Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :
DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…
Courtesy of Safdah TV
Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :
DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…
Courtesy of Safdah TV
Syeikh Utsaimin -rahimahullah- memberikan udzur karena kejahilan, baik dalam masalah fikih, maupun dalam masalah akidah.
=====
Beliau mengatakan:
Aku melihat masalah “takfir bil jahli” (memvonis kafir karena kejahilan) masih susah kalian pahami. Aku HERAN mengapa masalah ini susah bagi kalian, apa yang menjadikannya susah dipahami daripada rukun-rukun Islam, syarat-syarat Islam, dan kewajiban-kewajiban Islam yang lainnya.
Apabila seseorang diberi udzur karena kejahilan dalam meninggalkan shalat, padahal shalat itu salah satu dari rukun Islam, bahkan ia termasuk rukun Islam yang paling agung, (apalagi dalam masalah yang lainnya).
Seperti orang yang hidup di tempat yang jauh dari perkotaan dan jauh dari ilmu (agama), dan dia tidak tahu kalau shalat itu wajib, maka orang ini diberi udzur karena kejahilan, dan tidak diwajibkan qadha’ atas dia.
Apabila manusia tidak diberi udzur karena kejahilan dalam hal syirik, lalu mengapa diutus para rasul untuk mendakwahi kaumnya agar mentauhidkan Allah, karena apabila mereka tidak diberi udzur karena kejahilan, itu berarti mereka telah mengetahuinya, lalu mengapa diutus para rasul.
Semua rasul itu mengatakan kepada kaumnya: “Tidak ada bagi kalian sesembahan selain Allah” [QS. Al-A’raf: 59, 65, 73, 85].
(Dalam ayat lain disebutkan): “Tidaklah Kami utus sebelummu seorang pun rasul, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka beribadahlah (hanya) kepada-Ku“. [QS. Al-Anbiya: 25].
Apabila seseorang mengaku Islam, dan dia melakukan suatu kekufuran kesyirikan, tapi dia TIDAK TAHU bahwa itu syirik, dan belum diingatkan tentang masalah itu, bagaimana kita katakan dia KAFIR ?
Apakah kita lebih tahu tentang hukum ini melebihi Allah ?
Apakah kita menghalangi hamba-hamba Allah dari rahmat Allah ?
dan kita katakan dalam masalah ini bahwa kemurkaan Allah mengalahkan rahmat-Nya ?
Ya ikhwah, masalah ini bukanlah masalah logika. Vonis kafir, vonis fasik, dan vonis bid’ah, adalah hukum syariat, harus diambil dari (dalil) syariat, Allah saja mengatakan:
“Barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah JELAS kebenaran baginya, dan dia mengikuti jalan selain jalan kaum mukminin, maka Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukakannya itu, dan akan kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam“. [QS. Annisa’: 115].
Allah juga berfirman: “Allah tidak akan menyesatkan suatu kaum setelah mereka Allah beri petunjuk, sehingga Dia JELASKAN kepada mereka apa yang harus mereka jauhi“. [QS. Attaubah: 115].
Allah juga berfirman: “Kami tidaklah mengadzab sampai Kami utus seorang rasul” [QS. Al-Isra: 15]. Untuk apa Rasul diutus? Agar dia MENJELASKAN dan mengajak kepada tauhid… dan ayat-ayat dalam masalah ini banyak.
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=M2sASNjOxF8
Silahkan dishare… semoga bermanfaat…
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Penjelasan bagus dari Syeikh Ubaid Al-Jabiri -hafizhahullah- (seorang ulama besar di Madinah) tentang masalah “memberikan udzur kepada saudara kita yang jahil“… baik dalam masalah akidah, maupun dalam masalah fikih.
=====
Syeikh kami -semoga Allah menjagamu-, di tempat kami ada orang-orang yang tidak memberi “udzur karena kejahilan” kepada orang yang jatuh dalam amalan kufur, seperti menyembelih untuk selain Allah, dan istighotsah (meminta pertolongan) kepada selain Allah.
Mereka juga mengatakan tidak ada khilaf (beda pendapat) bahwa orang itu disebut kafir di dunia, yang ada khilaf adalah hukum kafirnya dia di akhirat nanti. Maka apa NASEHATMU untuk mereka ?
JAWABAN:
PERTAMA: telah diketahui dengan istiqro’ (penelitian menyeluruh) dari sejarah Ahlussunnah dengan para penentangnya, bahwa ahli bid’ah itu selalu kontradiktif, dan redaksi mereka ini juga kontradiktif, bagaimana mereka menghukumi kafir di dunia, tapi tidak menghukumi kafir dan bahwa dia kekal di neraka pada hari kiamat, sungguh tidak ada satupun dari para imam salaf yang pernah mengatakan seperti ini.
Bahkan semua Ahlussunnah dan juga sebagian golongan ahli bid’ah mengatakan, bahwa orang yang dihukumi kafir di dunia secara yaqin, ia akan dikekalkan dalam neraka pada hari kiamat. Dengan demikian, kalian tahu bahwa perkataan mereka ini termasuk sesuatu yang bisa menjatuhkan mereka ke dalam bid’ah.
KEDUA: Dalam masalah “udzur karena kejahilan” ada tiga kelompok manusia:
KELOMPOK PERTAMA: mereka yang berlebih-lebihan dalam memberikan udzur, mereka mengatakan: semua orang yang jahil harus diberi udzur karena kejahilannya.
KELOMPOK KEDUA: kebalikannya, mereka mengatakan tidak ada udzur sama sekali, dan mereka mengkafirkan.
KELOMPOK KETIGA: pertengahan. Dan alhamdulillah inilah yang dipilih oleh MAYORITAS ulama kami, yang kami ketahui. Meskipun mereka juga berbeda pendapat dalam masalah tauhid, ada diantara mereka yang memberi udzur, dan ada yang mengatakan: masalah tauhid tidak ada udzur padanya.
Yang benar: pendapat yang memerinci… bahwa orang yang jahil diberikan udzur pada masalah yang samar bagi orang yang sekelas dia… dan ini akan saya jelaskan dengan contoh dan dalil-dalilnya.
Adapun contoh dari keadaan manusia, maka ada banyak, diantaranya: orang yang bersaksi dengan syahadatain dan mengikrarkannya, akan tetapi dia terhenti dari mempelajari perintah dan larangan syariat Islam lainnya, atau tahu sebagian ilmu tapi jahil terhadap sebagian yang lainnya.
Contoh keadaan orang pertama ini -yakni orang yang tahu sebagian ilmu tapi jahil terhadap sebagian yang lainnya-:
Orang yang tahu tentang syahadatain, dia belajar kepada orang-orang lalu terputus, bisa jadi karena tidak memungkinkan duduk terus bersama mereka untuk mempelajari rukun Islam yang lainnya dan masalah-masalah pokok agama yang berkaitan dengannya, (bisa juga karena) dia hidup di daerah yang jauh, tidak ada seorang pun dari tempat itu yang pergi ke tempat-tempat ilmu, atau (bisa juga karena) dia datang hanya untuk mendapatkan kebutuhan pokok atau kebutuhan lainnya kemudian pergi karena tersibukkan dengan urusan yang ada di belakangnya, seperti keluarganya, pekerjaannya, dan yang lainnya.
Maka orang yang seperti ini tidak boleh dikafirkan, atau difasikkan, sampai dia mempelajari syariat-syariat Islam tersebut.
Diantara mereka juga ada orang yang masuk Islamnya di tengah-tengah kaum sufi yang banyak khurafatnya, mereka mengajarinya bertaqarrub kepada orang-orang salih (yang sudah meninggal) dengan nadzar, atau menyembelih (hewan), atau sujud, atau meminta syafaat, atau beristighatsah (meminta pertolongan) kepada selain Allah sesuatu yang tidak dimampui selain Allah, atau dia melampui batas dalam memperlakukan mereka, karena memang dia belum tahu hal ini. Dia hanyalah korban dari orang-orang jahil, atau korban dari ulama-ulama yang buruk, atau belum memungkinkan (untuk belajar).
Akan tetapi kebanyakan orang yang melakukan hal ini, dia shalat, berpuasa, berhaji, bahkan bisa jadi dia memperbanyak amalan-amalan Sunnah, tapi dia musyrik dalam berdo’a, beristighatsah, dan ibadah-ibadah lainnya, seperti: nadzar, melakukan safar kepada mereka (yang sudah meninggal) untuk berdiam di kuburannya untuk beribadah kepada mereka, inilah kemampuan dia, mereka tidak mengajarinya selain ini, karena mereka ulama yang buruk yang banyak mengajarkan khurafat. Maka orang yang keadaannya seperti ini memiliki udzur sampai datang ilmu (tentang itu) kepadanya. ini diantara contoh yang paling jelas (dalam masalah ini).
Aku juga mengatakan: bisa jadi kejahilan itu menimpa sebagian kaum mukminin yang takut dan ridha kepada Allah azza wajalla, diantara contohnya adalah: orang yang (dalam kisahnya) banyak berbuat dosa, maka ketika dekat ajalnya, ia berwasiat kepada anak-anaknya, dia mengatakan: ‘wahai anak-anakku, jika aku mati, bakarlah aku, kemudian tumbuklah, dan taburkanlah. Sungguh demi Allah, jika Allah punya kuasa untuk menemukanku, tentu dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah Dia timpakan kepada siapapun dari makhluknya’.
Maka, ini adalah orang mukmin yang takut kepada Allah azza wajalla, dia mengharapkan (rahmat) dari Allah, dia beriman kepada Allah, tapi ragu atau ingkar akan sebagian qudrah (kekuasaan) Allah, lihatlah dia tidak mengingkari kekuasaan Allah untuk melakukan segala sesuatu pada segala sesuatu, tidak, tapi dia mengingkari salah satu bagian dari kekuasaan Allah, yaitu: membangkitkannya, bahwa Allah tidak akan mampu menemukannya bila anak-anaknya melakukan wasiat dia.
Maka (akhirnya) Allah subhanahu wata’ala pun menghidupkannya, dan mengatakan: ‘wahai hambaku, apa yang mendasarimu melakukan itu ?‘ Dia mengatakan: ‘ketakutanku kepada-Mu ya Rabb’. Allah pun mengatakan: ‘Sungguh aku telah mengampunimu‘. (itu karena) Orang ini jahil.
Adapun apabila yang melakukan perbuatannya adalah orang yang beriman kepada Allah, dan beriman kepada (kekuasaan Allah) membangkitkan (mayit) secara global dan terperinci, dia tahu kabar-kabar tentang itu, maka -wal ‘iyadzu billah- dia ini akan di neraka selamanya, karena dia mengingkari qudrah Allah secara menyeluruh. Ini dalam masalah akidah.
Adapun dalam masalah hukum amaliyah (fikih), maka kita bisa sebutkan dua dalil, dan keduanya adalah contoh dalam masalah ini:
PERTAMA: kisah orang yang tidak baik shalatnya, intinya: orang tersebut masuk masjid dan shalat, lalu dia datang dan bersalam kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, maka beliau mengatakan kepadanya: ‘kembalilah dan shalat lagi, karena sebenarnya kamu belum shalat’, maka orang itu pun mengulangi shalatnya yang kedua dan yang ketiga, maka ketika orang itu merasa salah (dan tidak bisa membenarkan) orang itu mengatakan: ‘sungguh demi Dzat yang mengutusmu sebagai nabi, aku tidak bisa lebih baik dari ini‘, maka Nabi -shallallahu alaihi wasallam- akhirnya mengajarinya… dan zhahir keadaan orang ini, dia (sebelum ini) semua shalatnya tidak sah, meski demikian Nabi -shallallhu alaihi wasallam- tidak membebaninya untuk mengqadha’ (shalatnya).
Contoh KEDUA: kisah orang yang mengalami darah istihadhah, Fatimah binti Abi Hubaisy atau yang lainnya, dia mengatakan: ‘ya Rasulullah, sungguh dia telah menghalangiku dari puasa dan shalat‘, dia tidak shalat sama sekali, dia tidak puasa juga, maka Nabi -shallallahu alaihi wasallam- mengajarinya: ‘itu bukanlah darah haid, itu adalah penyakit… maka apabila haidmu datang, tinggalkanlah shalat, dan bila haidmu telah selesai, maka cucilah darahmu, dan shalatlah‘. Di sini beliau tidak memerintahkannya untuk mengqadha’ ibadah yang telah lalu, padahal dari perkataannya bisa diketahui bahwa dia tidak shalat dan tidak puasa terus, dia mengatakan: ‘darah ini telah menghalangiku untuk berpuasa dan shalat, ya Rasulullah‘, maka beliau pun mengajarinya hal itu.
Maka dengan ini -semoga Allah memberkahi kalian-, jelaslah dalil yang pasti, shahih, dan tegas tentang pendapat yang telah kita kemukakan, dan itulah pendapat yang pertengahan, bahwa seorang jahil diberi udzur karena kejahilannya dalam masalah yang samar bagi orang yang sekelas dia.
Dan telah kami jelaskan hal itu dengan beberapa contoh, dan itu adalah dalil-dalil yang shahih dan tegas, walhamdulillah, maka TINGGALKANLAH orang-orang itu, mereka itu orang-orang yang jahil.. sebarkanlah penjelasan ini kepada manusia, semoga Allah memberkahi kalian.
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=lFvo9wwevrk&t=9s
Silahkan dishare… semoga bermanfaat…
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Orang-orang yang menafikan udzur karena kejahilan secara mutlak, main pukul rata, banyak dari mereka yang berhujjah dengan perkataan Syeikh Shalih Al-Fawzan -hafizhahullah-… padahal beliau sendiri memberikan perincian:
a. Melihat keadaan dia, apakah dia hidup di tempat yang jauh dari ulama tauhid ? apakah dia sudah berusaha untuk belajar tauhid ? Jika iya, maka ada udzur bagi dia. Jika tidak, maka tidak ada udzur bagi dia.
b. Melihat masalahnya, apakah masalah itu masih samar bagi dia, ataukah sudah jelas ? Jika masih samar bagi dia, maka ada udzur. Jika sudah jelas, maka tidak ada udzur.
Berikut pertanyaan yang dijawab oleh beliau:
Apakah ada “udzur karena kejahilan” dalam masalah tauhid, dan bagaimana menjawab orang yang berhujjah bahwa ada udzur dalam masalah tauhid dengan kisah orang yang menyuruh anaknya untuk membakarnya (agar Allah tidak kuasa menemukan jasadnya untuk disiksa), karena dia telah menafikan qudrah (kuasa) dari Allah, tapi Allah memberikan udzur kepadanya. Mereka juga berhujjah dengan perkataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab: “aku tidak mengkafirkan orang yang thawaf di kuburan kawwaz”.
Jawaban:
Ya akhi, Udzur karena kejahilan itu apabila hilangnya kejahilan tidak dimungkinkan, misalnya: tidak ada orang yang mengajarimu, terputus dari para ulama, di bumi yang jauh tidak sampai kepadanya sesuatu (ilmu tentang itu), ini orang yang diberi udzur karena kajahilan.
Adapun orang yang bisa belajar, bisa bertanya kepada para ulama, tapi dia mengatakan saya punya udzur karena kejahilan?!, (maka kita katakan): kamulah yang salah, karena kamu tidak menuntut ilmu, tidak bertanya. Maka, bagaimana orang ini diberi udzur karena kejahilan.
Jadi, di sana ada kejahilan yang tidak mungkin hilang, yaitu pada orang yang hidup terpisah, tidak menemukan orang (yang mengajarinya). Adapun orang yang hidup bersama banyak orang, bersama para ulama, dia mendengar Al Qur’an, dia mendengar Sunnah, tapi tetap mengatakan: saya punya udzur karena kajahilan, (maka kita katakan): tidak, kamulah yang salah.
Adapun orang tadi yang hidup terpisah, dia ini tidak salah, karena dia tidak menemukan orang (yang mengajarinya), dia ini diberi udzur karena kejahilan.
Intinya: kejahilan yang tidak mungkin dihilangkan, maka diberi udzur. Adapun kejahilan yang mungkin dihilangkan dengan belajar dan bertanya kepada para ulama, maka tidak diberi udzur, perhatikanlah hal ini dengan baik.
Karena ada sebagian orang yang mengambil masalah ini, kemudian menyebar-nyebarkannya, ada udzur karena kejahilan, ada udzur karena kejahilan, secara langsung, secara mutlak. seperti ini tidak benar, tapi harusnya diperinci.
Kemudian, masalah-masalah yang ada tidaklah satu (keadaan).
Masalah-masalah yang samar, yang membutuhkan ulama, membutuhkan penjelasan: maka ini ada udzur karena kejahilan, sampai dia menemukan orang yang mengajarinya.
Adapun masalah-masalah yang jelas, yang tidak membutuhkan penjelasan, seperti syirik dan tauhid, ini tidak ada udzur karena kejahilan, karena itu sudah jelas.
Allah jalla wa’ala berfirman (yang artinya):
“beribadahlah kalian kepada Allah, dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun” [Annisa: 36].
“Sungguh orang yang menyekutukan Allah, maka surga diharamkan baginya“. [Al-Maidah: 72].
“Apabila kamu melakukan kesyirikan, maka terhapuslah semua amalanmu“. [Azzumar: 65].
Apakah ini samar, ataukah jelas, tentu ini jelas, jelas bahwa itu tauhid, jelas bahwa itu syirik.
Intinya, dalam masalah-masalah yang sudah jelas: tidak ada udzur, adapun dalam masalah-masalah yang masih samar, yang membutuhkan penjelasan dari para ulama, maka pada masalah seperti ini ada udzur.
Masalah-masalah itu tidaklah satu (keadaan), maka harus ada perincian seperti ini dalam masalah udzur karena kejahilan.
Adapun Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “aku tidak mengkafirkan orang-orang yang menyembah berhala yang ada di kubah kuburan kawwaz”, maksudnya adalah karena tidak ada orang yang mengajari mereka. Beliau tidak mengatakan mereka diberi udzur dan diam, tapi mengatakan bahwa mereka tidak ada yang mengajari.
Adapun mereka yang di sisinya ada orang yang mengajari mereka, di sisinya ada orang yang menjelaskan kepada mereka, tapi mereka tidak bertanya, dan tidak menuntut ilmu, bagaimana orang yang seperti ini diberi udzur karena kejahilannya ?!
https://www.youtube.com/watch?v=ZOekyD8QFBg
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Berikut transkrip aslinya:
هل هناك عذر بالجهل في مسائل التوحيد، وكيف نجيب عمن يحتج بأن هناك عذر في مسائل التوحيد بالرجل الذي أمر أبناءه بإحراقه فنفى القدرة عن الله فعذره الله، وبقول الشيخ محمد بن عبد الوهاب: أنا لا أكفر من يطوف بقبر الكواز.
الجواب:
يا أخي، العذر بالجهل إذا لم يمكن زوال الجهل، ما عندك أحد يعلمك، منقطع عن العلماء، في أرض بعيدة ما لم يبلغها شيء: هذا يعذر بالجهل.
أما الإنسان المتمكن من العلم ومن سؤال العلماء، ويقول: أنا أعذر بالجهل، أنت المفرط، لأنك لم تطلب العلم، لم تسأل، فكيف يعذر بالجهل يا أخي.
فهناك جهل لا يمكن زواله، وهو من يعيش منقطعا لا يجد أحدا، ومن يعيش مع الناس ومع العلماء، يسمع القرآن ويسمع السنة، ويقول أنا أعذر بالجهل، لا، أنت المفرط.
أما ذاك، الذي يعيش منقطع، هذا ما فرط لأنه ما وجد أحد، يعذر بالجهل.
فالجهل الذي لا يمكن زواله: يعذر به، أما الجهل الذي يمكن زواله بالتعلم وسؤال العلماء فهذا لا يعذر به، فتنبهوا لهذا.
لأن فيه من الناس من أخذوا هذه المسألة، وصار يرددونها يعذر بالجهل يعذر بالجهل على طول، بالإطلاق، لا، لابد من التفصيل.
ثم أيضًا المسائل ما هي واحدة، المسائل الخفية التي تحتاج إلى علماء، وتحتاج إلى شرح، هذه نعم يعذر بالجهل حتى يجد من يعلمه، أما المسائل الواضحة التي لا تحتاج إلى شرح، مثل الشرك والتوحيد هذه ما يعذر بالجهل، لأنها واضحة. الله جل وعلا قال: واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا، إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة، لئن أشركت ليحبطن عملك، هذا غامض ولا واضح، واضح أنه توحيد، واضح أنه شرك، فالمسائل الظاهرة لا يعذر أحد بجهله، أما المسائل الخفية التي تحتاج إلى بيان من العلماء هذه يعذر بالجهل فيها، المسائل ما هي واحدة نعم، فلا بد من هذا التفصيل في العذر بالجهل. نعم.
والشيخ محمد بن عبد الوهاب يقول: لا أكفر الذين يعبدون الصنم الذي على قبة الكواز يعني ما عندهم أحد يعلمهم، ما قال: يعذرون وسكت، قال: ما عندهم أحد يعلمهم.
أما هؤلاء عندهم أحد يعلمهم وعندهم من يبين لهم لكن ما سألوا ولا طلبوا العلم، فكيف يعذرون بالجهل؟! نعم
Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :
DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…
Courtesy of Safdah TV
Cahaya Sunnah, [30.01.17 17:21]
◾️ Ringkasan 12 Adab Bagi Penuntut Ilmu ◾️
(01). Hendaknya kepergian dan duduknya seorang penuntut ilmu ke majelis ilmu itu ikhlas hanya karena Allah, tanpa riya’ dan keinginan dipuji orang lain.
(02). Hendaknya berdo’a kepada Allah Ta’ala sebelum dimulainya majelis ilmu agar ilmunya berkah, yaitu ditambahkan ilmunya, diberi pemahaman dan dimudahkan Allah dalam mengamalkannya.
(03). Bersegera datang ke majelis ilmu dan tidak terlambat, seyogyanya seorang penuntut ilmu datang terlebih dahulu sebelum ustadznya.
(04). Jika majelis ilmu ada di masjid, maka sebelum duduk hendaknya shalat sunnah tahiyatul masjid.
(05). Ucapkanlah salam saat memasuki suatu majelis.
(06). Jika bercampur antara jamaah wanita dan pria di suatu majelis ilmu, maka hendaknya diberi pembatas atau hijab di antara mereka untuk menghindari fitnah. Atau bisa juga dengan cara mengadakan majelis ilmu di tempat tertentu khusus untuk para wanita saja.
(07). Tidak menyuruh orang lain berdiri, pindah atau menggeser tempat duduknya.
(08). Tidak meletakkan tangan kiri ke belakang.
(09). Mendekat ke ustadz saat ia memberi nasehat.
(10). Mencatat ilmu agar tidak mudah hilang.
(11). Tenang, tidak berbicara, tidak bersenda gurau ataupun berbantah-bantahan yang sia-sia, tidak sibuk sendiri dengan banyak bergerak, menolah-noleh ke belakang atau ke kiri dan kanan, hendaknya mata tertuju kepada ustadz dalam majelis ilmu.
من لا يكرمُ العلمَ لا يكرمه العلمُ
“Barangsiapa yang tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan menjadikannya mulia”
Jika seorang murid berakhlak buruk kepada ustadznya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, seperti hilangnya berkah dari ilmu yang di dapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خيركم اسلاما احاسنكم اخلاقا اذا فقهوا
“Sebaik-baik kalian Islamnya adalah yang paling baik akhlaknya jika mereka menuntut ilmu” (HR. Ahmad no.10329, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.3312, hadits dari Abu Hurairah).
Usamah bin Syariik radhiyallahu ‘anhu berkata :
“Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan ada burung di atas kepala kami, tidak ada seorang pun dari kami yang berbicara…” (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban, lihat Shahiihut Targhib wat Tarhiib no. 2652)
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata :
“Aku membalik lembaran halaman di hadapan Malik dengan pelan, karena segan kepadanya agar ia tidak mendengar suaranya”
Ar-Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah berkata :
مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ
“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”
Janganlah datang ke majelis ilmu hanya sekedar mendengarkan sambil bersantai-santai, tidak serius dan banyak menguap. Ada yang sambil bermain HP, duduk bersandar, tidur, memotret, menjulurkan kaki, memberikan komentar saat ustadz sedang menjelaskan, ada juga yang sambil makan, minum, mengecap permen dan bahkan ada yang niatnya sekedar ngumpul-ngumpul, kopdar, ingin ketemu ustadznya atau tujuannya hanya berdagang saja
Janganlah mengangkat suara saat firman Allah Ta’ala dan hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dibacakan, sehingga berakibat terhapusnya amalan (lihat QS. 7 : 204 dan QS. 49 : 2)
Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata :
“Tidak ada yang berbicara di majelis ‘Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada pensil yang diraut, tidak ada seorangpun yang tersenyum, dan tidak ada seorangpun yang berdiri, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung atau seolah-olah mereka sedang shalat. Jika ia melihat salah seorang di antara mereka tersenyum atau bercakap-cakap, maka dia memakai sandalnya lalu keluar” (Siyar A’laamin Nubalaa’ IX/201-202)
(12). Membaca do’a penutup majelis.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
✍️ Ust Najmi Umar Bakkar
join↪️https://telegram.me/najmiumar
Cahaya Sunnah, [08.02.17 20:48]
◾️ Oh…Alangkah Besarnya Penyesalan… ◾️
Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…
Seseorang masìh memungkinkan untuk berbuat durhaka atau taat kepada Allah selama hayat masih di kandung badan…
Keleluasaan yang ia minta, sebaliknya akan menjadi keterkungkungan yang ia terima…
Lalu di manakah letak nikmatnya kedurhakaan seseorang dan dimana jerih payah ketaatannya…?
Seseorang yang telah tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan begitu cepat menghampirinya dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…
Berapa banyak sudah penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?
Berapa besar kehinaan yang harus ia tanggung setelah kematiannya…?
Dan siksa yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan atas semua perbuatannya dihadapan Allah…
Dan itu semua disebabkan oleh kenikmatan yang sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…
Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu melupakannya…
Juga bagi orang yang telah melihat dengan mata kepala sendiri bahaya yang akan tersimpan di balik suatu persoalan, akan tetapi kemudian menutup mata darinya…
Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…
Ketahuilah…
Derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…
Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…
Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…
Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…
Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…
Belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…
Manfaatkanlah waktu dan ketahuilah perbuatan apa saja yang mengiringi malam dan siangmu yang telah berlalu…
Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umurmu dalam tiga waktu : waktu untuk ilmu, waktu untuk beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajibanmu…
Ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah lalu, dan pikirkanlah tempat kembalinya dua kelompok di hadapan Allah. Satu kelompok di dalam Surga dengan ridha-Nya dan satu kelompok berada di Neraka dengan murka-Nya…
Kesenangannya Iblis bukan menjerumuskanmu dalam berbagai kemaksiatan, akan tetapi cita-citanya agar engkau masuk bersamanya ke tempat yang dia akan memasukinya, yaitu Neraka Jahannam…
Hindarilah maksiat hati yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…
Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…
Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…
Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…
ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…
“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)
قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…
“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)
Semoga Allah selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…
✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar
join ↪️https://telegram.me/najmiumar
Cahaya Sunnah, [22.03.17 19:52]
◾️ Curahan Hati Untuk Istriku… ◾️
Maafkan aku wahai istriku…
Sudah berapa kali kubuat kau bersedih…
Sudah berapa kali hatimu kulukai…
Sudah berapa kali nasihatmu kutepis…
Sudah berapa kali teguranmu kutolak…
Sudah berapa kali tingkahku memberi luka…
Sudah seringkali aku berlaku kasar padamu…
Maafkan aku wahai istriku…
atas segala salah dan khilafku…
lahir dan batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, atas ucapan dan janji yang tak terpenuhi…
Maafkan aku wahai istriku…
jika yang ada pada diriku membuatmu kecewa…
jika yang kuperbuat sangat menyakiti hatimu…
aku hanyalah seorang lelaki biasa…
seorang suami yang lemah…
seorang suami yang banyak salah…
Tapi…
Yakinlah aku mencintaimu karena Allah…
aku sayang padamu wahai istriku…
engkau harta yang tak ternilai bagiku…
Wahai Istriku…
seandainya dirimu merasa pernah berbuat salah padaku, apapun itu, aku sudah ridho memaafkan semuanya, lahir dan batin…
Wahai Istriku…
aku kini menyadari bahwa hatimu begitu mulia…
mudah-mudahan ini kesadaran yang belum terlambat, hanya karena kebodohanku saja, serta hawa nafsu, sehingga aku menzhalimi dirimu…
Ya Allah, hanya Engkau yang mengetahui semua kebaikannya, maka berilah balasan yang baik dan berlipat atas segala kebaikannya…
Bila ia berbuat dosa, itu adalah juga dosa hamba…
karena kejahilan hamba yang tidak bisa mengemban amanah memimpin rumah tangga…
Ya Allah, ampunilah kami, sayangilah kami, tutuplah aib-aib kami, serta jagalah dan lindungilah keluarga kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik pelindung…
Ya Allah, jadikan istriku termasuk istri yang shalihah dan semakin shalihah, serta izinkan hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya sampai sisa umur yang telah Engkau tentukan…
Ya Allah, jadikanlah “ISTRIKU SURGAKU”, sebaik-baik kesenangan dunia, dan masukkanlah kami ke dalam Surga Firdaus yang Engkau janjikan sebagai rahmat-Mu…
Aamiin…
(dinukil dari buku “50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat”, hal 102-104)
✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar
join ↪️https://telegram.me/najmiumar
Cahaya Sunnah, [25.03.17 20:41]
[ Photo ]
Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu
Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :
DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…
Courtesy of SafdahTV
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan satu hadits saja yang didalamnya ada anjuran dari beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam- untuk mengkhususkan hari ke -12 Robi’ul Awwal dengan sesuatu yang istimewa melebihi hari lainnya.
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan satu saja anjuran dari beliau -shollallohu alaihi wasallam- untuk merayakannya, atau satu saja kabar gembira bagi orang yang merayakannya meski hanya dalam bentuk isyarat.
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku tidak meyakini bahwa beliau telah menyampaikan syariat drngan penyampaian yang gamblang, dan jika aku meyakini bahwa mungkin ada kebaikan yang belum ada anjurannya dari beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam-.
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan atsar dari Sahabat Abu Bakar -rodhiallohu ‘anhu- bahwa dia dahulu mengadakan walimah (jamuan makan) pada malam maulid.
Atau bahwa Sahabat Umar -rodhillohu ‘anhu- dahulu menjadikan hari itu sebagai hari libur atau hari permainan.
Atau bahwa Sahabat Utsman -rodhiallohu ‘anhu- dahulu menganjurkan sedekah atau puasa di hari itu.
Atau bahwa Sahabat Ali -rodhiallohu ‘anhu- dahulu membuat perkumpulan untuk mengkaji sirah (Nabi).
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku tahu bahwa Sahabat Bilal atau Sahabat Ibnu Abbas atau siapapun dari Sahabat Nabi -rodhiallohu ‘anhum- dahulu mengkhususkan hari maulid dengan sesuatu apapun, baik yang bernuansa agama maupun dunia.
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku TIDAK meyakini bahwa para sahabat Nabi adalah orang yang melebihi aku dalam memuliakan dan mencintai beliau -alaihis sholatu wassalam-, dan (jika aku TIDAK meyakini) bahwa mereka lebih tahu daripada aku tentang kedudukan beliau yang begitu mulia.
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan atsar dari salah satu Tabi’in, baik dari kalangan ahlul bait maupun dari orang lain, yang isinya anjuran untuk membaca pujian-pujian kepada Nabi saat hari maulid itu.
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan satu kalimat saja dari salah satu Imam Empat tentang anjuran untuk merayakan hari maulid.. atau (aku temukan) satu kabar saja dari salah seorang dari mereka bahwa dia pernah berkumpul bersama orang-orang di malam maulid, kemudian mereka melantunkan nasyid dan menggoyangkan badannya.
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku meyakini bahwa para imam itu dan orang-orang sebelum mereka adalah orang-orang yang antipati dan tidak perhatian (kepada beliau), bahwa mereka tidak tahu kedudukan, kehormatan, dan kemuliaan Nabi mereka -shollallohu alaihi wasallam-.
Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku meyakini bahwa umat Islam dulunya TIDAK tahu bagaimana cara menyuarakan rasa cintanya kepada Nabinya -shollallohu alaihi wasallam-, bahkan hingga lebih dari 300 tahun dari keberadaan mereka, karena selama itu mereka tidak pernah sekalipun mengadakan maulid!
Dan yang terakhir… Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku meyakini bahwa jalan yang paling lurus adalah bid’ah-bid’ahnya orang-orang yang datang belakangan, bukan ittiba’-ittiba’nya para salafus shalih.
Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, dan semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada hamba, rasul, dan kekasih-Nya; Nabi kita Muhammad.. dan juga kepada keluarga beliau dan semua sahabat beliau.
[Oleh: Syeikh DR. Shalih Sindi -hafizhohulloh-… Alih bahasa: Musyaffa’ Addariny]
Silahkan dishare… semoga bermanfaat bagi semuanya, amin.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
da101216-0636