Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Ziarahilah Kuburan Karena Dorongan Mengingatkan Diri

Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika seseorang menziarahi kuburan, maka hendaknya dia lakukan karena dorongan mengambil ibroh, bukan karena dorongan perasaan.

Karena sebagian orang menziarahi kuburan ayahnya, atau kuburan ibunya, karena dorongan perasaan kasihan, iba, dan cinta.

Keadaan ini, meskipun manusiawi, namun yang lebih baik adalah menziarahi kuburan, karena dorongan tujuan yang telah disebutkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, yaitu: mengingatkan diri kepada hari akhir dan kematian.

Bahwa mereka yang berada di kuburan sekarang ini, sama seperti dirimu hidup di muka bumi kemaren hari, dan sekarang mereka telah berada di perut bumi,  mereka tergadaikan oleh amal-amal mereka.

Mereka tidak mampu lagi menambah, meski hanya satu kebaikan. Dan tidak mampu lagi mengurangi, walau hanya satu keburukan..”

[Durus wa fatawa Alharomil Madani, hal: 51]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jangan Mau Disamakan Dengan (maaf) Anjing…

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sebuah nasehat mengatakan:

“Ada tiga makhluk yang bekerja, tapi hasilnya untuk orang lain:

1. ANJING yang mengejar hewan buruannya, lalu menyerahkannya kepada pemiliknya.

2. Orang yang PELIT, dia mengumpulkan harta, tapi setelah banyak terkumpul, harta itu menjadi milik ahli warisnya.

3. Orang yang menggunjing (GHIBAH), sehingga pahala-pahala amal baiknya diberikan kepada orang lain”.

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

LIMA MENIT Yang Sangat Bermanfa’at

Seringkali datang rasa malas dalam benak kita untuk melakukan amal ketaatan yang sebenarnya ringan, itulah lihainya setan dalam menggoda manusia.

Diantara tips untuk melawan kemalasan ini adalah dengan MENYEDERHANAKAN sebuah amalan, yakni menyadarkan diri bahwa amalan itu sangat ringan dan sederhana, hanya butuh LIMA MENIT saja.

Ketika Anda malas sholat sunnah 2 rekaat sebelum atau sesudah sholat wajib, maka katakan pada diri Anda dan lihatlah jam: “Hanya butuh kurang dari lima menit, masa PELIT beramal untuk diri sendiri..?!”

Ketika Anda malas membaca Qur’an, maka katakan pada diri Anda: “Cobalah membaca Qur’an, lima meniiit saja, pahala untuk selamanya lo..”

Ketika Anda malas untuk membaca dzikir-dzikir setelah sholat fardhu, katakan pada diri Anda: “Tidak maukah berdzikir meski hanya lima menit ?! bukankah telah banyak waktu yang terbuang tanpa pahala..?!”

Selamat mencoba tips ini, dan ikutilah gerakan jam untuk membuktikannya bila diinginkan dan dimungkinkan, insyaAllah akan banyak amal ibadah yang bisa Anda lakukan…

————

Bilangan “5 menit” di sini hanyalah sebagai perwakilan untuk bagian kecil dari waktu Anda, sehingga bila masih terlihat banyak, maka bisa diganti dengan 4, 3, 2, 1 menit… dan bila terlihat terlalu sedikit, bisa diganti dengan 6,7,8, dst…

Metode seperti ini juga tersirat dalam beberapa hadits, diantaranya sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-

“Ada DUA kalimat yang RINGAN di lisan, dicintai oleh Arrohman, dan berat dalam timbangan; subhaanallohi wabihamdihi, subhaanallohil ‘azhim”

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Betapa Singkatnya Kehidupan DUNIA

Allah ta’ala berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Tindakan saling membanggakan telah melalaikan kalian, hingga kalian MENGUNJUNGI / MENZIARAHI liang-liang kuburan” [At-Takatsur: 1-2].

Perhatikanlah Allah menyebut masuknya manusia ke liang-liang kuburnya dengan istilah “mengunjungi / menziarahi”, dan kita semua tahu berkunjung / berziarah tidak akan berlangsung lama, padahal manusia di dalam kuburnya bisa sampai ribuan tahun.

Jika bilangan ribuan tahun itu dianggap sebentar sehingga pantas disebut “berkunjung / berziarah”, lalu bagaimana singkatnya kehidupan dunia ini…?!

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Siapa Ikut Siapa..?

Copas dari status (yang juga di copas oleh) Ustadz Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Dialog seru dan inspiratif…

A (orang kristen) : “Kenapa kalian selalu ngikutin kami?”

B (orang muslim) : “Ngikutin apa? Kami tidak merasa ngikutin kalian?”

A : “Gak merasa? Coba diperhatikan, kami merayakan Hari Ulang Tahun Yesus (atau Maulidnya Nabi Isa), lalu kalian ikut2an merayakan Maulid Nabi Muhammad?!

Kami juga merayakan hari kenaikan Isa al Masih (diangkatnya Nabi Isa ke langit), kalian ikut2an merayakan hari Isra Mi’raj (naiknya Nabi Muhammad ke langit)?!

Kami merayakan Tahun Baru Masehi milik kami, kalian juga merayakan tahun baru hijriyah milik kalian?!

Kami beribadah dengan bernyanyi dan bermain alat musik, kalian juga sekarang mulai beribadah dengan bernyanyi-nyanyi membaca shalawat/dzikir dengan alunan musik?!

C (orang Hindu) : “Iya nih…! Kalian (orang muslim) juga banyak yang ngikutin perayaan acara kami…”

A : “Lho…lho…apalagi ini? Siapa yang ngikutin?”

C : “Lihat saja, acara nujuh bulanan bagi wanita yang hamil itu kan asalnya dari kami orang Hindu. Begitu juga Tahlilan atau Selamatan Kematian selama 7 hari, 40, 100 s/d 1000 hari itu semua adalah acara kami, lalu kalian mengikutinya. Kalo gak percaya, sini ikut saya, saya kasih buktinya!”

B : “Enak saja ngaku2! Yang ngikutin itu kalian semua, orang Kristen dan orang Hindu pada ngikutin kami semua..!!”

A : “Eh…Kalo bicara pake otak! Emang duluan siapa agamanya?
Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad baru ada sekitar 1400 tahun yang lalu.
sedangkan agama kami Nasrani sudah ada sekitar 2000an tahun yang lalu. Gak masuk akal kalo kami yang ngikutin kalian!”

C : “Hehehe…apalagi agama saya. Agama kami lebih dulu dari agama kalian. Agama kami sudah ada sejak 2500 tahun sebelum masehi, jadi sudah ada sekitar 4500 tahun yang lalu. Sedangkan di Indonesia, agama kami lah yang paling tua dan pertama. Gak masuk akal kalo kami yang malah mengikuti agama kalian, apalagi yang namanya Islam kejawen, mirip abis dengan kami…hehehe.”

A : “Betul…betul…betul…Belum lagi kalian umat islam banyak yang berpartisipasi merayakan hari perayaan agama kami, seperti Tahun Baru Masehi, Hari Valentine, Hari Ulang Tahun, Hari Hallowen, Hari April Mop, hari Ibu, dll.”

B : (garuk2 kepala)…

D (orang Muslim Ahlus Sunnah) : “Ambil semua acara2 kalian, kami tidak butuh acara2 seperti itu. Karena kami sudah punya acara sendiri yang tidak mengikuti agama2 kalian.

Dan acara2 seperti itu tidak pernah dilakukan oleh orang Muslim yang berada diatas Sunnah seperti kami ini, insya Allah. Dalam golongan kami (yaitu Ahlus Sunnah), tidak ada perayaan Maulid Nabi, perayaan Isra Mi’raj, perayaan Tahun Baru Hijriyah, perayaan nujuh bulan, Selamatan Kematian (Tahlilan), dll.”

A & C : “Lho…kalian B dan D khan sama2 muslim, koq saling berbeda?
Yang B merayakan acara2 itu sedangkan yang D tidak merayakan? Aneh sekali, satu agama tapi beda2.”

D : “Kenapa kalian heran dengan kami?
Bukankah kalian sendiri juga memiliki banyak perbedaan dan perpecahan?
Agama Nasrani memiliki banyak sekte, seperti Protestan, Katholik, Advent, dll.

Bahkan dalam agama kami disebutkan bahwa kaum Nasrani terpecah belah menjadi 72 golongan.
Begitu juga dengan agama Hindu yang memiliki banyak sekte dan juga warna (kasta).

Tidakkah kalian tahu tentang itu? Sedangkan agama Islam terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali 1 yaitu Al Jamaah (Ahlus Sunnah wal Jamaah).

Jadi, menurut pemahaman kami sebagai Ahlus Sunnah, kami tidak boleh tasyabbuh (mengikuti) orang2 kafir dalam ciri khas mereka, seperti acara2 yang kalian sebutkan tadi. Maka itu golongan kami tidak pernah melakukan dan mengadakan acara2 seperti itu.

Jika ada sebagian dari kaum muslimin yang melakukan atau mengadakan acara2 itu, maka itu adalah oknum atau karena ketidaktahuannya akan hal itu.”

A & C : “Kami juga tahu itu semua. Hanya saja tadi kami ingin mengetest si B, apakah dia punya alasan tentang itu? Rupanya dia tidak punya alasan dan gak tau apa2 tentang agamanya. Bisanya cuma ikut2an saja.”

B : “Hmmmm…berarti saya ini oknum ya? kalo begitu saya tidak mau jadi oknum lagi ah…saya mau ngikutin si D aja, biar gak jadi oknum!!!”

D : “Hmmm juga…kamu masih jadi oknum akhi, karena kamu masih ikut2an, yaitu ngikutin saya.”

B : “Berarti saya harus ngikutin siapa donk?”

D : “Biar kamu gak jadi oknum, kamu harus ngikutin Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam beserta para sahabat2nya. Insya Allah kamu akan menjadi seorang Ahlus Sunnah sejati.

Dan untuk mewujudkan itu semua, maka hendaknya kamu menuntut ilmu syar’i dengan benar, dari sumber yang benar,sebab berilmu itu sebelum berkata dan beramal”.

EMPAT Amalan Pembuka REZEKI

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Ada empat (amalan) yang dapat mendatangkan rezeki :
(1) Bangun malam (untuk sholat)
(2) Banyak istighfar di waktu sahur
(3) Rutin bersedekah
(4) Berdzikir di awal hari dan di akhirnya

Dan ada empat perkara yang dapat menghalangi rezeki :
(1) Tidur pagi
(2) Sedikitnya sholat
(3) Malas-malasan
(4) Berkhianat (tidak jujur)

[Sumber: Kitab Zaadul Ma’aad, Ibnul Qoyyim, 4/378]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jika Anda Meyakini Semua Poin Di Bawah Ini, Berarti Anda Ahlussunnah…

Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Imam Ahmad bin Hambal -rohimahulloh- mengatakan:

“90 ORANG dari generasi tabi’in, para imam kaum muslimin, para imam generasi salaf, dan para ahli fikih dari berbagai negeri, mereka semua telah SEPAKAT bahwa (ajaran) “sunnah” yang ditinggal wafat oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah:

(1) Rela dengan keputusan Allah azza wajall, tunduk kepada perintah-Nya, dan bersabar di atas hukum-Nya.

(2) mengambil apa yang Dia perintahkan dan berhenti dari apa yang Dia larang.

(3) beriman kepada takdir, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk.

(4) meninggalkan perdebatan dan perbantahan dalam agama.

(5) (meyakini bolehnya) mengusap khuffain (kaos kaki dari kulit).

(6) melakukan jihad bersama khalifah (penguasa), baik penguasa itu baik maupun buruk.

(7) menyalati mayat yang berkiblat (ke ka’bah).

(8) (meyakini) bahwa iman itu perkataan dan perbuatan, dia bisa bertambah dengan ketaatan, dan bisa berkurang dengan kemaksiatan.

(9) (meyakini) bahwa Alquran adalah perkataan Allah, diturunkan ke hati nabi-Nya Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, bukan makhluk (pula) saat dibaca.

(10) (meyakini wajibnya) bersabar di bawah bendera penguasa, apapun keadaannya, baik penguasa itu adil ataupun zalim. Dan tidak boleh keluar (untuk memberontak) para penguasa dengan pedang, meskipun mereka zalim.

(11) tidak mengafirkan siapapun yang bertauhid, meskipun dia telah melakukan dosa-dosa besar.

(12) menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara para sahabat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

(13) (meyakini) bahwa manusia yang paling mulia setelah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah (sahabat) Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali yang merupakan anak paman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

(14) mendoakan kerahmatan kepada seluruh sahabat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, juga kepada anak-anak beliau, isteri-isteri beliau, dan para menantu beliau, -semoga Allah meridhoi mereka semua-.

Inilah “sunnah Nabi”, maka tetaplah kalian di atasnya, niscaya kalian akan selamat, mengambil “sunnah Nabi” ini adalah petunjuk, dan meninggalkannya adalah kesesatan”.

[Sumber Kitab: Thobaqotul Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/130-131].

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (12)…

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal keduabelas yang dapat membantu seseorang untuk bersabar dalam menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan mengingatkan diri, bahwa sabarnya dia merupakan bukti bahwa dirinya telah mampu menguasai hawa nafsunya, bahwa dia mampu menundukkannya dan mengalahkannya.

Ketika hawa nafsunya sudah tunduk dan kalah, tentu ia takkan berangan dapat memperbudaknya, menawannya, dan menjerumuskannya dalam kebinasaan.

Sebaliknya, ketika dirinya menuruti hawa nafsunya dan kalah dengannya, maka ia lambat laun akan membinasakannya, kecuali bila rahmat Allah menyelamatkannya.

Seandainya tidak ada keuntungan dalam sabar, kecuali mengalahkan hawa nafsu dan setan penggodanya, maka sungguh itu sudah cukup.

Ketika itulah, tampak jelas kekuasaan hati dan keteguhan pasukannya, hatinya akan menjadi bahagia dan kuat, sehingga mampu mengusir musuhnya menjauh darinya.

[Kitab: Jami’ul Masa’il, 1/172]

————-

Intinya: dengan bersabar, berarti Anda telah mengalahkan dan menundukkan hawa nafsu Anda… berarti Anda telah menang dalam perang melawan hawa nafsu dan setan penggoda.

Sebaliknya, ketika Anda memilih untuk membalas, berarti Anda telah tunduk kepada hawa nafsu yang memerintahkan Anda untuk memuaskan hati dengannya.

Jadi, mau menang atau kalah? silahkan memilih untuk diri Anda sendiri…

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (11)…

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal kesebelas yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan manusia adalah:

Dengan meyakini bahwa sabar itu SETENGAHNYA iman. Oleh karenanya, jangan sampai dia mengorbankan setengah imannya hanya untuk membela dirinya.

Dan dengan bersabar, berarti dia telah melindungi dan menyelamatkan imannya dari kekurangan. Dan akhirnya Allah juga akan membela orang-orang yang beriman.

[Kitab: Jami’ul Masa’il, 1/172].

————

Sungguh menakjubkan, ternyata kesabaran adalah setengahnya keimanan, karena iman itu terdiri dari dua bagian: sabar dan syukur, sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Sungguh menakjubkan perihal orang yang ber-IMAN, sungguh semua keadaannya adalah kebaikan, dan hal itu tidaklah ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila kelapangan mendatanginya, dia bersyukur, maka itu kebaikan untuknya. Sebaliknya apabila kesempitan menimpanya dia bersabar, maka itupun menjadi kebaikan untuknya”. [HR. Muslim: 2999].

Bisa disimpulkan dari hadits ini, bahwa iman itu: “sabar” dan “syukur”… Jika demikian, maukah Anda mengorbankan setengah iman hanya untuk membela diri?!

Belajar BERSABAR Bersama Syeikhul Islam (10)…

Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Hal kesepuluh yang bisa membantu seseorang untuk bersabar menghadapi gangguan orang lain adalah:

Dengan meyakini bahwa “kebersamaan Allah”, “kecintaan-Nya”, dan “keridhaan-Nya” akan dia dapatkan bila bersabar… dan barangsiapa bersama Allah, pasti Allah akan melindunginya dari berbagai macam gangguan dan mudhorot yang tidak bisa dihalangi oleh siapapun dari makhluknya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang bersabar”. [QS. Al-Anfal: 46].

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Allah itu mencintai orang-orang yang bersabar”. [QS. Alu Imron: 146].

———-

Intinya, dengan bersabar kita akan mendapat kemuliaan yang sangat tinggi, yakni menjadi orang yang dekat “bersama Allah”, serta menjadi “orang kesayangan” Allah dan diridhai oleh-Nya… sungguh kemuliaan yang sangat agung tak terhingga, inginkah anda kehilangannya?!