Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Membangun Istana Di Surga – 01
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Membangun Istana Di Surga – 01
Sungguh betapa karimnya Allah kepada hamba-hambaNya…
Dia mencintai orang yang selalu bertaubat sebanyak apapun dosanya…
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang bertaubat..” (Al Baqarah: 222)
Bahkan Allah amat gembira melihat hamba-Nya bertaubat.
لَلَّهُ أفْرَحُ بِتوبةِ أحدِكمْ من أحدِكمْ بِضالَّتِه إذا وجدَها
“Allah sangat gembira dengan taubat seseorang melebihi gembiranya seseorang yang menemukan untanya yang hilang..” (Shohih Jaami’)
Para malaikat pemikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekitar ‘Arsy mendo’akan orang-orang yang bertaubat.
الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,.” (Al-Mu’min – 7)
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 15
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
Abu Ad-Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata:
إن شئتم لأحدثنكم من أحب عباد الله إلى الله؛ الذين يحببون الله إلى عباده، ويعملون في الأرض نصحا
“Jika kalian mau aku beritahukan siapa hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah.. yaitu yang membuat para hamba mencintai Allah dan beramal kebaikan..” (Az Zuhd karya Imam Ahmad)
Dengan mengingatkan manusia tentang nikmat-nikmatNya yang amat banyak..
Mengenalkan mereka sifat sifat Allah yang maha pengasih dan penyayang..
Agar dengan cinta kepada Allah tumbuh kekuatan untuk beramal sholeh..
Dan dengan takut kepada siksa-Nya, mereka menjauhi kemaksiatan..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 14
Betapa agungnya amalan sholih di bulan ramadhan.
Namun keagungan amal dan kemuliaannya menjadi hancur ketika kita tak menjaga hati.
Penyakit yang dikhawatirkan bagi orang senantiasa beramal dengan ikhlas adalah ujub setelah beramal.
● Ibnul Mubaarok rohimahullah berkata :
وَلاَ أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّيْنَ شَيْئًا شَرٌّ مِنَ الْعُجْبِ
“Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang sholat perkara yang lebih buruk daripada ujub..”
(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sy’abul Iman no 8260).
● Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan bahwa ujub itu dapat membatalkan amal. Beliau mengatakan,
“kelompok yang kedua, yaitu orang-orang yang tidak memiliki tahqiq (kesungguhan) dalam pokok iman kepada takdir. Mereka melakukan ibadah sekadar yang mereka lakukan. Namun mereka tidak sungguh-sungguh dalam ber-isti’anah kepada Allah dan tidak bersabar dalam menjalankan hukum-hukum Allah yang kauni maupun syar’i..
Sehingga dalam beramal mereka pun malas dan lemah, yang terkadang membuat mereka terhalang dari beramal dan menghalangi kesempurnaan amal mereka, dan membuat mereka UJUB dan SOMBONG setelah beramal yang terkadang bisa menjadi sebab amalan mereka hangus dan terhapus..”
(Majmu’ Fatawa war Rasail 4/250)
● Perkataan beliau sepadan dengan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam :
ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri..”
(HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no 1802).
● Demikian pula sabda beliau :
لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ
“Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub..! ujub..!”
(HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Al-Jaami’ no 5303).
Bila kita merasa telah menjadi orang yang baik saja dianggap ujub, sebagaimana ditanyakan kepada ‘Aisyah rodliyallahu ‘anha siapakah orang yang terkena ujub, beliau shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bila ia memandang bahwa ia telah menjadi orang yang baik..”
(Syarah Jaami’ As Shoghier).
Bagaimana bila disertai dengan menganggap remeh orang lain..?
Inilah kesombongan..
Semoga Allah melindungi kita dari ujub dan kesombongan..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 13
Tanda kejujuran iman seorang hamba adalah ia meninggalkan sesuatu yang disukai oleh syahwatnya karena takut dimurkai oleh Robbnya.
Puasa mengajarkan kita tentang kejujuran. Saat sendiri tiada orang melihat sementara makanan lezat dan minuman sejuk terhidang di hadapan. Namun kita tetap menahan lapar dan dahaga hingga waktu yang dihalalkan. Itulah kejujuran iman. Jika ia meninggalkannya karena takut kepada Allah, bukan karena sebatas kebiasaan.
● Ibnu Rojab rahimahullah berkata,
“Ketika mukmin yang berpuasa mengetahui bahwa ridho Allah terdapat pada meninggalkan syahwatnya, ia dahulukan ridho Allah dari pada hawa nafsunya. Sehingga kelezatannya ia rasakan saat meninggalkan syahwatnya karena Allah. Karena keimanannya bahwa Allah melihatnya..”
● DzuNun Al Mishri rohimahullah ditanya, “Kapan aku dapat mencintai Robbku..?”
Ia menjawab, “Apabila yang Dia tidak sukai lebih pahit bagimu dari pahitnya kesabaran..”
(Lathoiful Ma’arif hal. 289)
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 12