Category Archives: BBG Kajian

Makna Hadits Tentang Mayit Disiksa Karena Tangisan Keluarganya…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Nasihat Hasan Al Bashri Bagi Para Pemimpin…

Setelah wafatnya khalifah yang zuhud Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan beralih ke tangan Yazid bin Abdul Malik. Khalifah baru ini mengangkat Umar bin Hubairah al-Faraqi sebagai gubernur Irak sampai Khurasan. Yazid ditengarai telah berjalan tidak seperti jalannya kaum salaf yang agung. Dia senantiasa mengirim surat kepada walinya, Umar bin Hubairah agar melaksanakan perintah-perintah yang ada kalanya melenceng dari kebenaran.

Untuk memecahkan problem itu, Umar bin Hubairah memanggil para ulama di antaranya asy-Sya’bi dan Hasan al-Bashri. Dia berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya. Sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak sampai kupandang tidak adil. Dalam keadaan yang demikian, bisakah kalian memberikan jalan keluar untukku, apakah aku harus menaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama ?

Asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak dan sesuai dengan jalan pikiran pemimpinnya itu, sedangkan Hasan al-Bashri tidak berkomentar sehingga Umar menoleh kepadanya dan bertanya, “Wahai Abu Sa’id, bagaimana pendapatmu ?

Beliau berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb Yazid.”

Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepada-Nya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.”

Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena terkesan mendengarnya. Dia berpaling dari asy-Sya’bi kepada Hasan al-Bashri, Umar semakin bertambah hormat dan memuliakannya.

Ref : http://kisahmuslim.com/2812-kisah-tabiin-hasan-al-bashri.html

Salah Satu Ciri Kemunafikan…

Ketika seorang anak merengek, menangis terus-terusan. Untuk mendiamkannya, sang Ibu spontan mengatakan,Iya, iya, nanti Mama akan belikan coklat di warung. Sekarang jangan nangis lagi.Setelah anaknya diam, ibunya malah tidak memberikan dia apa-apa. Kelakuan ibu ini juga secara tidak langsung telah mengajarkan anaknya untuk berdusta. Jadi jangan salahkan anaknya, jika dewasa nanti, anaknya malah yang sering membohongi orang tuanya.

Ingatlah bahwa perbuatan semacam ini termasuk ciri-ciri kemunafikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga : jika berkata, dia dusta; jika berjanji, dia menyelisinya; dan jika diberi amanat, dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Ref : https://rumaysho.com/774-hati-hati-dengan-lisan.html

Penderitaan Orang Yang Riyaa’…

Sesungguhnya orang yang riyaa’ terus dalam penderitaan…

(1). Ia menderita sebelum beramal, hatinya gelisah mencari-cari pujian orang lain, gelisah mencari-cari kesempatan kapan bisa dipuji. Ia sibuk mempersiapkan pencitraan

(2). Ia juga menderita tatkala sedang beramal…, karena Ia harus beramal dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya karena Ia ingin dipuji. Jika Ia merasakan amalannya/sholatnya/ceramahnya kurang baik maka Ia menderita karena Ia sadar bahwa pujian yang Ia harapkan tidak akan pernah terwujud.

(3). Ia juga menderita setelah beramal, karena hatinya gelisah menanti-nanti kapan pujian dan sanjungan tersebut datang…!!

(4). Jika Ia telah dipuji… terkadang Iapun masih menderita dengan kekecewaan, karena pujian yang Ia raih tidak seperti yang Ia harapkan… tidak sebanding pengorbanan dan persiapan amalan yang telah Ia lakukan.

(5). Kalaulah ia dipuji dengan pujian yang ia harapkan maka ia hanya bahagia sementara, setelah itu hatinyapun akan gelisah lagi menanti-nanti kapan datang pujian berikutnya.

(6). Dan yang paling mengenaskan… penderitaannya diakhirat kelak.., ia akan dipermalukan oleh Allah dihadapan khalayak. Allah membeberkan kedustaannya/riya’nya… selama ini orang terdekatnya menyangkanya sholeh atau ikhlas ternyata…????
Allah juga menghinakannya dengan memerintahkannya untuk mencari ganjaran dari orang-orang yang dahulu ia harapkan pujian mereka… Dan bisa jadi akhirnya Allah memasukkannya kedalam neraka… Wal’iyaadzu billah..

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى.

Jelek dan Buruk…

Jelek dan buruk, sering kali karena warna kaca mata anda.

Kerikil, bila dianggap dapat menggelincirkan kaki maka itu negatif namun bila dianggap bisa jadi bahan bangunan maka jadi berharga.

Sarung bila dipandang sebagai perlengkapan sholat maka bagus namun bila dipandang sebagai pakaian santai atau bahkan tidur maka jadi buruk bila dikenakan di kantor.

Punya istri itu positif dan menyenangkan namun bila dipandang dari cerewet, bawel, suka cemburu, dan nanti di hari qiyamat akan menuntut seluruh haknya maka menakutkan.

Harta bila dipandang sebagai fitnah dan penyebab anda terlali (*) dari akhirat maka buruk, namun bila dipandang banyak manfaat termasuk untuk bersedekah, biaya ibadah dan lainnya maka wooow sekali.

Makanya jangan hobi pakai kaca mata kuda apalagi berwarna hitam, biasakan menilai dari banyak dimensi agar bisa obyektif, mampu menimbang, mana yang lebih dominan baiknya atau buruknya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

(*) terlupa

Antara Puasa Romadhon dan Sakit – Siapa Yang Dibolehkan Bayar Fidyah dan Bagaimana Cara Membayar Fidyah Yang Benar..?

Simak penjelasan Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Apa Rencana Anda..?

Banyak orang membuat perencanaan yang matang
dan detail untuk urusan dunia apalagi untuk bisnis
agar mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya.

Maka jangan lupa agar bisa meraih pahala
sebanyak-banyaknya buatlah perencanaan yang matang untuk menata kegiatan selama bulan Ramadhan.

Nah apa rencana kegiatan anda untuk
Ramadhan kali ini ?

Semoga Allah memudahkan kita bertemu dengan
Ramadhan dan bisa mengisinya dengan tilawah dan
qiyamul lail. Aaamiin

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-28

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-27) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 28 🌼

⚉  Mereka tidak memberikan loyalitas, tidak pula memberikan permusuhan pada selain keridhoan Allah.

Artinya loyalitas mereka dan permusuhan mereka semuanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena hawa nafsu, bukan pula karena kepentingan dunia dan politik itulah sifat Ahlusunnah waljama’ah.

Allah Ta’ala berfirman [QS At-Taubah:71]

‎وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Dan kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali untuk yang lainnya.”

Wali itu artinya memberikan loyalitas, dari kata Wala’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ada tiga perkara, siapa yang tiga perkara itu ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman.”
Diantaranya dari tiga itu, yaitu orang yang mencintai seseorang yang ia cintai karena Allah, bukan karena apa-apa.

Maka dari itu kewajiban kita adalah memberikan loyalitas dan permusuhan itu betul-betul karena Allah.

Allah menyebutkan dalam Alqur’an [QS Al-Baqarah : 167]

‎وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

Allah berfirman tentang kedudukan api neraka dan orang-orang yang mengikuti.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikut mereka, kalaulah kami masih ada kesempatan untuk kembali ke dunia kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka sekarang di akhirat berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amalan-amalan mereka menjadi penyesalan atas mereka dan mereka tidak akan pernah keluar dari api neraka.”
Nauzubillah…

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat ini, orang-orang yang di ikuti oleh para pengikut-pengikut waktu di dunia, dimana para pengikut memberikan loyalitas bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu kamu dapati banyak orang mencintai suatu kaum dan membencinya hanya karena hawa nafsu.

Mereka sendiri tidak mengetahui maknanya, tidak pula mengetahui di atas dasar apa, bahkan mereka memberikan loyalitas secara mutlak begitu saja dengan tanpa melihat apakah itu sesuai dengan dalil yang shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ummah atau tidak.
Bahkan mereka juga tidak memahami makna loyalitas yang mereka berikan tersebut.

Maka beliau berkata :
👉🏼 “Maka tidak boleh bagi seorangpun menjadikan seseorang dalam ummat Islam ini yang ia memberikan loyalitas dan permusuhan di atasnya selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.

👉🏼 Tidak boleh seseorang itu menjadikan perkataan siapapun yang ia memberikan loyalitas dan permusuhan kecuali kepada firman Allah dan RasulNya saja, dan apa yang menjadi ijma para ulama seluruhnya.

👉🏼 Maka siapa yang melakukan ini yaitu yang memberikan loyalitas dan permusuhan terhadap seseorang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau terhadap ucapan seseorang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini termasuk perbuatan ahli bid’ah yang memecah belah ummat, memecah belah agama ini.

(Majmu fatawa jilid 20, halaman 164)

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN