dosa; maka tidaklah sebuah luka menjadikan tubuh yang sudah mati merasakan sakit..”

[Kitab: Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 1/198-199].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tenanglah Bersama Allah Karena Allah Melebihi Segalanya

Tenanglah bersama Allah.. karena Allah melebihi segalanya..

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika orang-orang merasa kaya dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa kaya dengan Allah..

Jika mereka merasa senang dengan dunianya, maka harusnya kamu merasa senang dengan Allah..

Jika mereka merasa akrab dengan teman-teman karib mereka, maka jadikanlah keakrabanmu itu dengan Allah..

Jika mereka mencari kenalan para penguasa dan pembesarnya, dan orang-orang mendekati mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi… maka kenalkan dirimu kepada Allah dan carilah kasih sayang-Nya, niscaya kamu raih dengannya puncak kemuliaan dan kedudukan yang tinggi..”

[Kitab: Al-Fawaid, hal: 118].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tidak Boleh Menakut-Nakuti Saudara Seiman Walaupun Maksudnya Bercanda

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

“Tidak boleh salah seorang dari kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya, karena dia tidak tahu bisa jadi setan menghempaskannya dari tangannya, hingga dia jatuh ke dalam jurang Neraka..”

[HR. Bukhari no. 7072 dan Muslim no. 2617/Muttafaqun Alaih].

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Begitu pula yang dilakukan oleh sebagian orang yang kurang akalnya, dia naik mobil dengan ngebut menuju ke orang yang sedang berdiri atau duduk atau tidur, dengan maksud mencandainya, lalu dia belokkan dengan cepat ketika sudah dekat dengannya agar tidak menabraknya.

Maka ini juga dilarang, dan ini seperti tindakan mengacungkan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mengambil kendali dari tangannya, sehingga dia tidak dapat mengendalikan mobilnya, dan ketika itulah dia jatuh ke dalam jurang Neraka.

Dan diantara contohnya lagi, bila seseorang mempunyai anjing, dan ada orang lain yang berkunjung kepadanya atau tujuan yang semisalnya, lalu dia memerintahkan anjingnya (mendekat) kepada orang tersebut, karena bisa jadi anjing itu lari dan memakan orang tersebut atau melukainya, dan si pemiliknya tidak mampu menyelamatkannya setelahnya.

Intinya, manusia dilarang melakukan semua sebab/jalan kebinasaan, baik dilakukan secara sungguhan ataupun gurauan..”

[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/556].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Allah Tidak Akan Mengalirkan Kebaikan Lewat Tangan-Tangan Golongan Sesat…

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Subhanalloh… Seakan-akan Ibnu Hazm -rohimahulloh- hidup di tengah-tengah kita sekarang ini:

Beliau yang telah wafat tahun: 456 H itu mengatakan:

“Ketahuilah -semoga Allah merahmati kalian-, bahwa seluruh golongan sesat; Allah tidak akan mengalirkan kebaikan lewat tangan-tangan mereka, Dia tidak akan membukakan satu pun desa dengan tangan mereka, dan Dia juga tidak akan meninggikan satu pun bendera untuk Islam.

Mereka selalu berusaha meruntuhkan kekuasaan Kaum Muslimin, memecah belah persatuan Kaum Mukminin, menghunuskan pedangnya kepada Pemeluk Agama ini, dan mereka akan terus menjadi para perusak yang merajalela di muka bumi.

Adapun kelompok KHOWARIJ dan SYIAH; maka kasus mereka dalam masalah ini terlalu masyhur, tidak perlu susah payah untuk menyebutkannya (saking banyaknya).” [Kitab: Al-Fishol fil Milal: 4/171].

———-

Lihatlah ISIS (khowarij) dan SYIAH Rofidhoh… Keduanya sama-sama memecah belah dan meruntuhkan kekuatan Kaum Muslimin di berbagai negeri.

Semoga Allah segera mengangkat fitnah (cobaan) ini dari Kaum Muslimin… Amin.

Perhatikan Dirimu Saat Marah

Perhatikan dirimu saat marah, agar engkau tahu seberapa baik akhlakmu.

Perhatikan dirimu saat ‘sesrawung’ (berinteraksi) dengan orang yang menyalahimu, agar engkau tahu seberapa tinggi jiwamu.

Dan perhatikan caramu berdialog dengan orang yang menyelisihimu, agar engkau tahu bisakah dirimu memahami orang lain dan jalan pikirannya.

(Dari status berbahasa arab)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (8)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal kedelapan yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan orang lain adalah:
Mengingat bahwa sikap dia membalas dan melakukan pembelaan adalah untuk dirinya… padahal Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak pernah sekalipun membalas dendam untuk dirinya.

Apabila makhluk terbaik dan paling mulia ini, tidak pernah menuntut balas dendam, padahal menyakitinya sama dengan menyakiti Allah dan ada hak-hak agama yang berkaitan dengannya. Bahkan beliau adalah orang yang paling mulia, paling suci, paling baik, serta paling jauh dari semua tindakan tercela, dan paling berhak dengan setiap akhlak yang indah… Namun demikian, beliau tidak pernah menuntut balas untuk dirinya.

Lalu bagaimana pantas seorang seperti kita menuntut balas dendam untuk dirinya, padahal dia tahu keadaannya dengan berbagai aib dan keburukannya. Orang yang tahu hakekat dirinya, tentu akan menyadari bahwa dirinya tidak pantas untuk balas dendam, dia akan merasa bahwa kedudukan dirinya tidak pantas untuk mendapatkan pembelaan.
[Jami’ul Masa’il, 1/171].

———-

Intinya, lihatlah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, beliau saja yang merupakan makhluk terbaik dan termulia, tidak pernah membela dirinya dengan balas dendam… apalagi diri kita yang banyak aib dan dosanya… Sabar dan maafkanlah, untuk mendapatkan kemuliaan yang lebih tinggi dan abadi.

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (7)

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal ketujuh yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan manusia:

Hendaklah dia tahu, bahwa bila dia menyibukkan dirinya dengan tindakan balas dendam dan menuntut haknya, maka waktunya akan banyak terbuang, hatinya akan terpecah (tidak konsen), dan akan banyak maslahat yang hilang darinya selamanya.

Dan mungkin saja efek-efek yang ditimbulkan ini, malah jauh lebih besar dari musibah pertama yang datang kepadanya.

Nah, bila dia memaafkan dan melupakan; tentu hati dan jasmaninya akan bisa konsen untuk meraih banyak maslahat yang diinginkan, yang tentunya ini lebih penting baginya, daripada sekedar menuntut balas dendam.

[Jami’ul Masa’il, 1/171].

————

Intinya, untuk apa menuntut balas dendam, jika hal itu malah akan menambah berat musibah yang kita rasakan… cukuplah musibah yang ada, jangan menambahnya dengan musibah yang lebih besar lagi… Bersabarlah dan maafkan kesalahannya, sehingga Anda bisa fokus untuk meraih banyak kebaikan di masa depan Anda.